Disclaimer: Masashi Kishimoto owns Naruto forever
Fearless©selaladrews
Pairing : SasuSaku
Rated: T
Warning: OOC, AU, typo(s), alur gaje, terlalu cepet, dll
~Kesempurnaan Hanya Milik Tuhan Yang Maha Esa~
Summary:
Aku takut akan semua hal. Aku takut akan semua orang. Aku takut tersakiti. Aku takut merasakan kehilangan. Aku takut. Aku akan selalu takut. Tapi kau datang di saat yang tepat. Semua rasa takutku seakan sirna oleh kehadiranmu.
.
.
.
'Tidak, tidak, tidak. Aku tidak boleh memikirkan si pantat ayam itu! BAKA! Tidak mungkin! Aku tidak boleh menyukainya!' bentak Sakura pada dirinya sendiri
Sasuke yang masih ada di kelas melihat adegan itu kemudian tersenyum tipis kemudian beranjak ke taman, Ia akan menemui sahabat pirangnya.
'Aku sudah menemukanmu, Sakura, dan aku tak akan pernah melepasmu,'
Chapter 2:
We Meet Again
.
.
.
.
.
Sakura's POV
Aku berada di taman yang sangat luas. Dihiasi dengan pohon-pohon Sakura yang sedang bermekaran. Kupu-kupu mengepakkan sayapnya dengan indah. Burung-burung bernyanyi saling bersautan. Aku melihat bayanganku saat berusia 5 tahun sedang berteduh di bawah pohon rindang bersama seorang pemuda dengan mata onyx yang menyorot kita masuk ke dalamnya, rambut yang mencuat ke belakang seperti pantat ayam, dan kulit putih sepucat porselen.
"Sasuke-kun.. cuaca pagi ini indah ya?"
"Hn,"
"Sasu-kun.. bisakah kau menghilangkan kata-kata Hn-mu itu," timpal Sakura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Baiklah, Hime-ku sayang," Jawab Sasuke dengan senyum tulus.
Pipi Sakura merona seketika saat mendengar jawaban Sasuke.
.
.
.
"Sakura.. Bangun, sayang. Waktunya sekolah,"
Teriakan Kaa-san dari lantai bawah membangunkanku dari mimpi indahku bersama Sasuke. Sebenarnya siapa sih Uchiha Ayam itu? Selama seminggu ini aku selalu memimpikannya. Dan selalu mimpi indah. Mengapa wajah dan sikapnya itu sangat familiar bagiku ya?
"Saku-chan?" Panggil Kaa-san
"iya, Kaa-san, aku akan segera mandi," jawab Sakura.
Aku segera beranjak dari tempat tidurku, menuju kamar mandi yang terletak di sudut kamarku.
Flashback
Aku berjalan entah ke mana. Bingung. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku hanya tinggal sebatang kara. Aku mengeratkan sweater ku, karena sekarang sedang hujan lebat. Badanku sudah basah kuyup dan aku masih tidak tahu harus pergi ke mana. Jalanan malam ini sangat sepi, tentu saja, sekarang sudah pukul 2 pagi. Aku sempat melihat jam dinding di toko kecil di seberang jalan. Aku berjalan dengan hati hampa dan kosong. Tiba-tiba aku melihat cahaya terang dan aku berasumsi bahwa itu adalah cahaya dari lampu mobil. Dan ternyata benar. Dengan segera aku berjalan ke tengah jalan. Aku berniat untuk mengakhiri hidupku saja, untuk apa aku hidup jika tidak bisa menghidupi diriku sendiri. Mobil itu hampir saja menabrakku ketika aku mendengar suara decitan keras yang ternyata berasal dari rem mobil tersebut. Wanita itu mengerem mendadak, dan rencanaku gagal. Dia berumur 35, kurasa. Rambut blonde yang diikat dua kebelakang serta bibir mungil nan- err seksi.
Dia keluar dari mobil dengan wajah cemas. Mengkhawatirkanku sepertinya. Aku merasa bersalah karena dengan sengaja ingin mati di tangan wanita itu. Dasar bodoh! Rutukku kepada diriku sendiri.
