SUMMER SKIES
Story © Kenzeira
.
.
Chapter II : Welcome Back, Memories
.
.
Sai terjaga di tengah malam. Tubuh kurusnya ditutupi selimut tebal bermotif bendera Inggris. Ia mencoba duduk. Meringis setelahnya, sadar ternyata tubuhnya belum baik-baik saja.
Ponsel pintar di atas meja nakas berkelip-kelip. Ia meraihnya. Ada tiga pesan masuk, salah satunya dari Juugo. Katanya semoga lekas sembuh. Sai menghela napas dan merasakan udara yang berembus dari hidungnya terasa panas. Ia terbatuk pelan lalu mengambil air mineral di atas meja. Sai meneguknya. Ia menggigil dan kembali berbaring.
Langit-langit kamar yang putih polos menjadi obyek pandangan. Shin pernah menawarinya menghiasi langit-langit itu dengan gambar awan-awan tapi Sai menolak dengan alasan terlalu kekanakan. Ah, ia jadi rindu pada kakaknya yang baik dan kadang jahil itu.
Arah pandangannya bergeser menuju lukisan di samping pintu. Lukisan yang ia buat sendiri sembari membayangkan kekacauan orangtuanya. Garis biru gelap membentuk pola lingkaran besar di tengah-tengah, serupa gumpalan awan hitam yang siap mengamuk dan memberi hujan badai. Untuk latar ia gunakan warna biru tua, dihiasi bercak-bercak cat merah semerah darah. Sai merenung, memikirkan di mana letak kehidupan dari lukisan itu. Segalanya terlihat mati, tanpa harapan.
Tapi seseorang berkata menyukai lukisan itu karena lebih hidup dari pelukisnya sendiri. Uchiha Sasuke. Sai tersenyum tipis lalu memejamkan mata.
Ia melihat kebersamaan yang menyenangkan di masa lalu. Delapan-sembilan tahun lalu tatkala Sasuke berkata menyukai lukisannya.
'Sasuke … kenapa kau menyukai lukisanku?'
Sai bertanya demikian karena jujur saja, ia merasa tak ada yang indah pada lukisannya. Di sana hanya terdapat kesuraman dan gelap. Serupa ruang-ruang di dalam hatinya. Tapi, mendengar alasan Sasuke, Sai tidak tahan untuk tak tertawa. Ia tertawa. Merasa lucu. Kemudian tersadar, sudah lama sekali sejak ia tertawa seperti itu. Tiba-tiba ia merasakan hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sai merasa bahagia dengan alasan yang sama sekali tidak ia tahu.
Setiap hari mereka menghabiskan waktu di ruang kosong—ketika istirahat maupun saat jam pelajaran tidak ada. Mula-mula Sai merasa tidak tenang. Diperhatikan saat sedang melukis membuatnya sedikit gugup. Akan tetapi, semakin lama, ia semakin terbiasa. Tanpa ada Sasuke rasanya melukis seperti tidak melukis.
Mereka hanya diam, membiarkan keheningan meraja namun hangat memenuhi ruang-ruang di hati mereka. Tak perlu banyak bicara, mereka sudah merasa nyaman seperti itu. Kadang Sasuke memberi komentar tentang lukisannya dan banyak hal lain seperti meminta penjelasan mengapa Sai memiliki kulit seputih alabaster, mengenai ukuran sepatu hingga perkiraan cuaca. Sai merasa senang mengobrol dengan Sasuke, begitu pula sebaliknya.
Hingga suatu kejadian membuat hubungan keduanya hancur.
Di suatu siang ketika cuaca cerah pada musim panas, mereka berada di ruang kosong seperti biasa. Sai melukis dan Sasuke memperhatikan. Tidak ada yang aneh. Mereka bicara mengenai hal-hal sepele—meski didominasi oleh keheningan yang hangat. Sampai Sasuke bertanya mengenai hal yang bagi Sai terdengar aneh.
'Sai, menurutmu aku bagaimana?'
Saat itu Sai tengah menggores warna merah pekat di tengah lukisannya. Ia biasa menjawab tanpa menoleh, tapi kali ini ia menoleh dan bingung harus menjawab apa.
'Kau … hmm, baik dan menyenangkan?' Sai bahkan menekankan tanda tanya di ujung kalimatnya. Ia sendiri tidak tahu. Sasuke ya Sasuke.
Tapi ia tahu Sasuke tidak puas mendengar jawabannya.
