Ethereal Lie
Disclaimer:
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warning:
OOC adalah peringatan utama saya, typos, cracked-pair, etc.
so, seriously, DON'T LIKE DON'T READ
Chapter II
Pertamanya kau berpikir dia aneh.
Selanjutnya matamu tak bisa lepas dari keanehan itu; alasannya kau ingin mengidentifikasi lebih lanjut keanehan lain yang mungkin dia miliki. Lagi dan lagi kau mengamati dia, sebelum kau menyadari dia begitu kuat. Ada satu dua kelebihan yang hanya dimilikinya layaknya denyut-denyut nadimu yang begitu lepas dan khas. Akhirnya kau memutuskan, dia tidaklah aneh; dia unik. Begitu kau mengakui fakta ini, tanpa sadar kau telah jatuh pada pengaruhnya. Dan…
Ketika kau menyadari kelemahannya, kau terdiam. Menyadari bahwa dia berada dalam jangkauanmu membuatmu merasa melayang. Kau terpikat oleh probabilitas: hanya kau yang bisa membantunya menghadapi kelemahan itu. Kali ini kau tak bisa mengelak, kau telah benar-benar terikat oleh dirinya yang utuh.
2.
Kalau begitu sampai hari itu tiba, kau tidak bisa lepas dariku.
Kalau begitu sampai hari itu tiba, kau tidak bisa lepas dariku.
Kalau begitu sampai hari itu tiba, kau tidak bisa lepas dariku.
Kalimat terakhir yang dikatakan Sasuke seolah bergema dalam kepala Hinata semalam penuh, meninggalkan rasa sakit kepala dan badan gemetar karena kurang tidur keesokan harinya. Hinata mendesah di depan cerminnya sambil merapikan rambut panjangnya. Entah harus seperti apa dia menghadapi Sasuke nanti. Mungkin sebaiknya hari ini dia menghindari laki-laki itu dulu.
"Naruto-kun," bisiknya pelan. Semoga hari ini kita bisa bertemu dan bicara.
Hanya harapan sederhana yang tidak selalu terwujud, karena fakultas mereka yang berbeda dan… biarpun nantinya mereka bertemu, gadis itu tak pernah bisa terlalu banyak bicara. Sebuah masalah kuno yang memang menjadi akar dari berbagai ketidakmajuan hubungan mereka. Sungguh, jika saja bisa Hinata ingin keluar dari tubuhnya sebentar saja agar bisa menjadi sejujur gadis lain. Sejujur Sakura. Batapa menyenangkannya jika dia bisa mengungkapkan perasaannya pada orang yang berhasil membutnya merasa. Entah sepahit apapun itu, kau akan merasa lega kalau orang yang kau sukai mengetahui perasaanmu.
Hinata menyesap tehnya kemudian menarik tasnya. Lingkaran hitam tipis terlihat sedikit mengganggu kecantikannya, tapi dia bukan gadis yang terlalu mementingkan hal kecil semacam itu. Ada banyak hal yang harus dipikirkannya hari ini.
"Sasuke-kun," gumaman pelan yang tak pernah direncanakan hadir seolah membuktikan kuasanya hati. Hinata mendesah murung. Entah apa yang salah, tapi rasanya mengacuhkan Sasuke juga bukan hal yang baik. Dia memahami hatinya dengan baik untuk sadar ini bukan cinta yang itu, bukan perasaan yang sama dengan yang dirasakannya pada Naruto. Yang dia rasakan adalah… semacam perasaan kasihan?
Ada sesuatu yang sunyi dan sepi dalam pribadi Sasuke, sesuatu yang awalnya menakuti Hinata, namun begitu berada dekat dengan Sasuke justru membuatnya merasa sedih. Laki-laki itu… dia pasti menanggung sesuatu yang sangat besar dan pedih sampai bisa memancarkan aura dingin yang menyakitkan itu. Mau tak mau, gadis itu merasa peduli. Harus peduli. Karena Sasuke adalah teman dekat orang yang paling dicintainya.
Naruto pasti tidak mau teman dekatnya merasa sedih…
…kan?
…noverius…
Hanya titik-titik kesunyian yang setia berjalan bersama Sasuke setiap harinya. kesunyian yang selalu menjadi melankolis saat berhadapan dengan orang-orang yang disayanginya namun tak selalu bisa dia gapai. Ayahnya. Ibunya. Itachi. seluruh Uchiha.
