DISCLAIMER : NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

This Story © Me

RATED : T

MAIN PAIR : SASUKE U. & SAKURA H

WARNINGS : OOC, Typo, Diksi berbelit. Inspirasi dari Novel karya Charon berjudul '7 Hari Menembus Waktu'

Enjoy reading!


Kyoto, March 22nd 2005 – Musim Semi

Sakura terbangun dari tidur lelapnya saat matahari menyapa masuk ke dalam kamar melalui celah-celah gorden yang sedikit terbuka. Setelah ia sadar sepenuhnya, Sakura bangkit dan menggulung futon serta selimut hangat yang ia pakai semalam, dan menaruhnya di sudut kamar yang lumayan luas itu.

Sakura melangkah ke arah jendela. Menyibakkan gorden dan membuka jendela agar udara pagi yang sejuk dapat memasuki kamar itu. Berdiam sebentar sambil memejamkan mata, Sakura menghirup dalam-dalam udara pagi di masa lalu itu.

"Benar-benar bukan mimpi, ya?" gumam Sakura. Ia kemudian membuka aplikasi menu petunjuk waktu, dan di situ tertulis '22 maret 2005 07:00 a.m'

"2005, ya? Berarti 33 tahun dari masaku. Wow. Kalau aku tak salah ingat, Bunda pernah bilang kalau sekitar tahun 2005 merupakan tahun wisuda S2 dan pernikahan mereka," gumam Sakura, "aku harus menemui mereka di kampusnya." Sakura kemudian membalikkan badan untuk masuk ke dalam kamar mandi.

Sekitar tigapuluh menit kemudian, Sakura keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian santai. Kemeja lengan pendek berwarna merah dengan garis-garis melintang berwarna merah muda. Dipadu dengan celana lima sentimeter di atas lutut berwarna coklat.

Setelah memastikan penampilannya tidak berlebihan, Sakura keluar dari kamar. Tepat saat ia akan menutup pintu kamarnya, ia melihat Neji telah berpakaian rapi melewati kamarnya―entah akan kemana―dan Sakura memutuskan untuk menyapanya.

"Ohayou, Neji. Kamu mau kemana?" Sakura melemparkan senyuman tipis ke arah Neji.

"Ohayou. Aku mau ke ruang makan. Sebaiknya Sakura-san ikut denganku," balas Neji dengan wajah datar.

Cara ia berbicara mengingatkanku pada seseorang. Ah! Benar. Si Sasuke itu juga bicaranya datar sekali. Aku yakin jika Neji sudah besar, ia tak jauh beda dengan pemuda menyebalkan itu, batin Sakura sambil tersenyum kikuk ke arah Neji.

Tanpa banyak komentar, Sakura mengikuti langkah kecil Neji ke ruang makan. Di sana sudah ada Hinata dan seorang wanita berambut pirang yang di lihat Sakura kemarin. Sakura yang tidak melihat keberadaan si pemuda berambut hitam kebiruan itu bertanya kepada Hinata.

"Ohayou, Hinata. Sasuke di mana?"

"Ohayou, Kak Sakura. Ah, Kak Sasuke, mungkin sebentar lagi ia datang." Hinata menjawab sambil menoleh ke kanan dan kiri seakan mencari keberadaan Sasuke.

"Ohayou, Hyuuga-san." Sakura duduk di kursi sebelah Hinata sedangkan Neji duduk berhadapan dengan Hinata. Sakura kemudian menyapa wanita yang diketahui adalah bibi dari Neji dan Hinata tersebut.

"Ohayou. Ah, aku baru sadar. Kita belum berkenalan bukan? Namaku Hyuuga Shion. Kamu bisa memanggilku Shion." Wanita bernama Shion itu menjulurkan tangannya ke arah Sakura, yang langsung disambut oleh gadis merah muda itu.

"Namaku Sakura," ucap Sakura sambil tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, Sasuke muncul dan duduk berhadapan dengan Sakura dan disamping Neji. Setelah menyamankan duduknya, Sasuke pun melakukan hal yang sama seperti Sakura. Berkenalan dan memperkenalkan diri ke Shion. Dan setelahnya, sarapan pagi itu pun dimulai dengan keheningan.

Beberapa menit bergelut dengan makanan, akhirnya mereka semua selesai dengan sarapan masing-masing.

