Story by: Psycho Childish

Disclaimer: Kazuki Takahashi

Genre: Angst, Friend-Ship, Hurt, Suspense, Tragedy, Humor, Mystery.

Warning: Typo, OC, kalimat Non-Baku, Kesalahan EYD.

A/N: Don't like, don't read.

xXx

Mirror Wall

xXx


Chapter 2

Di saat liburan, biasanya menjadi hari yang paling menggembirakan. Liburan adalah saat di mana semua orang bisa bersantai, terutama oleh para remaja. Sesudah berkutat pada buku-buku tebal yang hanya terdapat tulisan di dalamnya selama berjam-jam penuh setiap hari, inilah saat di mana mereka dapat membuang buku-buku tersebut ke segala arah. Mengosongkan pikiran dari berbagai rumus, tanda baca, makalah, istilah kata dan nama-nama aneh yang sering digunakan.

Berikutnya hanya tinggal mengucapkan selamat tinggal pada semua itu, lalu membeli tiket untuk bersantai. Berekreasi ke berbagai tempat, walau hanya sekedar melihat-lihat, hal itu cukup untuk mencuci mata. Tidur selama apa pun yang diinginkan, berbaring pada ranjang yang empuk dan masuk ke alam mimpi. Berkunjung ke pedesaan, menghirup udara segar tanpa tercemar oleh polusi udara. Melakukan perjalanan untuk bertemu sanak saudara, bahkan reuni bersama-sama teman lama. Dan masih banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan, tergantung bagaimana mereka ingin menghabiskan waktu liburan.

Tapi…

Bagaimana jika guru di Domino High School sedikit iseng dan tega memberikan tugas yang harus dikerjakan saat liburan?

"Aaaaaarrrggghhh! Aku pusing!"

Jounouchi membuang buku-buku yang dipegangnya, lebih tepatnya, tumpukan buku yang tebalnya sudah tak bisa diperkirakan. Belum lagi jika mengingat kalau isinya hanyalah rangkaian kata-kata tanpa gambar sedikit pun, hanya cover depan yang menjadi gambar. Tanpa memperdulikan buku-buku tersebut, Jounouchi langsung merebahkan diri pada lantai.

Yugi tersenyum kecil, ia mengambil segelas limun dingin miliknya dan menegak limun dingin tersebut. Seketika, tenggorokannya yang kering telah terasa begitu segar. Buku tebal yang berada di tangannya juga ia letakkan di sampingnya, beristirahat sejenak.

"Jou, kalau tidak segera dikerjakan bisa susah, kan?" celetuk Yugi, yang langsung dijawab dengan dengusan keras oleh Jounouchi. Wajar jika Jounouchi kesal, sampai-sampai ingin membuang seluruh tumpukan buku yang ada di hadapannya.

Tsukino-Sensei yang menjadi wali kelas, telah memberikan tugas yang sanggup membuat murid-murid didiknya mengerang kesal. Terutama untuk Jounouchi, karena tugas ini cukup berat untuknya. Tapi tidak bagi Yugi dan beberapa siswa lain, contohnya Seto, Atem, Ryou dan lainnya.

Tugas yang diberikan adalah…

… membuat laporan tentang mitologi yang ada dunia, yang pasti mereka harus mencari dari buku-buku tua yang tebal atau mencarinya dari Internet. Sayangnya, Laptop milik Yugi tak bisa dipakai untuk sementara waktu dan Warnet Center di Domino tutup karena banyak yang liburan. Parahnya lagi, banyak yang pelit pulsa Modem. Lengkaplah penderitaan Jou, ia harus mencari berbagai Legenda yang ada di dunia.

"Yugi, tugasmu sudah selesai, kan?" Tanya Jounouchi, sambil bangkit dari posisinya. Yugi mengangguk kecil, menjawab singkat pertanyaan Jounouchi.

"Tentang apa?" Tanya Jounouchi lagi, sambil menatap Yugi bosan.

