Just Be Friends

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime-san

Just be friends song © VOCALOID Megurine Luka

Kokoronashi (If somehow) © utaite & GUMI

Chapter 2

Yohoooooo author kembali~~~

Sempet deg-degan nunggu respon kalian ._. takutnya konfik yang author sajikan gak nyampe ke hati /plak/ ok hiraukan itu...

Author nyuri-nyuri waktu buat ngetik lagi nih ~v~ padahal tugas bejibun disana-sini wkwkwk

Tapi lumayan lah buat hiburaaaan

Dan ternyata emang dipending begitu lama... gomennasai _

Jadi maapin yaaaaa soalnya kelamaan update TvT

Yok mulai ah, kebanyakan ngomong nanti author malah keasyikan dan lupa ceritanya –v-

Seperti biasa,, love love readers 3

RnR PLEASE

.

.

If somehow, i could leave it all behind and everything

Do you think that a bit of joy would finally come to me?

My heart is breaking and the ache will start again

And never end, please don't say eveything

Petra menyesap kopi instan yang ia beli di supermarket. Ia nikmati di sebuah bangku taman yang cukup jauh dari rumahnya, sengaja menjauhkan diri dari segala hal yang membuatnya penat. Mungkin ia hanya butuh kesendirian dulu untuk saat ini.

Tampak jelas setiap hembusan napas yang ia keluarkan membentuk asap tipis. Musim gugur, berarti apakah itu, Petra berusaha tak memikirkannya.

Sebanyak apapun hal yang ingin ia ketahui dari Levi, tetap saja Petra berusaha menutup telinganya dengan spontan. Seolah ia belum siap dengan kenyataan pahit yang mungkin akan menghantuinya setiap malam.

Dulu memang tidak sama dengan sekarang. Seseorang akan berubah dengan sendirinya, tanpa disadari, seenaknya. Tentang siapa yang berubah lebih dulu, tak ada yang tahu dengan pasti. Pasti akan saling menyalahkan.

Dingin. Semuanya terasa begitu dingin. Bahkan kopi yang masih mengepulkan kehangatannya pun terasa dingin di lidah Petra. Seperti sudah mengalami mati rasa yang keterlaluan.

If somehow, i forgot the world and who i am today

Could i sleep? Would the tears i cry all dry and fall away?

But we can't wish on stars to part from who we are

It's all we are, please don't try anything

Berharap pada bintang? Bisakah? Jika ya mungkin hal itu sudah dilakukan Petra dari dulu. Berharap seperti anak kecil dan menganggap esok hari akan baik-baik saja. Polos.

Jujur saja bahwa Petra sudah lelah untuk menangisi segalanya. Meskipun perasaannya belum tumpul seutuhnya, hatinya belum mati rasa sepenuhnya. Mencoba untuk terlihat kuat pun sepertinya akan sia-sia. Terlalu rapuh, terlalu menyakitkan.

Though i call out you reach you, failing time and again

My heart is all i have to give you, only one

You can't see, just take my bones, why not everything?

You're tearing me and damaging, do anything, lay me in the ground

I'm screaming and shaking, my eyes turn red somehow even now

Wraping me around, your touch abound

Not letting go even when i say, it's ok

Petra tak pernah tahu bahwa mencintai seseorang bisa semenyakitkan ini. Semakin digenggam, rasanya akan semakin sakit. Cinta dan obsesi, terkadang Petra tidak yakin apa yang ia rasakan adalah cinta atau hanya obsesi semata. Ia tidak yakin semakin harinya, tidak ada yang membuatnya yakin kembali akan apa yang tengah membelenggunya.

Saat waktu mempermainkannya dengan kejam, ia hanya bisa mengatakan bahwa ia baik-baik saja dalam keadaan itu dan menjauh dari sorot mata khawatir orang-orang. Semuanya akan baik-baik saja, sudah jadi angan.

Hal-hal dalam ingatannya seakan menjamur, menimbulkan sebuah aroma ingatan yang menyeruak keluar meski tanpa diminta. Bagaimana ingatan itu terjadi seolah terputar kembali dengan sendirinnya. Petra hanya menutup matanya, merasakan hawa aneh ditubuhnya yang mulai mengingat kenangan lama.

