Hai hai... Rama kembali lagi dengan fic ini, gomen nih kalau lama, soalnya flashdisk saya rusak, jadi data THE NINJA chap 2 yang seharusnya udah publish malah gak jadi, gomen ya, tapi chap 2 nya sekarang udah selesai dan bakalan publish. Makasih buat yang udah ngereview di chap pertama, saya kira bakalan sepi tapi, rupanya banyak yang ngereview hiks... saya sangat terharu *ngelap ingus pake lengan baju*. Terimakasih buat semua readers yang sudah mereview. Okelah tanpa banyak cingcong lagi, saya persembahkan.

Declaimer: Mashashi Kishimoto

Fic: Rama The Darkness

Warning: EYD yang mungkin berantakan, tanda baca berantakan, typo (mungkin), sedikit OOC karena sulit berada di jalur IC, AU tapi CANON,dsb dsb

THE NINJA

BAB 2

SEPOTONG KECIL MEMORI

Naruto POV

Keesokan harinya saat aku terbangun dari tidurku, aku melihat gadis itu sudah duduk disamping kasur sambil menatapku dengan tatapan bingung.

"Kau siapa?" tanyanya masih dengan tatapan bingung.

Gadis ini memiliki satu hal yang membuatnya semakin menarik, matanya. Ya, dia mempunyai mata berwarna lavender.

"Aku Naruto Uzumaki, namamu?" tanyaku dengan penasaran.

"Hyuuga Hinata." Jawabnya dengan sangat singkat.

"Aku dimana?" tambahnya.

"Hehehe, kau ada di kamar kostku, maaf aku tidak tahu lagi harus membawamu kemana." Jawabku.

"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyanya lagi, tapi kali ini tatapannya sudah berubah lebih tenang.

"Kau kutemukan hanyut di sungai, oh iya, bagaimana kau bisa hanyut di sungai itu?" tanyaku dengan antusias. Hinata hanya mengerutkan keningnya.

"Kau tidak ingat?" tanyaku sambil mendekatinya. Hinata hanya mengangguk.

"Selain namamu kau tidak ingat apa-apa?" Hinata mengangguk lagi.

Sepertinya dia terkena amnesia. Pikirku.

"Baiklah kalau begitu, aku akan membantumu untuk menemukan jati dirimu." Kataku sambil mengangkat kedua tanganku keudara.

"Terimakasih." Jawabnya menundukkan kepala

"Tapi sebelum itu, gantilah bajumu, nanti kau masuk angin, kau bisa pakai baju kakakku." Kataku sembari menunjukkan lemari pakaian kakakku. Aku memang punya seorang kakak perempuan bernama Naruko, tempat kostku ini memang lumayan besar, jadi dia sering datang kesini, karena itu dia punya lemari pakaian sendiri.

"Apa aku tidak merepotkanmu?" tanya Hinata.

"Tidak, kakakku sekarang sedang di Amerika jadi tidak masalah kalau kau meminjam bajunya, cepat sana ganti baju." Jawabku tak lupa dengan cengiran andalanku.

"Umm... Naruto,apa aku cocok memakai baju ini?" tanya Hinata sambil memainkan ujung baju yang dikenakannya.

Sekarang ini Hinata sedang berdiri didepanku dengan memakai sweater berwarna pink dengan rok mini ditambah celana jins didalamnya. Sementara aku sendiri memakai t-shirt berwarna kuning gelap dengan huruf N di bagian depan, aku juga memakai celana jins.

"Hehehe, menurutku kau cocok memakai baju itu Hinata." Jawabku sambil menunjukkan cengiran khasku.

"Oh iya, apa kau lapar Hinata?" tambahku lagi

"Sedikit." jawabnya sedikit merona.

"Baiklah, ayo kita makan di restoran ramen favoritku." Kataku dengan bersemangat.

Di restoran ramen Ichiraku, aku duduk dibangku paling pojok kiri dan Hinata duduk disebelahku.

"Paman, aku pesan dua porsi ya!" teriakku pada paman Teuchi, pemilik restoran ramen ini.

"Baiklah." Jawabnya.

"Hei Naruto, selamat ya, akhirnya kau sudah mendapat pasangan." Katanya berbisik padaku sambil matanya melihat kearah Hinata.

"Ah, paman ini bisa saja." Jawabku malu-malu.

Hinata yang tidak tahu apa yang kami bicarakan hanya menatap bingung.

Sambil menunggu pesananku, aku melihat-lihat pemandangan diluar, dan tanpa sengaja mataku menangkap dua sosok yang sangat kukenal, seorang gadis berambut pink cerah dan seorang lelaki berambut biru dongker.

