"I Think You're My First Love"
.
Two Shoot
.
.
My Short Stories 1St
.
.
.
G-Switch (For Baekhyun), Gaje, OOC, and Typo; BUT, Dont Like, Dont Read...!
Pairing : Chanbaek ( Main Pair ).
Main Cast : Park Chanyeol (Namja), Byun Baekhyun (Yeoja)
Genre : Roman, Supranatural.
.
.
Warning : No to Plagiator! And, Thanks For Your Review ^.^
.
.
"Sekali saja, aku mengenal seorang gadis yang meninggalkan kesan mendalam padaku, maka—tak mungkin aku bisa melupakannya."
.
.
Tap... Tap... Tap.
Aku mengejar gadis itu. Membuang jauh-jauh perasaan takutku, aku tetap mengejarnya sampai ke kantin. Tapi nihil—dia tidak ada dimanapun. Aku berusaha mencarinya di tengah keramaian tapi sekali lagi—dia tidak ditemukan dan rasa takutku semakin bertambah.
"Hei, Chan, kau sedang mencari seseorang?"
"Tidak kok."
"Benar?"
"Ya, benar."
"Atau jangan-jangan kau sedang mencari Nari, ya?"
Aku mendengus—Nari lagi Nari lagi. Lama-lama jika aku lulus dari sini mungkin nama yang kuingat pertama kali adalah si Nari itu. Bagaimana tidak ingat jika setiap hari teman-teman sekelasku selalu menjodoh-jodohkan aku dengan Nari.
Menyebalkan sekali.
"Akui saja, kau jatuh cinta dengan Nari, kan?"
"Ya Tuhan. Aku tidak pacaran atau jatuh cinta dengannya. Kau puas?" Dia tertawa—seolah aku sedang menceritakan lelucon konyol.
"Lalu, kenapa kau tidak pacaran? Jangan-jangan kau gay?"
"What the..."
"Jika bukan, kenapa kau tidak pacaran saja? Kau lihat teman-teman kita—semuanya sudah punya pacar. Mana cantik-cantik lagi, Yeol. Sedangkan pacarku—yah—kau tahu sendiri," ujarnya malah curhat.
Aku hanya mengendikkan bahuku—acuh.
"Kita masih SMP. Untuk apa pacaran."
"Zaman sekarang—anak Sekolah Dasar sudah saling kirim-kiriman surat cinta, kok," ujarnya sambil nyengir.
"Itukan kau, bukan aku."
"Jujur, tipe gadis yang kau sukai seperti apa memangnya?"
Kali ini tampangnya serius—tapi aku yakin dia hanya asal bertanya.
"Cantik, baik, mencintaiku apa adanya... Lalu—"
"Kau serius?" Dia tertawa.
"Tentu saja..."
"Kalau aku sih, gadis itu harus seksi, punya bokong yang bagus."
"Apa gunanya bokong yang bagus kalau wajahnya jelek."
"Setidaknya saat dia bergoyang—membuatku bergairah."
Aku melotot.
"Pikiranmu seperti orang dewasa saja."
"You know me," ujarnya sambil tertawa.
"Sudahlah aku mau ke kelas saja."
Aku menepuk bahunya sebelum aku benar-benar meninggalkan dia kembali ke kelas. Aku berjalan ke lorong yang sekarang sudah cukup ramai. Sambil tetap mencari—aku memelankan jalanku ketika sampai tepat di depan kelas gadis itu. Dan—ada.
Gadis itu duduk di bangku paling belakang.
Menyendiri.
Melihat ke depan dengan pandangan kosong.
Kerena penasaran, aku mencoba mendekatinya.
"Hei—kau anak kelas dua, kan?"
Beberapa senior sudah mendekatiku dan bertanya.
Aku hanya menjawab seadanya sambil kakiku tetap berjalan mendekatinya. Suasana yang tadi ramai, berubah sunyi dalam sekejab. Aku bisa merasakan orang-orang di belakang mulai membicarakanku.
