"Ohayou.."

Sakura menganga lebar ketika sosok Usui Takumi sudah berdiri manis di depan halaman rumahnya. Helaian pirang pemuda itu nampak masih sedikit basah, dan wajah tampannya begitu segar disertai senyuman menawan andalannya.

"U-sui? Kau mau apa pagi-pagi begini?" Sakura mengerutkan keningnya bingung. Usui hanya menunjukan wajah inoncentnya, yang bisa dipastikan dapat membuat wanita manapun terkesima, Sakura bahkan tidak bisa menyangkal hal itu, namun sekelebatan sosok raven bermata obsidian langsung membuatnya kembali dari perasaan di masa lalu.

"Aku hanya ingin memberimu ini." Usui menyerahkan sebuah kotak berwarna merah, yang di dalamnya berisikan Sebuah kue ulang tahun berbentuk bulat dengan cream merah muda dan cokelat. Terdapat lilin angka 2 dan 3 di atasnya.

Sakura sempat membeku selama beberapa detik, sebelum akhirnya menerima kotak tersebut.

"Kau ingat ulang tahunku?" Sakura menatap Usui tidak percaya. Perasaan Sakura seketika menghangat, dan sebuah memori di masa lalu langsung menghinggapi kepalanya tanpa izin. Air mata Sakura menggenang di kelopaknya ketika bayangan tak kasat mata seorang pemuda berusia 17 tahunan yang berdiri di halaman rumahnya sambil memegang sebuah kue ulang tahun yang sudah tidak jelas bentuknya. Di atas kue itu terdapat lilin angka 1 dan 7. Helaian pirang pemuda itu basah kuyup, seiring dengan tetesan air langit yang masih turun dan menghujam tubuhnya.

Mata emerald pemuda itu diam-diam mengeluarkan cairan liquid yang telah menyatu bersama air hujan, membawa salah satu bukti kepedihan hatinya hanyut dan menyentuh tanah.

Tak lama setelah itu, sosok gadis merah muda berlari ke arahnya sambil membawa payung, wajahnya tak dapat menyembunyikan raut cemasnya dan jika diperhatikan, wajahnya pun sembab.

Gadis itu berjinjit demi sebuah payung yang dipegangnya agar bisa menghalau air hujan dari tubuh kekasihnya.

"Usu-"

"Otanjoubi omedetto, Sakura-Hime." Sela pemuda itu dengan suara bergetar. Gadis itu bisa melihat saat air mata pemuda itu mengalir turun dan menjatuhi wajahnya yang telah basah. Hatinya seperti ada yang mencubit dari dalam, dan rasa pedihnya tiada terkira.

Greeebbb..

Gadis itu pun membiarkan tangisnya pecah di tengah malam tak berbintang dalam pelukan kekasih-ah..mantan kekasih tepatnya. Bersama saling berusaha menguatkan satu sama lain, dan dalam hati meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.

Setelah beberapa menit saling memeluk dalam air mata, pemuda itu kemudian merogoh sesuatu dalam saku celananya, mengeluarkan sebuah korek api untuk menyalakan lilin di atas kue ulang tahun ditangannya yang hampir hancur tersebut.

"Make a wish?" Kata pemuda itu dengan suara serak.

Gadis bersurai pink itu hanya bisa tersenyum kecut, kemudian memejamkan matanya sebelum akhirnya meniup kedua lilin itu.

"Apa yang kau minta?"

"Semoga kau bahagia bersama dia, calon istrimu." Suaranya bergetar dan air mata telah menggenang di pelupuk matanya.

Gadis itu langsung di tarik paksa masuk dalam pelukannya, payung dan kue ulang tahun itu pun teronggok malang di dekat kaki mereka.

"Aku mencintaimu, Sakura." Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti sebuah cambuk yang membuatnya begitu menderita. Sakit. Pedih.

"Maafkan aku, sayang." Ujarnya lemah, seiring dengan tangannya yang memakaikan sebuah kalung berbandul bunga matahari pada leher gadis yang dicintainya itu.

