Kim Taehyung.

Teman masa kecil Hoseok.

Teman berbicara..

Teman bercanda..

Teman yang selalu dijaganya..

Teman yang tidak ingin ia tinggalkan..

Teman yang sangat berarti..

Bahkan seperti saudara

.

.

.

.

.

Gelap dan dingin.

Hanya itu yang ku rasakan ketika kaki jenjangku memasuki ruangan kecil itu.

Ruangan yang sudah hampir setahun tidak pernah aku kunjungi.

Aku tidak heran dengan banyaknya gambar-gambar aneh yang terlukis di setiap permukaan dinding. Taehyung sering menggambar 'mereka'.

"Akh!" Seokjin hyung terdengar kaget.

Mendengar itu, mataku langsung menoleh kearah Seokjin hyung yang masih berdiri di ambang pintu.

"Tenggorokan mu pasti kering setelah memakan Gimbap itu. Aku akan membeli cola dan segera kembali" lanjutnya sambil berlalu dengan cepat tanpa menungguku menjawab ucapannya.

Padahal ia tidak perlu repot-repot.

Setelah suara langkah Seokjin hyung tidak terdengar, aku kembali menelusuri kembali setiap sudut kamar ini.

Mengingat beberapa memori yang belum terlupakan sempat terukir disini.

Pandangan ku terhenti ketika melihat sebuah figura foto di atas nakas. Terlihat jelas ada senyum ku dan senyum Taehyung tercetak disana.

Itu adalah foto liburan kami ke Dubai. Foto saat Seokjin hyung mengambilnya secara diam-diam.

"Kenapa foto ini yang kau print out, Tae.."

Tangan ku mulai menyentuh beberapa benda yang ada di atas meja, sampai akhirnya aku menemukan sebuah buku kecil bersampul kulit.

"SAVE ME" Gumam ku pelan ketika melihat judul yang tertulis jelas di sampulnya.

Memang agak sedikit kurang sopan, tapi hatiku begitu penasaran dengan isinya. Walaupun aku berteman lama dengan Taehyung, namun untuk pertama kalinya aku melihat buku ini.

Ku buka halaman pertama.

"Aku memang tidak berguna"

Tulisan tangan Taehyung membuatku cukup kaget. Pasalnya, kalimat itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dari Taehyung.

Melihat lembar usang itu membuatku mengulas balik kehidupan tragis sahabatku.

Kim Taehyung

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Flashback on

Author POV

"Taehyungie! Coba lihat aku bawa apa?" Tanya Hoseok.

Taehyung yang sedang menggambar di dinding kamarnya segera beranjak dan menghampiri Hoseok dengan mata berbinar.

"Wah! Kau bawa apa hyung?"

"Ibu ku membuat Gimbap kesukaan mu" Hoseok membuka kotak makan biru itu. "Lihat! Ibuku membuatkan Gimbap seafood" lanjut Hoseok.

Tanpa menunggu aba-aba Taehyung segera mencomot Gimbap itu dan memasukannya kedalam mulut.

"Otte? Aku yakin Gimbap buatan ibuku nomor sat--"

Ucapan Hoseok tertahan ketika Gimbap besar itu masuk kedalam mulutnya.

"Kau juga harus memakannya" Taehyung menunjukan aegyonya, ini merupakan momen langka bagi Hoseok.

Detik selanjutnya, Kedua remaja itu tertawa kencang walaupun mulut mereka masih penuh dengan gumpalan nasi.

"Kau gambar apa, Taehyung?"

Tanya Hoseok tanpa menoleh kearah lawan bicaranya. Tangan dan pandangannya sibuk melihat soal-soal pada buku tulisnya. Hoseok memang sering mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di kamar Taehyung.

"Dia teman baru ku, hyung. Dia sangat baik padaku" jawab Taehyung.

Jawaban aneh itu lantas menarik perhatian Hoseok, pergerakan jarinya yang sedang menulis terhenti. Hoseok menghampiri Taehyung yang tidak jauh dari tempatnya mengerjakan tugas.

Saat melihat gambarnya, bulu roma Hoseok sedikit berdiri. Pasalnya gambarnya bukan gambar manusia.

Jika dituliskan dengan kata-kata, teman baru Taehyung ini memiliki tiga mata, telinganya panjang seperti kelinci dan memiliki bulu lebat seperti monyet.

Hoseok memang sudah biasa melihat 'teman-teman' baru Taehyung, yang jika dihitung -dari dulu hingga sekarang- mungkin jumlahnya ratusan. Semuanya tergambar di dinding kamar Taehyung. Karena begitu aneh rupa nya, tidak jarang gambar-gambar itu masuk kedalam bunga tidurnya.