"Hinata, Neji. Hari ini ada kegiatan apa?" Shion memulai pembicaraan.

"Hi-hinata akan kur-kursus balet. Ka-kak Neji kursus Ka-karate." Hinata menjawab sambil menundukkan kepala. Sakura yang melihat itu cukup heran. Kenapa setiap berbicara dengan Shion ia terlihat ketakutan?

"Oh, begitu. Sakura dan Sasuke. Kuharap kalian bisa menjaga mereka berdua dengan baik. Dan satu hal, pastikan aku tak mendengar hal aneh seperti penculikan tentang mereka berdua. Mengerti?" ucapan tegas dan bernada tajam Shion membuat Sakura langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.

Setelah mengatakan itu, Shion meninggalkan ruang makan entah akan kemana. Sepertinya ia akan pergi, karena tak lama kemudian terdengar suara deru mobil keluar dari pekarangan rumah.

"Tempat kursus kami berdekatan dan dimulai pada jam 9 pagi. Karena sekarang sudah jam 8, lebih baik kita pergi sekarang. Aku tak ingin telat." Neji bangkit dari duduknya diikuti Hinata. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing kemudian keluar dengan tas punggung.

Sasuke tak berkomentar apa-apa, begitu juga Sakura. Mereka berempat pergi ke tempat kursus Hinata dan Neji menggunakan angkutan umum, karena memang di rumah keluarga Hyuuga hanya ada satu mobil―yang tadi sudah dipakai Shion.

Berkendaraan beberapa puluh menit, mereka akhirnya sampai di depan sebuah gedung besar―mewah namun terlihat kuno dimata Sakura―yang ternyata merupakan tempat kursus balet Hinata.

'Lezioni Di Balleto'

"Ano, aku sudah sampai. Terima kasih sudah mengantar." Hinata membungkuk mengucapkan terima kasih ke arah Sakura dan Sasuke.

"Tidak masalah, belajar dengan giat dan berjuanglah Hinata-chan." Sakura menyemangati Hinata dengan mengangkat satu kepalan tangan sejajar dengan kepalanya.

Hinata yang mendengar namanya dipanggil dengan embel-embel –chan sempat blushing di tempat. Tapi, Hinata cukup senang mendengar Sakura memanggilnya begitu, karena tidak ada lagi orang yang memanggilnya dengan embel-embel –chan selain ibunya dulu.

Hinata berjalan cepat masuk ke dalam gedung, menghindar agar tidak ada orang yang melihat setetes liquid mengalir dipipi mulusnya.

"Nah, Neji. Sebaiknya kamu juga masuk ke dalam gedungmu. Kau bilang tak ingin telat kan? Oh ya, omong-omong gedungmu berada di sebelah mana?" perkataan Sakura yang tidak ada jeda, bahkan mungkin dalam satu tarikan napas membuat kedua laki-laki berbeda umur disebelahnya menghela napas.

"Gedungku di sebelah kiri gedung ini. Kami akan selesai pukul 12 siang. Kalian boleh pergi kemanapun selagi menunggu kami," ucap Neji, "ah ini uang jika kau tiba-tiba lapar di jalan Sakura-san," lanjut Neji seraya memberikan beberapa lembar uang seribu yen.

Neji mendekat ke Sasuke, dan memberi kode agar menunduk. Neji membisikkan sesuatu yang membuat Sasuke memasang tampang kesal.

"Jaa, aku pergi." Neji berjalan tanpa menoleh kebelakang. Sakura melihat uang yang ada di genggamannya. Uang seribu yen 5 lembar. Seketika Sakura memanggil Neji kembali.

"Neji! Kamu bercanda ingin memberi kami uang segini―mmpphhtttttt…," ucapan Sakura terpotong saat telapak tangan besar Sasuke menyekapnya. Sasuke segera menyeret Sakura menjauh dari gedung tempat dua Hyuuga itu kursus. "Hei! Apa-apaan kamu Sasuke!" kesal Sakura saat Sasuke melepaskan bekapan tangannya.

"Jangan membuat kesan mencurigakan, nona." Sasuke yang melihat dua emerald Sakura berkilat marah, hanya memasang ekspresi datar. "Ini masa lalu. Bukan masa depan. Uang lima ribu yen disini, hampir sama seperti lima ratus ribu yen di masa depan." Perkataan Sasuke kali ini membuat emerald yang tadi berkilat marah itu redup seketika, dan menampilkan wajah yang bodoh―super bodoh―menurut Sasuke.

