.
.: _ :.
Caffeineaholic
{Versi Bahasa Indonesia dari Coffee di Asianfanfics (AFF)}
.
Disklaim:
SEVENTEEN/17 © Pledis Intertainment
Original Character/s © Authlene
Pairings:
(main) Jeongcheol/SeungHan, Meanie/GyuWon
(side) SoonHoon/HoZi, VerKwan/BooNon, JunHao/Chinaline, SeokChan/DKDino, JisOC
(slight) SeungSoo/CheolSoo, GyuHan, WonOC
Peringatan:
Berisi konteks homoseksual, kesalahan dalam penggunaan EYD, diksi yang kurang tepat dan/atau membingungkan, alur yang terlalu lambat/cepat, perpindahan sudut pandang yang tidak teratur, serta berbagai kekurangan lainnya yang mohon dimaklumi.
.
[Perhatian!]
Fanfiksi ini tidak untuk mendapatkan keuntungan materil dalam bentuk apapun. Hanya untuk penyaluran hobi.
.
Karena ada yang kebingungan mengenai narasinya;
[(isikan nama orang)] : penanda sudut pandang orang pertama, nama yang ada di dalamnya adalah penanda sudut pandang siapa.
[…] : penanda sudut pandang orang ketiga.
.
Selamat membaca! (っ'ω'c)*
.
.: _ :.
2 . 0 | latte
mestinya, mereka berada di masa lalu
.
.
[Yoon Jeonghan]
Sudah pukul 5:15 saat itu dan aku juga sudah menyelesaikan kencanku dengan tiga cangkir kopi hitam.
Jika tidak dari lirikan aneh penuh pertanyaan yang aku dapatkan dari pelayan berambut pendek yang melayani aku tadi, aku akan dengan senang hati memesan tiga cangkir lainnya. Aku tidak benar-benar tahu bagaimana tubuhku bisa menangani kafein sebanyak itu dan masih berfungsi sempurna, tidak seperti orang lain, tapi satu hal yang aku tahu pasti adalah fakta bahwa aku membutuhkan lebih banyak, lagi, dan lagi, lebih banyak kopi lagi, sehingga aku bisa terus merasakan kepahitan minuman itu mengisi mulutku. Rasa pahit itu melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menyingkirkan perasaan menggigit dan menyakitkan yang menggerogoti hatiku yang menyedihkan dibanding membisikkan kata-kata manis penuh kebohongan ke pikiranku sendiri.
Sekarang, ketika waktu minum usai dan aku sendirian di apartemenku, aku tidak punya apapun lagi untuk membantuku menenangkan perasaan teriris di dadaku. Hanya ada keheningan, gelap, dan kamar yang kosong menemaniku dan bahkan menambahkan kuantitas rasa sakit yang kurasakan. Itu membuat kepalaku berdenyut dan terasa seperti dipukuli. Itu membuatku pusing dan muak dan bahkan membuatku terpaksa mengingat hal-hal yang aku benar-benar ingin kubur dibagian paling dalam di hatiku. Hal-hal yang ingin kuhanguskan, kuhapus, tetapi tidak peduli apa yang aku lakukan, aku tidak pernah berhasil.
Seperti, misalnya, bagaimana aku pertama kali bertemu itu si playboy terkenal; S. Coups atau yang memiliki nama asli Choi Seungcheol, yang juga merupakan cinta pertamaku.
Aku mengenal Seungcheol lebih lama dari siapa pun di universitas kami. Lama, lama sekali. Kami sudah saling berhadapan bahkan sebelum kami bisa mengucapkan kata-kata dengan sempurna, terima kasih kepada orangtuaku dan orangtuanya yang merupakan teman dekat.
Ketika kami masih kecil, kami selalu bersama-sama. Bermain, bercanda, bahkan berkelahi. Kami begitu dekat ke titik di mana aku selalu terjebak di kelas yang sama dengannya dari SD sampai SMA. Dan ya, secara kebetulan. Tidak ada yang direncanakan atau diatur karena itu adalah pilihan acak setiap tahun. Jika itu bukan takdir, aku tidak tahu apa lagi.
Bukti lain, aku selalu menjadi orang yang paling ia sayangi. Tidak peduli berapa banyak orang berusaha merebut perhatiannya, ingin dia menjadi ini dan itu, dia selalu memilih aku. Dia selalu menempatkan aku di atas orang lain dan itu membuatku merasa berbeda. Spesial.