'Sasuke, menurutku kau itu pintar walaupun agak aneh—maksudku, kau sudi mengobrol dengan orang aneh sepertiku. Tapi yang terpenting dari itu semua adalah, kau membuatku merasa nyaman.'
Sai tidak tahu di mana letak kesalahannya. Tiba-tiba Sasuke mendorong Sai ke dinding. Palet di tangan kiri terjatuh, cat minyak tumpah ke lantai. Sai meringis dan meminta Sasuke melepaskannya. Tapi cengkraman di bahu semakin erat.
'Sai … aku—'
Sai tidak tahu. Tapi ia yakin saat itu ia akan mendengarkan sebuah pengakuan yang pasti membuatnya terkejut. Sasuke akan mengatakan sesuatu yang penting, yang bisa mengubah hubungan keduanya. Sai menahan napas tatkala wajah Sasuke mendekat. Hendak menciumnya. Ia memejamkan mata, erat-erat. Tapi tak ada apapun yang terjadi.
Sasuke melepas cengkramannya dan pergi meninggalkan Sai di ruang kosong itu.
Esoknya ia tak menemukan Sasuke di ruang itu. Sai melukis sendirian. Waktu berlalu dan ia masih sendirian di sana. Sampai suatu ketika ia mendengar kabar mengejutkan.
Sasuke overdosis narkoba dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah itu, ia juga mendengar kabar Sasuke melanjutkan sekolah di Tokyo. Mereka berpisah tanpa kata.
Sai menghela napas lagi. Ia mulai merasa hangat. Dilonggarkannya selimut tebal itu. Ia berbaring menyamping.
Kadang, Sai membayangkan, bagaimana seandainya jika Sasuke melanjutkan kalimatnya siang itu, bagaimana seandainya apabila Sasuke benar-benar menciumnya. Ia barangkali akan terkejut, merasa tak menyangka. Tapi ia akan tersenyum dan memeluk lelaki Uchiha itu. Membisikan sesuatu yang kurang lebih bermakna sama.
Ya. Aku juga menyukaimu, sebagai laki-laki.
Tidak akan ada perpisahan tanpa kata. Mereka bisa baik-baik saja. Melanjutkan kebiasaan melukis di ruang kosong ditemani seseorang. Mereka akan bergurau dan sesekali diselingi ciuman-ciuman kecil.
Sai tiba-tiba merasa sesak. Ia mencengkram dadanya.
Kini, mereka bertemu kembali. Sasuke sudah berubah. Lelaki itu begitu dewasa dan semakin tampan. Tapi ada sesuatu di balik semua itu. Sasuke seperti menyimpan luka dari masa lalu. Wajahnya dengan jelas menyiratkan hal itu ketika mereka berada di atas ranjang yang sama.
Ia meringis perih tapi Sasuke yang berada di atas tubuhnya memasang wajah yang lebih perih lagi. Ia merasa bersalah. Barangkali keberadaannya membawa luka lama.
Sai tidak tahu apa yang bergejolak dalam dadanya. Tiba-tiba bertemu lagi dengan Sasuke … ia merasa kepalanya kosong. Blank. Dan tanpa pikir panjang mengulurkan tangan. Sasuke mengatakan sesuatu yang menyakitkan tapi ia tahu Sasuke tidak benar-benar ingin menyakitinya. Sai tak apa walau ia diperlakukan seperti bartender sewaan murahan.
Aku harap kita tidak bertemu lagi.
Kata-kata terakhir itu seolah mengulang sejarah lama. Sasuke meninggalkannya di Hotel Paradise.
Sai mencengkram sprei. Barangkali memang benar, keberadaannya membawa kembali luka di masa lalu. Mungkin lebih baik mereka tidak bertemu lagi. Tapi, di sudut hati Sai yang paling dalam dan rahasia, ia ingin kembali bertemu Sasuke dan memperbaiki kesalahan lama hingga mereka tidak akan sama-sama tersiksa.
Sai menangis diam-diam dan menemukan dirinya terjaga hingga matahari menyapa.
.
.
Suara bel terdengar tiga kali.
Menggeliat, Sai melirik ke arah jam dinding. Semalam ia tidak tidur dan tanpa terasa tidur di pagi hari hingga waktu menunjuk ke angka sebelas. Sai mengucek-ngucek kedua mata. Tubuhnya yang semalam menggigil kedinginan kini berkeringat banyak. Ia mendudukkan diri. Telapak kakinya menyentuh lantai.