Aah, tentu saja bukan karena semua gosip yang mengatakan dia inferior terhadap aniki-nya. Tidak, bagaimanapun dia adalah Uchiha yang selalu superior dihadapan siapapun. Darah Uchiha mengalir pekat pada setiap sel tubuhnya, membawakan paket lengkap dari kesempurnaan dan arogansi yang menarik. Jadi ini bukan sekedar kehebatan sang kakak atau perbedaan sikap ayahnya untuk dia dan itachi. Kesunyian itu terasa lebih tajam dari sekedar hal-hal bodoh yang tidak terbukti benar tadi.
Semuanya kacau, hanya Tuhan yang tahu kenapa.
Dan semakin buruk saat harus mengenal kata cinta.
Kenapa harus Hyuuga itu?
Dia merasa sakit hanya dengan melihat kilasan bayangan sang Hyuuga yang tanpa sengaja hadir dalam pikirannya. selanjutnya dia butuh. lalu tak bisa lepas. dan kini entah apa yang akan terjadi jika gadis itu menjauh sedikit saja. Sasuke terlanjur kebas terhadap segala peraturan dan pelajaran tentang sopan santun, namun untuk gadis itu, sementara ini bisa jadi pengecualian. Dia hanya ingin bersabar, memperoleh cinta Hinata seutuhnya, dengan jalan apapun, asalkan peluang itu membesar.
"Sa… Sasuke-kun."
Onyxnya melebar sesaat, lalu meredup dengan cepat. "Hn."
Entah bagaimana caranya, gadis berambut sewarna kebahagiaan itu bisa masuk ke dalam jangkauan rumahnya. Yah, tidak begitu mengherankan memngingat Sakura adalah temannya yang paling hebat dalam urusan menyusup. Tapi saat ini dia tidak ingin bertemu siapapun selain dia. Selain Hinatanya.
Emerald itu bergerak gelisah. Jika Sasuke tidak salah tangkap, ada sesuatu yang tampak ditahan oleh gadis itu. Air mata?
"Ku… kudengar… kau berhubungan dengan… Hinata-chan?"
Aah, terlepas. Sasuke tidak benar-benar buta untuk tidak tahu perasaan sahabat sejak kecilnya itu. Dia juga bukan orang yang bisa bertingkah tidak peduli, apalagi ini adalah temannya yang paling berharga. Hanya saja, bukankah hati tidak pernah bisa dikendalikan? Maka Sasuke memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu agar Sakura tidak terlalu sakit.
Tidak sakit, kan?
"Pacaran." Matanya menatap lurus pada Sakura tanpa keragu-raguan. "Hinata pacarku."
"Tapi kau sendiri yang bilang, kau hanya akan berhubungan dengan gadis yang lebih kuat darimu!" raung Sakura. Matanya melebar sebentar, semburat sewarna rambutnya muncul saat sadar dia telah kehilangan kendali. "Go… gomen."
Sasuke mendengus. "Kau buku yang mudah dibaca, Sakura." Matanya menantang langit. "Jika aku bilang, Hinata telah mengalahkanku, apa kau percaya?"
Kali ini gadis itu yang mendengus. "Hyuuga lemah seperti dia? Yang benar saja."
"Jaga mulutmu, Sakura," desis Sasuke tajam.
"Ku pikir konsep 'mengalahkan'-mu berorientasi pada kekalahan fisik kan? Bukan sekedar hati?" kali ini nada sinis menyeruak pada ucapan Sakura.
Sekali ini, onyx itu melebar, lalu senyum tipis yang terasa jauh bagi Sakura tergores di bibir pria itu. "Tidak. Dia memang mengalahkanku dalam perkelahian fisik juga mental. Aku kalah telak olehnya."
Sakura terpana. Sepanjang hidupnya mengenal laki-laki ini, tak pernah dia melihat senyum sedamai itu. Hatinya perih, terasa ada gelombang menyesakkan yang memaksa keluar. Tidak, dia harus kuat. "Kau bercanda, kan? Kau itu Uchiha! Mana ada yang bisa mengalahkanmu tapi tak ada berita apapun…"
"Tidak perlu ada berita," kemeja panjangnya dilepas, menyisakan kaos berlengan pendek. "Ini adalah bekas luka perkelahian itu." Sebuah garis panjang bekas jahitan terlihat memanjang di lengan Sasuke. Sakura melebarkan matanya tanpa bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Selama ini tak pernah ada yang bisa melukai Sasuke sampai harus dijahit. Itu… "Tidak mungkin dia, kan?"
"Gomen ne. Ini memang karena Hinata."
Seketika lutut Sakura kehilangan kekuatannya. Dia tahu Sasuke bukan orang yang mau membuang waktu untuk sebuah kebohongan tidak penting seperti itu. Jadi…
"Gomen, Sakura. Aku ada kuliah satu jam lagi. Kau boleh tinggal di sini sesukamu."