Aku menahan nafasku saat matanya beralih menatapku.
DEG.
Aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata.
Mata itu...
Helaian rambut merahnya yang halus.
Benar-benar membuatku terpaku.
Dan lebih dari itu, tatapan matanya—berarti sangat dalam untukku. Tidak pernah kurasakan sekalipun dalam hidupku, aku memiliki kesan yang baik atau kesan yang mendalam pada seorang gadis.
Bagiku, satu-satunya gadis yang sempurna bagiku adalah ibuku. Tapi dia? Dengan segala keanehan yang dia miliki—kenapa dia begitu mempengaruhiku?
"Hei—"
Salah seorang yang dibelakangku memperingatkanku. Kuanggap itu sebagai peringatan karena dia berkata begitu pelan dan terkesan berhati-hati.
"Nonna..."
Aku memaksa keluar suaraku.
Meskipun dadaku berdetak lebih cepat, aku mencoba bersikap sebiasa mungkin di depannya. Tapi intimidasinya ternyata lebih kuat. Dia menatapku tajam dan wajahnya terlihat dingin. Tiba-tiba suaraku seperti menghilang.
"Ada apa?" tanyanya sengit.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Aku hanya mematung dan menatapnya.
"Aku tanya ada apa?"
"Bisa kita bicara?"
"Soal?"
"Kejadian tadi..."
Bisik-bisik semakin jelas kudengar.
Tapi itu tak berlangsung lama, karena setelah itu, ada salah seorang siswa yang mengabarkan tentang insiden tadi. Tentu saja itu membuat anak-anak yang lain terkejut dan beberapa diantaranya berteriak ketakutan.
Sekolah menjadi gempar. Semua siswa berbondong-bondong keluar dari kelas—berusaha melihat tempat kejadian.
"Nonna..."
Hanya tinggal kami berdua disini. Semua siswa sudah keluar untuk melihat kehebohan di lantai dua.
"Aku bisa melihatnya..."
"Melihat apa?"
"Orang itu."
Kami terdiam. Aku tahu apa maksudnya.
"Kau bisa melihat masa depan?"
Dia mengangguk.
"Kenapa kau tidak mencegahnya?"
"Aku bisa apa? Orang itu sendiri yang ingin mati."
"Setidaknya, kau bisa memberitahuku."
"Lalu apa? Kau akan berlari kesana dan membujuknya agar tidak bunuh diri, begitu?"
"Mungkin jika kau bilang padaku, dia masih bisa selamat."
"Mungkin saja kau bisa menyelamatkannya saat ini. Tapi dia akan melakukannya lagi saat kau tidak ada. Disaat semua orang tidak berada disisinya. Kau tahu kenapa? Karena dia ingin mati."
"Dia ada salah denganmu? Kenapa kau berkata seperti itu?"
Dia terlihat tidak nyaman dengan kata-kataku. Dia berdiri dan rambutnya yang panjang menerpa wajahku karena hembusan angin dari jendela yang terbuka.
Jujur, rambutnya wangi sekali.
"Enyah kau dari hadapanku..."
"Baik. Dengan senang hati."
Aku mengatakannya dengan suara yang keras.
Wajahnya datar dan dia kembali duduk. Tidak menatapku sama sekali. Tentu saja aku jengkel. Aku segera pergi dari kelas dengan langkah yang kuhentak-hentakkan—ya aku memang childish—aku memang masih SMP kan.
.
.
.
Pulang sekolah adalah saat paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa sekolahan. Begitu juga aku. Aku ingin makan sup tulang hari ini—maka dari itu, aku buru-buru pulang ke rumah.
Tapi baru beberapa langkah aku melewati gerbang sekolah, seseorang menghadangku. Mengetahui bahwa dia gadis menyebalkan itu, aku tidak memperdulikan dan tetap melanjutkan jalanku.
