Title : Love between Devil & Angel
Cast : Kim Jongin, Oh Sehun, Others
Genre : Romance, Fantasy
Chapter: 2/?
Warn : UkeSehun, Mushy Jongin, Cutiepie Sehun
- Sehun Point of View -
" Hyung…" Guncangan kuat di bahuku membuatku tersadar dari lamunan. Aku menoleh ternyata Yuta adik semata wayangku sudah ada disampingku.
" Kau melamun?" Tanyanya ingin tahu.
" Tidak. Aku hanya sedang memikirkan apa yang harus kukerjakan saat senggang seperti ini."
Ok, Aku bohong. Sebenarnya aku memang sedang melamun dan kalian tahu apa yang kulamunkan?
The devil!
Aku melamunkan iblis yang kemarin lusa kutemui di taman batas.
Panggil aku gila. Tenang saja aku tidak akan marah karena sejujurnya aku juga merasa kalau aku sudah gila. Yang benar saja, aku tidak tahu kenapa aku bisa terus memikirkannya tapi sosoknya terus saja melintas dikepalaku.
" Hyung~ kau dengar aku tidak sih?" Yuta tiba-tiba saja mendesis sebal.
Aku gelagapan dan jadi tidak enak karena tak mendengarkan perkataanya.
" Dengar... Dengar..."
" Oh ya? Lalu apa yang baru saja kukatakan?"
" Mmh... Itu.." kupejamkan mataku kemudian aku mengkonsentrasikan pikiranku sepenuhnya pada Yuta. Sedetik kemudian kubuka kembali mataku dan kupandang Yuta dengan senyum kemenangan.
" Kau terus saja mengeluh. Bagaimana mungkin kau bisa cepat pintar kalau kau hanya mengeluh dan tidak memperhatikan pelajaranmu? Memang pelajaran mantra itu membosankan tapi itu sangat penting kalau kau mau menjadi malaikat yang hebat." Ujarku panjang lebar.
Yuta menatapku senang karena aku berhasil menjawab curhatannya. Aku mendesah lega untung saja aku sudah ahli legilimancy alias membaca pikiran, kalau tidak Yuta pasti akan merajuk karena aku tidak mendengarkan ocehannya.
" Mengerti. Tapi tetap saja rasanya malas sekali. Hyung kau enak sekali sudah selesai sekolah dan hanya tinggal menunggu tugas. Waktu luangmu banyak sekali. Sedangkan aku..." Yuta cemberut lagi.
Aku tersenyum menatap adikku satu-satunya yang sedang merajuk. Karena gemas kucubit pipinya kuat-kuat.
" Makanya belajarlah yang rajin supaya sekolahmu cepat selesai."
" Aku tahu. Dasar. Semuanya sama saja. Kau, Minseok Hyung, Baek dan Soo hyung semuanya bilang begitu. Memangnya kalian tidak punya jawaban yang lain?" gerutunya.
" Tidak ada. "
" Ishhh.. Ya sudahlah. Aku pergi dulu. Aku mau belajar. Biar cepat pintar dan tamat sekolah lalu main sepuasnya" Ujar Yuta melantur sebelum beranjak pergi meninggalkanku begitu saja. Aku tertawa kecil melihat tingkahnya.
Yuta itu adikku satu-satunya. Aku punya tiga kakak. Kakak pertamaku Minseok hyung, kemudian ada Baek dan Soo hyung mereka adalah kakak kembarku. Meski kembar mereka sama sekali tidak mirip. Baik itu sifat maupun fisik. Namun meski begitu mereka saling melengkapi satu sama lain. kami lima bersaudara yang sangat akur hanya saja aku paling akrab dengan Yuta. Karena kami adalah dua terkecil sehingga kadang sering diasingkan oleh kakak-kaka kami dan lebih sering main berdua sejak dulu.
Ah~~ bosannya. Harus main kemana lagi aku hari ini? Baek dan Soo hyung sedang menemui dewa salju, Minseok hyung sedang membantu umma mengurus pemerintahan di surga, Yuta sibuk dengan pelajarannya. Kenapa hanya aku yang tidak ada kerjaan? Sebenarnya kapan sih masa tugasku akan diberikan? Kalau begini terus aku bisa mati bosan.
Hei, kenapa aku tidak main ke taman batas lagi saja. Kemarin aku belum puas melihat-lihat karena sudah terlanjur senja tapi sekarang masih siang. Aku masih punya banyak waktu dan aku bisa main sepuasnya disana. Akupun segera melangkah riang meninggalkan taman istana dan berjalan menuju gerbang surga.