Flashback

Petra tak pernah berpikir tentang entertaiment selama ini. Ia hanya beranggapan bahwa itu hanya dunia yang digeluti ayahnya sebagai CEO di perusahaan itu, tidak lebih. Petra tak pernah berpikir untuk ikut terjun ke dalam dunia itu sampai seseorang menggerakkannya.

Levi, siapa lagi. Mereka sudah saling mengenal. Petra tahu bahwa Levi adalah seorang pria dingin yang takkan sudi menyebar senyum seenaknya pada orang lain. Tapi nyatanya tatkala Petra memberinya senyuman, pria itu akan ikut tersenyum sebagai balasannya. Hanya pada Petra, itu yang ia tahu.

Levi tidak mengatakan dengan langsung tentang apa yang harus gadis itu lakukan setelah lulus SMA nanti. Ia hanya berkomentar singkat yang nyatanya sangat merubah pandangan Petra tentang dunia entertaiment.

"Bakatmu ada pada wajahmu." Begitu serunya.

Hati Petra tergerak untuk mengerti maksud terselubung dari kalimat singkat itu. Dan ia langsung memutuskan sendiri akan jalan yang akan ia pilih setelahnya, menjadi model.

Bukanlah hal yang sulit baginya. Berawal dari sebuah ajang pencarian model sebuah majalah, Petra menyempatkan waktu untuk ikut menyertakan diri, dengan Levi sebagai fotografernya. Debutnya dimulai dari sana.

Hubungan mereka masih baik-baik saja. Mereka masih bisa tertawa bersama setiap harinya, menikmati hari dengan bahagia dan menjauhkan diri dari setiap jengkal masalah.

Sering sekali mereka berdua menghabiskan waktu di atap sekolah. Sekedar untuk memainkan beberapa lagu dan bernyanyi bersama, atau sekedar mencari foto yang bagus untuk menjadi salah satu rangkaian kenangan yang akan sangat berguna di masa depan. Keadaan itu terus berlanjut sampai mereka lulus, dan tetap harmonis seperti biasa setelahnya.

Malam tahun baru ke 7 mereka bersama, tepat di bawah langit Tokyo yang indah dihiasi kembang api, mereka saling berpandangan satu sama lain. Sibuk dalam pemikiran masing-masing tentang situasi yang terbentuk saat ini.

Tangan mereka berdua yang saling bertaut menghangatkan diri seolah memberi tahu siapapun yang melihat mereka bahwa ada hubungan yang teramat khusus disana. Napas yang berembus membuat kepulan asap tipis tiap kali keluar. Rona merah terlihat jelas di pipi Petra yang terasa dingin oleh udara malam.

Saat rasa nyaman yang mengganggu itu semakin terasa, Petra bisa melihat senyuman hangat Levi. Tangan pria itu sudah memegang sebuah kotak kecil berisi benda berkilauan. Petra ingin menangis saat itu juga, namun ia bisa menahannya untuk beberapa saat lagi.

"Kau pasti tahu maksudku kan? Aku tidak bisa berkata-kata manis seperti pria lain, jadi.."

Perkataannya terputus untuk mengambil napas terlebih dahulu.

"Tetaplah bersamaku, di bawah janji suci."

Petra tak bisa mengatakan apapun, matanya yang mulai berembun seolah membuatnya melupakan cara bicara. Ia hanya mengangguk sebagai balasan, membenamkan wajahnya pada syal merah yang ia kenakan sampai menutupi setengah wajahnya.

Levi memakaikan cincin pengikat yang ada di dalam kotak itu ke jari Petra, kemudian mengecup keningnya dengan khidmat.

Suhu udara yang dingin tidak menghalagi kehangatan yang terbentuk diantara mereka. Ciuman yang lebih hangat pun terjadi. Semakin eratlah benang merah yang melingkar di kelingking mereka berdua.

.

.

Lagi-lagi Petra menghela napasnya. Perasaannya mengatakan benang merah yang mengikat jarinya tidak lagi terikat dengan kencang. Seperti melonggar seenaknya, benang merah itu hampir terlepas begitu saja.

