Title: Crazy!

Cast:

-Kim Ryeowook

-Kim Yesung

-Lee Donghae

-Lee Eunhyuk

-Choi Siwon

-Jiyeon and other

Genre: Romance, Humor, School Life, Friendship

Disclaimer: Ini ff remake dari sebuah novel karya Emolicious. Saya hanya memberikan beberapa perubahan dan penambahan seperlunya.

Summary: Ryeowook terpaksa harus menjadi kekasih seorang preman sekolah karena sebuah permainan konyol.

Warning: Genderswitch, Typho(s) bertebaran. Don't Like Don't Read, ok?

.

.

Penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya?

Pasti kalian penasaran. karena aku saja terkejut dengan kelanjutannya. Setelah aku berteriak, "Yesuuuunggg!" Dia datang. Ya, Yesung datang. TAPI DALAM MIMPIKU!

Kenyataannya dia tidak datang seperti yang kuharapkan di film-film, dimana si jagoan datang setelah si yeoja memanggil namanya minta tolong. Heh, sangat menyedihkan bukan? (oh, tolong jangan tertawa. perempuan seperti aku juga boleh bermimpi kan? -_-)

Setelah aku memanggil nama Yesung, empat orang ini hanya tertawa, "Kikikik, dia memanggil Yesung.. Namaku bukan Yesung, sayang..." Mereka pasti sudah gila.

Putus harapan karena aku tahu sia-sia saja aku meneriakkan Yesung, aku berusaha untuk lari. Tapi aku sadar kakiku berdarah karena jatuh tadi. dan bukan berdarah saja, bengkaknya luar biasa besar dan warnanya ungu!

Tak bisakah aku lebih sial dari ini?!

+BUAKHH!+

Oh Tuhan?

Itu.. Itu Yesung.. Dia datang! (kumaafkan kamu Yesung karena tak datang saat aku berteriak. Setidaknya kamu datang sekarang.. hehe)

"APA-APAAN KAU?!" kata salah satu diantara mereka.

"Mau mati...?" tanya Yesung. Setelah dia berkata begitu, sepuluh orang, ah tidak bahkan sepuluh lebih menuju ke arah Yesung. Ya, diantaranya adalah Siwon dan Donghae.

"Enyah... atau mati...?" kata Yesung ke tiga orang itu (yang satunya lagi sudah pingsan karena ditonjok Yesung) ngeri karena melihat Yesung dan jumlah pasukannya, tiga orang itu lari terbirit-birit. Mereka bahkan meninggalkan temannya yang pingsan! Teman macam apa mereka itu?!

"Ehm... te.. terima kasih.." kataku kepada Yesung.

Yesung hanya memandang ke arahku dan melirik ke arah lututku yang terluka, tapi dia tak berkata apa-apa. "Bereskan mayat ini!" kata Yesung ke anak buahnya dan mereka segera menarik bocah pingsan itu dan meletakkannya di tumpukan plastik di pembuangan sampah.

Siwon dan Donghae berjalan ke arahku dan Yesung. "Hei, Yesung! Pacarmu terluka nih!" kata Donghae.

"Kamu bisa berjalan?" kata Siwon kepadaku.

Hohohoho... Aku tidak bisa berjalan.. Tolong papah aku pangeran...

Ingin aku berkata begitu, tapi kutelan dalam-dalam keinginan itu. "Bisa... Tentu saja bisa.." kataku sambil berusaha berdiri. Luka itu ternyata lebih menyakitkan dari kelihatannya. begitu mencoba berdiri, lututku lemas dan aku terjatuh lagi.

"Naik ke punggungku. Biar kuantar ke rumahmu." kata Siwon.

"Tak apa-apakah?" kataku, padahal aku mau sekali menerkam punggung sexynya itu.

"Tak apa-apa... kan?" kata Siwon sambil melirik ke arah Yesung.

"Untuk apa melihatku? Kalau mau gendong, gendong saja. Aku malas menggendong babi seberat dia di punggungku," kata Yesung dengan cueknya.

Apa tak bisa dia sedikit baik mengingat dia yang membuatku begini?!

"Aku juga tak mau naik punggung baumu itu!" teriakku kesal. Huh, enak saja dia mengataiku babi.

"Jangan menjawabku!" bentak Yesung dengan mendelik ke arahku.

Yah-yah-yah, terserah apa katamu... Yang penting aku bisa digendong oleh Siwon! ohohohohohoohoho! Akhirnya keberuntungan beralih kepadaku juga hari ini!

