Disclaimer : © Masashi Kishimoto.

Inspirated manga Boyfriend © Daisy Yamada.

Warning : Shounen-ai, Yaoi, OOC parah, gaje, abal, alur gajelas, dll.

Pair : SasuNaru, yang lain akan menyusul.

Genre : General, Friendship, Romance.

Rate : T

.

.

.


Chapter 2


"Sasuke, ya?"

"Hn. Nih kelasmu," Sasuke menunjuk pintu kelas yang bertuliskan 2-B.

"Makasih sudah mengantar! Kalau kau kelas 2 berapa, Sasuke?" tanya Naruto.

Dengan santai, Sasuke masuk ke kelas 2-B. "Sama denganmu," jawabnya singkat. Naruto hanya ber-oh ria dan kembali mengikuti Sasuke di belakang. Saat mereka berdua masuk, ternyata ada Kakashi-sensei yang sedang mengajar di kelas.

"Uchiha Sasuke, darimana saja kau? Pelajaran sudah mulai dari 1 jam yang lalu," Kakashi bertanya kepada Sasuke dengan nada sedikit mengancam.

Sasuke tidak menjawab, malahan pemuda raven itu tidak menghiraukan senseinya dan langsung berjalan ke mejanya yang ada di pojok belakang dekat jendela.

Guru bermasker itu hanya menghela nafas. Memang susah sekali menghadapi Uchiha, apalagi ini yang bungsu.

"Dan kau?" tanya Kakashi, kali ini kepada Naruto.

"Aku murid pindahan baru, Sensei!" jawab Naruto kelewat bersemangat.

Tampaknya, Sensei bermasker itu tersenyum melihat tingkah Naruto. Terlihat dari matanya yang membentuk huruf U terbalik.

'Manis sekali anak ini. Ingin kucium,' batin Kakashi–mesum.

"Murid pindahan? Kalau begitu silahkan perkenalkan dirimu,"

"Namaku Uzumaki Naruto, 15 tahun. Salam kenal!" Naruto memperkenalkan dirinya di depan kelas sambil tersenyum manis. Membuat beberapa laki-laki di kelas 2-B itu blushing.

'Manis banget,' kira-kira itulah yang ada dipikiran mereka.

"Hmm.. Naruto. Kau duduk di sebelah Uchiha Sasuke," ujar Kakashi-Sensei seraya menunjuk bangku kosong sebelah Sasuke.

"Oke, Sensei," Naruto berjalan dan langsung duduk di bangku yang ditunjuk Senseinya itu.

Setelah dia duduk di bangkunya, dia mendengar banyak perempuan yang berbisik-bisik seperti "Ah, enaknya duduk di sebelah Sasuke-kun," atau "Uuhh... curang!" atau seperti "Padahal aku ingin duduk di sebelah Sasuke-kun,"

Naruto tertegun sejenak dan menoleh ke samping kirinya.'Sepertinya dia sangat populer,ya.' pikir Naruto.

Bel istirahat sudah berbunyi. Anak laki-laki kelas 2-B langsung mengerubungi meja si murid pindahan A.K.A Naruto.

"Yo, Naruto! Namaku Inuzuka Kiba. Panggil saja Kiba. Salam kenal," anak yang di wajahnya mempunyai tato segitiga terbalik, mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Naruto. Naruto membalas menjabat tangan Kiba "Salam kenal juga, Kiba."

"Hyuuga Neji," Kali ini yang bicara adalah pemuda tampan berambut panjang yang berwarna coklat.

"Salam kenal, Neji." Naruto dengan semangat menjabat tangan Neji juga.

Naruto juga berkenalan dengan Shikamaru Nara (pemuda malas, tapi jenius), Kankurou, Utakata, Menma, Sakura, Ino, Hinata, dll. Naruto merasa senang karena temannya yang sekarang, baik-baik.

"Aku mau pergi ke toilet sebentar," kata Naruto.

"Kau mau pergi ke toilet? Mau kutemani?" tawar Menma pada Naruto.

"Nggak usah. Aku bisa sendiri," Naruto langsung bangkit dari tempat duduknya, pergi ke luar kelas, dan menuju ke toilet.

Setelah selesai ke toilet, Naruto bergegas kembali ke kelasnya.

Saat di depan pintu kelas, Naruto bisa mendengar orang yang sedang mengobrol.

"Hei, menurutmu kenapa si Naruto pindah ke sekolah kita, ya?"

DEG!

Tangan Naruto yang tadinya ingin menggeser pintu kelas, terhenti seketika.

