Harusnya saya belajar, eh malah bikin fic hohoho~ #plakplak
Ya sudahlah tak usah dipusingkan #plak# selamat membaca~
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Kira Desuke
Warning : OOC, AU, alur kecepatan, typo?
Genre : Romance/Fantasy/A little bit humor
Pairing : SasuSaku, GaaSaku
.
.
MY FUTURE
Normal POV
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat Sakura Haruno, sampai di rumahnya yang aman, tentram, dan damai. Kakinya menginjak rumput-rumput di halamannya menimbulkan suara berisik kecil. Wajahnya yang kusut tidak bisa disembunyikannya. Dengan lemas, dia mengetuk pintu krem di depannya. Dia benar-benar lelah, rasanya kejadian beberapa jam lalu itu bagaikan mimpi. Lamunannya terbuyarkan saat seseorang membuka pintunya.
"Sakura! Kau ke mana saja? Pulang malam begini, kau pikir nenek tidak khawatir?" gusar seorang nenek-nenek melihat cucu semata wayang di depannya. Sakura menghembuskan nafas panjang.
Sakura menatap mata nenek di depannya, "Err nenek Chiyo, bisakah ceramahnya besok saja? Aku lelah sekali," rengek Sakura. Nenek tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, besok kau harus jelaskan semuanya!" ucap Chiyo sambil menyilangkan tangannya. Sakura mengangguk pasrah dan berjalan melewati neneknya yang segera setelah itu langsung mengunci pintu.
Sakura berjalan lunglai menuju tangga di belakang. Kamarnya ada di lantai dua, paling pojok, jadi jangan heran kalau kebanyakan yang bertamu ke rumah ini, mereka tidak menyadari adanya kamar tersembunyi di sana. Sakura menatap lemas pintu yang berada jauh di depannya, kakinya terasa sulit digerakkan. Sampai-sampai dia bernafas lega saat pinu tersebut sudah di depan matanya. Namun, saat Sakura akan menggapai gagang pintu kamar pribadinya, nenek Chiyo berbicara di belakangnya.
"Tadi ada anak laki-laki yang mencari kamu," ucap nenek itu, Sakura tertegun sesaat, "dia mengantarkan kuncirmu yang ketinggalan di kelas nih," ucap Chiyo dan memberikan kuncir di tangannya pada Sakura.
Sakura mengernyitkan alisnya. Ngapain ada anak yang mau repot-repot mengantarkan sebuah KUNCIR yang ketinggalan? Mending kalau dompet atau barang penting lainnya, lha ini? Beuh, pake uang lima ribuan juga dapet, gratis satu lagi, jadi dapet dua kuncir. Sakura terdiam sesaat sampai akhirnya dia menanyakan orang yang mungkin kurang kerjaan tersebut.
"Siapa yang berbaik hati membawakan ini nek?" tanya Sakura bingung. Chiyo terlihat berpikir.
"Nggg siapa ya?" dia mengetukkan jari di kepalanya, "anaknya ganteng, ramah, tinggi, oh ya paling yang aneh rambutnya yang kayak pantat ayamnya tetangga sebelah," ujar nenek Chiyo sambil menjetikkan jarinya.
Tunggu tunggu, pantat ayam katanya?
"Sa.. Sasuke?" tanya Sakura tidak percaya. Dia bengong seketika melihat Chiyo menganggukkan kepalanya. Pikiran akan masa depan yang ditunjukkan padanya beberapa waktu lalu kembali berputar seperti gasing di kepalanya. Bagaimana Sasuke keluar dari pintu rumahnya, bagaimana Sasuke memeluknya dari belakang. Dan pikiran itu berakhir... saat Sakura melihat bibirnya disentuh bibir Sasu—
"TIDAAAAAAK!"
BRAK
Sakura menjerit histeris, dia masuk ke ke dalam kamarnya dan membanting pintunya sekencang mungkin. Nenek Chiyo terlonjak kaget. Sambil mengelus-ngelus dadanya dia mengutuk cucu perempuannya itu, "Cucu sialan!"