##################################################################################################################################################################################################
" Oii~ Segarnyaa..." Kupejamkan mataku saat hawa sejuk di taman itu menerpa wajah.
Hari ini lebih ramai dari kemarin banyak malaikat yang berlalu lalang di taman ini tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Kalau saja mereka memperhatikan keadaan sekitar mereka pasti langsung membungkuk memberi hormat padaku. Aku melangkah menyusuri tepian danau sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada hal yang menarik dan membantuku mengusir bosan.
Tak sengaja aku menemukan semak-semak yang menjorok keluar danau. Semak-semak itu ada di pojok taman dan menghadap danau. Daun-daunnya yang tumbuh lebat dan teratur membuat tempat itu jadi tak terlihat dan tersembunyi.
Aku tersenyum senang dan melangkah masuk kedalamnya ada ruang kecil yang memisahkan daun-daun itu sehingga membuat jalan kecil agar bisa masuk kedalamnya. Ini sepertinya cocok dijadikan sebagai tempat persembunyian.
" Wah~ dilihat dari sini danaunya jadi semakin indah. Aku tidak tahu kalau ada tempat seindah ini di luar surga." Gumamku terperangah melihat hamparan air jernih dihadapanku.
" Kau datang lagi?" Satu suara membuatku terlonjak kaget.
Kutolehkan kepalaku dan aku melihatnya! Iblis yang kemarin!
Dia sedang berbaring dengan santainya disebelahku menjadikan kedua tangannya sebagi bantal dan menatap lurus kedepan. Sejak kapan dia ada disitu? Kenapa aku tidak melihatnya..?
" K-kau?" Aku tergagap. Entah kenapa jantungku berdebar kencang sekali. Dia mengangguk sebelum kemudian menatapku. Dalam hati aku bersyukur karena dia sudah mengubah warna matanya.
" Jongin. Kim Jongin." Ujarnya tiba-tiba.
Untuk sesaat aku terdiam tak mengerti apa maksudnya sebelum akhirnya aku sadar bahwa dia baru saja menyebutkan namanya,
" Oh Sehun." Sahutku gugup.
" Sepertinya kau suka sekali main kesini ya angel?"
" Tidak juga. Aku hanya sedang bosan saja di surga. Makanya aku berkunjung kesini." Jawabku berusaha lebih rileks.
" Surga bisa membosankan juga?" Tiba-tiba saja dia bangun dari posisinya dan langsung duduk menghadapku. Aku agak kaget dengan reaksinya.
" Mmm. Kenapa kau harus kaget begitu?" Selidikku.
" Tidak. Aku tidak percaya surga itu bisa membosankan." Dia menatapku tak yakin.
" Tak percaya ya sudah." Ujarku sambil memalingkan muka.
Kami terdiam cukup lama. Situasi ini membuatku menjadi lebih gugup dan berdebar. Bagaimana tidak? Duduk berdua dengan iblis yang tampannya selangit di tempat sempit dan tertutup seperti ini.
Demi dewa langit, apa yang akan umma lakukan padaku kalau dia tahu hal ini.
" Hei, detak jantungmu terdengar sampai ke telingaku." Ujarnya tiba-tiba.
Aku merasakan wajahku memanas karena malu. Darimana dia tahu kalau sedang aku berdebar. Aku menunduk menyembunyikan wajahku agar tak terlihat olehnya tapi baru saja aku menunduk wajahnya yang tampan itu langsung terlihat didepan mataku. Aku langsung menarik wajahku menjauh.
" Apa yang kau lakukan?" Protesku.
" Melanjutkan tidurku." Jawabnya ringan.
" T-tapi... Kenapa harus disini?" Aku merasa kali ini wajahku bukan hanya memanas tapi juga memerah karena, hei dia seenak jidatnya tiduran di atas pahaku.
" Pahamu jauh lebih empuk dari tanganku. Lagipula kau tidak keberatan kan?" Dia tersenyum menatapku dengan senyumnya yang... Sangat.. Nakal.
" T-tentu saja aku keberatan. Ini pelecehan." Kupalingkan wajahku yang masih memerah darinya. .
" Benarkah? Kau keberatan?" Dia mengangkat kepalanya dan kembali duduk disebelahku tapi kali ini dia mendekatkan wajahnya padaku dan berbisik tepat di telingaku membuatku bisa merasakan napasnya yang hangat.