Bahkan Sasuke yang jenius dan selalu menyepelekan kuliah tiba-tiba berubah. Tubuh Sakura bergetar. "Ku… kuliah apa yang akan kau hadiri?"
Sasuke berhenti tanpa menoleh. "Hidrologi." Dan Sakura kehilangan tenaganya untuk sekedar berbalik. Itu matakuliah dari departemen Hinata yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan departemen Sasuke. Tak bisa. Sasuke benar-benar menyukai Hinata.
Setetes, hanya setetes air mata turun dari emerald itu, lalu terhapus dengan cepat oleh sebuah tekad. Dia harus melakukan itu.
…noverius…
"Hi-na-ta-chan! Coba tebak siapa yang menunggumu?" suara ceria Temari mengalihkan fokus Hinata pada buku referensi mata kuliahnya pagi ini.
Hinata tersenyum kaku. Entah kenapa, dia punya firasat buruk yang tidak bisa diabaikan. "Ano, Shizune-sensei?"
Telujuk panjang temari bergoyang di hadapannya. "A, a. kau pasti kaget," bibirnya bergerak mendekati telinganya. "Sa-su-ke-kun."
Binggo.
Ternyata kali ini firasatnya bekerja dengan baik, sayangnya tetap sulit menyeimbangkan dan menghubungkannya dengan refleks yang juga baik. Hinata menahan nafasnya. Baru sepuluh menit dia duduk dikelas ini dan Uchiha itu sudah datang lebih cepat dari apa yang diperkirakan Hinata. "A… ano, u… Uchiha-san ada dimana?"
Dengan gemas Temari mencubit pipi porselen Heiress Hyuuga itu. "Kenapa kau malah malu-malu begitu? Kalian kan sudah pacaran, jadi panggil namanya dong. Aa, dia ada didepan himpunan. Ayo temui dia sebelum ada gadis tak tahu malu manapun yang berusaha merebut dia darimu." Tangan kurus Temari mendorongnya dengan kuat.
Yah, andai saja ada gadis lain yang bisa membuat Uchiha itu berpaling, semua pasti jadi mudah. Sayangnya Hinata, saat ini kau hanya bisa berharap.
Dengan takut-takut dia melangkah keluar. Tidak pernah perlu usaha bagi siapapun untuk menemukan seorang Uchiha dimanapun. Meski bagi Hinata cahaya sang Uzumaki berpendar jauh lebih kuat dari siapapun, mau tak mau dia mengakui kharisma khas Sasuke. Begitu tajam dan mencengkram orang-orang disekitarnya.
Diatas undakan tangga itu, Sasuke menyandarkan tubuhnya dengan santai namun penuh ancaman sambil menghisap rokoknya. Ah, betapa kesan manly yang menarik mengakar kuat pada setiap inchi tubuhnya.
Mengerikan.
Tentu saja kecuali bagi Hinata.
Gadis itu menyeret kakinya pelan-pelan, berharap bisa memaknai relativitas waktu dan menemukan kebenarannya; atau sederhananya, dia ingin mengulur waktu selama mungkin agar bisa menghindari Sasuke. Dan seperti biasa, harapan Hinata tak mudah terwujud.
"Hinata," Sasuke membuang rokoknya dengan cepat dan bergerak tergesa-gesa. "Aku tidak sempat menjemputmu, gomen."
Wajah Hinata bersemu. Perhatian pertama dari pria yang baru dikenalnya tetap berhasil membuat hatinya melayang. "A… Ano, i… itu bukan kewajiban U… Uchiha-san…"
"Bagaimana bisa bukan kewajibanku?" nada suara Sasuke meninggi dan mengancam. "apa harus kukatakan lagi, kau ini pacarku, jadi kau adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Dan berhenti memanggil margaku."
Mata gadis itu melebar. Ah, iya, dia melupakan janjinya kemarin. "Go… gomenasai, sa… Sasuke… kun."
Dan senyum lembut yang tak terduga muncul di wajah pria itu. Tipis, nyaris tak terlihat, namun mata gelapnya seolah menampung segala yang perlu ditunjukkan. "jangan meminta maaf seperti itu. Kau bersikap seolah aku ini akan melakukan hal yang menyebalkan," memang iya, kan? Laki-laki itu memalingkan wajahnya. "Ayo masuk."
"Eh?" Hinata melongo saat Sasuke menariknya ke kelas dengan cengkraman kuat yang protektif. "A… ano, aku… bisa ke… kelas sendiri. Uchi… ah, sa… Sasuke-kun a… ada kuliah juga?"
