Jujur, pikiran Naruto tengah berperang hebat sekarang. Ia ragu apakah ia mencintai Hinata, tapi itu terlalu cepat! Bahkan belum cukup waktu satu hari ia mengenal Hinata. Pikiran itupun pecah karena ia melihat seseorang yang kini tengah menghadangnya, iapun berhenti dengan perasaan kesal. Berani-beraninya orang itu mengganggu Naruto yang tengah sibuk berpikir akan perasaannya kini. Matanya membulat tak percaya akan apa yang dilihatnya. Ia merasa tidak asing dengan sosok yang tengah berdiri di depan mobilnya itu, tiba tiba 'sang penghadang' menatap Naruto dalam.
"Kau…."
THE SUN AND THE MOON
.
.
'sang penghadang' berjalan mendekati mobil Naruto dengan tempo lambat, Naruto merasakan hawa buruk berkobar hebat di sekujur tubuh 'sang penghadang'. Tak lama 'sang penghadang' tiba tepat di samping mobil Naruto dan membuka pintu, tanpa segan ia duduk dan memandang Naruto dengan tatapan geram.
"Apa maksud mu hah!" ucap 'sang penghadang' tanpa sapaan hi! Atau, hello! Atau, cuaca sekarang bagus yah!
"Maaf, aku tidak bermaksud.."
"Tidak bermaksud meninggalkan ku begitu! Kau tau, aku seperti siswa baru yang tersesat saat mengelilingi sekolah!"
"Oh ayolah, kau tak perlu marah seperti ini kawan! Tak ada orang yang melihat kegiatan 'mari mengitari sekolah' mu itu. Lagipula, sekarang sudah sore dan semua siswa telah pulang."
"Tak perlu marah kau bilang! Asal kau tau, aku sudah tiga kali bolak balik dari tempat parkir ke ruang OSIS untuk memastikanmu sehingga peserta rapat menatapku seperti anak hilang yang terpisah dari orang tuanya! Wajah ku mau ditaruh dimana Tuan Uzumaki?"
"Taruh saja di pusarmu, kau tau jika kau menaruh disana maka tidak ada yang akan mengenalimu! Trust me, it work!" balas Naruto seraya menepuk pundak 'sang penghadang'.
"Bodoh! Emosi ku sedang tak terkontrol dan kau masih sempat melawak garing di hadapanku? Kau tau, aku marah! Aku kesal! Aku benci! Aku mual! Aku lapar! Dan berhubung aku lapar, kau harus mentraktirku sekarang!" perintah 'sang penghadang' sambil melepaskan tangan Naruto dari pundaknya.
"Hufh.. baiklah Tuan Sabaku, aku akan mentraktirmu" jawab Naruto lemah. Mendengar ucapan Naruto 'sang penghadang' hanya tersenyum licik dan berkata,
"Deal. Kalau begitu Sushi dan Yakiniku"
"APAAA!"
҉ ҉ ҉
Naruto membuka pintu rumah dan membantingnya dengan kesal. Bagaimana tidak, sohibnya sendiri telah mencukur habis semua uang yang ada di dompetnya, tak tanggung-tanggung uang jajan Naruto untuk sebulan ludes diberikan kepada kasir. Kini Naruto berfikir keras untuk kelangsungan perutnya(?) di sekolah dalam jangka waktu sebulan kedepan.
"Hei jagoan! Kenapa wajahmu kusut begitu?" tanya Minato, Ayah Naruto.
"Ayah, berhentilah memanggilku jagoan ! Aku bukan lagi anak kecil yang selalu merengek saat melihat miniature Power Rangers!"
"Baiklah. Jadi, ada masalah apa Naruto? Tak biasanya kau membanting pintu saat pulang sekolah. Apakah nilai ulangan fisika mu merah?"
"Ayah pikir aku peduli dengan sesuatu yang berbau fisika"
Minato menggeleng. "Apakah kau gagal menjahili teman sekelasmu?"
"Oh ayolah, aku tidak pernah gagal dalam hal itu! aku sudah professional!"
Minato hanya bisa mengangguk setuju dengan ucapan Naruto, ia tahu anak tunggalnya ini memiliki sifat jahil tingkat dewa. Bahkan dulu Naruto sering pindah TK karena beberapa orang tua siswa menerima keluhan dari anaknya yang telah menjadi korban Naruto.
"Kalau begitu, apakah kau sedang kesal karena gebetanmu telah memiliki kekasih?"
Jleb!