Suara bel terdengar lagi. Sai sedikit mengeluh tapi ia tetap bangkit menuju pintu depan. Dibukanya pintu itu dan menemukan seseorang yang begitu familiar di matanya, seseorang yang semalam mengiriminya dua pesan singkat.
"Gaara-kun, silakan masuk."
Gaara segera masuk lalu melepas mantelnya. Sai bingung, padahal sedang musim panas tapi lelaki itu mengenakan pakaian tebal. Ia jadi bertanya-tanya, apakah tidak gerah. Di saat merenung seperti itu, tiba-tiba ia merasakan tangan dingin menyentuh dahinya.
Gaara tersenyum tipis. "Sepertinya kau sudah sembuh."
"A-ah, ya. Aku mau mandi dulu."
"Aku akan membuatkanmu tofu nuggets selagi kau mandi," kata Gaara. Sai bersin lalu segera mengusap-ngusap hidungnya. Ia baru sadar lelaki bertato di dahi kiri itu membawa kantung plastik besar yang ia yakin isinya adalah bahan-bahan makanan.
"Terima kasih, Gaara-kun. Aku selalu merepotkanmu."
Gaara mengibas-ngibaskan tangan. Lelaki itu bergegas pergi ke dapur sementara Sai sendiri masuk ke kamar mandi.
Sai sudah rapi dengan kaos pendek dan celana training panjang polos. Ia menghampiri Gaara yang masih berkutat di dapur. Sai mendudukkan diri di meja makan. Perutnya berbunyi. Untunglah Gaara tidak mendengar. Sai menyandarkan kepalanya di meja, matanya tak henti memperhatikan Gaara yang sedang memasak dengan cekatan. Mengingatkannya pada Shin.
"Kau suka susu stoberi? Aku membelinya dan sudah kusimpan di lemari pendingin. Persediaan susu vanila sedang kosong. Tidak apa-apa, kan?" lelaki itu bertanya sambil menggoreng masakan dalam minyak yang banyak.
Sai bergumam tak jelas. Intinya ia tidak masalah dengan itu.
Gaara sudah selesai. Lelaki itu meniriskan tofu nuggets di atas piring besar lalu menyimpannya di tengah meja makan. Sai memandang makanan kesukaannya itu, perutnya berbunyi lagi. Kali ini Gaara mendengarnya sehingga membuat lelaki itu tertawa. Sai menutup wajahnya yang memerah. Gaara membawa dua piring berukuran sedang dan air dingin.
"Sekarang kau bebas dari bubur yang tidak enak itu."
"Hmm … itadakimasu."
"Itadakimasu."
Keduanya menikmati makan siang bersama-sama. Sesekali diselingi obrolan ringan.
Gaara sering datang ke flatnya. Lelaki itu selalu membawa bahan-bahan makanan dan apapun yang bisa menjejali lemari pendingin. Kemahirannya dalam memasak diturunkan dari Temari, kakak perempuannya yang membuka restoran cepat saji di Kansai. Sudah setengah tahun ini ia mengenal baik Gaara. Kadang Sai merasa bingung, apa yang membuat lelaki itu rutin datang ke flatnya.
Mungkinkah gara-gara kejadian itu…?
"Ada apa, Sai-san?"
"Tidak, tidak ada apa-apa." Ia menyuap nuggets berlumur saus ke dalam mulutnya.
Sai merenung. Bukankah dulu ia sudah mengatakan bahwa sebaiknya mereka melupakan kejadian itu dan berteman seperti biasa. Sai mengunyah pelan. Barangkali tidak bisa semudah itu. Sebab, ia sendiri belum bisa melupakannya.
Mereka pernah bersetubuh satu kali. Empat bulan lalu.
Gaara sedang patah hati. Lelaki itu diselingkuhi tunangannya. Gaara berkunjung ke Bar Blue Organ meski lelaki itu murni menyukai perempuan, Gaara mungkin hanya ingin bertemu Sai dan mencurahkan isi hatinya di sana. Lelaki bertato kanji itu mabuk berat, Sai terpaksa pulang lebih dulu dari pekerjaannya. Ia membawa Gaara ke flatnya dan terjadilah sesuatu yang tak diharapkan itu.