"Ah, benar juga! Kenapa aku tidak kepikiran sih. Haha," ucap Sakura sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dan menampilkan senyum kikuknya.

Sasuke berjalan duluan meninggalkan Sakura yang masih terpaku di tempatnya, lalu berkata, "Aku ada urusan. Kita bertemu lagi di sini. Jaa."

Belum sempat Sakura memprotes kelakuan Sasuke, pemuda itu sudah menghilang duluan dari pandangannya, "uh, dia menyebalkan sekali. Padahal aku ingin mengajaknya untuk mencari Ayah dan Bunda. Tapi… ya sudahlah."

Sebelum Sakura beranjak dari tempatnya berdiri, ia mengamati keadaan sekitarnya. Sepi. Saat itu juga ia membuka aplikasi petunjuk arah dan memasukkan kata kunci 'Universitas Negeri Kyoto'.

"Hm, dua ratus meter dari sini. Lebih baik berjalan kaki saja." Sakura mengambil arah berlawanan dari jalur yang diambil Sasuke tadi.

Sasuke yang saat itu sedang berjalan dengan tenang, tiba-tiba teringat dengan bisikan Neji saat bocah itu akan masuk ke gedung tempat ia kursus yang sekarang membuat Sasuke menampilkan senyum tipis.

'Ia benar-benar cerewet. Jangan terlalu lama berada di dekatnya jika tak ingin pendengaranmu terganggu. Haha.'

..

Sakura sampai di depan gerbang Universitas Negeri Kyoto. Ia kemudian memasuki area Fakultas Bisnis dan Manajemen untuk mencari Ayahnya. Berkeliling selama tigapuluh menit, Sakura belum juga melihat Ayahnya. Keadaan yang lumayan ramai serta halaman yang cukup luas membuat Sakura hampir menyerah.

Karena terlalu lelah, Sakura memutuskan untuk istirahat , duduk di sebuah bangku panjang menghadap sebuah pohon besar. Sakura sedikit déjà vu. Memejamkan matanya saat angin berhembus membelai pipinya. Dan saat itu juga, ia mendengar samar-samar suara orang yang sedang bercanda tidak jauh dari tempat ia duduk. Sakura menggeser tubuhnya untuk melihat siapa yang sedang bercanda itu karena pohon besar yang ada di depannya menghalangi pandangannya.

Dan saat itu juga, mata hijaunya terbelalak.

"Ayah!" / "Mama!"

Eh?

Saat Sakura berseru memanggil Ayahnya, ia juga sempat mendengar suara berat―yang cukup familiar―di sampingnya berseru memanggil Ibunya―mungkin.

Sakura dengan cepat menolehkan kepalanya untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Dan benar, seorang pemuda berambut hitam kebiruan menampilkan wajah yang sedikit terkejut.

"Sasuke? Kenapa kamu di sini? Dan kamu tadi memanggil wanita di sana… Mama?" tanya Sakura sedikit shock.

"Hn. Dia ibuku di masa depan."

"Be-benarkah? Me-mereka… saling kenal?!"

"Mungkin."

"Bagaimana ini Sasuke?! Kita harus berbuat sesuatu jika tidak ingin kemungkinan terburuk terjadi!"

"Apa? Tidak semua yang kamu pikirkan itu benar, nona."

"Ya, tapi kan te―"

"Ara~ sebagai sepasang kekasih jangan sering bertengkar loh. Itu tidak baik."

Sebuah suara lembut memotong perkataan Sakura. Lagi. Emerald itu membulat saat suara yang sangat di kenalnya menyahut dari arah belakang. Segera ia membalikkan tubuhnya untuk melihat si pemilik suara.

Sasuke yang juga membalikkan tubuhnya seketika melotot―walau tidak terlalu kentara―melihat siapa yang ada di samping wanita yang telah memotong ucapan Sakura tadi.

"Bunda!" / "Papa!"

"Eh? A-apa maksud kalian?" tanya wanita berambut pirang itu tidak mengerti saat mendengar kedua manusia berbeda gender ini berseru.

"Ti-tidak, hehe. Ah, kami sedang tidak bertengkar kok. Dan juga, kami bukan sepasang kekasih Bun-eh no-nona." Sakura menjawab sambil memandang gugup Bunda dan laki-laki disamping Bundanya yang Sakura yakini adalah Papanya Sasuke.

