Chapter 2 update! Semoga readers sekalian menyukainya!
Happy Reading!
Declamair: Vocaloid punya Yamah dan Crypton!
Rin P.O.V
Huah… Sudah pagi. Cepat sekali waktu berlalu jika menikmatinya! Jika sedang dijahili, rasanya waktu berjalan 100 tahun!
Setelah aku mengumpulkan kesadaran secara penuh, aku segera bangun dari tempat tidurku dan langsung melesat ke kamar mandi! Air hangat! Aku datang!
Setelah tiba di kelas, aku hanya melihat Miku dan…Len, pemuda kuning yang sangat menyebalkan! Keduanya menatapku bersamaan.
"Ohayou, Rinny~~" ucap si Kuning Berjalan, Len dengan senyum lebar di bibirnya.
"Ohayou," jawabku malas. Aku segera berjalan ke kursiku di sebelah Miku.
"Rin-chan disapa artis 'kok cemberut 'sih?" tanya Miku dengan nada jahilnya.
"Malas aku berurusan dengannya!" jawab Rin cepat. Len hanya pura-pura tak dengar saja.
"Rinny, mulai sekarang aku pindah ke kelas kalian loh~~" ucap si Banana Mania dengan senangnya. WHAT?! KE KELASKU?!
"Jangan bercanda!" balasku ketus.
"Aku serius, Rinny~~~" ucapnya dengan senyum bodohnya.
"Pagi-pagi sudah pacaran. Masih jam 05.12 sudah pada ngumpul di sekolah? Anak rajin!" ucap sebuah suara dari arah pintu. Aku, Miku dan Len menoleh ke pintu. Terlihat seorang pemuda berambut biru laut dengan syal biru di lehernya dan ia mengenakan seragam SMA Yamaha.
"Kaito? Kenapa di sini?" tanya Len pada pemuda itu. Jadi, dia yang namanya Kaito Shion yang dipuja-puja semua murid cewek di SMA Yamaha? Lumayan 'sih. Tapi, hentai…
Aku menoleh ke arah Miku. Dia diam membatu di tempat. Hahaha… Pasti grogi ketemu Kaito-senpai. Aku kembali melihat ke Kaito-senpai yang sedang berjalan ke mejaku.
"Len, kau bilang tak punya pacar. Sekarang, pagi-pagi sudah diperebutkan dua cewek," goda senpai mesum itu. Aku? Memperebutkannya? NO WAY!
"Kaito, mereka tak memperebutkanku. Meski aku mau 'sih kalau Rinny…" ucap Len dengan bisikan di akhir kalimat. Padahal aku bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku dengar Banana Freak!" ucapku. Ia malah senyum-senyum gaje.
"Oh ya, nama kalian siapa?" tanya Kaito-senpai sambil menunjukku dan Miku yang membeku seperti es.
"Aku Rin Kamine, yoroshiku," ucapku, Kaito-senpai mengangguk. Kemudian aku, Len dan Kaito-senpai menatap Miku bersamaan. Miku yang sadar ditatap kembali ke dunia nyata.
"M-Miku…H-Hatsune…" bisik Miku gugup. Cinta pertama 'ya?
"Miku-chan lucu 'ya," ucap Kaito-senpai dengan senyum. Aku melihat Miku pingsan dengan senyum, wajah merah, mata berbentuk hati dan darah yang mengalir dari hidungnya. Bisa mati bahagia 'tuh!
"Miku! Dia mimisan!" pekik Kaito-senpai yang langsung menggoyang-goyangkan tubuh Miku yang terkulai lemas di atas kursinya.
"Biarkan saja, toh, dia bahagia…" ucap Len sambil menopang dagu dan memakan pisang yang didapatnya entah dari mana.
"A-aku tak apa…" ucap Miku yang kemudian bangun sambil mengelap mimisannya.
Aku dan yang lainnya mengobrol cukup lama. Beruntung kami masuk jam 09.00. Jadi, masih lama!
