Bunga datang lagi, langsung baca saja, ya?

Note : #Kazune disini sama sekali tidak pintar dan tidak memiliki banyak fans.

#Karin jadi jenius disini. Sangat jenius malah.

#Kazusa bukan adik Kazune. Tapi, kakak Kazune. Himeka akan tetap jadi adik Kazusa dan Kazune.

#Orangtua Karin dan Kazune masih ada. Michinya yatim piatu dan tinggal sama orangtua Karin.

#Orangtua Kazune : Kazuto Kujyo dan Suzuka Kujyo.

Orangtua Karin : Rakage Hanezono dan Hazuki Hanezono.


Happy Reading, Minna!

Lolicon Love

Disclaimer : Kamichama Karin(CHU) Koge Donbo

Don't Like, don't read!

Chapter 2 : Cara belajar yang aneh

Ceklek!

"Ah, Karin-sama. Silahkan masuk. Bagaimana sekolah anda?" seorang pelayan bertanya penuh perhatian setelah membukakan pintu pada nona mudanya. "Menyenangkan?"

"Tidak. Biasa saja. Ayo masuk, Kazune-niisan," jawab Karin sambil mempersilahkan pemuda bersurai blonde pucat dibelakangnya. Pelayan tadi terkejut.

"Kazune-niisan?" ia bergumam pelan. Kedua manik hitamnya memandang pemuda dibelakang nonanya dengan teliti dari atas hingga ke bawah. Rambut dan seragamnya terlihat sedikit acak-acakan. Nampaknya, bukan seseorang yang patut masuk ke kediaman Hanezono. "Tunggu, nona. Anda yakin membawanya masuk?" tanyanya lagi.

"Ya, ada yang salah?"

"Ah, sebenarnya dia-…"

"Oh, dia temanku. Jangan salah, Suzaku-nee. Dia orang baik dan dia dari keluarga Kujyo. Tenang saja." Michi berkata cepat untuk menghilangkan kecurigaan Suzaku. Pelayan Utama di rumah ini.

"Benar begitu? Lalu, apa tujuanmu datang kesini, Kujyo-san?"

"Umh… belajar," jawab Kazune seadanya. Toh, dia tidak bohong soal itu.

Suzaku menyipitkan matanya. Kujyo, keluarga yang cukup terkenal di Jepang datang ke kediaman Hanezono hanya untuk belajar? Kenapa, jadi mencurigakan?

Karin menghela nafas melihat kelakuan pelayannya. "Dia memang datang kesini untuk belajar. Jadi, jangan masukkan dia ke dalam 'Daftar Orang Yang Tidak Boleh Masuk Ke Kediaman Hanezono', Suzaku."

"Tidak ada motif lain?"

"Ck, dia bodoh. Tidak mungkin berpikir sehebat itu."

"Hei, nona kecil. Apa maksudmu mengataiku bodoh, heh?" Kazune menatap kesal pada gadis belia didepannya.

"Kenyataan," balas Karin pendek. "Michi-nii! Masuk kedalam ruangan, ya? aku kekamar dulu."

"Oke. Aku tunggu, Karin-sensei!" jawab Michi ceria sambil menarik Kazune naik kelantai dua. Meninggalkan Suzaku yang masih bengong didepan pintu yang terbuka.

'Kujyo dibilang bodoh oleh Karin-sama? Yang benar saja!' batinnya.

.

.

.

"Hei, kepala caramel!"

"Berhenti memanggilku begitu, Kujyo-san! Aku punya nama!" Michi melayangkan protesnya ketika berbalik menghadap si setan kepala kuning. Kazune mengendikkan bahunya.

"Biarin. Kau juga noleh kan kalau aku panggil begitu?" ucap Kazune cuek.

"Dasar, kepala kuning! Setan yang tidak menghargai sebuah nama," gumam Michi mendumel kesal.

"Ruangan apa ini?" omelan Michi berhenti. Matanya tiba-tiba berbinar ceria.

"Ruangan ini?"

"Ya. Aneh melihat ada dua meja yang dibatasi sekat dengan satu meja lagi didepan dua meja dan sekat itu," jawab Kazune heran. Tangannya menunjuk-nunjuk meja didepannya ketika ia berbicara.

