Ohayou! Konichiwa! Konbawa!

.

Terima kasih sudah RnR. Saya senang sekali. X"D

.

I will survive~ ;) Dozo, Minna-sama!

.

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any personal commercial advantages from making this fanfiction.

Warning: AU, OOC, cliché, typo(s), boys love, lime, etc.

.

Bold: Ask

Italic: Answer

Underline: User Login

Special backsound: Troublemaker by Olly Murs (Lunafly cover)

.

Tidak suka? Tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. :)

.

Have a nice read! ^_~

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

"Masih belum ketemu Sasuke-kun? Sudah coba datangi rumahnya?"

Sakura bersimpati pada Naruto yang tampak frustasi karena entah sudah sekian hari tidak bertemu karibnya sejak kecil. Ditepuknya punggung tangan berkulit tan yang tergeletak di meja di samping semangkuk ramen pesanannya. Mencoba menyalurkan dukungan moril dari gestur lembutnya itu.

"Sudah. Aku tahu dari tetangganya bahwa dia sudah pindah rumah. Kurang ajar, Sasuke tidak memberitahuku dia bersama keluarganya pindah rumah!" geram Naruto yang mengaduk-aduk ramennya dengan kekuatan berlebih menggunakan tangannya yang bebas menggenggam sumpit.

"Kau tidak tanya keluarganya?"

"...tidak."

"Kenapa? Bukannya kalian teman sejak kecil, ya?"

"Yeah … dibilang teman tidak bisa juga meski aku kenal Sasuke sebaik aku mengetahui dia punya tanda kelahiran—tompel—di pundaknya. Aku kenal Sasuke karena kami satu Taman Kanak-Kanak, sekolah, hingga kuliah sekarang kami selalu bersama, dan kebetulan rumah ada di kompleks yang sama. Dia tinggal dengan keluarganya—yang tidak menyenangi aku sebagai anak yatim-piatu biang onar sekompleks perumahan dan anak asuhan berandalan, aku bersama Iruka-sensei. Aku bisa masuk ke rumah Sasuke kalau sedang tidak ada siapa-siapa di rumahnya," tutur Naruto jujur.

"Ponselnya? Coba hubungi Sasuke-kun," usul kekasih pemuda pirang itu, "e-err, tompel? Kau tidak mengada-ada, 'kan, Naruto?"

"Aku mana mungkin mengada-ada soal begitu. Rahasiakan, ya, itu tompel berbentuk seperti tanda koma ada di pundaknya. Aah … sudah kulakukan entah berapa kali. Nomornya tidak aktif." Naruto berdecak kesal. Dia mengetuk-ngetukkan sumpit tidak sabaran ke mangkuk ramen. "Aku cari-cari ke seluruh kampus, tanya ke orang-orang sefakultasnya—dan ternyata dia benar-benar tidak berteman dengan siapapun selain aku—pun tak ada yang tahu. Aku tanya ke sekretariat basis data kampus, mereka malah tidak tahu Uchiha emo sialan itu sudah pindah rumah. Aku tanya ke dosen-dosen yang mengajarnya, mereka malah bilang skripsi Sasuke sudah lama diserahkan bahkan dia sudah selesai sidang! Sasuke sudah lulus—terbaik pula, Sakura-chan. Dia tinggal wisuda saja."

Sakura yang cermat meneliti roman duka di mata biru itu ikut mengesah-lelah. Beruntung pilihannya untuk menerima Naruto sebagai kekasihnya tepat, daripada ia terus-terusan naïf mengejar Sasuke karena persis seperti kriteria pria dambaannya, tapi berujung ditinggal Sasuke tanpa jejak. Mungkin benar kata Ino waktu itu—meski ia agak ragu mengingat Ino juga waktu itu menyukai Sasuke—bahwa keturunan Uchiha satu itu tidak memiliki perasaan.

"Kau bisa menghampiri Sasuke-kun nanti ketika wisuda, Naruto." Sakura masih setia menepuk-nepuk punggung tangan tan dalam genggamannya.

