Oke, karena saya rasa Day By Day Team Natsu : Adolescence ini sukses –sepertinya- jadi saya mengaktifkan update kilat.
Baca aja dah! XD
Pairing : Natsu D. & Lucy H.
Genre : Humor
Disclaimer : Hiro Mashima
Warning: saya heran sama fic humor saya yang satu lagi. Kok gak sesukses ini ya? Kalo gini ceritanya, author mau bikin fic pke embel-embel 'Day By Day Team Natsu : ...' biar sukses terus hehe XD
Di kediaman Natsu Dragneel.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uweek!" Terdengar suara batuk yang disertai dengan suara muntah dari seorang Lucy Heartfilia di dalam gudang tua di lantai paling atas kediaman Natsu Dragneel.
"Uhuk! Uhuk! Uuohok!" Terdengar suara batuk yang lebih mirip kayak orang TBC yang berasal dari Natsu Dragneel.
"Ayah, pake sapu tangan dong! Diiket di hidung kayak gini nih!" Kata anak bungsu keluarga Dragneel, yang wajahnya sangat mirip dengan Lucy dengan rambut blonde panjang yang terurai, Yuna Heartfilia.
"Kau terlihat seperti ninja!" Kata Natsu sambil menyapu debu-debu di lantai kayu yang sering kali mengeluarkan bunyi berdecit jika diinjak.
"Uhuk! Uhuk! Jangan sapu ke arah ku!" Protes yuna sambil menutup hidungnya dengan punggung tangannya, lalu ia berlari pergi ke lantai dua.
"Natsu... apa ini?" Tanya Lucy yang berada di pojok gudang sambil mengangkat sebuah video tua yang sudah usang. "Itu video... " Jawab Natsu. "Waktu kita SD... " Lanjutnya.
Segera setelah itu, mereka turun ke ruang keluarga dengan kecepatan tinggi lalu menarik anak-anak merea secara paksa untuk menonton video waktu mereka SD.
"Liat nih! Waktu ayah kalian SD! Imut lho!" Kata Natsu yang lagi memasukkan kaset ke dalam DVD.
"Waktu SD? Siapa yang peduli... " Kata anak sulung Natsu, Utsuka Dragneel yang lebih memilih menutup telinganya dengan headset-nya yang berwarna merah. Natsu menatapnya tajam.
"I-iya, iya, iya." Kata Utsuka gugup.
Video pun dimulai.
Rekaman dalam Video.
Terlihat jelas bahwa orang yang merekam video ini dulu bukanlah orang yang profesional. Dilihat dari bergetarnya rekaman itu, juga objek yang direkamnya selalu tanah.
"Hey! Hey! Rekam kami ayah! Kenapa rekam tanah! Emangnya di tanah ada apa!?" Terdengar suara seorang anak laki-laki yang Cuma keliatan kakinya doang. Kamera itu pun tertuju padanya.
Wajah anak itu tampak kesal dengan kelakuan ayahnya yang dari tadi cuma merekam benda mati saja.
"Iya, maaf Natsu, ayah kan gak tertarik buat bikin video ini... " Kata tuan Dragneel sambil memberikan alat rekam kuno itu pada Natsu. Video itu bergoyang sesaat.
Sekarang, di layar TV memperlihatkan tuan Dragneel dengan baju santai dan celana kaos selutut sambil menggendong sebuah tas besar.
Kamera pun beralih ke nyonya Dragneel yang masih berjalan di depan. Video pun di jeda.
Setelah itu, kamera dibuka kembali, memperlihatkan keramaian di area perkemahan itu. Orang tua, kakak, nenek dan kakek, paman dan bibi, semua lengkap ada di sana. Natsu pun dengan kameranya merekam setiap orang yang dilewatinya. Dia pun bertemu dengan Gray dan Erza.
"Kok rasanya kalo ketemu kalian selalu bersamaan ya? Kayak udah satu paket aja, ada Gray pasti ada Erza, ada Erza pasti ada Gray...ckck!" Kata Natsu yang sedang merekam mereka berdua.
"Lho? Kenapa? Kau gak dateng sama Lucy?" Tanya Gray pada Natsu. Natsu pun menurunkan kameranya, jadi yang terlihat di layar hanya sepatu Natsu.
"Lucy gak tau dimana. Tadi pas aku ke rumahnya dia udah berangkat." Kata Natsu sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Tuh dia!" Kata Erza sambil menujuk ke arah belakang Natsu. Kamera pun di arahkan pada orang yang ditunjuk.
"Yaah... " Suara kecewa dari Gray dan Natsu saat melihat kepala sekolahlah yang ditunjuk Erza.
