1895—Jepang
"Sudah cukup. Menyerahlah."
"…"
"…Kubilang sudah cukup. Kalau kau memaksakan lebih dari ini…"
"…"
"…Nii-nii…"
"AKU TAHU, KIKU! AKU TAHU!"
Tanganku kaku. Seperti inikah Nii-nii yang dahulu kukagumi?
Pria berlumuran lumpur yang terluka parah, merangkak di tanah—di kakiku ini, adalah figur seseorang yang dahulu sangat kuidam-idamkan ketika aku besar nanti?
Nii-nii yang dulunya terlihat begitu besar di mataku…
"…aku tidak akan menyerah. KAU DENGAR ITU?! AKU TIDAK AKAN MENYERAH!"
…sekarang jadi menyedihkan seperti ini…?
"…cukup, Nii-nii. Aku tidak ingin membunuhmu."
"DIAM, KIKU! DIAAAAAAAM!"
"…kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain. "
Kuangkat pedangku yang berlumur darah…
"…maafkan aku, Nii-nii…"
…dan kutebaskan ke punggungnya.
Pria itu jatuh ke tanah, bersimbah darahnya sendiri.
Pada tahun 1895, Cina menyerah dalam perangnya melawan Jepang, dan terpaksa menyerahkan wilayahnya, yaitu Semenanjung Liaotung, kepada Jepang.
Rusia dan dua sekutunya, Jerman dan Perancis, melakukan Intervensi Tiga Negara atas tindakan Jepang tersebut.
Dan kini, Rusia melakukan negosiasi terhadap Inggris, untuk bergabung dalam intervensi yang dikompori olehnya—tanpa mengetahui bahwa Inggris tidak menyukai ideologi ekspansinya atas dunia yang terlalu berlebihan tersebut.
1895—Inggris
Wangi teh menguar lembut dari teko, memenuhi seluruh ruanganku.
Setumpuk buku-buku bersampul kulit tebal, berdebu, tergeletak miris di atas mejaku.
Aku nyaris tertidur di meja, saat aku sedang mendengarkan alunan musik klasik yang terputar di gramofon, kalau saja seseorang tidak menerobos masuk ruanganku dengan tiba-tiba.
"Arthur! Kirimannya sudah tiba!"
Aku terlonjak kaget, saat atasanku masuk ke kantorku sambil membawa sepucuk telegram.
"Dari siapa itu?" tanyaku.
"Dari Rusia," jawabnya, "Ia menginginkan jawaban atas permintaannya bergabung dalam Intervensi Tiga Negara."
Aku mengerinyitkan dahi.
"Dia lagi. Rusia dan ambisinya mengekspansi dunia," gumamku kesal.
"Aku menolak!" kataku tegas—sambil menghantamkan kepalan tanganku ke meja, membuat atasanku terkejut bukan main.
"Tapi, bagaimana kalau seandainya dia akan menyerang kita dengan sekutu-sekutunya?" tanya atasanku, waswas.
Aku berpikir lama.
"Kita butuh sekutu juga, kalau begini…" kataku pelan, "…tapi siapa?"
Atasanku ikut mengerinyitkan dahi, berpikir keras.
"Kita butuh sekutu yang kuat, namun tidak berhubungan dengan Rusia," katanya.
"Itu nyaris mustahil. Hampir seluruh Eropa berada di bawah pengaruh maniak Vodka itu!" omelku.
"Kalau begitu…"
Aku memijat dahiku, yang mendadak terasa berputar-putar.
"…bagaimana kalau Jepang?" Aku menoleh, heran.
"Apa?"
"Jepang, kau dengar," ulangnya. "Bukankah Jepang sedang berada dalam posisi anti-Rusia sekarang? Lagipula, Jepang tidak sebodoh itu. Jepang termasuk negara yang kuat, meskipun ia dulunya terisolasi seperti keadaan kita sekarang ini."
Aku termenung.
Mengajak Jepang menjadi sekutu? Boleh juga. Rusia pasti tidak akan menyangka hal seperti akan terjadi. Ide bagus!
"Baiklah," ujarku mantap, "kita akan bersekutu dengan Jepang!"
1902—Inggris
Aku berdiri di ambang pintu rumahnya. Tegang.
Kupegang buket bunga penuh mawar di tanganku erat-erat.
Padahal kemarin aku sudah mempersiapkan semua kata-kata yang hendak kuucapkan dengan sebaik-baiknya, namun entah kenapa semuanya seperti menghilang mendadak.
