fanNaruto FanFiction, Du_uN presents

SUFFER

Ch 02 "Investigation"

Disclaimer : Masashi kishimoto

WARNING!

VIOLENCE. (Ada sedikit adegan kekerasan yang dibuat agak berlebihan pada ff gaje ini. Hanya berusaha agar feel dan hurt nya dapet. Maaf sebelumnya.), TYPO everywhere, OOC.

Genre : Drama

Auth : Du_uN

Summary:

Rekaman kamera pengawas Di taman umum Konoha, menunjukkan terdapat aktivitas kriminal berupa pemerkosaan. Namun sayang, kamera pengawas yang tua, kualitas gambar yang buruk dan tidak berwarna menyulitkan para pihak berwajib melakukan pencarian pelaku dan korban. Hinata sang korban mengaku? Lalu bagaimana nasib pelaku, Naruto?

Happy reading

Pukul 00.17 tengah malam lewat.

Gadis bernama Hinata yang kini bukan lagi seorang gadis tengah tertelungkup tak berdaya. Hampit tak berpakaian kecuali rok yang tersingkap keatas tubuhnya. Tubuhnya berkeringat dan kotor serta rambut yang semula tertata rapi, sekarang hanya helaian rambut kusut dan mengembang. Seluruh tubuhnya basah dan lembab. Tak terkecuali bagian wajah yang terlumuri air mata. Di bagian lain, hampir seluruh kedua kakinya berlumuran darah. Rerumputan yang menjadi alasnyapun ikut berlumuran darah. Bahkan darah dari 'dara' wanita ini pun tercecer hampir dimana-mana.

Satu dua kali isakan dari wanita malang ini terdengar sesekali. Ia tak bergeming menahan rasa malu dan rasa sakit yang teramat sangat. Rasa sakit itu didefinisikan sebagai sesuatu yang tak terlihat. Tak ada sesuatu pun yang menolong wanita malang ini ketika sang pemuda bejat memperlakukan si wanita tanpa belas kasihan. Air mata tangis yang terus menerus mengalir tak mampu membukakan mata pemuda bedebah ini. Bahkan hingga kepuasannya berakhir, pemuda ini hanya tersenyum sinis, puas terhadap apa yang telah ia lakukan.

"Mungkin lain kali kau bisa menipuku sehingga aku bisa melakukan ini untuk kesekian kalinya." Kata pemuda pirang yang sedang menaikkan retsleting celananya. "Kau beruntung aku tak berniat menghabisimu karena kau perempuan." Sambungnya.

Pemuda ini memungut kaosnya yang tergeletak lalu memakainya. Kaos yang masih bersih hanya beberapa rumput kering yang menempel. "Aku berpikir untuk mendapat kepuasan selain menghabisimu, yaitu apa yang baru saja kita lakukan." Ucapan itu terdengar semakin sinis saja. Heningnya malam, menambah kengerian tersendiri. "Anggap saja kita berdua menikmatinya... fufu..." terbesit tawa sinis kecil di sudut bibir pemuda bernama Naruto.

Hampir tak ada hembusan angin pun malam itu. Suasana taman terasa mulai sedikit dingin. Bintang-bintang yang semula terlihat berdampingan bersama bulan berbentuk keripik kentang kini tertutupi entah oleh apa. Langit terlihat hitam kelam. Pemuda ini merapikan kembali pakaian yang sudah selesai dikenakannya.

"Kau menjebakku dengan ratusan lembar dokumen bodoh itu, untuk menandatangani dokumen terakhir." Ujar Naruto. "Kau memang pintar Hinata. Selamat untuk posisi barumu. Selamat tinggal, Perempuan Jalang!" ucapan kasar yang tak patut dicontoh itu keluar bersama emosi Naruto yang tiba-tiba meluap. Ia pun meninggalkan wanita dibelakangnya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.

Wanita tak berdaya ini tengah berusaha bangkit hingga akhirnya ia berhasil setengah merangkak. Seolah kakinya tak memiliki cukup tenaga ia menggunakan kedua tangannya untuk menyeret tubuhnya. Ia terus saja menatap Pakaian yang tergeletak lumayan jauh darinya. Ia juga melihat bagian dalam celananya tergeletak didekat situ. Sedangkan tali 'penyangga' tak berhasil ia temukan setelah melihat-lihat sekitar. Rupanya itu terapung diatas genangan air danau yang tenang.

Ia membawa semua barang miliknya kedalam mobil yang diparkir tak jauh dari posisi semula. Wanita ini tetap harus menyeret tubuhnya untuk sampai ke kendaraan roda empatnya. Bahkan ia masih tetap mengangkat tubuhnya untuk masuk ke dalam kursi kemudi. Setelah melempar semua barang miliknya ke kursi samping, ia bersandar sejenak mengembalikan napas yang tak beraturan. Air matanya masih mengalir namun hanya perlahan, meskipun matanya tak terlihat karena tertutup oleh rambutnya sendiri.

Merasa tenaganya hampir pulih, ia menjalankan mobilnya. Laju mobilnya tampak tak stabil. Ia masih bisa berkendara meskipun tragedi mengerikan itu baru saja terjadi. Untunglah jalan raya sangat lengang dan sepi. Tak lama ia tiba di sebuah Bangunan yang disebut villa. Bangunan itu berjejer dengan bangunan lainnya yang hampir identik. Pagar di depan halamannya terdapat sebuah papan bertuliskan "Hyuuga". Mungkin bangunan ini adalah villa pribadi miliknya.

Pemuda yang telah menyebabkan trauma mendalam pada gadis tadi mengemudikan mobilnya dengan santai. Senyumnya masih terukir diwajahnya. Kilat spontan membelah langit dan memancarkan cahaya yang amat terang sekejab. Cahaya itu sempat menyilaukan mata biru safir pemuda tersebut. Lalu pemuda itu menepi dan mematikan kendaraannya. Kemudi ia gunakan sebagai tumpuan keningnya. Entah apa yang dilakukannya ia tak bergerak cukup lama. Mungkin ia ini tak menyadari rintik air hujan menghantam bagian luar mobilnya. Bahkan rintik air itu menyebabkan bunyi yang cukup keras. Namun pemuda ini tetap pada posisinya.

Di lain pihak, Hinata sang wanita yang telah ternodai duduk terkulai sembari menunduk menyembunyikan wajahnya di dalam sebuah ruangan berkeramik. Air dari Shower menyirami tubuh kotornya. Namun air iru takkan bisa mensucikan lagi dirinya. Tak ada yang tahu air matanya mengalir bersama aliran air Shower itu. Dan tak ada yang tahu ia tengah tenggelam dalam rasa sakit yang tak dapat diucapkan oleh jutaan kata-kata. Wanita ini harus menerima kenyataan paling pahit dalam hidupnya.

Malam yang mengerikan itu pun terlewatkan begitu saja. Dunia hanya bisa membisu seolah tak ingin menolong wanita malang yang ternodai. Pemuda pirang ini tampak tak menyadari hari telah berganti. Ia masih dalam lelapnya tidur dalam kendaraannya. Terduduk dan menyandarkan kepalanya ke jendela, hingga akhirnya matahari yang hampir siang menyoroti jendela itu. Lalu dari luar samar-samar terlihat seseorang mengetuk-ngetuk kaca jendela semi-gelap. Seseorang dengan seragam rapi yang biasa disebut polisi lalu lintas. Ia pun tersadar dan segera membukakan jendela kendaraanya.

"anda memiliki dua surat tilang di kap kendaraan anda. Sebaiknya anda pergi sekarang." Kata seorang wanita petugas lalu lintas.

Naruto belum tersadar betul. Polisi yang memperhatikan dirinya kelihatan menurunkan alis matanya. Ia menduga Naruto telah mabuk dan parkir sembarangan, sampai tak menyadari ada dua surat tilang di kaca mobilnya. Sepertinya petugas yang satu ini adalah petugas ketiga.

