[ FINAL ]
Title : Un-ordinary Girl
Cast : VIXX – Lee Jaehwan, Jung Taekwoon, cameo!N
Pairing : Keo
Genre : Au, Romance, Gender-Bender
Length : two-shoot
Rate : M(Mau banget? lol *kidding)
A/N : So… ini dia Chapter yang kalian tunggu-tunggu! Maaf author update-nya laaaaaaama banget.. Biasa, kerjaan numpuk akhir semester begini wks. Tapi mohon dimaklumi ya chapter ini agak sedikit nggak jelas. Ini kali pertamanya author bikin ff begini..
So, now… enjoy reading guys ^^
-=o0o=-
Taekwoon menatap gadis yang masih tidur di sampingnya. Lee Jaehwan. Seorang gadis yang sempurna yang selalu jadi pusat perhatian di sekolah mereka. Keduanya masih dalam keadaan tak berpakaian. Taekwoon tak menyangka ia bisa mendapat kesempatan untuk 'tidur' bersamanya. Tapi memang sudah lama Takwoon merencanakan ini. Ia sengaja tak menghiraukan Jaehwan di sekolah. Agar Jaehwan dapat mengingat siapa dirinya. Mengingat satu orang yang jauh, lebih mudah dibanding menghapalkan ratusan orang yang selalu ada di dekatmu. Itu masuk akal memang.
Tapi dibalik rasa bahagianya bisa berhubungan dengan Jaehwan, ada yang mengganjal. Kata-kata Jaehwan sebelumnya. Tentang rahasia yang menurut Jaehwan, Taekwoon takkan percaya. Dan,
'Meski suatu saat nanti aku berubah jadi makhluk menjijikkan yang tak satu orang pun suka?'
Semua berkaitan dengan masa lalu dan masa depannya. Taekwoon tak menemukan jawaban sama sekali tentang apa yang Jaehwan maksud. Tapi ia juga tak akan memaksa Jaehwan untuk memberi tahu. Karena sudah lama Taekwoon berjanji bahwa bila ia berhasil mendapatkan Jaehwan, ia akan terus mencintai gadis itu meski apapun yang Taekwoon tak tahu akan terjadi.
Taekwoon membelai rambut Jaehwan dengan lembut agar tak membangunkan gadis cantik itu. Namun rupanya Jaehwan memang sudah bangun beberapa detik yang lalu. Ia hanya malas membuka mata.
"Apa aku membangunkanmu?" Tanya Taekwoon.
Jaehwan menggeleng. "Kalau kau yang berada di sampingku ketika aku bangun, terjaga semalam suntuk pun tidak apa-apa."
Taekwoon tersenyum melihat Jaehwan tertawa. Ia kemudian menarik Jaehwan lebih dekat hingga kepala gadis itu bersandar di dadanya. Jaehwan sontak terdiam. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak lebih kencang.
"Tae- Taekwoon..."
"Aku mencintaimu, Jaehwan. Meski apapun yang terjadi padamu. Aku akan selamanya berada di sisimu." Taekwoon mengecup kening Jaehwan, membuat wajahnya memerah semerah tomat segar. Tapi Jaehwan tak tahu harus membalas dengan apa. Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa memeluk tubuh Taekwoon lebih erat. "Apa kau percaya padaku?"
Jaehwan terdiam sebentar, kemudian mengangguk. "Aku percaya padamu. Ta- tapi apa yang akan kau lakukan bila suatu saat nanti kau mengingkari kata-katamu itu?"
"Aku akan bunuh diriku sendiri."
Mata Jaehwan membulat. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Taekwoon. Pria ini sungguh-sungguh.
"Ke- kenapa?"
"Karena aku mencintaimu. Perlu kuulang berapa kali, Jaehwan?" Taekwoon tersenyum dan mencium hidung Jaehwan.
Jaehwan masih terdiam. Kenapa Taekwoon sampai seperti itu? Apa dia benar-benar mencintai Jaehwan? Ya, Taekwoon sungguh-sungguh mencintai Jaehwan. Jaehwan kini tahu, inilah yang dimaksud dengan cinta sejati. Menerima apa adanya, dan melakukan apapun untuk yang dicintai. Dan Jaehwan tahu, ia sudah menemukan cinta sejatinya.
Jaehwan tersenyum. Ia mengecup bibir Taekwoon. "Aku juga mencintaimu, Taekwoon."
Keduanya pun saling tersenyum.
"Jadi... kau sudah menemukan cinta sejatimu, Lee Jaehwan?"
Jaehwan kenal suara ini. Ia menoleh. Ia muncul lagi setelah bertahun-tahun.
"Kau-"
"Siapa kau?! Bagaimana masuk ke rumahku?!" Amuk Taekwoon.
"T- Taekwoon.. Tenanglah. Dia bukan penyusup." Ucap Jaehwan. Lalu menatap tajam pria berkulit tan yang tak menapak dilantai itu. Sedangkan Taekwoon kebingungan.
"Jadi kau tak mau memperkenalkanku pada kekasihmu itu, gadis cantik? Whaa.. Sekarang kau benar-benar pantas dibilang cantik." Pria tertawa. Lalu mulai memperkenalkan diri. "Namaku N. Kau bisa anggap aku sebagai penyihir."
Mendengaar kalimat pria itu, Taekwoon makin kebingungan. Penyihir? Oh, please. In this modern era?!
"Wajahmu seperti tidak percaya." N tertawa. "Tapi terserah. Karena urusanku muncul di sini bukan karena kau. Tapi Jaehwan." N kembali beralih pada Jaehwan yang wajahnya menjelaskan bahwa ia baru saja menyadar sesuatu. "Aku senang kau sudah menemukan cinta sejatimu, Jaehwanny. Sekarang saatnya kau kembali ke wujud asalmu."
"Tu- tunggu! To- tolong jangan lakukan itu sekarang, N!"
Tidak ketika aku baru saja menemukan kebahagiaanku.