Selain itu, ia adalah orang yang memperkenalkanku pada kopi.
Aku tidak benar-benar ingat bagaimana hal itu terjadi, tapi aku masih bisa mengingat umurku empat belas tahun saat itu dan sedang musim dingin. Semuanya diselimuti salju putih dan aku berlari di jalan tanpa pakaian hangat. Bodoh, tentu saja. Tubuhku terasa kebas, pandanganku terasa kabur, namun aku tidak berhenti sekali pun untuk membiarkan diriku merasa lebih baik. Aku terus berlari dan berlari. Sesuatu yang mendesak, sesuatu yang penting, sesuatu yang aku tidak bisa lepaskan dengan mudah adalah alasan tindakan nekat tersebut.
Aku masih tidak tahu apa itu alasan yang tepat, tetapi ketika otakku mulai memutar adegan di mana aku jatuh ke salju yang dinginnya mengingit hingga lututku memar, aku bisa ingat seseorang dengan lengan yang kuat menarikku lembut. Sangat lembut sampai rasanya seolah-olah orang tersebut takut tubuhku bisa hancur menjadi kepingan-kepingan kecil jika ia menaruh kekuatan yang tidak perlu untuk menarikku. Itu membuatku merasa bersyukur karena aku sendiri tidak bisa menyangkal fakta bahwa tubuhku sekarang terasa hampir berubah sempurna menjadi es atau sesuatu yang mudah hancur ketika menyentuh tanah sekali lagi.
Dan ketika aku mencoba untuk berterima kasih kepada orang tersebut untuk perlakuannya, aku melihat semua yang aku butuhkan untuk merasa lengkap.
Itu Seungcheol. Choi Seungcheol. Si playboy. Cintaku. Cinta pertamaku.
Ya, aku empat belas pada waktu itu memang, tetapi perasaan ingin memilikinya di sekitarku sepanjang waktu, perasaan ingin memilikinya untuk diriku sendiri; Aku sudah tahu semua orang menyebutnya cinta.
Matanya melebar saat ia menatapku. Mulutnya terbuka sedikit, mengungkapkan kekagetan yang ia rasakan. Tapi setelah beberapa kedipan bingung, ia berbicara kepada aku, hampir berteriak. Khawatir dan marah terpancar sempurna dari iris gelapnya. Menyadari hal tersebut, sesuatu terasa menusukku hingga ke jantung, meskipun fakta bahwa ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku juga menghangatkan dadaku.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?! Ingin mati membeku, hah?!" Wajahnya memerah karena dingin dan marah. "Sayang sekali, aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Aku baru saja akan menjelaskan alasannya—yang aku masih tidak ingat apa—ketika tiba-tiba dia mengangkat tubuhku di kedua lengannya dan mulai berlari cepat. Hal itu membuatku terkejut luar biasa. Aku ingin berteriak kepadanya, menanyakan alasannya, tapi tidak. Aku bahkan tidak bisa bergerak dan protes dalam pelukannya. Sebaliknya, tubuhku terasa kaku, seperti es batu, dan itu karena aku tahu sepenuhnya tentang perasaanku kepadanya.
Aku selalu tahu kami bukan apa-apa melainkan sahabat. Jika ada, ia mungkin melihat aku sebagai saudara dan itu bukan bagaimana aku menatapnya. Aku selalu ingin kita menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih, tapi aku tahu aku meminta terlalu banyak.
Itulah mengapa hangat yang menyelimuti tubuhku, yang berasal dari suhu tubuhnya, yang membuatku merasa begitu damai, terasa seperti sesuatu yang salah. Kepakan perasaan dalam perutku karena fakta dia memelukku dekat dengan tubuhnya, jantungku yang memompa terlalu cepat karena rasa bahagia yang semua orang rasakan setiap kali mereka bersama-sama dengan orang yang mereka cintai—semua itu terasa amat salah hingga ke titik di mana aku ingin mencekik diriku sendiri karena jatuh cinta padanya.
Lalu, kami tiba di tempat yang terlihat mewah. Tidak ada seorang pun kecuali para pelayan di sana dan aku menemukan diriku meringkuk dalam selimut tebal yang hangat di tempat tidur, di kamar Seungcheol. Itu bukan sesuatu yang baru, tentu saja, namun aku tidak merasa nyaman seperti apa yang biasanya dulu kurasakan.