Kakiku bergerak-gerak dengan gelisah. Kuseka keringat di leherku dengan sehelai saputangan.
Kutarik nafas panjang, dan kuberanikan diriku mengetuk pintu.
Akhirnya, kuketuk juga pintu itu, dengan ragu-ragu.
Bisa kudengar suara yang ringan—namun pekat—menyahut dari dalam.
"Sebentar!"
Aku gugup, merapikan kerah jasku, menyisir rambutku. Aku tidak ingin terlihat memalukan di hadapannya.
Tunggu dulu.
Rasanya aku pernah ke sini, dulu sekali. Aku juga tinggal di rumahnya. Berbagi kehangatan bersamanya. Segalanya.
Kenapa aku bisa lupa?
Aduh, aku jadi makin gugup jika memikirkan bagaimana reaksinya, kalau tiba-tiba bertemu lagi dengan orang yang dulu sudah meninggalkannya tanpa mengatakan apa-apa.
Pintunya terbuka. Sang empunya rumah menengok keluar.
Kimono rumah berwarna hijau lumut membalut tubuhnya. Menengadahkan kepalanya untuk melihat wajahku.
"Se—selamat pagi," sapaku gagap.
Ia menatapku dengan ekspresi polos seperti anak kecil.
"…Pagi. Anda siapa?" tanyanya.
Aku terperangah.
Dia masih menatapku heran, berdiri di depan pintu.
…DIA LUPA?! DIA LUPA AKU SIAPA?!
Aku menggosok leherku, kegerahan karena tindakannya yang terlalu di luar dugaanku ini.
"Anu…ada perlu apa dengan saya…?" tanyanya lagi, sambil menampakkan kepolosannya yang terasa mendesakku.
Sialan, wajahnya imut sekali, pikirku.
"…Kiku," kataku—akhirnya—setelah beberapa lama terdiam, "…masih ingat aku?"
Ia mengerutkan alisnya, mencoba mengingat siapa orang asing yang berdiri di depan rumahnya sekarang ini.
Yang dulu pernah meninggalkannya. Yang dulu pernah membohonginya. Yang dulu pernah mengkhianatinya.
Sejujurnya, aku tidak ingin dia mengingat segala kebodohan yang pernah kuperbuat.
Aku tidak ingin dia merasakan rasa sakit yang sama seperti dulu lagi.
Namun kali ini, situasinya tidak mendukung seperti itu. Dia harus ingat siapa diriku. Karena hal ini adalah untuk masa yang ada sekarang, bukan yang sudah lampau.
"Aku Arthur Kirkland, yang dulu pernah mengunjungimu, yang berasal dari Britania Raya—kau ingat, 'kan?" tanyaku, penuh harap.
Kiku memejamkan matanya sejenak, berusaha keras berpikir.
Tiba-tiba, ia membuka matanya. Mulutnya sedikit terbuka, matanya membesar, melihatku dengan tatapan kaget.
"…Arthur…san…?"
Aku mengedikkan kepalaku sedikit, tersenyum ke arahnya.
"Kau…benar-benar…?"
"Iya. Ini aku. Aku kembali."
Kusodorkan buket mawar itu ke hadapannya, dan ia menerimanya dengan ragu-ragu.
Wajahnya bersemu merah.
"A—ada apa, Arthur-san…tiba-tiba ke sini…"
"Aku butuh bantuanmu."
"Eh…?"
"Ceritanya panjang."
"Ba—baiklah, ayo masuk. Ceritakan padaku."
Kiku mengantarku masuk ke kediamannya.
Setelah apa yang telah kulakukan padamu, kau masih bersedia menolongku?
Ah, Kiku…kau itu memang terlalu baik…
"Begitu…jadi begitu…" gumam Kiku, ekspresinya berubah gelap.
"Rusia akan mengintervensi penyerahan wilayah Nii-nii?"
Aku mengangguk.
"Ya, benar. Dan aku butuh bantuanmu. Aku menolak permintaannya bergabung dalam intervensi tersebut, namun aku tidak mau mengambil resiko dengan menjadi pihak oposisinya. Karena itu, aku butuh partner," jawabku.
Kiku merenung sejenak.
"Baiklah. Aku siap membantumu kapan saja," ujarnya mantap, membuatku terpana.
Aku terdiam, menatap lantai. Tidak tahu mesti berkata apa.
"Kiku," kataku pelan, "Kau tidak dendam padaku?"
Ia menoleh heran ke arahku. "Dendam? Kenapa?"