"Maaf. Tapi kalau aku tak melakukannya, kita berdua akan dihukum oleh Tuhan." Ucap N tiba-tiba berubah menjadi serius. Ia menapakkan kakinya di depan Jaehwan, tangannya meraih pipi Jaehwan, dan mulutnya mulai bersenandung bahasa yang Jaehwan mau pun Taekwoon tak mengerti. Lebih tepatnya, N tengah membacakan sebuah mantra.
"Tidak! Kumohon jangan sekarang! Tidak!"
Jaehwan berteriak histeris sembari menutupi seluruh tubuh serta kepalanya dengan selimut. Sedangkan N terus membacakan mantra-mantranya. Taekwoon? Oh, dia tengah membatu. Tak mengerti sedikitpun apa yang terjadi di depan matanya. Ketika Jaehwan terus berteriak meminta N untuk menghentikan mantranya. Ketika tubuh Jaehwan yang tertutup selimut mengeluarkan sebuah cahaya kuat dan membuat Taekwoon terpaksa menutup matanya. Ketika Taekwoon dengar N berhenti berkicau, dan mengatakan,
"Selamat, Lee Jaehwan. Kau sudah kembali seperti semula. Itu yang kau inginkan, bukan?"
Taekwoon POV
Aku mengintip, dan melihat N menghilang begitu saja seperti debu yang tertiup angin. Kemudian aku menoleh ke sebuah gumpalan selimut di sampingku. Jaehwan menerungkup di dalamnya. Hanya wajahnya yang bisa aku lihat. Kudengar suara isak tangis dari Jaehwan. Kudekati tubuh Jaehwan, mencari wajahnya.
"Jaehwan." Jaehwan memalingkan wajahnya. "Jaehwan, apa yang terjadi? Siapa makhluk tadi? Hey, beritahu aku."
Aku membuat Jaehwan menatapku dengan tanganku. Jaehwan menangis hebat.
"T- Taekwoon"
Mataku membulat mendengar suara Jaehwan.
"Jaehwan.. Su- suaramu-"
"A- aku akan jelaskan. Tapi kumohon, jangan langsung usir aku dari sini."
"A- apa yang kau bicarakan?"
Jaehwan perlahan menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya sampai pinggang.
Mataku membulat mendapati keadaan tubuh Jaehwan yang... Tak pernah kubayangkan sebelumnya. Rambut panjangnya kini pendek, bahu kecilnya kini sedikit lebih lebar, pinggangnya tak seramping beberapa menit yang lalu. Dan dadanya bidang, hampir sebidang dadaku.
Gadis cantik itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki.
'Apa ini yang sedari tadi Jaehwan bicarakan?'
"Jae-"
"Hiks.. Maafkan aku, Taekwoon. Aku... Sebenarnya terlahir sebagai laki-laki.. Hiks.." Jaehwan mulai menangis kembali. "Aku.. Aku bukan bermaksud menipumu. Aku juga tak tahu apa yang terjadi."
Aku terdiam sebentar, masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Tapi, satu pertanyaan terbesit di otakku.
"Bi- bisa kau jelaskan bagaimana kau... Menjadi wanita?"
Kini Jaehwan yang terdiam. Kurasa ia tengah mencoba menenangkan dirinya kembali sebelum menjawab,
"Aku juga tak begitu mengerti. Tapi semua bermula sejak aku duduk dikelas satu SMP. Dulu aku hanya seorang anak sekolahan yang culun."
-Flashback-
Normal POV
Seorang bocah berkacamata lumayan tebal tengah duduk di pinggiran sungai. Terlihat beberapa luka di kaki dan tanganya yang tengah ia coba obati dengan air. Air matanya beruraian di pipinya. Beberapa menit yang lalu, beberapa sunbae-nya di sekolah mengerjainya di sana dengan melemparkan bola baseball ke arahnya. Ya, anak itu adalah salah satu korban bully terparah di sekolahnya karena penampilannya yang lemah. Tapi mau bagaimana lagi? Keluarganya yang ingin ia berpenampilan seperti itu.
Anak itu terus menangis selagi pikirannya bertanya-tanya. Kenapa dia harus berpenampilan seperti anak yang lemah? Dan kenapa dirinya memang lemah?
Ia terus menangis sampai terdengar sebuah suara tak jauh dari tempatnya berada. Sekitar 10 meter dari tempatnya duduk, seorang kakek tengah berteriak meminta tolong. Mata sang kakek itu tak lepas dari aliran sungai, dan salah satu tangannya mencoba meraih sesuatu di sana.
Jaehwan langsung mendatangi kakek tua itu.
"Ada apa harabeoji?" Dengan polosnya, Ia bertanya.
"A- Anjingku.." Kakek itu menunjuk apa yang sedari tadi ia coba raih.
Anak laki-laki itu menoleh ke arah unjuk sang kakek. Ia lihat seekor anjing tengah memeluk sebuah batu di tengah aliran sungai.
"Kakinya sedang terluka. Ia tak mungkin bisa berenang ke tepian." Ucap kakek itu.
Tanpa pikir panjang, anak itu melepas sepatu, kaus kaki, dan tasnya. Kemudian masuk ke dalam air yang ia tahu tak begitu dalam. Hanya sampai setengah pahanya. Dan untung ia tak memakai celana panjang. Ia hanya cukup menaikkan sedikit celananya agar tidak basah.
Ketika Ia sudah dekat dengan anjing tersebut,
"Ayo, tidak apa-apa. Lompat saja ke arahku. Aku akan langsung menangkapmu." Ucapnya, sembari mengulurkan tangan pada anjing itu.
Dengan sedikit ragu, anjing itu melompat ke tubuh anak itu dan memeluknya. Tubuhnya tak besar. Pantas ia tak bisa berjalan mau pun berenang ke tepian. Anjing itu terlihat ketakutan.
"Tenanglah. Sekarang, kita kembali ke tepian."
Anak itu berjalan perlahan menuju ke tepian sungai, di mana sang kakek tadi menunggu anjingnya kembali. Setelah sampai tepian, anjing itu langsung melopat ke arah majikannya. Sang kakek terlihat sangat senang, begitupun si anjing. Anak itu tersenyum melihatnya. Ia mulai memakai kembali kaus kaki dan sepatunya.
