"C-Chan-yeol, apa yang k-kau lakukan.." tubuh baekhyun semakin menggelinjang seiring menyempitnya jarak antara jemari besar dan kasar chanyeol dengan puting baekhyun,
"Chanyeol, Baekhyun, Apa kalian mau ku bawakan makanannya keatas?"
Keduanya langsung kembali ke posisi semula dengan baekhyun yang duduk di kursi, sedangkan chanyeol menyenderkan pinggangnya ke meja belajar baekhyun. Langkah kaki dari luar semakin terdengar mendekat sampai akhirnya pintu itu terbuka, "kalian harus makan." "tapi-" chanyeol langsung mencubit bibir baekhyun yang ingin mengatakan bahwa mereka sudah makan. "Baik, eomma" sahutnya sambil mengambil makanan dan minuman yang telah ditata rapi diatas nampan. Sedekat itulah Chanyeol dengan keluarga Baekhyun, ibunya terlihat menerima hubungan mereka. "Makan yang banyak ya," ucap ibunda baekhyun sebelum meninggalkan kedua pelajar yang konon sedang sibuk belajar.
Baekhyun menghela nafas, wajahnya masih sama merahnya dengan saat tangan Chanyeol menggerayangi tubuhnya. Atmosfer canggung kini mengitari kedua lelaki itu, namun tangan besar Chanyeol memecah suasana dengan merapikan rambut peach Baekhyun, "Apa kau kaget?". Kedua orbs coklat gelap milik Baekhyun menangkap orbs milik Chanyeol, ia mengangguk pelan. "maaf.. harusnya aku tanya dulu..". Baekhyun tersenyum dan tertawa kecil, ia lalu meraih telinga Chanyeol dan menariknya. "H-Hey! aduh!". "Monyet nakal.." celetuk Baekhyun, "Apa yang coba kau lakukan tadi, hah?" tanyanya dengan nada yang konon katanya marah. "T-Tidak, tadi kukira pulpenku jatuh kedalam bajumu.." jawab Chanyeol dengan cukup lancar. "pulpen?" Baekhyun lalu meraba kedalam bajunya dan menemukan sebuah pulpen. Tunggu, sejak kapan itu ada disana?
- Good but Bad -
"Ayolah, baek, sekali saja" pinta Luhan lengkap dengan puppy eyes nya. "Tidak, Lu, ini satu-satunya kesempatanku untuk tidur dengan cukup.. Chanyeol baru saja pulang, dan aku lelah.." bibirnya kini mengerucut. "Kumohon.." Luhan kembali memelas, kedua telapak tangannya ia gosok-gosokan di depan dadanya, "aku akan mendandanimu". Iman baekhyun tergoda saat sahabatnya menawarkan untuk mendandaninya. Ia pernah sekali menggunakan eyeliner dan matanya terlihat lebih besar dan bagus. Kapan ia mendapat kesempatan memakai celak di matanya lagi? Ibunya saja tidak membiarkan ia membeli make up. "Baek?". Pria mungil berambut pink itu mengerang, "Baiklah"
Hal selanjutnya yang ia ketahui, wajahnya telah dilapisi bedak dengan tipis, sedikit blush on pink pada pipinya, eyeshadow dan eyeliner yang cukup tebal melingkari kedua matanya. Baekhyun benar-benar terlihat seperti KingKa (킹카 - hot guy).
"H-Haruskah aku mengenakan ini? bukankah ini berlebihan? apa yang akan kita lakukan disana? Kenapa kau tidak pergi bersama Sehun saja!?" jiwa bawel Baekhyun mulai menampakkan dirinya lagi. Kurang nyaman baginya untuk mengenakan tanktop merah dangan luaran hitam yang seperti jaring dan skinny jeans yang robek pada bagian lutut. "Diamlah! Kita sudah sampai". Baekhyun segera merutuki dirinya yang menuruti ajakan Luhan. Matanya kini menatap ruangan disekelilingnya, sorot lampu warna-warni sedikit mengganggu rasa penasarannya. "Baek, bersenang-senanglah! kami akan ada di ruangan itu! Jangan lupa mengetuk pintu!" Luhan mengatakannya dengan lantang, suaranya menembus dentuman keras musik yang sedaritadi menggedor-gedor gendang telinga baekhyun tanpa ampun. Sebuah lengan yang cukup kekar melingkar di pinggang mungil Luhan dan sudah pasti lengan itu milik Sehun. "menyebalkan.." Baekhyun menggerutu dan melangkahkan kakinya kearah bar, mungkin ia bisa mencoba minuman beralkohol lain selain soju. Ia duduk di salah satu kursi sambil melihat-lihat orang yang ada disekitarnya, barangkali ada yang ia kenal dan bisa diajak ngobrol. "hai, manis? kau sendirian?" tanya seorang bartender yang bisa dibilang cukup tampan walau tubuhnya agak pendek, senyumannya juga mempesona. "B-Begitulah.." Baekhyun tersenyum sedikit. "Dimana pacarmu?". "..Ia bukan tipe yang menyukai tempat-tempat seperti ini.. Aku juga datang karena temanku memaksa," curah Baekhyun. "Benarkah? kurasa semua lelaki menyukai tempat semacam ini. Lalu, bolehkan kau ku traktir minuman malam ini?" tanya bertender itu dengan pandangan yang agak menggoda. "tentu, tapi bisakah kau memberiku minuman dengan alkohol ringan saja? Aku ragu temanku masih ingat denganku setelah kencannya..". Baekhyun sungguh terlihat seperti anak anjing yang tersesat, hanya saja kau tidak bisa seenaknya membawanya pulang. "Baiklah, ini dia," bartender itu tertawa renyah mendengar perkataan Baekhyun, ia lalu menyuguhkan satu gelas kecil minuman hasil racikannya. "Terimakasih.. Aku harus memanggilmu apa?" Baekhyun menggenggam gelas kecil itu dan menyicipi cairan di dalamnya. "Panggil aku sayang". Baekhyun lalu tersedak, namun tidak cukup keras untuk mengeluarkan minuman itu dari hidungnya, "A-Apa?". "Suho. Panggil aku Suho," bartender itu kembali tertawa saat melihat pipi Baekhyun yang bersemu, terlihat begitu jelas walau dengan penerangan di dalam klub yang remang-remang. "S-Suho.." Baekhyun mengecap nama asing itu di lidahnya sebelum sang pemilik nama pergi sejenak untuk melayani pelanggan lainnya.