" T-tentu saja." Jawabku gugup. Dalam hati aku tak henti-hentinya berdoa agar jantungku berhenti berdebar kencang seperti ini.
" Kau tahu, kau angel termanis yang pernah kutemui." Dia mendekatkan wajahnya lagi kearahku sampai bibirnya menyentuh telingaku. Seketika itu juga kurasakan bulu kudukku meremang dan aku langsung tersadar dengan situasi ini.
Kudorong tubuhnya menjauh dariku kuat-kuat dan kutatap wajahnya. Sekilas dia terlihat kaget tapi kemudian wajahnya kembali seperti biasa. Aku bangkit dari duduk ku hendak beranjak meninggalkan semak-semak itu. Lebih lama aku disitu aku bisa benar-benar gila. Baru selangkah aku pergi tiba-tiba saja Jongin langsung menarik tanganku hingga aku menghadapnya. Dia menatapku dengan kedua matanya yang tajam. Bola mataya yang berwarna coklat gelap seakan menghipnotisku dan membuatku tak mampu bergerak.
" Aku tertarik denganmu." Ujarnya.
Mataku mebulat mendengarnya. Yang benar saja, iblis ini benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia juga menggoda malaikat. Rasanya aku ingin cepat-cepat pergi dari sini karena tak tahan dengan rayuannya.
" Aku tahu kau juga tertarik denganku." Ujarnya lagi dan dengan sekali hentak aku sudah jatuh terduduk dipangkuannya membuatku dapat merasakan tangannya yang kokoh memeluk erat pinggangku.
"Heii.." Aku memekik kaget.
" Pssstt~ tidak perlu teriak seperti itu. Nanti kalau ada yang mendengar bisa-bisa salah mengira." Ujarnya denagn suara rendah.
Matanya yang tajam menatapku lekat-lekat membuatku semakin menunduk takut. Ingin sekali aku melawan tapi rasanya saat ini semua kekuatanku menguap entah kemana.
" Lepaskan tanganmu." Bisikku pelan.
" Aku tidak mau." Jawabnya tegas. Aku langsung mengangkat wajahku dan menatapnya. Apa maksudnya dia dengan tak mau?
" Tolong lepaskan tanganmu. Kalau ada malaikat yang melihatku seperti ini aku bisa kena masalah." Ujarku lebih tegas. Dia menatapku lama sekali. Untuk beberapa saat kami saling bertatapan dalam diam.
" Baiklah. Tapi, jawab dulu pertanyaanku. Aku menyukaimu apa kau juga menyukaiku?" Sekali lagi aku terpana karena perkataanya. Iblis ini benar-benar luar biasa. Sebenarnya dia nekat atau gila? Apa dia pikir aku akan menjawab pertanyaan seperti ini? Dasar sinting!
" Tolong lepaskan tanganmu." Ulangku seraya menjauhkan tangannya dari pinggangku tapi dia malah semakin mengeratkan pelukannya dan menarik tubuhku semakin mendekat padanya.
" Apa kau menyukaiku?" Ulangnya lagi dengan mata tajam yg masih menatapku lekat-lekat. Kupalingkan wajahku darinya. Bagaimana aku menjawab pertanyaan ini?
" Aku bisa membaca hati." Aku tersentak mendengar perkataannya. Cepat-cepat kututup pintu hatiku agar dia tidak bisa membacanya. Aku bisa melihatnya tersenyum sinis menatapku.
" Baiklah. Kalau kau tak mau jawab berarti kita akan terus seperti ini."
" Hey..." Bantahku marah.
Kudorong tubuhnya menjauhiku tapi aku tidak berhasil. Iblis ini terlalu kuat atau aku yang tiba-tiba menjadi lemah?
" Kau semakin manis saat marah Sehun. Aku jadi semakin menyukaimu. Baiklah, akan kulepaskan." Ujarnya. Tapi belum sempat aku mendesah lega dia kembali melanjutkan perkataanya.
"... Tapi berjanjilah padaku besok kau akan datang lagi kemari." Ujarnya dengan senyum licik.
" Aku tidak janji." Jawabku ketus. " Ok. Aku akan kesini lagi besok." Cepat-cepat kuralat kalimatku karena dia semakin menarikku ke dalam pelukannya hingga tubuh kami hampir saling menempel. Aku bisa melihatnya tersenyum penuh kemenangan. Dasar iblis sialan.
" kalau begitu sampai besok, angel." Ujarnya sambil mendaratkan bibirnya dikeningku dengan lembut.