"Woi, Sasuke, Sakura." Teriakku pada mereka dari dalam restoran.

Untungnya sekarang restoran ini sedang sepi, kalau tidak aku pasti sudah dilempari dengan gelas karena mengganggu ketenangan. Dua sosok itu sekarang sedang celingak-celinguk mencari sumber suara yang memanggilnya.

"Hei, aku di sini, di dalam restoran." Teriakku lagi.

"Hoi, Naruto!" kali ini Sakura yang berteriak sambil melambaikan tangannya kearahku, lalu kemudian menarik tangan Sasuke untuk mengikutinya masuk ke Ichiraku.

"Ada apa Naruto?" tanya Sakura setelah masuk dan duduk didepanku.

"Ah, tidak apa-apa, aku hanya ingin ngobrol tentang laporan kita besok." Jawabku.

Sakura hanya ber-oh ria sementara Sasuke sibuk membetulkan rambut 'pantat ayamnya' yang sedikit berantakan.

"Naruto, siapa dia?" kali ini sasuke buka suara setelah selesai merapikan rambutnya.

"Dia Hinata Hyuuga, Hinata ini Sasuke dan Sakura." Kataku sambil menunjuk ke arah Sasuke lalu Sakura.

"Dia siapamu, Naruto?" Sasuke bertanya lagi.

Tumben anak ini banyak bicara, biasanya dia yang paling irit kata-kata.

"Ceritanya panjang." Jawabku.

"Kami punya banyak waktu." Kali ini Sakura yang berbicara, sambil menatapku seolah aku ini seorang narapidana yang sedang diinterogasi atas tuduhan pencurian celana dalam.

"Naruto, ini ramenmu." Tiba-tiba anak perempuan paman Teuchi datang sambil menyajikan dua porsi ramen yang tadi aku pesan.

"Ano, kami juga mau pesan." Kata Sakura

"Dua." Tambahnya lagi.

"Dan jus tomat." Kata sasuke memesan minuman favoritnya.

"Baiklah, akan segera saya buatkan." Kata anak paman Teuchi sambil tersenyum, lalu pergi meninggalkan kami kearah dapur.

"lalu bagaimana dengan ceritanya?" tanya Sasuke sambil menatapku dan Hinata bergantian.

Aku mulai bercerita tentang bagaimana aku bertemu dengan Hinata sampai sekarang.

"Oh, jadi dia terkena amnesia, begitu?" tanya Sakura diakhir ceritaku.

Aku hanya mengangguk sambil menyeruput kuah ramenku.

"Tapi aku berjanji akan menemukan jati diri Hinata yang sesungguhnya, benar kan Hinata?" kataku sambil menolehkan kepalaku kearah Hinata.

"Iya." Balas Hinata singkat.

"Baiklah, sudah selesai kan?" "kalau begitu kami mau pulang dulu ya." Kata Sasuke sembari menghabiskan jus tomat yang tadi sudah dipesannya.

"Hei, tunggu, apa kalian sudah selesai mengerjakan laporannya?" tanyaku saat mereka berdua sudah berdiri dari kursinya.

"Tentu saja, kami tidak sepertimu." Balas Sasuke sambil merangkul bahu Sakura.

Huh dasar sepasang kekasih.

"Hinata, ayo kita jalan-jalan sebentar di taman kota." Ajakku pada Hinata.

"iya." Angguk Hinata.

Setelah membayar, aku dan Hinata berjalan kaki ke taman kota, karena letaknya yang memang dekat dengan Ichiraku. Setelah lelah berjalan-jalan, Hinata mengajakku untuk duduk dibangku taman sambil melihat-lihat pemandangan.

"Hinata, kau suka bunga." Tanyaku padanya.

"Iya, aku suka bunga lavender, menurutku mereka sangat indah." Jawabnya sambil menatap langit.

Melihat wajahnya yang tertiup angin lembut, membuat mahkota indigonya tertiup anggun membuat wajahnya semakin manis. Lama aku menikmati melihat wajahnya itu, sampai Hinata menyadarkanku.

"Naruto, kau kenapa?" tanyanya padaku sambil memandangku khawatir.

"Ah, bukan apa-apa Hinata, hehehehehe." Balasku sambil menggaruk-garuk pipiku yang terasa memanas karena malu ketahuan memperhatikan Hinata.

"Kau mau es krim?" kataku untuk mengalihkan perhatian agar dia tidak sadar kalau pipiku memerah.

Hinata hanya mengangguk.

Sambil mengusap-usap dadaku yang berdebar-debar aku berjalan kearah toko es krim yang baru pertama kulihat di taman ini.