Tiba-tiba, sang kakek berkata,
"Nak, terima kasih sudah menolong anjingku."
"Sama-sama harabeoji."
Mereka saling tersenyum. Sang kakek memperhatikan sekujur tubuh anak itu yang penuh luka. Dengan itu, si kakek bisa langsung tahu. Anak ini pasti korban bully di sekolahnya.
Tiba-tiba sang kakek mengeluarkan sebuah buku yang terlihat sudah tua dari tas tenteng yang ia bawa.
"Terimalah ini, sebagai tanda terima kasih."
"Ah, A- ani. Tidak perlu."
"Tidak apa-apa. Buku ini bisa menolongmu."
Jaehwan akhirnya mau tak mau menerima buku itu. Ditatapnya buku tebal yang kini ada ditangannya. Sejenak, Jaehwan dapat merasakan ada aura aneh yang keluar dari situ.
"Ah, Tapi, Harabeoji- Eh? Eodiga?" Jaehwan menoleh ke segala arah, namun tak mendapati sosok kakek itu lagi di sekitarnya. "Cepat sekali harabeoji menghilang."
Perhatiannya kembali ke buku di tangannya, ketika ia rasakan buku itu mengeluarkan cahaya, dan mulai bergetar membuatnya terkejut. Ia jatuhkan buku itu di tanah, namun ia tak bisa lari, kakinya lemas terlalu takut.
Buku itu terbuka di tanah, memperlihatkan sebuah halaman dengan gambar sosok manusia dengan pakaian aneh. Tiba-tiba, gambar itu keluar dari halaman, dan berdiri di depan Jaehwan.
"Hai. Perkenalkan, namaku N." Orang dengan pakaian aneh itu melambaikan tangannya, kemudian membungkuk di depan Jaehwan. Bocah berkacamata itu mengambil beberapa langkah mundur. "Oh, kau tak perlu takut padaku. Aku tak akan menyakitimu. Sebaliknya, aku akan mengabulkan satu permintaan terbesarmu."
Mendengar itu, Jaehwan sedikit tertarik. Ia berhenti melangkah mundur. Ia kemudian menatap makhluk di depannya yang hanya terus tersenyum.
"Be- benarkah? Kau akan mengabulkan permintaanku?"
"Yap."
"Apapun itu?"
"Apapun itu."
Jaehwan terdiam. Hatinya tengah terbelah dua. Sebagian percaya, dan sebagian lagi tidak. Tapi kalau N itu bohong, untuk apa ia melakukannya? Jaehwan atau pun dirinya tak akan rugi.
Baiklah, sudah kuputuskan!
"Ka- kalau begitu. Aku tak ingin lagi terlihat lemah dan jelek dihadapan orang lain! Aku ingin jadi sosok sempurna yang jadi perhatian orang lain!"
N tersenyum. "Mudah."
Pria berpakaian aneh itu menjentikkan jarinya, kemudian keluar cahaya yang sangat menyilaukan dari buku yang sedari tadi masih terbuka. Jaehwan terpaksa menutup matanya. Kemudian ia rasakan angin berhembus kencang menerpa tubuhnya, sampai membuat kaca matanya terjatuh.
Tak lama, cahaya tersebut menghilang.
"Bukalah matamu."
Jaehwan membuka matanya. Ia melihat sekeliling. Tak lama ia sadari, pengelihatannya jelas. Tanpa bantuan kacamata tebalnya.
"Bagaimana?"
"A- apa yang terjadi? Eh?!"
Jaehwan terkejut mendengar suaranya sendiri. Suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.
"Kenapa? Sekarang kau sudah jadi perempuan sempurna yang dikagumi semua orang."
"Haaaaaah?!"
Jaehwan menunduk, menatapi tubuhnya. Ia menyentuh dadanya, dan... Ya, dadanya cukup besar untuk ukuran anak SMP. Belum yakin sepenuhnya, tangannya merayap masuk ke celana.
OH MY GOD! Kemana benda itu?!
"Hei! Kau baik-baik saja?" Sosok aneh itu menatap Jaehwan bingung.
"KENAPA AKU JADI BEGINI?!"
"Eh? lho? Bukankah tadi kau minta jadi orang yang kuat dan bisa dikagumi semua orang? Sekarang, kau jadi perempuan yang sempurna. Kalau tidak percaya, pulanglah dan tanyakan pada orang tuamu."
"BODOH! Aku memang minta jadi sosok sempurna! Tapi bukannya jadi perempuan! AKU INI LAKI-LAKI!"
"EEHHH?" Sosok itu terlihat terkejut. "Ya- yang benar? Kau... Laki-laki?!"
Jaehwan tak menjawab, ia terus menatap N dengan tatapan mematikan. N bisa lihat aura-aura mematikan dibelakang bocah itu.
"Ma- maaf. Sa- salahku."
"Enak saja minta maaf!"
"Oh.. Ayolah, aku benar-benar minta maaf. Wajahmu itu terlalu manis, makanya aku kira kau perempuan. Ya? Maafkan aku, ya?"
"Ugh! Kembalikan dulu aku seperti semula!"
"Hah?! Mana bisa?! Kan sudah kubilang aku hanya akan mengabulkan satu permintaan terbesarmu. Jadi-"
"AAARRRGHH! PERGI KAU MAKHLUK JELEK!'
Jaehwan melempar buku di depannya ke sungai, membuat sosok yang tadi muncul dari dalamnya, ikut terlempar ke sungai.
"Uwhaaa! Maafkan akuu! Oh, iya! Temukanlah cinta sejatimu! Baru kau bisa kembali seperti semula! blrrpp!"
Dan makhluk itu pun tenggelam di sungai.
Sedang Jaehwan, hanya bisa menangis di pinggir sungai.
Flashback End
"Ketika aku pulang ke rumah, kuceritakan semua yang terjadi. Tapi ayah dan ibuku malah tertawa. Dan mereka mengatakan bahwa..."
Jaehwan menarik nafas yang dalam sebelum melanjutkan.
"Aku memang perempuan sejak dilahirkan."
