CRYSTAL COVE

Disclaimer : J.K Rowling

Based on Lisa Kleypas's Novel

DraMione fic

Romance

--

Summary:

Hermione Granger tidak pernah merasakan cinta. Tidak peduli seberapa sering dan seberapa keras ia mencoba untuk mencintai pria, rasa cinta itu tidak pernah singgah di hatinya. Sebagai keturunan penyihir, Hermione bertekad untuk menyihir hatinya agar bisa merasakan cinta.

--

1

"Selamat pagi," sapa Ginny ceria saat memasuki dapur. "Aku membawakan buku yang ingin kau pinjam."

"Aku tidak membutuhkannya lagi," jawab Hermione hampir tidak mengangkat kepalanya dari cangkir kopi yang sedang ditatapnya. Ia duduk di meja makan, menopangkan dagu dengan tangan, "Tapi terima kasih."

"Tidak ada waktu untuk membaca?" tanya Ginny bersimpati. "Simpan saja dulu. Aku sudah sering sekali membacanya, jadi hampir bisa dikatakan aku hafal di luar kepala." Rambut merah Ginny menyapu bahunya saat Ginny meletakkan buku novel di depan Hermione.

"Untuk apa membaca berulang kali jika kau sudah tahu bagaimana akhir ceritanya?" tanya Hermione.

"Karena buku yang berakhir bahagia pantas dibaca lebih dari sekali." Ginny mengikat tali celemeknya, dan dengan cekatan menarik rambut merahnya ke puncak kepala, lalu menjepitnya dengan kuat.

Hermione tersenyum dengan enggan dan menggosok matanya, berpikir tidak ada orang lain yang lebih berhak mendapatkan akhir yang bahagia daripada Ginny. Meskipun mereka sepupu jauh dan hanya pernah bertemu saat masih anak-anak, sekarang mereka sudah sedekat saudara kandung.

Sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak Hermione meminta Ginny, seorang koki berbakat, untuk bekerja di penginapan miliknya di Friday Harbor, Artist's Point. Bersama-sama mereka menjadikan Artist's Point sukses menjadi penginapan populer.

Sambil menggeser novel roman ke dekat Hermione, Ginny berkata dengan nada membujuk, "Coba beberapa halaman dulu. pasti kau akan merasa kau berada di waktu dan tempat yang berbeda. Dan tokoh prianya sangat menganggumkan." Ginny terdiam sambil menghela napas. "Si tokoh pria itu sangat protektif, seksi, dan..."

"Aku takut jika membaca tentang tokoh pria fantasi hanya akan menaikkan standarku di saat seharusnya aku menurunkannya."

"Jangan salah paham, tapi sejak awal aku rasa standarmu terhadap pria tidak cukup tinggi."

"Oh, iya, standarku sangat tinggi. Dulu, aku hanya mau pergi berkencan dengan pria jika dia memiliki kepribadian yang bagus, tubuh yang maskulin, dan pekerjaan yang mapan. Sekarang aku cukup puas jika bisa berkencan dengan pria yang tidak terikat pernikahan atau tidak dipenjara."

"Membaca tentang pria fantasi tidak akan menaikkan standarmu, itu hanya akan mengisi waktu luang."

"Dan kau membutuhkan waku luang." Ujar Hermione dengan nada menyindir, "Dari tunanganmu yang mengerikan."

Ginny tertawa. Harry Potter, seorang kontraktor lokal, pantas mendapatkan banyak julukan, tapi 'mengerikan' tidak termasuk ke dalamnya.

Meskipun Hermione tidak pernah merasakan cinta sejati, ia tahu yang mana cinta sejati saat ia melihatnya. Saat Harry dan Ginny bersama, Hermione bisa merasakan dari suara mereka, seolah cinta sudah sangat memenuhi mereka sampai mereka harus mengingatkan diri mereka sendiri untuk bernapas. Kau bisa merasa benar-benar kesepian jika kau berada di dekat orang yamg merasakan cinta semacam itu.

Hentikan, tegur Hermione pada dirinya sendiri. Kau memiliki kehidupan yang hebat. Kau memiliki semua yang kau butuhkan.

Sebagian besar keinginannya akhirnya ia dapatkan. Selama hampir setahun ia bahkan memiliki kekasih, Ron, seorang pengendara motor berambut merah yang humoris.

Tapi Ron memutuskannya beberapa minggu yang lalu saat tanpa sengaja Hermione membuatnya ketakutan setengah mati.