Tidak ada jawaban dari balik punggung lebar itu. Hinata melenguh tertahan ketika Sasuke akhirnya masuk ke dalam kelas yang sama dengannya. Tidak mungkin kan kalau…
"Pagi ini, Hidrolika."
Guh.
"Tapi…" bagaimana mungkin hidrologi berhubungan dengan mesin?
"Jangan cerewet," potong Sasuke pelan. Mata gelapnya meliriknya dengan sinis. "Aku sudah menunggu semalaman hanya untuk kelas bodoh ini," agar bisa ada di dekatmu. "Jadi jangan mengacaukan moodku lebih lanjut. Terutama," laki-laki itu menghentikan langkahnya, tak peduli betapa kehadirannya menarik perhatian banyak orang. Pikirannya melangkah pada tiap kemungkinan yang mungkin terjadi pada Hinata setelah ini.
Sakura. Sasuke tidak bodoh untuk menyadari ada satu dua rencana yang tengah dipikirkan kawan kecilnya itu, dan biarpun tidak akan berbahaya, pasti akan sangat merepotkan. Sebelum apapun terjadi pada Hinatanya, dia akan selalu berusaha menjaga Hinata pada jarak sedekat apapun. Yah, alasan yang terbentuk melalui keadaan, karena tujuan utamanya adalah agar bisa selalu bersama Hinata.
"Ma… maaf sa… Sasuke-kun, kau berbicara apa tadi?"
Mata gelapnya menyekap pandangan gadis itu dengan cepat. "Kalau aku mencintaimu."
Ah.
Dan… lagi. Laki-laki itu berhasil membuat sang heiress Hyuuga terdiam kaku. Kenapa begitu tiba-tiba?
Bukankah… Hinata hanyalah selingan kebosanan Sasuke?
She unconsciously sight. Mungkin ini salah satu cara Uchiha itu mengusir kebosanannya. Tidak mungkin kata keramat itu masuk dalam prioritas para Uchiha, kan?
Ah, takdir. Jangan salahkan Hinata yang terpaksa berpikiran demikian jika mengingat track record Sasuke dengan banyak gadis yang menyukainya. Sasuke begitu dingin menolak mereka, bengis, kadang kala ketika para fansnya tidak memahami arti kata 'tidak'. Dan gosip tentangnya menyebar bagaikan api pada jerami, meluas dengan cepat melebihi berita apapun di kampus, sehingga bahkan bagi Hinata yang tidak peduli, akan banyak tahu mengenainya. Mengenai semua hal buruk tentangnya.
Poor Sasuke.
…noverius…
Pandangan Sasuke tak bisa beralih ukiran wajah gadis disebelahnya, tak peduli pada banyak gadis yang mugnkin lebih cantik dari Hinata dikelas itu yang berusaha menarik perhatiannya. Hanya Hinata yang dia butuhkan, sekarang dan mungkin selamanya.
"Nah, Uchiha-san. Jika kau tidak ingin menjelaskan kenapa kau ada di kelas ini, biarkan aku mengujimu pengetahuan dasar yang menjadi syarat mengikuti kelas ini." Tsunade memijat ujung hidungnya dengan frustasi setelah beberapa kali pengusiran halusnya tidak ditanggapi oleh pangeran kampus itu.
"Hn, uji saja."
Gotcha.
Akhirnya ada respon yang diberikan selain kediamannya yang nyaris menjatuhkan harga dirinya di depan mahasiswanya yang lain. Tapi siapa sih yang tidak kehilangan kharisma di depan para Uchiha?
Wanita itu membersihkan tenggorokannya sedikit. "Baik. Apa yang harus kau lakukan untuk mengetahui pola curah hujan…"
"Analisis hidrograf menggunakan unit hidrograf untuk mentraslasikan rainfall excess ke runoff hydrograph seperti yang diusulkan Sherman. Tapi jika itu saya, saya akan lebih memilih menggunakan analisis linear dan non-linear pada sistem hidrologi sejak semua orang memiliki komputer pribadi." Tenang, lancar, dan sialnya tepat.
