Hey-ho! I'm back! Ohoho maaf kalo updatenya lama banget.. saya sedang (sok) sibuk.. hoho gak deng, beneran lagi banyak kerjaan.. terutama kerjaan rumah tangga seperti nyuci piring dan baju yang gak ada habisnya,, *kekekek curhat..Sebelumnya selamat lebaran ya guys! Mohon maaf batin!

Thank u so so much buat yang udah review!

Naara Akira: makasihh Naara-san! i will fightttttt!^^

Kazekuro Yuka-chan: maaf yaa updatenya gak lightning speed..^^ hehe makasih banyaaaakkk!

RisaLoveHiru: hehehe.. arigato Risa-saann! hope u can enjoy this sequel?

kin-chan: arigato Kin-chan! maaf ya updatenya telat! tapi saya akan berusahaaa!^^

Rizu Hatake-hime: maaciihh.. maacihh,,^^ mirip nggak ya? mudah2an sih lebih baik daripada ibunya Jun Pyo.. kita lihat sajalah nanti,, hohoho

pucca-darkblue: iya ya,, saya juga iri.. hehehe.. terimakasih sudah membaca yaaa!

namikazepamela: huehehe maaf ya updatenya lamaa.. thank u 4 reading!

Sonice 69: arigato Ritsu-san! dulu sih bisa gambar,, *sekarang ga pernah gambar lagi* hehe,, maaf updatenya agak ngaret yaaahh..

Akane-chanLuphAkaba: hehe.. tau nih si Yamato.. gemes aja sama si Karin kaya'nya,, hehe,, thank u 4 reading!

miyu69 'Zzz: Arigato Miyu-san! maaf ya updatenya agak lama..^^

undine-yaha: Undine-saaaaan! haihaihaiii aku merindukanmu jugaaa! aku sudah baca YamaKarin mu lhooo,, ah seperti biasa, saja jadi gemesss.. thanks 4 reading yahh! reviewmu selalu kutunggu!^^

SatanSpawn: ehehe.. emang begitu si Karin.. makanya calon mertuanya gemess,, ohohoh

Matsura Akimoto : makasiiihh Akimoto-san! iya,, ini memang lanjutan dari yang ituuu.. yang ituu lhoo.. halah, apa sih ini,, hehe..thank u for reading yaa..

It's chapter 2! kali ini penceritaanya kembali lagi ke Karin yah.. hope u like it too..^^ review if u don't mind ya guys,, enjoy!

-oo-

The Princess and The Queen

-Chapter 2-

-oo-

"Hatsyiim!"

Aku menggosok-gosok hidungku yang terasa gatal.

Musim semi tak selalu menyenangkan bagiku. Penyerbukan yang terjadi dimana-mana membuatku sering bersin.

"SENSEII!" teriakan Nacchan mengejutkanku.

"Halaman ini! Kenapa di halaman ini ada gambar karakter yang seharusnya nggak ada di halaman-halaman sebelumnya?"

"Apaaa?" aku merebut halaman yang dimaksud dari tangannya.

O ow.

"Agh! Aku salah menempelkan tone!" Megumi-chan berteriak panik.

Dan tiba-tiba Chii-chan tak sengaja menyenggol mug kopi hingga jatuh dan sedikit berceceran di meja naskah. "Oops," katanya pelan.

"Hwaaa!" kami serempak menyingkirkan naskah dari meja sebisa kami.

"Aku akan membersihkannya," Chii-chan bergegas meniggalkan meja untuk menuju dapur, dan kembali dengan membawa lap basah.

Aku mengambil nafas panjang melihat kekacauan yang ada di apartemenku.

Deadline tinggal 3 jam lagi. Halaman yang harus dikerjakan masih ada 12 lagi. Juu-ni. 12. Selusin.

Aku menghela nafas yang sejak tadi kutahan.

Ruang tamuku tak lagi terlihat seperti sebuah ruang tamu. Kertas dimana-mana -baik yang masih kosong maupun yang sudah jadi sampah-, peralatan menggambar berserakan, mug kopi yang entah berapa jumlahnya, dan wajah-wajah lelah dengan rambut yang acak-acakan.