Aku terperangah sesaat karena apa yang dilakukannya namun sebentar kemudian aku langsung mendorong tubuhnya sekuat yang kubisa dan bangkit dari pangkuannya berlari menjauhi semak-semak itu dengan perasaan tak karuan.
- Jongin Point of View -
" Hyung kau darimana saja?" Aku menoleh dan tepat dugaanku, Taeyong sudah berdiri dibelakangku.
" Siapa yang memberimu izin masuk ke kamarku?" Tanyaku datar.
" Hyung, aku ini adik kandungmu sendiri. Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih hangat padaku?" Protes Taeyong.
Memang begitulah sifatku. Pendiam, dingin, datar, keras kepala terhadap siapapun dan apapun juga. Apapun kata orang aku tidak pernah perduli itu sebabnya aku tak pernah akur dengan ayahku sang raja neraka.
" Appa mencarimu. Dia murka karena kau mangkir lagi dari tugasmu."
" Tugasku? Aku sama sekali tidak pernah merasa punya tugas seperti itu." Ujarku sambil membuka jubah.
" Hyung kau tahu tugasmu mengambil nyawa manusia..."
" Untuk orang yang pantas mati, Ya. Tapi untuk gadis kecil yang masih belum tahu apa-apa seperti itu, tidak! Harus berapa kali kukatakan aku tidak mau mengambil nyawa manusia tak berdosa dengan cara keji seperti itu?" Kutatap Taeyong dingin. Dia hanya bisa terdiam menatapku.
Aku tahu dia mengerti perasaanku hanya dia yang bisa memahamiku. Aku benci jadi iblis. Semua orang menatapku dengan sorot mata penuh ketakutan walau aku tak melakukan apapun. Aku benci jadi iblis saat aku mendengar rintihan kesakitan orang-orang yang kucabut nyawanya, aku benci jadi iblis saat aku harus melihat ekspresi manusia menjelang kematiannya. Aku benci semua itu...
" Aku tahu perasaanmu hyung. Akupun seperti itu, tapi kita adalah iblis. Kodrat yang diberikan pada kita adalah mencabut nyawa manusia. Jahat atau baik suka atau tidak suka kita harus melakukannya terlebih kau akan menjadi penerus appa. Kau tidak bisa bersikap seperti ini terus." Taeyong menasihatiku.
Taeyong benar aku memang tidak boleh seperti ini. Ini sama saja aku menentang takdir. Karena aku tak mengambil nyawa gadis kecil itu roda kematian jadi berantakan lagipula walau aku tidak mengambil nyawanya pasti iblis lain tetap akan mengambil nyawanya. Apa yg kulakukan hanya sia-sia tapi meski begitu aku tetap tidak bisa melakukan hal ini.
" Aku pergi menghadap appa dulu. Kau pikirkan ini baik-baik hyung.." Taeyong menepuk pundakku sebelum berjalan meninggalkan kamar.
" Katakan pada appa aku tetap tak mau menjalankan tugas ini." Ujarku lagi sebelum dia menghilang dibalik pintu. Taeyong menghela napasnya berat.
" Kau benar-benar keras kepala." Ujarnya seraya beranjak pergi.
- Author Point of View -
Sehun terlihat sibuk menoleh kesana kemari. Ditolehkan kepalanya kesekeliling taman batas mencari sesuatu tapi apa yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Membuat wajahnya yang manis terlihat sedikit kesal.
" Mencariku?" Sehun menolehkan kepalanya kaget saat mendengar suara berat dengan nada dingin menghampiri telinganya.
" Tidak bisakah kau muncul dengan normal? Kenapa harus selalu mengagetkanku seperti itu sih?" Sehun menatap kesal Jongin yang hanya balas menatapnya datar.
" Ternyata kau benar-benar datang." Jongin tersenyum. Meski dia tersenyum tetap saja dia terlihat menakutkan dengan senyum dinginnya itu.
Sehun semakin kesal melihat senyum Jongin. Dia sangat tidak suka melihat senyumnya. Senyumnya tampak seakan meremehkan, dingin tanpa perasaan dan juga membuatnya tampak menakutkan. Padahal tanpa senyum itupun sorot mata dinginnya sudah sangat menakutkan.
" Aku hanya menepati janji. Seorang malaikat tidak boleh ingkar janji." Jawab Sehun.
" Apapun itu tapi kau tetap datang kemari." Balas Jongin senyum dinginnya masih tersungging dibibir merahnya.
" Aku sudah datang kan? Puas?" Jongin mengangguk.
