Bleach © Tite Kubo

Warning: Semi AU? Inti cerita kurang jelas, judul

ngawur, etc

Masih nekat baca? Silakan :D

Sensei, ni ageru

Chapter 2

Satu minggu dari sekarang sekolahku akan mengadakan pesta penyambutan untuk Byakuya,atau harus kupanggil Byakuya sensei. Selama seminggu ini Aku berusaha menjaga jarak dengannya. Aku tidak mau dibilang mencari perhatian terhadapnya oleh siswa lain. Meskipun Aku sangat ingin berbicara penyambutan yang sangat tidak ingin kudatangi, pasti saat itu Dia dikelilingi oleh siswi dan guru-guru perempuan. Itu yang membuatku sakit.

" Hei Yamamoto...jangan melamun, lembar soalnya sudah ada di mejamu. Cepat oper kebelakang." Seorang siswa yang duduk di belakangku berbicara kepadaku. Rambut orangenya memang sedikit aneh menurutku. Tapi Dia merupakan salah satu idola para siswi di sini. Kurosaki Ichigo namanya.

" Akh... I..iya..." kujawab sambil menyerahkan lembar soal kepadanya.

Pulang sekolah Aku langsung menuju toko buku untuk mencari buku-buku referensi untuk beberapa mata pelajaran. Setelah keluar toko buku ku berniat untuk mencari makanan untuk nanti di apartemen. Tiba-tiba ada beberapa pria yang menghadang jalanku saat menuju supermarket.

" Hallo gadis manis... Mau kemana kau sendirian saja?" tanya soerang pria berperawakan tinggi tegap sambil menyeringai ke arahku. Ku hanya bisa diam dan agak kaget,meskipun ku bisa langsung menghajar ke dua orang di depanku ini.

" Bagaimana kalau kau ikut kami saja daripada sendirian huh..?". Ucap pria satunya berkepala botak.

Sesaat mereka akan mendekatiku terlihat sesosok pria yang sudah ada di depanku menghalangi laju mereka. Rambut itu...orange.

" Jangan coba-coba ganggu dia !" teriaknya.

"Kurosaki." ya... Dia adalah kurosaki Ichigo yang mencoba menolongku.

" Hei bocah...! Jangan menghalangi kesenangan kami!" Teriak pria botak yang sudah siap melayangkan tangannya ke arah Ichigo.

Dengan sigap Ichigo menghalau serangan itu walaupun akhirnya Dia terkena satu pukulan pria botak tadi. Sebelum serangan makin gencar Ichigo langsung menarik tanganku pergi dari tempat itu.

Setelah merasa aman, kami akhirnya berhenti di tepi sungai dekat apartemenku.

" Kamu tidak apa-apa Rukia?"

" I...iya... Aku baik-baik saja, terima kasih Kurosaki." Baru pertama kali Dia memanggil nama kecilku. Kini wajah kami terlalu dekat, Aku tak terbiasa dengan keadaan seperti ini langsung saja kudorong tubuhnya agar menjauh dariku.

" Sebaiknya Aku pulang, sekali lagi terima kasih sudah menolongku. Sampai jumpa." Ucapku langsung dan segera pergi meningglakannya.

" Hei Rukia tunggu dulu...,ouch!" Kudengar Ichigo berteriak kesakitan,Ku langsung berbalik dan melihat tangan kanannya ternyata terluka. Mungkin akibat perkelahian tadi.

" Kau terluka gara-gara Aku. Aku sunguh minta maaf telah membuatmu begini." Sesalku

" Aah luka seperti ini sudah biasa Aku terima. Nanti juga sembuh sendiri." Jawabnya enteng. Padahal Aku tahu Dia sedang menahan sakit.

" Jangan menganggap remeh luka seperti itu!" teriakku. " Cepat kau ikut Aku ke apartemenku di seberang sana." lanjutku sambil menunjuk arah apartemenku.

Dia mungkin agak terkejut dengan nada suaraku yang agak meninggi. Maklum saja di sekolah selama ini ku tidak pernah menunjukkan sikap asliku.

" Ternyata sikap aslimu menarik juga ya..." Cibir Ichigo.

Ku yang kelepasan langsung menunnduk dan terus berjalan menuju apartemenku.