Aku mengigit bibirku. "Itu—dulu, aku meninggalkanmu begitu saja. Aku membohongimu…kau tidak sakit hati?"
Kiku terdiam sejenak, lalu berdiri dari duduknya.
"Sejujurnya, Arthur-san," katanya, "…dulu rasanya sakit sekali."
Kepalaku tertunduk. Tanganku mengepal.
"Namun, aku menyadari, waktu itu kau melakukannya atas perintah atasanmu—bukan dengan keinginanmu sendiri. Aku tahu, Arthur-san sebenarnya tidak ingin meninggalkanku, tapi terpaksa melakukannya atas suruhan orang lain. Kini, Arthur-san datang meminta pertolonganku atas keinginannya sendiri. Arthur-san ternyata benar-benar membutuhkan seseorang seperti diriku ini," tambahnya.
"Aku benar-benar senang, Arthur-san."
Kulihat matanya berkaca-kaca, sambil mulutnya mengembangkan senyuman yang amat sangat tulus.
"Terima kasih banyak, Arthur-san…" katanya, sambil menyeka matanya dengan ujung kimononya.
Bodoh, tolol. Kau itu…bodoh sekali. Yang mau berterima-kasih itu seharusnya aku, tahu.
Aku berdiri, meraihnya dalam pelukanku.
"Terima kasih, Kiku…"
Kemudian, pada tahun 1902, Aliansi Inggris-Jepang ditanda-tangani di London. Aliansi ini meyakinkan Jepang untuk memasuki Perang Dunia I di sisi Inggris. Pihak Inggris-Jepang mendapat keberhasilan yang gemilang, di mana mereka dapat menyudutkan pihak aliansi Rusia. Namun, hubungan Jepang dengan Amerika malah makin dingin.
1921—Inggris
Aku duduk di depan mejaku seperti biasanya. Gramofon mengalunkan musik-musik klasik seperti biasanya. Kutuang teh ke cangkirku, hendak menikmatinya.
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras, sontak aku terkejut.
"Hai! Selamat pagi, Arthur!" seru seseorang dengan riang dari balik pintu itu.
Rupanya Alfred.
"Bodoh! Tak bisakah kau masuk dengan cara-cara wajar? Kau nyaris membuatku mati sakit jantung!" omelku.
Alfred membetulkan posisi kacamatanya sambil tertawa, "Lho, bukannya itu cara yang paling biasa kupakai untuk masuk ke kantormu? Kalau yang tidak biasa—apa, coba? Masuk dengan petasan?"
Aku memonyongkan bibirku, menggerutu kesal.
"Ini, ada teh. Dan beberapa scone—jika kau mau," kataku, menawarkan sepring kue untuknya.
"Tidak, trims."
"Kau sebenarnya mau apa, tiba-tiba datang ke sini? Pasti ada maunya," ujarku dingin.
Ia tertawa lagi, "Aduh, Arthur! Kau itu cepat sekali memberikan respon-respon negatif!"
Aku merengut, makin sebal. "Cepat, bicara. Atau aku akan mencoba ilmu hitam dari abad ke-15 untuk mengutukmu," ancamku.
"Baiklah—baiklah, aku bicara," katanya, sambil duduk di kursi di hadapanku.
Ekspresinya berubah serius.
"Aku langsung saja bicara ke sasarannya, ya."
"Apa yang mau kau katakan?"
Alfred menarik nafas, "Hubungan aliansimu dengan Jepang, sejujurnya—aku tidak suka."
Aku melotot, "Mau kau suka atau tidak juga tidak ada hubungannya denganmu, 'kan?" balasku sengit.
Alfred membetulkan kacamatanya lagi.
"Arthur, coba kau pikirkan lebih baik lagi. Aku dengar, kau dulu pernah mengkhianatinya, betul? Kau membohonginya, begitu?"
Aku mengigit bibirku.
"Tidakkah kau pikir, Jepang setuju bergabung denganmu—mendekatimu seperti sekarang ini karena ia memiliki tujuan yang—kau tahu—bersifat balas dendam atau yang sejenisnya? Tidak mungkin jika ia mau bergabung denganmu tanpa syarat, bukan?"
"Diam, Alfred. Kau jangan bicara ngawur seperti itu. Aku tidak suka."
"Lho, aku tidak membicarakan Jepang—aku membicarakan politik. Mau suka atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu, 'kan?"
Aku mengepalkan tanganku, gemas.