Pada awalnya, ia meninggalkan aku sendiri, mengatakan ia akan datang kembali dengan sesuatu untuk membuatku merasa lebih baik. Kemudian, menit berlalu, akhirnya ia kembali dengan sesuatu yang berbau kuat. Aku cukup terkejut ketika ia menyodorkan cangkir berisi cairan berwarna cokelat yang pastinya bukan cokelat hangat padaku.
Dia menggaruk gugup bagian belakang kepalanya ketika aku menerima cangkir tersebut darinya. "Kami sudah kehabisan cokelat. Kuharap kau tidak keberatan dengan kopi? Ini Latte, kok."
Kata-katanya terdengar sangat ragu-ragu. Rasanya seolah-olah ia sangat berhati-hati agar tidak membuatku membanting cangkir tadi dan melarikan diri lagi dalam dingin. Dia sepertinya tahu aku tidak pernah benar-benar menyukai kopi sebelumnya. Bukan berarti aku benci minuman itu, hanya saja, aku tidak pernah merasa perlu menyukainya.
Aku mengangguk, tanpa bicara mengatakan aku tidak punya keluhan tentang kopi tersebut. Sementara kamarnya terasa nyaman dan hangat, perutku masih seperti membeku. Aku tidak berada di tempat untuk protes padanya.
Secangkir kopi tidak ada salahnya, kan?
Itulah apa yang aku pikir pada awalnya.
Kemudian, astaga, betapa salahnya aku.
Ketika aku mengambil tegukan pertama, aku menyadari Seungcheol tidak pergi. Sebaliknya, ia berjalan perlahan ke tempat tidur, kemudian merangkak di atasnya sebelum ia berhenti di belakangku. Aku berhenti sebentar, menaikkan sebelah alis padanya meskipun aku tahu ia tidak bisa melihatnya. Aku hendak memanggilnya, bertanya apa yang ia lakukan, ketika tiba-tiba, aku bisa merasakan dia bergerak. Tidak hanya itu, aku juga bisa merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti punggungku, kemudian sepasang lengan bergerak perlahan melingkari pinggangku.
Aku bersumpah hatiku berdetak sangat kencang, sampai-sampai aku yakin organ tersebut bisa meledak detik itu juga, ketika aku merasakan Seungcheol meletakkan dagunya di bahuku dan menghela napas.
"Kuharap kau suka kopinya," bisiknya ketika aku meneguk minuman yang mendadak terasa terlalu manis itu. "Aku membuatnya sendiri, tahu. Dengan bantuan, memang, tapi tetap saja, kan?" Dan aku tahu tanpa melihat, dia tersenyum saat itu.
Aku bersumpah—lagi—aku ingin berteriak padanya, mengatakan bahwa aku bukannya menyukai kopi itu tapi jatuh cinta lebih tepatnya.
Sama seperti bagaimana aku mencintai pelukannya. Sama seperti bagaimana aku mencintainya.
Dan saat aku menenggelamkan diriku dalam pelukannya, aku tahu aku tidak akan pernah berhasil menyingkirkan perasaan ini. Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, tidak peduli berapa banyak bukti betapa menyedihkannya aku ini menampar wajahku; Aku tahu.
Itulah bagaimana aku akhirnya masih mencintainya sampai sekarang bahkan ketika aku hampir tidak mengenalnya lagi.
Sejak kami lulus SMA, ia berubah. Sangat berubah. Choi Seungcheol, yang pada dasarnya memiliki wajah yang sempurna, otak yang sangat baik, dan segala sesuatu yang orang-orang harapkan, dengan cepat menarik perhatian semua orang di universitas kami. Benar-benar semua orang. Bahkan para dosen dan rektor.
Pada awalnya, aku pikir ini akan sama seperti ketika kami masih di SMA. Dia menjadi terkenal dan sebagainya, tidak akan menyingkirkan fakta bahwa aku istimewa. Aku berbeda dari yang lain. Aku tahu tentang dia lebih dari siapa pun.
Tapi, ketika pertama kali bilang ia berkencan dengan seseorang, aku menyadari, aku salah. Semuanya tidak akan pernah sama lagi.