"Aku.. hiks.. aku juga mencintaimu, Usui."

Tess..Tess..

...Dan bayangan masa lalu itu kini tampak begitu nyata di hadapannya. Berdiri menjulang di depannya, dengan senyum memikat yang membuat seorang Haruno Sakura dulu jatuh cinta.

"Tentu saja." Usui tersenyum lembut sembari menyusut sebuah linangan air mata di pipi putih Sakura.

Disclaimer

- Naruto @ Masashi Kishimoto

- Kaichou Wa Maid Sama @ Hiro Fujiwara

Title / Story : Im yours @ Komagata Haniko

Main Chara : U.Sasuke_H.Sakura_U.Takumi

Genre : Romance,AU

Rate : T

Ooc, Crossover, Typo.

Chapter 2

HAPPY READING

Sakura termenung ketika mengenang kejadian beberapa jam barusan. Saat Usui Takumi mantan kekasihnya bertandang ke rumahnya memberinya surprise kecil-kecilan untuk ulang tahunnya.

Berempat bersama orang tua Sakura, mereka pun menikmati sarapan kue ulang tahun yang dibawa oleh Usui.

Sakura melirik sebuah foto berbingkai hati yang tadi dihadiahkan oleh pemuda itu. Foto itu sebenarnya adalah foto tujuh tahun yang lalu, ketika Usui memberinya surprise kecil di hari anniversary ke dua mereka. Dalam foto itu tampak Sakura dengan wajah merona sedang di rangkul oleh Usui yang tampak cool dan tersenyum menggoda, wajah tampannya menghadap ke arah Sakura, dengan mata emeraldnya fokus pada mata Sakura, sedikit menunduk karena tubuhnya yang tinggi menjulang selisih 27 cm dari Sakura.

Saat itu adalah moment yang sangat manis bagi mereka berdua. Dan ternyata Usui masih menyimpan file foto tersebut untuk dijadikan hadiah di ulang tahun Sakura yang ke 23, kemudian dicetak kembali dengan beberapa editan berisi tulisan 'Otanjoubi Omedeto, Sakura-Hime' Kemudian dibubuhkan nama Usui Takumi pada sudut kanan bawah.

Sakura harus menghela napas berkali-kali ketika bayangan wajah mantan kekasihnya berkelebat kembali mengganggu bayangan calon suaminya.

"Tidak bisa seperti ini.. aakkkhhh" Sakura mengacak rambutnya frustasi. "Kalau seperti ini terus, aku takut-"

"Sakura?!" Sakura melonjak kaget saat suara bariton terdengar dari balik pintu kamarnya. Sakura sangat mengenali siapa pemilik suara itu.

Sakura dengan cepat langsung memasukan bingkai foto itu ke dalam laci mejanya, dengan wajah gugup seperti seorang maling yang telah tertangkap basah.

"Ya, Sasuke-kun. Tunggu sebentar!" Sakura kemudian berlari tergesa sambil membukakan pintu untuk Sasuke.

Ketika Sakura membuka pintu, hal pertama yang dilihatnya adalah seorang Uchiha Sasuke yang berdiri di hadapannya dengan senyum manis sambil menggendong seekor anjing trah jepang berjenis Shiba Inu berwarna cokelat keemasan. Mata bermanik hazelnya tampak sangat polos dan menggemaskan.

Mata beriris emerald milik Sakura seketika membulat dan hatinya langsung tersihir oleh tatapan sang Shiba Inu imut itu.

"Waaang.. wang.." Anjing kecil itu menyalak dengan suara yang menggemaskan, kaki depannya seperti ingin menggapai Sakura.

"Kyaaa... kawaii na, Rufus-chan!" Sakura langsung meraih anjing kecil itu dalam gendongannya kemudian memeluknya hangat.

Sasuke menaikan sebelah alisnya ketika mendengar kekasihnya itu sudah memeberikan nama untuk Shiba Inu yang tadi di belinya khusus untuk Sakura.

Sasuke mengikuti Sakura yang kini sudah berbaring di atas kasur bersama Rufus, gadis pink itu terlihat sangat gembira bermain bersama anjing barunya.