"Sudah bersih tuh mejanya, yuk kita kerjakan lagi!" aku berusaha menampakkan wajah ceria dan meyakinkan ke asisten-asistenku.

Yang tampaknya gagal.

"Ayo dong! Pasti bisa selesai kok girls!" aku duduk lebih dahulu dan menjejerkan naskahku, bersiap melanjutkan menggambar. Akhirnya Nacchan mengangguk dan mengikutiku duduk, begitupun Megumi-chan.

"Gomen, sensei.." Chii-chan menundukkan kepalanya dengan manis, meminta maaf atas gelas kopinya yang jatuh.

Kawaii~. Ups. Ehem, kebiasaan buruk.

"Ii yoo, Chii-chan!" aku menepuk pundaknya.

Waktu sudah menunjukkan jam 1 pagi. Mataku mulai berat dan tanganku mulai pegal, tapi aku tahu semangatku tak boleh hilang.

Aku mengingat-ingat sms yang kudapat dari Yama.. ehem, Takeru tadi..

'Semangat! Besok aku akan datang untuk masak dan beres-beres. = Aku tahu pacarku akan terlalu lelah untuk makan dan bersih-bersih ;P = I know u can do this! Luv u.. :)'

Aku tersenyum.

"Semangaaaaaat!" aku menyemangati ketiga asistenku.

Aku tak sabar menemuinya pagi ini,

Yamato Takeru, sumber semangatku.

-oo-

Lost without you..

I can't help myself..

How does it feel, to know that I love you, baby...

Aku membuka mataku perlahan-lahan, merespon lagu 'Lost Without You' yang sayup-sayup dinyanyikan di dekat telingaku.

Cahaya matahari masuk melalui sela-sela badannya yang menutupi jendela, menyinari rambutnya yang berwarna cokelat hingga terlihat berwarna keemasan.

Ia mengelus rambutku dan tersenyum hangat, "Good morning princess.."

Senyumnya melumerkan pagiku seperti mentega yang lumer di penggorengan.

Aku bisa merasakan senyuman bahagia yang ada di wajahku ketika mengatakan "Ohayo~ Takeru.."

Ia mencium keningku singkat dan bangun dari sofa tempatku tidur, "I'll make you a tea.."

"Hemm.." aku menggelung dan menggumam manja dari sofa, masih menikmati tidur-tiduranku pagi ini.

"Oh ya, akan kubikinkan kalian juga.." katanya singkat.

KALIAN?

Aku mengangkat tubuhku dengan cepat dari sofa, dan melihat.. 3 asistenku yang berdiri di balik sofa dengan wajah merah.

"Pagi sensei.." Nacchan menyapaku, salah tingkah.

Mereka.. dari tadi.. disini? Melihat..yang tadi? DISINI?

AAGGGGGGHHH! RASANYA AKU INGIN MATI SAJA!

Aku melompat masuk ke dalam selimutku, menutupi wajahku yang terasa sangat-sangat-amat panas karena malu.

Mereka pasti berpikir kalau kami adalah pasangan yang suka mengumbar kemesraan. AAAGGHH!

Aku mengintip dari balik selimut dan melihat Takeru yang sedang membuat kopi dengan cool-nya. Laki-laki ituuuuuu! Bagaimana bisa ia memanjakanku dengan tenang di depan teman-temankuuu?

Lalu aku mendengar ketiga asistenku tertawa. Aku bisa merasakan mereka duduk di sofa yang sedang kutiduri, "Hmmh.. bikin iri aja.." aku mendengar Megumi-chan berkata.

"Iya yaa.. senangnya.. Yamato-kun dari tadi duduk disini lho.. memperhatikan sensei tidur, mengelus rambutmu, dan bernyanyi untukmu tanpa merasa risih akan kehadiran kami. Perhatiannya hanya tertuju sama sensei..." Nacchan bercerita.

Aku menyembulkan kepalaku dari balik selimut, "Hontou?*" tanyaku malu-malu.

Chii-chan tersenyum dan berkata, "Pacarku tak akan melakukan semua ini untukku. Lucky you.."