Michi tersenyum ala psikopat. "Eksekusi. Ini ruangan eksekusi, Kujyo-san."

"Hah?"

"WAHAHAHA… Aduh mukamu! Mukamu, Kujyo! Menggelikan! WAHAHA…" Kazune cengo melihat Michi berguling-guling dilantai sambil memegangi perutnya. Alisnya terangkat sebelah. Apa yang salah, ya? perasaan sih enggak ada.

"Apaan sih?"

"OHOHOH-Pfft! Huft! Oke-oke. Ini bukan ruangan eksekusi. Ini ruangan khusus belajar. Meja didepan dua meja yang lain itu meja Karin. Yang lainnya mejaku dan Yuki. Lalu, dua tirai didekat lemari buku pelajaran itu bukan jendela. Melainkan lemari perpustakaan yang ditempel-ah, tepat bila kukatakan dimasukkan kedalam dinding."

"Oh. Siapa Yuki?"

"Hn, Yuki? Kakak angkat Karin. Dia masuk sekolah yang berbeda denganku walau kami seumuran. Habisnya, otaknya masih lebih mending dariku. Hahahaha-…"

JDUAK!

"-Aduh!"

"Karena itu kau kusuruh belajar. Hasil tes-mu 38! Yuki-nii 84! Beda jauh, tahu!" Karin mengomel setelah dengan suksesnya melempar buku tebal tepat di kepala Michi. Tanpa rasa bersalah, Karin duduk di tempatnya.

"Karin-channn! Teganya dirimu melakukan ini padaku. Kepalaku kan jadi benjol. Nanti-nanti, ketampanan milikku jadi berkurang lagi," adu Michi sambil memonyong-monyongin bibirnya. Sekali lagi, Kazune cengo.

Karin menatapnya datar. "Aku tidak peduli. Mau ketampananmu bertambah, mau berkurang, atau mau kecebur got lah, aku tidak peduli. Perbaiki saja otakmu itu, Michi-nii. Sekarang cepatlah duduk."

"Uuuhhh~!"

"Ne, Kazune-nii. Silahkan duduk juga di meja yang satunya. Yuki-nii tidak ada dirumah hari ini."

"Oh, terimakasih."

"Jadi, kalian ada pr, tidak?" tanya Karin setelah Michi dan Kazune duduk.

"Kukira tidak ada, kecil." Kazune menjawab santai medengarnya.

"Maaf. Kecil?"

"Yeah. Kau bilang aku baka. Aku sebut kau 'kecil'. Simple."

"Huh, terserahlah. Jadi, tidak ada pr?"

"Hn."

"Kalau begitu, kita akan lakukan apa?"

Kazune memicingkan matanya heran. "Bukankah biasanya guru yang menentukan?"

Karin tersenyum cenderung sinis. "Karena itu biasanya. Biasanya tidak berarti semua, KazuneBaka-nii."

"Hmm, apa kita membaca lagi Karin-chan?" usul Michi.

"Ah, ide yang bagus. Kalian berdua boleh saja membaca buku yang ada diperpustakaan itu."

Kazune mengangkat alisnya. 'Membaca?' ia berbatin tidak suka. Jujur saja, ia punya perpustakaan yang jauh lebih besar daripada ruangan ini dirumahnya. Tapi, sayangnya, ia tidak hobi membaca, bahkan niatnya saja tidak ada. "Apa harus membaca?"

"Kenapa Kujyo-san? Kau tidak suka membaca? Ini lebih baik. Setelah selesai membaca, kau tinggal menulis apa yang kau tahu dan Karin-chan akan menilai. Mudah, kan?" Michi berkata ceria sambil mulai memilah-milah buku apa yang akan ia baca.

"Hn. Tapi, aku tidak niat."

"Niat macam apa, KazuBaka-nii?" tanya Karin. Ia baru pertama kali bertemu dengan orang yang tidak mau membaca sama sekali dengan alasan yang sangat sederhana. Tidak niat merupakan alasan yang sangat sederhana untuk dikatakan. Setidaknya, bagi gadis belia berumur 10 tahun ini.

"Ya.. niat baca buku. Aku tidak suka baca buku."