"Tuh dia!" Kata Erza sekali lagi. Kamera pun di tujukan ke orang yang ditunjuk dan memperlihatkan Lucy yang lagi jalan sendirian dengan membaca tas ransel warna merah.
Kamera pun ditutup.
Balik lagi ke ruang keluarga kediaman Dragneel.
"Lho? Abis?" Tanya Natsu sambil menekan tombol mengulang.
"Iya udah abis. Gak seru ah!" Kata Yuna yang kemudian berdiri dan kembali ke kamarnya.
"Berhenti di sana!" Teriak Natsu tiba-tiba membuat satu keluarga kaget. "Kalau begitu ayah akan bercerita saja." Lanjut Natsu. Keluarga Natsu Dragneel pun kembali menyatu di ruang keluarga.
"Jadi ceritanya begini... "
Flash Back waktu SD di perkemahan.
Malam hari.
Mereka berempat sedang bermain disatu tenda yang sama. Orang tua mereka sudah pulang ke rumah masing-masing.
"Gunting batu kertas!" Kata mereka serempak. "Whaa! Aku kalah!" Teriak Natsu yang mengeluarkan batu sedangkan yang lain mengeluarkan kertas.
Natsu pun menutup matanya pasrah pada dahinya yang akan disentil oleh tiga orang sekaligus.
"AWWW!" Teriak Natsu pada malam itu. Lalu mereka pun berdiskusi tentang posisi tidur mereka.
"Aku di paling pojok aja!" Kata Lucy sambil menunjuk pojokan tenda.
"Jangan!" Kata Natsu dan Gray serentak. "Kenapa?" Tanya Lucy kebingungan.
"Biasanya kalo kayak gini nih, ada monster atau semacamnya yang lewat! Kalau kau tidur di pojok nanti kaget lagi!" Kata Natsu sambil celingak celinguk.
"Baiklah! Kalau begitu aku dan Gray akan tidur di pojok. Kalian tidur di tengah-tengah aja." Kata Natsu sambil menarik selimutnya.
Mereka pun tidur nyenyak.
Tengah malam.
"Nngg...aduh...kenapa sekarang sih... " Gumam Gray agak menggeliat. Dia pun terbangun dari tidurnya dengan mata sayu dan rambut yang berantakan.
Dia pun keluar dari tenda dan berjalan menuju semak-semak di belakangnya.
"ngiieeeeng... ngieeeeng... " Suara seekor nyamuk telah berhasil membuat Natsu terbangun. Ia pun menepuk pipinya pelan. "Dasar nyamuk bodoh. Mana bisa kau menghisap darah seorang Natsu... hehe!" Gumam Natsu melihat nyamuk yang sudah mati di tangannya.
Srek Srek.
"Eh?" Natsu menengok ke sampingnya dan melihat sebuah bayangan. Dia mau berteriak tapi ditahan. Mau kabur tapi nanti juga akan tertangkap, pikirnya. Natsu pun mengguncang-guncangkan tubuh Erza dan Lucy. "Hey! Bangun! Bangun!" Kata Natsu masih mengguncang-guncangkan tubuh Erza da Lucu bergantian.
"Ngg... kenapa?" Tanya Erza masih dengan posisi tidurnya.
"Ada monster!" Kata Natsu dengan nada serius. Erza dan Lucy langsung loncat dari posisi mereka tadi. "Apa?!" Tanya Erza sedikit berteriak.
"Sttt! Nanti monsternya kaget!" Tanya Natsu sambil menutup mulut Erza dengan tangannya.
"Natsu! Aku punya kayu dan palu mainan! Kita gebukin aja gimana?" Tanya Lucy yang lagi ngotak-ngatik tasnya.
"Boleh tuh! Gray! Gimana, setuju gak?" Tanya Natsu sambil menengok di sebelahnya.
"Whoooo!" Teriak Natsu pelan saat melihat orang yang diajak bicara tidak ada.
"G-Gray! Gray gak ada!" Kata Natsu dengan nada horor. "Mungkin dia sudah dimakan oleh monster itu!" Kata Natsu semakin menambah suasana horor di dalam tenda itu.
"Kita serbu aja!" Kata Erza yang sudah berdiri di depan tempat keluar tenda. "Kalau kau dimakan gimana?" Tanya Natsu, segeralah nyali Erza menciut. "T-tidak mau! Aku belum mencapai usia 17 tahun, belum pacaran dan lain-lain! Aku tidak mau mati sebelum menikmati hal itu!" Kata Erza yang bersembunyi di belakang Lucy.
