Hello! Butler?

Cast: Jeon Jungkook, Kim Taehyung and Others

Romance And Friendship

Rated T

Yaoi, Typo, Alur ga jelas

By: Park Chan Gyu

Cast milik Tuhan, Agensi dan orang tua mereka

Hanya cerita dari seorang butler yang bekerja di kediaman keluarga Kim yang terkenal kekejamannya.

Warning : mengandung unsur pembullyan, kekerasan dan perkataan tak pantas.

*Happy Reading*

.

.

.

.

Jungkook baru saja menyelesaikan acara memakai dasi berlambang SMA Bangtan. Saat ingin mengambil tas ranselnya, pintu kamar di ketuk dari luar, lelaki bersurai hitam langsung berlari dan membuka pintu.

"Pagi, Jeon." Sapa seseorang yang berseragam sama dengan Jungkook, lelaki yang di sapa hanya terdiam terpaku. Taehyung memberengut, lelaki di depannya ini sangat senang melamun, pikirnya.

"Kau sudah selesai? Cepat turun dan kita sarapan bersama." Setelah mengatakan itu si surai karamel berlalu menuju meja makan yang berada di lantai bawah. Jungkook hanya diam, tetapi ia kembali masuk kamarnya untuk mengambil tas ransel yang nampak sudah usang dan segera keluar kamar. Lelaki dengan tinggi 178 senti itu telah sampai di meja makan tempat Taehyung berada.

"Cepat duduk dan makan sarapanmu." Suruh lelaki berambut mangkuk yang tengah menggigit sandwich dan mengunyahnya perlahan.

Jungkook mengikuti perintah dan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan tuannya. Di hadapannya tersaji sepotong sandwidch, segelas susu dan segelas air mineral, matanya beralih ke hidangan milik sang tuan muda dan menu sarapan mereka sama.

"Kenapa? Kau tidak suka sandwich isi daging ya?" Tanya Taehyung saat melihat sang butler yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

"Kau mau sandwich isi sayur-sayuran atau keju?" Tanya lelaki Kim lagi karna tak mendapat jawaban, namun kali ini ia mendapat jawaban, ya walau hanya sebuah gelengan dan reaksi sang butler yang segera memakan sarapannya dengan sangat lahap, membuat lelaki di depannya tersenyum senang. Tangannya meraih gelas susu dan menenggaknya sampai habis, matanya tak beralih dari butler barunya.

Acara sarapan mereka akhirnya selesai dengan Jungkook yang menghabiskan susu miliknya. Onyxnya beralih ke punggung sang Tuan muda yang kini berjalan keluar rumah dengan ransel menggantung di bahu kanan. Baru saja Jungkook melangkahkan kakinya, namun seseorang menghalanginya dengan sebuah tas bekal menggantung di tangan itu. Lelaki bersurai hitam hanya diam ketika melihat sosok yang memberikannya tas bekal yang ternyata adalah sang butler senior.

"Ambilah, bibi Yoon sudah susah payah membuatkan bekal untukmu." Ucap Leeteuk sembari tersenyum tipis, lelaki Jeon nampak terkejut dengan apa yang di dengarnya, ia pikir bekal itu untuk sang tuan tapi ternyata untuknya?. Dengan ragu, Jungkook menerima tas bekal itu dan membungkuk berterima kasih, setelahnya ia menyusul sang tuan yang sudah berdiri di depan mobil, menunggunya.

Si surai karamel segera memasuki mobil saat sudah melihat si surai hitam keluar menyusulnya. Jungkook hanya mengikuti perintah tuannya yang menyuruh untuk masuk mobil dan duduk di sebelahnya, persis saat mereka makan malam kemarin. Mobil segera melaju menuju sekolah yang jaraknya hanya 5 km dari rumah kediaman Kim. Jika Jungkook masih di kediaman tuannya terdahulu, mungkin dia sedang berjalan kaki ke sekolah, mengingat dia harus berhemat.

.

O

.

