Disclaimer : Vocaloid ©Yamaha
Am I a Loner or Lonely © Chloe Cyasesa
Warning : bahasa yang tidak formal, OOC, Typo, OOT, rada lebay, dll.
"A-anoo.. Sudah malam, aku pulang dulu ya?" tanya seorang gadis mungil kepada sekumpulan orang didepannya dengan suara kecil, bahkan bisa dibilang sangat kecil.
"Makan dulu yuk. Lapar nih." ucap salah seorang dari sekumpulan orang tadi. Sepertinya ia tidak mendengar atau mungkin juga sengaja.
"Wah, kalau begitu nanti temani aku beli akse-" "Tidak mau! Beli sendiri sana kalau mau." potong salah seorang dari mereka.
"Su-sudah malam." ucap gadis itu sambil mencoba memberanikan diri untuk membesarkan suaranya. "A-aku pulang dulu ya?" lanjutnya. Sambil berharap ada yang mendengarnya.
Ternyata harapannya terkabul dan mendapat respon. "Apa!" bentak seorang perempuan yang secara kebetulan mendengar suara gadis itu tadi. Bentakkan tadi malah membuat ciut nyali gadis itu yang tadinya sudah bertekad untuk pulang.
"Pokoknya temani aku beli aksesoris! Sebentar sajaa. Ya? Len juga mau kan temani aku?" tanya salah seorang perempuan di sekumpulan orang didepannya dengan puppy eyes nya yang menghasilkan anggukan dari laki-laki yang dipanggil Len itu.
"Rin juga, ga keberatan kan nemenin aku beli aksesoris sebentar?" gadis mungil yang dipanggil Rin itu tersentak. Kelihatannya ia habis melamun. Entah memikirkan apa. Mata birunya berkedip berkali-kali sambil memasang muka bingung mungkin karena habis bengong tadi, ia jadi agak tidak sadar kalau dipanggil. Sampai akhirnya Rin langsung menjawab, "Eeh, iya." yang setelah itu langsung mendapat sambutan rasa mau menyesal. Toh dari awal kan dia mau pulang.
~flashback~
(Rin POV)
"Yang mana niih?" ucapku panik sambil memilih milih baju yang akan kupakai nanti. "Yaampun, payah banget deh. Padahal uda bangun dari pagi Cuma buat milih baju. Sekarang tinggal dua jam lagi pergi tapi masih belum ketemu baju yang cocok. Hh."
Baju yang seperti apa ya kira-kira. Aku sudah coba tanya orang-orang di chat sih. Tapi yang mereka jawab berbeda-beda. Apa aku pakai baju yang ini saja? Baju terusan warna krem, panjangnya setengah paha kira-kira, dengan pita di bagian atas dada. Tapi, jelek ah. Terlalu pendek, mana ada pitanya lagi. Terlalu.. feminim.
Ku ambil baju yang satu lagi. Baju sehari-hari. Atasannya sih gampang dicari. Buat bawahannya, rok atau celana? Kalau rok, panjang atau pendek? Celananya juga celana apa? Aduuh, kebanyakan mikir. Warna apa? Motif? Yang manaaaaa!
Oke, coba pakai baju biasa warna putih dulu. Putih kan netral. Terus... rok apa celana? Umm, coba rok. Rok warna apa? Motif apa? Aduuh, mau pergi aja kok susah amat sih. Apa pakai baju biasa sama celana jeans? Biasa banget sih, tapi ga mungkin aneh. Tapi kalau nanti ternyata yang lain pakai baju keren-keren, aku malah pakai baju biasa. Aduh, bingung. Beneran deh, mau sampai kapan Cuma mikirin baju doang. Belum lagi barang bawaan. Pakai tas apa? Uh, biasanya orang pakai apa? Aduuh.
TING TONG!
Eh? Aku? Bukan-bukan, pasti tetangga. Siapa yang datang juga lagian ke sini. Ga ada tujuan. Oke, balik ke baju. Pakai apa yaa.