"Gomen, gomen," ucapku meminta maaf sambil membungkukkan badanku.
"Tidak, ini salahku, err-"
"Sakura, Haruno Sakura,"
"Aa, maafkan aku Sakura-chan,"
"Ti-tidak ini salahku, gomennasai emm,"
"Tsunade," jawabnya tegas.
"Maafkan aku Tsunade-san,"
"Ah, aku yang salah, ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
"A-aku, emh-"
"Pasti orangtuamu khawatir," potong Tsunade. "Ah, bagaimana kalau kau kuantar pulang?" tawar Tsunade tulus.
Mendengar kata orangtua membuatku sedih. Tanpa kusadari, air mataku mengalir. Aku tidak bisa menahan air mata ini, beruntungnya hujan ini menyamarkan air mataku. Tsunade terlihat kebingungan. Ia menyuruhku masuk ke mobilnya.
Keesokan harinya, aku terbangun di ruangan asing bercat ungu muda, alih-alih di kamarku.
Tok
Tok
Tok
Seseorang mengetuk pintu kamarku- bolehkah aku menganggapnya kamarku?
"Masuk,"
Seorang wanita cantik dengan rambut blonde nya yang indah memasuki err, kamarku. Ternyata Tsunade-san.
"Selamat pagi, Sakura, aku bawakan sarapan untukmu," sapa Tsunade.
"Arigatou, Tsunade-san,"
"Hm, douita,"
Aku menyantap sarapanku dengan sedikit terburu-buru. Bahkan hampir tersedak karena kelaparan. Maklum saja selama 2 hari terakhir aku belum memakan sesuatu. Dan berkali-kali pula aku mendengar Tsunade berkata, "Pelan-pelan, Sakura-chan,"
Aku hanya balas mengangguk saja. Setelah selesai makan, sempat terjadi keheningan lalu Tsunade membuka percakapan.
"Hm, maukah kau menceritakan yang sebenarnya terjadi?" Tanya Tsunade penasaran.
"Oh, dan aku membawamu kerumahku karena tadi malam saat pertemuan pertama kita, kau sudah tertidur di mobilku. Aku tidak tega membangunkanmu karena kau terlihat lelah dan sedikit berantakan, kurasa," ucap Tsunade sambil mengangkat kedua bahunya.
Aku menceritakan kecelakaan mobil saat kami sekeluarga hendak pergi ke Suna untuk liburan. Aku menceritakan setiap detil kecelakaan yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku melihat bagaimana ajal menjemput kedua orangtuaku. Aku sendiri heran mengapa aku masih bisa selamat dari kecelakaan tersebut. Tapi aku bersyukur karena bisa bertemu Tsunade yang sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri. Dan Tsunade menerimaku di rumahnya dengan senang hati. Dia menganggapku sebagai anak kandungnya dan begitu pula denganku, Tsunade tidak ingin aku memanggilnyaTsunade-san. Sehingga ia menyuruhku untuk memanggilnya Kaa-san dan menganggapnya keluargaku. Perlahan tapi pasti aku bangkit kembali dari keterpurukan itu. Aku yakin itu.
Flashback Ends
End of Sakura's POV
.
.
.
.
Konoha High School
Sakura menginjakkan kakinya di depan gerbang KHS. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap papan bertuliskan "Konoha High School" yang tertera pada permukaannya. Sakura merasa sangat bangga bisa lulus tes beasiswa yang diikutinya sehingga Ia tidak perlu membebani ibunya dengan biaya sekolah internasional ini. Sakura memasuki KHS dengan senyum tersungging di bibir mungilnya.
Sakura berlari kecil di sebuah lorong untuk menuju kelasnya. Sepertinya Ia terlambat pada pelajaran Kurenai-sensei, maklum saja karena guru yang satu ini tidak pernah absen dalam mengajar murid-muridnya. Terakhir kali, Kurenai absen karena melahirkan buah hatinya yang pertama, seminggu kemudian, dia bahkan sudah hadir kembali untuk mengajar. Tidak bisa dibayangkan seberapa besar pengorbanan yang sudah ia lakukan demi murid-muridnya, karena menurutnya, mengajar bukanlah suatu pilihan, tetapi sebuah takdir yang telah dianugerahkan Kami-sama kepadanya untuk mengajar generasi penerus bangsa, begitu seingat Sakura.
