My Temporary Wife

Disclamer: Masashi Kishimoto

Story by N.A-Shokun

Cast: Hinata Hyuuga x Itachi Uchiha

Rated: T semi M

WARNING: ABAL-DESU, OOC, AU, TYPO DAN SEGALA KEKURANGAN LAINNYA

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

Melirik jam tangan bertahta berlian hitam yang bertengger ditangannya, Hinata memandang gusar keluar jendela kala mobil yang menghantarkannya terjebak macet di jalanan kota Tokyo yang memang terkenal padat. Apalagi mengingat waktu telah menunjukan pukul 12 siang, waktu dimana para pegawai kantoran sedang menikmati waktu istirahatnya. Jadi Hinata tidak bisa menyalahkan sang supir saat berkali-kali mendadak menginjak remnya karena lampu hijau bagi pejalan kaki terasa lebih lama daripada lampu hijau yang disediakan untuk mobil-mobil yang lalu lalang.

Menghela nafas pasrah, Hinata bersumpah bahwa hari ini dirinya harus sekali lagi memasrahkan diri ketika suaminya kembali merajuk lantaran bekal makan siangnya yang telat. Salahkan sikap manja Itachi yang tidak mau membawa bekal sejak pagi dengan alasan bekal yang dibawa sejak pagi pasti dingin dan berasa hambar. Alasan yang membuat Hinata bolak-balik pulang-pergi dari apartemennya menuju kantor Itachi yang memakan waktu cukup lama karena letaknya yang sedikit jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Kembali fokus mengamati ukiran khas bunga-bunga kecil yang saling melilit, Hinata mengusap pelan jam tangan mewah yang Itachi hadiahkan kepadanya. Awalnya Hinata enggan menerimanya terlebih melihat taburan berlian mahal menghiasi setiap jengkal bagiannya. Tapi setelah Itachi meyakinkan bahwa seorang istri direktur ternama harus terlihat berkelas, akhirnya dengan berat hati Hinata menerimanya dan mengatakan bahwa dia akan memakainya jika sedang berpergian saja.

Tidak habis sampai disitu, diapartemen mewah mereka yang kelewat luas membuat Hinata harus banting tulang untuk membersihkannya, tak terhitung lagi banyaknya barang berharga yang Itachi sengaja hadiahkan untuknya. Dari batu permata yang membuat Hinata tertegun karena perubahan warnanya bila tertimpa cahaya sampai pakaian paling lembut yang sebanding harganya dengan seluruh pakaian yang ada dalam satu departement store. Alhasil, bukan satu-dua kali Hinata mengalami emosi yang membuatnya tak segan-segan menceramahi si pemboros akan pentingnya menghemat uang dan tentu saja selalu dibalas dengan, 'Uangku tak akan habis untuk membeli barang murahan seperti ini.' Ucapan tak bertanggung jawab yang membuat Hinata terpancing untuk membuka slop sandal rumahnya dan melemparkannya tepat ke arah Itachi.

Sejak saat itulah Itachi berubah, tak ada lagi tas jinjing kecil bermerk ternama yang dibawa kerumah. Melainkan berganti dengan sekotak kue cinnamon rolls, sekotak kecil ice cream vanilla kesukaan Hinata. Dan beberapa kali setangkai bunga mawar putih dan lily putih yang dibungkus rapi memakai pita berwarna ungu. Tersenyum manis, Itachi bahkan tak mengetahui perasaan Hinata yang bagai diiris rapi oleh pisau cinta palsu yang Itachi suguhkan. Apakah Itachi tahu apa arti dari bunga yang diberikannya? Bukahkan mereka mengandung arti 'Kesetiaan'? Tuan Uchiha, haruskah anda mempermainkan perasaan Hinata seperti ini? Inikah yang kau anggap sebuah kesetiaan dalam mengabdi kepadamu selama setengah tahun kedepan. Rasa imitasi yang harus luluh kala kontrak selesai dijalani, rasa imitasi yang-

"Kh-" mencengkram erat dadanya yang mendadak sesak, Hinata menyembunyikan wajahnya yang terlihat pucat pasi dibalik kedua tangannya yang bertumpu pada kursi didepannya. Membuat sang supir melirik cemas dari kaca spion melihat sekilas wajah Hinata yang nampak kesakitan.