Sekarang ia mengingat kembali disaat Sakura menyatakan bahwa ia telah memiliki pacar. Jujur, beberapa jam yang lalu ia telah melupakan jauh jauh hal pilu itu, seakan akan problema itu telah ia buang di Kutub Utara. Tapi entah mengapa, ia merasa bahwa ucapan Ayahnya tadi memancing otaknya untuk membaca peristiwa yang ia alami di taman sekolah, dimana ia hanya bisa berbohong dan menangis tak karuan. Sepertinya, masalah yang ia buang tadi dilempar oleh beruang kutub ke Jepang karena beruang kutub tidak ingin memiliki masalah atau masalah itu berada di atas bongkahan es yang mengikuti arus dan bermuara di Jepang.
"Hei, kenapa kau melamun?" tanya Minato secara tiba-tiba.
"Si.. siapa yang melamun? A.. aku hanya.. eum.. hanya.. INTROPEKSI DIRI!" jawab Naruto gagap dengan diiringi alasan yang diucapkan secara lantang.
"Kau tak perlu berteriak seperti itu! telinga ayah masih berfungsi dengan baik Naruto!" gerutu Minato seraya menutup kedua telinganya. Tiba-tiba seorang perempuan menghampiri acara 'Ayah dan Anak yang tengah bercengkrama di depan pintu masuk'.
"Hei, ada masalah apa disini?" tanya Kushina, Ibu Naruto.
"Tidak ada masalah ibu, hanya saja ayah memberikan pertanyaan yang tidak-tidak" jawab Naruto dan menatap sinis kepada ayahnya.
"Apa yang kau tanyakan kepada anakku Minato?" selidik Kushina.
"Tenang saja, aku tidak menanyakan soal-soal UN" jawab Minato enteng.
"Aku percaya padamu. Dan aku harap kalian berdua telah sampai di meja makan 5 menit lagi." ujar Kushina dan melenggang pergi ke dapur. Mendengar ucapan Kushina, Naruto dan Minato bergegas pergi dari pintu masuk menuju meja makan.
Naruto menduduki kursi dan menatap Minato jengah, bisa-bisanya ayahnya duduk tepat di hadapannya dan menatap Naruto dengan tampang tak bersalah. Terbesit di pikiran Naruto untuk berkonsultasi dengan ayahnya perihal keadaannya kini.
"Ayah pernah tidak merasakan jantung berdetak lebih cepat dibanding biasanya?" tanya Naruto yang terdengar seperti bisikan.
"Mmm pernah.. setelah jogging atau dikejutkan secara tiba tiba jantung ayah pasti berdetak lebih cepat." jawab Minato dengan polosnya.
"Selain itu? maksudku.. eem.. disaat ayah melihat perempuan, mungkin ayah pernah merasakannya"
"Tentu saja pernah!" jawab Minato bangga. Mendengar ucapan ayahnya, Naruto langsung tersenyum sumringah dan merasakan semangat yang menggebu-gebu.
"Coba ayah ceritakan!"
"Baiklah. Pertama kali ayah rasakan itu saat kelas 1 SMA, dimana ayah melihat seorang perempuan yang amat cantik dan manis. Rambutnya yang terurai, matanya yang indah, suara yang lembut, intinya saat itu ayah merasa bahwa ayah tengah memandang bidadari surga. Dan disaat itulah jantung ayah berdetak lebih cepat, bagai genderang mau perang!" tutur Minato yang diakhiri dengan lirik lagu. Mendengar cerita ayahnya, Naruto hanya bisa ber-oh ria.
"Lalu bagaimana dengan perempuan itu sekarang?"
"Sekarang? Sekarang dia sedang memasak di dapur"
"JADI WANITA ITU IBU!" jawab Naruto histeris dan mendapat angggukan dari ayahnya.
҉ ҉ ҉
Naruto memasuki kamarnya dan mengunci pintu, ia tak ingin ayahnya tiba-tiba masuk ke kamarnya dan kembali membahas kenapa ia membanting pintu di saat pulang sekolah. Naruto menerawang dinding kamarnya dan berjalan menuju kasurnya, ia mencoba untuk berfikir lebih jernih tentang keadaannya sekarang. Berdasarkan wawancara yang ia lakukan bersama ayahnya tadi, dapat disimpulkan bahwa ia berada dalam fase remaja yang sedang jatuh cinta. Bahkan karena hal itu, ayahnya menikah dengan ibunya. Apakah ia akan mengikuti jejak ayahnya bersama Hinata? Naruto langsung menggeleng-gelengkan kepala akan pemikiran gilanya itu, karena ia memiliki keyakinan jika Sakura lah yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya nanti!