"Tentu saja aku akan menendang pantatnya nanti, Sakura-chan," tanggap Naruto jenaka—berusaha tetap ceria menutupi kekhawatiran dan amarah, tentu takkan mengaku selarik rindu yang kian membludak di hati dan nyaris membuat kesabaran diri terkoyak.

Wisuda masih meniti dua lembar robekan di almanak, Naruto yang geram bersumpah mengobrak-abrik seluruh rahasia Sasuke hingga tuntas terkuak.

.

#~**~#

Special for SasuNaru Day #6 2014,

.

Sora no Naku Koro ni

(When the Sky Cry)

.

By: Light of Leviathan

#~**~#

.

"UCHIHA SASUKE TEMEEEE!"

Hanya satu orang yang dengan kurang ajar bisa meneriaki seorang mahasiswa terbaik sengkatan baru turun dari podium usah memberikan pidato kelulusan. Entitas yang dipanggil mendengus, dia memutuskan untuk melewati saja orang laknat yang memagnet atensi publik kepadanya. Anggap tak ada.

"SASUKE, KUBONGKAR AIB TOMPELMU ITU PADA DUNIA KALAU KAU MENGABAIKANKU!"

Kau sudah membongkarnya, Idiot!

Yamanako Ino menyikut sahabatnya yang hari ini turut diwisuda, berbisik di telinganya dengan mata terpicing mengawasi sosok mantan kekasih sahabatnya yang menggila karena menemukan objek kegilaannya.

Sasuke berjalan menelusuri berbanjar-banjar kursi di atas karpet merah, memperlakukan persistensi makhluk pirang idiot yang dikenalnya lebih dari separuh hidupnya serupa dengan barikade gadis-gadis penggemarnya. Bahkan ketika orang itu mulai menarik bajunya, Sasuke membiarkannya dan tegas melangkah keluar dari gedung menuju perpustakaan. Barang-barangnya ia letakkan di sana karena tempat tersebut paling sepi.

Gadis-gadis menyepuh keluh pada arakan awan kelabu tatkala Sasuke menerjang hujan deras yang merinai bumi menuju destinasi.

"SASUKE!"

Mendecih. Dasar idiot. Nanti kalau dia sakit bagaimana? Tunggu, orang bodoh takkan terjangkit flu.

"AKU TAHU KAU TIDAK TULI, SASUKE!"

—kendati menyembul secarik pora euforia hatinya yang menyenangi dirinya dikejar segigih itu.

Keturunan Uchiha yang satu itu tak menghiraukan teriakan histeris melampaui getir yang menggelar gelagar garang. Sesampainya di gedung yang terlihat menua dilapuk usia, dijeblaknya pintu hingga terbuka—tergesa masuk ke perpustakaannya.

DUK!

BRAK!

"KAU MELAKUKANNYA LAGI. ASTAGA, HIDUNGKU BISA PATAH KALAU KAU SELALU BEGITU, BRENGSEK!"

Sasuke melirik sekilas orang yang sedang mengusap-usap batang hidungnya. Mungkin tatkala Sasuke menutup pintu tadi, pemuda sebaya dirinya itu tepat berada di muka pintu. Mata sewarna langit musim panas itu berkaca-kaca karena sakit di hidung—mungkin juga karena memendam sakit hati padanya.

"Hidungmu pesek. Mana bisa patah?" Sasuke menyayangkan ia tak sempat memeras bajunya yang basah kuyup—karena lantai perpustakaan diperciki buliran air dari pakaian mereka.

"KURANG AJAR!" sewot pemuda itu, mengalahkan bising denting hujan di genting perpustakaan.

Sasuke menghampiri sebuah sudut tempatnya biasa duduk. Meraih ransel, mengeluarkan kantung plastik cadangan yang selalu siap-sedia untuk segala macam keperluan, membuka kausnya dan tanpa memerasnya menjejalkan ke dalam kantung plastik. Dia hendak meraih baju lain yang sudah disiapkannya juga, tepat ketika suara serius menggema pecah fokusnya.

"Sasuke…" Gema langkah kian mendekat. "Kenapa?"

Mengerling sekilas, Sasuke mengetahui tsunami emosi dari roman keruh orang yang menatapnya lekat-lekat. Ada banyak pertanyaan, dirangkum hanya dalam satu kata. Menghentikan kegiatannya disela hela napas lumrah, dibalasnya tatapan tersebut datar.