Dia benar-benar berubah dan hatiku hancur berkeping-keping. Seseorang yang aku tahu berubah menjadi segala sesuatu yang kupikir tidak akan pernah kujumpai. Seseorang yang aku cintai, mencintai orang lain, dan dengan demikian, kami menjadi orang asing hanya karena jurusan yang berbeda. Dia tidak pernah menyapaku bahkan ketika kami melewati satu sama lain. Dia tidak pernah melihat ke arahku bahkan setelah aku memberinya tatapan memohon beberapa kali.
Kenapa? Aku tidak tahu. Sungguh. Tapi di satu sisi, karena sekarang aku sadar perasaanku tidak berbalas, kupikir semuanya lebih baik kalau begini.
Tapi yang membuatku pening dan bingung, ia hanya bertindak seperti itu di depan umum karena ketika kami berkomunikasi melalui telepon atau hanya ada kami berdua di apartemenku, ia bertindak seperti dirinya yang dulu. Seperti Choi Seungcheol aku kenali.
Yap, ia sering datang ke apartemenku. Kadang-kadang hanya untuk istirahat sejenak, menemaniku, menceritakan bagaimana hari-harinya; seperti dulu dan salah satu alasan ia bisa melakukan itu karena ia memiliki kunci cadangan. Tentu saja aku bukan aku yang memberikannya melainkan orangtuaku. Mereka pikir, karena kami dekat sejak kecil, ia bisa menjagaku. Konyol, kan? Kalau saja mereka tahu bagaimana komplikasinya hubungan kami saat ini.
Meski begitu, aku tidak pernah mempertanyakan mengapa ia bertindak seperti brengsek di depan umum tapi tetap manis dan sama seperti dulu ketika tidak ada orang lain. Mengapa ia membiarkan dirinya dicap sebagai playboy, mengapa ia menjadi begitu membuatku frustasi seperti ini; Aku tidak berani bertanya. Ia juga tidak pernah membahasnya.
Menurutku, semua ini tidak sepenuhnya hal yang buruk. Aku bisa mengendalikan perasaanku lebih mudah ketika ia tidak berada di sekitarku 24/7. Meskipun, yah, tidak sampai membuat perasaanku menghilang sepenuhnya.
Dan menurutku, lagi, ia pasti punya alasan yang belum bisa ia katakan mengenai hal itu.
Sepenuhnya sadar tidak ada hal baik yang akan datang dari memikirkan semua hal-hal menyakitkan tadi, aku mencoba memikirkan hal lain.
Berhenti memikirkan Seungcheol. Berhenti memikirkan si brengsek itu. Berhenti berpikir tentang betapa kau menginginkannya menjadi milikmu. Berhenti berpikir tentang betapa menyedihkannya dirimu, masih terus bergantung pada perasaan bodohmu yang kau tahu dengan jelas tidak akan pernah berbalas. Tolong, berhentilah—
Kemudian, aku mendengar bunyi bip. Kemudian, bunyi bip lainnya. Kemudian, banyak bunyi bip lagi.
Aku memaksa badanku yang mulai mati rasa untuk bergerak meraih ponselku di atas meja. Setelah perangkat selular tersebut di tangan, aku mengubah posisiku menjadi duduk sehingga aku bisa melihat nama si pemanggil. Tapi di detik aku melihat apa yang tertera di layar, aku hampir menjatuhkan ponsel tersebut.
Ada dua kelompok huruf di sana. Kim Mingyu.
Mingyu, eh? Meneleponku? Ini benar-benar sesuatu yang langka karena, yah kami memiliki hubungan yang cukup rumit—jadi, yah.
Aku menghela napas.
Berbicara tentang Mingyu, kami bertemu pertama kali beberapa tahun yang lalu. Mungkin ketika aku masih di kelas sebelas? Aku tidak benar-benar mengingatnya, tapi kali itu, aku teringat orang tuaku memintaku untuk datang bersama mereka di acara makan malam bersama rekan kerja mereka. Aku setuju untuk datang dan itulah bagaimana aku bertemu dengannya yang kebetulan menjadi satu-satunya putra pemilik Kim Company.