Tsunade mendesah. "Bagaimana kau menjelaskan siklus hidrologi…"
"Pada intinya terbagi pada dua tahapan besar; evapotranspirasi dan infiltrasi. Muka air bebas akan mengalami penguapan atau evaporasi, disertai sistem pada tumbuhan menjadi evapotranspirasi. Uap air akan mengalami kondensasi di udara membentuk awan-awan, yang pada berat tertentu kemudian bermuatan negatif dan terbentuk inti kondensasi. Terjadi presipitasi jika dan hanya jika butiran air mencapai berat tertentu dan jatuh pada kecepatan tertentu dengan diameter tertentu." Dia menatap tajam pada senseinya. "Anda tidak bisa memaksa saya mengingat detailnya karena bahkan mahasiswa anda sendiri tidak ingat pada besarannya, 'kan?"
Tsunade kembali berdehem. Kelas mulai ribut. Aneh sekali kali ini pangeran kampus mau bersusah payah menjelaskan panjang lebar dan show up kejeniusannya. Dan Hinata hanya menunduk semakin dalam, berharap ada kantong besar untuk menyembunyikan dirinya, karena selama Sasuke menjawab, tak sekalipun pandangan laki-laki itu beralih darinya.
"Presipitasi, terjadi infiltrasi pada tanah, setelah tanah jenuh akan air, terjadi perkolasi. Jika kecepatan air yang jatuh melebihi kecepatan infiltrasi, terjadi aliran permukaan atau runoff excess, mengalir pada berbagai sumber air, penguapan, dan seterusnya," lanjutnya tanpa masalah. Kecuali bagi tsunade.
Wanita itu mengangkat tangannya. "Terserahlah," gumamnya geram. "Kalau begitu, semuanya perhatiakan pada slide. Kita mulai kuliah, dan Uchiha, jika kau masih mau ada di kelas ini, pay your attention for this subject!" means, don't just look at those Hinata.
Like he care.
Bukan berarti dia tertarik pada mata kuliah membosankan ini. Semua penjelasannya hanya untuk menutup mulut dosen yang terlalu banyak ikut campur dan juga… menarik perhatian Hinata. Pandangannya kembali teralihkan pada sang gadis yang menenggelamkan nyaris seluruh wajahnya pada buku tebal yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah ini.
Ah. Kelihatannya usahanya gagal total.
Sasuke mendesah. Kenapa sulit sekali mendapatkan Hinata?
Karma kah atas semua yang pernah diperbuatnya pada fans girl dan gadis-gadis yang berusaha mendekatinya? Sasuke menggeleng. Tidak, jika dia tidak begitu, bagaimana mungkin dia dapt menemukan Hinatanya?
Ah, Kami-sama.
…noverius…
"Sa… Sasuke-kun,"sebuah tepukan pelan mengguncang bahunya. Laki-laki itu mengerjapkan matanya, mengusir rasa kantuknya, dan… wajah gadis idamannya adalah hal pertama yang dia lihat. Membayangkan jika setiap dia bangun ada wajah yang sama yang dihadapinya pertama kali membuat dia mabuk sesaat, sampai kemudian kesadaran menghampirinya.
"Hn. Kuliahnya sudah selesai ya?"
Gadis itu mengangguk takut-takut. Wajahnya memerah dengan tidak biasa, dan matanya terhalangi oleh poni tebalnya karena dia menunduk.
"Ada apa?" lalu laki-laki itu melakukan perannya dengan spontan. Menjadi orang paling peka bagi Hinata.
"A… ano… ji… jika tidak keberatan… a… apa… u… Uchiha-sa… e… eh, sa… Sasuke-kun mau… ma… makan siang bersamaku?"
Idiot. Seluruh kantuk Sasuke menghilang saat dengan spontan tangannya menarik tangan Hinata. "Kau… serius?" speechless. Lagi-lagi bungsu Uchiha itu mengalami disorientasi oleh sikap Hinata yang begitu tak tertebak.
"A… ano… jika keberatan…"
"Baka," Sasuke mendengus, menyembunyikan senyumnya. "Tentu saja aku harus mau. Kau mau ke kantin mana?"
"Aa, a… aku… membawa bekal."
Ting.
Entah harus berapa kali Sasuke kehilangan kontrol akan jantungnya karena gadis ini. Apakah Kami-sama mulai tertarik membantunya?
Dengan senyum yang tidak biasa dia menarik Hinata menuju ruangan bekas klub panahan kampus, mendorong gadis itu masuk dan mengikutinya. Wajah Hinata memerah, namun dengan sedikit canggung dia mulai membuka bento-nya. Satu kotak bekal makanan khas Jepang yang tak pernah dirasakan oleh Sasuke. Dia selalu membeli makan siangnya dari kantin, atau membawa bekal yang dibeli dari restoran mewah yang menjadi langganan perusahaan ayahnya. Dan selain itu, satu alasan pribadi yang mengakar kuat selalu membuatnya menghindar dari bekal apapun yang dibuatkan gadis manapun; dia hanya ingin memakan masakan gadis ini.
