Hai! Saya update. Mohon maaf karena telah melaikan fanfic ini.
Terimakasih juga telah membaca dan mereview. Saya senang fanfic saya mendapat respon positive. Saya meminta maaf juga kalau chapter ini mengecewakan.
Disclaimer
Masashi Kishimoto
Tyoo, OoC, alur cepat, pendek,boringness inside.
Sasuke merasakan sentuhan jemari terperangkap pada helaian rambutnya. Ia meringis. Jari-jari gadis itu boleh saja ramping dan terasa lemah. Tapi begitu dengan tiba-tiba rambutnya terjambak, oh hell! Jangan bercanda. Jika Sasuke tidak mengikuti pergerakan tangan gadis itu, barangkali sebagian rambutnya akan botak.
Tiba- tiba Sasuke melenguh. Suara merdu terdengar tepat ditelinganya. Pipi hangat gadis itu bergesekan dengan pipi dingin miliknya.
Bau alkohol tercium. Kali ini hidung Sasuke bersentuhan dengan bibir kenyal milik gadis itu.
Sasuke mendesis kala saat bersamaan miliknya terasa dihimpit. Terasa sakit. Tapi dia menyadari bukan hanya dia yang merasakan sakit. Seseorang dengan deru nafas dan desahan lirih di bawahnya pun sedang mengalami hal yang sama. Onyx terbuka. Sinar rembulan dari celah tirai menerobos masuk. Ruangan itu remang. Dan Sasuke tidak tahu pasti dimana sekarang ia berada.
Ia menghela nafas. Kepalanya sangat sakit.
Uchiha yang kelelahan terlalu malas untuk sekedar menggeser tubuhnya.
Jadi, dia biarkan tubuhnya menindih tubuh mungil gadis di bawahnya.
Sekilas dia mencium aroma rambut gadis itu.
Lavender.
Siapa gadis itu?
Sasuke, apa kau yakin ini bukanlah hal yang memalukan?
Sasuke menatap wajahnya pada cermin besar toilet. Keringat membasahi seluruh permukaan mukanya.
Pertanyaan berputar-putar di kepalanya.
Hal gila macam apa ini?
Apa yang sedang terjadi pada adikku?
kenapa ia se-sinting si dobe?
dan lagi lagi. Siapa gadis yang tidur denganku?
Hm... Aku harus mencari tahu. Ya. Aku harus datang kerumah Kiba dan menanyakan siapa saja gadis yang datang pada pesta pembawa sial itu?
Ne, ini lucu. Tapi sepertinya aku akan bermain detective- detective bohongan.
Grrrhh! bisakah kau tenang, adik sialan! tangan Sasuke meremas celana miliknya.
Lalu dengan langkah tergesa dia kembali memasuki kamar mandi untuk yang kesekian kalinya.
Damn it! Aku harus membenturkan kepalaku keras-keras. Aku yakin pasti beberapa saraf otakku rusak. Atau aku harus menjauhi dobe.
Dobe dengan virus kedobe-annya mungkin saja menular. Sasuke merutuk dalam hati.
Kepalanya menengadah. Langit- langit toilet berwarna merah putih dengan dekorasi petak-petak seperti papan catur. Ada perasaan janggal disana. Seingatnya, langit-langit toilet restaurant Ichiraku berwarna putih. Mungkin karena kepalanya sedang tidak beres. Karena itu, semua yang Ia lihat menjadi sama tidak beresnya.
Kembali ia memejamkan mata berusaha keras untuk mengeluarkan bebannya. Tapi selalu saat dia hampir sampai, gerakannya terhenti. Ia berdiri. Menaikan celana lalu berlari menuju cermin besar.
Tangannya meninju tembok di samping cermin. Darah mengalir. Sepertinya ia mengalami stres ringan.
Semenjak tadi pagi saat dia terbangun, kepalanya sedikit berdenyut. Seluruh bagian tubuhnya sakit bukan main. Dan saat bayangan besar miliknya di cermin menampakkan beberapa kiss mark merah di bagian leher dan dadanya.
Siapa yang melakukan ini?
Berengsek! Apa yang sedang aku pikirkan?!
Kenapa otakku menjadi semesum ini?
Lagi pula...Uchiha tidak pernah beronani.
Setidaknya tidak di toilet restoran dengan suara cekikikan perempuan diluar sana. Plus ini siang bolong.
Lagi-lagi Sasuke menjambak rambutnya.