"Uh, maaf... aku tertidur." Ia segera mengeluarkan tangan kirinya dari jendela dan meraih kertas yang disebut dengan surat tilang di luar kaca tepat dihadapannya. Tak terlalu jauh hingga pemuda pirang ini dapat meraihnya. "Aku... akan membayar denda." Kata naruto membaca dua surat tilang tersebut sambil mengucek-ucek matanya.

"6000 ryo? Baiklah..." gumamnya. Kemudian ia memberikan sejumlah uang kepada petugas tersebut beserta dua surat tilang.

Petugas itu menerima-nya dan mengambil sebuah buku kecil beserta bolpoin. Ia membuka-buka buku kecil tersebut dan menulis sesuatu kemudian merobeknya. "ini bukti tanda anda telah membayar tilang dan peringatan. Kami mencatat nomor kendaraan anda jika anda melanggar lagi, mobil anda akan ditahan. Terima kasih" petugas wanita itu memberikan selembar kertas sobekan kepada Naruto. "semoga harimu menyenangkan..."

Sedikit aneh, 6000 ryo adalah nominal yang cukup besar. Setelah bangkrut, Pemuda pirang ini masih bisa membeli dua botol bir dan membayar tilang semahal itu. Darimana?

Kamis 13 januari, pukul 09.27

Konoha Police Unit Department (K.P.U.D.) - ('-_-) author smiley

"Ini adalah rekaman kamera pengawas di taman konoha kemarin. Pengelola taman tak sengaja menemukan rekaman ini." Ujar seorang perempuan dewasa dengan kuncir rambut seperti kicir angin berseragam kepolisian.

"jadi, pemerkosaan?" sahut lelaki dibelakangnya yang membungkukkan badannya untuk ikut melihat rekaman tersebut yang diputar dalam sebuah komputer.

"Ya, dan ini cukup kejam. Pelakunya melakukan itu selama lebih dari dua jam tanpa henti." Kata polisi wanita dengan nama Mitarashi di seragamnya. Rekaman tersebut diputar dengan kecepatan durasi dua kali lipat.

"Astaga! Kita harus segera menangkap orang ini." Dengus lelaki dengan nama Umino pada seragamnya.

"Ya, tapi sialnya kualitas gambar rekaman ini terlalu jelek dan tidak berwarna. Kita hanya bisa melihat sang korban berambut panjang dan pelaku berambut pendek." Jelas wanita itu. "tapi dari tinggi badan, penampilan dan cara berjalan sepertinya pelaku dan korban adalah remaja. Mungkin 16 sampai 20 tahun-an." Lanjut wanita itu sambil mempause rekaman tersebut.

"menurutmu ini adalah kasus pemerkosaan berantai yang sedang marak terjadi belakangan ini?" lelaki dibelakagnya berdiri kemudian bertolak pinggang.

"Lihat... kasihan sekali wanita ini." Wanita itu tidak menjawab pertanyaan lelaki yang menanyainya sambil men-Zoom video yang tengah di-jeda.

"Hn...?" lelaki bernama Umino itu membungkuk lagi. "Ada apa, Anko?"

"Bercak berwarna hitam di kakinya. Itu adalah darah." Kata wanita itu dengan wajah amarah yang mulai muncul.

"Artinya...?" Lelaki itu tak mengerti apa yang diucapkan wanita tersebut.

"Dia..." Anko tak melanjutkan ucapan yang kedengerannya amat berat untuk di sampaikan.

"Dia masih perawan!" seorang pria bersuara berat menyela dari belakang yang kehadirannya tak disadari oleh dua orang yag tengah mengamati rekaman.

"Chief Fugaku...!?" sontak kedua orang itu menyebut pria tersebut bersamaan.

"Darah itu bukti korban masih perawan. Dengan darah dan cairan sperma yang tertinggal di lokasi, akan memungkinkan kita menemukan korban sekaligus pelaku." Ujar pria kepala polisi tersebut. "para petugas penyelidik sekarang berada di TKP. Untuk melakukan penyelidikan."

"Itu benar. Kita bisa menemukan identitas pelaku dan korban dengan informasi DNA atau golongan darah." Lelaki bernama umino menyahut dengan percaya diri.

"Tapi sayang, malam itu turun hujan cukup lebat. Bukti-bukti yang seharusnya dapat ditemukan takkan pernah ditemukan. Sial!" dengus wanita disamping Umino.

Lelaki paruh baya yang merupakan kepala polisi itu mendekati komputer dimana video rekaman itu diputar. Dan hendak menjelaskan sesuatu. "Aku dapat informasi mereka menemukan sebuah Bra terapung dipermukaan danau."

"Bra?" gumam kedua orang yang mengamati rekaman tersebut.

"Ya, aneh memang bra dapat mengambang. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah ukuran dan jenis bra itu dipakai seorang wanita muda. Mungkin remaja. Dan kulihat di rekaman ini ada dua kendaraan. Kemudian botol bir yang pecah, yang sudah tak terdapat sidik jari atau air liur..." kepala polisi itu menjelaskan.

"dengan petunjuk yang ada kita dapat simpulkan bahwa, pelaku maupun korban bukanlah orang yang jauh dari taman ini. Kalian kutugaskan untuk mengamati video ini lebih cermat lagi dan temukan setidaknya korban agar mau membuka mulut tentang pelaku."

"Tapi kita butuh petunjuk lebih. Ada ribuan pemuda berambut pendek dan gadis berambut panjang di kota ini. Kita harus memperkecil skala pencarian." Ujar wanita bernama Mitarashi sambil memutar kembali rekaman di komputer.

"Itu tugas kalian..." tampik kepala polisi sambil meninggalkan ruangan.

Wanita itu mengamati setiap milidetik rekaman itu untuk menemukan petunjuk lebih. Hingga beberapa menit, wanita itu pun menyerah. Tak ada petunjuk lain yang dapat membantu penyelidikannya. "Kau bisa bantu aku, Iruka? Jangan hanya diam saja membiarkan laki-laki brengsek ini tertawa puas terhadap apa yang telah dilakukannya!" tiba-tiba saja kata-kata penuh kebencian terungkap dari mulut wanita tersebut.

"uh, oh... baiklah. Maaf." Laki-laki itu sedikit salah tingkah. "ummmm..." kemudian ia menggumam untuk berpikir.

Tak lama ia mencoba mengungkapkan sesuatu.

"Kita tak bisa memperkecil pencarian tapi bagaimana jika kita memulai pencarian dengan pendekatan terbesar." Ujar Umino.

"Bagaimana?" Mitarashi menginginkan penjelasan segera.

"kemungkinan pelaku bisa berasal dari kalangan mana saja. Tapi korban sangat mungkin adalah seorang murid. Mungkin mahasiswa." Penjelasan singkat cukup membuat Mitarashi menangkap apa yang dimaksud Umino.

"Kita bisa mulai dari Universitas atau sekolah menengah yang ada di kota ini." Ujar Mitarashi.

"Kita akan mulai dari radius terdekat dengan taman itu." Sahut Umino bersemangat.

Mitarashi pun berdiri dan mengepalkan kedua tangannya seraya mengangkatnya. "Maka itu dapat membantu penyelidikan kita." Ujarnya bersemangat.

"Dan tempat kita akan memulai penyelidikan dalam radius terdekat dari taman itu adalah..." Iruka Umino mulai menghadap ke arah Anko Mitarashi berdiri.

"Universitas Konoha!" sahut Anko mitarashi menghadap ke arah Iruka.

"Yes!" keduanya secara bersamaan begitu senang sambil berpelukan tanpa mereka sadari. Hingga akhirnya keduanya tersadar dan melepaskan pelukan itu dan saling memalingkan wajah seraya tersipu.