Kotak bekalnya begitu ceria dengan perpaduan warna khas yang tidak biasa. Dan yang mengejutkan, ada banyak tomat disisipkan pada bekal makanan itu. Sasuke mengerenyitkan dahinya. "Kenapa kau memberikan tomat disini?"
"A… ano…" pandangan Hinata bergerak gelisah. "A… apakah… Sa… Sasuke-kun tidak suka?"
Gerakan dan gaya Hinata tiba-tiba membuat satu kemungkinan menerjangnya. "Suka," jawabnya acuh, namun penuh keraguan. "Tapi aku jadi ragu, apa ini kau yang membuatnya?"
Mata lavender itu melebar. Rona merah muda menyebar dengan cepat di seluruh wajahnya. "A… A… i… itu…"
Dan… got you. Sasuke mendesah. "Dari siapa bekal ini?"
Gugup. "A… ano…"
"JAWAB!" kesabaran Sasuke yang tak pernah cukup mencapai batasnya. Hebat sekali gadis ini, mengajaknya makan siang, membuatnya berpikir seolah-olah dia istimewa, lalu menjatuhkannya begitu saja. Dan Sasuke selalu membenci hal itu.
Hinata menunduk. Bahunya yang bergetar nyaris membuat hati Sasuke mencelos dan meragu. "Gomen," suara Hinata yang seolah merintih membuat ketahanannya meluluh.
"Jawab saja." Hanya saja rasa kesalnya jauh lebih besar.
Hinata mendesah. Matanya menatap langsung pada manik gelap Sasuke tanpa membiarkan laki-laki itu menyiapkan apapun. Dan hasilnya selalu jelas ketika jantungnya yang telah terikat dalam ritme yang sama sepanjang hidupnya, seketika berdetak dalam nada yang tak biasa.
Ah, memangnya kapan sih jantungnya pernah bekerja dengan benar saat berhadapan dengan hianta?
"Sa… Sakura-san…"
Berengsek.
Nama itu membuat mood Sasuke menghilang seakan tertiup angin. Dia mendesah. "Bekalmu, siapa yang buat?"
Mata sewarna mendung Hinata melebar. "Apakah… Sasuke… kun… akan me… memarahiku?"
Seperti aku bisa marah padamu saja.
"kubilang jawab saja."
"Ah, ini… buatanku…"
"kalau begitu tukar sekarang." dan tanpa persetujuan atau kata-kata lebih lanjut, Sasuke merebut bekal Hinata secara paksa. Salah, kapan dia tidak memaksa Hinata?
"Tapi… kurasa masakanku… tidak seenak buatan Sakura-san."
"Hn." Jari Sasuke mengabaikan diksi bermakna milik Hinata. Sumpitnya bergerak dengan lihai memilih bento yang diletakkan lebih sederhana. Tak ada tomat yang dia gemari, tapi tak masalah. Dan suapan pertamanya nyaris membuat dia tersenyum. Ekor matanya menyorot pada gadis rapuh yang kelihatan tidak percaya diri itu.
"Omong kosong," ujarnya tenang. "Masakanmu adalah yang terbaik."
"Eh?" gadis itu mendongak, jelas tidak siap dengan pernyataan tiba-tiba yang sangat tidak biasa dari Sasuke. Dan bola mata bening itu seakan terikat oleh kegelapan tak bertepi milik pria dihadapannya. Kuat dan kharismatik. Tak bisa lepas.
Jari Sasuke yang pucat dan dingin perlahan merambat naik pada wajahnya, lalu merangkum ukiran sempurna itu dengan kedua tangannya. "Sudah lama," suara laki-laki itu berubah parau. "Dan kurasa kau sendiri sudah melupakan aku, kan?"
Bahkan mengalihkan pandangan pun Hinata tak bisa.
Senyum pahit terbentuk oleh sang Uchiha. "Tentu saja kau tak akan pernah mengingatku. Kau hanya peduli pada Naruto, kan?"
Ingatan?
Ingatan yang seperti apa?
Wajah Sasuke semakin mendekat, membuat gadis itu dapat merasakan hembusan nafas pria dihadapannya dengan jelas. Ada aliran listrik yang menjalar di sekujur punggungnya saat nafas itu terasa semakin tak berjarak. "Hinata… aku…" dan tanpa bisa dipahaminya, satu kecupan lembut telah tercuri begitu saja. Pelan, dalam dan tenang. Dan kemudian sebuah cairan hangat seolah meleleh dipipinya. Bukan, bukan miliknya. Matanya melebar saat menyadari laki-laki itu menangis. Kenapa? Bukankah seharusnya dia yang menangis saat ini?