Mobil BMW itu berhenti tepat di depan gerbang Bangtan High School. Helaan napas keluar dari belahan bibir semerah delima milik lelaki bermarga Jeon, Taehyung meliriknya dan mengernyit tapi tanpa mau pikir macam-macam, dia membuka pintu mobil dan keluar yang di ikuti Jungkook.

"Ahjussi, hari ini tidak perlu menunggu ya, langsung jemput saja." Ujar Taehyung yang di angguki oleh seorang pria yang menjabat menjadi supir pribadi Kim Taehyung.

Jungkook berjalan terlebih dahulu karna tuannya yang menyuruh, sedangkan Taehyung berjalan di belakangnya, memperhatikan punggung tegap nan berisi yang di tutupi ransel usang, semakin kebawah mata oranye itu melihat sepatu yang di kenakan lelaki di depannya juga nampak sudah rusak. Bibir sewarna cherry itu berdecak lalu mengambil ponsel di saku celananya, menekan tombol yang di hafalnya lalu menelpon.

"Berikan aku tas sekolah model terbaru untuk laki-laki, yang terbaik, termahal, dan juga sepatu ukuran..." Taehyung berpikir tentang ukuran sepatu milik butlernya. Kemungkinan ukuran kaki itu tak sama dengan ukuran kakinya.

"Ukuran 42, berikan aku ukuran 42. Kau taukan? Sepatu bermerk dan terbaik. Kirimkan hari ini juga di rumahku." Ujarnya langsung mematikan telepon sepihak tanpa menunggu jawaban dari pihak yang di telponnya. Setelahnya ia kembali memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku celana.

Kelas keduanya berbeda, jika Jungkook berada di kelas 2-C, maka Taehyung berada di kelas 2-F. Kelas yang terkenal akan siswinya yang jago bergosip, siswa yang jago membuat onar, intinya kelas F berada di ujung dan kelas yang buruk.

Langkah lelaki bermarga Kim terhenti saat dia tepat berdiri di samping jendela berkaca bening yang terpasang di kelas 2-C. Kepalanya menoleh, memandangi murid-murid yang sedang mengerumuni sesuatu yang entah apa itu Taehyung tak pernah peduli. Namun, ringisan dari suara yang dikenalnya membuatnya penasaran.

"Kemana saja kau selama ini? Hewan peliharaan tak seharusnya lari dari majikannya kan?" Ucap remeh seseorang bergaya rambut bob panjang yang sisi kanan dan kirinya di cukur habis. Lelaki dengan pakaian sedikit kusam di depannya hanya menunduk takut.

"Kau tau? Selama 2 minggu ini kami kesulitan." Ucap sosok lain berambut pirang dengan poni berbentuk segitiga, dirinya menyalahkan seseorang di hadapannya yang telah menghilang selama 2 minggu. Yang di ajak bicara hanya diam dan terus menunduk, pipinya di tepuk kasar oleh si rambut bob.

"Jika Jongin tau kau sudah kembali, tamat riwayatmu." Desis lelaki bermarga Moon tersebut mengeluarkan senyum mengerikan. Di sela-sela menunduknya, lelaki Jeon melebarkan matanya ketika telinganya menangkap nama yang sangat ia hindari selama 2 minggu ini.

Taehyung hanya memandang datar orang-orang di dalam kelas itu dari balik jendela, lalu ia melangkahkan kaki menuju kelasnya yang berada di ujung. Bola matanya memutar bosan melihat seisi kelas yang sedang sibuk bergosip, dengan acuh ia melangkahkan kaki kurus itu menuju bangkunya. Baru saja mendudukkan diri di kursi, matanya melirik sesuatu yang sangat mencolok.

"Hei." Panggil pemuda Kim itu pada sosok berambut merah yang menjadi teman sebangkunya. Sosok itu menegakkan tubuhnya, dan memandang bosan ke arah si pemanggil.

"Kau mengecat rambutmu?" Tanya si surai karamel, raut wajah bosan itu berubah menjadi semangat dan mengangguk mengiyakan.