"Hei—rambut keriting..."
Aku menoleh ketika kudengar dia memanggilku lagi—atau tepatnya karena aku sadar bahwa rambutku memang keriting. Tapi satu keuntungan dari rambutku itu, aku menjadi lebih dikenal di kalangan teman-temanku. Mereka bilang aku mirip Gu Jonpyo.
"Ada apa lagi?"
"Kau mau ke stasiun, kan?"
"Kau masih tidak tahu jalan menuju ke stasiun? Kau buta arah?" tanyaku setengah menyidir. Dia tidak menjawab dan hanya diam mematung. Persis seperti patung lilin. Lucu sekali ketika melihat ekspresinya.
"Jadi kau akan mengikutiku lagi?"
Dia mengangguk setengah tidak rela.
"Kalau begitu, aku harus tahu namamu dulu. Baru kau boleh menguntitku."
"Aku tidak menguntitmu...!" Kini gantian aku yang menuduhnya penguntit—ternyata menyenangkan juga rasanya. Dia terlihat tidak senang—tapi wajahnya benar-benar manis.
"Jadi, Nonna aneh, siapa namamu?"
"B—Byun. B—Baek—Hyun."
Aku mengenryitkan alisku. Kenapa menyebutkan namanya sendiri dia jadi terbata-bata begitu? Apa ada yang salah dengan namanya? Kurasa tidak buruk juga nama itu. Justru semanis orangnya. Baekhyun. Baekhyunni. Baekki. Lucu-lucu kan panggilannya.
"Baiklah, Nonna Baekki, ayo kita pulang."
"Jangan panggil aku dengan panggilan itu."
"Kenapa?"
"Karena itu menjijikkan..."
"Namamu itu bagus."
"Aku tidak suka margaku."
"Kenapa?"
Dia tersenyum aneh. Sangat aneh.
"Sepupuku melarangku untuk menyebut margaku di depan teman-temannya."
"Oh..."
Aku hanya tersenyum kaku—dan dia mengikutiku ketika aku mulai berjalan. Meskipun dia ada di belakangku, aku tetap merasa ada sesuatu yang aneh didalam diriku.
Aku merasa berdebar—senang—was-was; karena aku takut dia tidak akan mengikutiku lagi. Entah. Aku hanya ingin dia berjalan di belakangku seperti ini.
Tanpa ada suara.
Tanpa ada percakapan.
Aku tiba di stasiun pukul delapan malam.
Aku menyenderkan kepalaku di gerbong karena aku mengantuk sekali. Dan disaat aku hampir terlelap, seseorang menyanggah kepalaku. Karena terlalu mengantuk, kubiarkan saja aku tertidur sebentar.
Aku membuka mataku saat aku merasa ada yang menepuk pundakku. Ah—dia pasti orang yang sama yang menyanggah kepalaku. Aku tentu saja ingin berterima kasih kepada siapapun yang bersedia menjaga kepalaku dengan penuh perhatian.
"Kau."
Ternyata Byun Baekhyun yang melakukannya.
Benarkah?
"Aku melakukannya karena kau terlihat begitu menyedihkan. Aku juga akan melakukan hal yang sama kepada semua orang. Jadi jangan salah paham."
Dia berujar sinis.
"Tenang saja, aku sudah tahu, kok."
Aku membenahi ranselku dan bersiap keluar dari gerbong.
Dan saat aku sedang bermain-main dengan ponselku, seorang pria menghentikan langkah kami. Langkah kami? Jangan kaget, gadis ini memang dari tadi mengikutiku sepulang dari sekolah.
"Tunggu. Kau anak yang dilaporkan hilang itu, kan?"
Gadis itu berwajah sadis lagi. Aku kasihan dengan bapak penjaga kereta itu. Dia terlihat kikuk saat gadis aneh ini mempelototinya.
"Sembarangan...!"