Yugi tak segera menjawab, ia bangkit berdiri dan berjalan pelan menuju meja belajarnya. Mengambil buku laporannya yang berada tepat di atas meja, tugas yang sudah dikerjakannya selama seharian penuh. Lalu melemparkannya pada Jounouchi.

"Weits! Hampir saja!" seru Jounouchi pelan sambil menangkap buku laporan tersebut. "Maaf," ucap Yugi singkat, lalu kembali pada tempatnya semula.

Jounouchi membuka buku laporan tersebut, lembar-lembaran kertas berisi laporan tugas yang dikerjakan Yugi. Sempat mengerenyit saat membaca sekilas isi makalah tersebut, sebelum mengeluh pada Yugi.

"Tentang Pharaoh?"

Yugi hanya tertawa kering, ia sendiri heran kenapa dirinya justru memilih membuat tugasnya dengan tema 'Pharaoh'. Di antara sekian banyaknya Legenda dan Mitologi yang ada, dia justru memilih segala hal tentang 'Pharaoh'. Dengan kata lain.

Egyptologi.

"Entahlah, aku hanya mengambil buku secara asal saat di perpustakaan. Entah kenapa, malah terambil buku Egyptologi. Heran juga, sih…" sahut Yugi, pemuda berambut hitam jabrik bagai bintang itu menggaruk pipinya pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.

Jounouchi menghela nafas, sudah bisa ia duga kalau Yugi akan memilih Egyptologi. Walau tak sengaja mengambil buku Egyptologi, setidaknya Yugi bisa mengambil buku lain jika tak terlalu tertarik membuat laporan tentang Egyptologi. Kecuali, kalau Yugi memang ingin membuatnya dengan bertemakan tentang Egyptologi. Yang pasti, berhubungan dengan 'diri lain' yang ada pada diri Yugi.

"Ngomong-ngomong, di mana 'diri lain'mu? Sudah lama dia tidak muncul,"

Tubuh Yugi menegang sesaat, sebelum berpura-pura mencari buku pada tumpukan-tumpukan buku yang ada di hadapannya. Mengambil nafas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jounouchi.

"Dia bilang ingin istirahat, pasti dia merasa lelah sejak kita pulang dari Amerika. Makanya dia tidak muncul beberapa waktu," jawab Yugi sambil melayangkan senyuman kecil, walau agak sedikit berbeda jika menurut pandangan Jounouchi. Entah apa perbedaan dari senyuman Yugi, seolah-olah ada yang sedang disembunyikan oleh Yugi.

Jounouchi mengangkat sebelah alisnya heran, baru saja ia akan membuka mulutnya untuk menanyakan lebih lanjut tentang keberadaan 'diri lain' Yugi. Sayangnya…


~dimulai dari sini, bahasa akan menjadi agak tidak baku~

BRAK!

"YUGI-NIIII! JOU-NIII!"

Jounouchi sampai terjungkal mendengar suara yang melebihi seribu TOA dengan nada yang kelewat cempreng, belum lagi suara pintu yang baru saja ditendang oleh sang pelaku yang juga berteriak bagai TOA. Yugi hanya terlonjak kaget, sambil mencoba menenangkan jantungnya yang sempat olah raga mendadak.

Sedangkan orang yang baru saja mendobrak pintu dengan cara menendangnya, dengan santainya ngeloyor masuk dan duduk di lantai dengan tidak elitnya. Cengiran khasnya tetap terlihat pada parasnya, juga sorot mata jahil dari kedua Kristal birunya.

"Ryuu…" muncul beberapa kedutan pada Jounouchi, pemuda berambut pirang itu melayangkan tatapan kesalnya pada Ryuuga. Ryuuga sendiri, dengan raut wajah sok innocent-nya justru dengan santainya mengambil jatah Cake milik Jounouchi. Sebelum terjadi perang dunia, Yugi segera menyapa Ryuuga.

"Ryuu, kau datang sendiri?" Tanya Yugi.

Ryuuga mengangkat alisnya, sebelum meletakkan Cake yang sudah tersisa seperempatnya di lantai. Lalu membersihkan pinggiran mulutnya dengan punggung tangan, sama sekali tak berperilaku layaknya 'Kaiba'.