"Nyon-Nyonya tidak apa-apa?" Membagi perhatiannya antara jalanan dan Hinata yang masih tersungkur ditempat duduknya. Sang supir mencoba bertanya keadaan istri majikannya.

"Tidak apa-apa, Hidan-san. Hanya sedikit mual." Dusta Hinata sambil mengibaskan tangannya pelan.

"A-apa mungkin akan ada anggota keluarga tambahan Nyonya?" Goda Hidan menanggapi pernyataan 'mual' Hinata yang dianggapnya sebagai morning sickness. "Ma-maksud saya jangan-jangan Nyonya hamil." Tergagap karena tutur katanya yang terbilang lancang, akhirnya Hidan menyelesaikan satu kalimatnya.

Tertawa hambar, Hinata membalas pernyatan Hidan sekali lagi dengan lambaian tangannya dan sedikit gelengan kepala. Mengintip rangkaian awan mendung yang berarak dilangit menghalangi sinar matahari mencapai tanah. Hinata terkejut ketika matanya silau karena tiba-tiba kawanan gumpalan keruh itu berlari meninggalkan Hinata, cepat-cepat Hinata mengalihkan pandangannya ke jalanan beraspal. Mata violetnya tertumbuk pada pasangan suami-istri yang terlihat bahagia berjalan berdampingan disebrang trotoar. Ditambah dengan sang pria melangkah bangga mengiringi sang istri yang tertatih sulit berjalan akibat perut buncitnya yang terlihat berat namun tak menyembunyikan aura bahagia yang terpancar dari wajah ayunya.

"Lucu ya." Hinata menyahut mencoba mengalihkan topik pembicaraan yang ternyata juga tidak jauh dari apa yang sedang mereka diskusikan. Sahutan Hinata yang cukup terdengar jelas membuat Hidan melirik ke arah yang ditunjuk oleh Hinata melalui ekor matanya mencoba menemukan objek yang sedang diamati oleh majikannya.

Hidan mengangguk setuju sebelum menginjak gas mobilnya melihat mobil-mobil didepannya berlari kencang. Berdeham kecil mencari perhatian Hinata, sekali lagi Hidan menyuarakan isi hatinya.

"Apa anda tidak tertarik untuk mengalaminya bersama Tuan Besar, Nyonya?"

Hinata mendelik, terlalu terkejut akan apa yang didengarnya barusan. Menekan tuas kaca dengan tidak sabaran. Hinata berusaha merubah tatapan mendambanya pada mereka yang berbahagia agar tak ada lagi salah paham antara dirinya dan Hidan.

"Tidak-" Jeda sejenak. "Belum waktunya." Berusaha mengelak dari pertanyaan Hidan, Hinata mencoba menjawabnya dengan kalem dan santai. Menumpukan tangannya pada sisi-sisi kaca mobil dan kembali memfokuskan dirinya memandang bemper-bemper belakang mobil yang disuguhkan melalui kaca depan mobil hitam BMW milik Itachi.

"Tapi kurasa Tuan Besar pasti senang. Bukankah mempunyai anak adalah impian terbesar pasangan suami-istri yang baru menikah?" Sekali lagi Hidan mengatakan argument masuk akal yang tentunya akan sangat disetujui oleh mereka yang menikah karena cinta. Tapi tidak untuk Hinata.

Mengerjapkan matanya beberapa kali, Hinata mencoba menggali otaknya lebih jauh untuk mencari jawaban terbaik yang bisa dibalaskannya. Nihil, otak Hinata sudah porak-poranda oleh impian-impian manis membina rumah tangga bersama Itachi. Dan saat itulah Hinata menyesali perkataan lancang tak bertanggung jawabnya. Kalau saja waktu itu Hinata tak serta-merta menawarkan apapun yang bisa dia lakukan, pasti sekarang tak akan serumit ini. Yah, memang rumit kalau kau jatuh cinta pada seseorang yang menjadikanmu istri 'sesaat'nyakan? Apalagi kalau semua itu dilakukan untuk tujuan balas dendam. Kalau nanti Itachi berhasil membalaskan dendamnya bukankah Hinata sudah tidak berguna lagi? Dan bagaimana kalau Itachi kembali pada mantan tunangannya? Hinata berharap ketika hal itu terjadi, maka saat itulah Hinata berhasil melayukan bunga cintanya dan kalau bisa sebelum kuncup itu mulai mekar dan tumbuh lebih banyak hatinya. Haaah, sungguh Hinata tak percaya bahwa dirinya akan terjebak dalam perasaan cinta yang cukup kompleks seperti ini.