Dengan itu, tangisan Jaehwan semakin kencang.
Taekwoon hanya diam masih tak mengerti. Bukannya ia tak percaya, ia hanya tak mengerti bagaimana hal semacam itu dapat terjadi. Secara logika, itu tidak mungkin. Tapi bila Tuhan berkehendak, lalu apa yang bisa manusia lakukan?
Melihat Taekwoon membatu dan tak merespon, Jaehwan memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari sana. Dengan cepat ia turun dari tempat tidur dan berpakaian.
"Aku... Permisi.."
Dengan cepat, Jaehwan membungkuk dan meninggalkan Taekwoon yang masih membatu di kamarnya. Jaehwan berlari menuruni tangga, menuju pintu keluar rumah besar itu. Namun ketika tangannya sudah siap memutar kenop pintu, ia merasakan tangannya yang lain ditarik dari belakang hingga ia terpaksa untuk berbalik. Sedetik kemudian, ia sudah ada dalam pelukan Taekwoon.
"Lepaskan..." Jaehwan bergumam. Ia mencoba mendorong Taekwoon menjauh, namun pelukan namja bertubuh lebih besar itu sangat kuat.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Jaehwan terdiam. Jantungnya kembali berdetak tak karuan. Tangannya gemetar. Ia mencoba mencari-cari alasan agar Taekwoon melepaskannya.
"Aku harus pulang.."
Taekwoon sedikit melepas pelukannya pada Jaehwan. Ia menatap lelaki yang sedikit lebih pendek di depannya itu.
"Aku tak yakin kau bisa pulang dengan keadaan seperti ini."
Jaehwan mengikuti arah pandang Taekwoon yang kini tak tertuju pada matanya, melainkan ke tubuhnya. Mata Jaehwan membulat menyadari ia mengenakan rok yang beberapa jam lalu Taekwoon pinjamkan. Sebenarnya selama ini Jaehwan tak terlalu bermasalah dengan memakai rok. Namun dengan tubuhnya sekarang ini, sudah tak pantas baginya. Lagi pula pinggangnya yang kini lebar membuat rok itu tak terkancing dengan benar.
Jaehwan tak mengangkat kepalanya. Tak mau Taekwoon melihat wajah merah tomatnya. Ia bisa mendengar lelaki di depannya menghela nafas. Tapi ia tak tahu ekspresi apa yang sedang terpampang di wajahnya. Tiba-tiba, Taekwoon menggenggam pergelangan tangan Jaehwan.
"Ikut aku."
-=o0o=-
Jaehwan keluar dari kamar mandi. Mengenakan celana pendek selutut dan atasan kaus hitam yang sedikit kebesaran milik Taekwoon. Tubuh Jaehwan memang sudah kembali seperti semula, namun tetap tak lebih besar dari Taekwoon.
Menyadari pintu kamar mandi di kamarnya terbuka, Taekwoon yang tengah duduk di kasurnya menoleh. Ia sedikit membatu. Melihat Jaehwan di depan pintu kamar mandinya mengenakan pakaian dan celana miliknya. Taekwoon menyadari wajah merah Jaehwan yang disembunyikan dengan cara menunduk. Tangannya meremas ujung baju yang ia pakai.
Entahlah, bagi Taekwoon, Jaehwan yang seperti ini yang lebih menarik.
Tanpa berkata apa-apa, Taekwoon turun dari kasurnya dan berjalan menuju tempat Jaehwan berdiri. Matanya tak lepas dari pemandangan di depannya. Selagi Jaehwan mulai merasa gugup karena ditatap begitu dan karena jarak mereka yang makin lama makin dekat. Jantungnya tak bisa menahan detakan yang kencang.
Taekwoon behenti tepat di depan tubuh Jaehwan. Jarak mereka tak lebih dari tiga puluh senti. Mata tajam Taekwoon terus menatap lurus ke wajah Jaehwan, sedangkan mata Jaehwan tak bisa diam, melihat ke semua arah kecuali Taekwoon.
Merasa tak nyaman dengan suasana diam yang terlalu lama, Jaehwan angkat bicara.
"Bo- boleh aku pamit pulang sekarang?"
Taekwoon melirik ke arah jendela. Suasana di luar rumah masih gelap dan hujan deras.
"Masih hujan."
"Ka- kalau begitu aku menunggu di luar saja."
Jaehwan berbalik berniat keluar dari kamar. Namun belum sempat tubuhnya beranjak dari tempatnya, Taekwoon menarik lengannya dan memeluknya dari belakang. Mata Jaehwan membulat seketika. Perasaan itu masih ada. Perasaan nyaman ketika berada di dekat Taekwoon. Perasaan itu tak berubah.
"Tae- Taekwoon-"
"Di sini saja." Gumam Taekwoon.
Jaehwan tak bisa menjawab apapun, menolak pun ia segan. Ia biarkan Taekwoon memeluknya seperti ini. Jaehwan menutup mata, merasakan kehangatan dan kenyamanan yang menyelimutinya.
Mereka terus berada dalam posisi itu selama beberapa menit. Sampai suara Taekwoon memecah keheningan.
"Kau tahu? Aku lebih suka tubuhmu yang seperti ini."
"M- mwo?!" Jaehwan terbelalak.
Dengan cepat, Ia melepas diri dari pelukan Taekwoon. Namun dengan lebih cepat, Taekwoon menarik wajahnya dan kini bibir mereka kembali bertemu. Jaehwan terkejut dan mencoba menjauh. Namun tak kuat dan akhirnya ikut tenggelam dalam ciuman itu ketika Taekwoon menjilati bibir bawahnya.
"Ahh.." Jaehwan tak sengaja mendesah.
Taekwoon mengambil kesempatan tersebut untuk memasukkan lidahnya ke rongga mulut Jaehwan. Kali ini Jaehwan benar-benar tak bisa melakukan apapun. Ia justru terangsang untuk ikut memainkan lidahnya bersama Taekwoon. Tangannya memeluk leher Taekwoon, sedang lengan Taekwoon sendiri sibuk menarik pinggang Jaehwan sedekat mungkin.