"Oke, karena disini aku satu-satunya pria, aku yang akan maju duluan dan aku juga yang akan melindungi kalian berdua! Kata Natsu berancang-ancang untuk memukul.
"Ayo pergi!" Kata Natsu mantap. Mereka bertiga pun langsung keluar dan memukul sesuatu yang mereka sebut monster itu.
"Whaaa!" "Haah!" "Cia! Cia! Cia! Cia! Cia!"
"Aw! Aw! Apaan sih! Aduh! Sakit! Aw!" Kata sesuatu itu sambil melindungi kepalanya dari serbuan kayu dan palu mainan.
"Lho?" Gumam Natsu meghentikan aksinya. "Gray?" Tanya Natsu pada Gray yang menahan tangisnya.
"Sakit tau!" Terlihat jelas air matanya akan jatuh tapi gak jatuh-jatuh juga. Lucy pun mendekati Gray bermaksud untuk mengusap kepalanya yang benjol akibat pukulan kayu mainan yang dilakukannya.
"Tunggu!" Kata Natsu sambil menarik tangan Lucy agak kasar. Mereka pun berjalan mundur sekitar 6 meter jauhnya dari Gray yang masih menahan sakit.
"Hey! Kau percaya kalau itu Gray? Kurasa dia adalah monster yang menyamar setelah memakan Gray!" Bisik Natsu pada Erza dan Lucy. Mereka tampak kaget dengan perkataan Natsu.
"Benar apa katamu! Gray sudah menghilang sebelum kita bangun! Pasti setelah memakan Gray, monster itu menyamar menjadi Gray supaya bisa dengan mudah memakan kita!" Bisik Erza sambil melihat Gray sekilas.
"Kita serang lagi!" Kata Natsu sambil berlari maju. "SERBUU!"
BUAK! BUAK! BUAK! DUARR!
Day By Day Team Natsu : Adolescence
Pagi hari.
Beberapa guru sedang mengobati Gray yang cukup babak belur akibat serangan kayu dan palu mainan dan cakaran dari Natsu.
"Aw!" Teriak Gray menahan sakit. Di belakangnya ada Lucy yang mengusap kepalanya pelan. Di sampingnya ada Natsu yang lagi mohon-mohon maaf terus menerus.
"Maap Gray! Ku pikir kau itu monster!" Kata Natsu berulang kali. Gray tidak menjawab.
Di depannya, ada Erza yang dari berlutut dengan wajah tegas, maksudnya mau minta maaf. Gray pun tidak mempedulikannya.
"Maap ya Gray-chan, soalnya aku pikir kau dimakan monster jadi aku memukulmu tadi... " Kata Lucy pada Gray pake embel-embel 'Chan' supaya Gray seneng. Gray pun menjawab.
"Gak apa kok! Gak sakit sama sekali!" Katanya sambil tersenyum lebar. Lucy pun membalas senyuman Gray dan kembali mengusap kepala Gray pelan.
"Dasar laki-laki! Pake kata manis aja langsung jadi lemah! Hah!" Batin Lucy dengan wajah liciknya. Natsu mengangkat kepalanya menatap Gray. Gray juga menatapnya dengan tatapan malas.
"GRAY-CHAN! MAAPIN AKU YA!" Teriak Natsu sambil memeluk leher Gray. Gray yang kaget langsung loncat sambil bergidik karena jijik.
"WOI! NGAPAIN LU!" Tanya Gray sambil berteriak. Mereka bertiga, hanya melihat Gray dengan tatapan tanpa dosa. Gray masih mengatur nafasnya karena kaget.
"Maapin ya?" Tanya Natsu sekali lagi. "YA! IYA! JANGAN DEKET-DEKET!" Teriak Gray pada Natsu dari jarak jauh. Gray pun kembali diobati oleh beberapa guru.
Erza menatap Gray tajam. "Sebelum dia memanggilku Gray-chan, aku harus memaafkannya sebelum terlambat!" Batin Gray menatap Erza dengan tatapan malas, keringat mengalir di pelipisnya.
Erza pun membuka mulutnya. "Gray—"
"Ya kau ku maafkan!" Jawab Gray sebelum Erza mengajukan permintaan maafnya. Erza pun menghela nafas lega.
Siang hari.
Semua anak-anak SD Magnolia sedang makan siang di bawah pohon tua yang rimbun.
"Nyam nyam nyam nyam nyam..."
"Nyap nyap nyap nyap nyap... "
Suara ngecap-ngecap dari beberapa murid yang sedang makan sukses menganggu tidur Natsu dkk.