.
.
Keesokan harinya, Sakura kembali berangkat sekolah seperti biasa. Yup, masih seperti malam sebelumnya, wajahnya pucat pasi. Jelas dia tidak sakit, mana mungkin orang sakit pagi-pagi bangun dan melempar anjing yang BAB sembarangan di halaman rumahnya. Ada dua penyebab mengapa wajahnya seperti orang setengah hidup itu, pertama dia habis diceramahi neneknya habis-habisan dari jam empat pagi hingga jam enam waktunya dia berangkat sekolah. Kedua, dia akan kembali bertemu dengan calon sua—err maksudnya musuh terbesarnya yang terkutuk di sekolah hari ini.
"Ohayou," ucap Sakura lemas saat masuk ke dalam kelasnya. Gadis berambut merah muda itu duduk di tempatnya yang biasa. Dia mengerling ke seluruh kelas, namun sahabat baiknya yang berkuncir seperti buntut kuda belum datang.
Sakura menundukkan kepalanya menghadap kakinya, "Hoi forehead," panggil seseorang. Sakura mengerutkan alisnya, yang biasanya memanggil 'forehead' adalah Ino sahabatnya. Namun, ini bukan suara Ino, suara bariton ini kan...
"Apa chickenbutt?" tanya Sakura sinis menatap laki-laki di sampingnya yang tengah memegang buku tulis. Sasuke—nama pemuda itu—mendelik menyadari tatapan sinis Sakura padanya.
"Nggak usah sesinis itu kali!" gerutu Sasuke, dia menarik kursi supaya dia bisa duduk di samping Sakura, "kau ingat kan beberapa hari yang lalu kita sekelompok untuk mengerjakan tugas Biologi, apa kau sudah mengerjakan bagianmu?" tanya Sasuke panjang lebar. Sakura menatap malas Sasuke yang tengah membuka bukunya. Setelah memutar bola matanya, Sakura beranjak dari kursinya.
"Hn? Hei, kau mau ke mana?" tanya Sasuke sambil berdiri dari kursinya, kini dia berhadapan dengan Sakura, "Dari tadi kau sinis terus, mau cari masalah denganku lagi hah?" tanya Sasuke kesal.
"Huh, tak perlu dicari pun kau sudah menjadi masalah bagiku ti-ap-ha-ri!" jawab Sakura dengan nada sarkastik. Sasuke tertegun sesaat, dia tahu Sakura memang selalu sinis dan dingin hanya padanya. Yah Sasuke juga melakukan hal yang sama sih. Tapi sekarang, Sakura jauh lebih sinis dari biasanya.
"Ada apa sih?" tanya Sasuke yang mengikuti Sakura dari belakang. Sakura mendengus lalu berbalik.
"Jangan ikuti aku, chickenbutt! Aku sedang ingin sendiri," ketus Sakura, lalu pada akhirnya dia kembali berjalan meninggalkan Sasuke yang terdiam bingung.
Sakura kembali berjalan, dia benar-benar kesal. Sebenarnya dia ingin menceritakan soal masa depan itu pada Sasuke. Berhubung Sakura berpikir bahwa Sasuke juga memusuhinya, pasti laki-laki itu mau bekerja sama untuk mengubah masa depan mereka. Tapi paling-paling juga Sasuke tidak akan percaya hal yang sesungguhnya masih di luar akal sehat itu, dia akan tertawa dan akan tersebar gosip bahwa Sakura adalah mama Lauren versi terbaru karena bisa melihat masa depan. Hn, whatever lha.
Sakura menghentikan langkahnya saat menyadari seseorang berhenti di depannya. Gadis itu mengangkat kepalanya, "Oh hai Gaara," sapa Sakura pada laki-laki berambut merah di depannya. Ada yang aneh, laki-laki yang biasanya dingin dan tenang itu kini terlihat gugup dan wajahnya pun mengeluarkan semburat merah kecil.
