"Mianhae, No Minwoo," ucap Donghyun pelan, tapi masih terdengar oleh namja didepannya itu.

"Mian untuk apa, hyung?"

"Ah, sudahlah, pokoknya ingat, saat aku bilang pulang, kau harus buru-buru keluar dari taman hiburan ini, oke? Dan apapun yang kau lihat terjadi didalam, jangan pernah masuk lagi, arra?" Kata Donghyun, yang semakin membuat bingung Minwoo, tapi ia mengangguk saja.

Dan mereka pun memasuki taman hiburan itu.

Minwoo dan Orang Asing Berambut Merah Ch.2

Genre : Fantasy, Romance

Rating : T (PG-15)

~(Let's Get It Started)~

"Selamat dataangg~!" Sambut dua namja berwajah mirip namun beda rambut saat Donghyun dan Minwoo memasuki taman hiburan.

"Ne, Youngmin dan Kwangmin-ah," jawab Donghyun simpel, entah karena ada didepan bawahannya atau apa, ia jadi tampak lebih berkarisma.

Minwoo tersenyum tipis menatap kedua namja yang tampak seumur dengannya itu, sebelum yang blonde bertanya, " Siapa ini, hyung?"

"Namanya No Minwoo, aku bertemu dengannya di stasiun," jawab Donghyun sambil merangkul bahu Minwoo, "Dia berbaik hati menemaniku kesini."

"Bukannya kau yang berbaik hati mengajakku, hyung?" Balas Minwoo, menyadari hanya dirinya tamu yang tidak membawa tiket masuk, seperti anak-anak lain di taman itu.

"Ah, anak yang imut sekali," celetuk yang berambut hitam, "Hyung, jangan bilang kau tega me- aduh!" Kalimatnya terpotong karena kembarannya yang blonde menginjak kakinya dengan agak keras, hal itu cukup membuat Minwoo merasa aneh, tapi Donghyun bisa memegang suasana.

"Minwoo-ah, perkenalkan, ini salah dua pegawai disini, yang blonde namanya Jo Youngmin dan yang disebelahnya Jo Kwangmin." Ucap Donghyun dengan santai seakan tidak terjadi apa-apa barusan.

"Oh, kakak-beradik rupanya?" Tanggap Minwoo tanpa rasa curiga.

"Ne, kami saudara kembar." Jawab Youngmin dengan senyum ceria.

"Eh, sudah jam segini! Sebaiknya kita cepat berkeliling sebelum sirkusnya mulai, Minwoo-ah!" Tiba-tiba Donghyun menyahut sambil menatap pergelangan tangannya yang tidak memakai jam -_-a.

"Eh? Harus cepat ya, hyung?" Tanya Minwoo, "Memangnya kenapa kalau sirkusnya mulai?"

"Soalnya itu tanda kalau kita harus memulai ritualny- aduh! Youngmin! Kau mau membuat kakiku rata atau apa?!" Lagi-lagi kalimat Kwangmin terpotong injakan kaki.

"Soalnya sirkus itu terlalu menarik, kami khawatir para tamu nggak akan mau berkeliling dan melihat wahana yang lain kalau sudah nonton sirkus, Minwoo." Youngmin berkata cepat, membuat Donghyun mulai bisa benapas lega.

"Yap, benar sekali apa kata Youngmin, jadi sekarang, kita mulai saja tur-nya, oke, Minwoo-ah?" Tanya Donghyun sambil mengacunngkan ibu jarinya, Minwoo mengagguk.

"Kwangmin, berapa kali harus kuingatkan kau untuk berhati-hati dengan kata-katamu, hah?" Donghyun bertanya retoris dengan dingin saat Minwoo sudah berjalan beberapa langkah duluan dan ia yakin suaranya akan bercampur dengan celotehan-celotahan anak-anak di taman, sehingga nyaris tak mungkin bagi Minwoo mendengar apa katanya.

"Mi-mian, hyung," ucap Kwangmin.

"Di, dia cuma kelepasan, Donghyun-hyung, aku yakin nggak akan terulangi lagi!" Tukas Youngmin dengan nada pelan namun bertekanan.

"Kuharap kata-katamu benar, Youngmin, awasi mulut saudara kembarmu itu." Tandas Donghyun bernada ancaman, sebelum berjalan menghampiri Minwoo dengan wajah ceria yang sama sekali berbeda dengan yang ia tunjukkan pada si kembar.