TING TONG!
Aduuh! Berisik! Ga tau apa orang lagi mikir sampe stress gini. Cek aja deh. Pakai baju tidur aja kali ya bingung juga mau pakai apa. Lagian cuma ngecek.
TING TONG!
BERISIIIK! Grr. Ga sabaran amat sih. Lagian siapa yang datang di saat begini!
Aku pun berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya kecil. Ketika kulihat siapa yang diluar, langsung kututup cepat pintunya dan bersandar si pintu.
Ke-kenapa Len bisa disini?
"Rin?"
Bagaimana nih. Jujur saja, aku benar-benar panik sekarang. Kenapa dia bisa tau rumahku disini? Kenapa dia bisa disini? Seharusnya tidak ada satupun yang tau tempat tinggalku. Aku harus bagaimana sekarang? Haruskah aku keluar dan mengijinkan dia masuk? Atau berbicara di luar? Tidak! Tidak! Itu aneh. Jadi, aku harus mengijinkan dia masuk? Ini pertama kalinya ada orang lain selain 'dia' yang masuk ke sini. Aku harus bersikap biasa kan? Membiarkan dia masuk dan.. oh iya! Dia itu LAKI-LAKI! Kalau dia masuk, berarti aku akan berduaan dengan cowok yang baru kukenal disini? Ga! Ga akan! Tapi kalau aku tidak membiarkan dia masuk, pasti aneh.
"Rin?"
Ah! Oke, biasa. Biarkan dia masuk sampai ruang tamu dan perhatikan dia!
CKLEK.
"A-anoo, maaf lama. Ada apa?" oke, sudah mulai melenceng dari yang seharusnya. Seharusnya kan aku membiarkan dia masuk. Tapi.. kalau tidak tanya ada apa dulu itu kan aneh.
"Kau belum siap-siap?" kan masih 2 jam lagi. Aduh, mana aku pakai baju tidur lagi. Dan Len? Sudah pakai baju untuk pergi. A-a, kereen ~
"K-kan masih dua jam lagi." Ucapku sambil menundukkan kepala atau lebih tepatnya buang muka. Bodoh! Bodoh! Pasti aku kelihatan baru bangun tidur.
"Yah, kami semua sudah berkumpul. Tinggal kau saja. Jadi kupikir aku jemput saja." 'kumpul'? cepat sekali. Lagipula rajin sekali menjemputku. Aah, palingan supaya kita bisa cepat-cepat pergi kan? Sori deh kalau aku merepotkan.
" begitu kau duluan saja. Nanti aku menyusul." Lagipula baju saja belum kusiapkan.
"Aku tunggu disini deh. Kamu siap-siap dulu saja." 'disini'? di depan pintu? Wah, jangan deh. Serasa punya bodyguard.
"Eeh, jangan." Apa suruh masuk saja? Tapi kan dia itu COWO. Berarti nanti berduaan dong? Tapi kalau ga disuruh masuk, ga enak dong masa ditungguin di depan pintu. Aku sebagai pemilik rumah, harusnya mengijinkan dia masuk. Tapi dia COWO! Aduuh.
"Ga apa-apa kok. Dah sana siap-siap!" situ bilangnya 'ga apa-apa'. Tapi jadi ga enak nih. Uuh, masa masuk. Masuk, ngga, masuk, ngga. Aduuh! Waktu nih waktunya kebuang Cuma gara-gara mikirin masuk atau ngga.
"Tu-tunggu di dalam saja. Daripada di luar kan.." aduh, oke, sudah berapa kali aku bilang 'aduh' coba! Santai. Toh, dia ga akan berbuat yang aneh-aneh kan didalam.
"Aku tunggu didepan aja. Kamu siap-siap. Santai aja." Duuh, jadi ngga enak kan. Buang waktu! Tinggal masuk aja apa susahnya sih.
