Neverland
By Rei Iwasaki
DN isn't mine. It belongs to TO2
Warning: Everything can be warn, about the typo, the weird story, the OCCnes and other more.
Genre: Crime/ Suspense
Rate: T
Chapter 2:
.
"Kenapa kita semua dikumpulkan di sini? Bukannya lebih baik dipenjara biasa agar kita bisa diamati oleh pemerintah?"
.
"Kudengar, dulunya tempat ini selalu diamati pemerintah, sebelum orang itu datang."
.
"Hey! Katanya dia anak angkat tuan memilik tanah, loh!"
.
"Kenapa dia ada di sini?"
.
"Tentu saja karena dia sama seperti kita."
.
"Kalau begitu dia juga siap untuk dibunuh oleh orang itu!"
.
"Sayang sekali, padahal dialah orang yang mengabulkan impian orang itu."
.
.
.
"Sebetulnya kami dulu di sini sangat tertekan. Kami betul-betul dimasukkan ke dalam sebuah penjara beku. Tapi semenjak dia datang, setidaknya kami sudah bisa hidup seperti manusia-manusia luar yang ada di sana. Para ilmuan yang juga mengurung kami semua sudah musnah," jelas Linda.
"Dia betul-betul penyelamat kami," sambungnya lagi dengan sebuah senyuman yang merekah.
Gadis itu begitu memuji-muji orang itu. Sepertinya ada kebanggan tersendiri ketika menceritakan cerita asal mula tempat ini menjadi seperti ini. Gadis itu sangat mempercayai orang itu. Tapi hal itu tidak disambut baik oleh Light. Dia justru entah kenapa memunculkan wajah pucat yang segera ditepisnya.
"Apa tidak apa-apa kalau kau mebawaku keliling begini? Bisa-bisa kejadian kemarin terulang lagi," ucap Light.
"Tidak-tidak. Kau tidak perlu khawatir soal itu. Disetiap sudut dari pulau ini selalui di berikan kamera penjaga. Walaupun dia tidak ada di sini, dia pasti akan selalu mengawasimu dan membuat yang lain tidak bisa menyentuhmu," ucap Linda.
Linda lalu menarik tangan Light menuju seuatu tempat. "Ini adalah sebuah tempat dimana kami bisa memperoleh makanan!"
Gadis itu membawanya pada sebuah laboratorium yang berisikan mesin-mesin yang sangat beragam bentuk dan juga tipenya. tak ada siapa-siapa di sana selain mereka dan juga pantulan diri mereka pada puluhan kaca yang menjadi dinding lapisan laboratorium itu.
Light menautkan aliskannya. "Tempat ini?"
"Ya! Laboratorium ini terhubung dengan bawah tanah sampai ke laut. Sebetulnya bukan laboratoriumnya, tapi berpuluh-puluh pipa khusus yang menembus tanah sampai ke laut. Pipa itu nantinya akan menghisap para plankton yang hidup di laut dan membawanya ke atas, ke mesin-mesin yang ada di sini. Plankton-plankton itu tidak langsung akan digunakan, mereka akan ditampung dulu. kitalah yang memutuskan kapan untuk menggunakannya dan membuatnya jadi makanan apapun yang kami inginkan," jelas Linda.
"Jadi kalian memakan itu?" ucap Light dengan ada nada rasa jijik terselip pada ucapan itu.
Linda tersenyum simpul. Dia memang tahu hal seperti ini tidak lazim dan terasa sedikit ganjil memang. "Kau pikir kami akan bertahan hidup dengan cara apa lagi? Tanah ini tidak cukup baik, tidak cukup subur, bahkan terlalu bersalju untuk dijadikan ladang menanam tanaman. Di sini jika kami tidak memakan itu, kami tidak akan bisa bertahan hidup," jelas Linda untuk kedua kalinya.
"Dan juga semua teknologi ini dibuat oleh Tuan kami yang terhormat. Setelah para ilmuan itu mati, kami sudah tidak mempunyai makanan berupa pasta makanan yang biasanya digunakan para astronot. Kami juga otomatis terpisah dari dunia luar, pemerintah di sana. Mereka sudah pasti tidak akan bisa mengirim pasokan makanan lagi ke sini. Dia benar-benar menolong kami dengan segala kepintarannya." Sepertinya Linda sangat mengagung-angukan orang itu.