Pukul 14.57

"Sasuke, kau sudah dengar. Ada petugas polisi datang kemari. Aku melihatnya di kantor siang ini." Kata pemuda berambut mangkok dengan alis tebal seraya mengejar pemuda satunya yang tak berhenti berjalan.

"Ya, mungkin mereka menemukan sesuatu untuk diselidiki. Kudengar juga mereka akan menginterogasi beberapa murid mulai Hari ini." Jawab pemuda bernama sasuke sambil terus saja berjalan. Langkahnya terbilang cepat sampa-sampai pemuda berambut mangkok harus mengejarnya dengan sedikit berlari.

"Menurutmu apa yang mereka selidiki?" tanya pemuda berambut mangkok.

Lelaki bernama Sasuke terperanjat saat ada seorang pemuda yang dikenalnya berjalan berlawanan arah dengannya. Jaraknya masih cukup jauh dan pemuda itu belum melihat ke arahnya. "Bukankah itu Naruto?" kata Sasuke tanpa menpedulikan pertanyaan pemuda satunya.

Sama dengan sasuke, pemuda beralis tebal ini juga terperanjat saat melihat sesosok pemuda yang dilihat Sasuke. "Benar juga, bukankah dia seharusnya kuliah sore?"

"Sasuke, lee...?"

Tak lama mereka pun berpapasan dan Naruto menyapa mereka lebih dahulu. Penampilan pemuda pirang ini cukup mencengangkan karena pakaiannya tidak serapi biasanya. Hanya kaus santai yang agak kusut dan jeans biru donker yang berlubang di lututnya. Ia juga tak membawa perlengkapan kuliah dalam tas slempang seperti biasanya. Sepertinya kedatangannya ini bukan untuk kepeluan mahasiswa seperti yang lainnya.

"sedang apa kau? Bukankah jadwal kuliahmu nanti sore?" tanya pemuda berambut 'ngebob' dengan heran.

"Ya, kau bahkan datang kemari bukan untuk kuliah." Timpal Sasuke dengan wajah dan gaya bicaranya yang datar.

"Aku mengajukan perubahan jadwal. Dan mulai besok aku kuliah siang seperti kalian." Jawab Naruto.

"Ternyata sesuatu itu pun terjadi juga. Baiklah sampai jumpa besok." Sasuke meninggalkan tempat itu begitu saja setelah mengucapkan salam berpisah.

"Hhhh, seperti biasa. Sikap dinginnya itu tak juga hilang setelah beberapa bulan tak bertemu." Gumam Naruto yang dapat didengar pemuda berpakaian hijau dan jeans bitu terang. Kamudian pemuda pirang ini menoleh ke arah pemuda yang sedang menatap kepergian temannya tadi. Ia tetap diam hanya memperhatikan langkah pemuda dengan rambut mirip pantat ayam yang menghilang di perempatan koridor. "Jadi, bagaimana kabarmu, lee? Lama tak bertemu."

"Ya, semoga saja kita bisa berkumpul lagi seperti dulu." Kata Lee membangkitkan suasana yang sudah lama tak mereka rasakan.

"Akan kupikirkan tempat nongkrong kita nanti. Sebaiknya kau bergegas atau kau terlambat lee..." Naruto menutup pertemuan singkat mereka.

"Ya, sampai nanti 'rubah'..." Lee pun meninggalkan Naruto seraya melambaikan tangan. Begitu juga Naruto yang ikut melambaikan tangan seraya berjalan dengan badan yang masih menoleh ke arah Lee.

"Sampai Nanti 'Urarenge'..."

Tak lama pemuda pirang ini berpisah dengan Lee, seorang gadis berbelok dari depan persimpangan koridor dan berpapasan dengan Naruto. Gadis itu berambut pendek berwarna pink dan memakai pakaian hampir serupa dengan rambutnya, dengan baju yang tak memiliki lengan. Gadis itu menyadari keberadaan Naruto dan lantas berhenti untuk menyapanya. "Naruto-baka!? Sedang apa kau disini?"

Senyum Naruto saat bertemu teman yang lama tak dijumpainya itu lantas terhapus. "Tega sekali, menyapaku begitu setelah lama tak bertemu." Naruto mengangkat kedua tangannya dan menaruhnya di belakang kepalanya.

"Memang apa bedanya? Kau tak berbeda sama sekali. Kau bahkan lebih parah dengan pakaian seperti itu." Gadis itu berkata demikian seraya menyunggingkan tawa kecil. "Kau terlihat lebih bodoh."

Bibir pemuda pirang ini mendadak mencong, dan matanya menyipit. Mungkin sedikit tak senang pada perlakuan gadis tersebut terhadapnya. Ia tak berkata apapun.

"Baiklah, sampai Nanti." Gadis itu mengucap kata perpisahan namun Naruto langsung menyela dan mencegahnya pergi.

"Sepertinya kau terburu-buru." Gadis tadi tetap berjalan namun ia memutar tubuhnya untuk menjawab Naruto.

"Ada petugas polisi datang ke kelas ku. Aku tidak tahu kenapa. Sampai nanti!" gadis itu pun berlari kecil dan menghilang di belokan.

"Polisi? Mereka mau melakukan penyuluhan apa?" gumam Naruto dengan kedua tangan yang masih di belakang kepalanya. Kemudian ia memikirkan untuk apa ada petugas kepolisian di universitas ini. "Atau jangan-jangan..." matanya membulat sempurna dan sontak ia menurunkan kedua tangannya. Dengan cepat ia menoleh ke arah perginya gadis tadi. Entah apa yang ia lihat, dari tatapannya ada sesuatu yang ia khawatirkan.

Ekspresi wajah pemuda pirang ini tak henti-hentinya menunjukkan rasa khawatir. Bahkan setelah ia menuruni tangga menuju lantai dasar, hingga halaman parkir kendaraan. Di situ ia melihat sesuatu. Sesuatu yang tak asing baginya. Seorang gadis berambut indigo yang dikuncir rapi, sedang menikmati sandwich di tangan kanannya. Pipinya bergemul dan bergoyang-goyang untuk mengunyah roti isi tersebut.

Pemuda ini teringat perbuatannya beberapa jam lalu. "Belum satu hari berlalu, dia tampak baik-baik saja. Apa benar seorang gadis akan mengalami shock setelah mengalami hal itu?" Naruto bergumam sambil terus saja berjalan seraya memperhatikan gadis yang sedang duduk si bangku halaman. Kemudian ia berhenti. Tak lama berpikir, ia memutuskan untuk menghampiri wanita tersebut.

Gadis yang sudah tak 'gadis' lagi atas perbuatan Naruto ini sedang asik dengan sandwich di tangannya. Ia menatap kedepan tanpa bergeming sedikitpun dan tak berkedip sedikitpun. Tatapannya kosong karena tak satupun ia perhatikan kecuali hanya melamun sembari mengunyah. Tak lama lamunan gadis ini pun terusik setelah kehadiran pemuda berambut pirang. Sorot mata lavender itu langsung tertuju ke arah pemuda yag menghampirinya kemudian bergerak ke bola mata biru-safir yang tajam dan penuh kebencian. Menyadari siapa yang menghampirinya, tiba-tiba saja ia berhenti mengunyah. Matanya hampir membulat sempurna dan sedikit bergetar. Ia tercengang dan tak bergerak sedikitpun.

Naruto yang melihat ekspresi wanita dihadapannya, langsung tersenyum sinis. "heh... kau ingat aku? Aku terkejut kau masih berani menampakkan dirimu di kampus ini." Kata Naruto.

"aku punya kejutan lagi untuk mu. Mulai besok, kita akan satu ruangan lagi seperti dulu."

Degup jantung wanita itu meningkat drastis setelah mendengar perkataan pemuda pirang yang berdiri didepannya. Ia langsung tetunduk dan menelan yang ada di mulutnya tanpa mengunyahnya lagi.