"Hh." Aku berjalan kebelakangnya dan mendorongnya masuk lalu menutup pintunya. "Nah, disana ruang tamunya. Tunggu disitu saja." Langsung aku berlari ke arah kamar dan bersandar di pintu. 'Kenapa aku lakuin hal ituu! Pasti aneh.' Sambil menutup mukaku dengan kedua tangan.
*(_ _)(_ _)(_ _)*
"Nah, pertama-tama mau ngapain nih?" tanya Len ke semua orang yang ikut disana.
Akhirnya aku pakai baju kemeja warna putih panjang dengan bawahannya rok pendek seperti rok SD motif kotak-kotak dengan warna tua. Sori deh kalau aneh, ngebut nih pakainya gara-gara kepikiran ditungguin terus dan berduaan di rumah. Rasanya mau buru-buru keluar bawaannya. Jadi milih kayak baju sekolahan deh, tapi bedanya ga ada dasi aja. Polos.. ckck, payah.
"Ke toko CD! Boyband X keluarin album baru nih. Musti lihat!" ucap seorang perempuan berambut coklat muda-krem bergelombang panjang.
Ah iya, aku lupa bilang yang ikut hari ini itu aku, Len, Seeu, Ring, Ai, Piko, Lui. Pasti berisik deh. Korea-korea-korea-korea-korea. Seeu, Ring sama Ai tuh suka over kalau ngomongin Korea. Pokoknya dimanapun, kapanpun kalau ada mereka pasti tau berita terbarunya boyband Korea deh. Terutama boyband X. Kayaknya tuh topik ga bakalan abis deh.
"Malas ah. Kenapa musti toko CD." Protes Piko. Hee, no comment deh. Biasanya kalau sendiri pasti ke toko CD sih buat cari-cari album vocaloid. Tapi ini kan lagi ramai-ramai. Ga mungkin kan.
"Bioskop aja deh. Ada film Pirates of the Carbean nih." Usul Len. Waah, ternyata ada yang suka film itu juga. Hehe, sama! Setuju!
"Yah elah, daripada nonton film ga jelas gitu mendingan nonton Twalight deh. Uda pernah nonton sih, tapi filmnya baguss bangeet. Jecobnya kereen banget!" Tolak Ring. Twalight? Umm, lumayan lah. Boleh nih. 2 2nya belum nonton.
"Apa aja selain Twalight deh. Masa Twalight sih." Protes Piko lagi.
"Ngomong-ngomong, duduk disana aja. Daripada daritadi ngobrol ditengah jalan." Usul Len. Eeh, bener juga sih. Daritadi kita ngobrol di tengah jalan.
Akhirnya semua masuk ke salah satu cafe dan duduk disana. Yang pasti pesan minuman dulu. Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya..
"Ga mau tau, pokoknya Twalight!" ucap Ai tidak mau kalah.
"Oh ayolah, masa Twalight sih." Protes Lui.
"Coba tanya. Rin! Kamu pilih Twalight atau film ga jelas itu?" tanya Ring. Err, kalau ditanya sih Pirates of the Carbean pastinya. tapi nanti aneh kalau sukanya film yang cowo-cowo pada pilih. Peduli amat deh. Lagian ga terlalu suka film yang roamcenya tuh.. terlalu berasa.
"Pirates of the Carbean." Nah kan, satu lagi kejadian bodoh. Sekalinya ditanya, komentar kek. Malah jawab singkat padat jelas gitu.
"Nah kan, makanya." Ucap Piko dengan nada kemenangan.
Akhirnya diputuskan, nonton Pirates of the Carbean!
*(_ _)(_ _)(_ _)*
"Akhirnya selesai juga. Apa bagusnya sih tuh film." Haah, daritadi Seeu ngoceh terus tentang filmnya.
"Nah, tadi kan kita uda nonton tuh film pilihan cowo-cowo. Sekarang, kita mau ke toko CD!" ucap Seeu.