Gaara berulangkali meminta maaf, merasa bersalah. Sai sudah memaafkannya, lagipula ia sendiri tidak menolak malam itu. Barangkali ia juga patah hati, mengingat seseorang yang sudah lama tak dilihatnya. Mereka sepakat untuk berteman seperti biasa. Tapi, rasanya memang munafik sekali. Tidak ada teman yang saling mencium seperti ini.
Sai tersentak kaget tatkala merasakan sesuatu yang hangat menekan ujung bibirnya. Itu lidah Gaara.
"Ada saus," ujarnya enteng.
Sai menutup mulutnya sendiri. Ia berterimakasih pada Gaara, berkat lelaki itu, ia hampir selalu makan enak setiap hari. Tapi kadang ia merasa sedang dipermainkan. Sai tidak suka. Ahh. Ia menghela napas sebelum menyuap nugget terakhir.
"Ngomong-ngomong, Gaara-kun, kemarin malam Kak Shin meneleponku. Apakah kau yang memberitahu kalau aku sedang demam?"
"Ya. Kau tidak suka?"
Sai meraih gelas dan meminumnya hingga tandas. "Tidak. Tapi tolong jangan lakukan lagi. Maksudku—aku bisa memberitahunya sendiri."
"Oke."
Gaara membereskan piring dan mencucinya. Sai sebagai tuan rumah merasa seperti tamu. Ia berbaring di sofa, menyalakan televisi, mengganti-ganti saluran lalu merasa bosan. Sai memeriksa ponsel. Tidak ada pesan masuk maupun panggilan tak terjawab. Ia mendesah, memutuskan memainkan permainan. Bola kecil memantul-mantul, menghindari lubang tak berdasar dan ujung tombak tajam yang mampu mengempeskan bolanya.
Gaara menghampiri dan menyodorkan sekian lembar uang ke depan wajah Sai.
"Aku menemukan ini di atas lemari pendingin."
Sai segera bangkit dan mengambil uang itu, uang pemberian Sasuke atas jasanya tiga hari lalu. Sekarang ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan uang itu pada Gaara.
"Sai-san, kau bahkan menghalangi uangnya dengan kain. Bisa kau jelaskan?"
Ia menyesal sudah menyimpan uang itu di sana. Salahkan tubuh lemasnya saat itu. Seharusnya ia segera menyimpan uang tersebut di dalam almari. Ia tak henti merutuk.
Keringat kecil muncul di hidung Sai. "Itu … bonus dari Juugo."
"Apa kau pikir aku akan percaya? Bonus yang bahkan lebih besar dari gajimu per bulan. Kau tidak bisa membohongiku, Sai-san."
Sai menggigit bibir. Gaara yang sedang marah adalah sosok yang paling tidak ingin ditemuinya. Ia hanya punya satu jawaban untuk lelaki itu.
"Gaara-kun, berhentilah mencampuri urusan pribadiku."
Sepasang mata Gaara membulat. Sai menundukkan kepala.
"Aku tidak percaya kau bisa berkata begitu."
"Maaf."
Lelaki berambut merah bata itu mendesah, menahan amarah. "Suasana hatiku sedang buruk. Lebih baik aku pergi dari sini. Kalau kau lapar aku sudah menyimpan tiga bungkus ramen di dapur. Permisi."
Gaara pulang. Sai merasa bersalah tapi ia tak mampu berbuat apa-apa.
.
.
Lampu-lampu di kota Tokyo tak pernah redup, mereka terang benderang seperti tak puas dengan siang. Sebagian kecil orang-orang beraktivitas di malam hari dan tidur di pagi hari. Sekarang ini mudah sekali menemukan manusia nokturnal, engkau hanya perlu melihat-lihat ke tempat hiburan dan kau akan menemukan mereka di sana. Banyak. Membludak.
Shimura Sai duduk termenung di dalam kereta. Ia memikirkan harus berapa banyak lagi lampu-lampu kota dinyalakan. Segalanya terasa menyolok mata. Ia mendesah. Kereta berhenti. Sai bergegas keluar, berdempet-dempetan dengan penumpang lain. Sebuah siku tak sengaja mengenai kepala, ia meringis pelan.
Lihat. Manusia barangkali semakin pintar dan modern, tapi mereka meninggalkan etika dan adat istiadat! Sai menggerutu tidak jelas. Tapi, kemudian ia sadar, rasanya ia tak pantas bicara seperti itu mengingat profesinya sebagai bartender dunia malam. Sai tertawa miris. Ia berpikir seolah dirinya paling benar, padahal dirinya sendiri adalah nokturnal.