Karena orangtuaku yang cukup dekat dengan orang tuanya meskipun tidak sedekat dengan orang tua Seungcheol, kami bertemu beberapa kali lagi. Dia menyenangkan, belum lagi rupanya yang... terlalu sempurna untuk ukuran manusia, jadi ketika ia meminta nomorku dan lainnya, mengatakan ia ingin mengenalku lebih dekat sehingga kami bisa menjadi teman, aku tidak perlu berpikir dua kali.
Setelah itu, kami menjadi dekat dan lebih dekat. Tidak begitu dekat sebenarnya karena kami hampir tidak pernah bertemu selain di acara makan malam orang tua kami, hanya berkomunikasi melalui telepon, tapi kurasa cukup dekat.
Meskipun begitu, pada akhirnya, kami tidak menjadi 'sahabat' seperti apa yang aku harapkan.
Kenapa? Karena, oh, aku tidak pernah mengerti kenapa, ia jatuh cinta padaku.
Tentu saja, aku tidak bisa menerima perasaannya. Dan dengan demikian, ia mulai menarik diri. Tidak sekali dan untuk semua, namun perlahan-lahan. Dia masih datang ketika orang tua kita memiliki acara bersama. Dia masih mengirim pesan atau meneleponku. Tapi dia berhenti melakukan hampir semua itu ketika aku mendengar dia berkencan dengan salah satu teman dekatku di sekolah dulu, Jeon Wonwoo.
Itu cukup mengejutkan, sebenarnya. Aku tidak pernah berpikir mereka mengenal satu sama lain. Wonwoo baik dan cerdas, tapi menurutku, dia terlalu tenang untuk Mingyu. Mereka, secara harfiah, saling berkebalikan. Tapi dari apa yang aku dengar dari Wonwoo, mereka teman masa kecil.
Terdengar sangat mirip dengan hubungan masa laluku dengan Seungcheol, 'kan?
Jadi mulai sejak itu, kami hanya berkomunikasi... sebulan sekali? Atau mungkin ... sekali dalam setengah tahun? Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya. Menurutku, itu baik baginya sekarang dia punya orang lain. Itu baik bagiku dan baginya sekarang ia punya Wonwoo sebagai kekasihnya. Itu lebih baik baginya jika ia membatasi hubungan kami. Itu lebih baik bagi kami berdua.
Jadi, ketika aku melihat namanya di layar ponselku, aku berkedip sekali. Kemudian, dua kali. Kemudian, tiga kali. Dari semua orang di bumi, aku tidak pernah berpikir ia akan menjadi orang yang meneleponku di saat seperti ini. Itu mengejutkan, namun aku memilih menjawab panggilannya.
"Halo?" Suaranya menyapaku. Suaranya yang dulu sering kudengar, menyapaku.
Aku berkedip satu kali lagi sebelum berhasil berdeham. "Hai, Gyu." Aku mengambil jeda sebelum melanjutkan. Diam-diam berdoa aku tidak terdengar seterkejut yang aku pikirkan. "Ada apa?"
Ada tawa kecil dari seberang sana. Aku tahu dia menyadari nada berat yang aku pakai. "Tidak ada apa-apa, kok. Hanya saja tadi aku bermimpi tentang seseorang yang sedang sangat merindukanku dan berharap aku meneleponnya. Jadi, di sinilah aku, mengabulkan keinginannya."
Aku ikut tertawa dengannya saat itu, karena, wah, aku memang berharap seseorang membantuku melupakan Seungcheol walau hanya sedikit. "Hei, jangan terlalu menyanjung dirimu sendiri seperti itu. Kau akan menyesal, loh," kataku, setengah bercanda.
"Akui saja kau merindukanku, hyung."
"Tidak."
"Iya, tentu saja kau merindukanku."
"Tidak."
"Iya."
"Tiiiiiidaaaaak."
"Iiiiyaaaaaa."
Aku menggembungkan pipiku. Persetan kalau ia tidak bisa melihatnya. "Baiklah, aku menyerah. Aku merindukanmu. Senang sekarang, hm?"
Sebuah tawa terdengar lagi. Kali ini terasa ringan dan hangat. Murni karena bahagia dan tidak ada yang lain. Hal itu membuatku sadar, aku benar-benar merindukannya. Aku benar-benar merindukan kami, tidak dalam hubungan canggung, tetapi dalam sesuatu yang menyenangkan dan tidak membebani. Dalam hubungan dekat yang tidak melibatkan hal rumit seperti cinta, tapi masih tetap terasa lengkap dan dibutuhkan.
