Disclaimer of Bleach: Tite Kubo

Anime: Bleach

Rated: T

Genre: Romance, Friendship and Hurt/Comfort

Pairing: Byakuya Kuchiki x Ichigo Kurosaki

Mention of pair: Grimmjow Jaegerjaquez x Ulquiorra Schiffer (GrimmUlqui), and Hichigo Shirosaki x Tensa Zangetsu (ShiroTensa)

Warnings: OOC, Au, shounen-ai, boys love, male x male, penggunaan bahasa gaul Indonesia, probably typo(s), penggunaan EYD yang tidak benar, gajeness and for the last, u don't like BL? Oh, just click 'back' button and leave no trace

Author by: Kazugami Saichi Hakuraichi

Present:

Scary or Possesive?

Lalu cowok tampan itu segera menekan tombol send. Tetapi rupanya dia masih ingin mengirim pesan ke orang lain. Cowok orange-head tersebut kembali memainkan jari-jarinya di keypad ponselnya.

To: Grimmy

Subject: No subject

W k sn skg...

W udh mtusn hub dg dy...

Dan setelah kembali menekan tombol send, cowok itu segera melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu—sekolahnya—dan menuju tempat sahabat-sahabatnya berada. Dia butuh mereka sekarang. Dia butuh seseorang untuk menjadi 'tempat sampahnya'. Dia tidak tahan lagi dengan perlakuan ini. Dia harus menceritakan semua yang dia rasakan pada seseorang. Pada seseorang yang akan selalu ada pada saat sedih dan duka. He needs them right now...

*KaSaHa*

"Dasar cowok brengsek! Bangsat! Bajingan! Fuck it! Son of bitch!" maki kedua sahabat Ichigo keras saat mereka selesai membaca sms yang ditunjukkan oleh sang Kurosaki kepada mereka. Entah kata-kata apa lagi yang terus bermunculan dari mulut manis mereka itu—yang pasti sudah tidak perlu diperpanjang lagi.

"Hei, Grimm! Sebaiknya kita langsung menuju tempatnya! He already overdo it!" tukas Hichigo kemudian setelah mereka selesai dengan kata-kata 'emas'nya.

"I agree! Dia patut menerima ganjarannya!" timpal Grimmjow sambil mengepalkan kedua tangannya—sebenarnya Hichigo juga sedang mengepalkan tangannya.

"Enough! It's okay! Just stay here, please?" Ichigo segera menahan lengan sang blue-haired dan albino tersebut. Tatapan si Berry memelas sekali—apalagi ditambah dengan rona merah dikedua pipinya akibat pengaruh alkohol—sampai-sampai membuat kedua orang yang sudah di ambang batas kesabaran itu luluh seketika. Mereka pun kembali duduk di kanan dan kiri Ichigo.

Sang orange-head tersenyum sesaat ketika melihat kedua sahabatnya itu duduk kembali di samping kanan dan kirinya. Dia pun kembali mengambil segelas wine beralkohol dan menegaknya hingga benar-benar tak bersisa lagi. Kondisi Ichigo sekarang memang benar-benar seperti orang yang sedang stress atau patah hati. Badan yang limbung, mata sayu dan tidak fokus.

"Berry, berhentilah minum. Gimana nanti kami mau jelasin ke bokap lo? Katanya lo gak mau kalau hal ini diketahui oleh keluarga lo yang udah terlanjur seneng banget karena lo dapet pacar yang tajirnya minta ampun," cegah Hichigo saat si Berry akan menuangkan botol wine itu ke dalam gelasnya. But, it seems that Ichigo doesn't want to listen it or he just doesn't care.

Gluk...gluk...gluk...

Benar saja, sang Kurosaki tersebut masih meneruskan kegiatan meminumnya itu. Kedua sahabatnya akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat sang Berry terus memasukkan cairan berwarna merah itu ke dalam kerongkongannya. Pikiran mereka hanya satu, 'Apa yang bakalan jadi alasan mereka ketika malam ini tiba-tiba Ichigo akan menginap di apartemen—kebetulan sekali kalau mereka tinggal dalam satu apartemen—mereka?'