Ia berlari tanpa melihat ke depan. Ia terus menunduk dan hasilnya,
BRAKK
Sakura menabrak punggung seorang lelaki. Otomatis lelaki itu menoleh ke arahnya. Sakura sedang membungkukkan badannya sambil berkata Gomennasai, dan saat Ia mendongakkan kepalanya, Ia melihat pemuda itu. Ia sangat familiar dengan wajah tampan dan datarnya, warna rambut semerah batu bata, dan mata jade-nya yang selalu menatap Sakura lembut. Ia merindukannya. Merindukan segala yang ada pada diri Gaara. Ia merindukan aroma aftershave Gaara. Ia merindukan tatapan lembut sepasang jade milik Gaara. Emerald Sakura yang tadinya bersinar, sekarang meredup. Gaara dengan spontan merengkuh gadis itu ke dalam dekapannya. Gadis yang pernah menjadi sahabat dan teman masa kecilnya. Sakura balas memeluk Gaara. Ia merindukan rasa hangat yang menjalar di tubuhnya setiap kali Gaara memeluknya.
Tanpa disadari air mata Sakura mengalir dengan derasnya. Ia sudah tidak dapat menahan rindunya kepada pemuda yang sedang memeluknya dengan hangat. Sakura melepaskan pelukan mereka karena Ia sudah merasa cukup bernostalgianya. Menyunggingkan senyum di bibir mungilnya. Tangan Gaara menyentuh pipi Sakura dengan lembut dan menghapus air mata Sakura.
"Aku merindukanmu, Sakura, sangat,"
"Aku juga merindukanmu, Gaara,"
Gaara tersenyum mendengar jawaban Sakura. Ia mengingat masa-masa kecilnya bersama Sakura. Masa yang indah, batinnya.
"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku ada urusan dengan Temari-nii. Dia menyuruhku datang dan membawakan dokumen ini padanya," jawab Gaara sambil mengibaskan dokumen-dokumen yang ada di tangannya.
Ada jeda panjang sebelum Sakura berkata, "Gaara, sepertinya aku harus segera pergi, Kurenai-sensei pasti sudah sampai kelas,"
"Kau bercanda, Aniiki-ku yang paling rajin saja masih ada di ruang guru,"
"Tidak, ini serius, persetan dengan kerajinan Kurenai-sensei. Sampai jumpa lagi, jaa ne," ucap Sakura dan bergegas menuju ke ruang kelasnya setengah berlari.
Gaara hanya bisa menatap punggung Sakura yang semakin menjauh, dan tersenyum pahit.
"Bukan hanya merindukanmu Sakura, aku juga sangat mencintaimu,"
.
.
.
.
Sakura sudah tiba di ambang pintu dan mengintip ruang kelasnya. Ternyata Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Kurenai-sensei belum datang.
Sakura berjalan menuju bangkunya, setelah menyamankan duduknya, Ia merasa ada sesuatu yang ganjil, Sasuke belum datang.
"Mengapa dia belum datang ya?"
"Siapa yang belum datang, Saku?"
Jantung Sakura serasa hampir meledak, Sasuke berbisik tepat di telinganya. Rasanya sedikit geli, pikirnya. Tapi Ia menyukainya. Ia ingin Sasuke melakukan itu lagi.
"Err, bu-bukan siapa-siapa U-uchiha-san," jawab Sakura terbata-bata.
Sasuke menyeringai. Sebenarnya Ia sudah berada di kelas itu 8 menit yang lalu(setelah dikalkulasi), tepatnya di belakang bangku Sakura sembari berbincang ringan dengan Hyuuga Neji. Tetapi ternyata Sakura tidak mendengar suaranya. Maklum saja Sasuke hanya ikut-ikutan duduk di sana karena gadisnya belum datang. Jujur saja, Ia tidak terlalu menyukai perbincangan tentang pelajaran, wanita, dan kehidupan pribadi mereka. Sungguh memuakkan, pikirnya.
