Annyyeonghaseyo yeorobundeul…
Apa kabar semuanya? God.. I miss ya all so much~ I come and bring a oneshot story for this Dr. Jung series.. Hope you'll like it!
.
Tittle: Dr. Jung
Main Cast: YUNJAE
Disclaimer: YunJae is not mine, tokoh dan cerita hanya karangan belaka.
Inspirasi: dari salah satu cerita di fandom Shingeki no Kyojin.
Silahkan dibaca sesuai keinginan dan keputusan masing-masing, cerita tidak menyebabkan gangguan pernafasan, pencernaan dan janin.
Review, saran dan masukan sangat diharapkan.
.
Yeorobun, Enjoy reading!
.
.
.
(Seoul international hospital)
"Terdapat gelembung udara pada kateter WSD akibat ekspansi pada pneumotoraks. Gelembung udara biasanya terjadi sebagai akibat dari penurunan pengembangan paru karena batuk yang keras, yang menyebabkan fungsi rongga pleura menurun." Dokter tampan penuh kharisma itu tersenyum, ia melepaskan stetoskop dari telinganya dan membiarkan benda itu menggantung di lehernya. "Sejak kapan Hyuna batuk?"
"Seminggu setelah pulang ke rumah, pasca operasi pemasangan WSD, Uisanim." Jawab sorang namja yang merupakan ayah si anak.
"Dan menurut keterangan sebelumnya ..." tambah Yunho, matanya beralih pada catatan acak-acakan yang dibuatnya di atas kertas riwayat kesehatan Kim Hyuna, "Dia memang mempunyai alergi debu? Hmmm.. Di mohon untuk lebih rajin lagi membersihkan rumah, ya, terutama kamarnya, karena dia sensitif sekali."
"Aah.. begitu ya." Bapak itu mengangguk-angguk. "Kurasa aku dan istriku harus berubah jadi penggila kebersihan mulai sekarang, agar alergi Hyuna tidak kambuh lagi."
Yunho tertawa kecil, dia menambahkan catatan pada kertas laporan kesehatan namja cilik itu. "Punya istri seorang penggila kebersihan kadang bisa membuat kewalahan loh."
"Istri Uisanim seorang penggila kebersihan kah?" si ibu pasien yang juga berada disana balik bertanya. "Bagaimana kesehariannya?"
"Dia tidak akan bisa meninggalkan rumah sebelum selesai memastikan tidak ada setitik debupun di seluruh permukaan lantai dan furniture, bahkan hingga ke bagian bawah sofa," jawab dokter ahli bedah itu sambil bercanda. Dan Jung Yunho menjadi tertawa geli ketika mengingat Jaejoong-nya yang berteriak histeris karena melihat seekor kecoa bertengger di sepatu olah raga Yunho, karena kaus kaki yang kelupaan, tidak di taruh di mesin cuci. Istri cantiknya itu mengomel lebar kali luas sepanjang hari itu.
"Hahaha, Jung uisa, ada-ada saja." Pasangan suami-istri itu ikut tertawa.
"Tidak, itu memang benar." Kemudian dokter tampan itu mencium pipi Hyuna. "Nah.. Hyuna, cepat sembuh, ne."
Tangan mungil namja kecil itu menyentuh pipi Yunho. "Neee.."
"Jung-usianim kelihatannya senang sekali dengan anak-anak."
"Ya begitulah," Yunho mencium Hyuna lagi.
"Tidak biasanya Hyuna langsung akrab dengan orang asing begini. Dia sangat pemalu, lho," sang ibu terlihat kagum. "Mungkin karena uisa terbiasa dengan anak-anak di rumah, ya, jadi punya aura sendiri untuk menarik perhatian anak-anak. Jangan-jangan Uisanim punya anak banyak, nih?" dia bercanda sedikit.
"Hahaha,.. Apa terlihat seperti itu? Tapi mungkin Anda tidak akan percaya ini," Yunho tersenyum kemudian sedikit menghela nafasnya, "Aku sama sekali belum punya anak."
.
.
.
.
(Moldir House)
"Tolong tambahkan layer berwarna emas di pinggir cutting sebelah kanan dan —"
"Boojae.."