Bruk...

Lamunan mereka buyar seketika saat mereka mendengar bunyi hantaman yang cukup keras itu. Oh God, mereka sampai melupakan Ichigo dan membiarkan sang Kurosaki itu mencium lantai. Betapa tega sekali mereka itu.

"So? Apa yang akan menjadi alasan kita?" tanya Shiro sambil meletakkan tangan kiri sang Berryke bahunya sedangkan tangan kanannya di bahu Grimmjow.

"Don't ask me. Yang jelas kita tidak bisa membawanya ke orang tuanya dalam keadaan seperti ini," jawab Grimmjow sambil mengangkat bahu tanda tidak juga mempunyai ide alasan yang bagus.

"Huft, untung kita mengambil keputusan yang tepat dengan menyuruh kekasih-kekasih kita cabut dulu sebelum kita. Kalau tidak? Mereka bakal cemburu lagi deh karena Berry bakalan menginap di apartemen kita," gumam Shiro.

"Gue setuju ma lo. Ulqui juga sering banget cemburu karena kita sepertinya memperlakukan Berry dengan perlakuan yang sama. Repot juga jadi seme itu," timpal Grimmjow sambil geleng-geleng kepala mengingat beberapa kejadian sebelum ini.

Mereka pun kemudian memanggil taxi untuk malam ini. Dan mengantarkan Ichigo ke apartemen mereka yang jaraknya cukup jauh dari bar yang mereka singgahi kali ini.

*KaSaHa*

Tok...tok...tok...

Terdengar pintu apartemen milik Grimmjow dan Shiro diketuk. Tetapi sepertinya bunyi ketukan pintu itu akan sulit di dengar oleh pemilik apartemen tersebut karena berbagai alasan. Jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Tentunya, semua penghuni di apartemen tersebut sudah berlayar ke pulau kapuk. Tamu kali ini benar-benar tidak tahu diri.

"Buka pintunya! Aku tahu kau ada di dalam sana Ichigo!" seru orang yang sedang mengetuk pintu apartemen tersebut. Terlihat sekali wajahnya yang tidak sabar menanti sang tuan rumah—yah lebih tepatnya dia ingin menemui tamu dari tuan rumah tersebut—untuk membukakan pintu baginya.

Sedangkan di dalam kamar yang ditempati Shiro dan Ichigo...

"Gila, siapa sih malam-malam buta gini bertamu? Gak tahu sopan santun banget!" maki Shiro sambil menguap dan meregangkan otot-ototnya. Kerutan-kerutan di wajahnya menandakan dia sangat pissed of dengan apa yang sedang terjadi—lebih tepatnya siapa yang ada—di luar pintu apartemennya.

Mau tidak mau Shiro harus segera bangun dan membukakan pintu bagi siapapun orang itu—kalau masih ingin tinggal di apartemen ini dan tidak membangunkan tetangga yang lain. Tapi sebelumnya dia melihat dulu ke sebelahnya dan mendapati Ichigo masih tertidur dengan sangat pulasnya tanpa terganggu dengan suara apapun. Sepertinya dia memang benar-benar kelelahan dan mabuk tentunya. Poor Ichigo. Akan kupastikan dia mendapatkan ganjarannya. Batin Shiro.

Shiro pun turun dari kasurnya dan berjalan menuju pintu kamar sambil berusaha agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun juga. Membuka pintu perlahan dan keluar dari kamar tersebut setelah sebelumnya mengintip ke dalam. Mengecek apakah gerakan-gerakan kecilnya itu telah membangunkan sang orang-head. Ternyata tidak. Dia masih tertidur dengan pulasnya.

Tok...tok...tok...

Kembali terdengar suara pintu yang diketuk. Dan suara orang yang berbicara dengan cukup keras—hampir berteriak. "Ichigo, buka pintunya!"

