⨹Yellow Moon⨻
By InachisIO
.
.
.
.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
Pairing : MadaHina…
Warning : crack pairing, sedikit OOC, AU, maybe Typo, dll…
Chapter ini spesial saya persembahkan untuk Nohiru Hikari, Fayiyong, Guest, dan Berlian Cahyadi yang telah memberi saya banyak semangat untuk melanjutkan fic ini dan untuk penggemar MadaHina.
Summary :
Bagaimana jika semua hal yang kau miliki
dan banggakan selama ini hanyalah kesemuan belaka?
Kesemuan yang menutupi siapa dan seperti apa dirimu yang sebenarnya.
Bagaimana jika dirimu yang sebenarnya adalah makhluk terkutuk yang haus darah?
Makhluk yang menurutmu begitu buruk sampai kau muak pada dirimu sendiri.
Bagaimana jika klan yang selama ini kau banggakan, ternyata tak lebih dari orang buangan?
Dan bagaimana jika orang yang sebenarnya kau cintai sepenuh hatimu,
lebih memilih menjauh darimu?
Akankah kau merelakannya?
Bagaimana jika kau adalah mimpi buruk yang selama selalu ingin ia jauhi?
Dan sekali lagi, hal itu karena siapa dan seperti apa dirimu yang sebenarnya.
Dan yang paling penting dari semuanya,
Apakah yang akan kau lakukan? Akankah kau bertahan dan diam saja?
Menyerah? Tidak kau tak akan menyerah. Tak akan pernah…
Karena kau adalah seorang Uchiha, dan Uchiha selalu mendapatkan apa yang ia mau dan dia tak akan pernah yang bisa lari darimu…
KARENA DIA ADALAH MILIKMU…
Chapter 2
Free to Become Trapped Again
Everyday, Every night… I'm thinking of the words…
That I want to tell your heart right away…
Everyday, Every night with an ordinary signal…
I want to tell you about the feeling I still can't handle…
—Yellow Moon (Akeboshi)—
.
.
.
Keadaan malam yang hampir larut tak begitu mempengaruhi keadaan jalan yang agak basah setelah diguyur hujan beberapa jam yang lalu. Jalanan lebar yang dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan bermotor itu tetap ramai seperti biasanya. Pejalan kaki masih banyak yang berlalu-lalang kesana-kemari. Para pemilik toko di pinggir-pinggir jalan juga masih setia untuk tidak menutup kedai mereka. Keramaian ini seolah-olah menegaskan bahwa Tokyo adalah kota yang tak ada matinya. Entah itu saat sunlight yang bersinar, ataukah moonlight, Tokyo tak akan berhenti beraktifitas.
Kerlap-kerlip lampu jalan begitu indah bila dilihat dari dalam mobil yang sedang melaju kencang, seperti kumpulan kunang-kunang yang sekarang semakin sulit dijumpai. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Hinata saat ini. Raut wajahnya yang manis memancarkan kebahagiaan yang begitu jelas terlihat—walau segala yang terjadi saat makan malam tadi sangat tak sesuai yang ia harapkan. Setelah menjadi tamu VVIP di sebuah restoran western terkenal, Madara memberi usul agar mereka segera kembali ke Uchiha Mansion. Jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas lebih. Sebenarnya Hinata ingin menghirup udara di luar Uchiha Mansion lebih lama lagi, tapi apa boleh buat.
Tak banyak yang terjadi selama makan malam. Suasana restoran yang sengaja di dekorasi agar terlihat romantis, terasa sia-sia. Baik Hinata maupun Madara tak ada yang mau buka mulut. Mereka menikmati masakan yang dihidangkan dalam suasana yang senyap.
Satu-satunya kalimat yang diucapkan Madara pada saat dinner malam itu adalah 'Apa kau suka?' Tiga kata yang terasa hambar tanpa ada perasaan dibaliknya—yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Hinata. Boleh dibilang dinner malam itu tak terasa seperti kencan romantis yang ada dalam dorama, film atau novel-novel yang pernah Hinata tonton maupun baca.
Menatap nanar makanan lezat di piringnya, Hinata menghela nafas sambil sesekali mencuri pandang kearah Madara yang sedang memotong daging steak-nya. Seharusnya ia tak kaget dengan semua ini, bukankah Madara selalu bersikap seperti ini. Bukankah sebelum berangkat ke tempat ini pun Hinata sudah mewanti-wanti dirinya sendiri agar tak terlalu berharap. Ada apa denganmu, lagipula apa yang kau harapkan? Hinata merutuki dirinya sendiri. Bukan hanya sekali ini ia memperingatkan dirinya sendiri agar tak terlalu berharap, bahkan ia telah melakukannya sejak lama. Ia merasa sangat bodoh…
Tidak. Ia merasa sangat… sangat bodoh karena terlalu berharap.