Sungguh, kenapa cinta selalu membuat hal-hal menjadi menyakitkan dan rumit ketika sebelumnya semua terasa benar dan sempurna?
Aku ingin tahu jawabannya.
"Oh, kau tidak tahu betapa bahagianya aku, hyung," ia bilang. Aku bahkan bisa mendengar senyumannya dalam kalimat itu. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik, kok," aku berbohong. Kabarku bisa jadi apapun, tapi tidak dengan kata 'baik'. Meski begitu, aku mencoba untuk menekuk bibirku ke atas hingga membentuk senyum kecil. Persetan, lagi, dengan fakta bahwa ia tidak bisa melihatku dari mana pun ia berada. "Kau?"
Ada jeda tipis sebelum ia menjawab. "Aku baik juga, tapi, kau tahu, aku punya sedikit masalah akhir-akhir ini."
Itu membuatku merengut bingung. "Karena?"
"Ulang tahun kakakmu, hyung."
"Kakakku ... apa?"
Mingyu tersentak pada saat itu. "Astaga. Jangan bilang kau lupa."
Nah, pada kenyataannya, aku memang lupa. Aku lupa hari ulang tahunnya.
"Yah," aku mengingit bibirku sedikit, berusaha terdengar tidak bersalah. "Syukurlah kau mengingatkanku."
Mingyu tertawa lagi. Sial. Dia terdengar begitu sempurna.
"Masih pelupa, hm?"
"Permisi." Aku memutar mataku pada saat itu. "Aku masih ingat terakhir kali aku bertemu dengannya secara pribadi dan itu... setahun yang lalu. Kami jarang berkomunikasi, mentang-mentang dia sudah jadi superstar. Aku berani bertaruh dia lupa sudah meninggalkan adiknya yang malang di sini sendirian." Aku pura-pura terisak.
Seperti yang kautahu sekarang, aku bukan satu-satunya anak di keluargaku. Aku punya seorang kakak perempuan dengan jarak tiga tahun yang kini bekerja sebagai penyanyi. Kami begitu dekat, dulu, karena beberapa tahun terakhir ini, Yoorin—nama kakakku itu—sedang sibuk mempromosikan lagu-lagunya di luar negeri. Aku mengerti kenapa dia jarang menghubungiku. Aku benar-benar tidak keberatan pada awalnya. Tapi menyadari aku hanya bisa melihatnya dari TV atau berita, bagaimana aku tidak bisa berbicara dengannya seperti sebelumnya, membuatku merasa sedih.
Mingyu menjawab lagi setelah mendesah berat. "Bukan berarti dia mau meninggalkanmu di sini, hyung. Kau tidak bisa menyalahkannya. Kau tahukan betapa dia menyayangimu? Hanya saja... dia tidak begitu bisa menunjukkannya untuk saat ini. "
Aku membenamkan wajahku di bantal sebelum bergumam, "Ya, terserah lah."
"Nah, berdasarkan apa yang kaukatakan tadi, sepertinya aku bisa bilang kau tidak tahu 'kan dia sudah kembali dari Tokyo tadi malam?"
Itu berhasil membuat aku berdiri tegak dalam sekejap. "Dia sudah kembali?!"
"Yap dan aku mendapat undangan ke pesta ulang tahunnya yang akan diselenggarakan di rumahmu hari minggu ini, hyung."
Aku berbalik begitu cepat, tulangku terasa akan retak, menghadap kalender gantung di sebelah kanan pintu masuk. "Maksudmu lusa, kan?"
Mingyu menggumamkan sesuatu seperti "ya".
Sial. Aku hanya punya satu hari untuk mempersiapkan sesuatu dan mengetahui kebiasaan pilih-pilih Yoorin, aku langsung tahu mengapa Mingyu merasa bermasalah.
Aku mengutuk Yoorin karena tidak bilang-bilang padaku tentang kedatangannya, tentang pesta ulang tahunnya, dan tentang semuanya. Termasuk Seungcheol dan aku sendiri.
Ternyata, aku mengutuki segala sesuatu yang ada merupakan hal yang lucu bagi Mingyu. Dia tertawa sedikit sebelum berbicara lagi. "Hyung," dia bilang, "kau sibuk besok?"