"Trus kita ngapain disana?" tanya Lui. Ya ikut nyari musik lah atau cari film. Emangnya ga suka sama grup musik satupun.
"Emangnya ga ada CD yang pengen dibeli?" tanya Ai.
"Kemarin baru dari toko CD bareng Piko." Jawab Lui. "Ajak Len aja." Lanjutnya.
"Lah, terus kalian mau kemana?" tanya Seeu.
Aah, sudah mau pergi ya. Yasudahlah.
"Kalian berdua saja. Aku bareng Rin." Ujar Len.
Hah?
"Hah?"
"Sudah ya. Sampai ketemu lagi nanti. Daah." Ucap Len sambil menarik tanganku pergi. Dan aku? Hanya bisa bengong.
.
.
.
"Nah, sekarang kita mau kemana?" tanya Len.
"Eeh. Yah, terserah." Jawabku dengan suara kecil. Kan? Bodoh kan. Coba deh Rin, suaramu volumenya digedein dikiiiit aja.
"Hmm, kalau gitu kita main aja deh." Ajak Len sambil tangannya menarik tanganku. Waa waaa. Ini gawat. i-ini kan namanya pegangan tangan. Na-nanti seperti pasangan kekasih beneran! Tapi, kalau aku lepas nanti dia pikir kalau aku ga biasa deket sama cowo alias kuper. Yah, walaupun ada benarnya sih. Ta-tapi aku ga mau dikatain kuper! Emangnya biasa yang namanya pegangan tangan itu normal ga sih? Oke, rileks. Anggep aja sudah biasa deket sama cowo jadii, kesentuh sama cowok juga masalah. Sip! Tapi ini pegangan tangan! Aaah! Setauku selama aku baca manga, biasanya orang gandengan tangan kalau sudah pacaran saja.
"Oke sampai. Aku beli koin dulu ya." eh? Eh? EEEH? Oh iya, aku juga harus beli koin! Tapi biasanya orang kalau berdua cewe cowo pergi yang bayarin itu pasti cowonya. Tapi kita kan ga pacaran! Berarti aku juga harus beli koinnya? Nanti kalau ga beli dibilang ke-GR-an lagi. Dipikir mau dibayarin. Huh. Oke.. tapi kalau aku beli ternyata memang 'cowo yang bayarin' itu bener. Aku nanti jadi seperti orang anti sosial yang ga pernah pergi atau deket sama cowo sama sekali. Jadi, aku beli? Oke, recananya aku berlagak polos dan beli koinnya!
Akupun berjalan ke arah Len yang sedang antri beli koin dan berdiri dibelakangnya. o-oke, lakukan sesuai rencana!
"Rin? Ngapain dibelakang?" tanya Len. Hah? Ya beli koin lah. Apa jangan-jangan aku salah? Seharusnya aku ga ikut beli koin? Ah, memalukan! Tuh kan, 'cowo yang bayarin' itu bener. Tapi kalau aku tadi tetap berdiri disana lalu dia tanya 'kamu ga beli koin juga?" kan jadi ke-GR-an. Duuh.
"Eeeh, aku." Ucapku sambil menundukan kepala. Malu tau! Udah, jawab dengan polosnya 'beli koin.'
"Sini, berdiri disebelah aja." tangannya menarikku ke sebelahnya. "Daripada dibelakang."
Aduh, maksudnya supaya beli bareng aja atau dia aja yang beli? Jadi aku cuma nemenin gitu. Nah kan, antrian tinggal satu orang lagi. Sekarang, beli atau tidak? Ayoo coba pikir Rin! Pikir, pikir, pikir! Oke! Rencana pertama itu paling bagus. Beli!
"Beli koinnya 20." HAH? Cepat sekali. Aduh, belum siap. Ayo Rin. Tinggal kasih uangnya dan dapatkan koinnya. Kasih! Kasih ! KASIH! GA BISAAAA! Kenapa beli koin aja susah amat. Ayo Rin, sebentar lagi Len selesai. Rin! Rin! Ayo Rin!