"Ya! Di sini kita sudah selesai berkunjung. Kita akan melanjutkan tur perjalanan kita lagi!" Linda kembali menarik tangan Light untuk mengikutinya kemanapun dia akan pergi selanjutnya.
"Ini adalah ruang penyimpanan wine dan segala minuman keras lainnya. Minuman ini betul-betul akan berguna ketika kau ada di sini. Mereka benar-benar akan menghangatkan tubuhmu lebih cepat dari api sebuah perapian!" jelas Linda.
"Ini adalah area yang digunakan untuk bermain ski. Baik juga kita tinggal di tempat yang selalu bersalju. Kita jadi tidak perlu menunggu waktu-waktu tertentu untuk bermain permainan yang mengasyikkan itu!" jelas Linda lagi.
"Oh, rupanya kita sebentar lagi akan mempunyai laboratorium yang baru. Kau lihat di kaki gunung sana? Para kriminal itu sedang bekerja akannya. Mungkin kita perlu menambahnya karena penduduk di sini juga bertambah!" jelas Linda lagi.
"Oh,ya. Kita juga mempunayi sebuah laboratorium khusus yang berbeda fungsi dengan yang tadinya. Tapi kita tidak boleh ke sana. Laboratorium itu sangat berbahaya dan rahasia. Di sana kita bisa mendapatkan pohon buatan yang sangat mirip dengan aslinya! Sehingga kita masih bisa hidup di sini dengan udara yang baik dan penuh oksigen. Hanya Tuan saja yang boleh ke sana dan mengetahui di mana laboratorium itu berada," jelas Linda lagi.
Penjelasan itu etrus berlanjuta lagi, lagi, lagi dan lagi sampai Linda menunjukkan raut wajah kagetnya. Dia sepertinya baru mengingat sesuatu yang dilupakannya.
"Ah, kenapa aku bisa lupa! Mereka pasti akan mencincangku ketika melupakan janji yang buat!" ucapnya dengan nada yang ditinggikan sedikit.
Light menaikan sebelah alis matanya, tanda dia tidak mengerti.
Linda yang mengerti kebingungan Light, langsung menjawab tanpa mendengarkan perkataan Light,"Iya! Kau tahu sewaktu kau baru terdampar di sini,kan? Kami baru saja ingin mengadakan pesta. Tapi batal dan kami menggantinya menjadi hari ini!"
"Kenapa masih di sini setelah mengingatnya? Kau,kan bisa segera menyusul. Mereka pasti tidak akan benar-benar mencincangmu," ucap Light.
"Kau benar, tapi... aku sedang dalam tugas untuk membawamu berkeliling melihat keadaan. Ah,ya! Membawamu ke pesta sama saja dengan itu. Kau bisa berkenalan dengan banyak orang di sana!" Tanpa persetujuan Light, Linda langsung menarik tangannya dan mereka berdua berlarian di atas tanah yang bertumpukan salju tebal.
"Maaf aku terlambat! Ada tugas yang harus kutuntaskan dari Tuan!" seru Linda dengan suara lantang saat dia masuk ke dalam rumah kayu kecil itu.
"Kenapa kau membawa dia juga di sini?" Kentara sekali ada nada tidak suka dari Mello yang memberikan pertanyaan itu.
"Ini dia tugas yang diberikan Tuan padaku! Dia menyuruhku untuk memperkenalkan lingkungan baru ini padanya," jawab Linda.
Mereka berdua mulai masuk ke dalam dan menutup pintu kayu itu. Keduanya juga melepaskan mantel dan sepatu bot yang penuh dengan salju itu. Kaki mereka lalu memakai sepatu yang memang disediakan untuk dipakai di dalam rumah itu.
Suasana di dalam sana menjadi dingin. Tidak ada yang berbicara. Mereka tampaknya semua tidak setuju dengan adanya Light Yagami yang notebook adalah musuh mereka.
"Ya! Kenapa kalian semua diam? Ayolah, ini pesta! Keluarkan semua minuman yang ada!" Akhirnya Matt yang mencairkan suasana.