'Kau bukan apa-apa baginya, Hinata. Kau hanya… kau hanya…' Hinata mencoba menelan makanan di mulutnya walau agak sulit. Sungguh, Hinata tak tahu siapa dirinya dan apa arti keberadaannya bagi Madara. Ia hanya putri dari Hyuga Hiashi—sahabat baik ayah Madara—yang telah lama meninggal karena kecelakaan pesawat. Meninggalkan Hinata—yang saat itu berumur lima belas tahun—dan—si sepuluh tahun—Hanabi sendirian, tanpa ada kerabat yang menawarkan bahu untuk bersandar.
Lalu datanglah Madara—yang diusia mudanya telah sukses—menawarkan bantuan yang terasa begitu sulit ditolak. Saat itu Madara mengajukan diri untuk menjadi wali Hinata dan Hanabi. Ini aneh, untuk apa seorang Uchiha yang—ia kenal—begitu dingin secara suka rela mengajukan diri seperti ini. Hinata sempat berpikir bahwa Madara hanya ingin memanfaatkannya demi bisa menguasai kekayaan milik keluarganya.
Melirik Madara—dengan ekor matanya—lagi Hinata merasa malu jika mengingat prasangka buruknya saat itu. Pipinya memerah ketika mengingat Madara muda yang dengan sikap dinginnya malah terlihat berkharisma, tampan dan bijaksana. Ya, Madara memang dingin dan ambisius tetapi Hinata tahu ia memiliki kelembutan jauh dilubuk hatinya. Hinata merasa bahwa ia adalah gadis yang beruntung karena bisa mengenal sosok Madara dari dekat.
Sejak saat itu Hinata dan Hanabi pindah ke Tokyo untuk tinggal di mansion Uchiha dan meninggalkan rumah lama mereka dengan berat hati. Seluruh saham serta kekayaan milik keluarganya untuk sementara dialihkan kepada Madara, untuk kemudian dikembalikan lagi kepada Hinata dan Hanabi setelah mereka cukup umur. Dan begitulah hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tak terasa sudah hampir lima tahun waktu yang Hinata habiskan bersama seorang Uchiha Madara. Selama itu pula Hinata yang pemalu mencoba menyesuaikan diri dengan suasana khas klan Uchiha, yang sangat bertolak belakang dengan suasana keluarga kecil Hyuga yang hangat.
Hinata sangat bersyukur ada orang yang—walaupun bukan keluarganya—mau menawarkan bantuan padanya dan adik satu-satunya. Adakah orang orang yang tak merasa bersyukur setelah diberi tempat tinggal di sebuah mansion yang besar, diberi kamar luas yang hampir dua kali lipat kamarnya yang lama, diberi baju bagus, dibiayai sekolah, semuanya… bahkan kau tak perlu bekerja, kau hanya perlu duduk santai dan apapun yang kau inginkan akan datang padamu dengan sendirinya. Orang mana yang tak akan senang dengan semua itu?
Harusnya Hinata merasa bahagia dan tak menangis. Ya! Hinata gadis yang cengeng, ia akan menangis saat orang lain tak melihatnya. Di kamar mandi misalnya. Ia tak ingin ketahuan saat menangis dan kamar mandi pribadinya adalah tempat teraman untuk itu. Dengan adanya private bathroom yang terhubung dengan kamarnya, Hinata tak perlu takut ketahuan saat ia sedang menangis dan tak perlu menjelaskan alasan—yang ia sendiri tak yakin—kenapa ia menangis.
Apakah itu karena ia sangat merindukan Otou-san dan Oka-sannya? Hanabi? Atau malah karena Madara? Hinata tak begitu yakin. Memang benar bahwa terkadang ia sangat merindukan kedua orang tuanya dan Hanabi. Dan ketika saat itu tiba, ia akan menatap foto usang keluarganya hingga menangis.
Bukannya apa-apa, hanya saja Hinata terkadang merasa kesepian. Dan akhir-akhir ini adalah puncaknya. Setelah menyelesaikan High School-nya hampir dua tahun yang lalu, Hinata memutuskan untuk mengambil kuliah kedokteran.