"A-anoo, ko-in." Ah! Bicara yang jelas! Suaramu terlalu kecil. Riin! Sekarang atau tidak sama sekali! Pertemuan pertama itu menentukan pertemuan selanjutnya!
"Ah? Aku sudah beli kok." A-a... BODOOOOH! Bukan kau tapi aku! Ah! Aku malu! Maksudnya ia sudah beli untukku dan untukknya? Aduuh, aku benar-benar malu!
"Ayo Rin. Sekarang kita mau main apa dulu?" tanyanya. Ah! Memalukkaan! Bodoh! Bodoh! Benar kan. Bagus Rin, kau mempermalukkan dirimu sendiri. tapi sepertinya dia tidak sadar. O-oke, santai!
"Terserah. Aku ikut saja." Jawabku sepanjang mungkin yang aku bisa. Toh, dia yang beli koin masa aku yang menentukan, nanti dia malah mikir yang macam-macam lagi.
"Oke, bola basket yuk." Ajak Len.
"Yasudah." Jawabku sambil mengikutinya dari belakang. Tu-tunggu! Aku kan belum beli koin. Kalau memang nanti dia yang belikan koinnya, nanti aku mintanya gimana dong? Kan ga mungkin minta. Apa mendingan beli sekarang? Diam-diam.. tapi kalau nanti ketahuan gimana? E-eh, gimana nih?
"Nih Rin koinnya." Tangannya memegang sebuah koin yang diarahkan ke arahku. Eeh, ambil kan maksudnya?
"Ehh, makasi." Aduuh, kok bilang 'makasih sih'. Eeh, tapi kan itu namanya etika. Tapi kan, kalau dia kasih koin terus masa aku bilang makasih terus? Aduh malu-maluin!
"He? Sama-sama." Bodoooooooooooooh! Dia jadi bingung kan! Berarti nanti aku ga usah bilang makasih. Tapi rasanya gimana gitu kalau ga bilang makasih. Jadii, aku harus bilang apa? Masa ambil doang? Duh, kau kebanyakan mikir Rin!
"Kita mulai sama-sama ya! 3, 2, 1!"
Langsung aku masukkan koinnya. Duh, kenapa musti sama-sama. Kayak anak kecil deh.
.
.
.
"Wah beda tipis skor nya!" kata Len. Wah Cuma beda 2.
"Iya, curang tuh curang. Haha." Balasku.
"Enak aja. Calon tim basket nih!" jempol kanannya menunjuk ke arahnya.
"Eeh? Mau masuk basket ya? Yakin tuh diterima?" ledekku. "skornya aja ga beda jauh sama skorku yang jaraang banget main basket. Malah ga bisa."
"Kan ngalah sama cewe." Ujarnya. "Kalau ga percaya, mau ulang?"
"Ayo saja! Yang kalah traktir es!"
"Oke!"
.
.
.
"Nah, sesuai janji, yang kalah traktir es krim!" kata Len.
"Huh. Curang tuh. Ngalah dikit dong sama cewe!"
Tenot tenot (bunyi suara hp)
Len merogoh sakunya dan mengeluarkan Hpnya. "Wah, Lui." Lalu mengangkatnya.
Yaampun, suara HPnya ga banget. Ga suka lagu ya dia? Perlu direkomendasikan lagu-lagunya Sai nih. Biar makin tenar.
"Wah Rin. Balik yuk. Uda pada ngumpul katanya." Ucapnya sambil memasukkan HPnya itu kembali ke sakunya dan mulai berjalan.
"Oh yasudah." Yah, ketemu mereka lagi deh. Pasti ribut. Jadi pendengar setia lagi. Ga bisa ngobrol lagi sama.. ngga! Ngga! Mikir apa sih. Anggep aja hari ini spesial! Di sekolah bisa ngobrol lagi ga ya? Hee, stop! Palingan aku diajak hari ini juga Cuma buat ngeramai-in kan? Hh.