"Hhh… aku tidak yakin kau akan lulus ujian," keluh Karin. Otaknya serasa berputar aneh mendengar teman kakak sepupunya itu. "Benar-benar tidak yakin."

"Heh, maksudmu apa? Aku memang bodoh, tapi kenapa kau berkata begitu, hah?!"

"Kazune-niisan sudah tahu kalau nii-san itu bodoh. Tapi, kenapa malah tidak ingin memperbaiki kebodohan itu? Cobalah membaca. Tidak mesti pelajaran yang sulit dan membingungkan. Mulailah membaca dari yang kau suka," ucap Karin memberi nasihat singkat. Sungguh, Kazune itu aneh baginya.

"Contohnya?"

Karin berdecak pelan. "Apa Kazune-niisan suka olahraga? Olahraga apa yang Kazune-niisan sukai?"

"Err… mungkin basket. Mungkin," jawab Kazune sekenanya.

"Kalau begitu bacalah buku tentang basket. Mudah, kan?" ujar Karin kembali menasihati. "Aku sekarang memang pengajarmu. Tapi, bukan aku yang menentukan nilai milikmu. Itu Kazune-niisan sendiri yang menentukan. Terserah pada Kazune apa ingin berusaha atau tidak. Pada akhirnya, semua tergantung pada dirimu sendiri, Kazune-niisan."

Kazune menghela nafas mendengarnya. "Baiklah, kau benar. Terimakasih. Bisakah kau berikan buku apa yang harus kubaca?"

Sesaat, senyum Karin merekah. Nasihat singkat yang ia berikan rupanya cukup membantu. "Tentu saja. Kau tahu, ini cara belajar bersamaku. Cara belajar yang aneh."

"Memang aneh. Kukira ini membantu." Tangan Kazune mulai meraih buku yang disodorkan Karin. "Selamat belajar, sensei."

.

.

.

"Kamu darimana saja, Kazune?" tanya Kazuto tegas pada putra satu-satunya itu dengan nada dingin. "Sepertinya, kau tadi tidak pulang."

"Memang tidak, kok, tou-san. Adikku ini tadi pergi sama temannya yang bodoh itu. Katanya, sih, mau belajar," ujar Kazusa sambil meneruskan makan malamnya. Himeka menoleh, menatap kakak perempuannya. Kemudian, pandangannya beralih pada Kazune, selaku kakak lelakinya.

"Kazune-niisan, belajar?" mata Himeka berpendar ria. Kazune memutar matanya malas.

"Hn."

"Untuk apa, Kazune? Untuk apa kau belajar bersama anak tak jelas sepertinya? Lebih baik kau belajar dengan kakakmu, kan?" Suzuka menambahkan sekaligus menyiratkan rasa tak sukanya. Kazune menatap ibu dan ayahnya tajam. Beraninya mereka berkata begitu.

"Kenapa, memangnya? Tou-san dan Kaa-san tidak suka? Terserah! Aku lebih baik belajar bersama temanku daripada dengan kakakku yang jenius ini, tapi, selalu merendahkan adiknya sendiri." Kazune berkata keras sambil menatap sang kakak dengan tatapan marah.

"Dia itu lebih cerdas darimu. Pantas saja kalau dia berbuat begitu. Tidak sepertimu," Kazuto mulai membela anak tertuanya. Suzuka mengangguk, tanda ia setuju dengan suaminya.

"S-sudahlah. Ini kan bukan masalah penting. Jadi, jangan dibahas.." lerai Himeka lembut. Gadis berumur 14 tahun itu tersenyum miris. Keluarganya selalu saja seperti ini. Hanya karena nilai di sekolah.

"Diam, kau, Himeka. Aku tidak sudi mendengar omonganmu yang seolah melerai aku dan yang lain!"

"Kazune! Dia adikmu!" tegur Kazuto keras. Keterlaluan menurutnya.

"Biar saja. Aku tidak peduli!" balas Kazune tak kalah keras. Ia membanting sendok makannya. "Aku kenyang. Terimakasih atas makan malamnya!"

Grek!

Kazune beranjak dan berlari menuju kamarnya dilantai atas. "Anak itu, benar-benar…" Kazuto bergumam marah.