"Oh,ya. Aku baru sadar. Kenapa hanya kita berlima saja yang ada di sini? Ke mana yang lainnya?" tanya Linda sambil meneguk wine miliknya.
"Hmm... mungkin mereka terlambat karena hujan salju menyebalkan ini?" ucap Matt asal-asalan. Ya, sudah pasti asal-asalan. Dianya juga yang tidak memperhatikan dan malah sibuk memainkan rambut milik Mello.
"Hentikan memainkan rambutku!" seru Mello sambil memukul kepala milik Matt.
"Pantas saja tidak ada yang protes dan mengatakan akan mencincangku," ucap Linda sambil memanyunkan bibirnya.
"Kami datang! Maafkan kami jika terlambat!" Dengan keras pintu itu terbanting dan memunculkan orang-orang yang terlambat datang.
"Misa-misa dan kawan-kawan sudah datang!" Kali ini ada seseorang yang berteriak dengan suara yang lebih keras lagi.
"Tidak bisakah kau menutup mulutmu? Suaramu itu sangat mengganggu," hina Mello dengan ketus.
"Kau yang seharusnya diam! Mulut pedasmu itu sangat menyebalkan!" Kini Misa, orang yang baru datang itu menghina Mello.
"Bertengkarnya sudah,ya? Kita tidak akan mengadakan pesta yang meriah jika terus bertengkar." Akhirnya Linda menengahi pertengkaran konyol itu.
Orang-orang yang baru datang itu mulai melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Light dan juga Linda sebelum masuk ke dalam rumah itu.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka segera mengambil tempat yang nyaman untuk menikmati pesta.
"Takada, bisakah kau memberiku botol yang ada di sana?" ucap seorang laki-laki yang bernama Mikami pada temannya itu.
Takada melemparnya dan ditangkap dengan sempurna oleh Mikami.
"Ngomong-ngomong bagaimana dengan hasil rapat kalian kemarin?" tanya Takada pada siapapun yang mengikuti rapat kemarin.
"Ck, dia itu keras kepala sekali. Hasilnya tetap saja sama," ucap Matt sambil meneguk segelas vodka miliknya.
Linda angkat bicara tidak setuju. "Tuan pasti punya alasan tersendiri. Kita hanya perlu mendukungnya saja."
"Hm... kalau tidak salah rapat kemarin, kalian juga membicarakan anak baru yang tak diundang itu, bukan? Ke mana dia? Misa-misa ingin ketemu dengan cowok cakep!" ucap Misa tidak lupa dengan aksen manjanya.
"Sebaiknya kau jangan menyentuhnya, Misa. Dia itu milik tuan kita yang terhormat. Kau bisa saja diledakkan olehnya," ucap Beyond dengan menekan nada bicaranya pada kaliamat tuan kita yang terhormat. Dia menghina? Tentu saja.
Di mana Light? Dia sedang menepi di pojok ruangan. Dia tidak terlalu suka dengan yang namanya pesta. Apalagi ketika pestanya akan berkaitan dengan minuman beralkohol dan juga rokok. Jadinya dia lebih memilih untuk melihat pemandangan bersalju diluar melalui jendela rumah kayu itu.
Dia tersentak saat merasakan ada tangan yang menyentuh pundak kirinya. "Kau tidak suka dengan pesta yang seperti ini,ya? Maaf sudah membawamu tanpa persetujuan," ucap Linda.
"Bukan salahmu. Kau hanya menjalankan tugasmu," ucap Light sambil tersenyum pada Linda.
Linda melihat jam tangan miliknya dan dia terkaget. "Astaga, sudah jam begini? Tuan pasti akan marah ketika aku terlambat mengembalikanmu!"
Linda lagi-lagi menarik Light dan berpamitan dengan teman-temannya yang sedang berpesta itu.
"Maaf aku terlambat, Tuan," ucap Linda sambil membungkuk hormat. Setelah mengantar Light, dia mengundurkan diri dari sana.
Kini di ruangan itu hanya tersisa L dan juga Light.