"Lho, kenapa bekalnya gak disentuh sama sekali?" Tanya seorang guru pada mereka berempat.
"Kami ngantuk bu guru... " Jawab Natsu lemas. "Iya nih...gara-gara insiden monster kemaren..." Kata Erza pake istilah insiden segala.
"Ooh...kalo gitu kalian tidur aja, nanti bu guru bangunin kalo idah mau jalan lagi... " Kata guru itu dengan memberikan senyuman yang ramah.
"Gimana mau tidur kalo banyak suara ngecap-ngecap gini... " Gumam Gray yang berusaha tidur dengan menutup mata dan telinganya. "Di kanan, kiri, belakang, depan, ada aja suara ngecap-ngecap yang kedengaran... " Kata Lucy yang lagi membenamkan wajahnya di antara lututnya.
"Kalo gitu, kalian tidur di tikar para guru aja ya? Di sana suara ngecap-ngecapnya hampir gak kedengaran." Usul Si guru yang dijawab dengan anggukan oleh mereka berempat.
Mereka berempat pun berjalan menuju tikar yang diduduki para guru dengan lemas.
Pukul 2 siang.
"Natsu... Lucy... Erza... Gray, bangun, sebentar lagi kita mau jalan... " Bisik seorang pak guru membangunkan keempat anak yang masih tertidur itu.
Erza langsung terbangun begitu tubuhnya diguncangkan. Akan tetapi ketiga temannya belum bangun juga meskipun tubuhnya sudah diguncangkan beberapa kali.
Akhirnya Erza menarik nafas panjang dan bersiap untuk berteriak.
"KEBAKARAN! KEBAKARAN! ADA RAZIA!" Teriakan Erza pun sukses membuat mereka bertiga bangun dengan ekspresi wajah yang beragam. Natsu dengan ekspresi kaget langsung membuka bajunya dan megibas-ngibaskannya di tikar. Lucy bangun dengan wajah datar sambil melihat sekeliling. Gray, dengan rambut yang berantakan ekspresi wajahnya kayak banci kena razia.
"Ayo bangun, kita udah mau jalan lagi... " Kata pak guru dengan nada pelan sambil membantu mereka bertiga berdiri. Rambut mereka semuanya berantakan dan kusut. Baju mereka pun juga kusut.
Seorang guru pun merapikan pakaian dan rambut mereka. "Nah, sana, bergabung dengan teman kalian yang lain di barisan." Kata guru itu sambil mendorong mereka pelan.
Mereka pun berjalan kembali ke perkemahan dan beristirahat. Di dekat perkemahan itu ada sebuah sungai dangkal dengan air yang jernih. Ikan-ikan kecil pun hidup di sana.
Mereka semua sekarang sedang berkumpul di tengah-tengah padang rumput.
"Nah, anak-anak, siapa yang tidak bawa handuk dan baju ganti?" Tanya kepala sekolah pada 20 anak yang sedang duduk di padang rumput. Tidak ada yang mengangkat tangan ataupun berbicara, itu artinya mereka semua telah membawa handuk dan baju ganti.
"Nah, pak guru dan bu guru akan memberikan kalian semua alat pancing ini. Nanti di sungai kalian akan memancing dan mandi di sana." Kata kepala sekolah SD Magnolia sambil menepuk tanganya. Para guru pun memberikan alat pancing itu kepada setiap murid.
Mereka pun kembali ke tenda untuk bermain sambil menunggu sore hari.
Di dalam tenda Natsu dkk.
"Waah! Alat pancingnya keren ya! Ada sesuatu yang agak tajam di ujung! Ada benangnya juga!" Kata Natsu yang mengagumi alat pancing warna kuning yang ia pegang.
"Biasa aja tuh. Punya ayahku lebih panjang daripada ini, warnanya biru dan mengkilat lagi! Dia juga ounya sebuah kotak yang khusus untuk menyimpan umpan untuk memancing." Kata Gray yang sedang bermain dengan alat pancing yang tidak terlalu berbahaya untuk anak-anak itu.
"Kita mau main apa nih?" Tanya Lucy pada ketiga temannya itu.
"Gimana kalo masak-masakkan?" Usul Erza. "Gak ah! Nanti kita ngapain dong? Main lempar bola aja! Aku ada bawa bola!" Kata Gray yang mengeluarkan sebuah bola lempar berwarna putih dari dalam tasnya.
"Oke!" Kata Natsu setuju. Mereka pun main lempar bola sambil bernyanyi. Dan kalau nyanyian mereka telah selesai, penangkap bola terakhir akan mendapat sentilan. –dulu author sering main itu waktu SD-
Pukul 3 sore.