Tapi, ia tak pernah merasakan jantung yang berdetak begitu cepat saat melihat Sakura, perdana ia mengalami itu beberapa jam yang lalu bersama Hinata. Didasari hal yang ia alami itu, ia memiliki hipotesa bahwa perasaannya kepada Sakura hanyalah sekedar rasa kagum saja, tidak lebih.
Setelah menyelesaikan meditasi dalam jangka waktu singkat, Naruto mengambil Android nya dan mencari kontak Hinata. Mungkin beberapa dari kalian berfikir bagaimana Naruto memiliki nomor hp Hinata sedangkan ia baru kenal dengan gadis itu siang tadi? agar tidak tejadi kesalahan atau pemikiran yang tidak-tidak, mari kita lihat peristiwa pada sore hari!
Flashback on.
"Naruto, kenapa wajahmu kesal begitu?" tanya Gaara yang sibuk melahap makanannya.
"Kau pikir semua makanan ini gratis apa? Kau tak lihat dompetku sudah keriput karena membayar semua makanan yang kau makan itu!" omel Naruto sambil menunjuk-nunjuk sushi yang masih tersisa di piring Gaara.
"Hei, kita telah melakukan persetujuan tadi, dan sekarang kau malah memarahiku!"
"Tapi kupikir kau hanya akan meminta ramen atau apa!"
"Seandainya aku mentraktirmu, apakah kau hanya akan membeli ramen? Tidak kan! Kau pasti akan memesan makanan seperti ini atau lebih!"
"Sudahlah, tidak ada gunanya aku berdebat denganmu." ujar Naruto lemah. Sepertinya tenaganya telah habis karena membalas ucapan Gaara. Melihat temannya yang bertingkah tidak seperti biasanya, Gaara mulai mencari akal agar Naruto kembali seperti semula(?). Dan berhubung perut Gaara telah diisi oleh makanan yang berpengaruh dengan kelancaran otaknya, tak butuh waktu lama ia telah menemukan cara dan mengambil Android Naruto yang bertengger indah di atas meja.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Naruto kesal.
"Aku menyimpan nomor hp Hinata" jawab Gaara dan mengembalikan Android itu ke si empunya.
"Darimana kau mendapatkan nomor ini?" Naruto mulai curiga, karena ia tahu bahwa Gaara dan Hinata baru kenal saat pulang sekolah tadi, dan ia juga tidak melihat kalau Gaara menanyakan nomor hp kepada Hinata.
"Tadi aku mencari kalian di ruangan OSIS dan bertemu dengan Kiba. Kiba mengirim mail kepada Hinata menggunakan hp ku karena hp Kiba lowbat, dan sepertinya ia lupa menghapus mail itu dari hp ku." terang Gaara dan kembali menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
Flashback off.
Naruto mengetik mail dengan kecepatan cahaya, tapi itu terhenti karena ia gugup menekan kontak Hinata, ia takut jika mail nya ini membuat Hinata merasa terganggu, dan ujung-ujungnya Hinata marah kepada Naruto lalu membencinya dan tak mau berkomunikasi dengannya. Parahnya lagi jika Hinata tak mau melihat Naruto atau menganggap Naruto adalah mikroorganisme yang kasat mata.
Tapi, berhubung Naruto memiliki rasa percaya diri yang berlebihan (red: tak tahu malu) ia menekan kontak Hinata dengan tangan gemetaran sambil menutup mata! Beberapa detik kemudian ia membuka matanya dan melihat laporan bahwa pesan telah terkirim. Secepat mungkin ia mengunci hp nya dan meletakkannya di dalam laci meja.
15 menit berlalu, tapi tak ada tanda-tanda bahwa Hinata membalas pesannya. Kepanikan mulai melanda Naruto, apakah ketakutannya tadi benar-benar terjadi? Terlihat Naruto yang membuka menutup laci mejanya sendiri, tapi tetap tak ada balasan pesan dari Hinata. Naruto mulai mengetik mail baru dan kembali mengirim kepada Hinata dengan teori yang sama (tangan gemetaran sambil menutup mata).
Tetap saja, Hinata tak membalas pesan tersebut. Bahkan Naruto masih terjaga hingga pukul 2 pagi untuk menunggu pesan Hinata. Tapi, mata Naruto tak mau diajak kompromi, entah mengapa matanya semakin lama semakin berat, hingga akhirnya ia mengarungi alam mimpi dengan alaminya.
҉ ҉ ҉
Naruto melangkahkan kakinya di koridor dengan gontai dan tak bersemangat, alasannya adalah Hinata yang tak membalas pesannya semalam hingga pagi ini. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Hinata yang berjalan tepat di depannya yang dikawal oleh Kiba dan seorang laki laki yang memiliki alis tebal, Naruto mempercepat jalannya dan sialnya lagi tali sepatunya terlepas dari ikatannya. Dengan cepat Naruto mengikat tali sepatunya dan melihat sesuatu yang berkilau di samping sepatunya.