"Pasti kau mau mengadakan aliansi dengannya karena kau naksir dia, ya, 'kan?" tanyanya lagi.
"Bodoh! Aku mengajaknya karena aku tidak punya pilihan lagi, tahu! Semua negara Eropa berada di bawah kekuasaan Rusia, kau tahu," jawabku jengah.
"Pokoknya, aku tidak suka berhubungan dengan si Jepang itu. Aku tahu, dia pasti ada maksud apa-apanya. Lagipula, dia itu memiliki kekuatan yang lumayan besar dan liciknya bukan main," lanjutnya, tanpa belas kasihan.
Kukuku sudah melesak, menusuk genggamanku.
"Al—cukup."
"Aku tidak mau tahu kalau sampai itu terjadi. Maksudku—kalau sampai suatu hari nanti kau ditusuk dari belakang olehnya, bagaimana?"
"Al—sudah, hentikan."
"Aku memberitahukanmu fakta, bukan karangan. Politik jaman sekarang memang begitu adanya, Arthur. Ingat apa yang terjadi dengan Cina? Mendekati lalu menusuk lawan saat lengah. Kau tidak berpikir kolot terus untuk selamanya, 'kan, Arthur?"
"SUDAH, CUKUP!"
Alfred terhenyak di kursinya.
Aku terengah-engah.
"Kau—sudah kelewatan. Jangan sekali-kali kau menuding Kiku seperti itu di hadapanku lagi. Jangan pernah!" tukasku, menunjuk ke arahnya dengan telunjukku.
Alfred terdiam, kemudian bangkit dari kursinya.
"Oke," jawabnya.
"Aku sudah memberitahukanmu sebisaku. Aku mengharapkan tindak lanjut yang tepat darimu."
Aku merengut, menghempaskan diriku di atas kursi.
"Pergi, Al."
Tepat pada saat yang sama, seorang pelayan mengetuk pintuku, lalu masuk.
"Ah, kebetulan. Antar Mr. Jones ke luar," kataku, pada pelayan tersebut.
"Baik, Sir Kirkland. Anu, barusan ada telegram dari Jepang…"
Alfred menatapku dingin.
"Nanti saja—antar Mr. Jones dulu—AKU PUSING!"
1923—Inggris
Hari ini, Kiku datang mengunjungiku di London.
Kaget memang, namun aku senang.
Terlebih lagi, rasanya bangga sekali, mampu membuat seseorang yang terisolir seperti dirinya bisa keluar dari cangkangnya.
"Arthur-san, senang bertemu denganmu," sapanya, sambil membungkukkan badannya.
Aku cekikikan. Ia menatapku heran.
"Begini," ujarku, "Kalau di sini, istiadatnya tidak begitu. Yang benar itu begini."
Kuraih tangannya dan kujabat, membuatnya bingung.
"…Eh? Apa cara orang-orang di negerimu dalam menyapa itu seperti ini?" tanyanya keheranan.
Perutku makin kegelian. Rasanya seperti mengajari anak kecil dalam bersopan-santun saja. Lucu sekali.
"Ah, Arthur-san, kulihat di sini juga ada teh," katanya riang, saat melihat sepoci teh di atas mejaku.
Aku mengedikkan kepala, " Ya. Namun varietasnya beda dengan teh di negerimu."
Ia menuangkannya ke cangkir, dan menyeruputnya sedikit.
"Wah, rasanya juga beda," gumamnya kagum.
"Tentu saja. Menarik, bukan? Ternyata negeri kita banyak miripnya, meskipun jauh berbeda dari luar," kataku jenaka.
Kiku kemudian melihat-lihat rak bukuku yang dipenuhi buku-buku tebal bersampul kulit.
"Arthur-san, apakah buku-buku di negerimu harus tebal-tebal seperti ini?" tanyanya.
Aku tertawa, "Tidak, tidak juga. Memangnya buku-bukumu tidak ada yang tebal seperti ini?"
Ia menggeleng, "Tidak. Buku di negeriku tidak dilapisi pemberat seperti ini. Depannya juga kertas, kok."
Aku tertawa lagi, "Itu namanya sampul, bukan pemberat."
Ia melongo lagi, "Memangnya kenapa, kok harus diberikan sampul?"
"Supaya tidak cepat kotor atau rusak," jawabku, terkekeh-kekeh.
Saat bersamanya, seperti mengajar anak kecil saja. Anak kecil yang polos, yang suci, yang tidak ternoda. Apakah watak seseorang seperti inikah yang memiliki keinginan untuk melakukan politik kotor yang kau bicarakan? Ah, Alfred—kau keliru.