Dengan jadwal kuliah yang padat, Hinata jarang bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Jumlah temannya pun dapat dihitung dengan jari dan sejak kepindahannya dari Kyoto semakin berkurang sedikit demi sedikit karena jarangnya komunikasi yang mereka jalin. Hingga sebagian besar waktunya ia habiskan untuk belajar dan mengurung diri di kamar.
Well, apalagi yang bisa ia lakukan Madara yang workaholic melarangnya melakukan segala hal yang ingin ia lakukan, ia tak punya teman untuk hang out dan dengan keputusan Hanabi untuk memasuki sekolah berasrama, lengkaplah sudah kesendirian Hinata. Terkadang Hinata ingin memiliki seorang saja sahabat agar ia bisa bercerita tentang ini dan itu.
Hey, bukankah ada Mayuri yang sering berada di sampingnya. Tetapi Hinata sadar bahwa Mayuri memiliki tanggung jawab pada pekerjaannya. Gadis itu tak dibayar untuk mengobrol dengannya, 'kan? Mayuri punya keluarga untuk diberi makan. Dan ia merasa jahat jika gadis yang lebih muda darinya itu terkena masalah.
.
.
.
Madara tak benar-benar fokus menatap jalanan di depannya. Mata hitamnya lebih sering mencuri pandang pada sosok Hinata yang tengah terpesona pada hingar-bingar malam yang ditampakka oleh Tokyo. Sekilas tampak senyum tipis terpatri di wajah tampan Uchiha leader. Ia tak lagi heran, dengan rata-rata waktu yang Hinata habiskan di kamarnya sangatlah wajar jika gadis pemalu itu sedikit tertinggal.
Seharusnya ia khawatir dengan kehidupan Hinata nantinya. Well bukankah Hinata itu seorang manusia dan bukankah manusia itu makhluk sosial yang memerlukan orang lain untuk hidup. Bagaimana Hinata akan hidup mandiri nantinya jika seorang teman pun ia tak punya. Bisa-bisa julukan Hinata sebagai gadis 'Kuper yang Super Pemalu' tak akan pernah hilang.
Tapi tak apa, bukankah itu tujuan Madara membatasi pergaulan Hinata. Agar Hinata terus bergantung padanya. Lagipula Madara Uchiha tak perlu Hinata yang populer. Ia hanya perlu Hinata berada di sampingnya. Dan Hinata tak perlu orang lain selagi ia hidup.
'Kau sangat jahat dan egois Madara! Kau pikir dirimu siapa?' Pikiran dibenaknya seolah-olah memperingatkan tapi alih-alih merasa bersalah Madara malah tersenyum tipis untuk kedua kalinya malam itu. Ia tahu jika ia bisa dipenjara karena merampas kebebasan seseorang.
'Sejak kapan kau jadi sangat terobsesi pada seorang wanita?' Satu lagi pertanyaan muncul dibenaknya. Ya, sejak kapan? Madara tak ingat pernah menyukai seorang wanitapun. Bukan karena ia tak normal atau apa, tapi lebih karena wanita tak masuk dalam prioritas utamanya. Memang akan ada saat dimana ia harus memilih satu dari sekian banyak wanita cantik dan sexy yang ingin berada dipelukannya, menikah lalu punya anak.
Tapi, sungguh jika ada seseorang yang datang padanya lima atau enam tahun yang lalu dan berkata bahwa ia akan terobsesi pada seorang Hyuga Hinata yang pemalu maka ia akan langsung menganggap orang itu gila dan tak segan-segan mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Tapi sekarang…
Benarkah ia jatuh cinta pada gadis di sampingnya ini. Entahlah… Semuanya terasa mustahil bagi Madara.
Untuk kesekian kalinya malam itu Madara memperhatikan sosok Hinata. Wajahnya yang halus dan seputih susu terlihat begitu cantik dengan warna-warni lampu jalanan yang menerobos kaca gelap mobil. Kemudian bibir pinknya yang menggoda. Hidungnya yang mancung. Dan beralih pada manik lavendernya yang teduh—yang kini sedang mengamati apapun itu yang membuatnya tertarik di pinggir jalan sana.