"Bagaimana? Kau senang? Oh, aku ingat. Kau sudah mendapat posisi di dua perusahaan milikku yang kau renggut. Bawahanku sendiri yang mengatakannya." Ujar Naruto yang membuat wanita dihadapannya merapatkan kedua kakinya rapat-rapat dan kedua tangannya di taruh di atas pahanya.

Keduanya terhening beberapa saat. Sang gadis hanya tertunduk, dan Sang pemuda berdiri tegak seraya mengepalkan tangannya. Ia terlihat kesal mungkin. Namun dari tatapan mata biru safir itu, menunjukkan bahwa dirinya tak kuasa lagi untuk melakukan hal buruk terhadapnya.

"aku... sudah cukup menyakitinya... tapi... kenapa..." Naruto menggumam tak jelas.

Pukul 17.14

"Jadi kau sudah membalasnya?" seorang pria berambut kelabu yang dikuncir berjalan di belakang tempat Naruto duduk kemudian ikut duduk di sampingnya. Selain itu Naruto sendiri tengah menikmati minuman yang airnya berwarna cokelat terang degan irisan lemon dijepit di tepi gelasnya. Kemudian pria disebelahnya menatapi minuman yang sedotannya hanya diputar-putar oleh pemuda pirang tersebut. "Jadi, hanya Lemon tea?"

"Ya... sudah." Naruto menjawab dengan nada yang berat.

"Bagaimana rasanya?" Pria tersebut bertanya. "Lemon tea satu..." dilanjut memesan minuman kepada seorang bartender.

"Menyenangkan..." pemuda pirang itu menjawab seadanya.

Sedangkan pria berkuncir disampingnya mengamati cara menjawab Naruto. Kemudian ia memperbaiki posisi kacamatanya yang sedikit menurun dengan telunjuknya sembari memejamkan mata dan menyunggingkan senyum.

"Sudah kubilang, kan...?"

"Hn?" Naruto terheran mendengar ucapan pria tersebut.

"Jadi kau menyesal melakukannya?" pria itu mencoba memancing jawaban apa yang akan diberikan lawan bicaranya.

Naruto terperanjat dan tampak hendak membantah. "Apa? Tidak! Aku puas bisa membalas dendam dengan cara seperti itu. Menurutmu apa, huh?"

"Jangan berbohong... pemuda baik sepertimu bukanlah tipe orang yang bisa senang setelah berbuat jahat." Pria tersebut menyangkal pernyataan Naruto.

"A, apa maksudmu, Kabuto!?"

Pria itu merubah ekspresi wajahnya yang semula tersenyum mengerikan. Kini wajahnya menunjukkan ekspresi yang serius dengan alis yang menurun tajam. "Apa yang terjadi dengan seleramu? Semula kau ingin bir karena kau kesal hartamu direbut, dan sekarang hanya lemon tea setelah kau berhasil membalasnya? Kau itu penjahat yang buruk."

Naruto terdiam tanpa kata dan tak dapat membalasnya.

"Sudah kubilang kan, kau akan merasakan penyesalan. Memperkosa itu sama halnya dengan membunuh. Bahkan lebih menyakitkan. Kau tak hanya menodainya, tapi juga memberikan luka membekas yang takkan pernah hilang." Ujar pria berkuncir tersebut. "Seperti saat aku melakukannya pada isteriku."

Terkejut mendengar kata isterinya, Naruto ingin mendengarkan. "Isterimu?"

Sang bartender menyajikan segelas minuman lemon tea yang dipesan pria tersebut.

Hari mulai malam, dan matahari baru saja memberikan sinarnya yang terakhir untuk hari ini. Tak ada yang perlu dikhawatirkan karena ia akan muncul kembali besok. Tak menyadari tidurnya sang surya, Naruto yang baru saja keluar dari sebuah toko pizza bersama seorang pria bernama kabuto tercengang dengan kondisi langit yang sudah berubah. Namun mereka hanya memandangnya sejenak, sambil terus berjalan.

"Kalau kau tahu hal itu, kenapa kau membiarkan ku melakukannya. Kau bisa saja mencegahku kan?" Kata Naruto santai.

"Yah, aku bukan orang baik sepertimu. Orang-orang datang padaku saat mendapat masalah, kemudian menyalahkanku saat mendapat masalah baru. Tapi pada akhirnya, aku bebas." Ujar pria yang bersama Naruto.

"Tapi, kabuto-san. Aku memikirkan terus perbuatanku bahkan sebelum aku melakukannya..."

"Itu hal wajar." Pria bernama kabuto menyela. "Lain kali berpikirlah lebih jernih sebelum melakukan sesuatu."

Naruto mengeluarkan kunci kendaraannya dan menekan tombol "Unlock" untuk membuka mobilnya yang terkunci. Tombol itu memicu suara aneh pada kendaraannya.

"ini aneh, kau menikahi seorang wanita karena kau menyesal memperkosanya. Kau sendiri sepertinya tak berpikir jernih, Kabuto." Naruto membalikkan perkataan pria yang tak ikut masuk kedalam kendaraannya.

Pria itu hanya menundukkan kepalanya dari luar pintu mobil yang sudah ditutup. "Itu sebabnya aku menceritakannya padamu."

"Lalu kenapa kau membiarkan ku melakukannya? Kau bisa saja mencegahku..." Kening Naruto sedikit mengkerut.

"Apa kau menyalahkanku...?" Pria itu menatap Naruto intens.

Begitu juga mata biru-safir yang menatap balas mata dibalik kacamata pria tersebut. Kemudia ia berkata, "Tidak, sepertinya kau sedang mengajariku sesuatu..."

"heheheh..." pria itu berdiri tegap kemudian tertawa kecil. "Aku tak mengajari apapun, aku hanya seorang pria yang mencari uang."

Naruto menyalakan kendaraannya dan membiarkannya sejenak sebelum dikendarai. "Ngomong-ngomong..." pria itu memulai pembicaraan lagi sebelum Naruto benar-benar pergi.

"Ada dua orang polisi menanyai beberapa mahasiswa di ruanganku tadi sore."

"Aku tahu..." Naruto menjawab singkat.

"Kau tampak cemas..." Pria itu menyindir sambil tersenyum mengerikan.

"Ya, aku cemas... tapi kau berjanji akan membantuku jika aku tertangkap kan...?"

Pria itu terdiam sambil mempertahankan senyum anehnya.

"Kita lihat saja..." ucap pria tersebut seraya meninggalkan Naruto.

Pemuda pirang ini menyipitkan matanya, dan merubah posisi bibirnya menjadi mencong. "Huh, orang itu sulit sekali dimengerti..." gumamnya. Dengan menancap gas, mobil itu bergerak perlahan dan maju semakin jauh.

Esok hari. Pukul 10.22

"Sakura-chan...!" Seru Naruto melihat seorang gadis berambut pink yang dikenalnya sedang berjalan agak jauh di depannya. Gadis yang dipanggil itu pun menoleh da memberikan senyum sapa yang hangat. Sekejap, jarak Naruto yang mengejarnya dengan sedikit lari pun semakin dekat. Gadis itu sedang mendekap beberapa buku yang tak muat pada ransel kecil yang ia gendong.

"Jadi... kuliahmu tidak sore lagi?" Gadis itu melontarkan pertanyaan yang sudah takkan asing lagi di telinga Naruto.

"Ya, mulai hari ini..." mereka berdua berjalan berpapasan, sambil mengobrol entah apa saja yang mereka bahas. Di sela-sela obrolan, terlihat dua orang pemuda seumuran mereka sedang duduk di bangku koridor gedung kampus. Sedikit tertegun, Naruto menghampiri mereka diikuti gadis yang bersamanya. "Lee, Sasuke!"