"Hmm.." Jaejoong berusaha untuk tidak mempedulikan seseorang yang seenaknya muncul di depan pintu ruangannya , dia meneruskan penjelasannya pada tiga asisten designer di Moldir, butiknya. "Dan jahitan di bagian sini seharunya lebih—"
"Boo, sudah belum? Cepatlah ini sudah waktunya makan siang, Aku harus kembali ke rumah sakit."
"Ish," Jaejoong mengetukkan pena hitamnya pada meja dengan sedikit kesal, kemudian menoleh ke arah pintu. "Memangnya siapa yang memintamu untuk datang kesini, dokter?"
"Tidak ada. Aku cuma ingin makan siang bersamamu, untuk memastikan agar kau tidak lupa makan."
"Aku tidak lupa," Jaejoong berujar kesal, Jung Yunho-nya memang selalu berisik kalau urusan menyuruhnya makan. "Aku kan belum pikun."
"Dan.. Kau juga tidak boleh kekurangan energy, supaya kau bisa terus marah-marah."
Heol!
Tiga orang asisten yang berada bersamanya terlihat menahan tawa mereka. Yang membuat Jung Jaejoong memberikan death glare terseram yang dia punya.
"Hahahaha, oke, oke, akan kutunggu kau di sini. Silahkan lanjutkan penjelasanmu." Dokter tampan itu duduk di sofa yang berada di dekat pintu, ruangan Jaejoong.
"Pola jahitan disebelah sini harus benar-benar diperhatikan. Dan juga—Ish," Jaejoong berdecak kesal, mana bisa dia berkonsentrasi kalau namja tampan suaminya itu terus saja mengedip-ngedip nakal ke arahnya.
"Jadi ingat, cutting kain harus rapi. Tentang cara penarikan benang dan pemasangan payetnya akan ku jelaskan nanti. Kalian boleh istirahat."
Di dalam hatinya, Jaejoong sangat senang karena suami tampannya rela untuk datang di sela-sela jadwal rumah sakit yang sangat padat. Hanya saja, dia bukan tipe yang blak-blakan. Setelah terpaksa menutup penjelasannya, namja cantik itu segera meninggalkan ruangan tanpa menunggu asisten-asistennya keluar.
"Hey cantik, kenapa tidak kau lanjutkan saja penjelasan pada mereka? Aku bisa menunggumu, sungguh." Ujar Yunho sambil menyusul langkah Jaejoong yang sedikit dihentak-hentakan.
"Jangan berisik, Jung."
"Hahahaha, kau ini, cantik sekali saat sedang marah, boojae~"
Salah seorang yeoja muda karyawan baru di Moldir memandang penuh kekaguman pada bos dan kekasihnya "Kekasih bos tampan sekali."
"Hei, jangan asal bicara. Mereka itu sudah suami-istri!"
"... Oya?"
"Iya. Mereka berdua sudah cukup lama menikah. Dan sebelumnya sudah berpacaran belasan tahun."
"Ooo... aku baru tahu,"
"Suami bos itu, katanya dokter bedah paling jenius, loh." sahut karyawan yang lainnya
"Wow.. Jenius dan tampan. Mereka berdua sangat serasi. Anak-anak mereka pasti sangat sempurna."
"... Sayangnya, mereka belum punya anak sama sekali." Dan karyawan lainnya jadi ikut menggosipkan bos mereka yang cantiknya minta ampun itu.
.
.
.
(Ola Youido, italian café)
"Aku mau pasta." Yunho menurunkan buku menu yang tadi menutupi sebagian wajahnya. "Sudah lama tidak makan itu. Kau mau apa, Boojae?"
"Terserah."
"Oh ayolah Sayang.. Bersemangatlah sedikit. Senyum cantiknya untukku mana?"
"Yunniiiiieeeee…" Jaejoong mengalah juga. Pipinya merah merona parah, suaminya ini benar-benar hebat dalam menggodanya.
.
.
"Ya, Yoochun ah!" Sapa Yunho ketika melihat sahabat mereka yang baru saja muncul dari pintu café.
"Oy, Hyungdeul. Kalian sedang disini?" sapa balik namja berjidat sedikit lebar itu, dengan senyum khasnya.