"Tapi kau persis dengan ciri-ciri yang disebar di blosur. Katanya, kau melarikan diri dari rumah dan tidak pulang. Jangan begitu, kasihan orangtuamu..."
Kali ini yang tidak aku mengerti mengapa dia justru menatapku?
"Kau tidak menepati janjimu lagi...! Kau mengatakan pada semua orang kalau kau bertemu denganku. Kau melaporkan pada orangtua ini dan kemudian menjebakku kesini."
"Enak saja. Jangan menuduh orang seenak jidatmu."
"Lalu kenapa orangtua ini bisa tahu?"
"Ya, mana kutahu, Nonna..."
"Aku akan membawamu kerumah orangtuamu, Agasshi."
"Aku tidak mau. Kau hanya ingin uang orangtuaku makanya, kau mau membawaku kerumah."
Bapak itu tentu saja terkejut sekali ada anak muda yang mau berbicara sekasar itu dengannya. Aku saja sampai kaget.
"Saya tidak begitu, Agasshi. Saya hanya ingin membantu..."
"Kalau begitu, lepaskan aku. Berpura-puralah kau tidak melihatku. Aku yakin, kau masih punya banyak urusan untuk tidak mencampuri urusan oranglain."
Penjaga kereta itu akhirnya menyerah.
Dia pergi begitu saja dan meninggalkan kami.
"Apa yang kau lihat? Dasar pembohong."
"Aku tidak berbohong."
"Kau tidak bisa dipercaya."
Aku hanya melongo.
Dia itu aneh sekali.
Kami masih berjalan menuju rumah masing-masing. Tapi tiba-tiba saja dia memegang lenganku saat aku sedang asyik-asyiknya bermain ponsel dan berkirim pesan dengan teman-temanku.
"Hei—keriting."
Aku menoleh saat dia memanggilku lagi.
"Ada apa?"
"Aku tidak bisa masuk sendiri."
"Apanya?"
Dia menunjuk tembok besar yang ada didepan kami. Itu adalah tempat pertemuan pertama kami. Ruang studio musik. Dengan cepat aku mengerti bahwa dia ingin menginap atau tepatnya melarikan diri dari rumahnya.
"Jangan, bahaya kalau sampai ketahuan penjaganya."
"Tapi ini studio milik ayahku."
"Bukankah kau sedang kabur dari ayahmu. Kenapa juga kau masih tinggal di tempat miliknya. Kau tidak malu?"
Aku mencoba merubah fikirannya.
Tapi dia tidak bergeming.
"Asalkan dia tidak tahu aku disini, tidak apa-apa."
"Tapi aku tahu."
"Dan kau ingin menggunakan mulutmu yang suka bergosip itu?"
"Sudah kubilang, aku tidak pernah menceritakan pada siapapun. Aku bahkan tidak tahu dimana kau tinggal."
"Lebih baik kau tidak usah tahu juga."
"Ya, aku juga tidak ingin tahu."
Dia menyuruhku untuk berjongkok agar dia bisa memanjat tembok itu. Enak saja. Sampai matipun aku tidak akan sudi, begitulah kata-kataku untuk menolak permintaannya.
"Nanti aku beritahu soal ulangan besok."
"Benarkah?" tanyaku setengah senang-setengah gengsi.
"Ya."
"Dengan senang hati."
Aku nyengir dan kuposisikan tubuhku untuk berjongkok.
Dia tentu saja menyindirku sebelum menggunakan punggungku. Kurasa mulutnya itu memang digunakan untuk menyindir orang.
"Kalau begitu, kau harus mati karena sudah menggunakan punggungmu untukku."
"Dan rohku akan menggentayangimu."
Dia terdiam.
Tubuhnya membeku.
"Kenapa?"
"Jangan bicara tentang roh...! Dasar brengsek."
Rupanya dia takut hantu, kekeke.
.
.
.