"Aku jadi semakin penasaran semenarik apa sirkus itu, hyung, taman ini saja sudah menarik banget buatku." Kata Minwoo sambil memperhatikan sekitar ketika Donghyun menghampirinya.

"Hmm, kau suka? Baguslah." Jawab Donghyun, "Ayo! Kita cuma punya waktu sebentar kalau mau menikmati 100 wahana disini!" Ajaknya sambil berlari kecil, memaksa Minwoo untuk ikut berlari.

"Apa?! 100 wahana?!" Seru Minwoo kaget, "Sebanyak itukah?!"

"Ne! Bisa-bisa kita keburu mati sebelum mencoba semuanya kalau terlalu lama berpikir!" Balas Donghyun seraya berlari menuju wahana Alibaba yang penuh dengan lampu berkelap-kelip.

"Fiiuuhh..." Youngmin menghela napas lega begitu ia tidak lagi melihat pimpinan dan tamu baru mereka.

"Mian, Youngmin," ucap Kwangmin sambil nyengir serba salah.

"Ne, untung saja kita masih bisa mengelak, pimpinan nggak waras itu kan, sadis juga." Jawab Youngmin, "Ingat! Jaga kata-katamu, Kwangmin! Awas saja sampai kelepasan lagi!" Omelnya.

"Uuh, lain kali aku diam saja, deh." Gerutu Kwangmin.

XXxxXX

"UWAAHH~! Tingggiii...! Tinggi banget, hyung!" Seru Minwoo dengan hebohnya.

"Tuh, kan, apa kubilang?! Kincir angin disini paling keren, deh!" Balas Donghyun.

"HWAAA~!" Minwoo berseru excited saat ia terhempas kembali ke kursi jeli-nya yang ada di ujung salah satu baling-baling kincir. Kincir itu berputar satu kali lagi sebelum kursi jeli yang diduduki para tamu melemparkan mereka kembali ke udara, termasuk Minwoo. Agak abstrak dan terdengar berbahaya memang, dilemparkan ke udara dengan sembarangan dari ujung baling-baling oleh sebuah kursi kenyal berwarna-warni yang transparan, awalnya juga Minwoo was-was, tapi kemudian ia sadar bahwa kursi-kursi itu, entah bagaimana selalu berhasil mengakap kembali para tamunya sebelum jatuh ke tanah.

"Ah, aahh, aku pusing nih, hyung," ucap Minwoo setelah ia dan Donghyun turun dari wahana kincir-angin-berkursi-jeli-yang-akan-melemparmu-50-meter-ke-udara itu.

"Sama, Minwoo-ah, sudah lebih dari 20 kali aku naik wahana ini tetap saja deg-deg-an dan pusing," balas Donghyun, sebelum kedua orang itu menemukan kursi taman yang terbuat dari kue jahe untuk duduk dan mengembalikan keseimbangan tubuh mereka.

"Ahaha, taman hiburanmu ini memang ajaib, hyung, baru naik 5 wahana saja aku sudah merasa kayak naik 20 wahana biasa." Puji Minwoo sambil matanya berkeliling melihat anak-anak kecil lain yang berlalu-lalang ingin mencoba wahana-wahana disana.

"Yeah, dan masih ada 95 lagi yang lainnya." Ujar Donghyun.

"Aku haus, hyung, apa ada food court disini?" Tanya Minwoo.

"Ambil saja setangkai bunga sepatu yang ada disebelahmu itu." Suruh Donghyun.

"Mwo? Hyung kira aku binatang, ya? Disuruh makan tumbuhan." Sungut Minwoo.

"Aniyo, kau ini, kalau ada disini ikuti saja apa kataku, arra? Sudah, ambil bunga itu dan hisap." Perintah Donghyun lagi, kali ini Minwoo menurut, lalu dengan ragu ia hisap bunga itu, seperti serangga-serangga yang ingin mengambil nektarnya.

"Ah, ada nektarnya!" Sahut namja imut itu, " Bagaimana mungkin, hyung?! Aku bisa makan nektar?!"

"Tuh kan, apa kubilang, sekarang kau nggak perlu berpikir aku menganggapmu binatang," kata namja berambut merah disebelahnya sambil tersenyum, "Tapi kau kuanggap serangga."

"Mwo?! Apaan tuh, hyung! Andwae! Enak aja aku dianggap serangga!" Protes Minwoo.

"Sama-sama makan nektar kayak serangga, kan? Jangan protes dong!" Balas namja yang lebih tua darinya itu .