Menurutnya Hinata adalah gadis yang pikirannya sangat mudah dibaca seperti sebuah buku yang terbuka. Menurutmu apalagi penyebabnya kalau bukan karena bahasa tubuh, mimik wajahnya, dan mata lavendernya itu. Ia menghindari kontak mata dan memainkan kedua telunjuk tangannya saat sedang gugup. Pipinya adak semerah kepiting rebus saat malu. Bisa dibilang Hinata itu gadis pemalu paling ekspresif yang pernah ia kenal. Dan Madara kini tahu bahwa gadis di sampingnya itu tengah tertarik pada sebuah tempat yang baru saja meraka lewati. Terlihat sekali dari bahasa tubuhnya yang sesekali menoleh kebelakang seolah telah melewatkan sesuatu yang penting, ditambah lagi dengan ekspresinya yang jelas-jelas menunjukkan kekecewaan.
"Kau mau pergi kesana?" Ekspresi yang didapatkan oleh Madara saat itu hampir membuatnya tertawa. Hinata yang tak mengerti bahwa dirinya tengah menjadi obyek pengamatan terlonjak kaget, seperti seorang anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen. Pipinya seketika itu memerah dan ekspresi bingung nampak di wajahnya yang menunduk.
"Na-nani?" Well, mungkin Hinata tak pernah menyangka bahwa Madara yang hanya berbicara satu kalimat saja malam ini bisa mengeluarkan pertanyaan seperti itu. Ah, mungkin pendengarannya saja yang bermasalah.
"Pekan rayanya, Hinata. Kau mau pergi kesana atau tidak?" Madara benar-benar berusaha keras menahan sudut bibirnya yang sedari tadi berusaha untuk membentuk seulas senyum.
Bukannya menjawab Hinata malah menatap heran pada Madara, lalu memutar wajahnya untuk melihat kaca belakang mobil yang menampilkan kendaraan-kendaraan di belakang mobil Madara, berharap keramaian di pekan raya tadi nampak di matanya. Namun, Hinata tahu hal itu tak akan terjadi.
"Kalau b-boleh? Ya." Hinata menjawab dengan suara lirih namun terdengar cukup jelas di telinga Madara.
Dengan satu jawaban itu Madara langsung memutar mobilnya di lampu merah terdekat dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak lama mereka pun sampai di tempat parkir pekan raya yang lumayan penuh tapi anehnya tak seramai yang Madara duga. Ia bisa maklum, karena selagi ada tempat seramai dan semenyenangkan pekan raya di luar sana kenapa kau harus memilih tempat parkir yang sepi, panas dan penuh dengan kendaraan seperti ini untuk menghabiskan malam akhir pekanmu.
Sepertinya tempat parkir itu bukannya satu-satunya tempat yang bisa dibilang sunyi, karena jika kau menengok ke dalam mobil sport nan mewah milik Madara kau akan menemukan tempat sunyi lainnya. Karena setelah mesin mobil mati, baik Madara maupun Hinata tak ada yang bersuara seolah-olah suara mereka hilang bersama matinya mesin mobil namun sebenarnya mereka berdua tengah larut dalam pikiran masing-masing.
Madara, di dalam pikirannya ia mempertanyakan kembali keputusannya mengajak Hinata ke tempat ini. Perasaan possessive kembali menguasai hatinya. Bagaimana kalau Hinata tak kembali? Bagaimana kalau ia meninggalkannya dan tak pernah kembali?
Ya meninggalkannya dan tak pernah kembali seperti yang pernah ibunya lakukan padanya. 'Wanita itu!' Madara bahkan tak ingat lagi seperti apa wajahnya. Ia tak benar-benar punya waktu untuk mengingat wanita yang telah meninggal saat ia berumur lima tahun itu. Madara benci wanita itu, bagaimana bisa ia menyerah pada penyakit yang menggerogoti tubuhnya jika ia bilang ia sangat menyayangi Madara? Ia adalah pembohong paling hebat. Berpura-pura bahagia tapi sebenarnya tidak. Tapi bukankah semua itu takdir. Bagaimanapun Madara tak bisa menyalahkan takdir.
Oh ya, kini dia ingat dia pernah sangat menyayangi wanita itu… dulu. Dan kini Hinata, mungkinkah ia juga menyayangi atau bahkan—beranikah ia berkata—mencintai gadis di sampingnya itu.
'Madara ada apa dengan dirimu?' Kenapa ia merasa seolah-olah Hinata pernah meninggalkannya. Kenapa ia begitu takut, bukankah ini hanya pekan raya biasa? Lagipula Hinata bisa menjaga dirinya sendiri, 'kan? Jika itu yang Madara takutkan.
