"Harry, kita ikuti siapa?" tanya Hermione yang buru-buru menambahkan, "Snape atau Malfoy?"
Harry menatapnya sejenak.
"Si Ferret albino kurang asem itu saja," jawabnya mantap. Hermione mengernyitkan kedua alisnya. Memangnya tadi dia menawarkan pilihan ketiga ya?
.
.
Misi?
Rozen91
Harry Potter © J. K. Rowling
Ch. 2
.
.
Dengan perlahan namun pasti, dua orang berperilaku kriminal itu mengendap-ngendap di setiap pilar yang dilalui oleh Draco. Mereka bersyukur Harry mempunyai kacamata portable yang memudahkan mereka untuk mengawasi gerak-gerak mencurigakan laki-laki itu. Hermione bahkan mengagumi kacamata itu saat ia berhasil men-zoom permen karet yang ada di celama Draco. Waah! Gak nyangka Malfoy orangnya jorok. Sampah tuh buangnya di tempat sampah, bukan malah ditempel di celana. Katanya pewaris, masa' pewaris orangnya pengotor. Bisa mati muda, tuh.
"Mau apa dia ke Menara Astronomi?" bisik Harry heran sekaligus sebal. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia agak sensitif. Hermione mengintip dari bahunya. Mereka saling berpandangan seraya meneguk ludah. Jangan-jangan dia mau bunuh diri? ('Asyik! Ada pesta, ada ayam! Cepatlah bunuh diri, Malfoy!' batin Harry kegirangan)
"Draco?"
'Eh?' Harry dan Hermione terdiam mendengar suara parau dan sumbang itu. Tunggu dulu! Bukankah itu suara Dumbledore? Apa dia mau bunuh diri juga? Apa zaman sekarang cara pintas mengakhiri hidup dengan bunuh diri sedang tenar? Apa Snape akan melahirkan anak kembar? Oke, yang terakhir ngawur.
Lalu?
Atau...
Atau Draco sebenarnya akan melaksanakan tugasnya yang diberikan Voldemort padanya?
...Membunuh Dumbledore?
2H itu saling menatap dengan air muka horor. Seolah menyadari 2H tak akan lengkap tanpa O.
"HEI, MALFOY! BERHENTI KAU!" raung dua orang itu seraya berlari melindungi Dumbledore di belakang mereka. Draco terhenyak. Ia lantas menarik tongkat sihirnya saat dua orang itu mengacungkan tongkat sihir ke dalam hidungnya. Kurang asem! Susah, tahu, bikin hidung perfect kayak gini!
"Feh! Mau apa kalian!" Draco memberikan tatapan mencela pada 2H-tanpa-O itu. Harry menyipitkan kedua matanya.
"Kami tak akan membiarkanmu membunuh Prof. Dumbledore!"
"Benar sekali!" Hermione membenarkan.
"Malfoy, biarpun beliau sudah ubanan, keriput, dan bau tanah, kau tak bisa dengan seenaknya mengakhiri usianya begitu saja!" ujar Harry seolah tak menyadari orang ketiga yang ia bicarakan a.k.a Dumbledore masih ada di belakangnya. Beruntung, telinga tua orang tua itu tengah mengalami kerusakan akibat jeritan 2H-tanpa-O sebelumnya.
Draco tampak memikirkan ucapan Harry. Dalam hati, ia setuju dengan pendapat musuh buyut-buyutannya itu. Iya, ya, si Dumbledore, kan, udah mau ketemu ajal. Ngapain juga dia repot-repot membunuh si peot itu kalau usianya sudah tak lama lagi? Gaje banget si Voldemort itu.
Tunggu dulu!
Memangnya siapa yang suruh membunuh siapa?
Merasa dibodohi dan difitnah, Draco menuding jidat Harry dengan tangan kanannya yang sedari tadi terus berdiam di perutnya.
"Kau-"
Trak! Trek! Trak!
Ups! Apakah itu suara mangga masak yang jatuh di atas seng atau apa?
Oh, ternyata! Itu adalah suara benda-benda yang jatuh dari dalam baju Draco –yang ternyata sejak awal ditahan oleh tangannya yang tak memegang tongkat sihir. Hermione dan Harry lantas menahan nafas saat tahu benda apa itu. Jantung mereka berdetak keras. Kini, mereka mengetahui apa yang diperintahkan Voldemort kepada anak semata wayang keluarga Malfoy itu.