Sai memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket. Musim panas merupakan musim yang paling aneh baginya. Di siang hari begitu panas dan membuat ia mudah dehidrasi, sedangkan di malam hari begitu dingin hingga membuatnya menggigil seperti ini. Sai menghela napas. Ia terus berjalan. Dua orang wanita, sekitar awal tigapuluhan, memandangnya di jalan. Sai tidak tahu bagaimana harus bersikap pada wanita, jadi ia hanya melempar senyum. Akibat ketidak-tahuannya dalam bersikap itulah yang membuat dua wanita tersebut berani menghampiri.
"Kau tampan sekali! Apa kau seorang host?"
Dan bahkan berani mencolek-colek tangannya. Sai tertawa hambar. Ia merasa risih.
"Tidak, aku bukan host." Sai menjawab, berusaha tetap sopan karena walau bagaimanapun, dua wanita tersebut tampaknya lebih tua darinya.
"Sayang sekali, padahal kau begitu tampan!" kata wanita yang satunya.
Wanita yang mencolek-colek tangannya menyetujui. Lalu, tiba-tiba saja mata wanita tersebut berbinar. "Aku tidak peduli kau host atau bukan—maksudku, kau bisa menemani kami, kan? Hanya berbincang-bincang sebentar atau kita pergi ke tempat karaoke."
Sai tertawa lagi. "Maaf sekali, sebenarnya aku ingin, tapi aku harus bekerja. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan karena membolos empat hari."
"Kau bekerja?" tanya si wanita seolah tak percaya pada penampilan Sai yang terlalu modis untuk bekerja selain sebagai host.
Sai mengangguk sambil memamerkan senyum palsu.
"Di mana?"
Ia menunjuk ke sebuah bar, papan berhiaskan lampu-lampu warna biru di sekelilingnya yang bertuliskan Bar Blue Organ. Dua wanita itu menutup mulut mereka seraya memandang ke arah Sai tak percaya. Dari reaksi mereka, Sai tahu dua wanita tersebut mengetahui bahwa bar tempat ia bekerja adalah bar khusus kaum LGBT. Mereka berlalu begitu saja. Samar-samar Sai mendengar percakapan mereka.
"Ya Tuhan, apakah semua pria tampan selalu homoseksual?!"
"Sayang sekali, tapi yang tadi itu sangat tampan…!"
Sai mendesah lega. Ia mengusap bintik-bintik keringat di permukaan hidung yang kadang muncul kalau ia sedang gugup. Ia bergegas berjalan memutar, ke arah pintu belakang bar khusus bartender dan karyawan—termasuk para stripper. Sai berjalan menunduk, tanpa menyadari seseorang bertubuh tegap yang tengah berdiri di samping pintu masuk.
Lelaki itu berdeham. Sai terperangah, refleks ia segera menoleh ke samping. Sepasang matanya membelalak sempurna. Belum sempat ia bicara, tangannya sudah dicengkram dan dibawa ke tempat gelap dekat timbunan sampah.
"Sejak kapan kau belajar jadi pembohong?!" kata lelaki itu, penuh penekanan.
Sai meringis, matanya menatap sepasang oniks yang serupa dengan miliknya. "A-Apa maksudmu, Sasuke?"
"Kau tidak termasuk bartender yang bisa disewa! Aku mendengar semuanya dari Juugo!"
Hatinya mencelos seketika. Kepalanya mendadak blank. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sejujurnya ia senang bisa bertemu Sasuke lagi, tapi jika dalam situasi seperti ini, lebih baik tidak usah bertemu saja.
"S-Sasuke, lepaskan tanganku!"
Lelaki itu justru mencengkram tangannya lebih erat.
"Katakan, kenapa kau berbohong."
Sai merasa kepalanya berputar-putar. Ia ingin memuntahkan sesuatu. Ia tidak bisa berpikir dengan baik saat ini.
"A-aku membutuhkan uang. Ya, aku butuh uang untuk membeli cat minyak. Kebetulan malam itu kau meminta jasaku, jadi, jadi…"
Sasuke memandangnya tajam seolah tatapan itu mampu menghunus isi kepalanya. Sai yang sudah gugup jadi semakin gugup. Dadanya berdebar keras sekali. Bintik-bintik keringat mulai kembali bermunculan. Ia terbata, tak mampu melanjutkan.