Masalah yang dihadapinya saat ini memanglah tidak terbilang sangat berat, namun bayang-bayang adanya pihak lain yang ikut andil membuat Petra merasa pundaknya ditekan dengan begitu keras. Kepercayaannya sirna begitu saja. Berkurang setiap hari, setiap Levi mengatakan sesuatu yang berhubngan dengan hal ini. Rasanya sakit. Mengetahui kenyataan adanya hal lain yang membuat suaminya sibuk selain dirinya, mengingat ada ruang lain yang ditempati seseorang di dalam pirirannya, itu sudah cukup membuatnya tidak yakin seyakin dulu. Pasti ada sesuatu yang salah, jika tidak ada pada dirinya, lalu kesalahan itu ada pada siapa? Levi? Mikasa? Waktu? Takdir? Apa yang salah? Perasaannya kah? Lagi?

Rasa muak mengalir di tenggorokannya, kesal akan sesuatu yang tidak nyata. Sesuatu yang bisa saja merupakan fatamorgana semata.

'Sebentar lagi pemotretan, aku tunggu di studio.

-Levi-'

Pesan singkat itu Petra terima setelah seharian tidak berada di rumah. Dengan pandangan tanpa gairah sedikitpun, Petra memandangi tulisan di layar ponselnya itu tanpa minat. Pandangan kosong andalannya.

Petra mengedipkan matanya sejenak sebelum memilih untuk berlaku profesional dalam pekerjaannya. Ia bangkit dari posisi duduknya, berjalan melawan semilir angin musim gugur yang seolah menembus tulang.

Rambut caramelnya bergerak seirama dengan angin. Sebentar lagi ia akan menghadapi orang yang sedang dihindarinya, orang yang menancapkan duri dalam setiap mawar yang tumbuh di hatinya.

If somehow, i could have wish come true, i'd think of you

And just wish for the things you have and all you try to do

But i don't make a lot of wishes, maybe none

I'd settle then for you to stay by me

Senandung pelan terdengar samar. Senandung perih yang melekat begitu lama dalam dirinya. Entah bagaimana ia bisa menyembunyikan kepedihan itu nanti, jika berhadapan dengan sumber kepedihannya tersebut.

.

.

Petra sudah siap dengan dress putih selutut dan mahkota bunga dikepalanya. Aura yang ia keluarkan begitu anggun dan suram dalam waktu yang bersamaan. Matanya yang sayu masih menatap kosong ke arah yang tak tentu. Namun matanya selalu berusaha mengindari lirikan mata Levi yang berdiri di samping fotografer. Dia berusaha untuk bisa menguasai dirinya sendiri.

Waktu terasa begitu lama baginya. Setiap detik yang bagaikan bom menghantam keinginannya untuk segera keluar dari situasi ini. Ia hanya bisa menarik napas dengan enggan. Terlihat setenang mungkin menghadapi benteng kepedihan yang ia bawa.

"Ayo kita mulia, Petra." Seru Jean, si fotografer.

Petra mengangkat badannya untuk melangkah menutu depan kamera, dimana setting tempat itu sudah diatur berlatarkan putih dengan tebaran bunga mawar dan pecahan kaca. Entah kenapa latar itu sangat menggambarkan situasi yang sebenarnya.

Levi melirik setiap pergerakan Petra di depan sana. Kedua tangannya yang menyilang di depan dada menyembunyikan telapak tangannya yang gemetaran karena menghadapi situasi ini. Tangannya mendingin dibalik sana. Sudah berkali-kali Levi melihat bagaimana Petra menghela napasnya dengan enggan. Ia juga menyadari manik karamel itu menghindari tatapannya sedari tadi.

Ini salah. Bagaimana mungkin situasi seperti ini bisa diperbaiki, jika keduanya tetap terlarut dalam egonya masing-masing. Tidak ada yang mau mengalah. Petra masih tetap dalam pandangannya masih tetap dalam rasa sakitnya yang dalam, masih tetap memandang semuanya merupakan sebuah kesalahan. Ia menganggap tali merah yang mengikatnya selama ini melonggar karena disengaja.

Tiba-tiba Levi berbalik, ia menggigit bibir bawahnya perlahan.

"Maaf.." gumannya pelan. Kemudian ia melangkahkan kakinya menjauh, keluar dari studio.

"Are? Levi-san? Anda mau kemana?" ujar Jean yang merasa heran dengan sikap atasannya itu, tidak seperti biasanya. Dimana pria itu akan senantiasa mendampingi Petra sampai pemotretan selesai, tidak peduli seberapa sibuknya ia.