Itu adalah-
.
.
.
.
.
.
...men-
.
.
.
.
.
.
.
-JUAL KASET DVD BAJAKAN TRIO MAC*N PADA DUMBLEDORE!
Benar-benar biadab! Rupanya Voldemort ingin menyebarkan virus dangdut di kalangan Hogwarts! Hati semua orang bisa terluka. Apalagi, Harry yang baru saja berhasil mempopulerkan musik pop di kalangan siswa tahun ketiga. Ia benar-benar sakit hati! Ia tidak bisa menerima kenyataan jika musiknya dikalahkan oleh musik dangdut. Ini sangat menyakiti hatinya yang polos dan suci-woi! mananya yang 'polos dan suci'!.
"Musik dangdut, Mr. Malfoy?" tanya Dumbledore heran. Draco menelan ludah. Ini dia kesempatannya. Dia harus memanfaatkannya dengan sangat baik dan efisien. Mumpung ada calon konsumen yang sukarela minta penjelasan tanpa dipaksa.
"Ya, benar sekali, pak. Saya harap bapak tertarik dengan rekomendasi saya ini. Apalagi ini adalah permintaan khusus dari Tuan Voldemort demi menyambung hubungan silaturahmi yang sakinah, mawahdah, dan rohmah," jelasnya panjang lebar, membuat Harry teringat dengan salesman penjual paksa yang sempat ia layani saat berada di rumah Dudley. Anehnya, suaranya sangat mirip dan kata-katanya juga sama persis. Jangan-jangan... alah! mana mungkin, ya! Hahaha!
"Tunggu dulu, Profesor! Kita tak bisa menerima kaset bajakan seperti ini. Apalagi ini adalah musik dangdut!" cegat Harry panik. Ehehehe! Musik pop harus berjaya, coy!
"Apa maksudmu dengan kaset bajakan, Potter? Ini, nih, produk asli bebas formalin! Jangan main fitnah begitu, dong," bela Draco memperlihatkan label keaslian kaset-kaset tersebut. Harry tersentak. Cih, sial!...ngomong-ngomong siapa yang yang bahas tentang formalin, sih?
"Draco!" seru Snape saat berhasil sampai di menara Astronomi dengan sebuah benda elektronik di kedua tangannya. Dumbledore tercengang.
"Severus, jadi, selama ini kamu..." Ia tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia hanya menatap Snape dengan perasaan terkhianati. Dia pikir orang kepercayaannya ini setia pada radio, ternyata... dia lebih menyukai DVD yang ada di tangannya!
"Maafkan saya, Albus. Tapi, saya harus membantu anak ini dulu," ucap Severus dengan nada monoton. Dumbledore menaikkan alis tertarik dengan memberi gesture mempersilahkan.
"Ya, Profesor," ucap Draco setuju seraya memasukkan salah satu kaset ke dalam DVD. Harry menegang dan Hermione waspada sekaligus penasaran dengan apa yang akan terjadi. Harry Potter bersiap mencegah tindakan dua orang itu.
"Jangan-"
"DENGARKANLAH LAGU KAMI, PROFESSSOOOORRR!"
.
.
.
.
.
.
.
IWAK PEYEK! (IWAK PEYEK)
IWAK PEYEK NASI JAGUNG!
SAMPE TUEK! (SAMPE NENEK)
TRIO MAC*N TETAP DISANJUNG!
Alunan musik dangdut yang ceria (eh? kok, kayak lirik lagu, ya?) terdengar jelas dan sangat keras hingga membangunkan seluruh murid Hogwarts yang tertidur nyenyak, tak terkecuali pencuri mangga di Hutan Terlarang. Voldemort yang sedang menumpang di Manor Malfoy pun mau tak mau terpanggil untuk bergoyang. Bahkan seluruh anggota Pelahap Maut yang sangat akrab dengan lagu ini spontan melaksanakan rutinitas mereka: Goyang Gergaji dan Putar-Putar Kepala. Dan jangan heran saat anda melihat Lucius Malfoy yang saat ini sedang rapat di Kementrian, tiba-tiba berdiri di atas meja dan melaksanakan rutinitasnya yang membuat orang-orang terjungkal ke lantai... karena tertawa terbahak-bahak. Mungkinkah ini hiburan ekstra bagi para pekerja Kementrian yang tanpa lelah mengurus rakyat? Mereka harus sujud syukur saat ini juga!
