Chapter 2 : Bad Dream (Nightmare)

1 bulan telah berlalu, tetapi kekhawatiran dan ketakutan yang di rasakan Rin dan Len bertambah karena beberapa murid dan guru menghilang secara misterius beberapa hari yang lalu. Polisi terus mencarinya, tapi tidak ada tanda-tanda bahwa polisi telah menemukan mereka, sehingga polisi menyerah untuk mencarinya. Akhirnya, Rin dan Len memutuskan untuk mencari mereka dengan cara mereka sendiri.


[KAGAMINE TWINS HOME 21.00 P.M]


"Nee Len, apa kita perlu mencari mereka di seluruh bagian sekolah kita?" Tanya Rin. "Mungkin. Hantu Sekolah itu tidak akan meninggalkan tempatnya, karena kekuasaan mereka ada di sekolah itu," jawab Len yang sedang berkutat dengan iPhone-nya. "Bagaimana kalau besok saat istirahat sekolah kita cari Hantu Sekolah itu?" usul Rin. "Boleh juga, kita akan tanya dulu kisah hantu dari anak kelas." Balas Len lalu meletakkan iPhone-nya di meja belajar. "Tidak usah! Ntar, anak kelas akan memandang kita aneh. Pokoknya gak usah!" larang Rin. Len hanya menghela nafas "Terserah Nee-chan aja," balas Len. "Hora! Rin, Len cepat tidur! Besok kalian sekolah!" kata Lily tiba-tiba membuat Rin dan Len terlonjak kaget.

"Kaa-san! Kau hampir membuat jantung kami lepas dari tempatnya!" kata Rin dan Len bersamaan. "Oh ya? Gomen ne…. Kalian cepat tidur, kalau tidak…" Lily menggantungkan ucapannya. "Kalau tidak?" ulang Rin dan Len bersamaan (lagi). Lily menyeringai "Kalian akan didatangi Nightmare Ghost. Dan kami akan mengurangi uang saku kalian," lanjut Lily dengan suara horornya. Len dan Rin bergidik ngeri, bukan karena Nightmare Ghost, tapi pengurangan uang saku mereka. Tanpa pikir panjang sepasang anak kembar itu naik ke kasur mereka masing-masing.

Lily yang melihat kelakuan mereka hanya bisa tersenyum khawatir. Tunggu, khawatir? Tentu saja, tanpa Len, Rin sadari Lily menguping pembicaraan mereka. "Semoga kalian dapat bertahan dengan Wizard Ghost," gumam Lily lalu keluar dari kamar sedudah mematikan lampu dan tidak lupa untuk menutup pintu. Setelah terdengar suara pintu tertutup, Rin membuka matanya lalu melongok ke bawah (Note : Kamar tidur mereka bertingkat, Rin di atas, Len di bawah.) "Len kamu sudah tidur?" tanya Rin dengan suara bisikan.

"Belum, ada apa Rin-nee-chan?" jawab Len pelan. "Kamu dengar tadi 'kan? Kaa-san bilang Wizard Ghost, mungkin hantu itu yang menculik guru dan murid di sekolah kita beberapa hari yang lalu," kata Rin yang sudah kembali ke posisi tidur. "Mungkin iya. Sudahlah kita harus tidur! Kalau tidak, Kaa-san dan Tou-san akan mengurangi uang saku kita. Oyasumi Rin-nee-chan," kata Len lalu tidur. "Um…. Oyasumi," balas Rin. Mereka pun mulai menjelajahi dunia mimpi mereka masing-masing.


Len POV


'Gantung dia! Dia pantas mati! Penyihir hitam harus dimusanahkan!' teriak sekumpulan orang. Aku melihat wanita berambut pink sepunggung, memakai baju putih terusan sedengkul lengan pendek digantung di pohon besar. Tunggu, pohon itu… kalau gak salah ada di dekat gudang sekolah yang terkenal angker itu. Jangan bilang…. 'Lepaskan aku! Aku bukan penyihir! Lepaskan aku!' teriak gadis itu meronta-ronta mencoba muntuk melepaskan tali yang ada di lehernya. Apa dia Wizard Ghost yang Kaa-san bilang? 'Kau adalah penyihir, Luka. Kau telah membunuh Miku dan Kaito, kau juga hampir membunuhku dengan sihir hitammu. Aku sudah tidak percaya denganmu! Matilah kau!' kata salah satu dari kumpulan orang tersebut. Orang itu berambut ungu panjang yang kira-kira sepunggung, diikat ponytail, sebenernya tuh orang perempuan apa laki-laki?