Aku semakin sering berhubungan dengan gadis itu. Dia memang cantik tapi ketusnya bukan main. Tapi anehnya, dia selalu membuatku penasaran. Terkadang, ketika aku melewati kelasnya, aku dengan sengaja menengok untuk mencarinya.
Tentu saja aku berusaha agar tidak ketahuan. Aku kerap berpura-pura melihat-lihat hal lain—padahal aku memang ingin melihat wajahnya. Aku akui wajahnya memang cantik dan juga sangat manis.
Dan karena masih fokus melihat-lihat ke arah jendela, aku tidak sadarseseorang ternyata ada di depanku. Tanpa bisa dihindari lagi, aku menabrak orang itu.
Dan—Dan—Dan
Tanpa sengaja dada kami bersentuhan.
Oh My God!
Plak...!
Belum sempat mencerna yang terjadi barusan, aku sudah kena tampar. Benar-benar menyakitkan. Aku berani jamin, pipiku memerah karena tamparannya.
"Dasar cabul. Sudah kuduga, kau itu cabul sejak pertama kali aku melihatmu."
"Kau lagi..."
"Kau ingin mengintipku, kan?"
"Kurasa, itu terlalu berlebihan. Jangan menggunakan kata mengintip. Seolah aku adalah seorang maniak yang mengintipmu di ruang ganti."
"Kau mau melakukan itu?"
"Tidak akan."
Aku mengakhiri percakapan kami dengan meninggalkan dia terlebih dahulu. Aku sedang malas bertengkar dengannya. Dia itu benar-benar menyebalkan.
Tapi dia memanggilku.
"Hei, kau masih mau soal tidak?"
Aku menoleh dan kemudian menghampirinya.
Anak-anak yang lain memperhatikan kami.
Seperti kami berasal dari alien saja.
"Ini soalnya. Jangan pernah mengatakannya ke siapapun."
"Ya, ya, ya—cerewet."
Dia diam dan tiba-tiba aku ingin tahu alasan kenapa dia kabur dari rumah.
"Kau kenapa kabur? Ada masalah?"
"Ayah dan ibuku selalu bertengkar. Aku ingin menyendiri."
Aku tidak menyangka dia mau bercerita padaku.
"Jangan begitu, mereka pasti akan mengkhawatirkanmu."
"Seseorang yang bunuh diri itu adalah sepupuku..."
DEG.
Wajahnya untuk pertama kalinya, berubah menjadi sedih.
Wajah yang kerap bertampang dingin seperti itu ternyata bisa berekpresi sedih—terlihat begitu rapuh dan juga lemah. Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku seperti ingin melindunginya.
"Meskipun jika didepan teman-temannya, dia malu punya saudara sepertiku, aku tetap menyayanginya."
Dia seperti menahan air matanya.
"Aku sedih karena mengetahui kematiannya lebih dulu. Saat kita bertemu kemarin adalah saat-saat terberat dalam hidupku. Karena itulah, aku pergi ke studio untuk bermain musik. Aku tidak menyangka bertemu denganmu disana."
"Maaf."
Dia mengangguk dan saat itu, untuk pertama kalinya, aku rasa aku tidak benar-benar membencinya. Dia hanya aneh saja. Tapi dia sama seperti yang lainnya. Hanya saja, kelebihannya itu yang mungkin membuatnya merasa tertekan.
Apakah aku bisa menjadi teman untukknya?
.
.
Hari berganti hari.
Minggu berganti minggu.
Tak terasa sudah dua bulan kami saling mengenal.
Dia masih tidak ramah. Tapi dia tetap melakukan rutinitasnya mengikutiku dari belakang. Karena sudah terbiasa, aku selalu menunggunya ketika aku pulang lebih dulu. Dan diapun begitu. Dia akan menungguku ketika aku pulang telat karena ada latihan basket.
Kami saling menunggu meski tidak ada perjanjian sebelumnya. Meski tidak ada kesepakatan ataupun janji, kami tetap menepatinya sampai sekarang.
