Hi semuanya . ketemu lagi sama Sequin... Sequin update lagi, dan bagi umat yang merayakannya Sequin mengucapkan selamat hari jumat agung ^^
Sequin juga mengucapkan selamat, bagi kakak kelas dan adik kelas yang baru saja selesai ujian nasional, Sequin harap kalian mendapat hasil yang terbaik... dan semuanya dapat masuk ke sekolah yang diinginkan... amin :)
Sequin langsung aja yaa ke ceritanya, I hope you like it, enjoy ^^
Raising Star
Disclaimer: Tite Kubo
By: Princess Sequin
Desember yang panas di Australia, orang-orang yang berada disana memang kebanyakan memutuskan untuk berdiam di rumahnya untuk berteduh dari teriknya matahari. Namun hal itu berbeda dengan seorang Kuchiki Rukia, panasnya matahari sama sekali tidak menghalanginya untuk mengambil gambar di Hyde Park.
Menurutnya, berdiam di rumah sama saja dengan menyia-nyiakan letak matahari yang sedang bersahabat. Yah! Walaupun sebenarnya dia tinggal di sebuah apartemen.
"Ayo kesini burung manis..." bisiknya dengan nada yang menggoda, jari-jari tangan kirinya mengisyaratkan agar burung yang dibujuknya mendekat, namun, bukannya mendekat, burung itu malah menjauh dari Rukia.
Rukia menghela nafas melihat burung yang kini berjalan menjauhinya, "Ini terlalu sulit..." keluhnya sambil mengelap peluh yang mulai mengalir di pelipisnya.
"Semangat Rukia..." serunya pada dirinya sendiri, matanya terlihat berbinar dan tangannya mengepal tanda ia telah bertekat kuat.
Kuchiki Rukia adalah seorang gadis mungil yang berasal dari Jepang dan melanjutkan sekolahnya di negeri kangguru, cita-citanya adalah menjadi seorang photographer handal seperti kakeknya. Walaupun di Jepang, Rukia adalah seorang yang cukup berada, namun, Rukia tidak suka hidup manja. Pada kenyataanya, ayahnya hanya membiayai kuliah dan apartemen yang kini Rukia tinggali, sedangkan yang lain, Rukia bekerja sambilan di tempat rekan ayahnya, sebagai photographer.
"Rukia kamu mendapat tugas baru..." kata atasan Rukia, Kisuke Urahara dengan bibir yang tersenyum lebar. Rukia sedikit heran dengan ekspresi rekan ayahnya saat ini, bagaimana tidak? Masuk ruangan bos, dengan sambutan senyum yang menurutnya menakutkan.
Mengetahui ekspresi Rukia, Urahara langsung mengeluarkan kipas kesayangannya, dan mengibaskan kipas itu di depan wajahnya, "Kuchiki Rukia..." Urahara memperlambat kata-katanya agar terlihat misterius, "kamu akan mengambil gambar artis AMERICA!" suara Urahara kini membahana, terlebih saat menyebut satu kata terakhir itu.
Pelipis Rukia yang tadinya tegang menjadi rileks, mulutnya yang tadinya tertutup menjadi terbuka tanda ketidakpercayaannya, "Benarkah? Siapa?" tanya Rukia dengan tidak yakin.
"Hitsugaya Toushiro... dia tadinya dari Jepang lho..." jawab Urahara sambil mengangguk-nganggukan kepalanya.
Ruka terdiam mendengar jawaban dari bosnya, matanya kini terlihat sendu, dan tangannya dilipat ke atas untuk menopang dagunya.
"Apa ada Rukia? Dia itu idola masa kini, apa kamu tidak senang?" tanya Urahara ketika melihat ekspresi Rukia yang terlihat tidak senang, Rukia hanya menatap Urahara dengan tatapan sendunya dan menghela nafas.
"Paman, bisakah paman memilih artis lain?" tanya Rukia dengan nada yang lemas, melihat itu Urahara makin bingung dengan karyawan yang sudah ia anggap sebagai anaknya ini.
"Sepertinya nggak bisa deh, karena agen artis itu sendiri yang memilihmu, bukan aku... memangnya ada apa sih?" tanya Urahara penasaran.
"Aah! Aku nggak mau paman! Pokoknya nggak mau!" rengek Rukia, yang kini beranjak keluar dari ruangan bosnya.
Urahara yang gagal 'ngepoin' Rukia hanya menatap pintu yang sudah ditutup Rukia dengan tatapan bingung, "aku jadi penasaran..." gumamnya pelan.