.

.

.

Menatap tak percaya pada pemandangan yang dilihat oleh manik amnesthynya. Hinata terhuyung mundur kebelakang sambil menjaga kotak bekal yang dibawanya agar tak jatuh dan menimbulkan bunyi yang memekakan telinga. Memandang nanar melalui pintu kayu yang sedikit terbuka, Hinata bisa melihat pemandangan 'itu' dengan jelas. Pemandangan yang menyuguhkan adegan dramatis seorang wanita berambut merah yang menghambur memeluk sang suami dengan rentetan kata maaf dan penyesalan. Tanpa penjelasan yang berarti pun Hinata tahu, pasti wanita itu mantan tunangan suaminya yang sekarang menyesal karena meninggalkan seorang pria hebat seperti Itachi.

Rasanya sakit disini, mencengkram dadanya yang berdenyut nyeri serasa dipukuli godam bertubi-tubi. Hinata segera mengambil langkah seribu untuk pergi dari tempat yang menyesakan dadanya. Menahan isak tangis yang tercekat ditenggorokannya, dan menahan tangis yang hampir tak terbendung dipelupuk matanya, Hinata membalikan badan merasa lebih baik bahwa dirinya menunggu diruang tunggu yang tersedia sebelum kembali menuju ruangan suaminya. Ini bukan Hinata yang biasanya, sebab biasanya Hinata akan langsung menuju kantor Itachi terlepas Itachi ada atau tidak, sedang sibuk atau tidak, tapi hari ini berbeda, Hinata akan merasa sangat bersalah apabila menerobos masuk dan merusak momen-momen indah pasangan sejoli yang nampaknya akan kembali rujuk itu.

Habislah sudah! Habislah sudah kesempatan Hinata berperan sebagai istri yang baik untuk Itachi. Kami-sama, kenapa secepat ini kau ambil kebahagian Hinata? Apakah Hinata memang tidak pantas untuk Itachi, hingga tidak memberikan Hinata kesempatan untuk sejenak berdiri dengan bangga mendampangi sang Uchiha sulung? Sambil terseok-seok melangkah, Hinata mencapai kursi panjang yang disediakan dilorong-lorong kantor beberapa jarak langkahnya dari kantor Itachi.

Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika sekelebat otak realistisnya mengambil alih. Untuk apa dia merasa sakit hati? Bukankah harusnya dia siap dengan segala kemungkinan ini? Kenapa tidak berpura-pura saja? Berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Kalau sedikit-sedikit melibatkan masalah perasaan, kapan Hinata bisa menjalani pekerjaannya secara profesional. Dan dengan itu Hinata kembali merubah arah langkahnya bergegas kembali menuju kantor Itachi. Dalam keheningan, Hinata sedikit terkejut kala ada yang memanggilnya.

"Hinata-neesan?"

Membalikan badan, Hinata mencoba menghadapi Sasuke dengan senyum hangat yang sebisa mungkin dia tampilkan diwajahnya.

"Sasuke-san." Membungkukan badan sambil mendekap kotak-kotak bekal yang ada didadanya, Hinata berusaha menanggapinya dengan nada senormal mungkin.

"Kau baru saja datang? Ingin menemui Itachi?"

Mengangguk refleks, Hinata membiarkan adik iparnya beranggapan bahwa dirinya baru saja menapakan kakinya kedalam bangunan megah yang menjulang tinggi itu tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Hinata sudah sampai beberapa waktu yang lalu dan sempat melihat hal yang mungkin sebenarnya tak boleh dilihatnya.

"Errr-" Sasuke mengelus tengkuknya kikuk sebelum akhirnya menawarkan diri untuk membawakan bekal yang Hinata bawa. "Itachi sedang ada tamu penting, kau bisa menitipkannya padaku." Tawarnya menunjuk kotak bekal terbungkus kain biru bermotif.

Hinata tersenyum maklum, mungkin itulah salah satu cara yang Sasuke lakukan untuk melindungi Itachi. Hinata berspekulasi mungkin sebenarnya Sasuke lebih menginginkan sang mantan tunangan Itachi untuk hidup mendampingi Itachi, bukannya malah Hinata yang tak jelas asal-usulnya, tanpa Hinata tahu bahwa Sasuke berusaha mencegah Hinata agar tak segera menuju kantor Itachi dan melihat sekelebat pertunjukan live yang dapat membuatnya sakit hati yang nyatanya toh sudah sempat Hinata lihat.