"Untuk apa kau membuatku mengenal lebih jauh tempat ini. Kupikir aku akan dikembalikan dengan memori yang dihapus?" tanya Light datar.
"Lebih baik kau mengganti perbanmu," ucap orang itu mengalihkan percakapan.
"Ck." Light memandanganya dengan tatapan sengit dan mengambil segulung perban dari tangan L dengan cara kasar. Dia dengan cepat kembali ke kamar miliknya.
"Apa kau tidak merasa kedatanganmu di sini aneh?" Pertanyaan itu entah ditujukan sama siapa. Mungkin pada angin yang tidak bisa menjawab. Karena dia tidak butuh sesuatu yang sudah diketahuinya.
.
.
.
Mimpi itu indah sekali, sekaligus sangat aneh. Apapun bisa kita dapatkan di sana. Tetapi tidak dengan di dunia nyata. Oleh sebab itu ada pepatah bahwa apa yang kau mimpikan itu adalah sebuah kebohongan.
.
.
.
Dengan tidak adanya Light di antara mereka tetap menjalankan pesta mereka. Tapi kali ini menuju jenjang yang lebih serius.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan orang yang baru datang itu? Dia seperti menyita seluruh perhatian bos. Dia pasti bukan orang sembarangan," ucap Takada.
"Kau benar. Dia memang anak kepala kepolisian di Inggris. Tapi, itu tidak bisa dijadikan alasan,"ucap Mello.
Disaat yang lainnya sibuk untuk meminum dan juga bercakap, Beyond sedang sibuk dengan permainan virtual membunuh miliknya. Melihat Light tadi membuat hasratnya tiba-tiba muncul.
"B! Jangan sibuk dengan permainan konyolmu itu!" omel Misa.
Beyond memperbaiki kacamata yang akan memberikannya ilusi pemandangan pembunuhan. "Kau tidak berpikir jika dia ada di sini berarti dia pantas untuk berada di sini?" tanyanya sambil menggerakan tangannya dengan aneh. Dia sedang dalam pengaruh game virtual,kan?
"Maksudmu?" ucap Mikami memastikan.
"Kau percaya dengan yang namanya kebetulan?" tanya Beyond.
Semua menggelengkan kepala. Mereka kriminal, lebih menggunakan logika daripada kepercayaan seperti itu.
"Bagaimana jika sebetulnya dia adalah kriminal berbahaya yang sama dengan bos atau bahkan lebih?"
Semuanya yang awalnya melihat minuman yang dipegangnya, kini memandang B dengan pandangan serius. Sedangkan yang dipandang masih sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
"Seriuslah sedikit, B! Hentikan permainan itu dan beritahu kami lengkapnya!" seru Mello.
"Ayolah, bos itu orang yang pilih-pilih. Dia tidak akan memilih kita menjadi bawahan langsungnya jika kita tidak berkualitas dan berbahaya. Lalu bagaimana dengan orang pilihan yang segitu dengannya?" ucapnya sambil melepaskan kacamata miliknya.
Matt membelakkan matanya. "Aku akan mengecek datanya lebih detail sebentar."
"Aku datang!" tiba-tiba saja Linda masuk tanpa izin dan mengagetkan mereka semua.
Semuanya tampak kaget dan sedang membicarakan sesuatu saat dia menghilang. "Apa yang kulewatkan?"
"Tidak ada hal yang penting," jawab Matt.
Benarkah?
.
.
.
Lihatlah orang yang berada di sebelah kananmu dan juga kirimu. Siapa yang menjadi musuhmu dan juga temanmu? Kenyataan itu merepotkan. Jika saja ini mimpi maka semuanya adalah temanku!
.
.
.
"Di mana anakku? Kenapa dia tidak ada bersama dengan kalian!" seru Soichiro dengan nada lantang. Siapa yang tidak marah jika kehilangan anak yang sangat kau sayangi?
"Kami sama sekali tidak tahu. Dia sudah hilang ketika kami selesai berpatroli mencari komplotan kriminal itu," ucap salah seorang polisi yang bertugas di kapal pesiar itu.
"Aku tidak mau tahu. Kalian harus mencarinya!" perintah Soichiro.