"Tapi kan, kau yang menyuruhku minum nektar di bunga sepatu ini kalau haus!"

"Eh, kita cuma punya waktu untuk naik satu wahana lagi sebelum sirkusnya mulai, lho." Elak si namja berambut merah.

"Lagi-lagi mengalihkan topik!"

"Ya sudah kalau nggak mau naik satu wahana lagi, ayo kita langsung saja ke sirkusnya." Kata Donghyun sambil mematahkan sandaran kursi taman kue jahe yang ia dan Minwoo duduki, lalu memakan patahan itu.

"Andwae! Ayo kita nak wahana lagi! Kajja~!" Seru Minwoo sambil beranjak berdiri, diikuti senyuman jahil Donghyun.

"Ya sudah, ayo kita naik Merry Go Round, tuh anak-anak SD seusiamu hobi banget naik gituan." Putus Donghyun.

"Andwae! Enak saja dibilang seumur anak SD! Aku ini 17 tahun!" Lagi-lagi bocah itu protes, "Kali ini aku yang tentukan wahananya!" Ia memaksa.

Donghyun memberinya pandangan meremehkan, "Seakan kau lebih tahu dariku soal taman ini saja."

"Bodo amat! Pokoknya aku yang tentukan! Pembeli adalah raja!" Minwoo ngotot.

"Heh, sadar nggak sih, kalau kau itu kesini gratis-atas-kebaikan-hatiku?!" Donghyun menoyor dahi namja kecil didepannya dengan telunjuknya, memberi penekanan di tiap kata yang bergaris bawah.

"Ya sudah, aku ngambek!" Minwoo melipat tangannya didepan dada dan duduk di tanah sambil cemberut, membuat Donghyun menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.

'Aigoo... baru kali ini aku bertemu anak macam begini.' Batin Donghyun. "Oke, oke,

memangnya wahana macam apa yang kau mau, ha?" Akhirnya ia mengalah pada yang lebih muda dan kekanakan.

Dengan semangat Minwoo langsung melompat berdiri (-_-a) , "Tunggu sebentar, biarkan aku berpikir!"

"Aigooo...!" Raung Donghyun frustasi.

"Ah, aku tahu, hyung!" Sahut Minwoo sambil melemparkan bunga sepatu ditangannya.

"Kuharap jangan yang aneh-aneh," gumam Donghyun.

"Kalau bisa, aku mau wahana yang hanya bisa dinaiki kau dan aku, hyung."

"What?"

Anak imut itu mengangguk mantap, "Iya, hanya aku dan Donghyun-hyung, nggak ada anak-anak lain."

Donghyun tampak berpikir sebentar sebelum mengelurkan ponselnya, "Hari ini aku suruh Hyunseong yang mengurus taman, kan?" Tanpa menunggu jawaban ia menghubungi seseorang.

"Yeoboseyo?" Ia menyapa. Anehnya, Donghyun menjauhkan ponsel itu dari telinganya kali ini, tidak seperti waktu di stasiun.

"Kenapa begitu, hyung?" Tanya Minwoo bingung, dimatanya Donghyun bukanlah tipe yang menghiraukan peringatan WHO tentang radiasi ponsel.

"Sstt, suara orang yang kuhubungi ini berbahaya." Jawab Donghyun sebelum terdengar jawaban.

"Ne, wae, Donghyun-hyung?"

DEG

Sesuatu yang aneh langsung menyelimuti Minwoo, suara orang itu memberi pengaruh yang aneh, entah Donghyun merasakannya juga atau tidak.

"Hyunseong? Ngg, tolong siapkan wahana Swan Lake khusus untukku ya." Pinta Donghyun.

"Eh? Nggak biasanya."

"Ne, aku tahu. Eh? Kau sedang bersama seseorang, ya?"

"Se-seseorang bersamaku, hyung?"

"Ada suara orang—ah, sudahlah, itu nggak penting, aku-"

"Cuma Jeongmin kok, hyung. Apa kau juga sedang bersama seseorang? Youngmin dan Kwangmin memberitahuku bahwa-" lalu dengan agak kasar Donghyun memotong kalimat ini.

"Masa bodoh! Yang penting wahananya, Hyun!" Nada bicara pimpinan berambut merah itu mulai berubah.

"Tapi, hyung, wahana itu sedang ramai dan-"

"Sudah, kau siapkan aja, oke?"

KLIK

"Sudah, ayo jalan, Minwoo-ah." Ajak Donghyun, tiba-tiba ia jadi lebih diam.