"Bagaimana? Bagus kan? Sekarang sedang menjadi trend." Ujar si surai merah mengacak rambutnya agar terlihat semakin keren. Mata sewarna senja tersebut menatap datar kelakuan teman karibnya.

"Kau tak takut di curigai sebagai blood hair?" Tanya Taehyung acuh, si surai merah hanya mengedikkan bahunya tak peduli.

"Karna blood hair lah, salon menjadi ramai, banyak yang mengecat rambut mereka sewarna dengan si blood hair." Jelas Jimin kembali mengacak rambutnya yang membuat Taehyung risih.

"Dan kau juga, mengecat rambutmu seperti permen karamel." Lelaki Kim itu mengerjapkan mata kucingnya dan segera menyentuh rambut yang kemarin lusa baru dia cat.

"Tidak cocok kau tau, kau lebih pantas dengan rambut oranyemu, terlebih matamu yang seperti langit senja." Tambah Jimin yang membuat Taehyung geram, baru ingin melontarkan pendapatnya, telinganya menangkap sesuatu yang sedang di bicarakan oleh si ratu gosip.

"Kalian tau, Jeon Jungkook? Si budak sekolah?" Tanya sang ratu gosip pada seisi kelas. Semua mengangguk, mengetahui siapa yang di tanyakan oleh ratu gosip.

"Dia sudah kembali! Budak kita telah kembali. Apa perlu kita memberitahu Jongin Sunbae?" Ujar sang ratu gosip yang ternyata adalah Sana. Gadis itu menunjukkan smirknya, seseorang berambut karamel yang duduk di meja paling ujung mengernyit. Tak paham dengan apa yang di bicarakan oleh gadis gila yang menyebut dirinya ratu gosip.

"Jeon Jungkook adalah butler pribadi yang juga butler di sekolah." Tanpa ada yang bertanya, Jimin menyodorkan diri untuk memberitahu siapa itu Jeon Jungkook kepada sahabatnya. Taehyung hanya diam, terlalu malas menanggapi.

"Makanya, kalau jam istirahat jangan tutup mata." Omel Jimin yang di sambut dengan tatapan tajam.

"Hanya jam istirahat aku bisa tidur." Gerutu Taehyung tak terima. Jimin hanya mendumal tanpa suara, merutuki sikap tak mau kalah si makhluk Kim.

Bel masuk pun berbunyi, semua yang di kelas segera menduduki bangkunya dan menunggu guru mereka masuk.

oOo

Dan bel istirahat berbunyi, Taehyung yang biasanya akan langsung menidurkan diri di kelas terpaksa harus mengikuti ajakan sahabat pendeknya untuk ke kantin.

"Hoho, lihatlah budak kita ini. Dia membawa bekal." Ejek Jongup saat melihat sang budak mengeluarkan sekotak bekal dari tas. Semua yang melihat tertawa mengejek.

"Apa majikanmu yang sekarang memberikanmu makanan yang layak?" Tanya Seungcheol yang terdengah merendahkannya. Seseorang yang di sebut budak sekolah hanya diam, membuat seseorang yang memeiliki kedudukan di sana geram dan membuang isi bekal di lantai lalu menginjaknya. Jungkook hanya diam melihat makanan yang ada di bekal itu kini berceceran di lantai.

"Apa yang kau tunggu? Bukankah kau terbiasa makan seperti ini?" Kata-kata itu bagaikan perintah baginya, segera ia berlutut dan memunguti makanan itu. Semua yang di dalam kelas tertawa mengejek, dengan sengaja sepatu milik lelaki Moon menginjak sepotong ayam yang hendak diambilnya. Kepalanya mendongak, onyxnya memandang langsung mata miliki lelaki dengan rambut bob tersebut.

"Makan." Titah Jongup tak terbantahkan, tak ingin mendapat siksaan, Jungkook mengambil ayam yang telah di injak lelaki itu dan memakannya. Semua memandang jijik, tetapi dalam pikiran pemuda Jeon, dia telah biasa ya terlalu biasa bahkan memakan makanan basipun sudah terlalu biasa baginya. Di anggap budak, sampah, makhluk menjijikkan, kata-kata itu sudah terlalu biasa baginya, jadi ia tak mempermasalahkannya saat ini, makan yang baru di injak? Haah.. ia berusaha menikmati makanannya.