"Humm.."jawab Jaejoong, "Dimana Su-ie? Oh.. Annyeong Inhwannie.. Sini baby, sama Jae jumma.. "
"Inhwan, cepat besar sekali!" perhatian Yunho langsung teralih pada bocah kecil yang sekarang berada dipangkuan istrinya.
"Junsu sedang tidak enak badan di rumah. Makanya aku mau mengambil pesanan take-away kami dan akan langsung pulang. Boleh aku titip Inhwan, hyungdeul? Aku akan mengambil pesananku sebentar."
"Kka, tinggalkan anakmu, bersama kami.." usir Yunho, "Annyeong baby, ini Yunho Jussi, Inhwannie, sudah bisa apa, nih?"
Yunho pun berjongkok dihadapan Jaejoong, dia memegangi tubuh balita gembul itu ketika Inhwan mulai aktif menggerak-gerakan lehernya mengikuti musik yang diputar di café.
"Hey, baby, Kau berjoget?" heran Yunho yang matanya langsung bersinar cerah ketika dia melihat Inhwan yang semakin antusias menggerakan kepalanya.
Balita itu kemudian merentangkan tanganya ke depan, seolah ingin menggapai Yunho. Dia tertawa ceria.
"Aduh, pintar sekali! Hebatnya anak jumma…" tawa Jaejoong.
"Yaaa.. Boojae, gantian menggendongnya.." pinta Yunho sambil merentangkan tangannya, meminta balita itu pada Jaejoong.
Jaejoong menyerahkan balita imut itu kepada suaminya yang sekarang terlihat sumringah. Bahkan dia sendiri pun tidak bisa mencegah senyumnya melihat Yunho jika namja tampan itu sudah terlalu antusias dengan anak kecil. Yunho segera memeluk anak itu ketika Jaejoong menyerahkannya. Yunho kemudian menggendongnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
"Kau manis sekali hari ini, Inhwannie!" Jung Yunho itu mencium gemas pipi balita montok itu dan membuat Jaejoong tersenyum. Sesaat kemudian, Inhwan pun dikembalikan pada Yoochun, ketika namja berjidat lebar itu selesai dengan makanan pesanannya.
"Semoga kau segera menyusul, Hyungdeul. Ah, maaf, ya, aku harus segera pulang. Suie sudah menunggu. Jja, baby, katakan bye-bye pada Yunho jussi dan Jae jumma.."
"Thaa.. Thaa.." balita kecil itu mengoyang-goyangkan tangannya, imut.
"Gyaaaaa… popo jussi dulu, baby."
Cup..
Kemudian ayah dan anak itupun berlalu. Yunho menatap kedua orang itu hingga jauh, sebab Inhwan masih melihat kepadanya dan melambai-lambaikan tangannya, hingga keduanya keluar dari pintu café, Yunho belum melepaskan pandangannya.
Jaejoong bisa menangkapnya, namja cantik itu mengerti keinginan suaminya dan menyimpulkan sesuatu.
"Maaf."
Yunho tersentak, ketahuan sekali bahwa dia tadi melamun.
"Apa? Maaf katamu tadi? Untuk apa, sayang? Kau punya salah? Apa kau diam-diam membuang kaus kakiku lagi?"
Jaejoong hanya diam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Hahahaha,.. kau ini.." Yunho mencoba mengelak dari apa yang akan istrinya bahas. kemudian ia menyesap kopinya yang sudah mulai dingin itu.
"Maaf.. Karena belum bisa memberimu kebahagiaan itu."
"Hmmm?" Yunho terlihat bingung. Namun, bohong jika otak jenius Yunho tidak bisa mencerna maknanya.
"Mungkin saja semua ini sebenarnya karena aku…."
"Boojae, aku tidak mengerti. Sudahlah, kita bicarakan hal lain saja, ya."
.
.
.