'Jangan bodoh! Kau tak punya waktu untuk ini.' Satu lagi suara rasional di benaknya berkata. Dan dengan helaan nafasnya Madara membuka pintu mobilnya dan berjalan menyebrang ke sisi lain mobil dimana Hinata duduk dan memperhatikan pergerakannya dengan jatung berdebar. Sempat terpikir di benak Hinata bahwa Uchiha leader itu akan mengubah pikirannya. Namun…
Betapa terkejutnya Hinata saat Madara membukakan pintu untuknya bahkan mengulurkan tangan kanannya di depan Hinata. Hinata hanya bisa menatap tangan kekar itu sejenak untuk kemudian dengan ragu menaruh tanganya yang bergetar di atas tangan Madara yang hangat. Sempat terpikir oleh Hinata betapa kecil tangannya jika dibandingkan dengan tangan Madara, saat tiba-tiba Madara menarik keluar tubuhnya dan menutup pintu mobil dengan keras saat tiba-tiba Madara menarik keluar tubuhnya dan menutup pintu mobil dengan keras.
Hinata tak tahu apa yang terjadi. Yang dapat ia rasakan lewat matanya yang tertutup adalah punggungnya yang menempel pada benda keras yang ia asumsikan sebagai mobil Madara. Ia juga bisa merasakan tangan Madara di pinggangnya serta kehangatan yang menguar dari tubuh kekar pria Uchiha itu. Wangi parfum maskulinnya yang memabukkan. Pipinya memerah saat ia membayangkan sedekat apa tubuh mereka. Semua ini cukup untuk membuat seorang Hyuga Hinata gemetar.
Dan… Dan… Oh, Kami-sama! Dan yang membuat tubuhnya semakin bergetar adalah bibir Madara yang mengulum bibirnya dengan lembut. Bagaimana bisa ia tak menyadarinya sejak awal?
Ciuman lembut tapi menuntut itu terasa memabukkan bagi Hinata yang tak berpengalaman. Yang bisa ia lakukan saat itu hanyalah meremas kemeja depan Madara erat-erat dan dengan kikuk membalas ciuman Madara. Hinata bisa merasakan jantungnya berdetak puluhan kali lebih kencang daripada biasanya. Ia yakin Madara bisa merasakannya juga dilihat dari seberapa dekat tubuh mereka.
Hinata mengerang pelan ketika Madara memindahkan tangan kanannya ke pipi Hyuga heiress. Ia menempatkan tangannya sedimikian rupa di sepanjang rahang hingga tengkuknya dan membimbing Hinata untuk memperdalam ciuman mereka. Bibir dan lidah Madara benar-benar membuatnya gila. Membuat Hinata merasa tubuhnya seperti teraliri listrik yang menyebar ke seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali, melewati pembuluh-pembuluh darahnya untuk kemudian berkumpul lagi di suatu titik dan meledakkan bom kebahagiaan di hatinya. Kebahagian itu membuat kakinya terasa seperti jelly yang ia yakin tak akan kuat menopang berat tubuhnya lebih lama lagi. Dan jika saja tangan Madara tak menopang pinggulnya, sudah pasti ia akan jatuh terduduk sejak tadi. Sungguh Hinata sangat bahagia saat ini, hingga ia ingin terus berada dalam dunia yang dibuat oleh Madara untuk selamanya dan melupakan dunia nyata.
Untuk sesaat keraguan Hinata atas perasaanya pada Madara menghilang seiring dengan ciuman mereka yang semakin menuntut. Begitupun dengan Madara. Ia tak tahu setan apa yang merasuki tubuhnya hingga ia bertindak seperti ini. Astaga! Mencium gadis di tempat umum seperti ini, tidakkah ia punya nama baik untuk dijaga? Bagaimana kalau ada yang melihat mereka? Satu pertanyaan di benaknya itu cukup untuk menyadarkan Madara, sebelum ia melakukan hal-hal yang akan ia sesali nantinya. Dengan berat hati ia melepaskan pagutannya pada bibir Hinata. Kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu gadis yang tengah tersenggal itu dan mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin.
Madara hanya manusia biasa. Ia tak yakin bisa menahan dirinya untuk tak mencium Hinata lagi jika gadis itu masih ada di sampingnya seperti ini, dengan wangi lavender yang menguar dari rambut panjangnya. Lalu kenapa gadis itu masih ada di sini, tak takutkah ia padanya.