Aku naik ke punggung Siwon. Bahunya lebar sekali, bahkan lebih besar dari bahu appaku (aku sering tejatuh, dan ya, appaku selalu menggendongku di kala kakiku luka). Dan rambutnya wangi sekali, entah apa shampo yang dipakainya.

Akhirnya, kami semua berjalan ke jalan yang sedikitnya sudah kukenal sekarang dan aku sangat berterima kasih karena Siwon sudah menawariku untuk menungganginya sejauh ini.

Aku jadi berpikir apakah aku berat? Tapi tidak mungkin, terakhir kali aku menimbang sepertinya beratku hanya 45kg, dan tinggiku 164.

45 kg?! Ia pasti keberatan ya?! Aku saja bawa tas sekolah sudah kecapekan setengah mati, apa lagi dia yang menggendongku sejauh ini!

"Turunkan aku saja kalau kamu kecapekan," kataku ke Siwon sambil menepuk pundaknya pelan.

"Tidak.. kamu ringan kok," jawabnya masih dengan berjalan.

"Beratku 45kg dan kamu bilang aku ringan? Menggendong anjingku yang 10 kg saja aku sudah setengah mati!"

"Ehem.. Mungkin kamu lupa. Hanya saja, aku ini 'namja' dan 'namja' lebih kuat dari pada yeoja. Jadi menggendongmu gampang saja buatku," jelasnya.

Masuk akal juga. Aku tak mengira namja benar-benar sekuat ini. Dan yang pasti aku senang sekali dan merasa beruntung sekali telah menjadi yeoja untuk saat ini!

Saking senangnya, mungkin bisa saja aku memeluk Siwon sampai dia kehabisan napas hingga mati. Tapi kebahagiaanku hanya berlanjut sebentar saja, sampai Yesung berkata, "Turun..."

"Apa?" kataku dan Siwon serentak.

"CEPAT TURUN KATAKU, YEOJA TULI! TURUN DARI PUNGGUNGNYA! HEI, SIWON, TAK BISA KAU LIHATKAH? YEOJA INI MELIHAT PUNGGUNGMU SAMPAI NGILER SEPERTI MAU MEMAKANMU?! SEBAIKNYA CEPAT TURUN SEBELUM KUTARIK KAU!" Yesung berteriak sambil berkacak pinggang di hadapan kami.

Entah apa yang ada di otaknya! Ia gila atau apa sih? Tapi mendengar kata-katanya itu aku sempat mengelap mulutku barang sebentar, takut kata-katanya itu benar kalau aku ngiler.

Aku turun dari punggung Siwon dan berdiri dengan satu kaki. Aku marah sekali kepada rambut emas norak sialan ini. Ingin rasanya aku meremas mulutnya dan kucabut lalu kubuang ke tempat sampah terdekat.

"Hei, Siwon, pulang sana. DAN KALIAN SEMUA JUGA PULANG SANA!" teriak Yesung ke Siwon dan pengikut lainnya.

Siwon dan yang lainnya akhirnya mengikuti kemauan Yesung. "Maafkan aku, ya. Sepertinya kau harus jalan sendiri untuk pulang," kata Siwon sebelum akhirnya dia berjalan pulang mengikuti teman-teman yang lainnya.

Tinggal aku dan Yesung disini, sampai aku akhirnya meledak saking kesalnya, "APA SIH MAUMU?! AKU NAIK BUKAN KARENA AKU MENGINGINKANNYA! KAU TAK BISA LIHAT DIA HANYA BERUSAHA BAIK UNTUK MENGGENDONGKU?! SETIDAKNYA DIA LEBIH BERMORAL DARIPADA KEPALA EMASMU ITU!"

Lelaki sialan ini menutup telinganya dan melotot ke arahku. "Tutup mulutmu. Jangan bicara seperti itu kepadaku."

"APA?! APA HAH?! HARUS SEPERTI APA AKU BICARA KEPADAMU?! KAU PIKIR KAU SIAPA?!" teriakku dengan menudingkan telunjukku di depan mukanya.

Saat aku meneriakinya barusan, dia lalu menutup mata seakan menekan amarahnya terhadapku. Tapi akhirnya dia mengangkat kakiku dan menggendongku di bahunya. Dia menggendongku seperti menggendong barang saja!