Wanita itu kehabisan nafas, dia menatap tajam sekumpulan orang itu dan… aku? Tunggu, aku gak salah lihat 'kan? Dia menatapku tajam seolah aku termasuk dari kelompok orang yang barusan menggantungnya. 'Aku… a-a-akan…membalas dendam. A-aku tid-dak akan lupa atas perbuatan kalian!' kata wanita itu, lalu mengambil nafas yang tersisa. 'Aku akan membunuh kalian sampai keturunan kalian! Tidak peduli kalian akan minta maaf atau apapun!' lanjut wanita itu menyeringai. Seringaian itu tidak berlangsung lama, dia mati dengan tetesan air mata. Aku melihat tubuh wanita itu mengeluarkan seperti asap putih. Aku baru menyadari bahwa asap putih itu adalah arwah dari wanita yang digantung tadi, arwah itu menghampiriku secara perlahan, sedangkan aku terus berjalan mundur. Aku terus mundur tanpa menyadari bahwa tembok telah menghetikan gerakanku.

'Cih! Tembok sialan! Gak tahu apa gue lagi ketakutan sama arwah wanita itu!? Mana Nee-chan kagak ada!' umpatku dalam hati. Lupakan soal umpatan tentang tembok tadi, masalahnya itu arwah terus mendekat ke arahku. Kakiku tiba-tiba terasa lemas, aku langsung merosot(?) saat arwah itu ada di depanku. Aku memejamkan mataku erat-erat, takut kalau diapa-apain sama arwah itu. 'Aku Megurine Luka, orang-orang memanggilku Wizard Ghost. Jika kau ingin guru, teman, kakak, dan sekolahmu selamat, kau harus menyerahkan tubuhmu!' kata wanita itu di telingaku. Keringat dingin langsung mengucur deras di tubuhku. Tunggu, Wizard Ghost!? Jadi benar dugaanku, dia memang Wizard Ghost. 'Jika kau tidak memberikan tubuhmu besok, semua orang yang ada di dekatmu akan mati di depan matamu,'lanjut arwah wanita itu, siapa tadi namanya? Arrghh! Lupakan! Itu gak penting, yang penting sekarang adalah, kenapa dia ingin tubuhku? Apa dia akan merasukiku gitu? Aku ingin bertanya itu ke Wizard Ghost tapi, tiba-tiba pandanganku langsung gelap 'Jangan lupa apa yang kukatakan tadi,'


Normal POV


"Len! Chotto, Len! Bangun! Kaa-san menyuruhmu mandi!" kata Rin sambil menggoyangkan tubuh Len yang sudah basah dengan keringat. Len membuka matanya, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar dan mendapati Rin yang sedang menatapinya dengan wajah sedikit kesal, "Rin-nee-chan?" panggil Len lemah. Rin yang mendengar suara Len agak berubah langsung khawatir. 'Pasti ada yang gak beres! Biasanya dia langsung ceria setelah bangun tidur, tapi yang ini malah suram,' pikir Rin. Dugaan Rin terbukti karena Len tiba-tiba menangis, Rin langsung gelagapan melihat adiknya yang jarang nangis di depannya, biasanya Len berlagak sok kuat di depannya. 'Bener 'kan, pasti ada yang gak beres,' pikir Rin lagi.

"Kenapa kamu menangis? Kamu mimpi buruk?" tanya Rin sambil duduk di samping Len. Len langsung memeluk Rin dan menangis sampai terisak-isak. "Sangat buruk….," jawab Len masih menangis di pelukan Rin. Rin mengelus kepala Len dengan lembut, "Mandi dulu sana…. Nanti cerita ke Nee-chan. Jangan nangis, kamu laki-laki lho…. Masa' nangis di depan Nee-chan yang perempuan ini…," kata Rin lembut. Len mengangguk, lalu menghapus air matanya. Rin tersenyum "Mandi dulu sana…. Nanti telat," pinta Rin di balas anggukan Len (lagi). Lalu berjalan ke kamar mandi sambil membawa seragam dan handuk.

'Mimpi Len pasti buruk, aku takut kalau itu menjadi kenyataan…,' pikir Rin

-To Be Continued-


Bagaimana? Bagus 'kan? Bagus ya? Bagus aja deh! (Maksa)

Nah... Untuk chapter selanjutnya tunggu saja! Aku akan langsung ketik kilat biar cepet selesai!

Akhir kata REVIEW please!