"Oh, bagus. Kalian..." ungkap si pemuda berambut mirip pantat ayam terlihat tak senang.

"Jadi itu benar, ya?" timpal pemuda disampingnya beralis tebal, tercengang.

Gedung itu tampak tak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Yang membuatnya berbeda hanya terpaan cahaya matahari yang semakin membuat dinding luar gedung sedikit kusam hari-demi hari. Para murid yang berjalan memasuki gedung terlihat memayungi diri mereka dengan buku, tangan, atau bahkan tas slempang yang mereka bawa. Kecuali beberapa murid yang sepertinya membiarkan terpaan mentari terik itu. Salah satunya, seorang gadis berkacamata dengan rambut indigo yang kini tak lagi dikuncir. Ia membiarkan rambutnya terurai saat tengah hari yang amat terik ini. Langkah gemulainya tak seperti ekspresi wajahnya yang masih murung. Ia tak menghiraukan beberapa lelaki bermata keranjang yang dengan senang memandangi 'bagian belakang' gadis tersebut, yang amat gemulai dan sudah pasti menggoda. Wajar saja rok se lutut yang agak ketat itu meninggalkan setiap lekukan tubuhnya yang indah. Cocok dengan kemeja kelabu yang ia kenakan. Ia tetap berjalan dengan sebuah buku tebal yang ua dekap dengan satu tangan.

Ia sempat menghela napas setelah memasuki pintu masuk gedung kampus. Mungkin untuk menghilangkan sedikit rasa lelah berjalan sejak turun dari taksi, dibawah teriknya sang raja siang didalam ruangan ber-AC yang sejuk. Sambil meniti setiap anak tangga perlaha untuk menuju lantai yang dituju, ia sibuk dengan handphone-nya. Entah apa yang ia lakukan dengan benda persegi tersebut, ia tampak fokus tanpa menghiraukan siswa lain yang berlalu lalang. Ia juga tak menghiraukan seorang siswa yang tak sengaja menabrak bahunya padahal lelaki itu meminta maaf sambil terburu-buru, dan berlalu begitu saja. Hingga akhirnya ia tak lagi meniti tangga dan berjalan menuju koridor, ia tetap sibuk dengan benda persegi itu sampai ia tersadar akan sesuatu cukup jauh didepannya.

"Benarkah, polisi itu akan ke ruangan kita hari ini?" tanya Naruto pada Lee yang sedang melipat kedua tangan didadanya sambil duduk menyender.

"Ya, kemarin mereka sudah mendatangi banyak kelas. Sekarang kita dan yang lainnya secara berurutan." Ujar Lee.

"Menurutmu apa yang mereka inginkan, Sasuke?" Naruto bertanya pada pemuda cuek yang sedang memandang ke arah lain.

"Entahlah? Pelaku kejahatan?" pemuda itu menjawab singkat.

"Apa yang kau bicarakan Sasuke? Temanku yang sudah didatangi polisi itu bilang mereka sedang melakukan survey. Mereka juga hanya menanya ke beberapa orang yang mereka pilih. Tidak semua mereka tanyai." Lee menyangkal pernyataan Sasuke dan membuat Sasuke hanya mengkerutkan kening.

"Kalau begitu kenapa kau membiarkanku menjawabnya?" dengus pemuda cuek itu tak menatap teman-temannya. Pandangannya tak beralih kemanapun. "Kenapa aku peduli..." pemuda itu menggumam namun dapat didengar ketiga temannya.

"Sasuke-kun, Lee tak bermaksud demikian." Sakura tersenyum melihat sikap pemuda itu.

"Sakura, Kurasa lee bermaksud begitu." Pemuda pirang menyela saat melihat ekspresi gadis berambut pink. Namun pandangannya mendadak ke arah lain. Ia melihat sosok yang tak asing. Dan benar saja, sosok yang dilihatnya adalah gadis yang kemarin ia perlakukan 'semena-mena'. "Hinata?" ia menggumam tanpa dihiraukan teman satu, Sasuke, Si rambut pantat ayam. Ia tertegun memperhatikan Naruto yang menatap langkah gadis tersebut, tanpa berkedip.

Sedangkan Gadis itu langsung menundukkan kepalanya saat hampir berpapasan dengan mereka. Ia tampak tak ingin melihat seseorang diantara kerumunan yang akan dilintasinya. Tentu saja, ia menghindari pemuda berambut pirang.

Naruto hanya tersenyum sinis dengan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. Namun senyum mengerikan itu terhapus seketika saat gadis itu sempat meliriknya dengan mata kesedihan. Gadis itu pun berhenti memeluk erat buku tebal yang dibawanya. Jarak mereka berdua cukup dekat dan hanya terhening satu sama lain. Temannya yang lain, Lee, akhirnya menyadari keberadaan gadis tersebut.

"Oh, Hinata... sejak kapan kau disitu?"

"Eh, Hinata...?" Gadis berambut pink berbalik badan ke arah gadis di belakangnya. Ia sempat melihat hal yang terjadi antara Naruto dan gadis tersebut. Mereka hanya terhening. Naruto terus memandanginya dengan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya, sedangkan Hinata hanya tertunduk dengan buku tebal yag sudah ia turunkan dari dekapannya. Poni rambutnya menghalangi wajahnya sehingga tak tahu ekspresi seperti apa yang ia sembunyikan.

Semua tetap terhening beberapa detik sampai Hinata melayangkan Buku tebal itu ke wajah Naruto. "BUAKKK!"

Wajahnya terhempas dan ia langsung tersungkur sambil memegangi pipinya. Pandangannya sempat kabur, hingga saat kembali pulih, ia langsung mencari orang yang baru saja memukulnya, orang itu sudah berlari jauh. Temannya yang lain, Sakura, dan Lee hanya tercengang melihat gadis itu tengah berlari. Tak luput juga mata hitam Sasuke yang memperhatikan gadis itu berlari cukup kencang hingga berakhir di belokan menuju tangga.

"Astaga, Naruto... Kau pasti sudah membuatnya marah." Ujar Lee tanpa mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang tak terlihat lagi.

"Hey, apa yang kau lakukan sehingga dia memukulmu seperti itu?" Tanya Sakura memperhatikan Naruto yang masih menahan sakit di pipinya. Hidungnya sedikit mengeluarkan darah.

Masih menahan perihnya pukulan dengan buku itu, dia bangkit dengan tatapan yang lebih serius. Alisnya menurun tajam. Ia tampak gusar.

"Hey, jawab aku, kenapa dia memukulmu seperti itu, Naruto!? Kau pasti menyakitinya!" Sakura sendiri semakin ingin tahu dengan nada bicara yang sedikit kesal.

"Aku tak tahu." Jawabnya singkat. Tatapannya semakin menaruh kekesalan tingkat tinggi. "Biar kutanyakan..." lanjutnya sembari memulai langkah mengejar orang yang memukulnya dengan kejam itu.

Di sebuah ruangan belajar bagi para mahasiswa yang merupakan ruangan kuliahnya sendiri, ia melihat-lihat sekitar didalamnya. Tak ada orang yang dicarinya, ia menghampiri seorang lelaki sebaya. "Kau lihat Hinata?" kata Naruto to the point.

"Oh, hei... Naruto... lama tak bertemu..." lelaki itu tak menjawab pertanyaan Naruto hingga membuat pemuda pirang itu semaki kesal.

"Kau Lihat Hinata!?"

"Oh... Tidak..." lelaki itu tampak aneh melihat sikap orang yang lama tak dijumpainya. Pemuda pirang itu lantas meninggalkan ruangan itu tanpa bertanya lagi. Ia terus berjalan sampai ujung lorong dimana didapatinya disitu gerombolan wanita sedang berkumpul di mulut tangga.

"Hey, apa diantara kalian ada yang melihat Hinata?"