"T-tapi kemungkin dia diambil oleh para penjahat itu atau dia terjatuh di dalam laut. Tidak mungkin kita bisa menemukannya," ucap polisi itu dengan tergagap.
Soichiro memegang kepalanya. Pusing. Lagi-lagi dia kehilangan anaknya yang berharga dan juga jenius. Yang kini tinggal hanyalah putrinya yang tidak mungkin menggantikan posisinya yang sekarang.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
"Kau boleh keluar sekarang," ucapnya dengan lemah.
Polisi itu dengan segera membungkuk hormat dan mengundurkan diri dari ruang kerja sang kepala polisi.
Rasa kegalauannya terhenti saat mendengar telepon kantornya berdering.
"Aku tahu kau sedang mencari anakmu. Aku tahu dia berada di mana sekarang," ucap suara asing itu.
Soichiro terkaget dan sontak berkata,"Katakan dimana dia!"
"Aku akan memberitahumu lokasinya. Lokasi itu sedikit unik. Tapi aku yakin kau bisa menemukannya karena sistem di sana sedang kacau. Aku akan memberi tahumu asal kau mengabulkan satu permintaanku."
"Aku akan mengabulkan apapun keinginmu asal kau memberitahu dimana anakku berada!"
Sebuah perkataan yang akan membawa malapetaka.
"Bawakan aku orang yang bernama L Lawliet. Dia ada di sana bersama dengan anak tercintamu. Dab jangan lupa bawalah pasukanmu yang terkuat, karena kau akan berhadapan dengan mafia yang sudah mati." Perkataan yang ambigu, tapi disaat kau sedang kacau. Semuanya terasa benar.
.
.
.
Aku menyukai hitam! Tapi banyak orang yang tidak menyukainya karena menganggap itu warna setan. Benarkah? Salah! Di dunia ini tidak ada yang jahat dan baik. Tidak ada putih dan hitam. Yang ada hanyalah orang yang condong ke putih dan juga hitam. Mereka adalah abu-abu. Yang bisa berubah arus kapanpun mereka mau.
.
.
.
Light memandang pemandangan luar bersalju itu dengan bosan. Ini membosankan! Kenapa mereka semua bisa bertahan lama dengan semua ini?
Dia memejamkan matanya dan sebuah percakapan yang baru saja dilakukannya kembali terputar di dalam benak miliknya. Perkataannya dengan orang menyebalkan itu.
"K-kira?" Light mengendurkan pegangan senjatanya ketika mendengar nama itu.
Orang itu masih sama sekali tidak menandakan pertanyaan itu.
"Kau bilang Kira? kau mengataiku Kira? Kau bukan orang yang suka mengumabr-ngumbar keadilandengan cara yang salah! Dia hanyalah pembunuh diantara pembunuh yang bersampulkan sosok pahlawan yang memuakkan!" seru Light.
"Lantas siapa yang pantas dijadikan Kira?" Kini orang itu yang melontarkan pertanyaan.
"Siapapun kecuali diriku," jawabannya dengan desisan berbahaya.
"Kau yakin? Kira dinyatakan sudah ditangkap oleh kepolisian Las Vegas dan sudah dihukum mati. Tempat ini adalah Neverland yang dijadikan pembuangan bagi kriminal yang sudah dinyatakan mati. Kau datang di sini tanpa diundang, yakin dengan kebetulan itu?" ucapnya dengan nada congkak.
Diam adalah satu-satunya pilihan yang dimilki Light sekarang. Tak ada satupun jawaban yang cocok yang bisa dibuat otak cerdasnya.
"Kau menaiki kapal pesiar yang bertujuan dari Inggris menuju Amerika, New York dan perlu kutekankan satu hal. Pulau ini berada di tengah-tengah laut Karibia. Kau bisa memberi tahuku bagaimana kau bisa sampai di sini hanya dengan alasan tersapu ombak?" Ucapannya diiringi dengan sebuah senyuman kemenangan.
"Kau tidak datang di sini tanpa alasan. Dan kau mempunyai alasan yang sama dengan yang lainnya. Tanpa terkecuali, Kira."
"Mungkin kau memang benar keberadaanku di sini cukup janggal dan mungkin saja aku juga kriminal. Tapi tidak menutup kemungkinan jika aku bukan Kira melainkan kriminal yang lainnya," ucap Light dnegan tegasnya.