"Dia selalu memberikan ku semangat"

Ucapan Taehyung membuyarkan lamunannya. Ia melihat Taehyung sebentar. Tercetak senyum kebahagiaan saat menggambarnya.

"Hyung, apa kau mau berteman dengannya juga?"

Deg..

Jantung Hoseok serasa jatuh ketika kalimat itu masuk kedalam telinganya. Kata-kata yang paling tidak ingin ia dengar. Ia memang terlalu menyayangi Taehyung, tp hal ini yang selalu membuatnya ingin meninggalkan Taehyung.

Takut.

Itu yang kadang ia rasakan.

Karena tidak ada jawaban dari Hoseok, Taehyung pun menoleh kearahnya. Menatapnya sebentar dengan tatapan tajam kemudian kembali menggambar, seperti sedang mengancam Hoseok agar mau menerima sang 'teman' itu.

Kali ini kinerja otak Hoseok bekerja sangat keras, ia bingung kalimat apa yang cocok untuk menjawab pertanyaan yang menurut Hoseok menakutkan itu. Sampai akhirnya hanya senyuman yang menampilkan deretan giginya menjadi pilihan terakhir Hoseok. Namun nampaknya jawaban itu tidak diinginkan Taehyung.

"Kau tidak percaya pada ku, hyung?"

Kali ini Taehyung menghentikan kegiatan menggambarnya, pensil yang ia gunakan kini di letakan pada saku piyamanya. Taehyung memegang bahu Hoseok, agak sedikit kencang sehingga membuat Hoseok sedikit meringis.

Hoseok tau, jika tatapan Taehyung sudah seperti ini, ia pasti sedang marah sekarang. Dan membuat Taehyung marah adalah perkara besar yang tentunya akan merugikan Hoseok.

"Ba.. baiklah.. siapa namanya?" Hoseok tersenyum miris. Sepertinya ia berhasil meredakan amarah Taehyung hanya dengan kalimat itu. Kini Taehyung sudah melepas bahu Hoseok. Dengan segera Hoseok kembali menuju buku-buku soalnya yang sudah beberapa menit ia tinggal.

Taehyung kembali mangambil pensilnya yang ada didalam saku, dan melanjutkan kegiatan menggambarnya.

Saat ini ia sedang menggambar bagian kaki. Tentu saja bukan kaki manusia. Ia membuat kaki itu seperti kaki laba-laba. Ada delapan jumlah kakinya. Entah 'teman' macam apa yang Taehyung lihat.

"Namanya Merry, ia selalu membantuku menghentikan Thomas"

"Hmm.."

Hoseok hanya mengangguk pelan, matanya masih ia arahkan pada buku tulisnya. Ia sudah beribu kali mendengar nama Thomas yang selalu mengganggu dalam cerita Taehyung.

Hingga sudah satu jam remaja yang berada satu ruangan itu berada di dunianya masing-masing.

Hoseok yang masih setia mengerjakan PRnya dan Taehyung yang masih asik menggambar, namun bedanya lapak 'kanvas' Taehyung sudah pindah ke sudut dinding.

"Thomas bilang, dia akan membunuhku malam ini"

Pelan.

Namun, ruangan kamar yang sepi membuat Hoseok dapat mendengar suara lirih itu. Suara yang tidak asing untuknya. Suara yang sering ia dengar.

Sudah terlalu sering Hoseok mendengarnya sampai ia berusaha untuk tidak terlalu mempedulikannya. Ia melanjutkan kegiatannya.

"Aku takut, Merry"

Bulu roma Hoseok berdiri kala ia mengingat rupa sosok itu. Sosok yang bernama Merry.

Ia menoleh kearah Taehyung, keningnya berkerut ketika melihat apa yang sedang dilakukan Taehyung.

Bibir Taehyung bergetar, sambil terus menggerakan pensil di tangannya membentuk sebuah titik hitam di permukaan tembok. Mulutnya berbegerak membuat sebuah percakapan.

"Merry, bantu aku menghentikan Thomas"

"Jjinja? Jika ia datang tolong yah"

"Aku takut jika ia benar-benar membunuhku"

Hoseok membatu di tempatnya. Tak lama Taehyung tertawa. Memang tidak terlalu keras suaranya tapi tetap membuat Hoseok merinding.

"Kau lucu sekali Merry. Ha..ha..ha.. terimakasih sudah menghiburku"

"... Hoseok?"

Tubuh Hoseok menegangang, ketika namanya juga masuk dalam percakapan Taehyung.

Taehyung mengalihkan pandangannya. Sehingga manik mereka bertemu. Taehyung tersenyum menampilkan senyum kotak ciri khasnya.

"Dia sedang sibuk belajar, karena dia sudah ada di tingkat akhir sekarang. Aku tidak mau mengganggunya. Aku ingin dia sukses nantinya" jawab Taehyung.