Shiro yang tadi hendak membuka pintu tersebut membeku sesaat. Kenapa malah nama Ichigo yang disebutkan? Apartemen ini adalah miliknya dan Grimmjow. Mengapa tamu ini malah menyebut nama tamu yang sedang 'menginap' disini? Shiro mencoba mendengarkan suara orang tersebut dan menebak siapa dia sebenarnya.

"Bukakan saja, Shiro!" Lamunan Shiro segera terputus ketika dia mendengar suara dari belakangnya. Dia adalah Ichigo.

"Loe yakin, Berry?" tanya Shiro ragu setelah dia menyadari siapa yang sebenarnya berada di balik pintu apartemen mereka ini.

"Iya. Lagipula memang masih ada yang perlu kami bicarakan," jawab Ichigo yakin. Kurangnya penerangan di ruangan itu membuat Shiro tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah yang saat ini ditunjukkan oleh Ichigo. Tapi Shiro tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun membuka pintu tersebut sesuai dengan keinginan sang Berry.

Pintu terbuka dan menampilkan sosok pria tampan berambut hitam panjang. Dia adalah Byakuya Kuchiki, mantan pacar Ichigo—atau setidaknya itulah yang sudah diputuskan oleh Ichigo secara sepihak. Sang pengusaha muda itu pun segera memasuki apartemen tersebut tanpa meminta ijin dulu kepada sang pemiliknya. Dia langsung saja menghampiri Ichigo yang sedang berdiri sambil menopangkan sebagian berat tubuhnya di salah satu sofa.

"Apa maksudmu dengan sms yang kau kirimkan?" geram Byakuya. Nada suaranya yang dingin membuat Ichigo sedikit mundur.

"Hei, hei, hei! Sudah menggedor pintu orang dengan sangat tidak sopan, bertamu pada jam yang sangat tidak etis, sekarang loe masuk tanpa diberi ijin dulu, heh? Bener-bener tamu yang gak sopan banget seh?!" Shiro segera masuk di tengah-tengah mereka dan menahan Byakuya yang sepertinya memang sedang marah besar itu. Oh tapi hey? Mereka—Shiro dan Grimmjow—juga sedang marah dengan orang yang satu ini khan?

Byakuya memberikan death glare kepada Shiro dan tangan sang pemuda yang sekarang sedang berada di dadanya. Seolah tangan sang albino itu sudah tercemar dan jika dia menyentuhnya, dirinya juga akan tercemar. "Saya sedang memiliki keperluan dengan KEKASIH saya. Jadi, saya mohon dengan SANGAT hormat supaya memberikan kami waktu untuk membicarakan hal ini secara EMPAT MATA. Dan saya mohon maaf jika tadi saya sudah masuk tanpa dipersilahkan terlebih dahulu. Juga tolong segera singkirkan tangan anda ini dari baju saya," ujar sang pemuda berambut panjang itu dengan menekankan beberapa kata untuk menegaskan maksudnya dan betapa marah dirinya saat ini.

Shiro yang mendengar hal itu semakin 'mendidih'. Tangannya yang tadi menahan sang pemuda yang lebih tua itu sudah disingkirkan. Tapi tangan itu sekarang terkepal dengan sangat erat sampai-sampai terlihat urat-uratnya. Sang albino sepertinya juga benar-benar sangat marah. Mungkin lebih marah 3 kali lipa dari pria tampan di hadapannya.

"Shiro..." Tiba-tiba sebuah gumaman lembut memutuskan sebuah aliran listrik yang sempat terjadi di antara Byakuya dan Shiro. Ichigo lah yang telah melakukannya. Dia tidak mau hal ini terus berlanjut menjadi lebih kacau lagi hanya karena penyebab hubungannya dengan sang pengusaha muda itu.