Hinata mendorong dada bidang pria itu, namun jemari Sasuke menahan kepalanya dengan kuat seolah tak memberi kesempatan untuk melawan. Dan sedetik setelahnya, jarak itu tercipta. Laki-laki Uchiha itu mendesah pelan, kemudian menghapus jejak air matanya dan tertawa frustasi. "Hei, setidaknya, kasihanlah sedikit padaku, Hinata," bibirnya menyentuh pipi gadis didepannya dengan cepat. "Aku menangis di depanmu, dan kau tidak bereaksi apapun?"
"Kau… berpura… pura?"
"Hn," tangannya menarik Hinata mendekat, memeluknya dengan erat. "menurutmu?"
Tubuh Hinata bergetar takut, tapi sesuatu yang perih sesaat menerjangnya. Bukan miliknya. Matanya menatap laki-laki didepannya dengan bingung. Tidak salah lagi, sesuatu yang asing itu… berasal dari laki-laki ini. Kenapa?
"Sa… Sasuke-kun…"
Mata gelapnya terpejam dan pada momen yang singkat itu, Hinata menyadari kerapuhan laki-laki ini. Lagi-lagi sesuatu meledak dalam hatinya, meninggalkan berkas-berkas menyilaukan yang terasa menggores pinggiran hatinya. Kenapa harus dia yang melihat kelemahan dan… kelembutan laki-laki ini?
Jemarinya tanpa sadar menyentuh bibir yang tak lagi sepi. Pipinya memerah. Anehnya, tidak begitu marah.
Hanya… merasa kehilangan dan sedikit kecewa.
Dan tanpa dia sadari, Sasuke tersenyum pendek. Momen ini adalah jawaban mimpi-mimpi panjangnya yang nyaris membuatnya gila. Dan kalau pun sekarang dia benar-benar gila… yah, tentu saja dia tidak mau. Mana mungkin dia mau jadi gila dan kehilangan kesempatan menyentuh Hinata yang asli demi tenggelam dalam delusi?
Ah, aroma lembut yang dulu hanya sempat mampir sekilas ketika gadis ini menyapa Naruto kini begitu dominatif pada inderanya. Hanya oleh hal sesederhana ini, Sasuke merasa telah memiliki Hinata.
Lalu… pintu terbuka.
Mereka saling terikat satu sama lain dan tak sempat menjauh. Hinata yang terlalu lemah, sementara Sasuke terlalu enggan menjauh. Dan sosok Gaara muncul dengan dahi berkerut. "Hinata? Sasuke?"
Sang Hyuuga melebarkan matanya. Senyumnya terkembang dan begitu cerah.
"Gaa… Gaara-nii…" Hinata bergerak karena refleks, mengejutkan laki-laki yang memeluknya dan membuatnya tak memiliki pertahanan yang cukup. Gadis itu terlepas begitu saja, kemudian menghambur pada pelukan laki-laki berambut merah itu. Detik itu juga, Sasuke seketika merasa kalah. Bagaimana mungkin…
"Hei, Hinata," laki-laki yang nyaris sama stoic-nya dengan Sasuke kini terlihat lebih hidup saat bersentuhan dengan gadisnya. "Kenapa kau jadi kekanakan begini?" Jangan bilang kalau…
"Aku merindukanmu, Gaara-nii…"
Dan pada momen yang tak pernah terpikirkan, Sasuke menarik Hinata menjauh dari laki-laki berambut merah itu, kemudian mencium Hinata. Kali ini tak ada kelembutan, hanya penuh tekanan dan kecemburuan yang menggebu. Hinata melebarkan matanya oleh sesuatu yang lagi-lagi tak bisa diperkirakannya dari laki-laki Uchiha itu. Tangannya menekan dada Sasuke, namun kepalanya ditahan agar tak bisa menjauh. Lidah Sasuke bahkan mulai menjilati bibirnya, ketika kemudian dia melepaskannya begitu saja. Rahang pria itu mengeras, dan matanya berkilat dingin.
Tidak.
Sekujur tubuh gadis itu meremang oleh rasa takut. Inilah iblis yang selalu ditakuti oleh semua orang. Sasuke yang ini begitu… dominatif, lebih dari apapun. Kami-sama…
"Well, Hinata," bisikannya kini bernada mengancam. "Bukankah tidak sopan, kau memeluk pria lain di depan pacarmu saat kita kencan?"
tbc
Thanks for all of my reader. This chapter is dedicated for all of you, guys. So, if you don't mind, would you like to give me some responses?