Sakura membuka mulutnya untuk bertanya lagi, "Gaara?"
"Sa-Sakura," tiba-tiba Gaara mengeluarkan suaranya. Sakura diam mendengarkan, namun seketika kata-kata Gaara berikutnya membuatnya bengong dan matanya membulat. Begitu pula anak-anak di sekitar yang melihat mereka.
"Aku.. menyukaimu sejak dulu, ma-maukah menjadi pacarku?"
Sakura membuka mulutnya, otaknya masih loading rupanya.
"Hah?"
.
Sasuke saat ini tengah duduk di kursinya. Mata onyxnya menatap lurus buku di depannya, hari ini ada ulangan Fisika, dan si bungsu Uchiha itu tengah memutar otaknya untuk menyerapi materi-materi yang dipelajari. Jari di tangan kanannya sedang asyik memutar-mutarkan pensil. Wajah tampannya yang sedang serius, bisa membuat siapapun berteriak histeris menyebut namanya. Telinganya mulai terganggu saat ada banyak suara langkah-langkah kaki di koridor yang terburu-buru seolah ingin melihat sesuatu yang menakjubkan. Ke sekian kalinya Sasuke bersabar, dia sudah tak tahan lagi lalu mengangkat kepalanya.
"Ada apaan sih? Berisik sekali!" gerutu Sasuke kesal. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pintu kelas lalu mengamati orang-orang yang berlari melewatinya.
Sasuke menghentikan temannya yang gendut dari kelas sebelah, "Hei Chouji ada apa sih?" tanya Sasuke penasaran. Chouji terlihat mengatur nafas lalu menepuk pundak Sasuke.
"Kau tidak tahu Sasuke?" tanya Chouji balik, "kamu tahu Gaara? Cowok pendiem itu katanya nembak Sakura si musuh terbesarmu," jawab Chouji seadanya. Seketika Sasuke langsung tertegun.
"Sakura.. ditembak?" tanya Sasuke lagi. Chouji mengangguk dan secepat kilat Sasuke langsung berlari mendahului Chouji juga orang-orang yang berlari di sekitarnya membuat cowok gendut itu terbengong sesaat.
Sasuke berlari secepat mungkin. Hingga dari kejauhan dia melihat anak-anak berkerubung membentuk lingkaran. Sasuke langsung menyerobot orang-orang menyusahkan itu. Dan kini Sasuke bisa melihat punggung Gaara yang tegap dan di depan laki-laki itu Sakura menatap Gaara dengan wajah memerah. Dada Sasuke berdegup kencang melihat wajah itu. Oh tidak, jangan sampai itu terjadi.
.
Sakura benar-benar bingung saat ini. Berkali-kali dia menelan ludah, takut salah mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya. Sesekali ditatapnya mata hijau zamrud di depannya yang menunggu penuh harap. Sakura menggigit bibir bawahnya saat orang-orang di sekitarnya mulai berteriak mendukung Gaara, "TERIMA! TERIMA!"
Di saat Sakura kebingungan itu, mata hijau emeraldnya menangkap sileut sepasang mata onyx di belakang Gaara. Menyadari siapa itu, tanpa sadar Sakura menyebut namanya, "Sasuke.."
"Sakura?" panggilan Gaara mengembalikan kenyataan pada Sakura. Gadis itu menatap Gaara yang tersenyum lembut padanya. Namun, bagi Sakura yang ada di ingatannya adalah tatapan Sasuke padanya tadi. Sakura merasa risih, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Entah kenapa ini yang terlintas di pikirannya, 'Oh ya, mungkin saja kalau aku pacaran dengan Gaara maka aku bisa merubah masa depan. Setidaknya Gaara jauh lebih baik dari si pantat ayam itu, seiring waktu pasti aku bisa menyukainya,' Sakura tersenyum senang akan keputusan yang sebenarnya salah ini. Dia menatap Gaara dengan mantap.