Tatapan Hermione jatuh ke novel yang dibawakan Ginny. "Terima kasih sudah membawakannya, tapi sejak awal aku tak pernah berniat membacanya."

Ginny menoleh dari atas bahunya. "Lalu apa yang akan kau lakukan pada buku itu?"

Kilat jahil tampak di mata Hermione, membuat bibirnya berkedut saat mengakui, "Membakarnya dan membelikanmu novel yang baru."

"Kenapa kau mau membakar novel romanku?" Tanya Ginny polos.

"Well, aku tidak akan membakar semuanya, hanya satu halaman saja." saat melihat kebingung Ginny, Hermione mengangkat bahu dengan santai, "Aku berencana membuat semacam... rapalan mantra. Dan dibutuhkan 'kata-kata cinta yang digoreskan di perkamen' untuk menyalakan apinya. Jadi, aku pikir aku bisa menggantinya dengan satu halaman dari novel roman."

"Memangnya kau mau memantrai siapa?"

"Diriku sendiri."

"Kau pernah menyinggung tentang mantra sebelumnya." Ujar Ginny. "Dan aku ingat buku usang itu pernah kau keluarkan saat aku memiliki masalah dengan Harry. Saat itu kau menawarkan diri untuk mengutuk Harry. Aku pikir kau hanya bergurau, mencoba membuatku merasa lebih baik. Tapi sekarang aku mendapat kesan kau tidak bergurau."

Tidak. Hermione tidak bergurau.

Hermione tidak pernah merahasiakan fakta bahwa ia dibesarkan dengan tradisi sihir. Yang tidak diakuinya secara langsung adalah ia, seperti juga ibunya, Marygold adalah keturunan penyihir. Ada banyak sekte sihir tapi sekte tradisi keluarga merupakan kategori penyihir langka berusia berabad-abad... orang yang memiliki sihir dalam DNA mereka.

Semasa kanak-kanak Hermione, ibunya membimbingnya sesuai ajaran tradisi dan sering kali mengajaknya pindah rumah tanpa memedulikan jadwal sekolahnya.

Jika jejak jelaga di dalam kaca tempat lilin menyerupai hati yang ditusuk pedang, Marygold akan mengatakan sudah waktunya untuk pergi lagi. Marygold melihat tanda di jejak kaki, di bentuk awan, di bulan dan jejak laba-laba.

Segala sesuatunya mungkin akan berbeda jika ayah Hermione, Liam, masih hidup. Tapi Liam meninggal saat Hermione masih bayi. Dari sedikit kisah yang diceritakan Marygold padanya, Hermione tahu Liam adalah seorang petani buah. Marygold bertemu Liam saat membeli apel untuk merayakan titik musim gugur matahari. Liam mengupas apel dalam satu untaian panjang, dan saat jatuh ke tanah, untaian kulit itu membentuk inisial nama Marygold, yang dianggap Marygold sebagai pertanda.

Mereka menikah tak lama setelahnya. Liam meninggal tahun itu juga. Hubungan mereka berlangsung singkat dan mengejutkan, seperti halnya badai. Marygold tidak menyimpan foto Liam. Ia bahkan tidak menginginkan cincin kawinnya. Semua barang Liam pun dibuangnya. Hermione menjadi satu-satunya bukti bahwa Liam Granger pernah ada di dunia ini. Yang ingin diingat Marygold tentang mendiang suaminya hanyalah keyakinan bahwa cinta adalah hal terburuk yang bisa terjadi padamu.

Saat mengingat lagi tahun penuh pergolakkan itu, Hermione mengerti mengapa ibunya tidak pernah menetap di satu tempat. Jika kau tinggal cukup lama, cinta mungkin akan menemukanmu, dan memerangkapmu dengan sangat kuat hingga kau tidak bisa membebaskan diri.

Dan itulah yang Hermione inginkan, dengan segenap tekadnya.

"Katakan padaku, mantra apa yang akan kau gunakan pada dirimu sendiri."

Hermione cemberut dan mengayunkan kakinya. Kemudian menggumamkan sesuatu dengan nada pelan.

"Apa?" Tanya Ginny.

"Mantra cinta." Hermione melirik sepupunya, berpikir akan melihat cemoohan dan kilat geli di matanya. Tapi ini adalah Ginny. Ginny hanya akan terlihat baik dan peduli.

"Apakah karena kau putus dengan Ron?" Tanya Ginny dengan lembut.

"Tidak juga, ini lebih... oh, aku tidak tau. Aku tidak pernah jatuh cinta."

"Untuk beberapa orang, butuh waktu lebih lama untuk bisa jatuh cinta." Ujar Ginny.