"Bukankah terlihat menyedihkan?" Ujar Jimin memandangi orang yang berlutut sembari memakan makanan yang telah terinjak-injak. Yang di ajak berbicara hanya diam, memandang datar pemandangan di balik kaca itu. Lalu tangan kurusnya menarik lengan pucat sang sahabat menuju kantin.

Sesampainya di kantin, keadaan kantin tak kalah dengan yang ada di kelas 2-C, hanya saja ini terlihat lebih manusiawi. Jimin mengajak Taehyung untuk duduk di bangku yang sudah terisi. Jimin menyapa kedua orang siswa yang tengah berbincang, setelah di jawab sapaannya, Jimin maupun Taehyung langsung duduk di kursi yang kosong.

"Kau mau pesan apa?" Tanya Jimin yang hendak ke pantry untuk memesan makanan. Yang di tanya hanya diam dan menelungkupkan wajahnya kedalam lipatan kedua tangannya, membuat pemuda bermarga Park berdecak kesal dan langsung menuju pantry. Sayup-sayup, si surai karamel mendengar perbincangan dari beberapa murid yang ada di belakangnya.

"Si budak telah kembali."

"Ya, tontonan seru kita telah kembali."

"Kalau Jongin Sunbae tau, tamat. Haha."

"Ah, aku tak sabar melihat wajah itu di hajar habis-habisan oleh Jongin Sunbae."

Merasa terganggu, Taehyung menegakkan tubuhnya dan menoleh kebelakang. Dimana terdapat 4 siswa yang sedang menikmati makanannya sambil berbincang, mulut itu terbuka ingin mengeluarkan kata-kata tajam sebelum ada mulut lain yang sudah bersuara.

"Kalian diamlah, kalau mau bergosip sana pergi ke kelas F dan temui sang ratu gosip." Ujar seseorang yang ternyata semeja dengannya. Rambut milik orang itu berwarna hijau toska, begitu mencolok dan nyentrik. Sontak keempat siswa itu terdiam, mencoba fokus dengan makanan masing-masing.

Lelaki bersurai merah datangan dengan nampan berisikan dua mangkuk ramyun dan dua gelas jus jeruk. Semangkuk ramyun tersaji di depan Taehyung, menghantarkan wangi khas mie yang selalu menggugah selera. Jimin maupun Taehyung segera mengambil sumpit dan memakan ramyun dengan lahap.

"Jongin masih mencarinya?" Bisik seorang lelaki yang duduk berhadapan dengan si surai hijau toska, yang di tanya hanya mengedikkan bahunya dan sibuk mengunyah kimbabnya.

"Kalian membicarakan Jungkook?" Sambar Jimin, sontak membuat kedua orang itu mengalihkan pandangannya ke arah si surai merah.

"Siapa lagi, Kau mau kita membicarakan Yoongi?" Jawab si surai coklat, bibir tipis itu mencebik dan tangan yang sedang memegang sumpit di arahkan tepat di wajah pemilik nama Jung Hoseok tersebut dengan geram.

"Berani kau membicarakan Yoongi, ku hajar kau hyung." Ancam lelaki berkulit pucat tersebut, semua yang disana memutar bola mata malas.

"Oh ya, bagaimana dengan Yoongi?" Tanya lelaki bersurai hijau toska basa basi, Jimin yang sedang menyumpit mie hanya bergumam 'dia baik-baik saja' sebelum mie itu masuk kedalam mulut lebarnya.

"Bukankah dia berkuliah dengan Seokjin?" Tanya Hoseok sedikit tertarik dengan kehidupan kedua butler itu. Taehyung yang tak terlalu paham hanya mendengarkan dan terus menikmati ramyunnya sampai ada kegaduhan mengganggu obrolan mereka.