"Oh iya, Rin. Coba pinjam HPmu deh." Len berhenti dan menghadap ke arahku. Mau ngapain minta-minta HP orang? mau minta nomor HP? Ga-mung-kin! Tapi mungkin aja. Dia mau koleksi nomor teman-teman sekelas.
Aku mengambil HP yang kusimpan di tas selempang kecil berbentuk jerukku ini. Haha, ga nyambung ya sama bajunya? Biarin deh. Tebal-tebalin muka saja.
"Nih." Ujarku sambil memberikan HP mungil berwarna silver.
Setelah menunggu beberapa saat Len mengutak-atik handphone kesayanganku itu, akhirnya selesai juga. Ia mengembalikan Hpku itu sambil berkata, "Nanti dirumah sms ya!" maksudnya apa!
~flashback end~
Bodoh kan? Kapan pulangnya kalau begini. Aku mau pulaaaaaaaaang! Beli aksesoris? Di dekat sekolah juga ada. Lapar? Mau makan? Di komplek perumahan juga banyak tukang makanan. Yang penting sekarang tuh, p-u-l-a-n-g!
"Yasudah kalau kalian ga mau temenin beli aksesoris. Masih ada Rin sama Len ini." Ucap Ai sambil merangkul tanganku dan Len.
"Kalian ga pernah temenin perempuan ke mall ya? Jomblo terus sih. Kasihan. Ckck." Ledek Seeu.
"Enak saja! Ajak tuh si Rin. Sama-sama cewe. Lah kita, ngapain disana?" tanya Piko.
STOP! Aku ha-rus pulang! Hari ini belum buka blog atau chat sama sekali. Dan parahnya belum buka forum! Kalau ada berita tentang Sai bagaimanaaa. Aku bakal ketinggalan berita!
Tapi bilangnya bagaimana? Mereka saja ngobrol terus. Kapan giliran aku berbicara? Ayo Rin, keraskan suaramu! Demi Sai!
"A-anoo.."
"Nih, coba tanya Rin. Normal ga cowo temenin cewenya ke toko aksesoris sebentar?"tanya Ring.
"E-eh." Apaan nih? Haaah, dengerin orang ngomong dulu dong. Padahal sudah niat banget tuh tadi.
"Kalau temenin cewenya, itu normal! Kalian kan bukan pacar. Malaas." Protes Lui.
Tau ah, toh mereka sudah lanjut berantemnya. Trus, gimana pulangnya Rin? Oke, itu.. aku ga tau. Oh iya, berlagak dapat telepon dari orang rumah, terus bilang disuruh pulang! Yes!
Terus, kalau HPnya ga bunyi, alasan supaya aku bisa keluarin HP dan angkat telepon apa dong? Ketahuan bohongnya kalau begini. Ayoo ayoo Rin! Pikir! De-mi Sai! Cayoo! Lebay banget. Haha. Tapi emang mau buru-buru pulang sih. Agak ga betah. Mungkin karena ga biasa pergi jalan-jalan kali ya.
Oh iya, aku bisa berlagak lagi lihat HP terus tiba-tiba ada yang telepon. Nah kan kelihatan normal. Laluu, untuk alasan apa aku keluarin HP? Masa keluarin HP doang? Apa yang dilihat? Ga jelas! Umm, sms? Waa, nanti dikira lihat-lihat yang tadi si Len lakukan lagi! Na-nanti dia ke GR-an. Terus mikir yang macam-macam. Terus terus..
Tinit tinit (bunyi HP)
Waa, HP bunyi? HPku kan? Siapa? Wah, jangan-jangan 'dia'? eh! Ngga-ngga! Ngga mungkin dia! Kh.
Kukeluarkan Hpku lalu melihat siapa yang telepon. Tertera nama yang menelepon.