Aku tersenyum lebar dan kami mulai tertawa lagi. Aku masih merasa malu, tapi setidaknya aku merasa lega karena teman-temanku berpikir bahwa aku adalah seseorang yang sangat beruntung, dan malah sedikit iri karenanya.

Takeru menyela kami yang sedang tertawa dengan membawakan teh ke meja, "What's with the giggling girls? Something's funny?"

Aku membalasnya dengan cool, "Onna no hi-mit-su!*"

Ia mengangkat sebelah alisnya dan tertawa, "Ok then.."

Aku sedang meminum tehku dengan tenang ketika ia berkata,

"Karin, setelah ini bersiap-siaplah.. kita akan makan siang dengan ibuku."

Yang langsung membuatku tersedak dan terbatuk-batuk.

Heeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee?

-oo-

Aku bersyukur asisten-asistenku masih ada di apartemenku pagi tadi.

Mereka membantuku menata rambut dan bahkan make-up ku. Aku terlihat cukup rapi dengan rambut yang diikat sebagian dengan jepit keemasan.

Aku memilin cardigan kuning-ku dengan gugup. Chii-chan yang memilihkan cardigan ini, dipadukan dengan mini dress yang ber-aksen hijau dan emas, dilengkapi dengan belt cokelat khaki mungil di pinggang.

Aku memadukannya dengan clutch bag dan pump shoes berwarna hitam.

"You look beautiful, huney," Takeru mencoba menenangkanku walaupun pandangannya terfokus pada setir dan jalan yang ada di depan.

Walaupun begitu, ia juga terlihat sedikit gugup, dan ini tidak membuat .perasaanku lebih baik.

Ia terlihat tampan dengan polo shirt adidas hijaunya dan celana kotak-kotak cokelat yang serasi.

Itulah satu alasan lagi kenapa aku memakai mini dress hijau. Agar kami tampak serasi. Ehm.

Kami sampai ke The Peninsula hotel, dimana ia turun dan menyerahkan kuncinya pada petugas valet dan membukakan pintu mobil untukku.

Aku turun dan mengagumi hotel bintang lima ini.

Makan siang. Ha. Ketika ia bilang makan siang, aku pikir itu akan terjadi di rumah keluarganya, bukan di sebuah hotel mewah.

Ia menggandeng tanganku dan berbisik, "Considering this place for a honeymoon?"

Aku memukul lengannya dengan wajah merah. Ia tertawa dan membuat perasaan gugupku sedikit berkurang.

Kami bergandengan tangan dan masuk, ia membimbingku ke sebuah restoran dengan teras yang berada di ujung hotel tersebut.

Kami menghampiri sebuah meja, yang ditempati oleh seorang wanita dengan rambut yang digelung rapi yang sedang memandang ke teras.

"Mom," Takeru menyapa.

Wanita itu, dengan mata cokelatnya yang indah, rambut yang sempurna, setelan serta tas tangan Chanel musim semi yang hanya bisa kulihat di etalase butik, kulit yang putih, dan wajah yang masih terlihat cantik itu, menoleh dan menatap Takeru dengan mata berbinar.

"Tacchan!"

Membuatku hampir terjungkal.

Ta.. TACCHAN?

Aku menahan tawaku. Wah. Ternyata lebih jepang dari yang kukira.

Ia bangkit dengan anggun dan mengecup kedua pipi Takeru. Ia lalu menggenggam sebelah tangan anaknya sambil tersenyum.

Ah, Yamato-mama kelihatan hangat. Mungkin Takeru hanya sedikit berlebihan ketika bercerita tentangnya.

Lalu dalam seketika aku mengerti kenapa ia menyuruhku untuk bersiap-siap.

Ia mengalihkan pandangannya dari Takeru dan menoleh ke arahku. Pandangannya yang hangat tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi dingin menusuk ketika ia menoleh ke arahku.

Seperti meniupkan angin dingin di tengkukku.

Takeru menggandeng tangnku, "Mom, this is Karin, my girl.." Ia menatapku menenangkan.

Aku agak tersanjung mendengar perkenalannya dan membungkukkan badanku sopan, "Koizumi Karin, hajimemashite.."