Setelah makan siang singkatnya dengan Jaejoong, dokter tampan itu kembali ke rumah keduanya, istilah khusus dalam kehidupan seorang Jung Yunho. Seringkali dokter bedah terkemuka itu harus bolak-balik rumah pertama (rumahnya sendiri) dan rumah keduanya secara mendadak dikarenakan panggilan operasi atau pertukaran jadwal shift yang kadang kacau dan tak terduga. Tak jarang juga, ia harus menginap disana, tapi hal itu tidak pernah membuat Jaejoong-nya marah. Namja cantik itu selalu mendukungnya, bahkan seringkali ikut ke rumah sakit untuk memberi semangat pada suaminya.
Seperti saat ini Jaejoong, setelah makan siang, ia kembali ke butiknya sebentar hanya untuk mengambil tas dan merengek untuk ikut Yunho yang hendak kembali ke rumah sakit. Dan Yunho tidak pernah menang melawan Jaejoongnya, tidak pernah berhasil melarangnya untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Belakangan ini, Jaejoong selalu bersikeras ikut Yunho kemanapun dokter tampan itu pergi
Sore ini dokter jenius itu datang untuk pemeriksaan kedua pada Kim Hyuna, pasien bedah paru-paru dua minggu yang lalu, yang tadi pagi kembali masuk rumah sakit karena memiliki masalah pada kateter WSDnya.
Seharusnya pemeriksaan baru dilakukan pada malam hari sekitar pukul tujuh, tapi biasanya yeoja cilik itu akan tertidur setelah makan malam, sekitar pukul enam, jadi Yunho memutuskan untuk memeriksanya sebelum Hyuna makan malam.
"Kenapa sih, Yun, akhir-akhir ini kau sering sekali menyuruhku istirahat? Aku tidak sakit, kok. Aku tahu kapasitas tubuhku sendiri." Gerutu jaejoong ketika mereka berdua berjalan menuju kamar rawat Hyuna.
Jung Yunho, yang akhirnya menurut saja setelah istrinya memaksa untuk turut berkunjung ke kamar Hyuna, tetap menatap lurus ke depan.
Terdengar hembusan napas yang panjang namun tipis dari bibir cherry kekasihnya itu, tanda bahwa Jaejoong masih menantikan jawaban untuknya.
"Kalau aku minta begitu, ya lakukan sayang, Aku suamimu. Dan itu semua untuk kebaikanmu."
"Kebaikanku adalah selalu bersamamu, Yunnie.."
"Tapi aku tidak mau kau kelelahan, sayang."
"Aku tahu, kapan aku lelah, Yun." sifat keras kepala Jaejoong memang tidak pernah ada duanya.
"Karena kelelahan bisa menjadi salah satu faktor kemungkinan kita sulit punya anak."
Jaejoong langsung terdiam. Baru saja tadi siang, Jaejoong merasa dadanya sesak memikirkan kenapa dirinya belum hamil. Dan bukannya masih banyak hal lain yang bisa Yunho ungkapkan pada kekasihnya itu? Jaejoong sendiri benar-benar tidak memperhitungkan bahwa Yunhonya akan mengangkat topik itu sebagai alasan, setelah tadi siang di café, suaminya itu berpura-pura tidak mengerti akan maksud ucapannya.
Memang benar, Jaejoong tahu persis dirinya sendiri, dia adalah tipe keras kepala dan tidak bisa diam. Dia tahu bahwa dirinya seringkali merasa kelelahan, tapi dia tak pernah terlalu mempermasalahkannya, sebab dia tahu persis tubuhnya sendiri, dia punya resistensi tinggi terhadap kelelahan. Dia tidak gampang capek, dia tidak pernah benar-benar merasa lelah sampai sakit.
"Menurutmu ... begitu, ya ..." Jaejoong tiba-tiba kehilangan senyum cerianya yang dia pasang tadi, saat merengek untuk ikut ke rumah sakit. "Maaf. Ini memang salahku." Sambungnya lagi.
"Siapa yang menyalahkanmu?" Yunho menghentikan langkahnya, kini mereka berdua berdiri berhadapan di depan pintu kamar rawat Hyuna.
"Itu tadi kau bilang."Jaejoong menatap Yunho dengan sorot mata yang tidak bisa dibaca Yunho.
"Maksudku—"
"Jelas-jelas ini faktor dariku, kan?!"
"Sayang," teguran Yunho yang bernada seperti ini selalu sukses membuat Jaejoong diam dan menunda semua argumennya. "Aku tidak bermaksud berkata seperti tadi."