Aku mulai berontak dan berteriak," Hei. Turunkan aku dasar psikopat gila! Turunkan aku!" Aku berontak dan berteriak sepanjang jalan dan akhirnya dia menurunkan aku di pinggir jalan.

"Sesuai keinginanmu," katanya sebelum akhirnya dia meninggalkanku.

Dan, ya. disinilah aku. Terbengong di pinggir jalan seperti seorang gelandangan atau apa. Aku mulai mengutukinya karena telah menurunkanku yang terluka ini (aku memang minta diturunkan, tapi bukan itu kemauanku sebenarnya. Kau pasti pernah dengar juga kan? 'lain di hati lain di mulut'. Jadi tolong, jangan anggap aku sok jual mahal atau apa)

Aku berjalan dengan satu kaki, sambil berpegangan kepada apapun yg bisa membuatku tetap berdiri. Dan akhirnya aku sampai di rumah.

Orang tuaku meneriakiku karena pulang jauh malam tanpa memberi kabar dan pulang dengan keadaan kotor dan terluka. Adik laki-lakiku tertawa melihatku diomeli oleh orang tuaku. TAK BISAKAH AKU LEBIH SIAL DARI INI?!

Aku meninggalkan orang tuaku yang sedang meneriakiku ke kamarku. Aku tak mengganti baju dan sama sekali tidak peduli untuk mandi sampai akhirnya aku merebahkan badanku di kasur dan akhirnya aku tertidur. setelah hari-hari melelahkan ini, yang kuinginkan hanya tidur...

xXxXx

Aku terbangun keesokan harinya. dan itu sudah jam 9... Sudah terlambat untuk masuk sekolah!

Hm... aku berpikir kenapa orang tuaku tak membangunkan aku? Biasanya mereka akan marah padaku kalau bangun tak tepat waktu... Dan juga tak ada suara berisik adikku.. Oh iya, ini hari kamis. Dia pasti sudah berangkat ke sekolah.

Aku turun ke lantai bawah dan menuju dapur untuk mencari minum. Leherku kering sekali sampai terbakar rasanya.

Eh? Ada surat di meja makan. Kuambil suratnya, dan kubuka.

'Ryeowook, appa dan eomma harus pergi ke tempat Jung ahjumma. Anak mereka menikah, dan eomma lupa memberitahumu dan adikmu kemarin. Makan pagi dan malam sudah eomma taruh di kulkas. Tinggal dipanaskan saja bila kamu dan adikmu lapar.

ps: eomma dan appa akan pulang kira-kira dua hari atau tiga hari lagi. Jangan lupa belajar'

Yang kupikirkan hanya satu, yaitu...

'HORE APPA DAN EOMMA TAK ADA! AKU BEBASSS! AKHIRNYA KEBERUNTUNGAN MENGARAH PADAKU! MUAHAHAHHA!'

Dan kuputuskan hari itu aku bolos. Ya tentu saja, selain kakiku sakit, sudah telat pula.. Asik asik asik! Akhirnya aku bisa mengistirahatkan jiwa dan ragaku untuk sementara.

Aku langsung pergi mandi,dan mengobati lukaku (yang sudah bernanah dan membengkak karena kutinggal tidur tanpa diobati semalam). Setelah itu aku makan dan nonton TV sebentar. Tak terasa, ternyata aku tertidur lagi di sofa.

Tidur yang benar-benar nyaman.. Tanpa mimpi dan tanpa gangguan sama sekali..

"Wook... Ryeowook... Hei, Ryeowook!"

Aku terbangun sampai melompat saking kagetnya. Itu Eunhyuk! Bagaimana dia bisa membuka pintu rumahku? Atau jangan-jangan pintunya tidak terkunci lagi?! Duh, ceroboh!

Haduh.. Kenapa Eunhyuk pakai acara kesini segala sih? Tak bisa apa aku tidur barang sejenak?

AAAARGGGHHH!

"Apa maumu? Pulang sana!" kataku ke Eunhyuk dengan mata masih terpejam. (maafkan aku kalau aku kasar kepada sahabatku sendiri. tapi, ya. mood-ku jelek kalau baru bangun tidur).

Aku yakin Eunhyuk merengut saat ini. Sesaat kemudian aku merasa tanganku ditarik keras. "Jangan begitu dong! Ayo bangun... ayo,.. ayo bangun..."