"Entahlah, mungkin sekolah kita lebih bagus daripada sekolahnya yang dulu,"

DEG!

"Tidak, kok! Aku dengar sekolahnya yang dulu itu lebih keren dari sekolah kita,"

DEG!

Keringat dingin mulai muncul dan sekujur tubuhnya gemetar.

"Atau jangan-jangan... dia ada masalah dengan teman-teman di sekolah lamanya?"

Naruto kaget dan langsung berlari ke arah belakang sekolah.

"Haah.. Haah. Jangan-jangan mereka tau? Ba─bagaimana ini?" kata Naruto sambil menormalkan nafasnya.

Dia ketakutan kalau mereka tau tentangnya di sekolah yang dulu, mereka akan menganggap Naruto pengecut, pecundang, lemah, cengeng dan pasti dia akan ditindas lagi.

'Ga─gawat…' tetap saja Naruto tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya itu.

"Oi, Dobe." panggil seseorang kepada Naruto.

Naruto menoleh ke arah orang itu dan marah-marah.

"Kau! Seenaknya saja memanggilku Dobe! Dasar Teme!"

"Ngapain kau disini? Sudah bel masuk," kata Sasuke, datar.

"Itu bukan urusanmu, Teme!" jawab Naruto, sedikit membentak.

Sasuke mengangkat satu alisnya. Heran dengan sikap Naruto.

Mereka saling diam sampai tiba-tiba Sasuke mengangkat tubuh Naruto dan menaruh tubuh yang lebih ringan darinya itu di sebelah kanan pundaknya.

"Teme! Apa-apaan kau! Turunkan aku!" teriak Naruto. Yang diteriaki malah cuek bebek dan masih melanjutkan acara berjalannya sambil menggendong Naruto.

'Brengsek! Kenapa dia menggendongku seperti ini?' batin Naruto.

"A─aku malu! Turunkan aku! HEEEII!" teriaknya. Sudah pasti orang malu kalau digendong seperti ini, kan?

TAP TAP

Suara langkah kaki Sasuke terdengar jelas di lorong sekolah yang kini sedang kosong.

"Sekarang lagi jam pelajaran, jadi nggak akan ada yang lihat," kata Sasuke.

TAP TAP

Saat dikira sudah sampai, pemuda tampan itu menurunkan Naruto.

"TUNG─!" teriakan Naruto terpotong karena Sasuke menurunkan Naruto dari pundaknya dengan ehm lembut dan hati-hati.

'Eh?'

Ternyata Naruto di turunkan di depan pintu kelas 2-B.

Sasuke hanya diam, sedangkan Naruto menggenggam ujung jas sekolahnya erat. Dia takut untuk masuk.

Pemuda raven yang sepertinya mengetahui itu, langsung menepuk sambil sedikit mendorong punggung Naruto untuk maju.

"Kamu mau berjuang, kan? Buruan masuk sana," kata Sasuke.

'Jangan-jangan dia ta─' batin Naruto.

"A─apa, sih?!" sahut Naruto.

Saat menoleh ke belakang, Naruto melihat Sasuke berjalan pergi menjauhi kelas.

"Lho? Dia nggak ikut pelajaran?"

Naruto menatap pintu kelasnya dengan pandangan ketakutan. Kemudian, dengan ragu-ragu dan tangan yang gemetar, dia menggeser pintu kelasnya.

Ketika Naruto masuk─

"Naruto!"

"Ke toilet lama banget,"

"Dari mana aja, sih?"

"Kenapa, kenapa? Naruto tersesat?"

Kira-kira begitu semua pertanyaan dari teman-temannya saat melihat Naruto masuk ke kelas.

"Ah,"

Menma dan yang temannya yang lain juga melihat Naruto terlambat masuk ke kelas, datang menghampirinya.

"Kamu nggak apa-apa, Naruto? Kami khawatir kau kenapa-napa,"

"Nggak apa-apa kok," Naruto tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Oi, ayo kembali ke pelajaran!" seru Asuma-Sensei yang sedang mengajar.

"Baik, Senseiiiii." Murid-murid 2-B yang tadinya gaduh, kembali konsentrasi ke pelajarannya.

Sepertinya tidak ada yang berubah dari teman-temannya. Ketakutan Naruto yang tadi, jadi hilang sepenuhnya.

'Syukurlah, aku kembali.' pikir Naruto, senang.

Tanpa memperhatikan dua pasang mata yang menatapnya curiga.

"Kalian bisa menjawab pertanyaan kedua?" ujar Kurenai-Sensei di depan kelas.