"Hyung? Kau jadi aneh? Wae?" Bingung Minwoo.

"A-ani," jawab Donghyun dengan senyum yang agak dipaksakan.

'Sial, aku terlalu banyak mendengar suara Hyunseong.' Kata sang pemimpin taman dalam hati.

Minwoo tidak mencurigai wahana spesial ini sama sekali.

XXxxXX

"H-hyunghh, ahh~" desah pelan seorang namja ikal, mengalungkan tangannya di leher namja di depannya yang lebih tinggi.

"Ssstt, jangan membuat suara," ucap Hyunseong disela-sela ciuman panasnya dengan namja itu, ia memperdalam ciumannya tepat saat Donghyun dan Minwoo sampai dibalik pintu wahana yang menutupi mereka. Donghyun mengulurkan tangannya untuk memuka pintu itu tapi...

'Ada apa ini? Pintunya terkunci?' Donghyun bertanya dalam hati, lalu ia memutuskan untuk mengintip dari lubang kunci, membuat Minwoo yang ada dibelakangnya bingung.

'Pirang? Youngmin? Ah, bukan. Hyunseong... sedang berciumankah?' Dan mata namja berambut merah itu langsung terbelalak begitu menyadari pemandangan (?) apa yang sedang diintipnya, apalagi ketika jemari panjang Hyunseong mulai menggerayangi tubuh... 'Whatt? Jeongmin?!'

"Hyung, sud-ahk-ku-mmhh-"

"Sshh, kau ini kenapa sih? Nggak biasanya ribut." Ucap Hyunseong setelah melepaskan ciumannya.

"Donghyun-hyung disini." Jawab si namja ikal sambil berbisik takut-takut, dan mendengar itu ekspresi Hyunseong tidak lagi tampak tenang, dengan agak serampangan ia membuka kunci pintu wahana tempat sebelumnya si orang yang disebutkan berdiri. Tapi sebelum membuka pintu itu ia terlebih dulu menoleh kebelakang dan tersenyum, pada namja ikal yang disebutkan Donghyun sebagai Jeongmin, pada namja yang barusan ia cium, pada namja yang sekarang sedang melangkah masuk kedalam sebuah cermin. Namja yang sama.

CKLEK

"Donghyun-hyung?"

"Apa?" Jawab Donghyun, yang entah bagaimana, bisa terlihat seakan ia baru turun dari perahu cangkir yang membawanya dan Minwoo menuju wahana ini.

"Ah, aniya, silakan masuk, wahananya sudah kukosongkan." Kata si namja berambut pirang dan mata sipit yang memberi Minwoo hawa aneh dengan suaranya itu sambil tersenyum ringan.

"Minwoo-ah, ini Shim Hyunseong, wakilku." Kata Donghyun memperkenalkan, Minwoo mengangguk sopan.

"Oh, ini tamu spesial Donghyun-hyung yang diceritakan si kembar." Ujar Hyunseong.

Donghyun hanya membalas kata-kata itu dengan senyuman singkat, sebelum mendorong pelan bahu Minwoo supaya namja lucu itu masuk ke dalam, lalu berhenti sejenak disisi Hyunseong, seakan ingin membisikkan sesuatu tapi kemudian mengurungkan niatnya, sebagai gantinya ia berujar denan nada mengancam.

"Oh ya, selama ada cermin, Jeongmin seakan punya kamera pengintai, ya?" Dan langkah berikutnya orang itu masuk ke wahana, menyusul Minwoo yang sudah terlebih dulu memilih seekor angsa untuk dinaiki.

Hyunseong menyadari perkataan itu dan menatap ke tanaman rambat yang hampir menutupi langit-langit wahana. Ya, ada sebuah cermin kecil disana.

XXxxXX

A/N : Waahh... update juga chapter 2... Review readerdeul sangat memberi semangat. Gimana? Agak lebih suram dan pendek dari chapter 1 ya? Trus humor dan tingkat fantasinya... tetep masih minim banget -_-'. Disini udah mulai muncul tuh bibit-bibit yaoi DongWoo, meski nyaris gak keliatan, dan... munculnya Hyunseong dan Jeongmin! Tadaa...! #PLAK

Oke, apa yang akan DongWoo lakukan di wahana Swan Lake itu? Kenapa Donghyun kadang tampak begitu mengintimidasi? Ada apa dan bagaimana sebenarnya sirkus di taman itu? Tunggu update chapter 3! #dirajam. Oiya, review akan sangat diapresiasi!