"Taehyung! Ayo mandi!" Teriak seorang pria dari balik pintu. Suara itu membuat kedua namja itu menoleh cepat ke arah pintu.

Tidak lama pintu kamar Taehyung terbuka, memperlihatkan seorang namja tinggi berparas tampan.

"Hyung" Taehyung berdiri dari posisinya.

Pria itu -Seokjin- menghampiri Taehyung yang berada di sudut ruangan.

"Lihat. Wajah tampan mu tidak terlihat karena rambutmu, Tae" Seokjin menyingkirkan poni coklat yang sedikit menghalangi pandangan adiknya. "Setelah mandi aku akan memotong sedikit poni mu" lanjut nya.

Taehyung sedikit merajuk, namun tetap mengangguk.

"Kalau begitu aku harus pulang" ucap Hoseok. "Taehyungie cepatlah mandi"

Hoseok merapihkan barang-barangnya. Memasukan satu persatu buku-buku tebal itu kedalam ranselnya dan beranjak dari situ menghampiri kedua kaka beradik yang sedang menatapnya dengan senyum.

"Besok aku akan bawa makanan lagi, dan aku tidak mau melihatmu dalam keadaan berantakan dan bau seperti hari ini" Hoseok mengacak rambut Taehyung.

"Hati-hati dijalan Hoseok-ah" teriak Seokjin sambil memandang punggung Hoseok yang menghilang setelah melewati pintu.

.

.

.

.

.

.

"Taehyung mengidap penyakit skizofrenia. Aku harap kau mau menjaganya, Hoseok-ah"

Itu yang Hoseok dengar delapan tahun lalu dari mulut Seokjin.

Untuk Hoseok yang masih menginjak usia dini, ia tidak mengerti perkataan Seokjin saat itu. Hingga waktu yang memberikan Hoseok jawaban.

Taehyung yang selalu bercerita tentang 'teman'nya pada Hoseok.

Taehyung yang selalu bercerita tentang Hoseok pada 'teman'nya.

Taehyung yang mengamuk.

Taehyung yang tertawa sendiri di sudut ruangan.

Kadang Hoseok lelah menghadapi Taehyung, namun rasa sayang nya menutup itu semua. Entah kenapa hati kecilnya mengatakan ia harus menjaga Taehyung. Ia selalu berdoa dan berharap Taehyung akan sembuh.

Tapi nyatanya, harapan Hoseok sedikit sirna. Taehyung yang semakin berantakan. Taehyung yang semakin lama terjerat dengan teman halusinasinya.

Keseharian Hoseok dan Taehyung terus seperti itu selama bertahun-tahun.

Kadang Taehyung bersikap seperti layaknya remaja normal. Namun tidak jarang juga Hoseok mendapati Taehyung dengan keadaan mengenaskan.

Waktu yang membuat ia terbiasa dengan semua itu.

Sampai hari ini. Dimusim yang sangat dingin. Putihnya salju masih menghiasi sepinya kota Seoul.

Tanggal 6 Januari 2017..

Suara langkah kaki Hoseok menggema cukup keras, mengisi jalan kecil itu. Jalan yang yang biasa ia lewati jika mampir ke rumah sahabatnya. Taehyung.

Nafasnya berderu, jantungnya berdetak cepat. Ia terus berlari menghiraukan beberapa makian yang tertuju padanya. Ada rasa bersalah dalam hatinya kala ia menabrak orang-orang yang lewat berlawanan arah dengannya.

"Hoseok-ah, jika kau ada waktu. Kerumahlah. Taehyung pingsan"

Ucapan Seokjin beberapa jam lalu muncul kembali dalam pikirannya. Ini bukan yang pertama kali Hoseok mendapat kabar dari Seokjin tentang Taehyung yang selalu pingsan setelah mengamuk. Tapi ucapan Seokjin selanjutnya yang membuat hati Hoseok ngilu.

"Ia pingsan setelah mengamuk dan membenturkan kepalanya ke tembok"

Untuk pertama kalinya Taehyung mencoba menyakiti dirinya. Selama ini hanya barang-barang disekitarnya menjadi korban. Ia hanya mengobrak abrik isi kamarnya. Hal ini membuat Hoseok semakin takut.

"Ku mohon, Thomas, Dev, dan Rommy. Kumohon berhenti mengganggu Taehyung"

Gumam Hoseok pelan. Matanya sedikit memanas. Perasaannya campur aduk.

Hingga langkah kakinya berhenti disebuah rumah sederhana berwarna coklat. Kaki panjangnya ia percepat saat menaiki anak tangga.

Kamar Taehyung lah tujuannya.