Shiro mengernyit mendengar nada melerai dan tatapan Ichigo yang seolah ingin mengatakan—jangan membuat masalah ini lebih kacau lagi. "Berry, dia-"

"Tolong, Shiro! Biarkan gue bicara berdua saja dengannya. Ini masalah kami berdua. Masuklah ke kamar Grimmjow dan jika dia juga sudah terbangun karena suara ini, jelaskan hal yang sama kepadanya. Onegai, Shiro?" potong Ichigo sebelum sang albino berbicara lebih lanjut.

Mendengar nada permohonan sang Berry yang sungguh-sungguh itu, akhirnya hati sang pemuda pucat itu mendingin. Dia pun pergi meninggalkan kedua kekasih itu untuk menyelesaikan masalah mereka setelah sebelumnya dia menepuk pundak sang berry-head pelan. Ungkapan untuk memberikan semangat.

Keheningan sempat tercipta diantara kedua pria tersebut sepeninggal Shiro dari antara mereka. Sepertinya mereka cukup kesulitan untuk memulai percakapan ini. Sampai akhirnya Ichigo yang terlebih dulu membuka percakapan.

"Duduklah terlebih dulu. Aku akan menjelaskan segalanya kepadamu,"

Byakuya awalnya ragu sejenak, tapi akhirnya menyetujui usul keka-, ah bukan, mereka bukan kekasih lagi. Setidaknya itulah yang sudah diputuskan oleh sang orang-head, walaupun dirinya sendiri masih belum terima dengan semua itu.

Setelah mereka berdua duduk, Ichigo mulai menjelaskan alasannya memutuskan Byakuya dengan tenang sambil menahan emosi yang selama ini sudah dipendamnya. Jika hal ini tidak disampaikan dengan baik, maka semuanya tidak akan selesai.

"Aku sangat mencintaimu, Byakuya! Sungguh! Tapi aku merasa kaulah yang selama ini tidak mencintaiku. Aku selalu merasa cinta ini adalah one-sided. Walau kau selama ini selalu mengatakan mencintaiku, tapi aku tidak merasakan hal yang sama dalam dirimu," Ichigo berhenti sejenak untuk melihat reaksi dari lawan bicaranya. Tidak nampak ekspresi apa-apa di wajah tampan itu. Akhirnya Ichigo kembali melanjutkan, "Tapi kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu seolah kau tidak peduli padaku. Seperti tadi. Apakah kau tahu kalau aku sudah menunggumu lama sekali sampai mengabaikan janji dengan sahabat-sahabatku hanya untuk mendapat sebuah sms yang mengatakan bahwa kau tidak bisa menjemputku? Dan bagaimana kau telah mengekangku selama ini, sampai-sampai aku tidak bisa bermain-main bersama sahabat-sahabatku sendiri? Apakah sebegitu tidak percayanya dirimu kepadaku kah? I'm tired of this. So, I decided to let you go!" Ichigo mengakhiri penjelasannya seraya menghempaskan punggungnya ke sofa yang empuk. Tubuhnya terasa tegang.

Lama suasana kembali hening. Byakuya nampak menundukkan kepalanya sehingga sang Berry tidak dapat melihat ekspresi apa yang sedang ditunjukkan oleh mantan kekasihnya itu.

Keheningan yang sedikit tidak mengenakkan itu dipecah oleh sang pengusaha sukses itu, "Aku hanya ingin melindungimu."

Empat kata singkat yang terdengar di telinga sang orange-head telah cukup membuat pemuda itu bangkit berdiri. Mukanya memerah karena amarah dan emosi yang selama ini telah ditahannya saat masih menjalin hubungan dengan pria yang ada di depannya. Arogansi pengusaha muda sukses ini sudah sangat keterlaluan dan kelewat batas. Bahkan hanya untuk meminta maaf kepada dirinya saja dia tidak mau melakukannya?! Hanya untuk mengucapkan satu kata 'maaf' saja tidak bisa keluar dari mulutnya?