"Lupa? Kemarin Seto-nii minta Yugi-nii ngajarin Ryuu cara duel, kan?" balas Ryuuga, bocah tengil bermarga Kaiba tersebut kembali memasang cengiran khasnya.

Yugi mengerenyit, ia mencoba mengingat perkataan Seto yang telah menghubunginya kemarin malam. Berhubung kondisi sinyal yang kurang baik, ia tak bisa mendengar dengan baik ucapan Seto. Walau samar-samar, ia mendengar kata 'duel' dan nama 'Ryuuga'.

"Tunggu, kenapa tidak kakakmu sendiri yang mengajarimu?" Tanya Jounouchi.

Ryuuga mengalihkan pandangannya pada Jounouchi, dan menjawab pertanyaan pemuda berambut pirang tersebut dengan nada suara yang terdengar agak malas. "Seto-nii sibuk dengan Kaiba Corp, jadi tidak sempat mengajari Ryuu. Makanya Seto-nii menyuruh Ryuu untuk belajar dari Yugi-nii," jawab Ryuuga.

"Heh! Dari pada dengan Yugi…" Jounouchi bangkit berdiri, lalu menunjuk dirinya sendiri memakai ibu jarinya. "Lebih baik belajar dariku! Aku juga tak kalah hebat dari kakakmu!" Seru Jounouchi sambil berpose ala Rock Lee.

"Ryuu mendingan belajar dari Yugi-nii daripada belajar dari Duelist Amatiran,"

GUBRAK!

"APA KATAMU?! SIAPA YANG AMATIRAN!?" bentak Jounouchi kesal, Ryuuga hanya mendengus pelan. "Jou-nii," jawabnya singkat, tanpa adanya rasa bersalah sedikit pun saat membalas bentakan Jounouchi.

Sebelum Jounouchi melayangkan jitakan pada Ryuuga, Yugi dengan cepat menahan Jounouchi dan menyuruhnya duduk. Sungguh, Yugi tak habis pikir dengan bocah sial bermarga Kaiba ini. Berbeda dengan Seto yang dingin, kalem dan keras. Atau Mokuba yang penurut walau sedikit kekanakan. Ryuuga lebih bawel, kekanakan, jahil, usil, cerewet dan keras kepala. Untungnya, Seto sudah bisa menerima keberadaannya.

"Lepaskan aku, Yug! Biar kuhajar bocah nakal ini!" seru Jou sambil memberontak, kedutan muncul lebih banyak di kepalanya. Untung saja Yugi cukup kuat untuk menahan Jounouchi yang meronta dan siap untuk menghajar bocah sok Innocent yang sedari tadi hanya nyengir kucing.

Sekitar 5 menit setelahnya, barulah Jounouchi tenang. Yugi berkali-kali mengelap peluhnya, tubuhnya berkeringat setelah harus berjuang untuk menahan Jounouchi yang hampir mengamuk. Sedangkan pelaku yang membuat Jounouchi naik darah, sedari tadi hanya asyik memakan Cake-yang sebenarnya milik Jounouchi- dengan tenang.

"Nee~ Yugi-nii?" panggil Ryuuga.

"Ya?" jawab Yugi, sambil tetap mengelap keringatnya.

"Kapan Yugi-nii mengajari Ryuu cara duel?" Tanya Ryuuga.

Yugi terdiam sejenak, sebelum mengalihkan pandangannya pada tumpukan buku yang masih tergeletak di pojok kamarnya. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada Ryuuga.

"Maaf, Ryuu. Bisa kau tunggu sebentar? Aku masih harus membantu Jounouchi menyelesaikan tugasnya," pinta Yugi, Ryuuga hanya mengangguk paham. Kali ini Yugi bersyukur kalau Ryuuga termasuk anak yang penurut jika diperintah secara baik-baik, walau lebih sering tulalit dan melanggar perintah.

"Tugas apa?" Tanya Ryuuga, terbersit rasa penasaran padanya.