Dumbledore yang tanpa sadar ikut bergoyang berusaha menguasai diri dan segera menghentikan musik penyebar teror itu hingga keadaan menjadi aman dan terkendali. Ia berdehem membuat perhatian tertuju padanya. Draco dan Harry harap-harap cemas.
.
.
.
.
.
.
.
"Maaf, saya tetap setia pada radio," ucap tegas, membuat Harry bersorak girang dan Draco menunduk lesu. Aduuh, matilah dia...
#Apa hubungannya coba?
Dumbledore tampak berpikir sejenak. Apakah dia akan mengubah pemikirannya? atau otaknya?
.
.
.
.
.
.
"Tapi, saya tidak keberatan dengan musik dangdut."
Horreeeee!
Kali ini, Harry yang menunduk lesu seraya meratapi masa depan musik pop miliknya. Di depannya, Draco Malfoy terjatuh di lututnya dengan derai air mata bahagia. Kedua tangannya meminta pada langit yang mulai bersinar cerah saat matahari menampakkan cahayanya. Snape memandang sosoknya penuh haru. Hermione mengangguk, memahami perjuangan laki-laki itu. Dumbledore tersenyum. Yaah, dengan begini ia tetap bisa menikmati musik dangdut setiap waktu di radio. Khukhukhu!
Akhirnya, Pelahap Maut semakin tenar setelah mempopulerkan musik dangdut di seluruh Britania Raya. Uang kas organisasi mereka pun bisa diisi kembali, bahkan utang luar negeri pun berhasil diselesaikan. Mereka bahkan membuka sekolah khusus menari dangdut yang berpusat di Skotlandia yang diresmikan oleh Voldemort sendiri dengan Nagini sebagai guru utama. Dumbledore pun bisa asyik mendengarkan musik dangdut di radio sambil duduk-duduk minum teh di ruangannya. Dan tak lupa juga pelajaran tambahan di Hogwarts: Musik dan Tarian Dangdut yang dipegang oleh guru baru, yaitu Rh*ma Irama. Well, dengan musik dangdut ini, terciptalah kedamaian dan ketentraman antara muggle dan penyihir. Matahari bersinar cerah tatkala musik dangdut menghiasi dunia. Namun, semuanya berubah saat negara Api menyerang.
Oh, abaikan kalimat terakhir itu.
Namun, terkucilkan dari hiruk pikuk musik dangdut, Harry Potter menyimpan rencana. Ia akan menggulingkan popularitas musik dangdut dengan rencana cemerlangnya ini! Ahahaha!
Ia akan menjalin kerja sama dengan pihak Jepang. Ia dan A*imoto-san akan membentuk kekuatan yang tak terkalahkan hingga musik pop akan terus berjaya.
Ya...
Benar sekali...
Dengan membentuk HGT48 mereka tak akan terkalahkan!
Terkutuklah kau, Voldemort!
Wuahahaha!
_The End_
Alhamdulillah, fic-nya bisa terselesaikan juga. Oh iya, HGT48 itu singkatan dari Hogwarts48, ya. ^^..
Ahahaha! Fic ini makin ngaco? Ya memang! XD,,, namanya juga humor..., ^^"a
O iya, asal mula kenalnya Voldemort dengan musik dangdut ini yaitu saat ia menumpang di tubuh Nagini. Tak sengaja, ia melewati sebuah kos-kosan kecil di dekat bukit rumah ayahnya. Dan dari situlah ia mendengar alunan musik dangdut yang ceria. ..., Ngomong-ngomong, konsep awal fic ini sebenarnya Dramione, lho. Entah kenapa bisa jadi kayak gini. Ini semua gara-gara musik dangdut. o.0"
Thanks, LalaNurrafa GemasangkalaOke, HanariaBlack, dan Ndae! Terima kasih atas review kalian semua! ^^/
Yosh! Thanks for reading! ^^/