Para gadis itu hanya tertegun melihat siapa yang menghampiri mereka. "Hinata... siapa?" sahut seorang gadis dihadapan Naruto yang kelihatannya tak tahu menahu. "Gadis pendiam itu? Dia baru saja menaiki tangga ini..." timpal salah seorang temannya. "Gadis yang menabrak kita tadi? Namanya Hinata?" timpal lagi gadis yang barusan.

"Menabrak kalian?" Naruto tertegun sejenak.

"Ya, gadis itu berlari dan melewati kami tanpa permisi." Tampik perempuan lain diantara gerombolan wanita tersebut.

Pemuda pirang ini mengalihkan matanya ke atas tangga yang dimaksud. Dan langsung menyingkirkan para wanita itu tanpa permisi dan meninggalkan mereka.

"Hey...!" dengus seorang gadis yang kelihatannya gusar karena Naruto melewati mereka secara tak sopan.

Membiarkan angin di siang bolong menerpa wajahnya, Hinata menumpukan kedua tangannya diatas tembok pembatas. Pemandangan dari atap gedung kampus ini cukup menakjubkan. Meskipun masih ada gedung-gedung yang lebih tinggi yang menghalangi pandangannya, namun ia tetap menikmatinya. Sayang, lamunannya itu harus terhenti saat pintu di atap itu ada yang membukanya. Meskipun jarak pintu dengannya cukup jauh, ia terkejut seseorang mengetahui keberadaannya. Dan seseorang itu tak lain adalah pemuda yang tadi dipukul olehnya.

Tatapan pemuda itu amat penuh kebencian hingga membuat Gadis itu cukup ketakutan. Tanpa sadar buku dijatuhkan dan ia pun terkulai seolah kakinya mendadak kehilangan tenaga. Semakin pemuda itu mendekat, rasa takutnya semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Kemudian ia tertunduk menyembunyikan wajahnya dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya seolah pemuda itu akan membalas menghajarnya, melihat pemuda pirang itu tampak gusar.

"Berani sekali kau..." dengusnya sambil terus mendekati gadis yang tak berdaya itu. "... memukulku dihadapan teman-temanku..." ungkapnya sambil terus saja berjalan. "...kau... perempuan menyebalkan!" kata Naruto tepat didepan Hinata yang duduk terkulai tak berdaya diselimuti rasa takut pada pemuda didepannya.

"Sebaiknya kau diam jika kau tak mau mempermalukan dirimu sendiri!"

"Atau, kau bisa mengadu pada teman-temanmu dengan mengatakan 'aku diperkosa, oleh Naruto, aku sedih sekali', dengan begitu teman-temanmu mungkin akan mengasihanimu." Ia mengoceh terus menerus mengomeli Hinata seperti ibu-ibu dengan beberapa gaya khas yang disesuaikan dengan ocehannya.

"Asal kau tahu saja, selai mereka mengasihanimu, mereka juga akan memandangmu sebagai perempuan kotor. Perempuan yang telah kehilangan kehormatannya. Perempuan brengsek yang sudah menghancurkan hidup orang lain dan merenggut segalanya. Cepat atau lambat mereka akan tahu kebusukanmu, dan membencimu, BLA BLA BLA!"

Ditengah ocehan menyakitkan itu, terdapat aliran air mengalir diantara helaian rambut yang menutupi wajah Gadis malang itu. Bahkan terus mengalir sampai pemuda itu puas melepaskan amarahnya lewat kata-kata pedas. Naruto terengah-engah setelah berceloteh tanpa henti. Dan entah kenapa emosinya malah makin memuncak. Ia tak peduli betapa tak berdayanya gadis malag dihadapannya. Dengan cepat ia melayangkan tangannya, meraih kerah baju gadis itu dan menariknya dengan kasar.

"AKH...!" Gadis itu menjerit sekejap cukup keras saat Naruto menarik kerahnya layaknya ingin berkelahi. Ditariknya lagi hingga wajah gadis itu mendekati wajahnya. Wajah yang sembap oleh air mata yang turun dari perasaan yang tersakiti secara bertubi-tubi.

"Lihat dirimu..."

"Kau menyedihkan..."

"Kau adalah bedebah yang paling menyedihkan..."

"Air matamu takkan membuatku menyesal..."

"Kau merenggut semua, milikku..."

"Aku takkan pernah memaafkanmu..."

Ia menatap wajah gadis yang tangisnya masih berlangsung. Tubuhnya terangkat oleh tenaga kekar pemuda pirang pada pakaian di bagian kerahnya. kedua tangan gadis ini hanya bisa memegang kedua tangan Naruto yang mencengkeram kuat kerahnya. Lalu di benaknya, ia teringat percakapannya dengan pria berkuncir di bar sebelum ini.

#

"Apa ini...?" Gumam Naruto memperhatikan isi dari sebuah plastik klip transparan yang tertutup rapat.

"Untuk jaga-jaga..." jawab pria itu.

"Memangnya apa yang harus kucemaskan?" Naruto bertanya karena tak mengerti apa maksud pria itu memberikan tiga butir pil kecil dalam sebuah plastik klip.

"Kau tak tahu kan apa yang terjadi pada wanita yang telah kau sentuh secara paksa? Mungkin saja dia mengandung bayi. Jika kau tak menginginkan itu, pastikan korbanmu meminum sebutir pil ini." Ujar pria tersebut.

"Maksudmu, hamil?" Naruto tertegun. "Apa yang akan terjadi jika dia meminum obat ini?"

"Itu akan mendorong paksa janin yang terbentuk di rahimnya."

Pemuda pirang itu memperhatikan pil mengerikan yang ada pada genggamannya. "Kau benar, itu akan berbahaya. Apa efek samping obat ini?"

"Tak ada. Tak terdeteksi sebagai racun atau apapun. Kandungan obat ini akan keluar bersama dengan janin yang dikeluarkan secara paksa tersebut."

#

Ia ingat percakapan itu sebelumnya dan berencana untuk memberikan solusi untuk gadis malag yang masih ada dalam cengkeraman kejamnya. Ia melepas cengkeraman itu dan mendorongnya dengan keras sehingga tubuh Hinata terhempas dan membentur dinding pembatas. Ia pun tersungkur tak berdaya.

Seolah hati pemuda ini telah mati karena tertutupi kebencian yang amat besar, ia menjejakkan kakinya ke dada gadis yang terbaring dan menginjaknya. Sesekali pijakannya berpindah ke wajah gadis malang ini. Sungguh pemandangan yang amat mengerikan. Tak adakah seseorang yang datang ke atap ini dan menolong gadis ini? Bahkan saat ia merasakan sesak didadanya, rasa sakit yang ia alami, tangisnya, tam membukakan mata pemuda pirang ini.

Pemuda tu mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya dan menjatuhkannya. Ia menjatuhkan sebuh plastik dengan tiga butir pil didalamnya. Benda itu tepat jatuh di wajah Hinata.

"Pil itu adalah solusimu. Kalau kau merasakan sesuatu dengan perutmu, minumlah obat itu maka kau tertolong."

Naruto menurukan kaki dari gadis itu dengan sedikit tendangan yang membuatnya kesakitan. Betapa malangnya, gadis itu menahan dadanya yang sesak dengan kedua tangannya. Tangisnya tak bersuara. Ia berguling untuk mengurangi rasa sakit. Pemuda tak berperasaan itu meninggalkannya begitu saja. Seperti sampah yang baru saja ia injak-injak.