"Membuat laporan tentang Mitologi yang ada di dunia,"

Kali ini, bukan Yugi yang menjawab pertanyaan Ryuuga. Melainkan Jou, mumpung pemuda berambut pirang tersebut sudah cukup tenang.

"Hee~ Mitologi~" Ryuuga tersenyum lebar dan gembira, tak heran jika mengingat bahwa Ryuuga menyukai hal yang berbau mitologi.

Jounouchi mengangkat sebelah alisnya melihat reaksi Ryuuga, "Kenapa?"

Ryuuga hanya memasang cengirannya, lalu membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Jou.

"Hehe, nggaa~ Ryuu Cuma teringat tentang Legenda China,"

"Hah?" Yugi dan Jou saling berpandangan, beda dengan Ryuuga yang tetap menyengir.

"Ng… Ryuu, kau tahu sesuatu tentang Mitologi China?" Tanya Yugi sedikit berharap, semoga saja Ryuuga bisa membantu mereka menyelesaikan tugas Jounouchi. Walau hanya sedikit, itu cukup membantu.

Ryuuga mengangguk, "4 Si Xiang,"

SIIINGG…

Jounouchi dan Yugi terdiam, terdiam mendengar nama yang luar biasa aneh yang terdengar di telinga mereka. Wajar, karena mereka termasuk orang Jepang yang sulit menyebutkan kata-kata yang sulit untuk mereka. Minus untuk Ryuuga, tentunya bocah itu tahu dan mengerti dengan jelas arti dan makna dari kata-kata itu, termasuk cara menyebutkannya. Mengingat anak ini sudah sering mendengar bahasa Alien yang sering diucapkan kakaknya.

"Er… Ryuu?" panggil Yugi.

"Ya~?"

"Apa yang kau bilang tadi?" Tanya Yugi.

"4 Si Xiang,"

"E…,"

Ryuuga mendengus pelan, ia melepaskan ransel yang sedari tadi ada di belakang punggungnya. Ransel yang tak pernah lepas darinya, dikarenakan isi dari ransel tersebut selalu dibutuhkannya di saat-saat tertentu. Bukan berarti sama dengan ransel milik Dora The Eksploler, isinya berupa alat elektronik canggih buatannya dan sebuah buku misterius. Dari mana dia mendapatkannya? Tentunya dari kakaknya tercinta a.k.a Seto, tak lupa kakak keduanya a.k.a Mokuba yang dengan kesabaran yang tinggi mengajarinya.

Ryuuga mengambil Laptop-nya, lalu membuka dan menyalakannya. Tangannya kembali menari di atas Keyboard, membuka folder, mencari file dan mengetik password. Cengirannya telah tergantikan oleh senyum kecil, hal yang cukup jarang dilakukannya. Kecuali saat-saat tertentu.

Sementara Yugi dan Jounouchi, hanya bisa terdiam melihat apa yang sedang dilakukan oleh Ryuuga. Memperhatikan gerak-gerik bocah tersebut.

"Nah," Ryuuga membalikkan Laptopnya, memperlihatkan apa yang ada di layar Monitor. Yugi dan Jounouchi mendekat, menatap dengan seksama apa yang ada di Monitor. Agak lama, sebelum Yugi menyadari sesuatu.

"Ah! Kalau tidak salah, ini 4 Hewan Legenda Penjaga Gerbang Mata Angin!" seru Yugi, tangannya menunjuk 4 symbol pada layar Monitor.

Jounouchi mengangkat sebelah alisnya, bukan apa-apa sih, sayangnya ia bukan orang yang tertarik tentang Legenda-Legenda atau Mitologi semacam ini. Berbeda dengan Yugi yang cukup berminat pada Mitologi, terutama Mesir. Bukan juga Ryuuga yang selalu antusias pada berbagai macam Mitologi.

"Hie? Yugi-nii tahu tentang 4 Si Xiang juga, ya? Di Jepang, 4 Si Xiang memang dikenal dengan 4 Hewan Legenda Penjaga Gerbang Mata Angin!" terang Ryuuga.