"Jadi, maksudmu, seandainya malam itu bukan aku yang meminta jasamu, kau akan tetap menerimanya demi membeli cat minyak, begitu?"
Sai terperangah. Membayangkan ia pernah bersetubuh dengan Gaara saja membuatnya kurang nyaman, apalagi dengan orang asing yang baru ditemuinya. Sai semakin buntu. Bibir tipisnya sedikit terbuka.
"Y-Ya, aku akan tetap menerimanya."
Sasuke memojokkannya ke dinding. Sai merasa dadanya sesak. Ia kesulitan bernapas dengan benar. Jantungnya memompa cepat. Sepasang matanya membesar melihat wajah Sasuke yang terkena cahaya bulan. Lelaki itu benar-benar sudah berubah. Tidak seperti Sasuke yang dulu, yang acuh tak acuh tapi selalu bisa membuatnya nyaman. Ada sesuatu yang terasa sakit di hatinya. Tiba-tiba ia merindukan Sasuke yang dulu.
"Seharusnya sejak awal aku tahu kau bukan orang yang—"
Sai kehilangan fokus. Ia tak mampu mendengar kalimat Sasuke dengan jelas. Telinganya berdengung. Bibir tipisnya sedikit terbuka. Pada kesempatan itu ia tidak tahu Sasuke akan memanfaatkan keadaannya yang luar biasa gugup.
Lelaki itu mencium bibirnya. Ia baru sadar setelah Sasuke memasukkan lidah ke dalam mulutnya. Sai merasa kepalanya kosong. Cengkraman di tangannya sudah dilepas entah sejak kapan. Tapi kedua tangan yang terbebas itu ia gunakan untuk menopang tubuhnya, mencengkram bagian depan kemeja Sasuke. Sebagian dari dirinya ingin melawan, menghajar lelaki itu tanpa ampun, tapi sebagian lagi justru memilih diam. Menikmati.
Sai mendesah. Ia tak menyangka bibirnya akan mengeluarkan suara memalukan itu. Sai mulai lemas. Ia pasti merosot ke tanah seandainya Sasuke tidak menahan pinggangnya. Cengkraman tangan di kemeja Sasuke semakin erat. Ia butuh napas saat ini juga!
Tautan bibir mereka akhirnya lepas. Sai menghirup udara sebanyak-banyaknya. Ia bahkan terbatuk. Pipinya merona merah. Sasuke memandang sepasang matanya lalu turun ke bawah, ke hidung bangir dan berhenti di bibir yang terbuka demi menghirup udara. Pipi Sai semakin merona. Tiba-tiba saja, lelaki itu memeluknya. Hangat. Panas.
Sai gagal memahami situasi.
"Mungkin kau menyebalkan dan bodoh dalam berbohong. Kau juga merepotkan, tak ada hal di dunia ini yang lebih penting bagimu selain melukis dan menghabiskan uang jajan hanya untuk membeli cat minyak."
Jeda. Sai belum mengerti ke mana arah pembicaraan Sasuke. Ia curiga lelaki itu mabuk, tapi ia tidak mencium aroma alkohol atau semacamnya ketika mereka berciuman tadi.
"Tapi, Sai…"
Suara itu begitu dalam, membuat bulu-bulu di tengkuk Sai meremang.
Sasuke mengeratkan pelukan. "Sepertinya hanya aku yang bisa menerima segala sifat merepotkanmu. Hanya aku yang bisa memaklumi hobimu. Kau duduk dan melukis berjam-jam, hanya aku yang merasa tak masalah diabaikan dengan cara seperti itu."
"S-Sasuke…?"
"Sai, jadi milikku saja."
Sai terpaku. Tubuhnya tiba-tiba beku. Bibirnya kelu. Sasuke mengendurkan pelukan hanya untuk memandang sepasang mata Sai yang besar. Keduanya saling memandang, mengunci pandangan. Seolah tengah saling mengagumi. Hingga jarak di antara bibir mereka lenyap lagi.
.
.
.
to be continued
Keywords:
Gaara lebih muda dua tahun dibanding Sai maupun Sasuke, karena itulah Gaara memanggil Sai dengan embel-embel –san.
Sai dan Sasuke 26 tahun
AN:
Hmm … apa, ya? Langsung review aja deh :p /teehee/
Sabtu Legi, 11 Juli 2015—6:09am