"Ah! Kenapa sih harus dia?!" Rukia membanting pensil yang sedang dipegangnya dengan kasar. Pensil itu pun langsung terbelah dua, memang, itu hanyalah pensil murahan, yang Rukia beli pada saat ia dalam keadaan darurat.
"Kenapa sih?" tanya Renji yang berada di seberangnya, Renji yang benama lengkap Renji Urahara ini adalah teman baik dari Rukia, dia merupakan anak dari Kisuke Urahara, dan bekerja di kantor ayahnya sebagai ketua divisi photography.
"Hitsugaya Toushiro..." jawab Rukia dengan kesal duduk di kursinya.
"Dia? Kenapa? Dia menghubungimu lagi?" tanya Renji makin mendekatkan wajahnya ke arah Rukia.
"Agensinya memilihku!" Rukia menghela nafas, berusaha mengatur emosinya, matanya mulai berkaca-kaca seperti menahan perasaan yang campur aduk.
"Bagus dong... eh..." Renji terlihat mengembalikan kata-katanya karena melihat Rukia menunduk, "maaf..."
"Kenapa harus dia sih..." gumam Rukia menghapus air mata yang mulai sedikit mengalir melewati pipinya.
"Aah! Rukii... jangan nangiis..." kini Renji menghampiri sahabatnya yang sedang menunduk, "coba kamu pikir positifnya, ini kesempatan besarmu Ruki, aku tahu, kamu sebenarnya merindukannya kan?"
"Tapi..." nada bicara Rukia terdengar makin lemas.
"Ah! Aku akan membantumu!" seru Renji bersemangat, ia baru mendapatkan ide setelah melihat sahabatnya melemas, "bagaimana kalau kamu menyamar?"
"Menyamar?!" mata Rukia terbelalak. Dari mana sahabatnya mendapatkan ide seperti itu.
"Iya, kamu tidak perlu khawatir, aku akan selalu menyuportmu... yang kamu butuhkan saat ini adalah... pengendalian perasaan..." Renji berkata dengan lembut, atau mungkin lebih tepatnya sudah seperti instruktur yoga yang menyuruh muridnya untuk rileks... ok! Dia sudah mirip seperti ayahnya sekarang.
Rukia benar-benar diubah total oleh Renji, matanya kini menggunakan kontak lensa berwarna hijau emerald, poninya pun telah diubah menjadi poni lurus, bukan miring lagi. Style Rukia yang biasanya tomboy, kini menjadi classy. Jika orang melihatnya, seperti bukan Rukia saja...
"Ayah!" sapa Renji ketika memasuki ruangan ayahnya bersama Rukia, Kisuke yang sedang mengerjakan berkas langsung mendelik ke arah dua orang yang kini berada di ambang pintu ruangannya.
"Kamu membawa siapa Renji? Apa dia pacarmu?" kata Kisuke dengan senyuman ramahnya, menandakan kalau dia menyambut Renji dan Rukia dengan hangat.
"Dia Rukia ayah, ayah tidak menyadarinya?" heran Renji sambil berjalan memasuki ruangan itu. Dia mengambil tempat duduk di sofa, begitu juga Rukia. Dia tidak menyangka, apa perubahan Rukia sebesar itu.
"Hah?! Rukia? Ada angin apa kamu jadi seperti ini?" seru Kisuke kaget, dia menghampiri Rukia yang sedari tadi diam saja.
"Ini idenya, begitu risih... mataku terasa tebal, poniku sudah tidak bisa dimainkan, dan bajuku kini, terlalu formal..." gerutu Rukia.
"Tapi kamu jadi terlihat cantik..." kata Kisuke, Rukia terlihat sedikit ngeri dengan Kisuke, karena Kisuke kini menatapnya dengan tatapan om-om mesum.
"Jadi, aku disini adalah perantara, Rukia mau menerima tawaran artis America itu... dengan syarat... aku harus ikut dengannya..." Renji mulai berbicara untuk mengalihkan tatapan ayahnya terhadap Rukia.
"Apa rahasia yang kalian sembunyikan dari ayah?" Kisuke menatap Renji dengan tatapan menyelidik, "kemarin Rukia menolak keras, sekarang dia mau... ini aneh!"
"Sudahlah, mana kontraknya? Kapan kita bisa mulai?" Renji menghiraukan kata-kata ayahnya, ayahnya berjalan ke mejanya tanpa melepaskan tatapannya kepada Rukia dan Renji sampai.
DUK
"Matanya ayah..." seru Renji sambil menahan tawa melihat ayahnya menabrak meja kerjanya sendiri. Rukia pun terlihat menahan tawa oleh karena itu.
Kisuke hanya tertawa menyeringai dan mengambil berkas yang dimaksud.