"Terserah." Akhirnya L memilih untuk menyelesaikan pembicaraan itu dan segera pergi dari sana.
"Sial, kenapa aku harus mengingat perkataan orang menyebalkan itu lagi?" gerutunya saat dia tersadar sedang melamunkan hal itu lagi.
Dia mengalihkan pandangannya menatap pemandangan luar itu dengan menatap kedua telapak tangannya dengan lirih. "Heh, apa benar aku Kira? Kalau benar mengapa aku tidak mengingatnya? Berapa banyak manusia yang sudah kubunuh?" ucapnya sambil tertawa hambar.
.
.
.
"Aku heran padamu. Kau dulunya adalah saudaranya. Tapi kenapa kau tidak tahu sama sekali tentangnya dan ingin mencari datanya lebih detail? Ck, jangan bilang kau lupa segalanya gara-gara game bodoh milikmu," ucap Mello.
"Melloku sayang. Aku tidak segila itu bermain game sampai melupakan identitas keluargaku sendiri. Tapi sebetulnya dia bukan keluargaku yang asli. Aku adalah seorang anak yatim piatu yang dipungut oleh ayahnya saat dia sedang tugas di Italia. Dia memungutku disalah satu panti asuhan," jelas Matt.
"Dan juga, sebetulnya dia juga adalah anak yang dipungut. Dia dipungut pada umurnya yang ke 9. Dia cukup pandai untuk setidaknya menutupi apa yang dialaminya selama 9 tahun belakangan itu," ucapnya sambil memainkan jarinya pada keyboard komputer. Matanya memperhatikan benda bersinar yang terus mengeluarkan huruf dan angka.
"Dan jika dia sudah terbiasa, pasti kedepannya akan mudah berasal dari Jepang, orang yang sangat pandai dalam hal itu, maka aku perlu memeriksa datanya lebih lengkap dari seluruh sumber," lanjutnya lagi.
"Jepang. Berarti kota asal Kira?" Entah kenapa tiba-tiba nama itu terucap dari mulut Mello. Dia sendiri terkaget saat mendengarnya keluar dari mulutnya.
"Kira? Aku tidak yakin," ucap Matt.
"Kenapa tidak coba saja. Coba kau cari data yang memberitahukan kapan Kira pertama kali muncul melakukan aksinya," ucap Mello.
"Aku sudah mencarinya selama bertahun-tahun. Data itupun tidak luput dariku. Kira memulai aksinya 7 tahun yang lalu. Saat itu Light sudah berumur 12 dan dia sudah berada di Inggris. Jadi dia tidak mungkin dia Kira," ucap Matt.
Mello menggangguk mengerti. Memang tidak mungkin dia yang menjadi pelakunya dengan kondisi seperti itu. Tapi entah apa yang membuatnya tetap ngotot dengan ucapannya yang tiba-tiba.
"Pertanyaan, kenapa dia hanya membunuh para kriminal yang dibunuhnya satu orang dalam latar tempat yang berbeda? Dia adalah pembunuh para kriminal. Kenapa tidak langsung saja mencari sarangnya dan menghancurkan mereka semua? Misalnya kalangan yakuza," jelas Mello mengutarkan pendapatnya.
Matt membulatkan matanya. Bersamaan dengan perkataan Mello, dia mendapat informasi tambahan yang menguatkan dugaan itu. Informasi yang sudah terkubur dalam-dalam. Tapi dengan keahliannya dia bisa dengan mudah mendapatkannya
12 tahun yang lalu,dikabarkan kelompok yakuza Hinode dibantai habis oleh entah siapa secara brutal. Semuanya habis terbunuh kecuali anak kepala yakuza itu. Anak itu dikabarkan hilang. Tapi setelah polisi melakukan investigasi, dia dinyatakan mati dan mungkin mayatnya disembunyikan disuatu tempat.
Nama: Raito Hinode.
Umur: 7 tahun.
Ciri-ciri: Rambut dan bermata yang berwarna secoklat madu. Tinggi 120 cm.
Jenis kelamain: Laki-laki.