Sampai dua bulan belakangan ini.
Dan sama seperti hari-hari sebelumnya, aku menunggu dia keluar dari gerbang sekolah. Dan tidak seperti biasanya. Kali ini dia keluar dengan raut wajah yang sedih, bukan datar dan dingin seperti biasanya.
"Baekki, kau kenapa?"
"Eng—Chan..."
Ini pertama kalinya dia memanggil namaku.
Begitu manis.
"Aku tidak bisa pulang bersamamu hari ini."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku pergi dulu," katanya cepat. Aku terdiam menatapnya. Dia berjalan lebih dulu. Mendahuluiku dan dari sini, aku bisa melihat punggungnya yang mungil menjauhiku.
Rasanya... sepi.
Dan aku kira hanya untuk hari itu. Nyatanya, untuk seterusnya dia tidak lagi menungguku atau pulang bersamaku. Aku tidak tahu kenapa. Saat aku melewati kelasnya, dia tidak ada disana. Aku ingin bertanya pada teman-teman sekelasnya tapi aku fikir itu akan menjadi gosip baru di sekolah kami.
Tentu saja, bagi anak-anak SMP hal-hal kecil seperti itu bisa menjadi gosip yang menyenangkan bagi mereka semua. Dan aku malas harus mendengar ocehan penggosip itu setiap harinya.
"Kau kenapa? Sedih?" Jessica Jung—sahabat baikku yang sangat populer di sekolah sepertinya mulai menyadari perubahanku. Memang, akhir-akhir ini aku menjadi sedikit lebih pendiam.
"Aku bingung."
"Kenapa?"
"Orang yang biasa bersamaku tidak ada. Dan itu membuatku kebingungan. Rasanya, ada sesuatu yang menghilang dan itu terasa penting bagiku."
"Maksudmu si gadis aneh?"
"Ya."
"Dia memang aneh."
Jessica menyeruput minumannya. Matanya menatapku serius. Sesuatu yang jarang sekali dia lakukan. Karena biasanya dia selalu bercanda dan bersikap genit—tentu saja maksudnya bercanda.
"Dia tidak punya teman. Dijauhi anak-anak yang lain karena sikapnya yang menakutkan. Aku sendiri merasa kasihan padanya. Aku pernah mencoba mendekatinya saat kami bertemu di kantin atau perpustakaan. Tapi ucapannya yang ketus membuatku tidak betah juga..."
"Ya, dia memang seperti itu."
Aku tiba-tiba merasa sedih mengetahui kenyataan bahwa dia memang tidak punya teman sama sekali. Sebenarnya, dia memiliki hati yang lembut. Jika tidak mana mungkin dia mau menyangga kepalaku di kereta setiap kali aku tertidur.
"Dia punya teman. Aku temannya."
Jessica tersenyum padaku. Lalu bicara lagi.
"Tapi aku tidak gampang menyerah, kau tahu itu, kan. Aku masih mencoba berbicara dengannya. Tapi hari itu membuatku sangat ketakutan..."
"Mengenai apa?"
"Aku merasa matanya bisa membaca apa yang kufikirkan. Aku selalu merasa dia bisa melumpuhkan siapapun yang melihatnya. Dan kau tahu, tidak ada yang berani menatapnya selain kau."
"Benarkah?"
"Dia dijuluki Ice Princess tapi juga nenek sihir karena sikapnya itu."
Aku menghela nafas.
"Jujur, aku merindukannya."
Jessica tersedak saat aku mengatakannya.
"Benarkah? Kau jatuh cinta padanya?"
"Bukan begitu..."
"Lalu apa?"
"Aku hanya merasa... dia gadis pertama yang membuatku terkesan. Kesan yang begitu mendalam. Dan itu sulit untuk dilupakan."
Jessica tersenyum aneh.