Aku melepaskan tangannya lalu mendorongnya sedikit menjauh dariku. "Pergi sana... Jangan ganggu aku..." Setelah berkata begitu, aku mencium bau yang amat sedap... Hm... Bau ini... RAMEN! AKH AKU LAPAR!

Mataku langsung terbuka dan langsung kurampas plastik yang berada di tangan Eunhyuk.

"Hei! Itu memang kubawakan untukmu, tapi tak bisa sopan sedikit?!" protes Eunhyuk.

Ku jitak kepala Eunhyuk, "Sejak kapan kau belajar sopan santun, heh?" Setelah itu aku langsung mengarah ke dapur, dan segera memindahkan ramen itu ke mangkuk.

"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Eunhyuk.

"Tak bisa kaulihat aku sakit?" sahutku sambil makan ramen bawaannya.

"Apa yang bisa kulihat? Nafsu makanmu masih gila seperti biasa." Eunhyuk mencibir.

Aku mendelik sebal ke arahnya. "Jangan menjawabku begitu... Mau mati?"

Gadis itu seketika melotot setelah mendengar jawabanku. "Ih! Cara bicaramu sudah benar-benar mirip Yesung! Lebih baik hentikan itu sebelum kupelintir lidahmu!" ancamnya.

"Oh ehm, baik.. Baik.." Jujur saja, terkadang aku suka ngeri sama Eunhyuk. Bukan karena kata-katanya atau ekspresinya, tapi karena auranya. Mungkin dia itu dulu setan atau apa hingga membuatku ngeri begini... -_-

"Hei, kenapa semalam kau meninggalkan aku? Aku takut tahu!" tanyanya dengan cemberut. Mungkin tindakan kaburku kemarin membuatnya sebal.

Aku memasang wajah penuh penyesalan. "Maaf, Eunhyuk.. Semalam aku cuma emosi saja. Yesung itu benar-benar membuatku marah semarah marahnya!"

"Tapi dia keren sekali semalam...Tak kusangka gadis sepertimu bisa mendapatkan namja seperti dia!" Raut wajahnya seketika berubah menjadi sumringah saat membicarakan Yesung.

"Apa kerennya? Kalau kau mau ambil saja! Dia namja paling menjijikan yang bisanya memalukanku saja!" ujarku sambil mengunyah ramen.

Eunhyuk menatapku bingung. "Memalukanmu?"

Aku meletakkan sumpitku dengan cepat. "Iya! Semalam apa kau tak dengar dia bilang dia malu terhadapku? Ia cuma membawaku ke kafe itu untuk dipermalukan!Dia benar-benar..." Membicarakannya benar-benar membuatku marah. Mengingatkanku kepada kepala kosong emasnya itu!

Eunhyuk mengangkat sebelah tangannya bermaksud menghentikan perkataanku. "Tunggu.. tunggu sebentar... Apa maksudmu sih? Bukannya kamu yang bersikap aneh langsung lari keluar sebelum Yesung selesai bicara?"

" Apa sih maksudmu? Jangan membuatku makin kesal deh.." sungutku lalu kembali melahap ramenku.

"Setelah kau pergi meninggalkan kafe, apa kamu tahu Yesung menampar yeoja yang mengejekmu itu? Siapa namanya..? Hmm, tunggu sebentar kuingat dulu.. Ah!Jiyeon! Jiyeon namanya kalau aku tak salah ingat!"

Aku tersedak ramen saat dia bicara begini saking kagetnya aku. "Uhuk uhuk! dia menampar Jiyeon? Tapi, bagaimana bisa?" tanyaku penasaran.

"Tentu saja bisa! Si rubah betina itu mengejekmu 'sunbae pasti sangat malu deh.. lihat saja yeojanya aneh seperti itu.. kasihan sunbae~~ lebih baik sama aku~' lalu +PAAAK!+, si Yesung menamparnya. terus Yesung bilang ,'tentu saja aku malu... aku malu karena aku membawa dia kesini hanya untuk dipermalukan!' . Setelah itu dia pergi mengejarmu! KYAAAA! KEREN SEKALIII! AAAAH!" Dia bersorak sambil bertepuk tangan setelah menjelaskannya.

Aku menatapnya dengan serius. Sedikit tak percaya pada ucapannya. "Kamu serius? Kamu serius dia bicara begitu...?"

"Duh! Untuk apa deh aku berbohong? Sungguh, dia itu keren sekali...! Tapi tentu saja aku lebih suka Donghae.. kekeke" Setelah bicara begitu, Eunhyuk menyibukkan dirinya dengan menonton Tv sambil memakan cemilanku.