"Oh begitu. Ah, kenalkan aku Mebuki. Dan ini kekasihku Fugaku-kun. Aku dari Fakultas Kedokteran, dan Fugaku-kun dari Fakultas Bisnis dan Manajemen. Bagaimana dengan kalian?"

Sakura semakin menampilkan raut horrornya saat sang Bunda mengatakan bahwa laki-laki bernama Fugaku itu adalah kekasihnya, jadi… bagaimana dengan Ayahnya?

"Hei?" ucap Mebuki sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Sakura karena gadis merah muda ini tidak menyahuti ucapannya.

"A-aa, ya? Ah, namaku Sakura. Dari Fakultas Kedokteran," Sakura memperkenalkan diri, dan menyebutkan nama Fakultasnya saat ia kuliah di masa depan, "dan ini…," Sakura berhenti bicara saat ingin mengenalkan Sasuke. Ia hanya menoleh ke samping member isyarat agar pemuda itu mengenalkan dirinya sendiri.

"Sasuke. Fakultas Bisnis dan Manajemen."

"Benarkah? Dan―hei kamu terlihat mirip dengan Fugaku-kun. Jangan-jangan kalian bersaudara, ya?" tanya Mebuki muda itu sambil menoleh ke arah kekasihnya.

"Hn. Sepertinya hanya kebetulan. Aku tidak pernah dengar nama Sasuke di keluargaku," jawab Fugaku datar. Like father, like son. Sasuke benar-benar mirip dengannya, baik dari penampilan, bahkan sampai gaya bicara! Sangat datar, batin Sakura.

"Aa, begitu," sahut Mebuki mengangguk-anggukan kepalanya. Ia menatap lurus melewati bahu Sakura, "Mikoto-chan, Kizashi! Jangan selalu berduaan dong. Ayo sini!" teriak Mebuki sambil melambaikan tangannya ke arah dua manusia yang sedang bercengkrama.

Bagus. Sekarang sang Bunda memanggil Ayahnya mendekat kemari. Dan kau tahu, Bundanya bahkan hanya memanggil nama Ayahnya tanpa embel-embel –kun seperti ia memanggil Paman Fugaku. Sakura benar-benar aneh dengan keadaan ini.

"Hei seperti kalian tidak saja, Mebuki-chan. Hahaha," ucap Kizashi saat mereka telah mendekat.

"Hai, Mebuki-chan. Fugaku-kun. Apa kabar? Sudah lama kita tidak mengobrol bersama." Sakura benar-benar iri! Ia melemparkan pandangan jengkel ke arah Sasuke. Sebenarnya itu bukan salah Sasuke. Ia hanya iri karena walaupun bukan sebagai sepasang kekasih, tapi Mamanya di masa depan itu masih tetap memanggil Papanya dengan embel –kun.

"Hn. Kami baik-baik saja," jawab Fugaku singkat.

"Ah, siapa pasangan ini? Dan pemuda ini sangat mirip denganmu Fugaku." Kizashi memperhatikan Sasuke dan Sakura dengan cermat, "Dan gadis ini, sepertinya ia mirip seseorang tapi aku lupa siapa," lanjutnya.

Aku mirip denganmu, Ayah! Jelas, aku ini 'kan anakmu, batin Sakura jengkel.

"Haha, kamu benar Kizashi. Ia sangat mirip, 'kan? Ah biar aku perkenalkan. Pemuda ini bernama Sasuke dari Fakultas Bisnis dan Manajemen. Dan gadis ini namanya Sakura dari Fakultas Kedokteran," jelas Mebuki kepada Mikoto dan Kizashi.

"Ha-halo…." Sakura hanya menampilkan senyum kikuk.

"Dan Sasuke, Sakura, laki-laki berambut merah muda itu namanya Kizashi dari Fakultas Bisnis dan Manajemen. Kalau gadis ini adalah Mikoto dari Fakultas yang sama denganku―kedokteran dan mereka adalah pasangan kekasih. Ah, iya. Kami berempat juga merupakan teman sejak kecil, loh~" jelas Mebuki sejelas-jelasnya. Membuat Sakura tambah tidak nyaman dengan kenyataan ini. Ia ingin segera pergi. Dan sepertinya, Sasuke mengetahui itu.