- Good but Bad -
Mata kecil baekhyun menangkap sosok familiar, namun bukan Luhan atau Sehun. Aura dan ketampanannya tidak terbantahkan lagi. Pria itu mirip dengan kekasihnya, Chanyeol, hanya saja style mereka jauh berbeda. Chanyeol-nya menyukai hal-hal rapi, baju yang terkancing sampai ia terlihat tercekik, rambut yang rapi mengikuti pusaran di kepalanya, sepatunya yang selalu mengkilap dan semuanya serba tertata, sedangkan lelaki yang ini, ia terlihat seperti orang yang senang tebar pesona, lihat saja gaya jalannya yang kelewat percaya diri, rambutnya bergaya acak-acakan tanpa poni, bajunya, ya ampun, apa ia menemukannya di tempat sampah? ada banyak lubang kecil disana meskipun ia menutupinya dengan jaket kulit, jeans nya ketat dengan sedikit aksen sobek namun tidak memperlihatkan kulit.
Jadi orang itu nyata atau baekhyun terlalu tenggelam dalam kesendiriannya dan membayangkan bahwa kekasihnya ada di sini dan berdandan ala bad boy?
Itu tidak mungkin Chanyeol nya. Chanyeol nya tidak mungkin membiarkan orang lain menggerayangi tubuhnya seperti itu. Chanyeol nya tidak akan membiarkan lidah-lidah orang asing itu membelai leher dan jakunnya. Chanyeol nya tidak akan membiarkan orang lain duduk di pangkuannya.
"Rupanya kau sudah menemukan target mu, ya.." suara Suho sang bertender membuyarkan konsentrasinya, ia mengalihkan pandangannya ke lelaki pendek itu. "Hah? a-apa yang.. Tidak.. Aku kira aku kenal dia, mungkin aku salah lihat," jawab Baekhyun yang lalu meneguk minumannya kembali, atau mungkin aku terlalu banyak minum..
Kau bergurau? Baekhyun bahkan belum menghabiskan setengah dari minumannya.
Ia lalu kembali melihat kearah orang tadi dan ternyata ia sudah kehilangan jejak. Setidaknya itu membuatnya yakin kalau semua yang ia lihat hanya khayalan belaka, seperti yang Chanyeol katakan, 'Baekhyun si tukang khayal'
- Good but Bad -
Sang mentari naik ke peraduannya, sinarnya yang menyilaukan menyapa baekhyun dengan terpaan di wajahnya dan mendapat leguhan kekesalan dari sang pemilik, "nngh.." ia mengerang dan memutar tubuhnya untuk menghidari sinar itu,
"Byun Baekhyun, ayo turun dan makan sarapanmu!"
suara sang ibunda menggelegar dari bawah tangga sampai membuat Baekhyun menyerah untuk memperjuangkan hak asasi tidurnya. Kaki kecilnya terseok-seok kearah kamar mandi, ia lalu mencuci wajahnya sebelum turun untuk bergabung dengan Appa, Eomma dan kakak laki-laki nya yang tengah menunggu kehadiran anak terakhirnya di meja makan. "Darimana saja kau tadi malam? Aku lihat kau mengenakan riasan, apa kau sudah terkenal sekarang?" tanya Baekbom, kakak Baekhyun. Wajah mereka hampir sama, hanya saja bentuk wajah Baekbom sedikit lebih panjang dan tegas, juga terlihat lebih manly dibandingkan adiknya. "Tanyakan semua itu pada Luhan.. dialah penyebabnya.." sahut Baekhyun dengan malas. Matanya baru saja terbuka dan ia langsung dihujam oleh pertanyaan-pertanyaan Baekbom. Eommanya tersenyum, "Biarkan adikmu menikmati kehidupannya, lagipula ia jarang2 keluar malam, nilainya juga semakin meningkat sejak ia berhubungan dengan Chanyeol," bela nyonya Byun, membangkitkan senyuman anak terakhirnya yang sekarang dengan semangat mengambil beberapa lauk yang telah ia masak dan memakannya.
"Oh iya, tadi Chanyeol menelpon, katanya ia tidak pergi ke sekolah hari ini, ia tidak enak badan.."
Baekhyun mengrenyitkan dahinya. aneh, Chanyeol bukan tipe orang yang mudah sakit..
"Benarkah? apa itu karena aku membuatnya pulang terlalu larut.."
.
.
.
.
TBC