"Terima kasih." Sambut Hinata mengangsurkan tas berisi kotak bekal yang dibawanya. "Dan tolong katakan pada Uchiha-sama bahwa aku akan pergi sebentar." Pinta Hinata tak sungkan mengumbar kesopanannya memanggil Itachi dengan sebutan keluarganya.

"Hinata-san, jangan memanggil aniki dengan panggilan seperti itu. Bagaimana kalau ada yang dengar?" Protes Sasuke mendengar panggilan Hinata yang ditujukan untuk Itachi, rasanya Sasuke jadi sedikit mengerti bagaimana rasanya menjadi Itachi, pasti rasanya menyesakan ketika wanita yang kau sukai enggan memanggil namamu sendiri.

"Ah, maaf, aku kurang hati-hati." Merasa bersalah, Hinata membungkam mulutnya sendiri dengan satu tangannya. Mau bagaimana lagi, itulah jarak yang Hinata ciptakan antara dirinya dan Itachi. Sebuah tindakan kecil yang mengingatkannya akan hubungan yang sedang dijalinnya, hanya sebuah hubungan kerja, dimana dia hanya berperan sebagai bawahannya.

Hening sejenak, seakan keduanya enggan untuk bercakap-cakap. Berteman sepi, keduanya tenggelam dalam kesibukan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya keheningan yang mencekam itu terusik kala indra pendengaran mereka menangkap langkah kaki samar yang datang dari arah kantor Itachi. Satu langkah samar yang diikuti oleh langkah-langkah lain yang saling berkejaran.

"Karin! Karin!" Suara itu menggema disepanjang lorong. Oh tidak! Hinata kenal suara itu, itu suara Itachi dan sungguh mendengarnya memanggil nama wanita lain dengan nada mendamba bukan sesuatu hal yang Hinata inginkan saat ini.

"A-aku harus pergi." Panik, Hinata hendak beranjak pergi saat tiba-tiba saja Sasuke menarik tangannya dan menyeret Hinata untuk segera meninggalkan tempat tersebut.

Tertatih-tatih mengimbangi langkah Sasuke yang panjang dan lebar. Hinata bisa memastikan bahwa akan tercetak ruam merah ditangannya karena cekalan tangan Sasuke yang begitu kuat. Meringgis menahan sakit, Hinata berusaha bungkam dan tidak protes terhadap tindakan Sasuke yang terbilang cukup kasar.

"Ini tidak seperti yang kau pikirkan." Menggeram marah, Sasuke mencoba mengklarifikasi kejadian yang baru saja menimpa Hinata. "Dengar-" Memasuki ruang kerjanya, Sasuke mendorong pintu kantornya dengan cukup keras menimbulkan bunyi yang memekakan telinga.

"Itachi tidak akan pernah mengkhianatimu! Kau harus tahu itu!" Berteriak frustasi sembari mengguncang bahu Hinata. Sasuke mencoba meluruskan semua salah paham yang mungkin akan Hinata pikirkan.

"Te-tenanglah, Sasuke-san." Mencoba mendorong Sasuke untuk menjauh agar mendapatkan ruang gerak yang bebas dan terhindar dari rasa pening, Hinata mencoba menginterupsi kata-kata Sasuke yang keluar secara bertubi-tubi.

"A-aku tidak akan salah paham. Aku tahu dimana peranku." Menundukan kepala menatap lantai marmer dibawahnya, dengan gugup Hinata memainkan ujung sepatu flatnya. "Tidak apa-apa kok. A-aku senang akhirnya tujuan Uchiha-sama tercapai. Balas dendamnya berhasil bukan?" Menyunggingkan senyum hambarnya Hinata berbalik meraih kenop pintu milik Sasuke. "Sa-Sasuke-san, sampaikan izin dan salamku pada Uchiha-sama. Permisi."

BLAM!

Dan pintu pun ditutup, meninggalkan Sasuke dengan setengah mulut terbuka hendak memberi penjelasan lebih lanjut pada Hinata.

.

.

.

Meninggalkan kantor Itachi dengan perasaan berantakan, Hinata mencoba menata kembali puing-puing hatinya yang bisa menjadi sangat rapuh ketika berhadapan dengan Itachi. Hinata tahu bahwa ini bukan pertama kalinya dia merasa patah hati, tapi kenapa baru sekarang rasanya sesakit ini?