"Rufus?" Sasuke menatap anjing kecil itu yang kini sedang menjulurkan lidahnya dan berjalan dengan kaki kecilnya ke arah Sasuke. Sasuke meraihnya sambil menggaruk belakang telingannya membuat Rufus kegirangan.

"Ya, tiba-tiba saja nama Rufus tercetus di pikiranku. Dan aku menginginkannya. Apa kau tidak suka Sasuke-kun?" Sakura mengedipkan mata emeraldnya beberapa kali pada Sasuke membuat pemuda itu gemas.

"Aku suka."

Sasuke menurunkan Rufus dari gendongannya, kemudian meraih wajah Sakura dan memberinya ciuman lembut di bibir. Sakura terkesiap, hatinya berdesir dan jantungnya seperti sedang berlari saat ini. Entah ini adalah ciuman mereka yang ke berapa, namun tetap saja sensasinya berhasil memabukan keduanya.

Sakura membalas ciuman Sasuke tak kalah lembutnya, sambil sesekali meremas helaian raven berbentuk seperti bokong ayam itu.

"Sasu-mmhh.." Sakura mengerang saat Sasuke menjilat bibirnya.

"Selamat Ulang Tahun, Sakura." Bisik Sasuke lembut. Sakura merona dan matanya berkaca-kaca.

Perasaan Sakura seperti tertohok, baru beberapa menit yang lalu hatinya hampir saja mengkhianatinya dengan kembali mengingat masa lalunya bersama Usui Takumi, dan saat ini di hadapannya adalah calon suaminya Uchiha Sasuke yang menatapnya dengan penuh cinta, Sakura merasa begitu rendah dan dilingkupi perasaan bersalah.

"Arigatou, Sasuke-kun.." Sakura langsung memeluk erat tubuh kekar kekasihnya.

"Waang.. Waang.." salakan Rufus membuat Sakura refleks mendorong dada Sasuke lembut, Sasuke merengut karena Sakura langsung menggendong Rufus dan memeluknya hangat.

"Wahh.. kau cemburu ya Rufus-chan? " Sakura terkikik geli.

~000~

Sasuke menatap tajam pada sosok pirang yang kini berdiri di hadapannya.

Kontras dengan Sasuke yang terlihat dingin, pemuda satunya itu tampak santai dan tersenyum ramah sambil menyender di mobilnya yang terparkir di depan rumah Sasuke.

"Mau apa kau di rumahku?" Ujar Sasuke tanpa niat menyembunyikan rasa tidak sukanya pada lawan bicaranya tersebut.

Pemuda pirang itu hanya tersenyum geli dengan reaksi tak bersahabat dari calon suami mantan kekasihnya.

"Yaah, ternyata mencari rumah seorang Uchiha Sasuke tidaklah terlalu sulit ya, kau sangat terkenal rupanya." Sasuke memicingkan matanya karena jawaban Usui tidak sinkron dengan apa yang ditanyakan barusan.

"Perlu apa denganku?" Sasuke masih mencoba menekan emosinya.

Usui terkekeh. "Sepertinya kau tidak menyukaiku eh?"

Sasuke menatapnya tajam. Ketika Sasuke terlihat malas untuk menanggapi dan akan membuka gerbang rumahnya, barulah Usui mulai menjawab apa yang tadi ditanyakan oleh Sasuke.

"Aku ingin bicara denganmu. Tentang Sakura."

Mendengar nama Sakura saja sudah cukup untuk membuat Uchiha Sasuke menahan segala gejolak emosi di dadanya. Menarik napas panjang, lalu Sasuke mengajak Usui ke sebuah tempat.

Sepuluh menit kemudian, kedua pemuda tampan itu sampai di sebuah tanah lapang milik pemerintah, yang saat ini hanya terdapat hamparan rumput hijau.