Merasa butuh oksigen, keduanya melepas ciuman mereka. Mereka menatap satu sama lain, dan hening. Yang baru Jaehwan sadari ialah tubuhnya kini sudah terpepet antara tubuh Taekwoon dan tembok dibelakangnya.
Sejak kapan?!
"Kau mencoba menghindariku?" Tanya Taekwoon. Jaehwan terdiam sejenak, membuat Taekwoon menganggapnya sebagai jawaban iya. "Wae?"
"Kau bertanya kenapa? Apa kau tak mengerti keadaanku sekarang ini, Jung Taekwoon?! Kau sudah tahu kenyataannya bahwa aku ini laki-laki! Jadi kumohon berhenti membuatku berharap." Bentak Jaehwan. Taekwoon menatapnya kaget. Tapi ia bisa lihat dan merasakan mata serta tubuh namja manis di depannya ini gemetar. Taekwoon tahu Jaehwan sebentar lagi ia akan menangis.
Taekwoon menarik nafas panjang sebelum angkat bicara. "Ya, aku tak mengerti. Aku tak mengerti tentang apa yang terjadi. Tentang bagaimana kau bisa berubah gender hanya karena menolong seekor anjing milik seorang kakek, yang setelahnya memberimu sebuah buku di mana seorang penyihir muncul dan mengubahmu menjadi wanita sempurna yang tak seorang lelakipun dapat menolak!"
Jaehwan membulatkan matanya. Kini ia yang membatu. Mendengar seorang Jung Taekwoon berteriak dan berbicara sepanjang itu, hal yang mungkin tak akan dipercaya oleh murid-murid di sekolah bila Jaehwan ceritakan.
"T- Taekwoon."
"Aku bahkan tak mengerti, bagaimana perasaan ini masih menetap di hatiku setelah mengetahui kau yang sebenarnya." Taekwoon kembali mendekatkan bibirnya pada milik Jaehwan. Sekitar satu inchi jarak bibir mereka, Taekwoon berbisik.
"Aku masih mencintaimu, Lee Jaehwan."
Taekwoon kembali mencium bibir Jaehwan. Namun baru menempel sebentar, Jaehwan langsung mendorongnya menjauh.
"YA! APA KAU GILA?!"
Hening. Taekwoon hanya bisa menatap Jaehwan yang kini beruraian air mata di wajahnya. Tubuhnya masih gemetar.
"Jaehwan-"
"Biar kuperjelas, Jung Taekwoon. Sekarang aku ini seorang NAMJA! Sama sepertimu! Kita tak pantas melakukannya lagi. Bahkan perasaan yang kau sebutkan tadi, yang sama dengan apa yang masih kurasakan ini, tak patut bagi kita memilikinya."
Jaehwan kembali menangis menderu-deru. Taekwoon tak berhenti menatapnya, selagi langkahnya kembali mendekati Jaehwan. Namja penuh air mata itu belum menyadari keberadaan Taekwoon di depannya karena kedua tangannya yang menutupi wajahnya. Sampai ia merasakan sebuah tangan menyentuh pipinya.
"Belum lebih dari empat jam yang lalu," Jaehwan mengangkat kepalanya, menatap mata Taekwoon dengan pandangan buramnya. "Kau dengar aku mengatakan, aku akan tetap mencintaimu meski nantinya kau akan menjadi makhluk menjijikkan yang tak satu orangpun sukai. Kukatakan pula bahwa aku akan tetap mencintaimu meski seperti apapun masa lalumu. Dan bila kenyataannya kau memang seorang namja, aku tak bisa berbuat apa-apa selain tetap mencintaimu."
Jaehwan tak merespon apapun. Ia lebih sibuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia dengar tadi tidak salah.
"Kalau memang menjadi gay adalah satu-satunya cara untuk mencintaimu, aku akan melakukannya. Itu karena aku sudah terlanjur mencintaimu, Jaehwan. Aku mencintai apa yang ada dalam dirimu. Bukan bagaimana kau terlihat dari luar."
Dengan itu, Taekwoon tersenyum. Jaehwan sedikit terkejut karena itu. Ia dapat merasakan wajahnya memerah padam. Tak pernah Jaehwan lihat pria di depannya ini tersenyum seperti itu. Dan tanpa Jaehwan sadari, senyuman itu membuatnya percaya pada Taekwoon. Percaya bahwa Taekwoon akan terus mencintainya bagaimanapun sosoknya saat ini. Percaya bahwa Taekwoon rela menjadi gay hanya untuk mencintainya.
Jaehwan kembali menangis.
"Jaehwan.. Kenapa kau-"
Belum selesai Taekwoon bicara, Jaehwan mencium bibirnya. Ya, kini Jaehwan yang lebih dulu menciumnya. Taekwoon sedikit terkejut dengan kenyataan itu. Tapi ia tetap membalas ciuman itu ketika merasakan air mata di pipi Jaehwan menyentuh pipinya.
Ciuman mereka semakin dalam saat tangan kanan Taekwoon meraih pipi Jaehwan, sedangkan tangan kirinya melingkar di pinggangnya, menarik laki-laki yang dicintainya itu lebih dekat.
Merasa butuh udara, mereka melepas ciuman itu. Mata menatap satu sama lain.
"Lee Jaehwan. Maukah kau percaya padaku?"
Jaehwan dengan cepat mengangguk. Ia tersenyum dibalik air matanya.
Senyuman itu kini membuat Taekwoon tak tahan lagi. Ia langsung menunduk, dan menyerang leher Jaehwan dengan bibirnya.
Jaehwan mengerang kenikmatan ketika Taekwoon mulai menjilati dan menggigit lembut leher putih Jaehwan. Ditambah, tangan Taekwoon yang entah sejak kapan masuk ke dalam baju Jaehwan, dan meraba-raba dada dan perut flat-nya. Tak lama jari Taekwoon menemukan apa yang ia cari. Jemari-jemari panjang itu langsung memelintir nipples Jaehwan.
Tangan Jaehwan naik ke rambut Taekwoon dan meremasnya, menyalurkan rasa nikmatnya di sana.