Paginya, aku keluar ke kota sebentar. Aku pergi berbelanja di pertokoan, membeli beberapa mainan dan manisan.
Mungkin Kiku akan menyukainya, pikirku.
Saat melewati blok-blok pertokoan yang ramai, kulihat ada toko bunga yang menjajakan buket-buket bunga segar.
Kuhampiri toko tersebut.
"Permisi, ada mawar?" ujarku.
"Ada, Sir. Silakan," jawab penjaga toko.
"Yang merah ada?"
"Ini, Sir. Semuanya dua Pounds," katanya, sambil memberikan buket tersebut di hadapanku.
"Untuk kekasih anda, Sir?" tanya penjaga toko tersebut, penasaran.
Aku melempar senyum simpul.
"Ya, bisa kau bilang begitu."
Sesampainya di rumah, aku merasa ada hal yang tidak beres. Terdengar suara-suara yang agak keras keluar dari kantorku. Awalnya, kupikir itu hanya bunyi makhluk-makhluk halus yang menghuni kantorku—atau sejenisnya.
Namun, tiba-tiba, seorang pelayan wanita menghampiriku sambil terengah-engah. Wajahnya nampak khawatir.
"Ah, Sir—kau sudah kembali—" katanya panik.
"Ada apa? Kenapa kau begitu panik? Apa ada sesuatu yang gawat?" tanyaku khawatir.
"Itu—Sir, Mr. Jones mengunjungi rumah ini beberapa saat yang lalu, dan pergi ke kantor anda."
Aku mengerutkan dahi.
Apa? Alfred ke sini? Mau apa dia?
"Lalu? Di mana dia sekarang?"
Pelayan tersebut gemetaran, "Di—dia mengajak tamu anda masuk ke dalam kantor anda—dan—dan…dari dalam—ia membentak-bentak—"
"APA?!" aku terkejut, marah.
Kujatuhkan semua belanjaanku, dan berlari kesetanan kearah kantorku.
Kuputar kenop pintu, namun dikunci dari dalam. Pasti dikunci oleh bajingan sial satu itu.
"ALFRED! BUKA PINTUNYA!" seruku, sambil menggedor-gedor pintu.
Kudengar bentakan dari dalam. Dan rintihan.
"…tidak…"
"Kau tidak percaya? Semua yang kukatakan itu benar!"
"…tidak…bohong…tidak mungkin…"
"Dengar, kau pikir aku mau membuat keributan konyol ini kalau tidak ada sesuatu yang penting, hah?"
"…tidak…"
"APA?!"
"…bohong…"
Aku merinding, membayangkan apa yang terjadi di dalam. Kiku pasti disiksa oleh Alfred habis-habisan.
"ALFRED! BUKA PINTUNYA!" seruku makin keras, sambil menggedor pintu sial itu sekuat tenagaku.
Suara Kiku yang lirih, terdengar lemah dari balik pintu. Membuat jantungku berdebar tak terkendali.
"…tidak…Arthur-san…"
"Berapa kali kau harus kuberitahu—hei—Jepang sialan? ARTHUR HANYA MEMANFAATKANMU!"
Mataku terbelalak ngeri mendengar pernyataan tersebut.
"…tidak…Arthur-san…benar-benar membutuhkanku…"
"ARTHUR MEMBUTUHKAN SEKUTU DALAM PENOLAKANNYA TERHADAP INTERVENSI ITU! DAN DIA TIDAK PUNYA PILIHAN LAIN KECUALI MEMILIH DIRIMU!"
Aku makin ternganga dibuatnya.
"ALFRED! CUKUP! HENTIKAN! BUKA PINTUNYA!"
Suara Kiku yang parau terdengar lemah.
"…apa…? Maksudmu…"
"KAU SEJAK AWAL HANYA CADANGANNYA—YANG TERPAKSA DIPAKAINYA KARENA TIDAK ADA PILIHAN LAIN!"
Rasanya ada petir yang menyambar puncak kepalaku.
"Bodoh! Aku mengajaknya karena aku tidak punya pilihan lagi, tahu!"
"DENGAN KATA LAIN, KAU ITU HANYA CADANGAN YANG TERPAKAI—"
"HENTIKAN, ALFRED! HENTIKAN!" jeritku memohon.
Tanganku lecet-lecet menggedor pintu itu.