"Astaga… Ini Legenda yang cukup terkenal," ucap Yugi pelan, matanya tetap focus pada 4 symbol yang ada di layar Monitor.

Hanya Jounouchi yang terdiam, ia tak mengerti sama sekali apa yang sedang dibicarakan oleh Ryuuga dan Yugi. terutama 4 Symbol gambar yang ditunjukkan oleh Rga melalui layar Laptop-nya.

"Hei, aku yang tidak mengerti apa-apa. Memang apa arti dari gambar itu?" Tanya Jounouchi heran.

Ryuuga hanya tersenyum kucing, lalu mengarahkan tanda 'panah' pada layar menuju salah satu symbol yang ada pada layar. Menuju Symbol bergambar seperti harimau, Ryuuga menunjuk Symbol itu tepat di bagian tengah Symbol.

"Jou-nii, Symbol gambar ini berupa gambar Harimau. Namanya Bai Hu, nama Jepangnya adalah Byakko. Menurut legenda, Bai Hu adalah dewa penjaga dari daerah Wu yang berasal dari arah Barat. Tipe kekanakan, walau agak gila. Paling senang bersama Huang dari pada Feng, dikarenakan sifat mereka sama-sama gila. Wujud manusianya adalah tipe pengembara," terang Ryuuga, menjelaskan dengan cukup mendetail. Dan bukannya membuat Jounouchi paham, justru semakin bingung.

"Aku tetap tidak mengerti…"

Ryuuga dan Yugi saling berpandangan, lalu saling menepuk dahi mereka sendiri.

xXx

"Akhirnya selesaaaai!" Jounouchi tepar di atas ranjang Yugi, seluruh tubuhnya penat karena digunakan untuk berkutat pada buku-buku tua, mendengarkan penjelasan Ryuuga dan Yugi, lalu menulis Laporan.

Ryuuga dan Yugi juga sudah KO, mereka berdua tersungkur lemas di lantai. Wajar sih, membantu Jounouchi menyelesaikan tugasnya benar-benar memakan waktu, menguras stamina, bahkan memeras otak. Belum lagi Ryuuga yang hampir dehidrasi, tenggorokannya sudah kering secara drastis karena harus menjelaskan segala hal yang harus dijelaskan pada Jounouchi. Belum lagi jika mengingat Jounouchi yang rada kurang connect, Ryuuga harus menjelaskannya sampai berulang kali.

"Yugi-nii…" panggil Ryuuga.

"Ya…?" sahut Yugi lemas, tenaganya terkuras habis.

"Latihan duelnya besok saja…"

"Itu lebih baik…"

Baiklah, untuk sementara akan lebih baik jika kita biarkan mereka beristirahat…

Malam harinya…

"Akhirnya… seluruh kegiatanku hari ini selesai…" Yugi merenggangkan tubuhnya, sambil menutup pintu kamarnya. Setelah bersiap-siap sebelum tidur, Yugi segera berbaring pada ranjangnya yang empuk. Bersiap untuk menikmati nyamannya ranjang yang terasa hangat dan empuk, bersiap untuk masuk ke alam mimpi.

Tak sengaja, mata Yugi menangkap sebuah benda yang berada tepat di atas meja belajarnya. Benda berharganya yang terbuat dari emas murni, berbentuk Pyramid terbalik yang tersusun dari potongan-potongan Puzzle yang rumit.

Millennium Puzzle.

/Mou Hitori No Boku…/ batin Yugi, ia berbalik arah menuju meja belajarnya, lalu mengambil Puzzle tersebut. Ia memutar Puzzle itu, dan terlihatlah ukiran mata Udzat yang berada di bagian tengah Puzzle tersebut. Symbol yang sudah tak asing lagi untuknya.

Sekali lagi, Yugi mengalihkan pandangannya pada lengannya. Terlihat jelas kalau tubuhnya bergetar, bergetar karena suatu hal.