"Tou-san, sudahlah. Aku kan tidak apa-apa. Kazune-niisan pasti sedang kesal. Biarkan saja." Ucap Himeka lagi.

"Iya. Biarkan saja dia. Dia itu tak tahu diri." Suzuka ikut menggumam.

"Himeka." Himeka langsung menoleh pada kakak perempuannya.

"Ya?"

"Jangan pedulikan dia. Dia itu hanya seseorang yang bodoh! Hahahaha…" tawa Kazusa langsung meledak. Himeka menatap sedih.

"Ta-tapi…"

Tanpa mereka sadari, sosok yang mereka bicarakan tengah mendengar seluruh ucapan mereka. Jauh dari kamarnya. "Sialan!"

.

.

.

Kazune duduk dan melihat bayangannya dicermin kamar. Apa dirinya ini benar-benar bodoh? Pasti iya. Kalau tidak, mana mungkin dia selalu mendapat pujian-pujian tak mengenakkan itu. Yang bahkan berpusat pada keluarganya sendiri.

"Sudahlah. Lebih baik aku menyiapkan bukuku." Kazune menarik tas sekolahnya dan membukanya dengan cepat. Mengeluarkan buku, menyusunnya di meja belajar, memasukkan kembali buku yang ia perlukan, alat tulis, dan siap. Ditaruhnya tas hitam miliknya itu disudut kamar.

"Aku bosan." Ia bergumam pelan. "Aku ingin punya kakak yang baik. Sifatnya seperti Michi, mungkin. Dia ramah dan menyenangkan, konyol, dia juga bodoh seperti aku. Ah, aku juga ingin punya adik perempuan yang manis. Himeka memang tidak buruk. Tapi, aku benci suara aneh-nya yang terlalu lemah lembut itu. Mungkin kalau aku disuruh memilih, aku ingin punya adik yang perhatian, tetapi gayanya seperti orang dewasa. Tunggu! Sepertinya itu malah mirip Karin. Tidak jadi, deh. Akhh! Pusing!"

Kazune terus mengoceh hingga larut malam. Tetapi, hal terakhir yang ia lakukan adalah sama. Bagaimanapun pemikirannya bermula, akhirnya selalu sama. "Pada akhirnya, aku punya kakak, aku punya adik, tapi, aku malah hanya merasakan sendirian."

Sendirian. Itu titik akhir yang selalu ia lakukan.

.

.

.

"Ohayou, Kujyo-san! Apa kabar?" Michi bertanya ceria pada sahabat setan kuningnya. Seperti biasa, ia kembali memamerkan gigi-gigi koleksinya yang tersemat rapi dimulutnya dan semakin putih saja.

"Hn."

"Ohayou, Kujyo-san! Jawab, dikit kenapa? Pelit banget. Masa cuman 'hn' aja."

"Ohayou."

"Kenapa lagi dirimu ini, setan kuning? Kau murung sekali. Dan asal kau tahu, wajahmu yang jelek tambah makin jelek." Ejek Michi sambil mengkhawatirkan setan kuning yang notabene-nya adalah sahabatnya itu.

Kazune mendesah kesal. "Jangan panggil aku setan kuning, caramel."

"Kalau gitu, jangan panggil aku caramel, setan kuning!" balas Michi tak mau kalah.

"Huh, terserahlah.

"Oh, kau bawa penggaris?"

"Ada dalam tasku. Ambil sendiri."

"Oke, tak masalah."

Srek!

Pintu kelas Kazune terbuka kasar. Sontak, seluruh isi kelas menoleh heran bercampur terkejut. "Kujyo! Mana Kujyo?!"

"Itu aku. Ada apa?" tanya Kazune datar pada seorang anak laki-laki yang memanggil marganya dengan kasar. Anak itu tersenyum sinis.

"Jadi, itu kau. Kau sampah, Kujyo!" alis Kazune berkedut marah.

"Apa maksudmu?"

"Maksudku? Oh, ya! Kau ini kan anak yang bodoh, makanya tidak bisa berpikir, bukan? Hahaha-.."

BRUAK!