"Hm, tunggu dulu," ucapku setengah mengejek, "karena aku ini seorang superstar yang super sibuk. Tentu saja, aku punya banyak waktu luang. Kenapa memangnya?"
Mingyu tertawa, lagi. Aku hampir berteriak padanya untuk berhenti melakukan hal yang sialnya sangat menarik itu, tetapi pada akhirnya kuputuskan sebaliknya karena yah, aku mau, kok, mendengarnya tertawa ratusan kali lagi kalau bisa.
"Mau jalan denganku besok? Menonton film? Atau apa pun?"
Oke, aku tidak menyangka yang satu itu.
"Atau kita bisa pergi membeli hadiah untuk Yurin-noona. Mana Anda silahkan. "
Aku tersenyum menyadari betapa ragu ia terdengar. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. "Oh, astaga, aku hampir saja mengira kau akan mengajakku kencan, Gyu."
"Bagaimana kalau aku memang mengajakmu kencan?"
"Wonwoo akan membunuh salah satu dari kita. Kemungkinan besar kau, sih, dan kita berdua tahu kenapa."
Mingyu tertawa. "Bagaimana kalau kencan antar teman dengan 'Pergi beli sesuatu yang keren untuk pesta Yurin-noona' sebagai quest-nya?"
"Memangnya kita akan bermain RPG?" ucapku ikut tertawa. Tapi, yah, aku tidak bisa mengatakan tidak untuk itu. "Baiklah. Terserah kau saja. Di mana kita ketemuan?"
"Aku akan menjemputmu sekitar jam sepuluh."
Menjemputku? Benar-benar tidak perlu, tapi dia terdengar lebih dan lebih ragu-ragu dengan masing-masing kata. Itu membuat aku bertanya dalam hati mengapa ia memaksa dirinya untuk mengatakan semua itu dan pada akhirnya, aku menemukan diriku menerima tawarannya.
"Oke."
"Bagus. Sampai jumpa besok, hyung."
Dan sebelum aku bisa menjawab, panggilan itu berakhir secara tiba-tiba seperti bagaimana ia datang.
.
.: _ :.
.
[…]
Kim Mingyu menatap layar ponselnya tanpa berkedip.
Wajahnya tidak terbaca. Matanya tampak begitu kosong begitu layar yang ia pandangi perlahan berubah menjadi hitam dan menenggelamkan nama kontak yang diteleponnya tadi.
Dia tidak bergerak untuk beberapa saat. Hanya berdiri saja. Kepalanya ia tundukkan sedikit selagi angin malam dengan lembut menyapu poninya ke samping berulang kali. Ponselnya masih di tangan, tapi pelan-pelan, ia mengeratkan pegangannya pada benda tersebut hingga ia merasa syarafnya kaku dan sakit.
Mingyu tidak mengerti ini. Ia tahu ia telah setuju pada Wonwoo untuk melakukan apapun yang harus dilakukannya, tapi ia tidak tahu, meneleponnya saja bisa membuat perasaannya kacau balau. Seharusnya tidak seperti itu. Tahun telah berlalu, namun jantungnya masih berdegub terlalu kencang dan perutnya masih terasa sakit setiap kali ia mendengar suara orang itu.
Kenapa?
Seharusnya ia tidak seperti ini.
Tapi, tetap saja.
Mingyu menggigit bibir bawahnya hingga berdarah dan memenuhi mulutnya dengan rasa besi dan sesuatu yang memuakkan. Itu membuatnya ingin muntah. Itu membuatnya ingin membiarkan semua perasaan penuh dosanya keluar dari tubuhnya. Namun, dia menelan cairan itu lalu menghela napas keras. Kakinya perlahan ia gerakkan dan kini ia menemukan dirinya berjalan kembali ke ruangan di mana seseorang tengah duduk di atas karpet sambil mengetik sesuatu di laptop.
Ketika matanya bertemu dengan sosok bersurai gelap tersebut, bahunya terasa lebih berat dari sebelumnya.
"Sudah selesai?" Sosok tadi, Wonwoo, berkata sambil menyesuaikan kacamata baca hitam yang dikenakannya. "Apa yang Jeonghan-hyung katakan?"
Mingyu tidak menjawab. Dia terus bergerak maju. Tindakannya mendapatkan ekspresi bingung dari Wonwoo, terutama ketika ia tiba-tiba berhenti di belakangnya, kemudian memeluk tubuh Wonwoo yang lebih kecil darinya.