"Aa. Kalau begitu, kami pamit dulu. Ada urusan penting. Permisi." Sebelum meninggalkan orang tua mereka di masa depan itu, Sasuke dan Sakura―yang agak dipaksa Sasuke―membungkuk memberi salam lalu pergi dari situ.

..

Nyam nyam nyam

Sakura melahap makanan yang tersaji dihadapannya hampir seperti di rasuki setan. Sangat. Ganas. Ya, suasana hatinya kini sangat panas saat mengetahui kenyataan jika orangtuanya dan orangtua pemuda di sampingnya ini saling kenal dan bahkan jadi sepasang kekasih!

Sasuke yang melihat cara makan Sakura seperti kerasukan setan itu hanya memandang dengan datar. Tapi, jika di lihat ke dalam hati dan apa yang dipikirkannya tak jauh beda dengan Sakura. Ia hanya tidak menunjukkan secara gamblang seperti yang dilakukan Sakura.

Dan tak lama kemudian, Sasuke yang masih memperhatikan Sakura dengan datar melihat ada setetes cairan bening melewati pipi mulus gadis merah muda itu. Hal tersebut tentu saja sedikit membuat Sasuke terkejut.

"Hiks… bagaimana ini? Bagaimana cara menyatukan mereka berempat dengan pasangan yang seharusnya? Bahkan Bunda tidak ada sikap manis sedikit pun ke Ayah. Haaaa…." Sakura menangis kencang. Gambaran-gambaran menyeramkan memasuki otaknya yang justru membuatnya tambah ingin menangis.

Puk

"Berhenti menangis. Tidak ada gunanya, hanya membuang tenaga. Pikirkan rencana dengan kepala dingin. Berhenti mengeluh," ucapan tegas nan tajam Sasuke sedikit menghentikan tangisan Sakura. Apalagi saat dirasakannya telapak tangan besar yang ada di pucuk kepalanya membuat ia sedikit tenang.

"Sebentar lagi jam 12, habiskan makananmu. Dengan pelan." Dan cara makan Sakura pun telah kembali normal.

..

Sakura dan Sasuke sampai di depan gedung tempat kursus Hinata dan Neji. Telat tigapuluh menit karena kecerobohan Sakura yang sedang emosi membuatnya memesan makanan yang sangat banyak dengan total tujuh ribu yen. Jadilah Sakura harus mencuci piring sampai setidaknya cukup untuk menutupi duaribu yen.

"Sepi. Masa telat tigapuluh menit sudah sepi sih. Kemana mereka berdua?" keluh Sakura saat tak mendapati adanya tanda-tanda dari kedua bocah Hyuuga itu.

Sakura yang tak mendengar sahutan dari Sasuke, segera menoleh. Ia melihat Sasuke sedang menyentuh-nyentuh udara seperti sedang menyentuh layar.

"Aa ketemu. Jarak mereka satu kilometer dari sini. Arah ke barat daya. Ayo, cepat."

Tanpa persetujuan, Sasuke segera menarik Sakura untuk berlari bersamanya. Bisa gawat jika mereka tidak cepat sampai dan ada apa-apa terhadap Neji dan Hinata.

Dan tiba-tiba di hadapan Sakura dan Sasuke ada tulisan 'Need Power for Run?'

Sasuke dan Sakura bergumam secara serempak 'yes' lalu kalung di leher Sakura dan gelang di pergelangan tangan Sasuke bersinar memancarkan cahaya berwarna biru. Seketika lari mereka berdua pun bertambah cepat. Untung saja keadaan sekitar tidak terlalu ramai, sehingga mereka tidak terlalu menjadi pusat perhatian.

"Mereka berhenti. Sekitar delapanratus meter dari sini, Sasuke."

Sasuke mengeratkan pegangan tangannya dengan Sakura dan berusaha menambah kecepatan berlarinya lagi.

Beberapa saat kemudian mereka sampai pada titik berhentinya Neji dan Hinata. Mereka terengah-engah, membungkuk dengan tangan menahan di dengkul masing-masing. Tanpa sadar, kaitan tangan mereka berdua pun belum terlepas.

"He? Kak Sakura dan Kak Sasuke?" Suara Hinata memasuki indera pendengaran Sakura yang sontak langsung membuat gadis berambut merah muda ini mendongak. Dilihatnya Neji dan Hinata membawa kantong plastik berwarna putih dimasing-masing tangan mereka.