"Tae- Taeknghh.." Jaehwan mencoba mengatakan sesuatu. Namun kenikmatan yang ia rasakan membuat semua yang keluar dari mulutnya hanyalah suara-suara erotis yang pula membuat Taekwoon makin nafsu dalam pekerjaanya.
Setelah Taekwoon puas membuat kissmarks di leher Jaehwan, ia membuka kaus hitam nya dari tubuh Jaehwan. Tereksposlah tubuh kurus-putih milik Jaehwan.
Pandangan penuh nafsu di mata Taekwoon tertuju pada nipples Jaehwan yang sudah memerah dan keras. Sudah terangsang oleh sentuhan-sentuhan dari Taekwoon.
Tanpa pikir panjang, Taekwoon kini menyerang nipple kanan Jaehwan dengan lidahnya. Membuat Jaehwan tak bisa menahan desahannya.
Taekwoon tak menghentikan pekerjaanya. Ia menjilat dan menghisap nipple Jaehwan makin keras. Melakukannya terus bergantian dengan nipple Jaehwan yang lain.
Tangan Taekwoon merayap turun dari perut Jaehwan ke ban pinggang celana yang Jaehwan kenakan. Ia melepas kancing dan membuka resleting celana itu. Jaehwan tahu apa yang Taekwoon akan lakukan. Tapi ia tak menghentikannya.
"Ah Ahh..."
Jaehwan mendesah ketika bagian vitalnya yang sedari tadi memang sudah mengeras, digenggam oleh Taekwoon, kemudian di elus-elus dengan lembut. Sedang Taekwoon sendiri hanya bisa tertawa dalam hatinya. Ia mulai menaik-turunkan penis Jaehwan.
Jaehwan terus mendesah membuat Taekwoon melakukannya lebih cepat. Dan yang Taekwoon lakukan pula membuat Jaehwan mendesah makin kencang.
Begitu terus sampai Jaehwan akhirnya menyebut nama Taekwoon.
"Taek.. woonhh ahh.."
Mendengar namanya diucapkan disela-sela desahan yang erotis, membuat Taekwoon merasakan alat vitalnya sendiri sudah tak bisa menahan. Ditambah melihat kondisi Jaehwan saat ini.
Tiba-tiba Taekwoon menarik tangan Jaehwan dan menghempasnya ke tempat tidur.
"Ya! Appeo!" Protes Jaehwan.
Tanpa ragu, Taekwoon merayap naik dan meniban tubuh Jaehwan. Jaehwan menelan ludahnya sendiri.
Taekwoon tersenyum sinis melihat ekspresi wajah Jaehwan. Tangannya beralih kembali ke celana Jaehwan dan mencoba melucuti benda itu dari pinggangnya. Namun Jaehwan menahan tangannya.
"Chamkka. Ini tidak adil."
"Wae, Lee Jaehwan?" Taekwoon kebingungan.
"Kau bahkan belum melepas sehelai pakaianpun dari tubuhmu." Jaehwan mencoba mengatakannya tanpa mengeluarkan rona merah di pipinya.
Taekwoon kembali tersenyum sinis. Tanpa berkata, ia langsung berdiri dengan lututnya, melepas kaus dan celana yang ia kenakan. Terksposlah alat vital Taekwoon yang sudah menegang.
Sekali lagi Jaehwan menelan ludahnya sendiri. Entahlah, ini akan jadi yang kedua kali nya mereka melakukan ini di hari yang sama. Namun Jaehwan masih merasa gugup. Apa karena dengan keadaan tubuh yang berbeda ini?
Mungkin.
"Sekarang apa kau rela celanamu pergi?" Tanya Taekwoon dengan nada jahil.
Tanpa kata, Jaehwan langsung melepas celananya sendiri, kemudian melemparnya entah ke sudut kamar yang mana. Jaehwan tak peduli. Yang ia pedulikan hanya Taekwoon dan dirinya saat ini.
"Taekwoon.. Lakukan sesuatu.." Ucap Jaehwan dengan nafas tersengal. Ia tak menyadari pria di atasnya kini sedang tersenyum sinis.
"Kau yang harus lakukan sesuatu terlebih dahulu." Ucapnya.
Taekwoon kemudian berlutut, dan menarik tangan Jaehwan hingga ia dalam posisi duduk. Wajah Jaehwan tepat berada di depan alat vital Taekwoon. Mata Jaehwan membulat, sedangkan senyum sinis di wajah Taekwoon belum pudar. Tiba-tiba, tangan Taekwoon menggenggam rambut Jaehwan.
"Lakukan dengan benar, baby."
Jaehwan hanya bisa mengangguk. Taekwoon pun mendorong kepala Jaehwan. Jaehwan membuka mulutnya dan memasukkan penis Taekwoon ke dalam mulutnya. Lidahnya mulai bermain di dalam bersama benda keras tersebut. Membasahinya untuk mempermudah Taekwoon melakukan inti dari permainan ini.
Erangan-erangan kenikmatan kali ini keluar dari mulut Taekwoon. Tangannya masih menahan kepala Jaehwan. Pinggulnya ia maju-mundurkan, mencoba memasuki mulut Jaehwan lebih dalam. Jaehwan hampir tersedak karena ujung benda keras di dalamnya hampir menyentuh ujung tenggerokannya. Namun, lidahnya tak berhenti membasahi benda itu. Bahkan Jaehwan menyempatkan untuk sedikit menghisap penis Taekwoon.
"Cu- cukup.." Taekwoon menarik kepala Jaehwan hingga penis bebas dari dalam mulut Jaehwan.
"Wae?" Jaehwan terlihat mempoutkan bibirnya.
Taekwoon tersenyum sinis.
"Kelihatannya kau menikmatinya. Tapi aku tak mau keluar dulu sebelum sampai ke inti."
Taekwoon lalu mendorong tubuh Jaehwan hingga lelaki itu kembali berbaring di kasur. Setelah beberapa ciuman hangat ia berikan di bibir Jaehwan, Taekwoon mengalihkan perhatiannya ke bagian bawah Jaehwan. Dengan tak sabar, Taekwoon meraup benda keras milik Jaehwan, membuat Jaehwan terkejut.