"Begini lebih baik."

"Aku tidak mengerti, Sialan. Kalau kau tidak bilang apa-apa, mana aku mengerti?" Satu langkah lebih dekat. "Kalau kau ada masalah apapun, kau bisa cerita padaku! Aku pasti membantumu menyelesaikannya."

"Dalam kehidupan—" Sensasi dingin dari runcingnya tatapan tajam mata oniks tersebut membuat lawan bicaranya bungkam, "—orang datang dan pergi dari hidup orang lain. Begitu pun aku. Kau. Semua orang di dunia ini."

"Maksudmu aku cuma teman temporer atau periodik di kehidupanmu? Tidak! Aku tidak akan meniggalkanmu, dan aku tidak mau kau pergi dariku!" raungnya frustasi.

Degupan ini menyakiti jantungnya. "Berarti pikiran kita tidak sama, Naruto. Dari dulu pun, tidak pernah sama."

Naruto menggebrak meja di sisi ransel hitam kawannya. "Aku tahu itu. Tapi bukannya karena kita berbeda kita melengkapi satu sama lain?!"

"Itu menurutmu," sanggah Sasuke. Mata oniksnya menyiratkan hampa tak tertara. "Kau tak mengerti apa yang kaukatakan."

"Siapa kau seenaknya menilai aku tidak mengerti diriku sendiri?" Suaranya menjajaki nada-nada tinggi disisipi ketersinggungan.

"Aku kenal kau cukup lama." Sasuke tak tahu kenapa fokusnya teralih pada buliran air sepanjang garis wajah hingga leher lawan bicaranya.

Tak ada tanggapan, mata oniks itu menelisik lagi manik dipercik lazuardi. Amarah. Seringai terbit di hatinya. Bagus, bencilah dirinya. Bencilah, jadi tidak akan sulit untuk meninggalkan.

Naruto mengacak-acak rambut pirangnya yang dikuyupkan hujan, menyangga tubuhnya ke meja terdekat. Membiarkan serakan helai-helai mataharinya redup oleh remang ruangan. "Kau tahu tidak … aku mencarimu kemana-mana?"

Tiada respon.

"Ke rumahmu—dan ternyata kau pindah tanpa bilang-bilang. Ke seluruh pelosok universitas. Ke orang-orang yang berhubungan denganmu. Aku meneleponmu dan mengirimkan SMS entah sudah berapa banyak. Aku berusaha mencarimu, aku ingin tahu apa kau masih hidup, masih menyebalkan dan sombong seperti biasa, apa kau baik-baik saja, apa yang kau lakukan. Tidak ada kabar sama sekali. Baru hari ini, itupun kau mengabaikanku. Padahal aku tahu kau paling tahu aku tidak suka kesepian begini, Brengsek! Bahkan gara-gara kau, aku sampai—GAH!"

Naruto terkejut tatkala dirinya dihempaskan ke meja. Sasuke yang topless memagari Naruto dengan kungkungan lengannya, sebelah tangan lagi digunakannya untuk memasung kedua tangan Naruto di atas kepala. Mata oniksnya menghunus tatapan yang sungguh tak menyiratkan akal bulus. Pucuk hidung mereka bertemu. Naruto menahan napas tatkala kepulan karbondioksida menerpa wajahnya. Kedekatan ekstrim. Pandangannya dikunci mati oleh sepasang mata sekelam malam.

"Apa semua temanmu kau perlakukan seperti aku, Naruto?" Suaranya rendah menginvasi ruang pendengaran pemuda berkulit tan.

Naruto menggeliat kesetanan. Menjerit kesakitan tatkala Sasuke semena-mena menginjak punggung kakinya, dan lutut Sasuke memembelai tungkainya.

"Jawab."

"Sakit, tahu!" sembur Naruto tidak terima. Dia berniat memuntahkan segala kosakata bahasa prokem terburuk yang takkan tercatat dalam kamus tatkala Sasuke mencengkeram tangannya, menindih tubuhnya sehingga napasnya kian tercekat di tenggorokan. Secarik kemeja dan kaus, selaput tipis air, hanya itu yang memisahkan tubuh mereka. "Akh! Tidak, hanya kau. Puas?"