Ia menyunggingkan senyum formal, "Ah, please sit down," lalu ia duduk mendahului kami.

Jari-jarinya yang bermanikur cantik mengetuk meja dengan pelan, seakan ia tidak nyaman berada di sini.

"Tacchan, mommy sudah order makanan kesukaanmu, tapi.. ah, Koizuka-san, aku belum memesankan untukmu,"

"Koizumi, mom," Takeru membenarkan.

"Ah ya, Komizuki-san.."

"Koizumi,"

Lalu ibu dan anak itu saling menatap sambil tersenyum dingin penuh arti.

Dengan aku terjepit di tengah-tengahnya.

Yang seketika merasakan sakit di perut dan ingin pulang.

Yamato Ayame-san lalu memundurkan duduknya dan tersenyum rileks.

"Koizumi Karin-san, if i'm not mistaken.. watashi wa Yamato Ayame desu, Takeru no haha desu. Hajimemashite*.." ia membungkukkan badannya anggun.

"Ah!" aku membungkukkan badanku lagi, "Haik! Yoroshiku onegaishimasu!*" aku bisa merasakan wajahku memerah. Perkenalan ini terlalu formal hingga membuatku merasa ini seperti pertemuan sebelum pernikahan.

Ia kembali menegakkan posisi duduknya, "Jadi.. apa pekerjaannmu?" tanyanya sambil memanggil waiter untukku dan Takeru.

Takeru memilihkan menu untukku.

"Saya.. seorang mangaka.."

Ia terlihat bingung sejenak, "Ma..?"

"Mangaka," aku mengulang, "Comic artist.."

Ayame-san tiba-tiba terlihat seperti kurang darah.

"Mom?" Takeru memegangi pundaknya yang lunglai, "Mom, are you ok?"

Ia kembali membenarkan posisi duduknya, kembali menatapku yang rasanya terkena serangan jantung dengan tatapan menyelidiki, "Bisa masak?"

"Mmmm.. sedikit.." jawabku tak yakin.

"Menguasai ilmu ekonomi, bisnis?"

"Hmm mm.. haik.. mochiron.." lagi-lagi dengan tak yakin.

"Merangkai bunga, upacara minum teh?"

Aku hanya bisa terdiam.

"Menguasai table manner?"

Ketika aku masih terdiam, ia terlihat seperti akan pingsan.

"Mom, your question is not fair.. Karin adalah mangaka yang hebat, ia adalah salah satu mangaka terpopuler saat ini.. ia punya banyak bakat!" Takeru menyanggah pembicaraan kami.

Ok.. sepertinya aku tahu ini mengarah kemana, akan kuhentikan sebelum ia membawa-bawa masa SMA-ku. "Take.."

"Ia tak sempat mempelajari semua itu karena ia adalah quarterback yang sangat handal waktu SMA dulu!"

Oh tidak.

"Quarter.. back?"

"American Football quarterback.."

O ow.

Dan seperti gerak lambat, aku bisa melihat Ayame-san melunglai di kursinya. Dengan mata tertutup.

Ia pingsan.

PINGSAN.

Takeru menngguncang-guncangkan tubuhnya, dan memanggil waiter, sementara aku juga merasa ingin pingsan saja.

Kehebohan terjadi. Takeru terpaksa membayar 1 kamar untuk Ayame-san beristirahat.

Semua orang berlalu lalang kesana kemari, dan aku menemukan diriku dalam kebingungan.

Aku tahu aku pernah mengatakan ibuku adalah drama queen, tapi tidak seperti ini.

Tuhan.

Ya Tuhan, aku berharap ini semua hanya mimpi buruk.

-oo-

Sesuatu telah terjadi dalam hubunganku dengan Takeru.

Badai.

Badai yang bernama Yamato Ayame.

-oo-

to be continued...^^

Hontou?: benarkah?

Onna no hi-mit-su!: Ra-ha-sia perempuan!

Watashi wa Yamato Ayame desu, Takeru no haha desu. Hajimemashite: Saya adalah Yamato Ayame, ibunda dari Takeru. Pertama kali bertemu

Haik! Yoroshiku onegaishimasu!:Ya! Perkenalkan!