"Tenang saja, itu mudah dilupakan, kok. Paling-paling seiring berjalannya waktu, kau akan bisa melupakannya. Itu kan hanya kesan, dan bukan berarti apa-apa."
Bukan berarti apa-apa, ya?
Benarkah?
Perkataan Jessica tidak terbukti sama sekali. Berhari-hari, berbulan-bulan aku tidak pernah sekalipun melupakannya. Aku selalu diam-diam melewati kelasnya hanya untuk melihatnya. Terkadang, dia ada disana, terkadang juga tidak.
Dan sayangnya, aku tidak punya cukup keberanian untuk menemuinya saat dia ada di sekolah. Aku hanya bisa menatapnya ketika dia pergi ke kantin. Duduk di sebelahnya saat semua orang enggan melakukannya. Tapi aku merasa beda. Aku justru merasa kehangatan yang tak kumengerti saat dia berada di sampingku. Atau saat dia berada di belakangku.
Aku tidak pernah pulang bersamanya lagi.
Karena dia selalu menghilang lebih dulu saat aku melewati kelasnya. Dan lama-lama, aku tidak tahan juga. Aku memantapkan hatiku untuk berani bicara dengannya.
"Nonna, kita perlu bicara..."
Aku tidak memanggilnya Baekki seperti biasa.
"Soal apa?"
Dia melirikku sekilas dan itu membuatku kecewa. Lebih kecewa ketimbang saat Jessica atau sahabat-sahabat baikku yang lain mengacuhkanku.
"Kenapa kau menghindariku?"
"Tidak. Aku tidak menghindarimu. Aku duluan."
Aku tidak mau kehilangan dia lagi. Aku memegang lengannya dan dia terkejut bukan main. Tidak bisa, Nonna. Kau tidak akan bisa pergi lagi dariku.
"Tetaplah di belakangku."
"Aku tidak mau."
"Kalau begitu, tetaplah disampingku...!" aku berteriak—mengeluarkan semua emosi yang selama berbulan-bulan aku pendam. Dan dia merubah ekspresinya menjadi sedikit tegang.
"Aku tidak bisa..."
Dia berbisik begitu lirih. Tapi aku masih bisa mendengar suaranya. Suaranya yang jernih saat dia berbicara lembut, sungguh aku sangat menyukainya.
"Nonna..."
"Aku mendengar orang-orang membicarakanmu yang akhir-akhir ini dekat dengan gadis sepertiku. Mereka bilang, kau sama anehnya denganku..."
DEG.
Aku terdiam. Tidak tahu harus merespon apa. Semua perasaanku campur aduk tak menentu. Aku bingung tapi anehnya aku justru senang—ternyata alasannya menjauhiku bukan karena dia membenciku.
"Kalau begitu, jangan difikirkan, Nonna."
Aku mendekapnya dari depan. Dia sepertinya tegang dan begitu juga aku. Rasanya, hanya sentuhan ringan seperti ini saja bisa membuatku bergetar hebat.
"Aku sepertinya mulai menyukaimu, Nonna."
"Apa?"
"Kumohon, jangan pergi lagi."
"Aku tidak menyukaimu."
Aku menghela nafas.
Jujur, tak ku pungkiri rasanya begitu menyakitkan.
Apakah aku benar-benar jatuh cinta? Dan cinta pertamaku adalah gadis seperti dia? Sebenarnya, tidak buruk juga. Dia itu sangat keren jika aku mau berkata jujur.
"Kau hanya belum menyukaiku, Baekki..."
Aku merasa tangannya mencoba melepas pelukanku.
"Tapi aku aneh."
"Aku tahu, Nonna. Kau mungkin gadis teraneh yang pernah aku temui. Tapi kau adalah satu-satunya gadis yang tidak bisa aku lupakan."
"Chanyeol."
"Tetaplah disampingku, Nonna. Berjalanlah disampingku."