"Bagaimana dengan Sakura?"

"Kenapa jadi Sakura?"Kerutan samar muncul di kening berkulit tan.

"Jawab."

"Kau ini kenapa, sih? Sakura kan pacarku—waktu itu, kau itu te—aahmpfh!"

Sasuke memblokir bibir Naruto sebelum sempat menggulirkan kata sakral andalannya. Ia tidak mau mendengar deklarasi suci Naruto tentang ikatan mereka sebatas sekat pertemanan semata. Bibirnya meraup bibir yang kenyal dan sedikit dingin, Naruto tergemap saking kagetnya, Sasuke mencuri peluang tersebut untuk menghisap bibir atasnya. Mengintrusi rongga yang menghempaskan rasa ramen di sela-sela gusi ke seluruh penjuru indera pencecapnya.

Meronta-ronta tidak terima, Naruto memberontak makin kuat. Sasuke menindih tubuhnya kian rapat. Seluruh saraf tubuh menjadi teramat sensitif merangsangkan sinyal rindingan kuat, terlebih dengan tangan Sasuke yang mempreteli kancing kemeja lalu menyingkap kaus Naruto. Meninggalkan bara jejak dengan sentuhan perlahan nan kelaparan, memetakan hamparan kulit eksotis jilatan matahari seluas ingatan, menyinggung beberapa tempat yang membuat Naruto makin kehabisan napas.

"Sa-Sasuke—khh!"

Sasuke melepas ciumannya. Menyisakan ikatan saliva menautkan mereka. Tampang Naruto dengan mata dipercik biru lautan—dan Sasuke menyelami gejolak ombak emosinya—itu memalu ulu hati, mungkin mata hitamnya berfatarmogana melihat gumulan spektrum tertinggi pelangi di pipi bergaris-garis. Kausnya tersibak. Celananya—Sasuke tak ingat kapan ia merusak resleting Naruto untuk menyentuh segala yang ada di baliknya.

"He-hentikan! Ke-kenapa—angh!"

Paru-parunya sesak terlebih dengan pasokan oksigen terhambat mengaliri penjuru tubuhnya yang memanas dipijaki jari-jemari dingin Sasuke. Pandangannya berkabut. Tatkala tangan itu menangkup bokongnya, meremas bongkah pantat padat sementara di satu sisi tangan sialan itu memelintir puting di dadanya, punggungnya mengurva sempurna, tindihan tubuh Sasuke yang melekatinya menyebabkan meja berderit.

Naruto rakus menghirup napas yang kepayahan. Tangannya yang terlepas menjambak kuat rambut hitam yang selalu dihinanya menyaingi duri-duri landak, sebelah lagi menemukan jalan pada punggung tegap yang selalu diejeknya kering-kerontang karena terlihat kurus meski proporsional berisi untuk dicakar melampiaskan sensasi eksplosif di seluruh tubuh.

"Kau tahu rasanya tidak bisa bernapas padahal masih bernapas?"

Naruto menggeleng keras, bibirnya terasa kebas akibat lumatan panas Sasuke yang bibirnya berekspedisi mengecupi pucuk hidungnya. Menyeret ke dagu, menyusuri garis rahangnya dengan kecupan basah sampai ke telinga. Berjengit karena geli telinganya seakan tergelitik. Tangan-tangan dingin berefek magis itu mengangkat sedikit punggung Naruto yang memiringkan kepala ke samping, menghindari tatapan gelap mata oniks yang menjilati setiap incinya, mengelupas dirinya hingga Naruto tak tahu dasarnya. Bibir itu mendarat di lehernya, membubuhkan ciuman pada detakan kuat nadi. Lidahnya melata, menuju ke pundak. Sementara hidung itu menghirup aroma natural yang terkuar kuat di lehernya.