PS: Pembunuh ini meninggalkan sejumlah bukti bahwa dia telah melakukan pembunuhan. Kira is sunrise that will kill every criminal in the world.
Kira will rull the world!
Kira is the GOD!
The sunrise of all human being!
Raito: Light.
Hinode: Sunrise.
Sebuah informasi yang ditutup rapat-rapat karena saat itu tidak dianggap terlalu penting. Pelaku pembunuhan itu juga tidak pernah lagi memunculkan aksinya setelah pembantaian itu. Jika berita ini mencuat maka para kalangan yakuza yang lain akan memberontak.
Maka diputuskan untuk menyembunyikannya agar tidak memberi kekacauan.
"Ow, shit. Pembunuh berantai gila yang selama ini kucari ada didekatku? Kau pasti bercanda."
Ya, aku sedang sangat tidak dalam mood untuk bercanda.
.
.
.
Dari semua daftar tersangka, semuanya memiliki kemungkinan yang sama. Jika semua daftar telah dicoret dan menyisakan satu orang tersangka yang tak mungkin adalah pelakunya, maka kemungkinan besar yang kita cari selama ini, adalah berada dalam ketidakmungkinan.
-Sherlock Holmes-
.
.
.
Brakk
Seseorang mendobrak pintu mereka dengan keras. Matt sontak mematikan laptop miilknya. Mello mengalihkan perhatiannya ke arah pintu itu.
"Kalian harus ikut dengan kami sekarang," ucap orang itu sambil menyeringai. Dia, salah satu dari kalangan kriminal yang di bawahi Higuchi.
"Untuk apa kami mengikuti kalian? Kami punya urusan yang lebih penting di sini!" seru Mello. Segera diambil pistol miliknya dan mengacungkannya pada kalangan kriminal itu.
"Orang yang kalian panggil bos itu memerintahkan kami untuk memanggil kalian. Kalian tidak ingin membantah perintahnya,kan?" Ini betul-betul perkataan yang sangat tidak memastikan. Kentara sekali nada menjebaknya.
Baru saja Mello ingin memprotesnya, Matt menahannya. Mello membalikan kepalanya menghadap Matt. Matt menggerakkan kedua bola matanya ke arah kiri miliknya, ke arah laptop miliknya. Mello mengikuti sinyal Matt dan didapatinya salah satu sudut dari laptop itu menyalakan lampu yang berkelap-kelip berwarna kuning.
"Baiklah. Kami akan mengikuti kalian," ucap Mello sambil mengembalikan pistolnya kembali ke tempatnya.
Mereka berdua akhirnya beranjak dari tempat mereka berpijak. Mereka berjalan di jalan beraspal yang bahkan sudah kelihatan tertutupi salju lebat. Mello melihat sekitarnya. Tampaknya kawanan Higuchi yang lain melakukan hal yang sama bagi kriminal yang tidak berada di pihak mereka.
Matt menanggapinya dengan sangat santai. Dia tidak membuang-buang tenaga untuk hanya mengerakkan kepalanya ke samping dan ke kanan. Dia hanya sibuk untuk menghisap rokok yang terselip di bibirnya.
Mereka mulai masuk ke dalam markas pusat. Menuruni lantai yang akan memberikan mereka jalan menuju ruang bawah tanah dan akhirnya kawanan Higuchi itu membawa mereka di ruang sel bawah tanah.
"Apa-apaan ini!" seru Mello. Belum saja dia memberontak, seseorang mendorongnya sehingga masuk ke dalam salah satu sel yang terbuka. Begitu pula dengan Matt.
"Kau mengatakan pada kami bahwa kau akan mengatar kami pada bos. Kenapa kami malah terkunci di sini. apa-apan ini!" Mello kembali melanjutkan aksi protesnya.
"Haha... kau itu bodoh atau tidak? Kami sudah mengatarmu pada bos kalian. Dia sudah kami kurung di sini juga bersama kalian. Tuan Higuchilah yang pada akhirnya akan memimpin pulau ini dan bukan bos kalian yang bodoh!" ucap salah saru anak buah Higuchi.
"Brengsek!" Mello menghantam sel besi itu dengan keras.