Entah kenapa Sasuke memilih tempat ini untuk berbicara dengan Usui, mungkin saja Sasuke berpikir kalau akan lebih kecil resikonya untuk ada yang memisahkan mereka nanti apabila harus ada adu fisik yang tak dapat dihindari, mengingat tempat ini cukup jauh dari permukiman warga.

Sasuke menyender di mobilnya begitu pula Usui.

"Mungkin kau berpikir jika menghajarku di tempat ini maka tidak akan ada yang sempat menolongku eh?" Ujar Usui yang seolah dapat membaca isi kepala Sasuke. Pemuda Uchiha itu hanya menatap sinis padanya.

Usui tersenyum tipis, sementara itu sepertinya Sasuke tidak berniat untuk berkomentar. Tentu saja tadi itu dirinya hanya bergurau, namun jika menilik kepribadian seorang Uchiha Sasuke yang dingin dan begitu posesif pada Sakura, hal seperti itu mungkin saja terjadi.

"Sebesar apa cintamu pada Sakura?" Tanya Usui memecah keheningan. Sasuke meliriknya. "Aku tidak perlu menjelaskannya padamu." cuek Sasuke.

Usui mengerutkan keningnya. Mata emeraldnya lalu menatap Sasuke.

"Aku ragu kau bisa membahagiakan Sakura dengan sikap sinismu itu." Sasuke langsung mendeathglare Usui, namun diabaikan.

"Sakura itu wanita yang baik, ramah, manis, periang, jujur, dan juga cengeng. Dia adalah wanita pertama yang membuatku banyak memiliki impian. Dia adalah wanita yang selalu ingin ku lindungi. Dan aku mencintainya. Hingga detik ini."

Rahang Sasuke mengeras, tidak dijelaskan pun Sasuke tahu kalau pria di hadapannya ini masih mencintai kekasihnya. Dan tentang sikap Sakura, tentu saja Sasuke juga tahu, walaupun baru 13 bulan menjalin kasih dengan wanita Haruno itu namun sudah 3 tahun sejak pertama kali Sasuke mengenal dan memperhatikan Sakura. Melindungi Sakura juga sudah menjadi tujuan hidup Sasuke.

"Apa mau mu Usui Takumi? Aku benci bertele-tele." Sasuke menegakan tubuhnya dan menghadap pada Usui. Keduanya berdiri sejajar saling berhadapan.

"Aku menginginkan Sakura kembali padaku."

"Kau bercanda?"

"Tidak. Tentu saja aku serius."

Sasuke mentap tajam pada Usui. Dan begitu pula sebaliknya.

"Sakura masih mencintaiku. Aku bisa melihat dari tatapannya tadi pagi padaku."

Mata onyx itu melebar mendengar ucapan Usui.

Bruukk!

Sasuke mendorong dan menghempaskan tubuh Usui menghantam kap mobilnya. Sasuke merenggut kerah kemeja Usui dan meremasnya erat.

"Sialan! Apa maksudmu hah?" Desis Sasuke tajam.

Usui tetap tenang bahkan masih bisa tersenyum sinis. "Sakura masih mencintaiku. Tadi pagi dia menangis ketika aku datang dan memberinya kue ulang tahun juga sebuah foto kenangan kami." Mata Sasuke melebar, dan cengkeramannya di kerah Usui sedikit melonggar.

".. kau tahu kenapa dia menangis?" Sasuke menggeretakan gigi-giginya, matanya bak elang yang menatap mangsanya. "..Itu karena dia terkenang masa lalu kami. Aku tidak yakin kau benar-benar tahu alasan kami berpisah. Tapi yang pasti, perpisahan kami terjadi tepat 6 tahun yang lalu dan disertai tangis juga luka." Sasuke membeku. Cengkeramannya terlepas, Usui langsung menghentakan tubuh Sasuke membuat pria itu sedikit terhuyung dan mundur ke belakang.

Sasuke terlihat sangat terkejut. Sasuke memang tahu kalau Sakura putus dari Usui karena pria itu memilih menikah dengan wanita pilihan keluarganya. Namun Sasuke hanya tidak ingin mempercayai fakta kalau mereka berdua terluka oleh perpisahan tersebut, dan Sakuranya.. mungkin saja masih belum bisa benar-benar melupakan Usui Takumi.