"Kau! sialan, brengsek!" Maki seseorang yang tanpa di lihatpun sudah bisa ditebak siapa, tentu saja Moon Jongup, preman sekolah dan anak pemegang saham di Bangtan High School. Lelaki bersurai hitam hanya menunduk meminta maaf akan kesalahannya yang tanpa sengaja tersandung dan menjatuhkan makanan milik lelaki bermata sipit itu.

Jungkook hanya diam saat kaki-kaki itu mulai menendangi sekujur tubuhnya, dia sudah biasa seperti ini. Dan itu menjadi tontontan terbaik yang di dapat murid lain yang ada di kantin.

"Lihatlah, tanpa Jongin pun mereka dengan senang hati menghajar seorang budak." Ujar Hoseok melipat tangannya di dada, matanya menatap lurus ke arah seseorang yang sedang di hajar. Iris oranye itu melirik ke arah lelaki bermarga Jung dan kembali menatap datar orang sedang di kerumuni.

"Haah, aku penasaran siapa yang menjadi tuan barunya." Gumam Jimin.

"Aku lebih penasaran dengan apa yang di lakukannya selama dua minggu yang lalu." Ucap Namjoon bermaksud menyindir si surai merah, Jimin langsung menatap garang hyung sekaligus sunbaenya.

"Tutup mulutmu hyung." Suruh Jimin menyipitkan matanya, tak senang kalau dia harus membicarakan apa yang sudah terjadi dengan si Jeon. Namun,ada tatapan lain, tatapan menuntut, tajam, dan tak terelakkan yang mengarah ke Jimin. Kepala itu menoleh ke samping, ternyata sang sahabat yang memberikan tatapan itu padanya, dengan senyuman lebar Jimin mengalah.

"Selama dua minggu terakhir dia ada di rumahku dirawat oleh Yoongi, kalian kan tau persaudaraan antara butler maupun maid itu sangat kuat." Jelas Jimin, bahkan lelaki itu sampai mengaitkan kedua telunjuknya untuk memberitahu seberapa kuat hubungan antar butler dan maid.

"Jadi, saat Jungkook memilih untuk keluar dari kediaman Kim. Yoongi menerimanya dan memohon padaku untuk merawat anak itu sampai dia menemukan majikan barunya. Begitu." Tambah Jimin yang di angguki kedua orang, kecuali Taehyung. Telinganya memang mendengarkan penjelasan Jimin, namun mata kucingnya tak henti memandang sosok yang kini terbaring menahan sakit.

.

.

.

.

"Keluarga Butler?" Yang di tanya mengangguk. Wanita bersurai perak melepaskan kacamata bacanya dan sedikit membanting berkas yang di terimanya dari orang suruhan di depannya.

"Ayahnya adalah butler yang mengabdi di keluarga Park. Sedangkan sang ibu adalah maid yang mengabdi di keluarga Lee." Jelas pria bertubuh tegap menjelaskan apa yang ingin di ketahui nona mudanya. Tubuh langsing itu di sandarkan ke kursi besar yang dia duduki. Matanya terpejam, sedikit pening saat mendengar tentang kehidupan yang butler barunya.

"Tuan Jeon, dia di pancung oleh tuannya. Dan Nyonya Jeon di gantung oleh majikan. Semua yang di lakukan oleh tuan mereka hanya untuk kesenangan." Tambah pria berwajah asia bernama Hangeng, menambah pening di kepala sang wanita.

"Cari tau lebih dalam seluk beluk keluarganya dan dia. Laporkan padaku secepatnya." Titah wanita itu keluar dari ruangan sembari membawa berkas yang tadi di berikan pada pesuruhnya, Hangeng menunduk patuh akan perintah.

.

.

.

.

Senja telah berganti malam, Jungkook yang baru saja mengerjakan tugasnya harus sedikit terganggu dengan ketukan dari pintunya. Dengan tergesa, lelaki bermata bulat itu membuka pintu, lalu yang di dapatinya adalah sosok berambut mangkuk, memakai baju tidur, tangan yang memeluk beberapa buku dan memasang wajah layaknya anak kucing yang minta di pungut.