'Papa'
Papa? Papa?
Kuangkat teleponnya. Setelah beberapa saat yang singkat. Bahkan sangat singkat, akhirnya telepon terputus.
A-aku harus pulang! Pulang! Pulang! Pulang! Harus!
"A-anoo, aku.." besarkan suaramu Rin! Pulang! Apapun itu, aku harus pulang sekarang.
"Len, bisa minta tolong? Aku harus pulang sekarang. Tolong beritahu mereka kalau nanti mereka bertanya ya? Terimakasih." Ucapku dengan nada panik dan steleah menyelesaikan kalimatku, aku langsung pergi.
Bodoh! Bodoh! Jangan panik! Dia pasti berpikir aneh tentangmu. Kh, yang penting aku harus pulang sekarang.
*(_ _)(_ _)(_ _)*
Ting Tong!
"Ah! Akhirnya datang!" gumamku senang. Langsung aku berlari ke arah pintu dan membukakan pintu. "Okaeri, papa!"
Orang yang dipanggil 'papa' itu hanya masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah katapun dan masuk ke sebuah ruangan. Aku mengikutinya dari belakang sampai di depan pintu.
"Papa sudah makan?" tanyaku. "Papa cari apa disini? Mau aku bantu?" lanjutku sambil tersenyum sebisaku.
"Tidak." Jawab orang itu singkat padat jelas.
"O-oh, ya sudah." Ucapku. "A-ah kalau begitu bagaimana keadaan papa dan Ruko-chan? Ma-mama juga.."
Orang itu tidak menjawab. Terus mencari dan mencari di tumpukan kertas di ruangan yang ia masuki tadi. Setelah akhirnya ketemu, orang itu langsung berjalan keluar dari rumah. Aku hanya mgnikutinya dari belakang. Ketika dia sudah keluar dari rumah, aku berdiri di depan pintu. "Jaa ne! Kapan-kapan kemari lagi ya, Pa!" ucapku sambil tersenyum.
Setelah orang tadi sudah tidak terlihat, aku menutup pintu dan segera berlari ke arah kamar dan menghempaskan badanku ke arah kasur. Perlahan lahan air mataku mulai keluar, "Kh, kenapa dia selalu begitu?"
.
TBC
.
Nah, ketemu lagi dengan saya. *gaje*
Oke, sori kalo lama apdet (termasuk lama ga sih?). soalnya Cyan ngerjainnya sesuai mood. Kalo ngga, hasilnya pasti aneh gara-gara dipaksain. Dx
Jalan cerita sih uda ada di otak. Cuman endingnya aja yang belum tau. Haha.
Buat Riviunya, jujur, Cyan seneng *banget* bisa dapet riviu. Ahaha. Pertama kalinya publish karya sendiri *apapun bentuknya*. Ga nyangka bisa dapet riviu. Oke, itu lebay. Tapi beneran kok. XD ~
Kuro 'Kumi' Mikan
Waa, makasih koreksi, kritiknyaa.
Cyan udah coba koreksi. Kalau masih ada yang salah, mohon bantuannya. Dx
Tentang garis, cyan udah kasi gari pas di nya. Trus gara-gara upload pakai HP jadi ga bisa cek-cek lagi.
Kayaknya sih disini deskripsinya masih kurang. Soalnya susah bedain supaya buat ngasi tau kegiatan yang dilakukan sama ngomong dalam hatinya. Soalnya disini si Rin kebanyakan mikir, salahin dianya kenapa begitu *duagh*.
Makasih buat riviu, kiritik, saran, semuanya! XD
Anon
Iya, disini si Rin bukan saudara kembarnya. Haha.
Makasih riviunya. :D
Hanamoto Aika
Hehe. Makasih. / .Nih, uda apdet.
Makasih Rivunya. X)
Maaf kalau mengecewakan. Cyan bakal coba perbaiki di chapter mendatang! :)
Akhirkata,
Mind to review? :D