"Usotsuki.." Gumam Sasuke lirih.

"Aku memang sudah tidak memiliki hak lagi pada Sakura. Tapi malam ini aku ingin mengatakan padamu sebagai seorang pria." Usui berkata tegas. "Aku masih mencintai Sakura, dan aku akan berjuang untuk mendapatkan cintanya kembali, aku akan merebutnya darimu."

Sasuke mematung. Namun tatapannya tak gentar.

Usui sudah bersiap untuk masuk ke dalam mobilnya ketika suara Sasuke menahannya untuk beberapa detik.

"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan untuk membuat Sakura berpaling dariku! Tapi, aku pastikan Sakura tidak akan meninggalkan aku. Bukan karena dia tidak mampu. Namun karena hatinya tidak ingin. Karena dia adalah milikku."

~000~

Sakura melihat Sasuke dan Usui bergantian dengan kening berkerut. Hari ini adalah jadwal pemotretan untuk sesi kedua prewedding nya bersama Sasuke. Namun Sakura dibuat hampir terkena serangan jantung sebab Usui Takumi tiba-tiba saja juga berada di Sungai Meguro, tempatnya dan Sasuke akan melakukan foto Prewedd.

Awalnya Sakura khawatir Sasuke akan salah paham dan memicu keributan diantara mereka, tapi yang membuat gadis bersurai pink itu melongo heran adalah sikap santai Sasuke yang sepertinya tidak terlalu terkejut dengan keberadaan Usui.

Sasuke malah melenggang begitu saja meninggalkannya menemui Sai dan beberapa crewnya yang tampak bersiap dibeberapa sudut. Tak jauh dari sana sosok Ino terlihat tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Ano.. Usui, kau kenapa bisa ada disini?" Tanya Sakura

"Tentu saja untuk bertemu denganmu." Usui tersenyum manis. Sakura ternganga. "Tapi kau tidak perlu menemuiku disini juga. Hari ini aku dan Sasuke akan-"

"Aku tahu. Dan aku ingin menilai seberapa serasinya kalian."

Sakura hanya bisa mengerutkan keningnya bingung.

"Kamisama benar kah kau Usui Takumi?" Ino sudah ada di samping Sakura sekarang, menatap pria bersurai pirang dihadapannya dengan mulut terbuka. Usui terkekeh, kemudian menyalami sahabat Sakura itu.

"Ya, ini aku Ino." Senyuman Usui membuat Ino yakin kalau ini adalah nyata. Senyum khas itu hanyalah menjadi milik seorang Usui Takumi.

"Tapi, bagaimana bisa kau kembali ke Jepang? Dan kau disini sekarang?" Ino melirik Sakura. "Kalian tidak sedang janjian 'kan?"

"Iie! Tentu saja tidak Ino-chan." Sanggah Sakura cepat membuat Usui harus menahan kikikannya.

"Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang menjadi milikku." Jawab Usui tegas.

Ino dan Sakura tampak terkejut mendengar jawabann Usui, apalagi saat Usui menatap Sakura intens dan tangannya terulur seperti akan menyentuh pipi Sakura.

Graabb..

"Kau terlalu lama. Ino tolong bantu Sakura mengganti pakaiannya!"

Sasuke langsung menarik tangan Sakura lembut, menyeretnya ke basecamp mereka. Sedetik sebelumnya Onyx tajam itu mendeathglare sang pemilik mata emerald bersurai pirang yang hampir menyentuh wanitanya.

Usui menyeringai sinis, sedangkan Ino dengan wajah cemas mengikuti Sakura dan Sasuke yang berjalan di depannya.

'Cih.. Mengambil kembali apa yang menjadi miliknya, katanya?' Sasuke mengumpat dalam hati.

Ekspresi wajah Sakura belum berubah sejak beberapa menit yang lalu. Pernyataan Usui tadi sukses menggali lagi kenangan lama yang telah di kuburnya dalam. Sementara itu reaksi Sasuke terlalu santai, entah apa yang terjadi. Namun Sakura benar-benar merasa kacau saat ini.