"Hello Jeon, apa kau sibuk?" Tanya sang tuan masih memasang wajah menggemaskan. Jungkook yang melihat itu menggeleng, meski dia sibuk mengerjakan tugas sekolah, tapi dia harus mengutamakan tuannya.

"Benarkah? Kalau begitu mau mengajariku? Aku sangat buruk dalam menghitung." Ujar Taehyung dengan nada memohon dan sekali lagi memasang wajah yang teramat menggemaskan. Jungkook tanpa pikir panjang segera mengiyakan dan tubuh kurus itu melesak masuk ke kamar milik butlernya. Mata oranyenya berpendar dan memberengut saat mendapati meja belajar di kamar itu di penuhi buku.

"Kau sibuk, dan kau mengatakan kau tidak sibuk? Kau berani membohongi majikanmu?" Cecar Taehyung menatap tajam butler yang berdiri tak jauh darinya. Sang butler meneguk air liurnya dengan susah payah. Apakah ini akan sama seperti tuannya yang sebelum-sebelumnya? Pikirnya kalut.

Tuan muda Kim mendudukkan dirinya di kasur king size milik butlernya dan masih memeluk buku-buku yang sangat di bencinya. Kalau bukan ucapan sang kakak yang mengatakan kalau tugas sekolahnya tak di kerjakan dan mendapat surat teguran 'lagi', maka dia akan di asingkan di keluarga kim yang berada di Daegu. Ugh,Taehyung sangat menghindari keluarga Kim yang berada di Daegu.

"Aku bisa menyelesaikannya nanti." Ujar Jungkook dengan tenang dan menghampiri tuannya yang duduk di ranjangnya. Dengan lembut, tangannya mengambil buku-buku yang masih di dekap sang tuan. Taehyung terkejut dengan apa yang di lakukan sang butler, entah suhu ruangan yang panas atau memang pipinya yang terasa menghangat? Entahlah,biarkan Taehyung mencari jawabannya sendiri.

"Bagian mana yang harus aku ajarkan tuan?" Tanya Jungkook sembari membuka buku tebal milik tuannya. Yang di tanya hanya mengerjapkan matanya. Setelah sadar dengan kelakuan anehnya, lelaki Tan itu mengambil alih buku miliknya dan membuka halaman dimana banyak soal yang tak bisa dia selesaikan.

"Ini." Telunjuk Taehyung memutari lembaran itu. Jungkok mengamati dengan seksama soal-soal yang di tujukan oleh majikan.

"Soal mana saja yang tak bisa tuan temukan jawabannya?" Tanya Jungkook lagi.

"Semuanya." Jawab Taehyung memasang wajah super polosnya. Jungkook ingin tertawa melihatnya, namun karna takut menyinggung sang tuan akhirnya dengan sabar Jungkook mengajari Tuan muda Kim dengan telaten.

Selesainya mengajar dan membantu tuannya mengerjakan tugas sekolah, kini giliran Jungkook yang menyelesaikan tugasnya sendiri. Bibir itu mengerang tatkala tubuhnya ia renggangkan setelah merampungkan tugasnya. Baru saja selesai merapihkan buku dan berniat untuk tidur, namun ia di kejutkan dengan sosok tuan yang tengah meringkuk di ranjang miliknya sambil menggigit ibu jari.

Jungkook menghampiri sang tuan yang terlihat nyaman dengan tidurnya. Lelaki bersurai hitam itu berjongkok, memandangi keindahan Tuhan yang terdapat di wajah sang tuan. Kepalanya menggeleng, lalu kembali ke kursi belajarnya, menyandarkan kepalanya di meja belajar dan memilih tidur di sana.

.

.

.

.

TBC

A/N: sebenernya aku juga bingung, ini kookv/vkook. Coba kasih saran, kookv/vkook? Kalo Aku sih maunya kookv *dihajarmasa/? Dan makasih ya yg udah nyempetin review, fav dan follow. Haha aku seneng

Jangan lupa vote dan reviewnya ya^^