Sementara aku.. terbengong disini,... saking 'shock'nya..

Yesung...? Yesung si psikopat itu menampar rubah betina itu demi aku..? Yesung si mulut penjahat itu? membelaku?

MEMBELAKU? MEMBELAKU? MEMBELAKU?

Rasanya aku tak percaya sekali... Dan aku juga sangat gembira... Lebih gembira dari aku memenangkan lotre pertamaku.. Lebih gembira daripada saat kenaikan uang jajanku... Lebih gembira dari aku menjambak adikku... Pokoknya aku gembira sekali mendengarnya!

Ingin sekali rasanya aku memeluk Yesung sekarang juga! Yesung... Maafkan aku.

+DING DING~ CHA CHA CHA~ DING DING ~ CHA CHA CHA~+

Ah! Ponselku berbunyi... Caller id "unknown". Kuangkat sajalah...

"Yeoboseyo.." sapaku.

"..." Orang di seberang diam saja.

"Yeoboseyo..?"

"..."

"Dasar kurang kerjaan!" teriakku, lalu kututup teleponnya.

Siapa sih yang berani-beraninya menelpon di saat-saat aku lagi bahagia begini?! Mana tak ngomong apa-apa lagi waktu diangkat! Bikin emosi saja!

+DING DING~ CHA CHA CHA~ DING DING~ CHA CHA CHA~+

Hpku berbunya lagi... Caller id "unknown"..

Pasti ini yang tadi lagi..

"APA SIH?!" teriakku kesal.

"..." Dia tetap diam saja.

"Kalau kau tak bicara dalam waktu 3 detik, kututup!"

"..."

"Satu..." Aku mulai berhitung.

"..."

"Dua..."

"Ini aku." Akhirnya dia bicara juga.

Alisku berkerut seketika. "Aku? Aku siapa ya?"

"Ini aku..."

"Iya ini aku! Tapi aku siapa!" tanyaku kesal.

"Ini aku! Mau mati?!"

Yesung?! ini Yesung!ahahaha! Yesung!

Aku berusaha mengatur suaraku agar sesantai mungkin. "Ooh... Kamu...Kenapa telepon?"

"Kamu siapa...?" kata Yesung.

Otak orang ini terbuat dari kacang polong atau apa sih?!

"Iya! Kamu! Kenapa telepon?!" Akhirnya aku teriak lagi kepadanya. Dia memang paling jenius dalam membuatku marah.

"Siapa aku? Sebut namaku."

"Kamu,,,,, si kepala emas sinting.." candaku.

+tut~ tut~ tuuuuuuuuuuuuuuut~+

Ap... apa?! Ia memutuskan teleponnya! Ih... Dasar namja gila kepala polong sinting! Masa dia tak bisa diajak bercanda sih! ckckck..

Akhirnya aku memutuskan untuk menelponnya.

"SIAPA?!" teriak Yesung.

"Ini aku Ryeowook! Kenapa teriak sih?!" semprotku lagi. Heran deh kenapa lelaki sinting ini suka sekali narik otot kalau ngomong.

"Siapa itu Ryeowook?! Aku tidak kenal!"

"Ap... apa katamu...?!" geramku. Masa dia tak tahu namaku sih? Menyebalkan!

" Hei, Donghae! Siapa itu Ryeowook?!" Kudengar dia menyebut nama 'Donghae' , Sepertinya dia sedang bertanya kepada Donghae siapa Ryeowook itu.. Itu aku! Dasar kacang polong! -_-

"Ryeowook?! Oh... Itu lho... Yeojamu itu... Si yeoja mesum itu looohhhh..." Kudengar Donghae menjawab.

Lihat saja nanti kalau ketemu kamu, Donghae... Kupastikan akan kupindahkan rambutmu menjadi bulu dadamu...

"Ohh... Hai.. Kenapa telepon?" Akhirnya dia tahu juga kalau Ryeowook itu 'aku'..

"Tadi kau yang telepon duluan.. Harusnya aku yang bertanya... " Aku capek teriak-teriak.. jadi aku coba sabar saja...

"Tidak ada apa-apa! Memangnya aku harus ada apa-apa kalau mau telepon?!" tandasnya .

"Oh begitu ya.. Ya sudah, kututup ya.."

"Tunggu-" cegahnya.

Kekekeke, sepertinya aku mulai mengerti cara kacang polong ini berpikir?