" Bagus. Tidak ada lagi alasanku untuk tetap disini." Sehun berbalik untuk meninggalkan Jongin tapi lagi-lagi seperti kemarin Jongin menangkap tangan Sehun dan dengan sekali hentak Sehun jatuh dalam pelukannya.
Sehun terbelalak kaget dan meronta dalam pelukan Jongin. Dia tidak akan diam saja kali ini. Dia tidak akan jatuh kedalam perangkap yang sama.
" Apa-apaan kau? Lepaskan aku." Sehun meronta kuat-kuat.
" 10 menit! Kumohon 10 menit saja seperti ini." Jongin berbisik pelan membuat Sehun reflek menghentikan pergerakannya.
Bukan karena permohonannya tapi karena suaranya. Suaranya terdengar beda dari biasanya, Sehun bisa merasakan kesedihan dalam suaranya. Entah apa yang ada dipikirannya sampai dia berhenti meronta dan malah mengusap pelan kepala jongin yang tergeletak lemah dibahunya.
Walau Sehun tidak mengenal Jongin dengan baik dan walau dia tahu Jongin adalah seorang iblis yang seharusnya dia jauhi tapi entah kenapa Sehun seakan bisa merasakan kesedihan Jongin. Entah kenapa rasanya hatinya sedih melihat Jongin seperti ini. Alhasil Sehun hanya terdiam dan terus mengusap kepala Jongin dengan lembut.
" Apa jadi malaikat itu menyenangkan?" Tanya Jongin perlahan tanpa mengangkat kepalanya dari bahu Sehun.
" Kenapa kau bertanya seperti itu?" Jawab Sehun lembut sambil tetap mengusap kepala Jongin.
" Hanya ingin tahu saja."
" Tentu saja menyenangkan! Walau terkadang juga agak membosankan sih. Kau sendiri? Apa jadi iblis itu menyenangkan?"
" Sama sekali tidak." Jawab Jongin cepat membuat alis Sehun mengernyit bingung.
" Kenapa?" Tanya Sehun tapi Jongin tidak menjawabnya jadi Sehun memutuskan untuk tidak menanyakannya lagi karena sepertinya Jongin memang tidak niat menjawab pertanyaan ini.
Mereka berdua sama-sama terdiam sampai tiba-tiba Jongin mengendurkan pelukannya dan mengangkat kepalanya dari bahu Sehun.
" Sudah 10 menit. Terimakasih." Jongin tersenyum tipis menatap Sehun yang tiba-tiba merasa canggung.
" Ya.."
" Kau pulanglah." Ujar Jongin.
" Huh? Ah, ya." Sehun bangun dari duduknya perlahan sebenarnya dia masih ingin duduk-duduk disitu dan mengobrol dengan Jongin.
Mungkin nalurinya sebagai malaikat untuk menolong karena setelah melihat Jongin seperti tadi rasanya Sehun ingin menemaninya lebih lama dan menghiburnya tapi karena dia sudah tak punya alasan lagi untuk tetap disitu jadi dia memutuskan pulang.
" Sehuna.. " Jongin memanggilnya saat Sehun hampir melangkah pergi dari semak-semak itu.
" Aku senang hari ini kau datang. Terimakasih." Jongin tersenyum menatap Sehun.
Bukan senyum sinis seperti yang biasa dia tunjukan tapi senyum tulus yang amat lebar. Sehun sempat terpana saat melihat senyumnya tapi dengan cepat dia berhasil menguasainya. Sehun membalas senyum Jongin dan mengangguk perlahan sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Jongin menuju gerbang surga.
Dia tak tahu apa yang terjadi dengan Jongin hingga dia terlihat berbeda dari sebelumnya. Dia juga tak tahu apa yang mendorongnya hingga dia merasa harus menemani Jongin di tengah keadaan seperti itu. Nalurinya sebagai malaikat yang bersifat penyayang dan penolong? Mungkinkah? Sehun tidak tahu. Yang dia tahu, saat ini dia semakin bingung karena dia semakin yakin bahwa Kim Jongin tak sama seperti iblis lainnya dan meski berulang kali dia mengingatkan dirinya bahwa seharusnya dia menjauhi Jongin, nyatanya Sehun mendapati dirinya semakin dan semakin dekat dengan makluk yang paling ingin dijauhinya itu.
To Be Continue...
A/N : Thx so much for the reviews.. All the love guys. Salam cinta dari tanah Kaihun. Till next time, Pai-pai ^^