"Baik," Sakura tersenyum, "aku terima," ucap Sakura akhirnya. Sedetik kemudian, koridor sekolah menjadi bising. Semuanya berteriak memberi selamat pada pasangan baru ini, terutama Gaara yang tersenyum lebar saking senangnya. Sakura tertawa kecil melihat Gaara yang dipukuli teman-temannya untuk memberi selamat.
Sementara itu, Sakura lagi-lagi melirik pada Sasuke yang berada di belakang Gaara. Tadinya Sakura ingin berkata pada Sasuke, "Tuh, lihat kan sekarang aku sudah punya pacar. Berarti asumsimu bahwa aku tidak laku itu tidak benar!" namun saat Sakura ingin mengatakan itu, dia tertegun menyadari tatapan tajam Sasuke padanya. Jelas kalau Sasuke tidak suka dengan jawabannya.
"Ke-Kenapa dia menatapku begitu?" tanya Sakura pada dirinya sendiri. Sementara itu Sasuke tanpa berkata apa-apa langsung membalikkan badan dan pergi begitu saja.
Sasuke berjalan kembali menuju kelasnya di pojok. Di kepalanya masih terbayang kata-kata Sakura saat menerima Gaara. Rasanya bagaikan pisau yang menusuk dadanya berkali-kali. Sasuke menggertakan giginya, dia mengepalkan tangannya lalu memukulnya pada tembok di sampingnya. Darah sedikit keluar dari tangannya namun Sasuke tidak peduli. Rasa sakit di situ tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit di dadanya.
"Kuso!"
.
"A-Aku tidak menyangka, bisa diterima sama kamu," suara pelan dan tenang itu terdengar dari taman belakang gedung sekolah. Suara yang berasal dari laki-laki berambut merah yang tengah tersipu. Di sampingnya seorang gadis berambut merah muda duduk dan menatap lurus.
Sakura—nama gadis itu tersenyum, "Hn," hanya itu yang dia ucapkan. Gaara—nama laki-laki yang berambut merah itu, menatap heran pada pacar barunya tersebut.
"Sakura?" panggilnya hati-hati, Sakura menoleh dan tersenyum menatap Gaara, "Ada yang kau pikirkan ya?" tanya Gaara lagi.
Sakura terlihat salah tingkah, "Oh ngg aku... tidak apa kok.." jawabnya dan tetap tersenyum—senyum yang dipaksakan.
Gaara tidak bodoh. Tentu saja dia menyadari perubahan Sakura itu, ingin bertanya, namun dia takut menyinggung pujaan hatinya tersebut. Akhirnya Gaara memilih diam dan menatap lurus seperti yang Sakura lakukan di sampingnya. Menatap burung yang berkicauan di depan sana, bermain dengan burung-burung yang lain. Angin berhembus perlahan membuat daun-daun saling bergesekan. Gaara memang terlihat canggung dan ingin mencari topik pembicaraan. Sementara Sakura, dari tadi di kepalanya hanya ada satu orang. Orang itu—
"Jidat!" panggilan seseorang memecah keheningan di antara mereka. Sakura dan Gaara bersamaan menoleh ke belakang. Gaara bengong, sementara Sakura tertegun melihat siapa yang tadi memanggilnya. Laki-laki yang entah kenapa sedari tadi berada di kepalanya.
"Sasu—"
"Cepat masuk kelas dasar bodoh, Anko-sensei memanggilmu," potong Sasuke sebelum Sakura sempat menyelesaikan kata-katanya. Sesekali Sasuke melirik Gaara dengan lirikan tajam juga sinis membuat sang empunya mata hijau Zamrud itu mendelik balik pada Sasuke.