"Hinata!" teriak Naruto yang masih dalam posisi jongkok . Seketika Hinata menoleh ke belakang dan menatap Naruto yang tengah mengikat tali sepatunya. Melihat kejadian ini, Kiba serta Lee sadar diri dan mengatakan bahwa mereka ada urusan, lalu mereka pergi meninggalkan Hinata.
"Ada apa Naruto?" tanya Hinata.
"Hmm.. aku hanya ingin bertanya, apakah anting ini punyamu?" ucap Naruto sambil menunjukkan benda yang tadi berada di samping sepatunya kepada Hinata, Hinata meraba daun telinganya dan merasakan kejanggalan.
"Iya, terima kasih telah menemukannya Naruto" jawab Hinata dan tersenyum kepada Naruto, jantung Naruto kembali terpompa dengan dinamika crescendo. Entahlah, ia merasa gangguan setiap melihat senyum Hinata.
"Sama-sama, ngomong-ngomong hmm.. bolehkah aku memasangkan anting ini untukmu?" pinta Naruto. Mendengar hal ini wajah Hinata bersemu merah! Terlihat beberapa siswa yang berlalu lalang terhenti dengan kegiatannya, sebagian siswi yang sibuk bergosip ria terhening mendengar ucapan itu, dan murid yang berada di dalam kelas keluar untuk melihat moment romantis ini, tak terkecuali Kiba dan Lee.
Semua penonton berharap penuh agar Hinata menerima permintaan Naruto, jarang-jarang mereka menonton adegan drama romance di sekolah secara langsung! Pagi hari pula! Melihat tatapan yang penuh harap dari teman-temannya, Hinata mengangguk pelan dan diiringi oleh tepuk tangan riuh serta teriakan oleh temannya.
Naruto mendekat kepada Hinata dan meraih daun telinga Hinata, lalu mulai menyematkan anting itu. Semua terasa slow motion bagi Hinata dan semua siswa yang melihat, entah karena Naruto yang berleha-leha memasangkan antingnya atau memang Naruto merasakan kesulitan dalam memasangkan anting itu. Seluruh pasang mata tak mau bekedip sedetik pun ketika melihat aktivitas lovey dovey NaruHina. Saat memasangkan anting, Hinata mendengar dengan jelas detak jantung Naruto yang amat cepat, terbesit rasa senang bagi Hinata.
Setelah prosesi pemasangan anting selesai, tepuk tangan serta teriakan terdengar kembali, bahkan lebih heboh dibanding beberapa menit yang lalu, dan beberapa dari mereka bersuit- suit secara bersahutan. Melihat aksi tersebut, spontan wajah Naruto dan Hinata memerah sempurna! Dengan cepat Hinata pergi dari koridor menuju kelas meninggalkan Naruto.
"Ciee.. pasangan baru nih!" sahut salah satu siswi yang kegiatan bergosipnya terhenti karena NaruHina.
"Pagi pagi udah romantis! Dasar pasangan muda!" ujar senior yang sedang berjalan menuju kelas.
"Selamat ya bro! Nggak nyangka lo udah punya pacar, Hyuga Hinata lagi! Prestasi besar tuh!" komen teman sekelas Naruto dan menepuk pundak Naruto dengan keras.
Seketika acara 'selamatan dengan Naruto' itu terhenti ketika seorang perempuan tengah berdiri beberapa langkah di belakang Naruto dan menatap nanar semua siswa yang ada di koridor terutama Naruto. Suasana hening mendominasi sekarang, Naruto yang merasakan keheningan mulai memandang heran semua teman temannya. Namun suasana hening itu berubah horror ketika perempuan itu berteriak keras.
"APA MAKSUDMU MELAKUKAN INI PADAKU NARUTO!"
.
.
TBC
Hola, Megumi is back!
Megumi ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya sama yang udah review cerita Megumi, walau sedikit tapi berhasil buat Megumi teriak kesenengan. Hehehe.. jelas banget Megumi masih labil..
Buat yang minta moment NaruHina, Megumi cuman bisa buat yang kayak gini, Megumi tau kalau kurang dapet feelnya, tapi moga terhibur untuk sementara. Untuk next chap akan Megumi bikin makin sweet lagi (doa kan saja). Dan yang minta Gaara x Matsuri, kayaknya next chap ada deh, tapi tunggu saja! Ok?
The last of my bacot : review pliss..