Dari kejauhan ia melihat Seokjin baru saja menutup pintu kamar yang sedang ia tuju. Wajah Seokjin tampak gelisah, terlihat dari bahunya yang perlahan turun seiring helaan nafas keluar dari mulutnya.

Hoseok sangat menghormati Seokjin, menurutnya Seokjin adalah sosok paling sabar yang pernah ia temui. Keluarganya hancur karena penyakit itu. Ya penyakit keturunan yang menyerang Taehyung.

Ibu Seokjin meninggalkan mereka ketika ia tahu bahwa sang suami menderita Skizofrenia. Dan Ayahnya yang bunuh diri setelah beberapa bulan ditinggalkan istrinya.

Seokjin tidak pernah berkeinginan untuk medengar berita buruk tentang adiknya. Berita yang memberitahu bahwa penyakit ayahnya menurun pada adik semata wayangnya.

Hoseok berpikir, jika ia menjadi Seokjin, mungkin bunuh diri menjadi pilihan terbaiknya.

Hal itu yang membuat Hoseok sangat menyayangi Seokjin.

"Hyung, bagaimana keadaannya?"

Hoseok menghampiri Seokjin.

"Dokter sudah mengurusnya. Sekarang ia tertidur karena obat bius"

"Aku akan menginap dan menemaninya"

Seokjin tersenyum lembut, mengacak surai milik Hoseok. "Terimakasih Hoseok-ah. Kau selalu menjaga Taehyung hingga saat ini"

Perlahan tapi pasti. Langkah Hoseok mendekati ranjang putih milik Taehyung. Jendela kamarnya sudah tertutup tapi hawa dingin masih saja menggelitik kulit Hoseok.

Hoseok duduk di pinggir ranjang. Menatap iba Taehyung. Ia tidak menyangka Taehyung sampai melukai dirinya sendiri sekarang. Begitu mengganggu kah teman-teman khayalan Taehyung sekarang?.

...

Sinar bulan sudah mulai menerangi kota Seoul. Udara pun semakin dingin walaupun salju sudah tidak turun. Hoseok terbangun dari tidurnya ketika suara pelan Taehyung masuk ke telinganya.

"Apa aku menyerah saja?"

Suara itu berhasil membangunkan Hoseok. Ia mengerjap matanya ketika tidak mendapati Taehyung diatas ranjang.

Ia meregangkan tubuhnya yang dipaksa tidur dengan posisi duduk. Ia menguap hingga mengeluarkan sedikit cairan bening di ujung matanya.

Ia pandang Taehyung yang sedang membelakanginya, berdiri di balkon sambil menatap keatas langit.

"Taehyungie..kau tidak kedinginan?"

Pemilik nama itu menoleh kearah Hoseok.

"Kemarilah, hyung"

Ajak Taehyung.

Bulan yang sangat indah, bintang yang bersinar terang seperti menghangatkan hati kedua remaja itu dan mengusir udara dingin yang menusuk kulit mereka. Mereka berlomba lomba memuji keindahannya dalam hati. Sampai akhirnya Taehyung angkat bicara.

"Hyung"

"Hmm"

"Aku lelah, hyung"

Hoseok terdiam. Perasaannya sungguh kacau mendengar pernyataan Taehyung.

"Mereka terus menghujat ku! Bahkan ada yang ingin membunuhku! Mereka selalu datang di dalam mimpiku! Aku sudah mengatakan pada Merry untuk membantuku mengusir mereka, tapi sepertinya Merry lelah" nada bicara Taehyung meninggi. Ia mengurut pelan kepalanya yang masih diperban itu.

"Aku tau aku ini hina. Aku selalu merepotkan mu dan Seokjin hyung. Aku adalah remaja kotor yang tidak tau apa apa akan dunia luar. Itu yang dikatankan Rommy pada ku"

"Tae-.."

"Kepala ku penuh dengan hujatan mereka. Walau aku menangis, bahkan merengek pada mereka tapi mereka tidak akan pernah berhenti"

"Taehyungie, berhent-.."

"Aku lelah, hyung"

Hoseok kembali terdiam, dua kali ia berbicara namun dengan sengaja dipotong oleh Taehyung. Ia tahu Taehyung yang banyak bercerita itu sedang mencurahkan keluh kesahnya.

"Tae.."

Hoseok menjeda sebentar ucapannya, takut-takut Taehyung akan memotong kembali kalimatnya.

"Berhentilah berpikir seperti itu. Kau yang paling tau bagaimana Seokjin hyung sangat menyayangimu. Begitu juga aku"

Taehyung menoleh kearah Hoseok yang berdiri di sebelahnya. Ia tersenyum lirih. Senyum yang tidak ingin Hoseok lihat. Senyum pilu yang bahkan membuat hati Hoseok tersayat.

"Maafkan aku hyung, aku memang tidak berguna"