Sakura yang tidak menyadari perubahan itu, hanya mengangguk dan berdiri, "I-Iya, maaf," ucapnya pelan. Lalu gadis itu menoleh pada laki-laki di sampingnya, "err Gaara aku kembali ke kelasku, kau juga lebih baik kembalilah ke kelasmu," pinta Sakura tanpa menghilangkan senyum manisnya membuat laki-laki di seberang sana merasakan api cemburu yang membakar dirinya sendiri.
Gaara yang menyadari panas api tersebut mulai menyeringai, "Oke," sejurus kemudian dia berdiri dan dengan sigap mencium pipi Sakura. Tentu saja perbuatan tiba-tiba itu membuat wajah Sakura memerah dan membuat Sasuke ingin melempar apa saja yang ada di depannya kepada laki-laki berambut merah tersebut.
"Cepetan!" perintah Sasuke dengan nada agak berteriak. Sakura sedikit terlonjak kaget lalu setelah melambaikan tangan pada Gaara, dia berjalan di samping Sasuke. Masuk ke dalam koridor sekolah.
Sasuke dan Sakura berjalan beriringan. Sesekali Sakura melirik Sasuke, entah apa yang dipikirkannya. Entah kenapa gadis berambut dengan warna bubble gum itu merasa di sisi lain hatinya ada yang menentang keras perbuatannya untuk berpacaran dengan Gaara. Mata hijau emeraldnya sedikit menerawang hingga dia menangkap setetes darah turun dari selipan saku celana Sasuke. Sakura berhenti dan mengernyitkan alisnya, dia menatap tangan Sasuke yang sedari tadi dimasukkan ke dalam saku celananya, memang tangan itu sedikit bergetar seperti menahan rasa sakit. Menyadari Sakura berhenti, Sasuke pun ikut berhenti.
"Boleh kulihat tanganmu?" tanpa menunggu jawaban dari Sasuke, Sakura langsung menarik tangan kanan pemuda raven tersebut. Matanya sedikit terbelalak menyadari darah yang mengalir di punggung tangan laki-laki itu.
"Kenapa ini chickenbutt?" tanya Sakura dan memegang darah di tangan Sasuke. Belum kering, berarti luka itu belum lama dan baru terjadi. Sasuke hanya mendengus tanpa berniat menjawab.
"Pokoknya luka ini harus segera diobati! Ayo!" Sakura menarik tangan Sasuke sekencang yang ia bisa. Dengan malas-malasan tanpa niat, akhirnya Sasuke mengikuti saja kemana gadis itu membawa tangannya.
Ruang UKS. Itulah yang sempat Sasuke lihat sebelum dengan paksa Sakura menyuruhnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Tidak ada suster yang biasanya, membuat Sakura kesibukan sendiri mencari obat di dalam lemari sementara Sasuke hanya melihat punggung Sakura di belakang. Beberapa saat hanya terdengar keluhan-keluhan Sakura yang tidak berhasil menemukan obatnya, sebelum akhirnya Sasuke menghela nafas dan memulai pembicaraan.
"Hoi," panggil Sasuke dengan nada ogah-ogahan yang hanya disahut Sakura dengan 'Hn' ria.
"Kenapa kau menerima Gaara menjadi pacarmu?" tanya Sasuke ketus. Sungguh dia kesal sekali bertanya seperti ini. Namun rasa penasaran di hatinya mengalahkan segala egonya. Sakura terdiam sebentar, dia memikirkan jawabannya. Apa yang harus dia jawab? Lama hingga akhirnya Sakura menyerah, dia memilih untuk mendiamkan Sasuke saja.
"Memang kau menyukai Gaara?" tanya Sasuke lagi, "Sejauh penglihatanku kau tidak pernah sekalipun memperhatikan laki-laki pendiam itu," dan kata-kata itu serasa menusuk Sakura tepat sasaran. Uh, kenapa Sasuke bisa tahu sampai sejauh itu? Sakura menggigit bibir bawahnya, dia harus apa sekarang?