"Kenapa kau masih disini? Larilah, Hinata! LARI!" Madara berteriak frustasi pada gadis di depannya itu. Tangannya mencengkram kedua bahu Hinata seolah tak setuju atas apa yang ia katakan.
Hinata dengan nafasnya yang tersenggal menatap Madara dengan tak percaya. 'Apa yang sebenarnya terjadi?' Hinata yang bingung sempat melihat mata Madara berubah warna. 'Kau berhalusinasi lagi, Hinata'
"Madara, kau tak apa-apa?" Inilah Hinata, bukannya lari ketakutan atau marah pada Madara ia malah mengkhawatirkannya. Inilah yang Madara benci dari Hinata, lebih mengkhawatirkan orang lain daripada dirinya sendiri. 'Wanita bodoh…'
"Aku bilang lari Hinata! Larilah yang jauh! Kau bilang kau mau ke tempat itu, 'kan? Kuberi kau waktu hingga tengah malam. Setelah itu kembalilah kemari." Madara melepaskan cengkramannya pada bahu Hinata dan berbalik.
"Tapi…" Hinata melupakan keinginannya saat melihat wajah Madara yang pucat.
"Waktumu hanya tinggal satu jam. Tak akan bertambah jika kau tetap di sini. Jadilah egois sekali saja Hinata."
Hinata menatap Madara sejenak untuk memastikan bahwa pria itu tak akan merubah keputusannya dan dengan sedikit tergesah-gesah berlari menuju pintu keluar dari areal parkir. Ini adalah kesempatan langka yang tak ingin Hinata sia-siakan. Madara benar ia akan menjadi seorang gadis egois untuk sekali ini saja. Ia tak akan memikirkan orang lain kecuali dirinya sendiri. Ini adalah impiannya, kebebasan sesaat yang akan ia nikmati.
'Apa yang telah kau lakukan padaku Hyuga Hinata?' Madara menatap kepergian Hinata dengan senyum kemenangan.
Madara Uchiha telah menentukan keputusannya. Ia akan membiarkan Hinata untuk menikmati kebebasannya untuk saat ini. Ya… hanya untuk saat ini.
.
.
.
…Tbc…
Review... Review... Review...
A/N : Yay! :-) akhirnya chapter 2 selesai juga... semoga tdk mengecewakan... Oh ya! saya mau bales review dulu...
Nohiru Hikari : Iya ini udah update... Soal penggambaran Madara... well, syukurlah kalau Madara nggak terlalu OOC... sebenarnya Madara itu tokoh yang sulit buat di gambarin... author sampai senewen sendiri *HEHE!CurhatNihYe!*...Iya saya juga nggak tau kenapa reviewnya cuma sedikit :-(... apa gara2 pairnya ya? tapi kayaknya nggak mungkin soalnya saya lihat fic MadaHina lain banyak kok yang mereview... atau mungkin karena saya author barue kalee Ya? N ceritanya agak ngebosenin... Well, Jujur saya akui cerita ini memang ngebosenin... serius banget... ditambah lagi dg tdk adanya bumbu humor yang bisa mencerahkan suasana... *Ye!Curhat lagee* saya mohon maklum, soalnya saya pikir dg gaya cerita yg serius akan membantu saya untuk menggambarkan Madara... Terima kasih banyak sudah mau menyumbang review... Nanti review lagi Yach! :-)
Fayiyong : Chapter 2 datang... Aduh! saya sangat tersanjung ada yg mau nge-fav fanfic membosankan ini... Terima kasih atas semangat dan reviewnya... hal itu sangat berarti sekali buat author... Saya sempat kepikiran buat menghapus fic ini loh... Review lagi jg ya... :-)
Guest : Terima kasih atas reviewnya... tapi kok cuma dua sih? kenapa nggak sekalian 3 *hehehe*... isinya sama lagi... g kreatif ah!...*Hehe* ;-) +Nggak kok... jangan dianggap serius author cm bercanda+ gpp lumayan nambah jumblah review *hihihi*... jangan sungkan buat mereview lagi...
Berlian Cahyadi : *Sebenarnya udh saya bales sih lewat PM* saya mau ngucapin Terima kasih atas reviewnya... jgn lupa review lagi... *Hehehe* :-)
Karena sebentar lagi mau lebaran... Author mengucapkan Minal aidzin wal faizin... mohon maaf lahir dan batin... maafin kata-kata saya yang salah ya! ;-)...