"AKH!" Naruto mendesis. Berusaha menepis Sasuke yang menjamahnya. Tersentak dengan jeritan lolos lagi tatkala gigi-igi menikam tajam pundaknya. Perih bukan main. "Sa-Sasukee! Le-lepaskan, Brengsek! Ngh—"

Bukan dilepaskan, gigi laknat tersebut makin tajam menghunjam belakang lehernya. Jeritan itu menggaung ke langit-langit ruangan, teredam makian guntur, terendam suara derak jendela yang ditampar angin ganas, terpendam oleh riuh-rusuh hujan yang mengurung mereka di perpustakaan. Naruto mencakar, memukul, meninju Sasuke sekuatnya untuk melampiaskan kesakitannya.

"Ahhn! Sasuke—"

Sasuke baru melepaskannya saat lidahnya mengecap likuid amis beraroma besi dari luka menganga di pundak Naruto. Membiarkannya berlinang di tubuhnya bagai olesan ekstrak kelopak mawar di kanvas kulit hangat panggangan matahari. Meludah sesap darah ke samping, Sasuke membubuhkan ciuman halus pada luka yang dibuatnya. Menanamkan kecupan lembut pada Naruto yang meringis menahan tangis karena sakit bukan main pundaknya digigiti Sasuke.

Naruto siap menendang Sasuke dari atasnya, agar mereka bergulat tinju dan bukan bersilat lidah secara harafiah, tatkala dirasakannya Sasuke memeluknya perlahan. Dirasakannya tarikan pelan nan gemas di pipinya yang memanas.

Sasuke berbisik di telinga Naruto. Menggema. Rangkaian aksara persis seperti yang berhari-hari di waktu lampau hampir Naruto anggap lalu.

Kilat menyambar sangar. Cahayanya sepersekian sekon membuat mata biru berakomodasi maksimal melihat sorot pilu di mata hitam itu.

Siapa jadi pelaku untuk siapa?

Naruto yang tak peka meluluh-lantak pondasi afeksi Sasuke untuknya?

Sasuke yang meninggalkan Naruto berkubang tersepi merasa sendiri?

Segala energi yang tersisa Naruto maneuver untuk mendorong Sasuke darinya. Punggungnya nyeri karena melengkung terus-menerus, kakinya menelikung mengikuti lekuk tubuh Sasuke. Dihantamkannya keningnya pada dahi yang diseraki helai-helai surai hitam.

"Idiot, sakit." Penuh dendam Sasuke membalasnya dengan remasasan di atas pinggangnya, kulit pada kulit.

"Ahh." Naruto tak sanggup melisankan bahasa verbal apapun. Memelototi Sasuke sepenuh hati. Menyuarakan seluruh pertanyaannya akan menghabiskan waktu lebih dari seminggu.

"Begini lebih baik."

"Tidak usah sok misterius, Teme—" geram Naruto di titik kuliminasi angkara, "aku menjawab pertanyaanmu tadi. Sekarang jawab pertanyaanku!" tuntutnya.

"Berpisah seperti ini, akan membuat kita mudah melupakan."

"KAU PIKIR AKU BISA MELUPAKAN APA YANG BARUSAN KAULAKUKAN PADAKU?!"

"Lupakan saja."

"BAJING—"

Sasuke mencuri ciuman dari bibir yang pasti akan melontarkan deretan frasa kotor padanya. Melumatnya perlahan sampai Naruto sesak napas—balas dendam karena inilah yang selama ini Naruto lakukan padanya. Karena hipokrit pada sendiri dengan menepiskan kenyataan bahwa ia menikmati semua hal menyakitkan ini, tak menjerembabkannya dalam golongan masokis. Pandangan matanya melahap pemandangan Naruto yang berantakan, kaus terlipat sampai di bawah lekukan tulang selangka, kemeja basah-kuyup tergantung di lengan, celana turun dengan resleting terbuka hampir mencapai batas lutut dengan tali boxer terburai. Pula bibir memerah yang mengadiksi dirinya untuk mengulumnya lagi dan lagi.

Naruto terjatuh duduk ke kursi, membuang wajahnya ke samping karena ia tidak mau menginjak habis rasionalitasnya untuk balas mencium habis orang nista yang melakukan sekuhara padanya. Ia melayangkan kepalan tangan pada perut dengan pak-pak lengkap selalu menerbitkan iri di hati, namun Sasuke menepisnya.