Sesi foto pertama dilalui Sasuke dan Sakura dengan mengenakan kimono, semua berjalan lancar dan hasil yang nyaris sempurna, walaupun basic keduanya bukan model, namun apa yang tadi mereka lakukan di depan camera sukses membuat Sai berdecak kagum.

Sesi kedua mereka mengenakan pakaian yang lebih casual. Sakura tampak manis dengan make up naturalnya, tubuhnya yang tidak terlalu kurus tampak cocok mengenakan dress polos sepanjang lutut dengan renda di bagian bawah roknya, berwarna pink pucat dengan motif bunga sakura. Sakura yang tinggi badannya hanya 159cm memilih memakai sendal bertali berwarna peach dengan hak 5cm.

Sasuke sendiri terlihat cool dengan kemeja lengan panjang navy, celana jeans hitam dan sepatu sneaker hitam keabuan. Wajah tampannya dibubuhi sedikit bedak tipis, sehingga wajah putih pucatnya tampak segar.

Sakura sendiri merasa terkagum-kagum oleh sosok tinggi menjulang di hadapannya itu.

'Nee, Kamisama~ Aku yakin suasana hatimu begitu riang gembira ketika menciptakan sosok calon suamiku ini.'

Blushh..

Sakura merona saat memikirkan hal itu lagi, fakta bahwa dirinya adalah tunangan Sasuke selalu sukses membuatnya berdebar dan merasa bahagia.

Suara kikikan beberapa wanita muda di sekitarnya membuat Sakura bangun dari lamunannya. Sakura melihat para wanita itu,wajah mereka tampak merona dan terkagum-kagum sedang menatap Sasuke dengan rakus. Sakura menatap sebal pada mereka dan juga tunangannya itu. Padahal Sasuke terlihat tidak peduli dan malah sibuk dengan ponselnya sendiri.

Sakura yang menyadari kalau kekasihnya itu menjadi pusat perhatian kaum hawa langsung bertindak lucu dengan terus-terusan membuntuti Sasuke, memeluk lengannya posesif.

'Kuso! Harusnya kau tidak perlu menjadi pria yang terlalu tampan, Uchiha Sasuke.'

Hal itu juga diperhatikan oleh Usui, ada rasa tidak rela melihat Sakuranya kini merona karena pria lain, dan tatapan wanita itu bisa Usui kenali dengan jelas. Tatapan yang dulu hanya tertuju padanya, kini tidak lagi menjadi miliknya. Namun menjadi milik pria Uchiha yang menurut Usui sendiri menjadi penghalang kisahnya dengan Sakura.

Sasuke menaikan sebelah alisnya ketika menyadari sejak tadi Sakura terus mengekorinya dan memeluk lengannya. Sakura hanya tersenyum manis dengan wajah polosnya saat mata Onyx itu menatapnya dengan kening berkerut.

Sasuke pikir Sakura sengaja bersikap demikian karena ada Usui sehingga Sakura takut kalau dirinya marah dan salah paham dengan munculnya pria bersurai pirang itu.

Namun Sasuke yang sudah mengetahui niat Usui untuk mendapatkan perhatian Sakura kembali mencoba untuk bersikap jantan dan tenang, tidak ingin mengutamakan ego dan emosinya. Lagi pula Usui juga sudah bersikap gentle dengan berani mengakui perasaannya terhadap Sakura pada Sasuke.

"Hai, Usui." Usui menoleh ketika Ino duduk di sampingnya.

"Ino. Ada apa?" Usui yang sejak tadi terus memperhatikan Sakura sampai tidak menyadari kalau Ino sudah ada di sampingnya.

Ino menarik napas panjang. Mata aquamarine wanita itu menerawang ke arah Sakura dan Sasuke yang sudah mulai berpose di depan kamera.

"Aku hanya ingin mengobrol dengan teman lamaku. Tidak boleh?"