"KAU TIDAK PERNAH BENAR-BENAR DIBUTUHKAN OLEH ARTHUR!"
Dengan kekuatan setara dewa—entah dari mana—aku berhasil mendobrak pintu tersebut hingga terbuka.
Keadaan di dalam sungguh berantakan. Buku-buku berserakan di mana-mana. Teko dan cangkir-cangkir pecah. Botol tinta menumpahkan isinya ke mana-mana.
Kiku terpuruk di sudut ruangan. Alfred berdiri di depannya.
Pandangannya kosong, bagaikan boneka hidup. Rambut dan bajunya berantakan. Pemandangan yang menyayat hatiku.
Wajahnya lengket, berkilau karena air mata. Nafasnya tersengal-sengal—karena terlalu banyak menangis.
"…Arthur-san…" katanya lemah, tiba-tiba.
Kuhampiri dia, kuraih dalam pelukanku.
"…benarkah…itu?" bisiknya parau, di telingaku.
Tubuhku serasa membatu.
Tidak hanya tubuhku. Otakku, jiwaku, pikiranku, semuanya. Serasa beku.
"…tidak pernah…benar-benar…"
"…"
"…Arthur…san…"
"…"
"…tidak…"
"Kiku…"
"…membutuhkanku…?"
"Tidak, Kiku! TIDAK!"
Kiku melepaskan pelukanku, dan menatapku kosong. Bibirnya membuka sedikit, dan sepatah kata keluar pelan dari mulutnya.
"…Pembohong."
Dengan kecepatan kilat, ia menerobos keluar. Melewati Alfred, keluar dari ruangan kantorku.
Berlari keluar.
Menginjak buket bunga yang tadi kujatuhkan.
Menghamparkan kelopak demi kelopaknya di lantai.
Kudengar ia berlari keluar rumahku.
Berlari keluar dari hidupku.
Sore itu, Kiku pulang ke negerinya. Aku tahu, jika aku mengantarnya pulang, ia akan marah besar.
Jadi, aku hanya menatapnya dari jauh, di pelabuhan.
Kugenggam buket mawar—yang entah mengapa—kubeli juga.
Padahal aku tidak berniat memberikannya padanya.
Perasaan nostalgia samar-samar kurasakan berkelebat di pikiranku.
Dulu, saat aku mengkhianatinya, ia juga berdiri di atas tebing mengantar kepergianku. Kini, aku juga melakukan hal yang sama.
Apakah yang namanya roda karma itu berputar sekejam ini, Kiku?
Peluit kapal api dibunyikan, dan seluruh penumpangnya naik ke kapal tersebut.
Di sela-sela penumpangnya yang berjubel, aku dapat mengenali dengan cepat, yang mana dirinya.
Ia mengenakan kimononya yang berwarna hijau lumut.
Wajahnya seperti tanpa eskpresi.
Aku cepat-cepat bersembunyi, berharap ia tidak menemukan diriku.
Seperti aku dulu menemukannya, berdiri di atas tebing itu.
Kapal tersebut bergerak, menjauhi dermaga, menjauhi pelabuhan.
Menyongsong matahari yang terbenam di ufuk barat.
Setelah kapal tersebut benar-benar jauh, aku baru keluar dari tempat persembunyianku.
Kutatap dengan sedih, buket bunga di tanganku.
Pada akhirnya, aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakan kebenaran.
Kepadanya—dan kepada diriku sendiri.
Kulempar buket itu sejauh-jauhnya ke laut. Kelopaknya berhamburan di udara.
Aku berjongkok di tepi dermaga, menutupi wajahku.
Pantulan wajahku tampak di permukaan air laut yang beriak. Terlihat bengkok. Terlihat tolol.
Itulah wajahku, apa adanya. Wajah orang tolol.
Aku berlutut lemas.
Air mata mengaliri wajahku. Pedih. Sakit. Tak tertahankan.
Kukeluarkan jeritan yang menyesakkan dadaku.
Aku meraung sekeras mungkin, tanpa memedulikan ratusan pasang mata yang tertuju ke arahku.
Itulah aku. Orang tolol yang terjerumus dalam penyesalan yang tak berdasar.
Matahari terbenam, menyisakan urat-urat jingga di langit—yang digantikan oleh kerlap-kerlip mungil bintang malam.
Aliansi Inggris-Jepang mengalami kehancuran pada tahun 1923, yang disebabkan oleh desakan Amerika. Setelah itu, Jepang mengambil langkah ekstrim di era-era berikutnya.