Yugi menutup matanya sejenak, sebelum kembali membukanya. Seketika, ruang kamarnya sudah tergantikan oleh labirin. Labirin yang sudah tidak asing lagi di matanya, labirin yang menjadi tempat tinggal bagi 'seseorang' yang berada di dalam dirinya.

'Diri lain'nya yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

'Diri lain'nya yang sudah dianggapnya sebagai sahabat sejati.

'Diri lain'nya yang selalu menariknya dari keterpurukan.

'Diri lain'nya yang mirip dengannya.

'Diri lain'nya yang sangat disayanginya.

Mou Hitori No Boku.

Yugi melangkahkan kakinya, berjalan menuju sebuah pintu yang berada tepat di depannya. Pintu yang berbeda dari pintu lain, begitu berbeda… karena warnanya. Pintu itu hanya pintu biasa yang sama seperti pintu-pintu lain, tapi memiliki perbedaan yang terlihat jelas.

Pintu itu… ternodai oleh darah merah.

Yugi berhenti melangkahkan kakinya, tepat di depan itu tersebut. Pemuda berambut hitam jabrik bagai bintang itu membuka pintu tersebut, dan memasuki ruangan yang ada di dalamnya.

xXx

Sekali lagi, darah kembali mengalir keluar dari telapak kaki seorang pemuda yang tengah memasuki ruangan tersebut. Pijakan di ruangan yang tengah ia masuki, sudah dipenuhi oleh pecahan-pecahan kaca. Telapak kakinya kembali terluka, kulitnya pun kembali sobek, aliran darah pun mengalir keluar dari balik kulitnya yang telah sobek akibat pecahan kaca.

Pemuda itu tak akan peduli, tak akan pernah peduli. Rasa sakit dan takut akan kehilangan seseorang yang berada di depannya jauh lebih besar, seseorang yang berada di balik dinding kaca yang tebal dan berlapis-lapis.

Tepat di pertengahan dinding kaca tersebut, pemuda itu berhenti melangkahkan kakinya. Ia terdiam sejenak, sambil berusaha melihat seseorang yang berada di seberangnya. Seseorang yang tengah duduk bersandar pada dinding di belakangnya, seseorang yang memiliki paras yang mirip dengannya.

"Mou Hitori No Boku…" gumam pemuda itu, sebelum kembali mengangkat tangannya…

PRAAAANGG!

TBC


Ru: Beh~ *tepar*

Jou: Cuman gw yang ngerasa ato emang gw yang jadi paling blo'on di sini?

Ru: Kenyataan…

Yugi: *nahan Jounouchi*

Atem: Ru, lu dapet dari mana tuh 4 Si… si… apa?

Ru: 4 Si Xiang?

Atem: Apalah sebutannya, dari mana tahunya? Lagian emang bakalan digunain tuh?

Ru: Iyun, nanti bakal nongol. Buat yang Gak ngerti 4 Si Xiang, atau 4 Hewan Legenda Penjaga Gerbang Mata Angin. Biar saya jelaskan dulu~

xXx

Bai Hu
Harimau putih. Menurut legenda, Bai Hu adalah dewa penjaga dari daerah Wu yang berasal dari arah Barat. Tipe kekanakan, walau agak gila. Paling senang bersama Huang dari pada Feng, dikarenakan sifat mereka sama-sama gila. Wujud manusianya adalah tipe pengembara yang bersenjatakan panah, tapi sering terlihat dalam warna putih. Nama lainnya adalah Jian Bing, nama Jepangnya adalah Byakko.

Zhu Que
Burung merah. Menurut legenda, Zhu Que adalah dewa penjaga dari daerah Wei yang berasal dari Selatan. Sering panik, terutama pada Feng. Sering beradu mulut dengan Bai Hu atau Jian Bing, tapi memiliki perhatian lebih pada Feng. Wujud manusianya adalah bangsawan yang tinggal di istana tapi lebih dominant pada warna merah. Nama lainnya adalah Ling Guang, nama Jepangnya adalah Suzaku.