"Ini sudah dipelajari di kelas 1. Sudah berkali-kali. Jadi mudah, kan?"

"Nah, jawab pertanyaan ini─"

'Ukh, mudah-mudahan bukan aku!' batin Naruto.

"Hinata Hyuuga, kerjakan."

"Ba─baik, Sensei."

Mendengar namanya tidak dipanggil, pemuda pirang itu menghela nafas lega. Setelah Hinata selesai mengerjakan soal di papan tulis, Kurenai-Sensei tersenyum.

"Ya, sempurna. Kalau begitu, bahan untuk tes hari Senin nanti sampai pelajaran hari ini, ya."

"Ini hanya mengulang pelajaran gampang, kan?!"

Setelah berkata begitu, bel pulang sekolah berbunyi dan Kurenai-Sensei keluar dari kelas 2-B.

'Bagaimana ini?'

"Bye, Naru. Aku ke klub ya!" seru Menma dan Kiba, bersamaan.

"Ya, Selamat berjuang." balas Naruto dengan senyum yang dipaksakan.

'Kalau aku dapat nilai 0, mungkin semuanya akan menganggap aku bodoh,' pikir Naruto, dengan lesu dia keluar dari kelas 2-B.

Dia tidak langsung pulang ke rumahnya, tapi pergi ke perpustakaan kota Konoha.

Naruto masuk ke perpustakaan itu, lalu duduk di kursi yang ada di sana.

'Aku lama nggak sekolah. Apa itu juga akan ketahuan?' Naruto berpikir dengan pandangan kosong.

GREB!

Dia tiba-tiba menggenggam buku yang dibawanya.

"Ng─nggak mau!"

'Aku nggak mau ketahuan!'

'Masih ada 3 hari. Aku akan berusaha!' tekad si pemuda pirang.

Naruto membuka buku Matematikanya dan mulai belajar.

[ H-3, Perpustakaan Kota Konoha.]

Sehabis pulang sekolah, Naruto tetap ke perpustakaan itu untuk belajar agar mendapatkan nilai bagus di ulangan nanti.

Saat Naruto belajar di meja panjang biasanya, ada sepasang mata onyx yang tidak sengaja melihat Naruto sedang serius belajar.

'Si Dobe,' pikir Sasuke. Dia memutuskan untuk tidak peduli dan kembali mencari buku yang ingin dipinjamnya di rak.

[ H-2, Perpustakaan Kota Konoha.]

"Nggak bisa,"

"Sama sekali nggak ngerti," keluhnya.

Naruto kembali menaruh pulpennya di meja perpustakaan dan mulai membereskan buku-bukunya.

"Yang lain juga, apa ada di buku pedoman, ya?"

[ H-1, Perpustakaan Kota Konoha.]

Walaupun libur, rupanya murid pindahan itu tetap pergi ke perpustakaan.

Naruto kini berdiri di antara rak buku dan membaca sebuah buku, mencoba mengerti penjelasan di buku tesebut.

'Tidak ada satupun soal yang kubisa,'

PRAK

Dia menutup buku pedoman Matematika yang tadi dibacanya. Naruto duduk di lantai dan memeluk lututnya erat.

'Padahal tesnya besok,'

Cairan bening perlahan turun dari mata biru Naruto.

"Uhh."

'Aku... masih belum mau menyerah,'

Selama beberapa menit, Naruto tetap duduk dan memeluk lulutnya.

Padahal di depannya ada seorang pemuda tampan berambut ravan yang berdiri diam sambil memperhatikan pemuda pirang di bawahnya.

Selesai mengusap air mata, Naruto menoleh ke atas dan mendapati Sasuke yang memakai kaos dan jaket yang tidak di resleting sedang menatapnya datar.

'EH! Kenapa ada dia?!' batin Naruto.

"Mengganggu," Sasuke berkata, dingin.

Pemuda bermata biru mencoba berdiri tapi bertabrakan dengan tubuh Sasuke dan menyebabkan buku yang dibawa Naruto jatuh semua.

'Sialan!' pikir Naruto, kesal.

Naruto duduk lagi di bawah lalu membereskan bukunya yang berserakan di lantai. Sasuke juga tidak tinggal diam, dia ikut duduk di bawah dan membantu Naruto membereskan buku.

Pemuda berambut raven itu mengambil sebuah buku.

"Matematika?"

"AH!" Naruto segera merebut buku itu dari tangan Sasuke.

"Jangan-jangan kau nggak bisa matematika, terus nangis?" tanya Sasuke sambil menyeringai.