Deshe Lusi: ehehe, iya, Sasuke saya buat pemaksa. Maaf kalau kurang berkenan buat Lusi-san. Lama nggak update, iya. Saya lumayan sibuk kuliah, dan somehow saya agak perfectionist buat tulisan saya. Eh, ternyata karena jarang nulis kualitasnya malah kerasa agak menurun. Gomen ne lagi ya
Caca cullen: hohoho, Sasuke emang posesif tuh. Tapi Cuma sama Hinata aja kok, yang lain dia nggak peduli #hapalahitu.
Nah, ini termasuk update ASAP kan? :P
Kaoru-tadashi Hitachiin: Sasuke kejam? Ooh, ini belum seberapa kok. Sasuke bakalan saya buat lebih kejam lagi #devilsmirk
Ini udah update kilat, sayangnya kecepatan cahaya terganggu sama jarak, jadi kilatnya baru kelihatan sekarang ^_^
#hapasih
Freyja Lawliet: egois tapi menarik 'kan? Oke, saya lanjut nih :D
Dewi Natalia: Namanya cantik banget ^_^9
Lebih keterlaluan mana sama Sasuke, coba?
Lily Purple Lily: wah, makasih pujiannya. Oke, saya update ini
Daiyaki Aoi: iya ya, kisah cinta kayak gitu bikin saya juga iri. Saya harap Aoi-san juga bisa ngerasain kisah cinta yang lebih manis dari ibu Aoi-san. Untuk masalah fakultas sudah saya coba lebih rinci lagi di chapter ini. Kerasa nggak bedanya? Hehehe, makasih untuk kritiknya ya, bener-bener bikin saya geli dan malu sendiri, jadi makasih banyak. Mohon bantuannya untuk fict-fict selanjutnya ya, karena saya bener-bener masih awam sama urusan kayak beginian.
Dea: endingnya Sasuke sama Hinata nggak ya? :p
Oke, tenang aja, dengan atau tanpa gaara, Sasuke bakalan terus galau kok ;)
KumbangBimbang: makasih banyak udah suka sama fic saya saya bakalan terus berusaha biar kualitasnya nggak menurun dan supaya KumbangBimbang-san puas dan nggak bimbang lagi :p
Chiaki arishima: hayo, tegang kenapa nih? Masih tegang nggak di sini? Bisa dibilang chapter ini jadi agak antiklimaks chapter sebelumnya sih
Alice9miwa: makasih banyak. Ini chapter 2 nya update. Menurut pandangan alice-san, apa Hinata udah mulai 'jatuh' sama Sasuke?
DevilAndAngelLove: GaaHina ya? As soon as possible deh, karena pair itu termasuk pair yang paling saya suka. Tapi sementara ini saya fokuskan untuk SasuHina dulu deh ^w^
Akunrusak: preman dong, Sasuke-nya. Tapi suka kan?
Sugar Princess71: waduh, jangan panggil saya senpai. Saya jauh lebih baru dari Sugar Princess71-san untuk urusan tulis menulis… salam kenal juga oke, saya update sekilat mungkin :D
Mine: makasih banyak, gimana dengan chapter ini?
Moku-Chan: oke, nih, saya lanjutkan.
Hyou Hyouchiffer: oke, pokoknya oke, saya lanjut nih ^u^
Namikazevi: makasih karena udah suka dengan ff saya. Ini chapter 2nya, kalau berkenan silahkan baca lagi. #danehemreviewnyaehemjuga
Hikaru-Ryuu Hitachin: nih update kilatnya
Balesan #emangnyasiapakau!? #kaukantemanbaikku!
Mingriew-chan: Mingriew-chan deh yang manis banget. Update cepat? Ehem, ini termasuk cepat nggak ya? #garuk2kepala
Yah, begitulah. Saya memasukkan hal-hal merepotkan dari kutipan kuliah membosankan saya selama ini. Dan beberapa kata-kata berbahasa inggris yang mungkin tidak tepat. Makanya, saya butuh bantuan para readers untuk memberikan kongkrit pada chapter ini. Satu hal menyebalkan yang belum bisa teratasi: saya belum menemukan padanan kata 'sight' selain mendengus ataupun mendesah. Mungkin diantara para readers ada yang tahu? Tolong saya ya
Oke, that's all. Tidak lupa untuk semua silent reader yang luar biasa; baik yang numpang lewat ataupun yang baca sampai habis dan nggak muntah atau kejang-kejang saking anehnya ff ini. Makasih banyak minna-san.