Menggerutu karena kakinya yang mulai pegal berjalan tanpa arah. Dengan sigap Hinata duduk disalah satu tempat yang disediakan bagi pejalan kaki yang hendak beristirahat didepan stasiun kota Tokyo. Menyepak pelan kerikil-kerikil yang berada didepannya, Hinata tidak sadar bahwa pergerakannya sendari tadi mendapat perhatian dari beberapa pemuda nakal yang sedang berkumpul disekitar tempat itu.

"Sendirian saja? Mau main bersama kami?" Seseorang menepuk bahunya membuat Hinata mau tidak mau mendongakan kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang menganggunya.

"Maaf?" Balas Hinata dengan sejuta kepolosannya.

Bukannya menjawab, pemuda yang menyapa Hinata malah terlihat sibuk setelah salah seorang temannya membisikan sesuatu padanya dan menunjuk Hinata. Menyipitkan matanya, Hinata mulai terganggu dengan tingkah polah para remaja labil yang menggodanya. Menyambar tas kecil yang daritadi dibawanya, Hinata hendak pergi sebelum akhirnya dehaman kecil mengalihkan perhatiannya. Berdeham sejenak, akhirnya sang pemuda kembali memfokuskan diri untuk menggoda Hinata.

"Tunggu dulu, kau belum menjawab pertanyaan kami." Pinta sang pemuda mencekal lengan Hinata.

Mengeryit tanda tak suka, Hinata berusaha mengibaskan tangannya agar terlepas dari genggaman tangan si pemuda. Tetapi karena perbedaan kekuatan yang cukup signifikan, sekuat apapun Hinata mencoba tangannya tak pernah bebas dari cengkraman sang pemuda, makin sakit takkala bekas merah yang Sasuke torehkan semakin ditekan erat oleh tangan-tangan nakal yang menahan kepergiannya.

"Lepas!" Hardik Hinata mencoba tegas yang dibalas dengan cekikikan dari tiga pemuda yang menghadangnya.

"Akan kulepaskan kalau kau mau ikut main bersama kami." Balas salah satu temannya sembari membenahi topinya yang sedikit miring.

"Aku tidak tertarik! Oh, ini gila! Carilah yang seumuran dengan kalian." Melempar tatapan penuh amarah pada tiga pemuda iseng yang tak tahu sopan santun. Hinata kembali menampilkan sosok wanita dewasa tegas yang berusaha menanggani anak-anak remaja bermasalah yang mencoba menganggunya.

"Tak apa, kau juga cantik! Bukankah asyik bermain bersama daun muda? Ayolah tante! Kita bersenang-senang!"

"Kau-" Belum sempat Hinata berteriak histeris meminta pertolongan saat para pemuda itu mulai beringas dengan menarik tangannya. Tiba-tiba Hinata merasakan sebuah tarikan paksa yang membuat genggaman sang pemuda yang melingkari lengannya lepas dan merasakan punggungnya menabrak sebuah dada bidang yang melindunginya dari gerak jatuh bebas menyentuh aspal.

"Maaf bocah! Kau cari masalah dengan orang yang salah! Mau apa kau dengan istriku?" Suara berat dan maskulin mengalun ditelinga Hinata. Tapi ada yang salah, itu bukan suara Itachi. Jadi siapa sebenarnya pembohong yang menyelamatkannya ini?

Hampir saja Hinata refleks untuk melakukan tindakan beladiri dengan menyikut perut sang pembohong, nyatanya itu semua tidak terealisasikan dengan baik karena sang pembohong keburu menahan tangan Hinata yang sudah melayang.

"Sssttt- Nata-chan! Jangan bergerak." Perintahnya masih betah mengalungkan gelang tangannya dibahu Hinata.

Tunggu! Hinata kenal suara ini! Mungkinkah-

"Ne-Neji-kun?"

Sang pria mengangguk, membiarkan surai-curai coklat panjangnya sedikit menggelitik pipi Hinata. Menatap balik binar cerah yang mampir di iris pualam milik Hinata, sang pria—atau Neji lebih tepatnya menyunggingkan senyum lembut sembari mengusap pelan mahkota indigo milik Hinata tanpa mengindahkan para pemuda yang mencibir iri meninggalkan pasangan keturunan adam-hawa yang dimabuk cinta melalui kacamata presepsi mereka.