"Keluar dari tempat ini sekarang juga, Kuchiki-sama!" perintah Ichigo dengan nada yang sudah dinaikkan satu oktaf dan penekanan-penekanan di setiap katanya. Kedua tangannya sudah terkepal dengan erat di samping kanan dan kiri tubuhnya. Dia sudah siap memukul pria di hadapannya ini sekarang juga. Tapi dia masih punya pikiran waras—dan masih ingin hidup bebas tanpa dikejar-kejar oleh polisi—untuk tidak meninggalkan bekas memar di wajah seorang yang sudah dikenal seluruh dunia ini.

Byakuya yang tadinya masih menundukkan kepalanya segera mendongak hanya untuk mendapatkan wajah Ichigo yang terlihat sangat marah. Bahunya sudah terlihat bergetar. Dan tangannya yang terkepal sangat erat telah menunjukkan urat-uratnya. Ditambah lagi dia telah memanggil dirinya dengan panggilan "Kuchiki-sama". Nama panggilan yang sudah lama mereka tinggalkan semenjak mereka telah menjalin hubungan yang lebih dalam. He is really angry, right now.

Dengan masih memasang wajahnya yang innocent—atau lebih tepat dibilang tanpa emosi—sang pengusaha muda itu segera bangkit berdiri dari sofanya dan berjalan pergi ke pintu setelah sebelumnya melirik sekilas ke arah mantan kekasihnya itu yang sudah menundukkan kepalanya. He is crying. "Maafkan aku, Ichigo," gumam Byakuya sangat pelan sambil membuka pintu apartemen itu. Gumaman pelannya itu tidak terdengar oleh Ichigo. Selain karena jarak mereka yang kelampau jauh, gumaman tersebut memang benar-benar sangat pelan.

Brak.

Pintu tertutup dan Ichigo kembali menghempaskan dirinya ke sofa sambil menutupi wajahnya. Bahunya yang bergetar adalah satu-satunya tanda yang mengatakan bahwa pemuda berambut oranye ini sedang menangis dalam diam.

"Ichi," panggil sebuah suara dari belakangnya yang mencoba menarik perhatian sang orange-head.

Tapi percuma, sang Berry kali ini tidak akan mendengarkan panggilan sahabatnya itu. Walaupun mereka memanggilnya dengan namanya sendiri. Ichigo sudah terlalu tenggelam dalam kesedihan yang mendalam. Hatinya terkoyak. Lebih hancur dari apa yang dialaminya sore tadi. Semua harapannya pupus sudah. Harapan bahwa Byakuya akan meminta maaf setelah dia mengutarakan seluruh isi hatinya yang selama ini telah dia pendam demi kelancaran hubungan mereka.

Shiro dan Grimmjow yang sudah keluar dari kamar mereka itu hanya bisa duduk terdiam di samping kanan dan kiri Ichigo. Mereka hanya bisa mendengarkan isakan pelan di samping mereka tanpa bisa melakukan apa-apa. Yang sekarang ini hanya bisa mereka lakukan hanya menaruh tangan mereka di pundak sang orang-head dengan harapan sentuhan itu akan membuat sahabat mereka ini lebih tenang.

Malam ini adalah malam yang berat. Mereka berdua yakin bahwa besok mereka harus ijin ke sekolah. Karena nampaknya mereka tidak akan bisa tidur...

~To Be Continued~

A/N (Author's Nyerocos): Wah sudah berapa tahun saya tidak update ini cerita ya? Hhehe, gak sampe setahun kok! #digampar massa. Gomen banget, dokumen ini sudah lama terlantar dan tidak pernah saya sentuh. Baru beberapa minggu ini Saichi sentuh dan mengetik kembali lanjutannya dengan sedikit tersendat-sendat. Banyak hal yang terjadi selama setengah tahun ini di real world Saichi yang membuat Saichi tidak punya waktu lagi untuk menyelesaikan cerita ini. Tapi sepertinya mulai sekarang berangsur-angsur akan pulih dan Saichi akan perlahan-lahan mulai menyumbangkan fic disana dan disini karena sudah banyak fic yang Saichi removed. Baiklah sekian dari saya!

See u in the next chapter!