"Lupakan semua tiga ribu malam yang telah terjadi." Sasuke memutuskan untuk mengenakan kaus yang tadi batal dipakainya. Menjejalkan cucian kotor dibungkus plastik balik ke tas.

Naruto lelah untuk merespon. Jantungnya berdetak nyeri di rongga dada mendengar tiga ribu malam—eh?

"Pikirkan sesuatu agar kau tidak masuk angin, Naruto." Sasuke terlalu kasual untuk seseorang yang baru saja menindak pelecehan pada kawannya sendiri. Melenggang hendak meninggalkan perpustakaan tatkala Naruto yang terlalu lelah mencegah kepergiannya.

"Kau … gay? Makanya kau lampiaskan semuanya padaku."

"Tidak." Sasuke mendelik sebatas putaran lehernya ke belakang pada Naruto yang terlihat atraktif untuk diterkam hingga tuntas mencapai klimaks.

"A-apa kau—" Regukan saliva termasuk yang menggantung di sudut bibir, "—menyukaiku?"

Sunyi.

"Tidak."

Naruto mencelos.

"Kau sudah menolakku. Jadi, tidak lagi … kurasa." Sasuke menatap letih pada Naruto yang terpaku kaku di tempat. Didorongnya pintu perpustakaan terbuka seperti hari itu, angin mengimpuls gigil di pori-pori kulitnya.

Ini terakhir kali Sasuke akan menelisik gelimang biru yang selalu tahu segala tentangnya. Mungkin di lain waktu, ia bisa mencari mata selain biru yang akan memikat hatinya.

"Sayonara, Naruto." Lagi kata ini terepetisi getir mengimpresi sunyi kendati di luar meriah oleh sambaran petir.

Sasuke meninggikan harga diri dengan menginjak serakan keping hatinya.

BLAM!

Apalah yang memacu langkah tertatih Naruto untuk menggapai sosok lenyap di balik pintu, ia tak mau tahu.

Mendobrak pintu perpustakaan, Naruto menahan beban kayu kokoh tersebut yang disodok gaya oleh bersikukuh angin dan basahnya bulir-bulir air.

Seperti waktu itu, Sasuke lenyap dari pandangan.

Naruto tak sempat mengungkapkan bahwa ia putus dari Sakura. Kekasihnya itu lelah karena tingkahnya yang frustasi dan menggila hanya karena ditinggal Sasuke. Merasa tak diperhatikan—bagaimanapun seorang gadis sudah sewajarnya menginginkan atensi lebih dari siapapun dari pacarnya.

Padahal butuh waktu seribu malam meluluhkan gadis tersebut. Namun itu tak seberapa bila dikomprasi dengan hari-hari yang dilalui bersama Sasuke. Tiga ribu malam.

Tiga ribu malam.

Mata biru brilian terbeliak.

.

'I've overcome more than 3.000 nights to tell you that I love you. But you didn't seem to love me'

.

Apa balasannya?

Keseriusan akan kejujuran dibalas dengan gurau canda?

.

'Haha. Seramnya tiga ribu malam. Memang kau tidak punya hidung sampai tidak bisa napas? Wkwwkwk :v'

.

Naruto jatuh merosot di sentral pintu, meninju kayu berukiran apik yang jadi pelampiasan himpunan rasa-rasa yang terkungkung sedalam lubuk hati.

Mata biru brilian yang Sasuke cintai selama lebih dari tiga ribu malam, akhirnya merinai titik-titik melankolia. Suaranya parau, pada deru badai berseru pilu.

"Sasuke, kenapa kau selalu menyebalkan dan mempersulit semuanya?"

.

Owari

.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

.

Naruto sama Sakura putusnya nggak ujug-ujug, kok. *sesap moccachino* kedesperetan Naruto gegara Sasuke ninggalin dia itu yang bikin mereka putus.

Dan soal perasaan Naruto, saya serahkan pada pembaca. ;)

.

ALL HAIL SASUNARU!

.

Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan kehadirannya. ^_^

.

.

Sweet smile,

Light of Leviathan (LoL)

.