TAP TAP

"KH!" Naruto mendengus kasar dan meninggalkan Sasuke.

"..."

Sasuke memperhatikan Naruto yang rupanya kembali ke meja.

"Yang benar saja!"

Naruto menggeser kursi dan duduk di sana. Sasuke juga mengikuti pemuda pirang itu dan duduk di belakang Naruto sehingga mereka duduk saling membelakangi.

"Mana mungkin aku begitu!"

"Jangan ribut!" tegur penjaga perpustakaan kepada Naruto.

Naruto langsung diam seketika karena teguran itu. Dia kembali melanjutkan acara belajarnya.

"Adik keluar rumah dengan berjalan, 6 menit kemudian kakak mengejar adik dengan sepeda."

"Dalam kecepatan setiap menitnya adik maju 50 m, dan kakak maju 200 m. Berapa menit kakak menyusul adik?"

Naruto membaca soal di buku itu dengan pelan, tapi masih dapat di dengar jelas oleh Sasuke.

"Ngg…" pemuda manis itu sedang berpikir.

"6 menit!" jawab Naruto, percaya diri.

"2 menit," sahut Sasuke, mengoreksi jawaban Naruto yang salah.

"Oi, Teme. Gara-gara kau, aku kena marah. Jadi tolong diam, dong!" Naruto menoleh ke belakang tempat Sasuke duduk.

"Heh, Dobe. Bukannya suaramu yang keras itu yang ribut?"

Setelah berkata begitu, Sasuke memutar badannya ke belakang dan menatap Naruto.

"Cih!" decih Naruto.

"Soal yang tadi dijawab dengan rumus persamaan yang pertama. Kamu kerjakan terus, tapi nggak ngerti sama sekali, 'kan?"

Pemuda berambut raven bangkit dari kursinya dan mendekat pada Naruto.

"Soal yang begini… mau kuajari?"

"Hah? Nggak usah! Jangan ganggu aku!" tolak Naruto, kembali fokus pada buku.

"Ng... 2 menit, ya."

Sasuke baru saja akan kembali ke tempat duduknya sampai...

"Lho... kenapa 2 menit?" tanya Naruto, entah kepada siapa.

"Makanya..." sela Sasuke.

TEP!

Sasuke menaruh tangannya di meja Naruto dan mengurung Naruto di antara kedua tangannya.

"Pertama-tama buat rumusnya dulu,"

'GHEH!'

"Pertama, bikin umpama x–hei, dengar dong!"

Pemuda raven mendecak kesal karena dia baru saja akan menjelaskan jawabannya, Naruto malah menarik diri dan bukunya menjauh dari Sasuke.

"Ungkapkan kondisi dengan salah satu cara, lalu pakai rumus persamaan pertama," jelas Sasuke.

"Ka–kau cuma mau mengejekku, 'kan?!" kata Naruto.

"Aku nggak akan bilang terima kasih!" ucapnya lagi.

"Hn. Nggak apa-apa. Aku cuma berpikir kalau orang bodoh itu menarik," kata Sasuke sambil megambil salah satu buku Naruto.

"Yang ini?"

"..." Naruto tidak menjawab.

"Pertama, waktunya adalah x. Kakak mengejar adik. Jarak yang mereka tempuh sama, kan? Adik plus 6 menit. Kedua hal ini sama. Dengan rumus seperti ini, kalau dipecahkan berarti x=2. Jawabannya 2 menit," jelas Sasuke panjang lebar.

'Caranya begini,' batin Naruto.

"Ada 3 soal yang mirip. Coba kerjakan," ujar Sasuke.

"I–iya!" jawab Naruto.

Saat Naruto sedang mengerjakan soal…

"Lho? Tunggu. Kenapa di sini jawabannya ini?"

Sadar Naruto sedang kesulitan mengerjakan soal, Sasuke mendekatkan wajahnya ke dekat belakang kepala Naruto.

"Soal ap–"

DUK!

"Aku ngerti!"

Naruto bangun tiba-tiba dan alhasil dagu Sasuke sukses jadi korban tabrakan kepala Naruto.

"Aku ngerti!" sahut Naruto dengan memasang tampang yang super polos sambil memegang kepalanya yang sakit terkena benturan tadi.

"Puh, ternyata orang bodoh itu memang nggak membosankan." Kata pemuda raven tersebut, tertawa kecil.

'HEE! Ter–tertawa!' batin Naruto, kaget.

Pemuda berambut raven itupun kembali melanjutkan mengajari Naruto materi untuk ulangan besok.