"Kakek, aku pesan dua es krim rasa cokelat ya!" kataku pada penjual es krim yang menurutku sudah kakek-kakek, karena dia memiliki rambut putih panjang dengan ikat kepala aneh.

"Hei anak muda, jangan panggil aku kakek, namaku Jiraiya, penjual es krim paling lezat didunia, hahahaha." Katanya sambil bernarsis ria. Aku hanya sweatdrop

"Hei, gadis yang duduk dibangku itu pacarmu ya?" tanyanya yang langsung membuat pipiku kembali terasa panas.

"Ah, kakek ini, bisa saja." Kataku yang tanpa sadar kembali menggunakan kata 'kakek'

"Hei, kan sudah kubilang jangan panggil aku kakek, aku ini masih muda tahu!" Katanya dengan mimik wajah yang menurutku sangan lucu.

"Iya, iya, mana es krimku?" kataku sambil menyodorkan beberapa keping uang koin.

"Ini, lain kali datang lagi ya." Katanya sambil menyerahkan es krim pesananku.

Saat berjalan menuju Hinata tiba-tiba hujan gerimis turun, aku langsung berlari kecil ke arah Hinata.

"Naruto, sepertinya hujan akan semakin lebat, ayo kita pulang saja." Ajak Hinata.

Di tengah perjalanan menggunakan taksi Hinata tertidur dibahuku. Tetapi aku melihat ada sesuatu di leher hinata, dengan hati-hati kusibakkan helaian rambut hinata dan aku melihat seperti sebuah tanda aneh berbentuk tiga buah koma yang saling berhadapan. Apa ini? Pikirku.

Sesampainya dirumah, aku langsung bertanya pada Hinata.

"Hinata, tadi sewaktu kita di mobil, aku melihat tanda aneh di lehermu, berbentuk tiga koma yang saling berhadapan, sebenarnya tanda apa itu?" tanyaku padanya.

"Tanda... ukh" Hinata tidak meneruskan kalimatnya karena tiba-tiba dia memegangi lehernya tempat tanda itu berada, dan dia terlihat sangat kesakitan.

"Hinata! Kau tidak apa-apa?" kataku sambil menahan tubuh Hinata yang goyah dan hampir jatuh dari kursinya.

"Sepertinya aku ingat sesuatu." Katanya dengan tubuh yang berkeringat.

"Hah?"

Normal POV

Flashback on

Di sebuah desa kecil, tepatnya di sebuah rumah sederhana namun terlihat nyaman, seorang gadis berambut indigo dan bermata lavender sedang bercanda dengan seorang gadis yang jauh lebih muda darinya dan berambut cokelat tetapi memiliki warna mata yang sama.

"Kak Hinata, aku lelah, ayo kita istirahat." Ajak si gadis kecil

"Iya Hanabi, kakak juga lelah, ayo kita istirahat." Kata si gadis yang bernama Hinata itu sambil mengusap kepala gadis kecil yang dipanggilnya Hanabi itu.

"Hinata, Hanabi, ayo minum dulu!" panggil seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping seorang lelaki dewasa, dan mereka semua memiliki warna mata yang sama. Setelah minum Hinata dan Hanabi kembali bermain kejar-kejaran, dan kedua orang tua mereka hanya melihat sambil tersenyum.

Sepertinya mereka adalah keluarga kecil yang bahagia.

Flashback off

"Jadi kau punya adik yang bernama Hanabi?" tanyaku padanya.

"Ya, tapi rasanya semuanya masih menggantung, sepertinya masih banyak hal yang tidak aku ingat." Jawab Hinata sambil memijit-mijit keningnya.

"Tenanglah Hinata, aku akan selalu bersamamu sampai kau mengingat semuanya kembali." Kataku sambil menggenggam tanganya. Kulihat wajahnya sedikit bersemu tetapi dia tidak melepaskan genggamanku. Tenanglah Hinata, aku pasti akan membantumu menemukan jati dirimu. Kataku dalam hati.

TBC

Apa ini !? *teriak-teriak frustasi.* jujur sehabis bikin chap pertama saya bingung mau bikin kelanjutannya, ditambah lagi flashdisk yang rusak, dan laptop yang sering dipake sama okaa-san. Beginilah hasilnya, mungkin aneh, gaje, dsb. Rencananya sih mau bikin ingatan Hinata selesai di chap ini, tapi setelah dipikir-pikir lebih baik jangan. Oh iya nih mau tanya, kata pengganti untuk 'sambil' itu apa ya? Soalnya saya pikir saya kebanyakan makai kata 'sambil'.

Oke ya, sekian dulu mind to RnR? Don't flame ya

ARIGATO