Petra memandang kosong kepergian Levi. Dan ia tidak menghiraukan tatapan Jean yang merasa penasaran dengan atmosfer yang mereka buat ini.

"Jean, kita lanjutkan saja." Ucap Petra hambar.

"Eh? Tapi, bagaimana dengan-"

"Dengan atau tanpa dia kita masih bisa pemotretan kan?" nada suara Petra terdengar sarkartis.

"A-ah.. baiklah.. kita lanjutkan saja."

Dan dengan helaan napas singkat, Petra mulai memfokuskan diri dengan pekerjaannya. Atau lebih tepatnya berusaha untuk tidak meninggalkan pikiran yang ia miliki pada orang yang baru saja keluar dari studio.

Petra mengamati ruangan tengah kediamannya yang masih terasa atmosfer tidak menyenangkanna. Setelah mengahbiskan waktu begitu lama di luar rumah, Petra memang memutuskan untuk tetap pulang, meski sebenarnya kakinya begitu berat saat melangkahkan kaki memasuki setiap inci rumah.

Tepat saat Petra akan melanjutkan langkahnya menuju kamar, Levi menampakkan diri. Pandangan dinginnya berusaha menjebak Petra dalam diam. Tangan pria itu yang tengah memegang secangkir kopi panas seketika dialihkan.

Saling menghela napas kasar, keduanya melirik miris satu sama lain. Dan yang membuka pembicaraan pertama kali adalah Levi, ya.. kali iini Levi.

"Kau tahu aku tidak pandai membuat kopi."

Jantung Petra tersentak sesaat. Pikirannya langsung mengambil alih tentang ketenangan yang dimiliki Levi saat ini. Disaat Petra sama sekali tidak memiliki pasokan kata-kata untuk memulai pembicaraan atau sekedar bertegur sapa, bagaimana bisa Levi dengan santainya membicarakan hal yang memang hanya mereka berdua yang tahu.

"Dan aku tidak mau menghabiskan waktu begitu lama tidak merasakan kopi buatanmu."

"Kopi? Bagaimana jika kopi terakhir yang aku buatkan untukmu adalah kopi yang aku buat malam itu?"

Levi terdiam. Kali ini pria itu benar-benar meletakkan cangkir kopinya diatas meja, kemudian melangkah mendekati Petra.

Mimik Levi tak bisa diungkapkan. Raut wajahnya tampak penuh dengan perasaan kalut dan kebingungan. Kedua alisnya tampak berkerut tak beraturan. Dan entah untuk keberapa kalinya, helaan napas terdengar, tepat saat Levi berada di depan Petra dan menyentuh pundak gadisnya.

"Petra.. sampai kapan kau akan seperti ini? Mengacuhkanku, menjauhiku, enggan bicara padaku, huh? Sampai kapan?"

Petra mengalihkan maniknya. Menghindari pandangan tajam semu Levi yang bagaikan terhalang kabut.

"Hey, Petra. Aku tahu kau bukan anak-anak lagi, kau sudah mengerti banyak hal. Kau juga sudah mengenalku begitu lama. Apa kau pikir, setelah kau mengenalku begitu lama itu kau masih menganggap aku akan mengalihkan pandanganku darimu? Apa kau masih tidak mengerti bagaimana kepribadianku? bagaimana aku akan bersikap? Pada orang yang aku sayangi, dan orang yang tidak begitu spesial bagiku? Kau masih tidak mengenaliku?"

Pandangan Petra kini terlihat berkilat, tegas oleh sebuah emosi tak kasat mata yang tercipta dengan sendirinya. Akhirnya Petra mau membuka mulutnya.

"Kau tahu aku bukan anak-anak lagi, tapi kau tetap saja mencoba membodohiku dengan melakukan semua sandiwara di belakangku. Kau kira aku bodoh, sempat mengatakan bahwa kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengan gadis itu. Aku sudah melihat bagaimana akrabnya kalian saat bersama, aku patut untuk cemburu melihat kau tersenyum bahkan tertawa berkat orang lain kan? Dan ternyata kau memang mengakuinya juga, kalau kau tengah dekat dengan gadis model itu. Aku akan sangat ingat bagaimana kau mengatakannya padaku, aku akan sangat ingat bagaimana rasa sakit yang kau berikan padaku tanpa aku minta, aku akan..."