"Kau sangat kurus, hyung. Sudah kubilang kau harus makan banyak, kan?"
Wonwoo mengerjap beberapa kali atas aksi pacarnya, tapi tidak memprotes. Dia hanya duduk di sana, jari berhenti mengetik selagi Mingyu menggelamkan wajahnya ke leher Wonwoo dan menarik napas dalam-dalam. Rasanya agak hangat dan geli, jadi dia menyukainya. Tapi andai saja dia tidak tahu Mingyu selalu melakukan itu saat pikirannya sedang kau, dia bisa menyukainya lebih banyak lagi.
Wonwoo mendesah pelan sambil memeluk lengan Mingyu kembali. "Apa Jeonghan-hyung bilang 'tidak'?" tanyanya lagi.
Hening sampai Mingyu menarik napas dan berkata, "Dia setuju."
Wonwoo tersenyum meskipun Mingyu tidak dapat melihatnya. Ia mulai mengetik lagi. "Bagus kalau begitu," katanya.
Tapi Mingyu tidak merasa baik sama sekali. Ia kemudian menggerakkan salah satu tangannya ke bawah pakaian Wonwoo, merasakan kulit lembut dan hangat di bawahnya, sebelum ia mulai menghujani bahu pacarnya dengan kecupan kecil yang segera tumbuh menjadi ciuman panas dan aksi menggigit yang membuat Wonwoo harus menahan dirinya untuk tidak mengerang.
"Sekarang, sayang, katakan padaku," Mingyu berhasil mengatakan setelah menjilati salah satu kiss mark yang berhasil ia buat, "kenapa kau bilang aku harus pergi 'berkencan' dengan Jeonghan-hyung besok? Apa hubungannya dengan rencanamu untuk membuat Seungcheol-hyung menyadari perasaannya?"
"Yah," Wonwoo memiringkan kepalanya untuk memberikan pacarnya akses lebih banyak, "Seungcheol dan Jisoo-hyung juga punya rencana kencan besok."
Itu membuat Mingyu menghentikan ciumannya. "Bagaimana kau tahu?"
Wonwoo hanya tersenyum padanya. "Aku punya banyak sumber."
Mingyu memutar matanya. Dia tahu dia tidak akan mendapatkan jawaban lebih rinci daripada itu sehingga ia menanyakan pertanyaan lain. Pertanyaan yang satu ini cukup sulit untuk ia utarakan.
"Hyung, kau baik-baik saja kalau aku berkencan dengan orang lain?"
Senyum Wonwoo tidak pergi.
"Aku percaya padamu."
Hati Mingyu jatuh ke perutnya dan beban di bahunya terasa terlalu berat sekarang sampai-sampai ia merasa dadanya tidak bisa digerakkan. Sesak.
Tapi kemudian, ponselnya bergetar.
"Ayah," katanya kepada Wonwoo setelah ia membaca pesan yang masuk sekilas. "Sepertinya aku harus pulang sekarang."
Wonwoo memberinya anggukan dan kecupan di bibir.
"Baiklah," ia bilang, pelan. "Dah."
Mingyu berdiri, langsung berjalan ke pintu, meninggalkan Wonwoo yang tersenyum pada refleksinya di layar laptop yang mati sambil menggumankan kebohongan manis seperti "Aku bisa percaya padanya karena ia mencintaiku" pada dirinya sendiri.
.
.: _ :.
.
[Selanjutnya]
3 . 0 | mocha
.
.: _ :.
.
Catatan penulis:
Hai, pembaca sekalian! Terima kasih lagi sudah membaca ff ini dan respon positif serta membangun yang diberikan pada chapter sebelumnya. Au berharap bisa mendapatkan respon lebih banyak kali ini karena jujur saja, review itu seperti bahan bakar bagi Au : ) Updatenya bisa lebih cepat loh, lol. Maybe, or maybe not. Try me. /kicked/
Dan, oh, Au minta maaf atas chapter kemarin yang Au posting tanpa membacanya berulang kali terlebih dahulu. Banyak sekali cacatnya, hiks. Untung saja Fidchan mau membantu dan Fidchan, makasih beta-nya, yah!
Semoga chapter kali ini lebih baik dari yang sebelumnya. RnR?
cookies & ice creams,
authlene