Sebuah tangan menyentuh pundaknya. "Berhentilah. Kau hanya akan melukai tanganmu dan menghabiskan tenagamu," ucap Matt.
Mello mendecak kesal dan akhirnya dia duduk diam di lantai sel itu dan mereka yang mengurung tertawa senang meninggalkan mereka.
"Heh, akting yang bagus," ucap salah seorang dari sebelah sel milik mereka.
"Dimana dia, Takada?" tanya Mello dengan cepat.
"Sel khusus yang paling ujung. Aku tidak menyangka dia melarang kita untuk melakukan apapun. Apa dia bodoh?" ucap Takada.
"Tidak. Ini lebih baik daripada kita berhadapan dengan dewa maut itu yang dibawa mereka," ucap Matt dengan serius.
Takada mengerutkan kening miliknya tidak mengerti. "Apa maksudmu? Tidak ada satupun kriminal berbahaya yang disandra oleh mereka. Hanya polisi yang sangat lemah itu."
"Jangan pernah percaya akan sampul sebuah buku. Dia adalah senjata pembunuh yang sangat berbahaya yang selama ini disembunyikan. Pantas saja bos sangat menyukainya. Tapi untuk apa menyimpan sebuah senjata pembunuh yang pada akhirnya akan membunuh dirinya sendiri?" ucapan yang sangat panjang dan terkesan ambigu.
"Atau memang itu fungsinya?"
Takada masih mengerutkan keningnya.
"Setelah keluar dari sini aku akan mengumumkan bahwa aku tidak akan berpihak pada siapapun dan akan berpisah dari kubunya dan aku akan hidup dengan nyaman," ucap Mello kali ini.
"Apa maksud kalian? Aku sama sekali tidak mengerti," tegas Takada.
"Kira is him." Kalimat yang sangat simpel. Tapi bisa membuat siapapun akan merinding.
"Ini buruk. Mereka yang terkuat ada dipihaknya." Akhirnya Takada berpendapat juga.
"Oleh sebab itu, aku akan mengajukan surat pengunduran diriku."
.
.
.
Sudah kukatakan tidak ada yang bernama hitam dan putih. Yang ada hanya abu-abu. Mereka bisa berubah semau mereka, menjadi teman lalu menjadi musuh atau dari musuh akan menjadi temanmu.
.
.
.
"Bagus! Kita sudah berhasil keluar dari sini! Kita akan mulai menyerang Inggris. Dengan adanya anak ini dipihak kita, maka kita akan membuat polisi itu tidak akan berani menyerang kita!" seru Higuchi diiringi dengan sorakan teriakan dari para pengikutinya.
"Ini saatnya kita kembali menguasai dunia!"
.
.
.
"Kalian semau! Cepat sediakan semua senjata yang paling berbahaya! Kita akan mencari anakku dan juga orang itu! Setelah kita mendapatnya kita akan membuat pulau ini hancur bersama dengan kriminal sialan yang telah menculik anakku!" seruan itu bisa terdengar sampai seluruh penjuru. Sampai membuat seseorang di pulau itu geram merasa marah.
.
.
.
"Kalian ingin berpesta? Maka akan kuberikan yang paling meriah." Orang itu menyeringai. Seringai yang sangat mengerikan. Para bawahan yang disampingnya juga tidak tahan untuk tidak melebarkan mulut mereka untuk menyeringai bersama dengan tuannya.
'Tidak akan kubiarkan kalian merusak apa yang susah payah kubuat untuknya.'
.
.
.
Katakan ini sebuah mimpi. Tolong katakan ini sebuah mimpi. Karena dengan begitu, dunia yang tadinya melupakanku akan mengingatku kembali. Aku bisa kembali bertemu dengannya dan yang paling penting, setidaknya untuk terakhir kalinya aku bisa mengabulkan permintaannya.
.
.
.
"Ssst... yang sekarang Anda lakukan hanya bisa menutup mata Anda dan beristirahat. Maafkan saya karena hadiah yang Anda inginkan mengalami sedikit kekacauan. Tapi saya berjanji, Anda akan sangat menikmatinya ketika Anda kembali membuka mata Anda."
.
.
.
To Be Continue