"Sebaiknya kau jangan macam-macam, perempuan bodoh!" lagi, ucapan menyakitkan itu terdenger di telinga Hinata. "Pulanglah. Katakan saja kau sedang kurang sehat atau apapun, terserah. Benahi dirimu dan anggap hal ini tak pernah terjadi... atau tamat riwayatmu." Tak hanya kata-kata menyakitkan, ancaman itu menambah ketakutan tersendiri bagi Hinata. Ia berusaha bangkit dengan mendorong tubuhnya menggunakan sebelah tangannya yang bertumpu pada lantai. Setelah bangkit setengah berdiri, ia meraih apa yang dijatuhkan pemuda itu tadi, juga sebuah buku tebal. Ia berdiri, dan mencoba berjalan.

Pemuda itu menghilang di balik pintu atap yang tertutup kembali. Sedangkan wanita malang dibelakangnya, bersaha berjalan menuju pintu tersebut. Seolah kehilangan keseimbangan, kakinya seperti tak bertenaga menempa tubuhnya sendiri.

Pukul 11.28, jam kuliah sudah dimulai. Bukan dosen yang memulai memberikan materi melainkan dua orang petugas berseragam kepolisian.

"Selamat siang, semuanya... kami dari Konoha Police Unit Department mengganggu jadwal belajar kalian untuk hari ini." Ujar seorang wanita berambut pendek dengan kuncir dibelakangnya. "Ya, kami sedang melakukan survey ke beberapa orang yang akan kami pilih. Siapapun dia, harap ikut kami. Dan sisanya, yang tidak kami pilih dapat mengikuti materi seperti biasa. Jelas!" sambung pria bercodet di hidung yang berdiri tegap di sebelah wanita tadi.

"Heey, apa hak mu menghentikan kegiatan kami?" dengan lantang seorang pelajar di ujung kelas berteriak mengeluh. Dan di tengah suasana panas para mahasiswa yang merasa jadwalnya terganggu, masuklah seorang mahasiswa lain dengan ciri rambut yang pirang mengenakan setelan sweater berwarna oranye dan hitam. Tak lain adalah Naruto.

"Maaf, aku terlambat. Aku baru pindah jadwal hari ini... selamat siang semua..." sapa pemuda tersebut.

"Yah, silakan masuk dan ambil tempat dudukmu. Sepertinya ada tiga kursi kosong di ruangan ini, siapa saja yang absen?" kata polisi wanita tersebut.

"mereka semua mahasiswa yang berpindah jadwal berbulan-bulan yang lalu, termasuk orang ini..." ujar seorang wanita tepat didepan petugas tersebut, kemudian menunjuk ke arah Naruto.

"Begitu, baiklah, mari kita mulai. Kami akan memilih beberapa orang yang akan kami mintai keterangan untuk keperluan Survey." Kata polisi wanita dengan nama Mitarashi pada seragamnya. "Semua harap tenang." Sambungnya dengan tegas. "Iruka, kita mulai." Lanjutnya kepada rekan tugasnya.

Naruto masih tak mengerti apa yang diinginkan para polisi tersebut. Ia mendekati seorang pemuda sebaya di sampingnya, kemudian berbisik. "Hey, hideki, mau apa para polisi ini?"

"kau terlambat, jadi tak tahu. Mereka bilang mereka ingin mengambil beberapa dari kita untuk dimintai keterangan." Jawab pemuda itu.

"Untuk apa?" naruto masih bingung.

"Untuk dimintai keterangan, Bodoh!" sentak pemuda tersebut.

Mendadak wajah Naruto menjadi jengkel. "Aku tahu! Maksudku untuk keperluan apa? Kenapa mereka meminta keterangan dari kita?"

"Kau ini bodoh atau apa? Untuk keperluan survey!" pemuda itu malah ikutan jengkel. Kening kedua pemuda berambut pendek dengan warna yang berbeda ini menghiasi keningnya dengan urat yang menonjol dan membentuk perempatan.

"Kau!" polwan itu menunjuk pemuda yang berbicara dengan Naruto. "Dan kau!" begitu juga Naruto. "Ikut dengan ku nanti."

Setelah petugas itu berlalu, kedua pemuda ini saling berpandangan dengan ekspresi kesal satu sama lain. "gara-gara kau aku dipilih polisi itu!

"Hey, kau duluan yang mengajakku bicara, bodoh!"

Kemudian mereka saling menjambak rambut satu sama lain seperti perempuan yang berkelahi sampai rekan polisi wanita itu menghentikan mereka. "Hey, apa-apaan kalian!" kata polisi bernama Umino.

Tak butuh waktu lama, kedua polisi itu menunjuk beberapa dari pelajar di ruangan itu. "Baiklah, semua yang baru saja kutunjuk, ikuti aku." Kata polisi wanita itu.

Namun belum sampai ke luar ruangan dan para pelajar bersiap untuk mengikuti polisi itu, seorang pelajar wanita masuk kedalam ruangan itu, dan membuat polisi itu bertanya. "Hey, kau mahasiswa di ruangan ini?"

"ya..." jawab wanita itu datar.

Polisi itu memperhatikan wanita yang barusaja masuk. Ia pelajar dengan ciri masih muda, rambut indigo yang terurai, dan tak berkacamata tidak seperti biasanya. Gadis itu sempat heran mengapa polisi itu memperhatikan dirinya seperti itu.

"Kenapa bajumu? Ini terlihat kotor." Polisi wanita itu tertegun melihat pakaian di bagian dada gadis tersebut, agak kotor bekas sesuatu. "dan pipimu..."

Polisi itu terus saja memperhatikan dengan cermat dan serius. Hinata sempat salah tingkah dibuatnya.

"Ada apa...?"

"...juga kotor, dan sepertinya basah oleh sesuatu. Apa diluar hujan?" sambung polisi itu.

"Tidak... aku... errr... terserempet mobil dan jatuh saat baru datang tadi."

"Gadis ini... pipi itu basah oleh air mata... dan bajunya, bukan karena terjatuh." Polisi wanita itu menggumam sambil membiarkan gadis pelajar itu masuk. "Dia berbohong..."

Kemudian dari sosok belakangnya, itu tampak familiar di matanya. Ia menyadari sesuatu dan memandang sosok belakang gadis tersebut terus menerus. "Tunggu... dia..."

"Hey, anak muda..." karena pilisi itu tak tahu namanya, ia memanggilnya dengan istilah lain.

Dan kemudian gadis bernama Hinata itu menoleh.

"Err, kau ikut denganku. Bersama dengan yang lain. Oke..."

Di pihak lain, pemuda pirang yang juga ikut terpanggil merasa geram atas keberadaan Hinata. Ia merasa terpojok dengan adanya para polisi ini.

"Apa-apaan, perempuan sialan itu! Aku sudah menyuruhnya pulang tapi dia masih berani menampakkan dirinya disini. Apa dia benar benar sudah merasa kuancam?" Naruto menggumam dengan geramnya. Ia melangkah dengan cepat dan mencengkeram lengan kemeja Hinata dengan kasar dan menariknya hingga ia menghadap pemuda tersebut.

"Kau tak mendengarkan ku rupanya..." Kata Naruto penuh ancaman dengan suara agak berbisik. Gadis itu cukup terkejut dengan keberadaan pemuda pirang yang baru saja berbuat semena-mena dengannya diatap tadi. Karena terkejut ia terperanjat dan berusaha menarik tubuhnya agar cengkeraman pria itu terlepas. Ia pun pergi tanpa sepatah katapun selain wajah yang berselimut kesedihan.

"Kalau sampai dia membuka mulut..." Naruto menggumam penuh kecemasan. "Tamat riwayatku..."

Tiba-tiba saja ia teringat kembali dengan perbincangannya dengan Pria berkuncir bernama Kabuto sebelum ini.

#

"Kau harus tahu, Konoha telah membuat banyak perubahan dalam segi hukuman para kriminal belakangan ini." Kata pria berkacamata dengan kuncir rambutnya yang aneh.

"Apanya?" Naruto mendengarkan sambul menyeruput lemon tea pesanannya.