Saat pelajaran dimulai, Len selalu melempar bola kertas ke arahku. Apa maksudnya 'sih? Ganggu tahu!
Akhirnya, selama pelajaran aku diganggu oleh si Banana Freak sementara Miku yang kadang kena bola kertas malah ngayal sambil ngeluarin iler. Ngebayangin Kaito-senpai 'kali ya?
Yang pasti, aku gak bisa konsentrasi gara-gara DIA!
Bel istirahat berbunyi, aku segera membuka kotak bekalku. Len langsung menghampiri mejaku. Ia memutar kursi di depan mejaku dan sekarang ia berada di hadapanku.
"Kenapa kau melempariku kertas?" tanyaku ketus. Ia hanya nyengir selebar senyuman MONYET!
"Hanya mencari kesenangan ditengah pusingnya otak," jawabya dengan cengiran kuda.
"Wah… Udah pada makan duluan 'nih. Boleh gabung 'gak?" tanya sebuah suara. Aku dan Len menoleh dan mendapati Kaito-senpai sedang berdiri di depan mejaku dengan senyum. Ku alihkan pandanganku pada Miku yang membeku. Astaga, Miku… Segitu cintanya Putri Lolita dengan Pangeran Hentai? Dunia makin aneh!
"Silahkan," ujar Len mempersilahkan Kaito-senpai duduk di bangku sebelahnya, berhadapan dengan Miku yang makin membeku.
Kami berempat makan bento kami dengan tenang. Hanya bisikan gosip beberapa gadis yang menghiasi kelas ini. Ku yakini itu adalah fans Len dan Kaito. Miku yang tadinya membeku segera membuka kotak bekalnya dan memakannya dengan sangat cepat.
"Permisi…" tunggu suara siapa itu? Aku baru pertama kali mendengar suaranya. Agak lirih 'sih.
Aku menatap Len, Kaito dan Miku bergantian tanpa menegakkan kepalaku yang sedikit menunduk. Kulihat wajah mereka bertiga terlihat pucat.
"Apa aku mengganggu…?" ucap suara itu lagi. Kami berempat melihat ke pinggir meja dnegan ragu-ragu. Wajah kami berempat langsung pucat seketika melihat seorang gadis berambut merah yang membawa pisau dapur yang biasa untuk memotong daging di tangannya. Sebagian wajahnya tak terlihat karena tertutup rambut.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~~~~~~~~~~~" teriakku, Miku, Len dan Kaito. Oh, Kami-sama. Inikah akhir hidup hambamu yang sudah sedikit berubah nasibnya?
"Apa kalian takut…?" ucap gadis itu sambil menyingkirkan rambutnya yang menutupi matanya dengan bandana berwarna putih dengan garis merah darah disisinya.
"Kiku! Jangan nakutin!" teriak Miku, wajahnya masih pucat. Len dan Kaito masih memegangi dada kiri mereka sambil mengatur nafas.
"Hampir jantungku copot…" gumam Kaito. Miku langsung terlihat panik.
"Kalau Senpai mati, nanti aku bagaimana?~~" ucap Miku dengan dramatis, ditambah penampilan Lolitanya menambah kesan dramatis dari ucapannya.
"Jadi… aku bagaimana?" suara Kiku kembali terdengar, dia bingung'ya?
"Kiku ambil kursi saja, duduk di bagian meja yang kosong," usulku. Kiku langsung menarik kursi dan duduk di antara Miku dan Kaito.
"Kiku, kau punya teman yang tahu cosplay tidak?" tanya Miku to-the-point. Kiku mengangguk.
"Ring Suzune, dia tahu banyak soal anime. Semua murid pasti mengenalnya karena selalu membawa harisen (kipas kertas) raksasa di tangannya," ucap Kiku.
"Ring yang sering membuat onar waktu orientasi tahun lalu?" tanya Miku. Kiku mengangguk.