"Kenapa kalian terengah-engah begitu? Aa~ apakah kalian habis melakukan kencan sampai bergandengan tangan seperti itu?" tanya Neji dengan nada mengejek, "ku kira kamu tak akan tertarik dengan gadis seperti Sakura-san, Sasuke-san," lanjut Neji kali ini dengan nada meremehkan.

Mendengar pertanyaan pertama Neji, membuat Sasuke dan Sakura melihat tangan mereka yang masih berkaitan, dengan segera melepasnya.

"Bodoh! Apa yang kamu katakan?! Kami mencari kalian tahu, makanya sampai terengah-engah begini. Dan apa maksud kamu gadis sepertiku? Dasar, perkataanmu sangat tidak pantas diucapkan anak sekecilmu!" Sakura yang mendengar Neji seperti merendahkannya itu tentu saja kesal. Ia sudah lelah berlarian karena takut terjadi apa-apa dengan mereka, tapi malah yang ia dapat sebuah hinaan. "Dasar tidak tahu terima kasih, padahal aku sudah lelah berlari berjam-jam mencari kalian, tapi malah dapat hinaan."

Sakura melangkah menjauhi tiga orang yang terdiam mendengar perkataannya. Terutama Neji, ia tak menyangka jika Sakura dan Sasuke akan mencarinya dan Hinata sampai berlarian dengan keringat mengucur deras seperti itu. Rasa bersalah sedikit terselip dihatinya.

"Kamu keterlaluan Kak! Pokoknya saat sampai dirumah Kakak harus minta maaf sama Kak Sakura!" ucapan Hinata yang menyerupai perintah itu tidak dibalas oleh Neji.

Lalu mereka bertiga pun segera berjalan pulang dengan Neji yang masih menunduk kebawah. Pegangan di kantong plastik yang dibawanya mengerat menahan sesuatu didalam dirinya.

..

Matahari telah kembali ke peraduannya. Langit biru telah berubah menjadi gelap. Lampu-lampu baik rumah penduduk, toko, hotel, maupun mall yang ada di kota Kyoto ini telah dinyalakan. Di kediaman Hyuuga, tampak seorang gadis cantik besurai indigo menunjukkan raut wajah khawatir. Ia berjalan mondar-mandir seperti setrika, sedikit banyak membuat dua orang laki-laki berbeda umur yang sedang duduk memperhatikannya sedikit pusing.

"Dimana Kak Sakura? Kenapa belum pulang sih?! Atau jangan-jangan ia tak tahu jalan pulang? Bagaimana ini? Atau Kak Sakura diculik orang jahat…?" ucap Hinata dengan mimik wajah yang hampir menangis membayangkan seorang gadis yang lebih tua darinya itu diculik orang jahat, "Kak Neji harus tanggung jawab! Ini pasti gara-gara Kakak bicara kasar seperti tadi!" Hinata yang biasanya selalu menjaga sikap dan tak pernah marah kepada Kakaknya sekarang malah membentak.

Neji tak menjawab apa yang diucapkan Hinata. Ia hanya diam.

Sasuke bangkit dari duduknya. Ia sudah tahu dimana Sakura berada, karena ia sempat membuka aplikasi petunjuk arah secara diam-diam.

"Aku akan mencarinya."

Baru berapa langkah Sasuke berjalan, sebuah tangan kecil menahan lengannya membuatnya berhenti. Sasuke menoleh dan mendapati jika Neji 'lah yang menahannya.

"Biar aku saja yang mencarinya, sekalian… meminta… maaf," ucap Neji pelan di akhir kalimat. Ia tertunduk menatap kebawah.

Sasuke yang melihat Neji seperti itu, hanya tersenyum tipis―sangat tipis―yang tidak diketahui siapapun.

"Baiklah. Ia sekarang berada di taman danau Kyoushi. Hati-hati."

Neji menganggukkan kepalanya, ia cukup heran karena Sasuke tahu bahkan memberitahukan tempat Sakura berada. Tapi, ia tidak mempedulikan itu. Neji segera keluar rumah setelah mengambil jaket berwarna cokelatnya.

"Hati-hati, Kak!" pesan Hinata kepada Neji yang hanya dijawab anggukan kepala.