"Mereka menetapkan hukum baru bagi para kriminal. Dan itu sudah disahkan sejak empat bulan lalu. Aku tak mengetahuinya akhir-akhir ini." Ujar pemuda bernama Kabuto

"Lalu apa yang harus ku khawatirkan?" Naruto tak mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya.

"kuberitahu salah satunya saja, hukuman untuk para pelaku pembunuhan adalah hukuman mati dan bagi pelaku kejahatan seperti yang kau lakukan pada korban wanitamu adalah 20 tahun penjara tanpa pembebasan bersyarat." Jelas Kabuto.

"Hey, kau bilang minuman itu bisa membantuku melepaskan diri dari apa yang kuperbuat. Dan kau berjanji mau membantuku kan?" Naruto mengelak dengan penuh kecemasan.

"Kalau mereka sudah menetapkan hukum baru, itu artinya mereka menemukan prosedur baru untuk menyelidiki kasus. Aku tak yakin tapi kemungkinan mereka menemukan bukti, itu cukup besar." Kata pria itu sedikit ragu sambil mengusap-usap dagunya.

"Apa!?" saat menggumam, ia merasa dirinya kini terancam. "aku harus mengancam wanita itu..."

#

Disitu terdapat juga Seorang Uciha dan teman sejatinya, Lee... "Aah, sial... kenapa aku diikutkan juga. Bagaimana denganmu sasuke? Kau juga pasti gusar kan?"

"Aku tak khawatir karena takkan terjadi apa-apa..."

"Ini gawat..." Naruto semakin cemas saat mereka tiba di sebuah ruang kelas yang sengaja dikosongkan. Mereka yang ditunjuk berkumpul agak jauh dari ruangan yang dimaksud. Ruangan itu dijaga oleh seorang petugas polisi lain.

"Baiklah, kalian semua tunggu disini. Jangan penah menguping karena ini adalah urusan uyang cukup penting, oke." Polisi wanita itu memberikan pengarahan dengan ramah. "Kita mulai sekarang. Aku mulai dari kau!" ia menunjuk seorang lelaki.

"Aku...?" pemuda itu menunjuk dirinya sendiri dan terheran.

"Ya, kau... siapa namamu?"

"uh... Hideki..."

"Baiklah Hdeki. Aku akan mulai darimu. Ikut aku ke ruangan itu." Polisi itu memintanya untuk mengikutinya.

Ruangan itu sudah ditata ulang. Seluruh kursi para pelajar disingkirkan ke dekat dinding sehingga menyisakan bagian tengah ruangan yang lengang. Hanya ada sebuah meja yang cukup panjang dengan dua kursi dan sebuah kursi di sisi yang lain. Dua kursi itu diduduki oleh petugas polisi wanita bersama rekannya, sedangkan yang di sisi satunya sudah pasti untuk mereka yang dipilih.

"Berdasarkan ciri dari rekaman itu, mereka semua identik dengan dua orang yang terekam di video itu. Dan yang satu ini cukup mirip..." Polisi wanita itu menggumam dalam hati.

Pemuda itu duduk saling berhadapan dengan sua polisi didepannya. "sebelum kita mulai, aku ingin memintamu untuk tidak mengatakan apa yang kami tanyakan disini pada teman-temanmu. Setelah selesai, kembalilah ke kelasmu untuk mengikuti pelajaran dan jangan bertingkah aneh, mengerti...!?"

Suasana dalam ruangan itu berubah menjadi serius dan tegang.

"Sebenarnya kami sedang melakukan penginterogasian kepada beberapa murid disini. Apapun yang kai tanyakan, jangan ceritakan kembali pada teman-temanmu!"

"Ba, baik..." pemuda itu sekejab berubah menjadi tegang dan tertunduk.

"tempat apa yang paling menyenangkan untukmu saat menghibur dirimu sendiri? Katakan pada kami? Saat kau sedih, atau butuh hiburan... kau pasti punya tempat tujuan faforit..."

Pemuda itu menjawab, "Yaa... taman tropis di pusat kota." Dengan sedikit kaku.

"Hmm, taman hiburan air itu? Kau pasti menghibur dirimu untuk melihat para wanita berbikini kan?"

Pemuda itu semakin kikuk, "Ah, tidak... aku..."

"Jangan berbohong!" polisi wanita itu membentak!

"Ah, iya! Maksudku... kadang-kadang..." ia berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan.

"Jadi, kau suka melihat wanita tanpa busana, huh?"

"Ah, tidak..."

"BRAKK!", "JAWAB DENGAN JUJUR!"

"uwaaa...!" pemuda itu terperanjat, begitu juga rekan di sampingnya.

Beberapa menit kemudian, pemuda itu keluar dari dalam ruangan. Teman-temannya melihat sepertinya lelaki itu baik-baik saja. Ia keluar dengan senyum lega dan langkah yang santai. "Hei teman-teman, aku ke kelas duluan yaa..."

"Hey, beritahu kami apa yang..."

"Sampai jumpa di kelas...!" pemuda itu menyela saat seorang teman laki-lakinya mencoba ingin tahu.

"Baiklah, selanjutnya... kau!" polisi itu menunjuk seorang perempuan berambut panjang. "Siapa namamu?"

"Ishikawa..."

"Kemarilah..." polisi itu memintanya untuk masuk kedalam ruangan.

Waktu terus berlalu, menit demi menit berjalan tanpa mundur kembali. Selama proses itu berlangsung, semuanya tak bericara satu sama lain. Beberapa dari mereka sibuk dengan benda yang dipegangnya. Tak terasa sudah satu jam dan hanya tersisa empat orang setelah seorang perempuan keluar dari ruangan itu.

"Selanjutnya, kau... siapa namamu..."

"Hinata..."

"Ini dia... apa yang harus kulakukan? Lari... lalu bersembunyi? Kabur dari kota ini? Sepertinya gedung ini sudah banyak polisi yang berkeliaran. Bukan hanya mereka saja. Mereka pasti menyelidiki kasus yang baru-baru ini mereka temukan. Jangan-jangan..."

Naruto terus saja berspekulasi dalam pikirannya. Ia tak mengharapkan hal buruk menimpanya namun ia sendiri memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

Tak lama waktu berselang, akhirnya gadis bernama Hinata itu keluar. Ia keluar sambil tertunduk. Bahkan sampai keluar ruangan, polisi wanita itu mendampinginya. Dan terlihat ia sedang berbicara dngan penjaga di depan ruangan itu. Kemudian penjaga itu mendampingi langkah Hinata yang berjalan perlahan seperti orang yang tak sehat.

"Astaga, perasaanku mulai tak enak..." Naruto mulai merasa pusing dan sangat cemas. Ia mulai berpikir, hal buruk yang sejak tadi ia pikirkan akan terjadi.

"Kau...!" polisi itu mununjuk pemuda pirang yang sedang duduk di lantai bersama yang tersisa dengan perasaan cemasnya. "Siapa namamu..."

"Errr... Na... Naruto..." Ucap Naruto salah tingkah. Kemudian ia berdiri dan menghampiri polisi itu.

"Kau tampak seperti laki-laki yang hebat, Naruto-kun... tapi kulihat kau sepertinya cemas..."

Naruto mulai tersudut.

"Dengan berat hati, pemuda pirang ini duduk juga..."

Polisi itu menatapnya dengan tajam. Ia tak kunjung melontarkan pertanyaan. Naruto yang menyadari dirinya diperhatikan, mulai berkeringat dingin. Ia berusaha untuk menguasai dirinya, yang sudah berada dalam kecemasan tingkat tinggi.

"Apa yang kau cemaskan, mata-biru?"

"sebenarnya, Pertanyaan macam apa yang ingin kau tanyakan pada kami?" Naruto mulai tak tenang.

"Baiklah, dengarkan aku sebelum kita memulai..."

### Bersambung...###