Aku melepas pelukanku dan menatap wajahnya. Wajahnya memerah—cantik. Rambut merahnya yang berkilau membuatnya semakin bersinar dengan wajah putihnya.
CUP.
Aku memberinya kecupan ringan di bibir.
Dan dia melotot dengan wajah merona.
"Manis sekali..."
"Kau beraninya kau menciumku sebelum menjadikanku kekasihmu. Kau brengsek." Dia mulai lagi. Kata-kata ketusnya... Ah...! Aku merindukannya.
CUP.
"Sekarang kau pacarku..."
CUP.
"Jadi sekarang sudah bisa, kan?"
"YA...!"
Dia menatapku garang dan benar saja, setelah itu, dia mengatakan hal-hal ketus lainnya. Seperti cabul—brengsek—tak tahu malu dan macam-macam lainnya.
Tapi tidak masalah jika pacarku galak dan aneh.
Yang terpenting, dia adalah Byun Baekhyun.
Harus Byun Baekhyun.
.
.
.
"Ponsel itu, memang bukan ponselmu?"
Kami berjalan beriringan sepulang sekolah. Sekarang dia berjalan di sampingku, bukan di belakangku lagi. Dan kami bergandengan tangan sekarang.
"Kau penasaran sekali dengan ponsel itu?"
"Tentu saja, jelas-jelas itu terjatuh dari kantongmu."
"Kalau begitu, setelah pulang kerumah, periksa saja ponsel itu. Dan kau akan tahu ponsel siapa itu..."
"Bagaimana kau tahu kalau aku belum membuangnya?"
Dia mengendikkan bahunya acuh.
"Kau mudah ditebak."
"Dan kau sulit sekali ditebak..."
.
.
Epilog
Sesampainya di rumah, aku segera berlari menuju kamarku. Panggilan ibuku untuk makan malam bahkan tidak kuhiraukan sama sekali.
Saat ini yang ingin kulakukan hanyalah melihat ponsel itu.
Bodoh sekali aku ini.
Tetap menyimpan ponsel itu tapi tidak pernah mengecek itu milik siapa.
Aku mengecek-ngecek ponsel itu dan yang kutemukan, sungguh membuatku terkejut bukan main.
"I—Ini?"
.
.
"Kau sudah tahu ponsel itu milik siapa?" tanyanya ketika aku ke kelasnya saat jam istirahat.
"Kenapa saat pertama kali kita bertemu, kau mau membuangnya? Bukankah itu ponsel milikmu."
"Memang..."
"Lalu?"
"Kau tahu kan tentang foto itu?"
"Ya, aku tahu."
"Aku kira kau sudah membukanya saat kau mau mengembalikannya kemarin. Jadinya, karena malu aku menyuruhmu untuk membuangnya."
"Aku belum melihatnya."
"Ya, aku tahu karena kau tidak berkata apa-apa lagi setelahnya."
Aku menyeringai. Mencondongkan tubuhku ke arahnya.
Dia gugup sekali.
"Kau menguntitku?"
Wajahnya kelimpungan. Jarang-jarang aku bisa menggodanya seperti ini. Biasanya dia yang selalu mengintimidasi.
"Tidak..."
"Lalu, foto-foto itu? Kenapa kau sudah menyimpannya semenjak aku masih kelas empat? Dasar maniak."
Aku tertawa.
"Bukan seperti itu, aku menguntitmu karena aku penasaran. Kenapa di masa depan kau adalah suamiku."
Aku tertawa dan mencondongkan tubuhku untuk mencium bibirnya. Semua siswa yang ada di kelas sontak berteriak histeris.
"Berarti kau mengakui bahwa kau menguntitku, bukan?"
Dia tidak menjawab.
"Sebenarnya, kau tidak pernah lupa jalan ke stasiun kan?"
Dan dia tidak menjawab lagi.
Lalu, aku kembali menciumnya—kali ini lebih lama lagi.
END.