Ditempat Sakura, ia sekarang sedang duduk di sebuah bangku menghadap danau yang bernama Kyoushi. Sakura sebenarnya sudah lelah, ingin tidur. Tapi, gengsi menahannya untuk kembali kerumah Hyuuga. Ia masih kesal dengan ucapan bocah laki-laki itu.

"Argh!" kesal Sakura sambil melemparkan kerikil kecil ke arah danau.

"Sedang kesal, ya?" sahut seseorang dari belakang Sakura. Suara yang cukup menenangkan saat ia sedang kesal. Ya, dibelakangnya berdiri sang Bunda yang membawa dua minuman kaleng di masing-masing tangannya.

"Ah, Bun-Me-Mebuki-san. Sedang apa disini?" Sakura hampir saja memanggil Bundanya dengan panggilan Bunda. Untung ia dapat mengerem ucapannya dan memanggil nama Bundanya.

"Sedang jalan-jalan saja. Fugaku-kun sedang membeli makanan di stand sebelah sana," jawab Mebuki sambil menunjuk sebuah stand makanan tak jauh dari mereka yang cukup ramai, "mau?" Mebuki menawarkan salah satu minuman kaleng yang dibawanya kepada Sakura.

"Oh begitu. Ah, terima kasih."

"Jadi, benar kamu sedang kesal?" tanya Mebuki. Ia mengamati Danau didepan mereka, tampak bersinar karena cahaya bulan yang terpantul disana.

Sakura terdiam sejenak, lalu ia memutuskan untuk jujur, "Sebenarnya aku tidak kesal, karena aku bisa maklumi ia hanya seorang anak kecil. Tapi, perkataannya sungguh menyinggungku." Sakura mencoba mengeluarkan keluh kesahnya kepada Mebuki, sama seperti saat di masa depan. Ia selalu cerita apa saja masalah yang ia dapat kepada Bundanya itu.

"Sou, jadi masalahmu sekarang dengan anak kecil, ya?" Mebuki sedikit terkekeh, entah apa yang lucu, "menurutku, seorang anak kecil yang sudah mampu membuat orang yang lebih tua darinya merasa tersinggung dan sakit hati, sebenarnya itu bukan kemauannya. Seorang anak kecil tidak dapat melakukan apapun jika tidak ada contohnya, bukan?" Mebuki terdiam sebentar, "Boleh aku bertanya satu hal?"

Sakura hanya menganggukkan kepalanya, "Apakah anak itu memiliki orang tua?"

Sakura terpaku mendengar pertanyaan Mebuki. Ia cukup terkejut. Dengan ragu Sakura menjawab, "Sepertinya…orang tuanya sudah tidak ada. Ia hanya tinggal bersama Bibi dan adik perempuannya."

Mebuki menjentikkan jarinya, "Kamu tahu? Hidup di asuh oleh orangtua sendiri sangat berbeda dengan di asuh oleh orang lain meskipun itu bibimu sendiri. Mereka hanya bertugas membesarkanmu dan memberikan apa saja kebutuhanmu. Tidak ada kasih sayang seperti saat di asuh orangtua. Itu bisa saja menjadi faktor pembentukan kepribadian. Kamu tak perlu marah, Sakura. Sebenarnya ia hanya menunggu, menunggu seseorang untuk menariknya dari kepribadian yang dianggap tidak sesuai umurnya itu. Dan kamu harus membantunya." Mebuki mengakhiri perkataannya. Ia membelai rambut merah muda Sakura pelan. Sama. Di masa depan, saat Mebuki selesai memberi solusi seperti ini, ia pasti akan mengusap kepala Sakura.

Sakura menutup matanya merasakan belaian Mebuki di rambutnya.

"Nah, aku do'a 'kan agar kamu bisa membuatnya hidup sebagai anak kecil normal lainnya." Mebuki menarik tangannya dari kepala Sakura, "Ah maaf. Aku sering sekali mengusap kepala orang lain. Malah sudah menjadi kebiasaan. Aku tidak sopan ,ya? Padahal kita seumuran."

Sakura menggeleng lalu tersenyum, "Tidak apa. Aku malah senang jika kepalaku diusap seperti itu. Usapanmu mengingatkanku kepada Bunda. Oh ya, terima kasih sudah memberi solusi kepadaku. Itu sangat membantu sekali."

"Tidak masalah," balas Mebuki yang juga menampilkan senyum manisnya.

"Mebuki," panggil seseorang dibelakang meraka yang ternyata Fugaku.