"Apa? Katanya tak ada apa-apa," ujarku dengan gaya agak jual mahal sedikit.

"Memang tidak ada apa-apa! Jadi tutup mulutmu dan dengar sajalah!"

"..." Aku diam saja menanti perkataannya selanjutnya.

"Ba... bagaimana lututmu?"

Jadi dia menelpon untuk menanyakan itu? Aku terharu... Oh, Yesung...

"Tidak apa-apa kok... Hanya memar saja... Sudah, tak usah kuatir. Terimakasih ya.." jawabku dengan nada melembut.

"Ap.. apa katamu?! Siapa yang kuatir sama manusia barbar sepertimu!" sanggahnya cepat.

"Iya... Iya... Terima kasih ya..." Huh, gengsi sekali dia..

" .KUATIR!" teriaknya.

"Iya! Kamu tidak kuatir! Puas?!" jawabku dengan nada sedikit membentak.

"Jangan menjawabku begitu!"

"Oh? Begitu ya? Sudah selesai kan ngomongnya? Sudah ya..."

"TUNGGU!-" kekeke... terjebak lagi si kacang polong ini...

Aku memutar bola mataku kesal. "Apa lagi?! Kakiku sakit nih! Cepat deh ngomongnya..."

"Katamu sudah tidak sakit! Mana yang benar?!"

Ah iya, aku lupa kalau tadi bilang kakiku sudah tak sakit. "Sudah tidak sakit! Cepat! ngomong saja!"

"Yeoja emang resek... " desisnya.

Seketika aku mendelik. "Ap.. apa katamu?!"

"Jangan lihat yang lain..."

"Hah?" Aku sungguh tak menangkap maksud ucapannya.

"Jangan lihat yang lain..."

"Apa sih maksudmu?! Kamu selalu buat aku bingung!"

"JANGAN LIHAT YANG LAIN SAAT KAU BERSAMAKU! SAAT AKU BERSAMAMU, JANGAN BERANI-BERANINYA KAU BERDEKATAN DENGAN YANG LAIN! SAMPAI KULIHAT KAU SEPERTI KEMARIN LAGI, SIAP-SIAP SAJA UNTUK MATI!" Dengan refleks kujauhkan ponsel dari telingaku.

Aku tersenyum mendengar perkataannya lalu kembali mendekatkan ponselku ke telinga. "Itu sebenarnya kata-kata yang sangat mengharukan! Tapi kenapa kamu harus teriak sih?!"

"Aku tidak berusaha untuk mengharukanmu! Jadi tutup mulutmu, dengar, dan lakukan!" perintahnya.

Aku tertawa pelan. "Iya... Iya... Iya, chagi..."

"Chagi? Siapa dia? Dimana sekolahnya?! Kamu tak dengar apa yg kubilang barusan?!"

Aku mendengus. Kok ada ya orang seperti dia?! "Chagi itu kamu bodoh!"

"Namaku 'Y.E.S.U.N.G' bukan 'C.H.A.G.I' "

"Yayaya... Terserah..."

"Sudah dulu! Aku sibuk mau pergi! Yang lain menunggu!" kata Yesung.

"Eh tunggu-" cegahku.

"Apa lagi?!"

Karena penasaran, aku pun bertanya. "Kamu mau ngapain?"

"Kami mau berantem dengan SMA Higashi."

"Yayaya, terserah. "

"Kamu tidak percaya? Datang saja kesini kalau tak percaya! Eh tunggu- JANGAN BERANI-BERANI KAU DATANG KEMARI!"

+TUT~TUT~TUT~TUT~TUT+

Si kepala emas itu memutuskan teleponnya... Dasar tak punya hati!

Tapi tidak apa-apa... Aku senang telah berbicara dengannya.. Sepertinya, hari-hariku akan lebih mendebarkan kedepannya.. Hm,,, kita lihat saja... Hehehe..

Suasana hatiku jadi bagus hari ini... Dan sepertinya aku akan berjalan-jalan dan mampir ke toko terdekat untuk jajan dan berpesta di rumah dengan Eunhyuk (mumpung rumah kosooonggg... hehehehe)

"Eunhyuk! Ayo kita jalan-sebentar!" teriakku penuh semangat.

TBC

Hai... Aku kembali..

Hm..Sebelum membaca ff nya, harap membaca disclaimer nya dulu ya..

Makasih sudah membaca dan review..

See you..