Petra mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menyelesaikan perkataannya, sarat akan emosi sampai buliran air jatuh dengan sendirinya dari manik karamel indah miliknya.

"Menyiapkan diri jika perpisahan akan menjadi jawaban yang lebih baik untuk kita berdua."

Levi mengerjap. Tangan yang masih ia simpan di pundak Petra seketika menegang. Suatu emosi mengalir ke kepalanya. Seakan mati rasa.

Pria itu masih terdiam dalam satu menit pertama. Dilanjutkan dengan sentuhan lembut yang Levi berikan pada Petra. Tangannya kini menggapai leher belakang gadis dihadapannya, menarik leher itu mendekat agar Levi bisa menggapai bibir peach itu.

Disesapnya bibir lembut itu perlahan. Perasaan aneh memang ikut muncul di benaknya. Kenapa Petra tidak menolak ciuman itu? Kenapa Petra diam saja seolah tubuhnya berubah kaku? Dan kenapa.. Levi mulai mendorong Petra ke sofa, menindih gadis itu dibawahnya. Tangannya yang tadinya berada di belakang leher Petra untuk menahan gadisnya kini beralih memainkan setiap jengkal tubuh yang ada di bawahnya.

Emosi tak kasat mata itu seolah menjadi pelampiasan setiap gerakan yang ia lakukan.

Semua yang Levi berikan hampir mendekati klimaks, sampai tiba-tiba Petra mendorong tubuh Levi agar menjauh.

Dengan tatapan tanpda ekspresi Petra menunjukkan penurunan minatnya pada Levi.

"Levi.. kau tahu? Aku masih mencintaimu dengan tulus. Tapi entah kenapa, semua sentuhan yang kau berikan tidak memberikan efek apapun padaku sekarang. Semuanya terasa asing."

Levi sedikit menunjukkan keterkejutannya.

"Ternaya benar, jika seseorang sudah disakiti.. ia akan berubah dengan drastis meskipun ia tidak menyadarinya." Sambung Petra dengan suara pelan.

"Apa tidak ada cara agar kau bisa kembali seperti dulu, Petra?"

"Kau ingin mengembalikanku seperti dulu setelah sempat merubahku? Lalu untuk apa kau merubahku? Untuk apa kau melakukan hal yang bisa membuatku berubah? Untuk apa.. kau melakukan semua itu jika kau ingin aku yang dulu?"

"Petra, kau tidak mengerti. Bukankah ini saat yang tepat untuk kita bicara? Agar kau tidak salah paham dan mengambil kesimpulan sendiri seperti ini."

Kali ini petra yang terdiam. Matanya memandang bagaimana sorot tajam Levi yang meredup. Matanya yang gelap itu bagai menggambarkan dasar lautan yang dalam, perlu untuk berenang sekuat tenaga untuk benar-benar melihatnya.

"Bicara ya.."

Levi bangkit dari posisinya yang berada di tubuh Petra. Ia duduk di damping gadis itu, dengan mimik wajah yang masih sama.

Perlahan Petra juga mendudukkan dirinya, merapikah rambutnya yang sedikit berantakan. Seperti biasa, menyelipkan rambutnya di telinga kanan dengan anggun.

"Aku sudah menyakitimu, benar?"

Levi menarik napasnya terlebih dahulu.

"Kau berencana untuk pergi dariku karena rasa sakit yang aku berikan padamu, benar?"

Manik karamel mengalihkan pandangannya yang muali terasa panas ke arah lain. Berharap dengan caranya ini ia bisa mengontrol emosi dan tidak terlihat lemah lagi di hadapan Levi.

"Aku, memang dekat dengan Mikasa. Kau tahu kenapa? Tidak kan? Kau mengambil kesimpulan sendiri, itulah kenapa kau merasa sakit seperti ini."

"Bagaimana aku bisa tahu siapa dia jika kau sendiri seperti menyembunyikan gadis itu dariku. Jadi bukan salahku juga jika aku beranggapan hal lain."

Levi menghela napas lagi perlahan.

"Dia saudara jauhku."