Sakura membuka mulutnya, "Apakah..." perkataan Sasuke membuat Sakura kembali mengurungkan niatnya untuk bicara, "..kau hanya kasihan pada Gaara?" tanya Sasuke dengan nada sarkastik.
"Ti-Tidak!" bantah Sakura cepat, dia berbalik dan menatap Sasuke sesaat. Emerald bertatapan dengan onyx yang semakin memaksanya masuk ke dalam. Menyadari itu, Sakura menutup matanya untuk mencegah dirinya masuk lebih dalam lagi, "aku tidak pernah kasihan maupun menyukai Gaara!" jawab Sakura cepat.
Keduanya tertegun sesaat. Sekarang Sakura benar-benar merasa terpojok, ketahuan sudah kalau dia tidak memiliki perasaan apapun pada Gaara. Sasuke pasti akan berpikir kalau dirinya adalah perempuan yang suka memainkan perasaan laki-laki. Tanpa bicara lagi, Sakura mendekati Sasuke untuk memasangkan perban pada tangannya, namun sebelum tersentuh perban, Sasuke menarik kembali tangannya dan menatap Sakura tajam.
"Aku tidak pernah menyangka kalau kau perempuan seperti itu," Sakura menunduk mendengar pernyataan Sasuke terhadapnya. Sementara itu, Sasuke berdiri dan keluar ruangan meninggalkan Sakura sendirian. Dadanya sakit, dia tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Dia kembali teringat kata-katanya kemarin pada Guy..
'Masa depan ini pasti kuubah! Mana mungkin aku mau mempunyai suami seorang Sasuke Uchiha!'
Sakura menundukkan kepalanya. Sekarang perasaannya berkecamuk, tak dapat dideskripsikan dengan jelas.
Hn, sekarang dia benar-benar menyesal.
"Dasar bodoh,"
To Be Continued
Yup yup, special thanks for :
Yuu Hikari Orihara, himeureka, Miu Scarlet D'Rainwater, R-chan, Kazuma big tomat, Bubble Lollie, Ichaa Hatake Youichi, chappystrobery, Nocturna Serenity, Rissa 'Uchiha, 7color, Thia2rh, Bluepink-chan, SasuSaku Loers II, Shard Vlocasters, Rievectha Herbst, Uchiha Sakura97, Dhevitry Haruno, Miss Uchiwa SasuSaku, Haruchi Nigiyama, Shisylia-Chan, Ka Hime Shiseiten, me, Lin Narumi Rutherford, Hikari Shinju, Reygi 'Arata' Andreas, 4ntk4-ch4n, naoriN, Misaky Uchiha, Nanairo Zoacha, Athenalis, Rin Akari Dai ichi, Namichan, Wisteria D. Oleander, aya-na rifa'i, Nakamura Kumiko-chan, Riku Aida, LuthRhythm, Shiori Yoshimitsu, Kuroneko Hime-un, Hanaya Muchiniwa, gieyoungkyu, Indira Fauzia Kusumahapsari, Farah aishiteru SasuSaku
Juga untuk silent reader terima kasih :D
Yang bikin aku senang membuat fic ini, pertama my lovely uke, MiuScarlet menyukai hadiah spesial dari semenya yang keren ini (?) #dibantai# kedua, sahabat-sahabat tweepsku juga pada RnR hohoho jarang-jarang lho. Pada kesambet apa nih semua? XDD #dihajar anak-anak tweeps#
Yup itu saja, sebenarnya fic ini bukan fic humor. Namun jikalau ada humor, yah harap maklum saja karena pada dasarnya ciri khasku dalam mmbuat fic adalah 'memasukkan sense humor tanpa sadar' ==v
Masalah semi hiatus, kalau gak salah kemaren ada yang nanya kan? Yup, semi hiatus dan hiatus itu beda. Kalau semi masih bisa aktif walau tidak maksimal seperti keadaanku sekarang, itu saja perbedaannya :)
Thanks and see you in the next and last chapter, btw boleh minta review? X3