"Sebaiknya aku kembali, waktu istirahat tinggal sedikit. Nanti kita bicarakan lagi di rumahku," ucap Kaito-senpai sambil keluar kelas. Miku hanya menatapnya dengan linangan air mata. Dasar, Lolita lebay!
"Kalau begitu, aku pergi…" ucap Kiku sambil berjalan keluar kelas.
Tak lama bel berbunyi, kami pun melanjutkan pelajaran dengan sangat bosan!
Waktu pulang tiba, aku, Miku dan Len langsung ke kelas Kiku untuk menemuinya. Kami menunggu di depan pintu kelasnya, beruntung warna rambutnya nyentrik, jadi mudah dikenali.
Satu-persatu murid kelas Kiku keluar. Tapi, Kiku belum keluar juga. Ada apa 'nih? Kenapa lama-lama perasaanku makin gak enak?
"Sudah lama menunggu…?" sebuah lirihan terdengar olehku. Kiku atau Obake 'ya?
"Kiku, bisa tidak 'sih tak mengagetkan kami!" Miku kesal rupanya. Kiku hanya mengangguk pelan.
PLAK PLAK
Sebuah bunyi kertas yang dihentakkan(?) terdengar olehku. Asalnya dari dalam kelas Kiku. Aku menoleh ke dalam kelas Kiku dan mendapati seorang gadis berambut biru langit semata kaki sedang menggampar seorang siswa dengan kipas kertasnya hingga babak belur.
"KUBILANG BAYAR SEKARANG, BAKA! BUKAN BESOK!" teriak gadis itu sambil menarik kerah kemeja siswa tersebut. Siswa itu sendiri hanya memohon ampun tanpa henti.
"Ring… Mereka datang…" panggil Kiku yang berdiri di sebelahku. Gadis itu menoleh ke arahku lalu tersenyum manis. Kemudian, ia langsung melempar siswa yang sudah babak belur itu keluar kelas hingga hilang dari pandangan. Kuatnya…
"Jadi, kau Ring?" tanya Len dengan senyum. Mata keranjang 'nih anak…
"Yap, yoroshiku!" ucap gadis itu ceria.
"Len Kagamine," ucap Len sambil membungkuk ala butler.
"Kaito Shion, desu!" ujar Kaito dengan senyum manis. Sepertinya ada yang iri~
"Rin Kamine!" ucapku setelah sadar kalau ia menatapku.
"M-Miku Hatsune!" ucap Miku dengan jutek. Cemburu membakar hati sang Lolita!
"Kalian masih butuh anggota tidak? Aku tahu beberapa yang cocok," ucap Rin sambil memainkan harisennya di tangannya.
"Siapa yang cocok?" tanyaku. Temanku akan makin banyak 'nih.
"Lui Hibiki, ia pandai memainkan alat musik. Setahuku, ia sedang belajar musik band visual kei Jepang. Lalu, Lenka Agami, dia sangat pandai memotret. Setahuku ia pandai bahasa jepang dan tata pencahayaan. Itu saja," ucap Ring panjang lebar.
"Ya sudah. Besok kita bicarakan lagi. Kaito, besok saja 'ya ke rumahmu," ucap Len melirik ke Kaito yang sibuk memainkan pensil di atas buku sketsanya.
"Silahkan," jawab Kaito. Sepertinya, Miku kecewa.
"Yosh! Ayo pulang! Aku harus segera membantu ibuku!" ucap Rin dengan riang.
Kami pun berjalan keluar sekolah dan pulang ke rumah.
Semoga besok menyenangkan. Belum pernah aku merasakan rasanya berdebat!
A/N: Ok, segini dulu. Sepertinya, beberapa pairing sudah bisa ditebak. Rencananya anggotanya ada 12! Semoga banyak yang suka ceritanya! Makasih bagi yang udah fav fic abal ini! Riview ya. Flame pun diterima! :D