Petra menoleh,terdapat sedikit intimidasi dari tatapannya.

"Kau mau aku percaya?"

"Itu tergantung padamu kan? Jika kau percaya, setidaknya kau bisa mengobati rasa sakitmu itu."

Hening tercipta.

"Dan jika saja.. ternyata aku memang sudah sangat menyakitimu.. aku tidak memiliki hak untuk tetap menahanmu bersamaku kan?"

Entah kenapa setetes air jatuh dari mata Petra. Matanya membelalak namun masih terlihat hambar. Dalam diri Petra terasa ada lagi yang retak. Ada sebuah rasa kecewa lagi yang timbul. Ada sesuatu yang membuatnya merasa seperti dicekik. Seperti luka yang diberi garam, perih.

Levi hanya bisa tercengang melihat air mata itu kembali menetes, karenanya.

Sungguh, Petra tidak mengerti kenapa dirinya seperti ini. Ada sebuah harapan yang terasa dipatahkan begitu saja. Tepat saat Levi tidak memiliki usaha apapun untuk sekedar menahan niatnya berpisah. Ya, ada rasa kecewa disana. Kecewa bahwa ternyata, pria yang sangat penting dalam hidupnya bisa dengan mudah melepas ikatan benang merah yang terjalin. Bahwa pria itu bisa dengan cepat mempermudah niat egoisnya untuk berpisah, tanpa sedikitnya debat menyakitkan atau semacamnya.

Keadaan yang tiba-tiba terasa canggung ini membuat Levi merasa ragu untuk menyentuh gadis disampingnya. Tangannya seolah ditahan oleh sesuatu yang tidak terlihat saat mencoba untuk mengusap air mata yang jatuh tanpa intruksi itu.

Sebelum sempat tangan yang ragu-ragu itu menyentuh Petra, gadis itu mulai bisa menguasai dirinya kembali untuk berbicara.

"Mungkin perpisahan memang jalan terbaik.. kan?" senyuman miris nampak.

Perasaan sesak kini mencekik Levi. Seolah bergiliran, semua gejala yang dialami Petra sekarang dialami juga oleh Levi. Perih.

"Aku.. tidak begitu yakin, tapi.. jika semua ini akan lebih menyakitimu.. aku bisa apa?"

Senyuman miris yang menyakitkan dari Petra kembali terlihat. Untuk kesekian kalinya, gadis itu akan menghindar dari sumber kekalutannya. Ia berdiri tanpa melihat Levi sama sekali, masih memunggungi pria itu.

"Mungkin kau bisa.. berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama atau.. menahan kepergianku mungkin?"

Petra berlalu pergi, tanpa mau mendengar suara Levi yang tercekat ingin berkomentar namun terhalang oleh gerakan Petra yang menjauhinya. Dan punggung gadis itu menghilang di balik pintu kamar.

"Aku yang salah ya.."

Jika seperti ini terus, tidak akan ada kesimpulan yang akan menguntungkan keduanya. Tidak akan ada akhir yang benar-benar diinginkan keduanya. Tetap akan ada sesuatu yang mengganjal. Ganjalan itu adalah rasa cinta yang masih tertanam di hati mereka berdua. Dan jika akhir ini yang tetap akan mereka pilih, maka yang dapat disalahkan adalah rasa ego mereka yang begitu tinggi. Belum ada yang mau menekan egonya sama sekali, walaupun sedikit.

Levi mengacak rambut kelamnya, kemudian mendecih pelan.

"Siapa yang harusnya salah.." gumannya sambil kembali mengacak helai kelam itu.

TBC

.

.

Wow~ gimana nih? Greget ga? Jujur, author nyelesaiin lembar-lembar terakhir sambil banyak pikiran TvT jadi maapkan jika agak aneh dan banyak typo disana-sini, mohon dimaklumi yaaaaa

Oke, doakan author lanjutin chapter 3 dengan cepat, biar cepet tamat, cepet bikin fict baru, cepet jadi penulis sungguhan~ uooooooo

Udah aaah

Sekali lagi maaaaap yang sebesar-besarnya karena keterlambatan update chapter ini

Dimaapin ga nih? Maapin dong... ya? *puppyeyes*

Jyaa, sampai jumpa chapter depaaaaan lalalalalalala

-author shigeyuki-