Anak-anak yang rata-rata berumur 6 tahun itu sekarang sudah duduk di tepi sungai dan sedang diajari untuk memancing. Gray yang sudah diajari ayahnya langsung mulai memancing.
Layaknya seorang profesional, Gray menarik, menggeser, mengangkat alat pancingnya dengan akurat.
Natsu, Erza dan Lucy bengong melihat kemampuan Gray memancing ikan dengan lihainya. "Aku tidak akan kalah!" Kata Natsu yang dengan asal melemparkan kail pancingnya sehingga nyangkut di bebatuan.
"WHAT THE?!" Kata Natsu sambil berusaha menarik kailnya keluar dari himpitan batu yang besar itu.
Tak lama, Gray sudah mendapatkan seekor ikan yang lumayan besar.
"Aku tidak mau kalah!" Teriak Natsu semakin menjadi-jadi ketika dia merasakan sesuatu memakan umpannya.
Natsu menarik alat pancingnya dibantu oleh Gray dan Erza. Dengan sekuat tenaga mereka menarik alat pancing itu. Dan saat mereka berhasil menariknya ke daratan, mereka melihat gurita yang nyangkut di kail pancing Natsu.
"Hah?" Gumam Natsu bingung. "Gurita makan cacing?" Tanya Gray pada dirinya sendiri. Kemudian Natsu melemparkan gurita itu kembali ke dalam sungai.
"Heran, gurita kok ada di sungai..." Kata Natsu kembali melemparkan kail pancingnya.
Pukul 5 sore.
Mereka semua sedang mandi di sungai yang jernih itu. Mereka semua juga bermain air sambil berusaha menangkap ikan dengan tangannya sendiri.
"Astaga... " Gumam Gray dan Natsu yang lagi ngeliat Lucy dan Erza yang Cuma pake celana dalem aja. Dengan rambut mereka yang terurai.
"Cih! Aku gak bisa ngeliat ini! Ini terlalu dewasa!" Kata Gray sambil menutup kedua matanya.
"Buset...rata men..." Gumam Natsu masih bengong ngeliat Lucy dan Erza.
Setelah mandi, para guru membantu para murid memakai pakaian ganti mereka. Mereka pun tidur dengan nyenyaknya. Dan keesokan harinya, mereka pulang. Ada yang dijemput sama keluarganya, ada juga yang pulang ikut sekolahnya.
End Flach Back waktu SD di perkemahan.
"Oh gitu ceritanya... " Kata Yuna ber'oh'ria. Sedangkan Utsuka tidak mendengarkan sama sekali.
Ting Tong.
Bel tanda ada tamu berbunyi. Lucy pun berjalan menuju pintu masuk.
"Oh, Gray sama Erza. Kenapa?" Tanya Lucy kepada dua orang yang sedang berdiri di depan pintu masuk.
"Besok berenang yuk!" Kata Erza pada Lucy. "Berenang? Dimana?" Tanya Lucy sambil mempersilahkan mereka berdua masuk.
"Kan ada tempat renang yang baru dibuka. Masa gak tau sih?" Kata Gray agak meledek Lucy.
"Iya! Iya! Besok jam berapa?" Tanya Lucy yang mempersilahkan teman dari kecilnya itu duduk bersama keluarganya.
"Jam berapa ya enaknya?" Tanya Erza pada Gray yang lagi make pose berpikir.
"Perginya jam 12 siang, mampir dulu ke Fiore departement store baru kita ke tempat renangnya." Kata Gray.
"Ngapain ke departement store?" Tanya Lucy yang duduk di samping Natsu.
"Belanja bulanan. Rinso, pewangi pakaian, obat pel, dll." Jawab Erza sambil menghitung jarinya.
"Oke deh." Jawab Lucy singkat.
Kemudian mereka berdua pulang.
"Oke, besok siapkan diri kalian untuk melakukan kegiatan extra!" Kata Lucy semangat.
"Astaga... " Gumam Utsuka sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.
"Waduh..." Batin Natsu malas.
Mereka sekeluarga sudah tau kalau Lucy datang ke departement store, akan ada reka adegan perang dunia kedua.
To Be Continued
Yosh! Udah update! Saya mau menginformasihkan pada tanggal 24 Agustus ini, saya tidak akan mengaktifkan update kilat karena saya banyak tugas setelah libur salah satunya adalah mengahapalkan UUD, gimana saya gak gila coba?
Saya harap para readers bisa mengerti kondisi saya yang notabene masih pelajar ini :D
Jangan lupa Review! :D