"Aku tidak apa-apa."
"Boo, tadi maksudku—"
"Cukup. Jangan dilanjutkan lagi."
"Aku belum selesai dengan kalimatku, Boo."
"Yunnie, Sudahlah."
Yunho menahan napas, berusaha keras menahan diri.
"Kau pikir aku memintamu begini untuk siapa?" Yunho bertanya dengan segala kelembutan yang dia punya. "Aku memintamu untuk menjaga kesehatanmu agar apa yang kau inginkan bisa lebih cepat dicapai."
"Yang ku inginkan?" desak Jaejoong.
"Ya. Jangan kira aku tidak mengerti apa keinginanmu. Kau semakin dekat dengan anak-anak akhir-akhir ini, terutama Inhwan. Aku tahu apa yang membuatmu melakukan itu. Dan setiap kali bersama mereka, kau selalu terlihat seakan-akan meminta maaf padaku, karena tidak bisa memberikan kebahagiaan."
Yunho mengembuskan napas tanda menyesal telah secara tidak sadar melukai Jaejoong, dia lantas memejamkan matanya sebentar.
"Kau juga sangat menginginkannya kan? Ini sudah terlalu lama. Aku memiliki rahim dan kau juga normal, aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi. Aku senang ketika melihatmu tertawa ceria dengan anak-anak, tapi aku merasa aku semakin merindukan hal yang sebenarnya tidak ada. Dan ketika melihatmu berdekatan dengan mereka, aku tahu aku gagal memberimu kebahagiaan, Yun."
Yunho memicingkan mata musang sipitnya. "Begitu menurutmu?"
"Kau menginginkan seorang anak kan, Yun?" suara merdu namja cantik itu mulai pecah dan serak.
"Geuree, aku memang menginginkan anak. Kau puas?"
Degh
"Yunnie.." air mata itu meluncur bebas dari kedua mata bening milik istrinya.
Yunho mengeluarkan kedua tangannya dari saku jas putih yang dia kenakan.
"Aku memang menginginkan anak. Tapi lebih dari apapun itu, aku hanya menginginkan dirimu. Yang aku butuhkan hanya dirimu, sayang."
Yunho mengangkat tangannya, menyeka pipi pucat Jaejoong yang telah basah oleh tetes-tetes air mata. "Hapus air matamu. Hyuna tidak akan senang melihat kau datang sambil menangis. Kau tahu? Diantara semua hal yang kubenci di dunia ini, air matamu adalah yang nomor satu." Yunho berucap di sela-sela usahanya untuk menghentikan tangis Jaejoong. "Jangan jadikan ini beban untuk kita. Aku sangat mencintaimu sayang dan tidak pernah benar-benar mengharapkan apapun, selain dirimu, termasuk memiliki anak."
Jaejoong menggenggam tangan Yunho yang masih berada di pipinya.
Namja cantik itu tersenyum tipis. Dia tahu itu.
"Dan kita sudah memastikan berkali-kali, kan? Tidak ada yang salah diantara kita. Ini cuma soal waktu. Karena ini belum saatnya, maka dia belum datang. Nanti, kalau saatnya sudah tepat, dia pasti hadir. Jangan terlalu dipikirkan," Yunho menarik tubuh mungil istrinya itu kedalam pelukan eratnya, dan membiarkan Jaejoong menumpahkan segala resahnya disana. Dan karena Yunho memeluknya dengan erat, Jaejoong jadi tidak tahu bahwa suami tampannya itu juga sedang mencoba menahan airmata, menyembunyikan keinginan sebenarnya yang akan selalu tersimpan rapi di hatinya.
.
.
End
.
.
Ps: WSD (Water Seal Drainage) suatu usaha untuk memasukkan kateter ke dalam rongga pleura dengan maksud untuk mengeluarkan cairan yang terdapat di dalam rongga pleura, seperti misalnya pus pada empisema atau untuk mengeluarkan udara yang terdapat di dalam paru-paru.
.
.
.
.
Ketik reviewnya dulu dong, Unniedeul, Oppadeul, Saengideul… wink
Gomawo sudah mampir~ :-)