"Ne-Neji-kun?" Hinata berbalik, mencoba memanggil nama sang pria seingat yang dia mampu, nyaris berteriak girang saat sang pria membalasnya dengan sedikit anggukan.

"Neji-kun!" Hinata terisak penuh kebahagiaan, melingkarkan tangan-tangannya disekeliling dada sampai punggung pria didepannya, menenggelamkan kepalanya didada bidang milik sang pria yang terbalut mantel yang tidak begitu tebal demi menghindari hembusan angin musim gugur yang sedikit tidak bersahabat. "O-okaerinasai!" Lanjutnya pelan meski masih tergugu didalam rengkuhan Neji yang mulai membalas pelukannya.

"Tadaima—" Sedikit berbisik ditelinga Hinata, Neji mengelus pelan punggung Hinata yang terlihat ringkih dan tak berdaya bersamaan dengan senyum getir yang tertoreh karena keironisannya gagal melindungi Hinata.

Menyeka air mata yang mengalir dipipinya menggunakan ujung bajunya, Hinata menjauhkan diri dari himpitan posesif tubuh Neji dan sedikit menyesal telah meninggalkan bekas basah dimantel warna coklat yang sedang Neji pakai. Mengadahkan kepalanya, Hinata memandang Neji dengan takut-takut ditambah rona pink kecil karena malu mengingat tingkahnya yang mirip anak kecil. Ini semua salah Neji yang tiba-tiba muncul, padahal Hinata sudah bertekad menjadi gadis yang tegar. Tapi hanya sekali bertemu Neji, Hinata sukses menanggalkan title gadis tegar yang susah payah dibangunnya, berubah total menjadi gadis cenggeng yang banyak masalah.

"La-lama tidak bertemu, ma-maaf penampilanku menyedihkan." Sesekali menyedot ingusnya yang masih setengah jalan keluar, Hinata menutupi hidungnya yang merah bagai tomat matang dengan satu tangan. "A-aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu." Ucapnya tulus merogoh kantong bajunya mengeluarkan saputangan ungu berenda hitam dipinggirnya untuk mengusap wajahnya yang masih basah dan acak-acakan.

"Sudah tiga tahun?" Aksen bertanya yang dilontarkan Neji membuat Hinata sedikit mengangguk membenarkan pernyataan yang lebih menjurus pertanyaan itu. "Maaf."

"Eh?"

"Aku gagal melindungimu dan memenuhi janjiku." Tertunduk lesu dengan bahu yang terlihat turun seolah-olah ada beban tak kasat mata yang dipikulnya, Neji membuat Hinata mau tidak mau kembali memasang senyum pasrahnya karena tidak ingin melihat raut wajah Neji yang menderita.

"Aku tidak menderita kok." Menentang argument Neji yang menghakiminya memiliki kehidupan yang tidak menyenangkan, Hinata mengatakan pendapatnya walau hanya setengah hati. "Suamiku orang yang baik, aku bahagia." Ya, setidaknya secara lahiriah walau bukan batiniah.

"Hinata." Panggilan penuh menekanan membuat Hinata sangat ingin menghindari kontak mata dengan iris identik milik Neji. Meneguk ludah dengan susah payah, Hinata sadar kalau urusannya tak akan mudah bila Neji sudah mulai memanggilnya dengan nama aslinya. "Kau harus menjelaskan semuanya padaku." Ancam Neji membuat Hinata mau tak mau harus membeberkan semua rahasia pada satu-satunya orang yang dapat diandalkannya.

"Baiklah, Neji-kun. Tapi tidak disini." Mengiring Neji masuk kedalam restoran terdekat, Hinata yakin bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan.

.

.

.

TBC

.

.

.

Kayaknya ini fic bakal jadi panjang kayak sinetron dan penuh dengan drama picisan

Yah, intinya Sho-kun nggak jamin ya kapan updatenya soalnya lagi mood swing begitu deh apalagi lagi sibuk mau pindahan soalnya ternyata Sho-kun keterimanya di universitas luar kota.

Well, nikmatin dulu ini ya. Maaf buat yang nungguin Papa sama TMO—

Bener deh, Sho-kun udah pada ngetik setengah-setengah tapi selalu males kalau udah sampai tengah jalan. Ada yang mau lanjutinkah? #uhuk

Last, Mind to RnR?
Sankyu

With Love

Sho-kun