"Haha.. Tentu saja, selama tuan berkulit pucat itu tidak menghajarku." Kekeh Usui sambil melirik Sai. Ino mengulum senyumnya. "Ku pikir kau akan menikah dengan Shikamaru. Dan selamat ya untuk itu.." Usui melirik perut Ino yang membuncit, ".. dan untuk pernikahan kalian."

Ino tersenyum kecut saat nama mantan kekasihnya disebut oleh Usui, namun Ino memilih untuk mengabaikannya.

"Terimaksih. Hehheee.. Kau tenang saja. Dia tidak seposesif Sasuke." Usui hanya diam. Ino meliriknya. "Kapan kau pulang?"

"Minggu lalu."

"Untuk apa?"

Usui kini melirik temannya itu. "Bukankah tadi sudah ku jawab." Usui menyeringai tipis kemudian mengarahkan emeraldnya pada Sakura yang tampak sedang memeluk Sasuke dari belakang, masih dalam sesi foto prewedd.

"Kau serius?" Ino mengerutkan keningnya.

"Kau tahu aku selalu serius jika menyangkut tentang dia 'kan."

"Tapi dia sudah memiliki tunangan, Usui. Kau sendiri melihatnya 'kan? Saat ini, di depanmu dia sedang melakukan foto prewedding."

"Aku tahu. Lalu apa masalahnya?" Usui menatap Ino dengan pandangan heran.

Ino menganga. "Kau tahu jelas jika itu akan jadi masalah untuk hubungannya dengan Sasuke."

"Lalu? Maksudmu aku adalah orang ketiga diantara mereka?" Usui tersenyum tipis mengabaikan pandangan penuh tanda tanya dari Ino.

"Ino, sejak awal Sakura adalah milikku. Kami saling mencintai, dan-"

"Dan itu adalah masa lalu kalian. Sebelum akhirnya kau meninggalkannya dan memilih menikah dengan wanita lain." Sela Ino.

"Aku tidak menikah Ino. Aku menolaknya."

"Tapi saat itu kau pergi tepat di hari ulang tahun Sakura. Kau meninggalkannya."

"Demi tuhan, itu bukan keinginanku. Saat itu aku tidak berdaya, Ino." Usui menatap Ino frustasi.

"Dan Sakura pun demikian. Saat ini dia sudah berbahagia dengan pilihannya, Usui." Ino menepuk pundak Usui mencoba memberi pria itu kekuatan. Ino tahu kalau saat ini Usui sangat terluka, dirinya pernah menjadi saksi bagaimana kedua pasangan saling mencintai itu memutuskan untuk berpisah. Dan itu adalah perpisahan yang sangat menyayat hati.

Ino masih mengingat bagaimana Sakura menjadi 'orang lain' dalam kurun waktu yang lama. Bagaimana saat keceriaan dan tawa sahabatnya itu direnggut paksa dari raganya. Dan bagaimana pilunya wanita itu saat menangis hampir tiap malam di dalam kamarnya.

Ino tahu hal itu. Ino masih mengingatnya dengan jelas.

Ino juga mengetahui bagaimana Sakura menutup rapat hatinya selama hampir lima tahun belakangan, sampai akhirnya Sasuke hadir dalam hidupnya melalui Naruto.

"Tapi mereka belum menikah. Aku tahu, aku masih memiliki kesempatan." Usui berkata tegas. Dari tatapan matanya Ino dapat melihat keteguhan dan tekad penuh teman masa SMAnya itu.

Ino hanya dapat menghela napas, karena tahu hanya akan sia-sia melarangnya jika seorang Usui Takumi telah bertekad.

Ino melihat Usui bangun dari duduknya. "Kau mau kemana, Usui?"

Usui tidak menjawab, pria itu hanya melirik Ino sekilas kemudian melangkah ke arah Sakura.

Ino menatap horor ke arahnya, rasa cemas kalau Sasuke mengamuk langsung menyelimuti hatinya.

'Jangan bersikap bodoh Baka Usui!'