Langkah kaki Kurenai-sensei terdengar. Tentu saja Sakura yakin itu adalah suara langkah kaki Kurenai-sensei, karena selain pendengarannya yang tajam, ia juga mendengar suara hak sepatu dengan panjang 9 cm kalu tidak salah. Beruntung bagi Sakura karena tidak perlu menjawab pertanyaan Uchiha itu.
"Ohayou, anak-anakku," sapa Kurenai hangat.
"Ohayou, Kurenai-sensei,"
"Sudah siap untuk tes BAB III tentang Hubungan Manusia dengan Lingkungan?"
Wajah murid-murid kelas XA terlihat lusuh mendengar ucapan Kurenai-sensei. Sakura tentu saja terlihat bersemangat karena sosiologi merupakan salah satu pelajaran favoritnya. Dan menurutnya semua pelajaran adalah pelajaran favoritnya- tentu saja.
Kurenai-sensei berjalan sembari membagikan lembar soal tes tersebut. Sakura mengerjakan tes tersebut dengan teliti dan lihai. Soal apapun akan dikerjakannya dengan semangat.
12 menit kemudian,
Sasuke beranjak dari tempat duduknya dengan malas sembari membawa lembar jawabannya. Ia menyerahkannya kepada Kurenai-sensei. Sakura membelalakkan matanya tidak percaya. Uchiha itu benar-benar sangat pintar, pikirnya. Apakah ibunya memblender otaknya sehingga encer seperti itu? Oke, itu pengandaian yang berlebihan tapi begitulah kenyataannya.
Sasuke berjalan ke luar kelas dengan menaruh kedua tangannya di saku celana. Sakura masih memerhatikannya. Ia sungguh menawan. Siapa sebenarnya Uchiha ini? mengapa Ia sangat familiar dengan wajahnya, matanya, bahkan tabiatnya yang bisa dikatakan agak buruk? Batinnya dalam hati.
.
.
.
.
.
.
~TBC~
Author's Area:
Well, dan sekian chapter dua yang bisa saya kerjakan. Maafkan daku yang masih amatir dalam bidang ini T.T Akhirnya ga enak banget ya minna-san? Malah lebih banyak GaaSaku nya dibandingin SasuSaku nyaa, tp udah idenya bgtu mau gmn lagi? Tp tetep kok benang merah nya SasuSaku ;) baiklah saya ingin mengoreksi chap 1 kemarin, banyak sekali typo yang sudah saya buat di chap1 kemarin, dan mudah-mudahan di chap ini tidak terlalu banyak typonya =w= terimakasih buat senpai-senpai yang sudah meluangkan waktunya untuk mengisi kolom review saya #peluk-cium dan tidak lupa saya ucapkan terimakasih untuk silent reader yang belum punya cukup waktu untuk menyempatkan mengisi kolom review sya :D oya saya juga mau balas review, buat yang login cek di PM, jd..inilah balasan reviewnya..
Mako-chan : terimakasih review dan semangat dari mako-chan^^ sesuai dengan judulnya fearless, mksudnya disini sasuke datang untuk menyelamatkan sakura dari keterpurukannya karena kecelakaan yang merenggut nyawa orangtuanya, dan semua misteri #emang ini bikin penasaran ya? Akan terbuka perlahan-lahan di chapter chapter depan #plak mind to RnR? ^^
Sasusaku kira : Hai ^^ salam kenal juga, kira-chan (boleh kan manggil kira-chan, kan?;}) terimakasih atas pujian dan review yang bikin saya semangat banget nulis fict ini :D masa lalunya ya? Sebenernya saya pengen ceritain sekarang tp entar ga surprise jadinya #plak terimakasih atas reviewnya ya kira-chan :D mapir lagi di fict ini ^^ mind to RnR?
Sekian balasan review dari saya, maaf kalau saya terlalu banyak cuap-cuapnya hehe saya memang rada cerewet orangnya XD saya masih perlu review berupa saran, masukan, dan kritik yang membangun.(syukur kalo ada yang fave atau follow^^)
Mind to RnR?^^