"Sepertinya aku bisa?"

"Nah, sudah kutandai. Pelajari sampai di sini," Sasuke sedang memberi tanda soal yang harus Naruto pelajari di rumah.

"Baiiiik," jawab Naruto.

Sasuke berjalan dari kursinya dan menepuk pelan kepala Naruto menggunakan buku.

"Berjuanglah,"

"Naruto, akhir-akhir ini kamu sering terlambat pulang. Kamu baru saja masuk sekolah baru dan kamu gampang terkena serangan. Jadi jangan memaksakan diri," nasihat Iruka, paman Naruto.

"Ya. Nggak apa-apa. Paman jangan khawatir. Teman-temanku juga baik-baik. Sepertinya aku akan menyukai sekolah yang ini,"


"Tes dimulai," kata Kurenai-Sensei kepada murid-murid 2-B.

Saat Naruto melihat lembar soalnya dia terkejut. 'Soal-soal yang dikerjakan kemarin lumayan banyak keluar!'

'Hebat! Mungkin aku bisa!' semangat Naruto.

"Sebelum pulang, akan Ibu bagikan hasil tesnya,"

'Tepat seperti yang kupelajari kemarin,'

"Soal yang susah juga ada,"

"Rata-rata dapat nilai 70, deh," kata teman-teman Naruto.

"Uzumaki," panggil Kurenai-Sensei.

"Ya, Sensei!"

"Ini," Kurenai-Sensei menyerahkan lembar jawaban Naruto.

"Yatta!" Naruto tersenyum senang dengan nilainya.

"Naruto gimana?" tanya Utakata.

"Dapat delapan puluuuuh!" serunya, terlalu senang.

"Waduh,"

"Ahahaha. Senang banget, ya."

"Tentu saja!"

Sasuke yang mendengar nilai ulangan Naruto, tersenyum kecil lalu meninggalkan kelas 2-B.

"Ng? Naruto penerapannya benar, tapi dasarnya salah!" teliti Utakata sambil melihat lembar jawaban Naruto.

"Geh! Benarkah?"

"Belajarnya terlalu mendalam sih,"

"Uwah. Sayang tuh, Naruto."

'Syukurlah, nggak ketahuan.' Pikirnya. 'Berkat sihir si Teme, ya.'

Naruto menoleh ke arah kursi Sasuke dan mendapati tempat duduk Sasuke yang kosong.

'Teme,'

Naruto terus berlari di sepanjang koridor sekolah. Mencari seseorang.

"Apa sudah pulang?"

'Aku harus bilang terima kasih,'

Naruto juga mencari orang itu dengan melihat lewat jendela. Dia melihat ke sekitar bawah.

'Itu dia!' Akhirnya ketemu juga.

Begitu melihat Sasuke ada di belakang sekolah, Naruto lantas berlari secepat mungkin ke sana.

SRAK!

Suara sepatu Naruto yang menginjak dedaunan kering membuat Sasuke yang sedang berdiri menyeder di pohon menoleh ke asal suara tersebut.

'Dobe,'

"Mau apa?" tanya Sasuke, tatapannya kembali lurus ke depan.

"A─aku mau bilang terima kasih!" sahut Naruto.

"Te─terima kasih,"

"Fuh," Sasuke menghela nafas ringan dan menatap Naruto. "Bukannya kamu bilang nggak akan berterima kasih?"

"Aku berubah pikiran!"

"Hn. Begitu,"

'Ah, bodoh kau Naruto! Bukan begitu caranya!' batin Naruto.

"Ah... ng..."

"Terima kasih, Sasuke!" kali ini Naruto mengucapkannya sambil tersenyum lebar.

Mata onyx itu sedikit melebar melihat senyum Naruto. Sasuke menoleh dan kembali menatap Naruto dalam. Sadar ditatap dalam seperti itu, Naruto memalingkan wajahnya ke samping.

'A─aku nggak bisa kembali menatapnya,' pikir pemuda bersurai pirang itu.

Sasuke memejamkan matanya dan tersenyum lembut.

"Sama-sama," ujarnya, akhirnya.

"Kh─!"

Naruto menoleh dengan wajahnya yang masih merah.

'Gimana nih?! Aku senang. Senang sekali,' batinnya.

Bungsu Uchiha itu kembali memandan lurus ke depan. Rambutnya tertiup angin dan itu membuatnya tampak semakin keren.

'Syukurlah aku pindah sekolah. Karena dengan begitu, aku bisa bertemu dengan Sasuke,'

.

.

.


TBC!


Ng... Review?