Sesampainya di apartemen ku langsung mengeluarkan kotak P3K untuk mengobati Ichigo. Canggung.. Itulah situasi yang sedang Aku alami saat ini. Tidak ada seorang pun yang pernah sedekat ini denganku.

" Ternyata disini ya rumahmu." Ichigo mencoba memecah keheningan.

" Umm..." Hanya itu jawabku sambil mengangguk.

" Kau benar- benar irit bicara ya"? Godanya lagi. Memang selama ini ku di kenal sebagai gadis yang pendiam. Ku tidak mau sampai kelepasan dalam bersikap dan bertindak.

" Sudah selesai... Kau boleh pulang." Ucapku datar.

" Beginikah caramu berterima kasih atas penyelamatan yang Aku lakukan"?

" Aku tidak minta diselamatkan olehmu." balasku enteng. Kenyataanya Aku juga bisa menghajar preman-preman itu sendirian. Tapi kalau kakaku sampai tahu Aku berkelahi lagi Dia bisa saja langsung menyeretku pulang. Itu yang tidak Aku inginkan.

" Ternyata memang benar ya gosip yang beredar, ternyata seorang Kuchiki Rukia itu adalah orang yang sombong dan tidak tahu berterima kasih." Ucapnya lagi sambil berdiri dan meninggalkan pintu apartemenku.

" Jangan mengambil keputusan seenaknya tentang hal yang tidak kau ketahui." jawabku sambil berbalik membelakangi Ichigo. " Terserah orang mau menganggap Aku jahat atau sombong itu semua bukan urusanmu. Jadi jangan ikut campur." lanjutku lagi.

" Maaf..."

" Bukannya Aku tidak tahu apa-apa. Tapi kau sendiri yang tidak memberi kesempatan padaku untuk lebih mengetahui temtang dirimu. Untuk itu ijinkan Aku untuk bisa mengenalmu lebih jauh." Ucapan Ichigo membuat jantungku bergemuruh, baru kali ini ada orang yang jujur mengatakan perasaanya untuk lebih mengenal Aku.

" Bagaimana Rukia?"

Aku masih diam, tak bisa menjawab pertanyaanya. Jujur Aku takut. Takut akan trauma masa lalu yang masih mengganggu pikiranku.

FLASHBACK

Aku sangat bahagia... Mempunyai teman- teman yang sangat menyenangkan. Mereka selalu ada dimanapun Aku berada. Sampai suatu saat ketika Aku tidak sengaja mendengar percakapan teman-temanku di halaman sekolah, pikiranku tentang mereka berubah.

" Aku lelah..." Ucap seorang gadis manis berambut ungu yang di kuncir menggunakan pita merah.

" Tenang Sena... Kita kan belum memanfaatkannya secara maksimal. Kita belum dapat apa-apa darinya." Timpal gadis lainnya berambut merah dan dikuncir dua.

" Kau mengerti tidak sih Riruka..? Sampai kapan kita harus bersandiwara di depannya? Ku sudah muak berperan sebagai malaikat yang selalu berbaik hati di depannya. Aku ingin sekali menjatuhkan Dia di depan semua siswa kalau Dia itu tidak bisa apa-apa kalau tidak ada keluarganya yang kaya dan selalu bertingkah seenaknya." Hatiku merasa sangat sakit mendengar ucapan Sena. Jadi selama ini mereka berdua hanya memanfaatkan Aku. Aku tidak tahu apa salahku kepada mereka berdua sampai mereka tega melakukan ini kepadaku.

END FLASHBACK

Sejak hari itu Aku tidak lagi menyapa mereka. Aku jadi pribadi yang dingin dan sulit percaya kepada orang lain. Aku takut...takut akan kemunafikan mereka di depanku. Dan saat inilah Aku menjadi diriku yang sekarang. Pribadi yang tertutup, menyembunyikan identitas, dan saat ini pemuda di hadapanku ingin membuka pintu itu dan mencoba masuk kedalamnya.

" A...aku... " Jawabku bimbang.

" Sudahlah jangan di jawab, meskipun setuju atau tidak Aku akan tetap mencoba mengenalmu." Ucap Ichigo tegas.

TBC