Qing Long
Naga biru. Menurut legenda, Qing Long adalah dewa penjaga Shu yang berasal dari Timur. Yang paling cuek di antara keempat Si Xiang, tapi juga paling menyebalkan pada Feng. Dia juga yang paling sering bersama Feng, tapi juga membenci Huang. Wujud manusianya adalah anak-anak, walau kadang menuju wujud orang bijak yang bermeditasi di atas gunung dengan warna yang dominant pada warna biru. Nama lainnya adalah Meng Zhang, nama Jepangnya adalah Seiryu.

Xuan Wu
Kura-kura Hitam. Menurut legenda, Xuan Wu adalah dewa penjaga segala sesuatu yang berada di luar tiga kerajaan dari arah utara. Yang paling tua di antara semuanya, juga yang paling bijaksana. Sering kali membantu Feng, walau tak terlalu sering berdekatan pada Huang. Wujud manusianya adalah seorang pria dewasa yang memakai pakaian jendral, lebih dominant pada warna hitam. Nama lainnya adalah Zhi Ming, nama Jepangnya adalah Genbu.

xXx

Atem: Eit! Bentar! Feng dan Huang itu siapa? Atau 'apa'?

Ru: 2 Phoenix dari China

Atem: Phoenix? Bukannya Suzaku? Kenapa Feng dan Huang juga Phoenix

Ru: Beh~ Feng dan Huang berbeda, mereka Phoenix yang lebih memiliki banyak warna khas China~ Feng melambangkan Matahari dan Huang melambangkan Bulan, Feng memiliki kekuatan untuk menghancurkan dan Huang memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Menurut Legenda, merekalah yang akan membawa kedamaian di China!

Yugi: Semangat banget…

Ru: Tentu saja!

Jou: Apa hubungannya Legenda super aneh dan tak berguna ini dengan Fic Mirror Wall?

Ru: Ada dong! Terutama Phoenix! Karena dalam Mitologi Mesir, Phoenix merupakan symbol dari Dewa Matahari-Ra!

Malik: *nongol* Kau jangan ngawur, masih ada Bennu yang dikatakan sebagai Phoenix juga!

Atem: Justru kau yang tidak tahu, Malik… Bennu dikatakan sebagai jiwa yang berasal dari Dewa Matahari Ra, ia bisa diibaratkan sebagai 'kebangkitan' matahari. Bukan berarti Phoenix…

Jounouchi: Bisa lebih jelas… tentang apa? Fe-…

Ru: Feng dan Huang

Jounouchi: Apalah itu namanya, susah disebut…

Yugi: *bengong*

Atem: Kenapa memakai Feng dan Huang? Bukannya sudah ada Ra yang menjadi Phoenix Mesir?

Ru: Bukan Feng dan Huang, tapi 4 Si Xiang yang akan dipakai

Yugi: Anu…

Atem/Ru: Ya?

Yugi: Kita belum balas Ripiu…

Ru: *sweatdrop* lupa…

Atem: Oke… yang pertama

To Gia-XY: Thanks for the Review~

Yugi: Tau tuh! Enak aza Ru pake bikin gw mesti nonjok kaca jejadian itu nyampe tangan gw yang atletis ini luka-luka!

Ru: Atletis dari mana…? Ceking gitu…

Atem: Mau bagaimana lagi? Peranku untuk beberapa chapter memang Cuma menunggu, mau ngebantu… dapat tiket masuk kamar siksaan, ya sudah… diam saja

Ru: Udah Updateeee!

xXx

To Litte Yagami Osanowa: Thanks for the Review~

Ru: Kacanya nyolong punya Paman Gober, tapi diproduksi n di sempurnain di KC. Nyarinya susah tuh, mesti dikejer traktornya Paman Gober…

Atem: Namanya juga Prologue, jelas saja kalau pendek

Yugi: Bikin penasaran, ya? Hobinya bocah Author edan ini… *nunjuk Ru*

Atem: Namanya juga peran… ya sudah, santai dulu…

Ru: Udah Lanjuuuut!

.

.

Atem: Udah nih?

Ru: Iyun, akhir kata…

Yugi/Ru/Atem: Hontou ni Arigatou minna-tachi!