"Ah, Sakura. Aku duluan ya. Jaa." Mebuki pamit dan menghampiri Fugaku. Fugaku yang melihat Sakura hanya menganggukkan kepalanya tanda menyapa.

"Iya. Sekali lagi, terima kasih Mebuki-san."

Sakura kembali terdiam memandang danau saat Mebuki dan Fugaku telah berlalu. Dan Seakan mengingat sesuatu ia menepuk jidatnya, "Astaga! Kenapa aku lupa? Seharusnya aku juga mencari informasi tentang hubungan Bunda dan Papanya Sasuke itu, dan mencari celah untuk memisahkan mereka! Aih, aku bodoh sekali," gerutu Sakura. Ia menyesal terlalu terbawa suasana saat kepalanya di usap oleh Mebuki.

"Ternyata benar disini." Suara lain lagi-lagi menginterupsi Sakura. Kali ini terdengar suara anak laki-laki. Sakura membalikkan badannya dan mendapati Neji berdiri di belakangnya tapi mengalihkan pandangannya kearah lain.

"Untuk apa kamu kesini?" tanya Sakura dengan nada kesal. Ia sebenarnya tidak kesal lagi setelah mendapat penjelasan panjang dari Mebuki tadi, tapi rasa gengsi membuatnya bertingkah seperti itu.

"Menjemputmu. Dan aku ingin… meminta maaf," jawab Neji pelan, sangat pelan. Namun karena indera pendengar Sakura cukup tajam, ia masih bisa mendengarnya.

"Benarkah? Tapi, sepertinya kau terpaksa meminta maaf kepadaku, pasti karena dipaksa Hinata, 'kan?" Sakura mencoba terlihat cuek dengan permintaan maaf Neji.

"Tidak! Aku serius. Aku menyesal telah berkata kasar seperti itu kepadamu," ucap Neji, ia kemudian menundukkan kepalanya menyembunyikan raut wajahnya, "dan terima kasih sudah mengkhawatirkan dan mencari kami siang tadi," lanjut Neji.

Sakura yang melihat tingkah Neji yang menurutnya cukup imut itu, membuatnya tak bisa menahan tawa. Neji yang mendengar Sakura tertawa, segera mendongakkan kepalanya dan menatap tajam Sakura, "tidak ada yang lucu. Kenapa kamu tertawa?"

"Hahaha, tidak-tidak. Haha, baiklah aku maafkan kamu," Neji yang mendengar Sakura memaafkannya sedikit bernapas lega, "tapi… kamu harus mentraktirku makan sepuasnya! Kamu tahu, aku sangat lapar sekali, berjalan tanpa arah tujuan seperti tadi."

Neji yang mendengar tuntutan Sakura hanya memasang wajah masam. Tapi, dalam hati ia tersenyum. Sakura bukan hanya gadis cerewet dan gampang marah, tapi ia juga adalah gadis yang baik hati.

Dan malam itu, Sakura benar-benar menghabiskan uang Neji. Tapi, bagi Neji sendiri uang yang dikeluarkan malam itu tidak seberapa, karena ia bisa tertawa―hal yang sangat dirindukannya―bersama Sakura. Dan untuk Sakura sendiri, ia bahagia melihat Neji bisa tertawa. Ia bertekad seperti apa yang dikatakan Bundanya tadi. Membantu Neji untuk berhenti menjadi orang yang berkepribadian tidak sesuai umurnya itu.

..

TBC


Maksud berkepribadian tidak sesuai umurnya itu adalah kelakuan, gaya berbicara, berpola pikir dan segala hal yang belum dilakukan anak kecil. sedangkan Neji berkelakuan, berpola pikir seperti layaknya orang dewasa… jadi ya…


sofi asat : Ini sudah lanjut. Terima kasih sudah membaca dan mereview ^^

: Chapter dua udah selesai. Terima kasih reviewnya ^^

Febri Feven : Terima kasih sudah review. Ini sudah lanjut ^^


Aku merasa sedikit aneh dengan Chapter ini, apalagi saat adegan Sasuke dan Sakura lari, wkwk :D

Oh ya! Terima kasih yang sudah membaca di Chapter kemarin. Nah, untuk Chapter ini, baca lagi ya! Kalo bisa ninggalin jejak :) hehe

Salam,

Racchan ^^ April 15th 2014