"Ginny. Masalahnya bukan aku belum pernah jatuh cinta. Masalahnya adalah aku tidak bisa jatuh cinta." Hermione menoleh ke novel roman yang ada di tangan Ginny. "Apa bagian favoritmu dalam buku itu?"

Ginny menggeleng. "Kau akan mentertawakanku."

"Tidak akan."

Halaman yang dimaksud ditemukan Ginny dengan sangat mudah. Kemudian Ginny menyerahkan buku yang sudah terbuka itu pada Hermione. "Jangan dibaca keras-keras."

Tatapan Hermione menyusuri halaman tersebut.

"Kau," bisik si tokoh pria, "adalah tambang harta karun sulaiman-ku, kekaisaran tak terdeteksi-ku. Kau satu-satunya rumah yang perlu ku tahu, satu-satunya perjalanan yang ingin ku tempuh, satu-satunya harta yang rela kuperjuangkan dengan nyawaku. Kau eksotik dan familier, memabukkan dan menguatkan, teguran hati nurani dan godaan manis."

Pada halaman-halaman berikutnya, adegan berlanjut dengan gairah yang semakin meningkat, dan bahasa yang romantis. Hermione ingin membaca lebih banyak. "Apakah hal seperti ini mungkin terjadi?" tanya Hermione. "Maksudku kehidupan nyata tidak seperti ini kan?"

Wajah Ginny merona saat menjawab. "Terkadang kehidupan nyata jauh lebih baik lagi dari penjabaran di buku itu. Karena cinta bukan hanya ada saat momen-komen besar yang romantis, tapi dari semua hal kecil. Aku rasa hal itulah yang membuat hubungan menjadi semakin erat, lebih dari yang mampu dilakukan oleh malam-malam penuh seks yang dahsyat."

Hermione memberi Ginny tatapan jengkel. "Kau memang menjengkelkan, Gin." Gumam Hermione.

Seringai tersungging di bibir Ginny. "Kau pasti akan merasakannya suatu hari nanti," ujar Ginny. "kau hanya belum bertemu dengan pria yang tepat."

"Mungkin sudah," jawab Hermione. "Mungkin aku sudah bertemu dengan pria yang tepat dan aku kehilangan dia tanpa pernah mengetahuinya."

Senyuman Ginny memudar. "Aku tak pernah melihatmu seperti ini." Ujar Ginny. "Aku tidak pernah menyadari masalah ini sangat berarti bagimu. Kau selalu terlihat tidak peduli."

"Aku selalu mencoba untuk membuat diriku sendiri percaya bahwa itu tidak penting." Hermione menaruh keningnya di atas lengannya yang terlipat. "Gin," tanya Hermione dengan suara teredam "jika kau bisa menambahkan sepuluh tahun ke dalam kehidupanmu, tapi harga yang harus dibayar adalah kau tidak akan pernah merasakan cinta semacam itu pada seseorang, apakah kau mau mengambil kesepakatan itu?"

Tidak ada sedikit pun keraguan dalam jawaban Ginny. "Tidak."

"Kenapa tidak?"

"Itu sama saja seperti mencoba menjabarkan rasa atau warna baru. Kata-kata tidak akan cukup untuk membuatmu mengerti seperti apa rasanya cinta semacam itu. Tapi cinta itu layak ditebus dengan apa pun."

Hermione terdiam untuk waktu yang lama. Saat mengangkat kepalanya, Hermione menelan gumpalan yang menyumbat tenggorokkannya.

"Aku yakin suatu hari nanti kau akan menemukan cinta sejati." Hermione mendengar Ginny berkata demikian.

Aku pun sama yakinnya bahwa aku tidak akan pernah menemukannya. Pikir Hermione, kecuali aku melakukan sesuatu.

Sebuah ide terlintas di pikiran Hermione... ide yang bodoh dan berbahaya. Ia mencoba untuk menepiskannya

Meskipun begitu, Hermione bisa merasakan buku mantranya, yang tersimpan rapi di kolong tempat tidurnya, memanggil-manggil dirinya.

Aku akan membantumu, ujar buku itu. Aku akan menunjukkan padamu caranya.

• To be Continued •

--

Hola...

Sebelumnya maapin Pepper ya kalo ada kesalahan pengetikan dan Pepper juga mau kasih tau kalau cerita yang ternyata sangat sangat sangat panjang ini punya alur yang tak kalah panjang juga. Jadi Pepper mohon pengertian dan kesabarannya ya..

Terima kasih banyak buat yang udah review

Mohon dukungannya...