"A- ah! Taekwoon.. Nghh."
Jaehwan mulai mendesah-desah kenikmatan ketika Taekwoon mulai memainkan lidahnya dengan penis Jaehwan. Di tengah itu, tangan Taekwoon dengan ajaib dapat mencapai mulut Jaehwan. Melihat jemari-jemari jenjang milik Taekwoon ada di depannya, Jaehwan membuka mulutnya dan memasukkan tiga jari Taekwoon dan membasahinya dengan lidahnya.
Taekwoon tersenyum mengetahui Jaehwan dengan cepat merespon tanpa diperintah. Dengan itu, Taekwoon mengisap kencang penis Jaehwan, membuat laki-laki itu mendesah dengan kencang.
Taekwoon pun melepaskan mulutnya dari alat vital Jaehwan dan menarik tangannya keluar dari mulut Jaehwan. Jaehwan mulai membayangkan kalau setelah ini Taekwoon akan mulai melakukan stretching pada hole-nya.
Namun rupanya, dugaan Jaehwan sedikit meleset. Yang pertama menyentuh hole-nya bukan jemari Taekwoon. Melainkan sebuah benda lentur dan basah.
"Aaannngghh"
Desahan panjang dari Jaehwan muncul ketika Taekwoon menjilat hole Jaehwan.
"T- Taekw- ngaahh!"
Jaehwan sedikit terkejut ketika benda lentur itu masuk ke dalam hole-nya. Tanpa ragu Taekwoon langsung memaju-mundurkan lidahnya di dalam hole Jaehwan.
"Aahh.. Taek hnggh woon-ahh.."
Jaehwan hanya bisa terus mendesah sambil menyebut-nyebut nama Taekwoon.
Akhirnya Taekwoon mengeluarkan lidahnya dari hole Jaehwan yang masih sempit. Ia kemudian merayap hingga berhadapan dengan wajah Jaehwan.
"Taekwoon.. Hhh la-lakukan sekarang."
Taekwoon tersenyum sinis lagi. "Kurasa ada yang tidak sabar di sini." Ucapnya sebelum mengecup bibir Jaehwan dengan singkat. "Sabar, baby. Kita masih punya satu langkah lagi sebelum sampai ke inti."
"I- itu yang kumak- aah!"
Tanpa peringatan Taekwoon memasukkan satu jarinya ke dalam hole Jaehwan. Menggerakkan jari panjangnya keluar masuk hole Jaehwan.
"Nghh.. Cepat, Taek ahh.. Masukkan yang lain..."
Taekwoon mendengar permintaan Jaehwan. Ia kemudian memasukkan kedua jarinya yang lain sekaligus.
"Aaahhh.."
Taekwoon memainkan ketiga jarinya di dalam hole Jaehwan. Membuat Jaehwan kini mengerang kesakitan karena hole-nya sedang dilebarkan oleh Taekwoon. Taekwoon mengangkat wajahnya, menyadari beberapa air mata yang keluar dari mata Jaehwan. Ia tak tega melihat wajah Jaehwan yang terlihat tersiksa. Ia pun mencium Jaehwan, mencoba mengalihkan perhatian lelaki itu dengan permainan lidah mereka.
"Mnnnhh"
Sekarang Jaehwan sendiri tak tahu dari mana desahan itu berasal. Sampai akhirnya, jari Taekwoon menemukan sebuah titik di dalam hole Jaehwan. Titik kenikmatannya.
"Ah! Di sana, Taekwoon!"
"Got it."
Kemudian Taekwoon mulai menusuk-nusuk titik itu berkali-kali.
"Ah! Taekwoon nngh! Yes, there! Taekwoon, i need you now!"
"What do you need?" Tanya Taekwoon tak berhenti menusuk titik itu dengan jarinya.
"Ah! I need your dick inside me! Ah! Taek!"
"Beg."
"Taekwoon please! Ah! I need you inside me! Now! Aargh! Please, Taekwoon! Fuck me hard with your dick!"
Mendengar permohonan Jaehwan, Taekwoon langsung mengeluarkan jari-jarinya dari hole Jaehwan. Ia memposisikan dirinya di antar kaki Jaehwan. Kedua kaki Jaehwan ia angkat sampai pundaknya, untuk memudahkannya masuk.
"Siap?"
"Cepat, Taekwoon!"
"Shit!"
Taekwoon sendiri sudah tak sabar ingin merasakan hole Jaehwan. Dengan cepat ia masukkan penis nya ke dalam hole Jaehwan.
"Aahh! Taekwoon!"
"Jae- ahh.."
Taekwoon mendesah merasakan hole Jaehwan yang masih sempit itu makin mendesak penisnya. Taekwoon menatap Jaehwan yang ekspresi wajahnya terlihat sangat tidak nyaman. Dan air mata menuruni pipinya. Taekwoon mengecup air mata itu.
Taekwoon menunggu hingga Jaehwan tenang, membiarkan Jaehwan terbiasa dengan ukuran penis Taekwoon. Taekwoon mengecup bibir Jaehwan dengan lembut.
"Taekwoon. Mo- move."
Tanpa banyak kata lagi, Taekwoon mulai menggerakkan penisnya di dalam hole Jaehwan. Perlahan, ia memaju mundurkan pinggulnya, tak ingin menyakiti Jaehwan.
"Ahh. Taekwoonhh."
"Argh Jaehwan.. Sempit.."
"Kau yang mnnh terlalu besar aah!" Taekwoon mencoba menstabilkan kecepatannya gerak pinggulnya, sembari membawa Jaehwan kembali ke dalam ciuman yang panas. Mereka saling mendesah di dalam ciuman itu. Lidah mereka terus bertautan. Hingga Jaehwan akhirnya mengerang, "Arghhh Taek! Aku tak tahan! Move faster! Please ah!."
Taekwoon mengangguk mendengar permintaan Jaehwan. Ia lansung mempercepat gerakannya. Mengeluarkan hampir seluruh panjang penisnya, kemudian kembali menghantam hole Jaehwan dengan nafsu. Itu ia lakukan dengan kecapatan tinggi.