Rukia pun akhirnya menandatangi surat itu. Pekerjaan yang akan membuat namanya melesat itu dimulai sore harinya di pantai Manly, jadi pada saat itu juga Rukia dan Renji pergi ke pantai Manly dengan kapal feri.
"Ternyata, aku bukan photographer utama... pantas saja, kontrak dengan pengumpulan waktu sedekat itu diterima..." Rukia menyeret jalannya dengan malas. Mereka sudah sampai di pantai Manly, karena waktu pemotretan masih setengah jam, jadi mereka memutuskan untuk jalan-jalan.
"Tapi namamu tetap akan ditulis Ruki... untuk menjadi terkenal harus ada perjuangannya dulu dong..." kata Renji sambil menepuk-nepuk punggung Rukia.
"Hei, kalian photographer baru itu ya..." kata seseorang berambut ikal yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. Mereka pun menjawa pertanyaan itu dengan menganggukan kepala mereka.
"Namaku Matsumoto, kami sudah menunggu kalian, ada pemajuan jadwal untuk pengenalan crew baru... ayo!" wanita itu mulai berjalan ke arah pantai, sedangkan Rukia dan Renji hanya mengikuti mereka dari belakang.
Mereka pun sampai di tempat tujuan mereka dan menemukan beberapa artis terkenal sedang duduk sambil melakukan kegiatan mereka masing-masing.
"Perhatian semuanya, kedua orang ini adalah photographer kitaa!" suara lantang Matsumoto langsung mengalihkan orang-orang disana dari pekerjaan mereka, "gadis cantik ini bernama..."
"Lucia, kalian bisa memanggilku Lucy saja..." Rukia tersenyum canggung, nyaris saja Matsumoto menyebutkan namanya.
"Oh, baiklah, dan dia... dan yang sebelahnya adalah Abarai Renji... ayo semua, bersiap untuk pemotretan!"
Rukia dan Renji mengikuti Matsumoto, sekilas Rukia melihat Hitsugaya yang sedang fokus terhadap handphonenya, jantungnya berdegub semakin kencang karenanya, namun Rukia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Pemotretan berlangsung selama dua jam, karena background yang diambil adalah saat-saat sebelum sun set. Pada saat pemotretan, Renji terus mendampingi Rukia, sering terlihat dimana Rukia tidak fokus terhadap pekerjaannya dan di saat inilah Renji membantu Rukia.
"Terima kasih atas bantuannya... besok... photographer utama akan datang... jadi kuharap... kalian bisa bekerja sama dengan baik..." kata Matsumoto ketika Renji dan Rukia berpamitan.
Rukia dan Renji pun mengangguk mendengar pernyataan dari Matsumoto, "Sampai jumpa..." seru mereka bersamaan. Matsumoto pun hanya tertawa dan melambaikan tangannya.
"Tunggu! Nona photographer!" terdengar dari belakang suara teriakan yang sebenarnya Rukia kenali sebagai suara Hitsugaya. Rukia membeku di tempat, dia tidak tahu harus apa sekarang... mengetetahui Rukia yang seperti itu Renji pun memberikan bisikan, "Ingat... saat ini kamu bukanlah Rukia, tapi Lucia, orang yang tidak pernah bertemu seorang Hitsugaya Toushiro, sekalipun..."
Rukia menarik nafasnya dengan perlahan dan mengangguk untuk menanggapi kata-kata Renji, dia membalikan badannya dengan perlahan dan tersenyum pada orang yang memanggilnya.
"Boleh aku meminta waktumu? Cukup lama sih... tapi hanya berdua..." kata-kata Toushiro yang begitu spontan sungguh membuat Rukia kaget, tatapan mata Toushiro seakan menghipnotis Rukia untuk mengingat kembali masa lalunya saat pertama kali mendengar kabar itu...
To be Continue
Yeiiy, chapter ini aku suka, aku harap kalian suka yaa...
Terima kasih banyak bagi yang sudah review cerita Sequin chapter pertama ^^ Ini balasan reviewnya yaa...
Darriesk: Okee, ini lanjutannyaa ^^
Rin: Haaii Rin, salam kenal juga yaa ^^ iyaa cerita ini multichap, dan ini lanjutannyaa :)
Snow: Yeeiy, aku juga ikut seneng kalau kamu seneng baca cerita aku ^^ hehehe... kita lihat nanti kelanjutannya gimana yaa... :D
Sekali lagi aku ucapin terima kasih banyak bagi yang sudah review cerita Sequin, I hope you enjoy reading my story, kirimkan saran dan komentar kalian di kotak review yaa ^^
Salam dari Sequin :)