Sakura yang menyadari kalau Usui berjalan ke arahnya langsung memucat. Diliriknya Sasuke takut-takut. Rupanya pria itu juga sedang melihat ke arah Usui. Dan entah karena apa, tiba-tiba saja Sasuke melengos pergi mengabaikannya.

Sakura terkesiap ketika Sasuke melepaskan jari-jarinya dari tangan Sakura. Pria itu bahkan tidak menatapnya.

"Sasuke-kun.." Sakura refleks menarik lengan kemeja Sasuke sehingga pria itu menghentikan langkahnya. Namun di detik itu juga Usui langsung menarik tangan kiri Sakura membuat wanita bersurai pink itu sedikit menoleh ke belakang.

Ino menahan napas di tempatnya.

"Love triangle." Gumam Sai seiring dengan bidikan jarinya pada cameranya yang masih On. Sai tersenyum tipis melihat hasilnya, entah apa yang membuat Sai ingin mengabadikan pemandangan itu.

Jika diperhatikan wajah Sasuke tampak dingin seperti menahan emosi. Sakura sendiri seperti hampir menangis, sedangkam Usui terlihat tenang dan datar.

~000~

"Usui, ku mohon lepaskan tanganku!" Kata Sakura memelas. Usui hanya diam tidak berniat melakukan apa yang diminta oleh mantan kekasihnya itu.

Sasuke tak menunjukan reaksi apapun.

Usui malah semakin mempererat pegangan tangannya di lengan Sakura.

"Usu-"

"Selesaikan urusan kalian! Aku menunggumu di mobil, Sakura." Kata Sasuke menyela protesan Sakura. Sakura ternganga tidak menyangka Sasuke yang biasanya begitu posesif kini sepertinya begitu santai membiarkannya berbicara dengan Usui.

Usui sendiri juga sebenarnya tidak menyangka kalau Sasuke saat ini masih belum juga menghajarnya.

"Nee.. Sasuke-"

"Aku percaya padamu." Kata Sasuke lagi sambil berbalik menatap Sakura. Melirik Usui yang masih juga belum mau melepaskan tangan tunangannya. Sasuke sekuat tenaga menahan emosinya. Sasuke hanya merasa harus memberikan waktu dan kesempatan pada Usui untuk berbicara kembali dengan Sakura.

Apapun nanti keputusan Sakura, dia akan menerimanya. Sasuke tidak ingin Sakura akan menyesal pada akhirnya.

Sasuke juga percaya, jika Sakura tidak akan mengkhianatinya.

"Sasuke-kun.."

Sasuke langsung mengecup kening Sakura kemudian melangkah memberikan ruang bagi Usui dan Sakura.

Sebelum itu Sasuke sempat melirik pada Sai dan Ino agar mengikutinya.

*

"Usui.. Kenapa kau-?"

"Kembalilah padaku, Sakura!"

-T.B.C-

A/N : Gomenassai padahal ide awalnya gak gini, tapi karena sempat WB dan baru nulis, jadinya ide awal berterbangan trus menguap deh dan munculnya ide ini ;( Maafkan kalau ceritanya jadi GaJe dan ngebosenin yaa *Lipat tangan plus puppy eyes no jutsu*

Terimakasih yaa utk yang mau nyempetin baca dan review, juga para silent readers. Semoga chap ini masih ada yang niat baca. :)

Balas review

@Kiyoi-chan : Wahh syukurlah kalau kamu suka dengan cerita ini, Aku juga suka banget sama SasuSaku dan Usui lho hehe.. terimakasih ya udah baca dan review.

@Bad Cherry99 : Nih ini udh next chap lho Huahahaa belum tau karakter Usui Takumi dari Kaichou wa Maid Sama ya? Boleh deh searching di Google-Sama dulu, baca manga dan anime nya juga, dijamin gak akan nyesal deh hehe *rekomendasi* Usui ini gak kalah cakepnya sama Sasuke, bahkan jauh lebih manis dan romantis. Pokoknya impian kaum hawa bgt deh.

Thanks ya udh baca dan review

Akhir kata... " RnR pleaseeee!! "