Kazune langsung menubruk anak itu dengan kasar kedinding. Ia dekatkan wajahnya pada anak laki-laki itu. "Kutanya sekali lagi, apa maksudmu berkata begitu?" Kazune bertanya dingin. Anak laki-laki itu malah makin tersenyum sinis. Ia kembali mendorong kasar Kazune.

"Dengarkan, aku Kujyo-san. Aku Keizuke. Keizuke Raito. Murid baru disini."

"Apa hubungannya? Aku tak peduli!"

"Hubungan? Apa kau tahu kelas berapa yang kau tempati ini, hah?! Kelas X-A! Itu artinya, kau tak pantas disini! kau hanya memanfaatkan uang keluargamu!" Keizuke menatap Kazune dengan tatapan menantang. "Bahkan, kadang aku bertanya, apa orang sebodoh dirimu pantas masuk dalam silsilah keluarga Kujyo?!"

Mata Kazune kembali berkilat marah. Michi menatap sahabatnya khawatir. "KURANG AJAR, KAU!"

BRUAK! GRAK!

"Kyaaa!" beberapa anak perempuan menjerit histeris melihat Kazune kembali menerjang Keizuke dan menghantamkan kepala Keizuke ke kursi dengan keras.

"Memang kenapa?! Salah kalau aku bodoh?! APA?! KARENA KAU JAUH LEBIH PINTAR, HAH?!" teriak Kazune berang. Tangannya sudah ia kepal sekuat tenaga.

"Tentu saja aku jauh lebih pintar! Aku yang harusnya masuk kelas ini! Bukan kau! Kalau aku jadi, kau, aku lebih baik mati saja!"

"APA?! SIALAN, KAU! MATI SAJA, KAU, KEIZUKE!"

"Kujyo-san, sudahlah. Tolong pendam amarahmu," lerai Michi. Ia tak tahan melihat sahabatnya sampai seperti itu.

"Dia yang cari masalah dengan-.."

"Aku tahu. Tapi, bila ini terdengar hingga ketelinga kepala sekolah dan ayahmu, kau akan celaka!"

Kazune tersentak dan mengatur nafas memburunya. Ia tak boleh ketahuan. Apapun, sampai ia mengalahkan kakaknya, ia tak boleh kalah.

"Oh, mendengar nama ayahmu saja sepertinya kau takut, Kujyo," ujar Keizuke memanas-manasi sambil mengelap darah disudut bibirnya.

"Kau salah. Aku tak takut dengan pria tua itu." Kazune kembali berkata datar. Ia menyadari suasana kelas yang hening dan memanas. "Kau bilang aku tak pantas disini, bukan? Kalau begitu rebut saja."

"Apa?"

"Rebut kelas ini dariku. Dan aku pastikan, itu tak kan terjadi."

"Ceh, kau terlalu sombong, Kujyo. Baiklah, sepertinya itu tantangan."

"Tantangan? Benar."

"Aku terima dan bersiaplah keluar dari kelas ini, Kujyo."

"Hn. Cobalah kalau kau bisa. Aku punya pendukung," ucap Kazune kembali meremehkan.

"Pendukung? Ayahmu?"

"Hahaha… pria tua itu? Lagi-lagi kau salah. Pendukungku hanya anak kecil. Tapi, bahkan ia berhasil melewati tingkat kejeniusan Kazusa."

"Tidak mungkin."

Kazune tersenyum tipis. Bodoh!


TO BE CONTINUE…

Hola, mina-san. Arigatou sudah mereview fic Bunga untuk kesekian kalinya. Thanks for Mimi Auziri, Umroh Yoshioka, Resti, Azahnurbandini, Guest, Ryana, Anisa fiva, dan Guest 2. Kali ini, Bunga enggak mau panjang lebar. Ara, apa ada yang merasa bahwa dialog terakhir chap ini tidak nyambung atau terlalu cepat? Tenang, itu hanya Bunga perlihatkan yang sekarang. Jadi, chap depan ada flashback nya gitu. Singkat aja. Oh, ada yang minta romantis? Nanti, ada kok. Tapi, enggak banyak. Ini kan ceritanya anak umur 10 tahun. Gomennasai.. Penasaran? Berarti misi Bunga sukses. Arigatou.

Akhir kata, Bunga boleh minta review lagi? Please?