"Aangghh! Taekwoon! Ah! Yes, yes! Fa- faster aargh!"
"Shit. Still so tight!" Taekwoon menggeram di bahu Jaehwan. Kemudian ia jilati leher Jaehwan di sana, tak lupa meninggalkan kissmark.
"Mmnnhh yes, more! AH! THERE TAEKWOON!"
Taekwoon tersenyum mendapati kembali titik kenikmatan di hole Jaehwan. Tanpa merubah angle, Taekwoon terus menghantam titik itu. Membuat Jaehwan tak berhenti mendesah dengan kencang.
"Jaehwan ahh.. Shit, you feel so good ahh."
"Ahhh! Taekwoon! ngnnhh aku- ahh! tak tahan argh!" Ucap Jaehwan. Taekwoon tahu apa yang di maksud Jaehwan.
Taekwoon makin mempercepat gerakannya. Salah satu tangannya mulai menggenggam penis Jaehwan dan mengocoknya dengan cepat. Hingga akhirnya, Jaehwan mengeluarkan cairannya di tangan Taekwoon.
"Ngaaahh Taekwoon!"
"Jaehwan!"
Taekwoon, merasakan hole Jaehwan masih berkedut-kedut memijit penisnya, akhirnya mengeluarkan cairannya di dalam hole Jaehwan. Gerakan pinggulnya pun melemah. Ia kemudian mendongak dan meraup bibir Jaehwan dengan bibirnya, kembali memainkan lidahnya dengan Jaehwan.
Pinggulnya masih bergerak dengan lembut, membuat Jaehwan masih mengeluarkan desahan-desahan kecil. Sampai Taekwoon melepas ciumannya, sekaligus ia keluarkan penisnya dari hole Jaehwan. Keduanya saling tatap, dengan nafas yang masih terengah-engah.
Taekwoon akhirnya membaringkan tubuhnya di samping Jaehwan, lalu tersenyum pada laki-laki itu. Jaehwan membalas senyumannya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Taekwoon, tangannya mengelus pipi Jaehwan.
"Apa kau bercanda? Aku tak pernah merasa lebih baik dari ini." Jaehwan menjawab, sembari memeluk tubuh Taekwoon, menenggelamkan kepalanya di dada bidang milik kekasihnya itu.
"Lebih baik dari yang sebelumnya?"
"Saat aku masih dengan sosok perempuan?" Taekwoon mengangguk. "This is the best."
Keduanya tertawa. Salah satu tangan Taekwoon merayap memeluk pinggang Jaehwan, yang satu lagi ia gunakan untuk mengelus rambutnya. Setelah selesai tertawa, mereka terdiam. Merasakan kehangatan yang diberikan satu sama lain.
Tapi kemudian Jaehwan teringat sesuatu. Senyumannya hilang dari wajahnya.
"Taekwoon."
"Hm?"
"Bagaimana dengan dunia luar?"
"Apa maksudmu?" Tanya Taekwoon kebingungan.
Jaehwan melepas pelukannya, dan mengambil posisi duduk. Ia rapatkan lututnya di dadanya.
"A- aku sudah kembali ke tubuhku yang semula, sosok laki-laki. Tapi bagaimana dengan orang lain yang sebelumnya mengenalku sebagai sesosok wanita sempurna yang mereka puja-puja." Nada bicara Jaehwan lemah. Taekwoon tahu Jaehwan akan menangis.
Taekwoon ikut mengambil posisi duduk, kemudian memeluk Jaehwan dari belakang. Hanya itu yang bisa ia lakukan, sebelum merasakan tubuh Jaehwan bergetar. Jaehwan menangis.
"Jaehwan?"
"Bagaimana aku harus menghadapi orang-orang itu, Taekwoon? Aku harus bilang apa? Kalau aku ceritakan apa yang terjadi, mereka tak mungkin akan percaya." Jaehwan menangis makin kencang.
Taekwoon masih terdiam. Tak lama, ia teringat sesuatu. Ia pun mengecup pipi Jaehwan.
"Jaehwan, dengar." Taekwoon menarik Jaehwan hingga laki-laki itu menatapnya. "Kau ingat ceritamu tadi? Ketika kau ceritakan apa yang terjadi pada orang tuamu, mereka malah tertawa dan mengatakan bahwa kau memang terlahir sebagai wanita. Begitu, kan?"
"N- ne. Lalu?"
Taekwoon menghela nafas. "Apa aku harus benar-benar menjelaskannya?" Ia menatap Jaehwan yang masih menatapnya dengan bingung. He is stupid, yet so cute~ "Itu berarti, kemungkinan besar, mereka juga akan beranggapan bahwa kau memang terlahir sebagai laki-laki. Semua akan kembali normal, Jaehwan. Aku yakin. Tenang saja."
Taekwoon mengeratkan pelukannya.
"Benarkah?"
Taekwoon mengangguk. Lalu ia melirik jam di kamarnya. Pukul 8.30 malam. "Sekarang tidurlah sebentar. Pukul 10 nanti aku akan antar kau pulang. Okay?"
Jaehwan tersenyum, kemudian menghapus air matanya. Ia lalu mengangguk. "Okay."
Taekwoon tersenyum. Lalu keduanya kembali dalam posisi berbaring dan memeluk satu sama lain.
"Aku mencintaimu, Jaehwan." Taekwoon mencium bibir Jaehwan dengan lembut.
"Kau yakin? Dengan sosokku ini?" Taekwoon lelah berargumentasi tentang itu lagi. Ia pun hanya mengangguk. Senyuman Jaehwan makin lebar, sebelum memeluk tubuh Taekwoon lebih erat. Kepalanya kembali bersandar di dada Taekwoon. "Aku juga mencintaimu, Taekwoon."
END
afterword:
Ga tahu harus nulis apa. ini pertamanya bikin ff NC bahasa, so... yeah *Run away* ~~~~~~ (/~\)
Thanks for reading! Please review! Criticism are allowed as long as you guys are not rude! :3