"Maaf Hinata. Bukannya aku tidak mau mengundangmu. Hanya saja pesta ulang tahunku khusus untuk orang dewasa." sebisa mungkin Kiba memelankan suaranya. Gadis yang menjadi teman bicaranya diam. Sebenarnya, pemuda Inuzuka itu lebih merasa bermonolog daripada berdialog dengan Hinata.
Sejak Hinata datang, ia sudah tertelungkup di atas meja. Satu pack tisu ada di samping kanan gadis itu. Setengah pack dia genggam ditangannya. Dan sebagian menggunung di hadapan mereka sebagai tisu lembab yang kusut bekas air mata dan air hidung si gadis mungil.
Kiba menjadi sedikit khawatir.
Saat bertanya pada Ayame, pelayan tetap di Ichiraku. Ayame bilang Hinata sudah datang dari beberapa jam lalu. Ramen yang ada di samping Hinata bahkan sudah sedingin es.
Mungkin Hinata memang marah. Hinata tidak pernah mendiamkan Kiba seperti saat ini.
Kiba membenturkan keningnya frustrasi. Permintaan maaf sudah keluar berkali-kali. Tapi Hinata masih tertelungkup.
"Semalam a-aku d-datang ke pesta Kiba-kun." pada akhirnya, Hinata menengadah.
Kiba meneguk ludahnya sendiri melihat muka Hinata yang sangat kusut. Matanya merah dan bengkak. Hidungnya berair tapi dengan sigap tisu yang berada ditanggan gadis itu melap habis cairan hidungnya. Kemudian Hinata berdiri. Air mata menitik.
Decitan kursi terdengar. Kiba menatap Hinata kebingungan .
"Apa yang terjadi?"
"Aku minum air putih."
Tangan Hinata meremas ujung roknya.
Tapi sekarang Hinata tahu air yang diminumnya bukanlah air putih.
Hinata membungkuk sejenak.
Lalu berjalan menuju toilet.
Pintu terbuka. Mata bengkak Hinata membulat. Hinata kesulitan menelan ludah. Pikirannya yang kacau menjadi sangat kacau.
Dihadapannya seorang pria tengah memejamkan mata. Dengan suara suara aneh dan tangan yang sibuk memainkan organ vital miliknya.
Hinata tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya Ia ingin berlari saat pertama kali pintunya terbuka. Tapi kakinya sulit digerakan. Seluruh tubuhnya bergetar. Mulutnya juga terasa kering.
Ia juga ingin menutup mata dan sedang berusaha untuk menutup mata tapi... Raut muka si pemuda saat sedang bermain, ah ! mempermainkan barang mainannya begitu- err membuatnya penasaran.
Apa yang sedang dia lakukan?
Apa yang nanti akan terjadi?
Pada akhirnya tidak tahu mengapa, tidak tahu apa yang harus dia tunggu. Ia berdiri. Keringat mengalir deras. Ujung baju Hinata kusut karena Hinata memerintilnya terlalu keras.
Sementara itu, di depannya, suara si pemuda semakin ramai.
Tiba-tiba permainannya terhenti. Sasuke merasa sedang diperhatikan. Karena itu dia berhenti.
Sampai perlahan kelopak matanya menampakkan onyks.
Seorang gadis mungil berdiri di ambang pintu. Bajunya bergetar. Mata anehnya berkedip kedip.
"Go-gomen, ne." Gadis itu bilang.
Hinata benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
Terlebih saat ini tubuhnya sangat lemah dan bergetar hebat.
Pemuda di depannya mendecak.
Tuhan pasti sedang tertawa.
"Hn." hanya itu tanggapannya. Sasuke dengan santai melepas pegangannya pada mainan itu.
Lalu berjalan melalui gadis yang masih mematung.
Mata hitamnya beredar pada sudut sudut toilet. Beberapa anak remaja tengah berdadan di depan cermin besar.
Ck!
Salah masuk toilet.
Sasuke berjalan menuju Naruto. Wajahnya sedikit bersemu. Walaupun dia tahu ini sedikit keluar dari karakternya. Tapi dia tidak bisa menghilangkan rasa panas dan warna pink sialan dari pipinya.
Sasuke menghela nafas berat. Dia duduk disebelah Naruto yang tersenyum-senyum sendiri. Sasuke harap Kali ini si pirang sedang tidak berlatih akting. Karena Sasuke benar-benar ingin Naruto sinting.
"Kau kenapa Lagi?" Sasuke bertanya.
Naruto hanya terkikik lalu dengan gerakan kepalanya, dia menunjuk gadis berambut pink yang sedang menatapnya kesal.
"Aku mengerjai pelayan itu." Jawabnya.
"Namanya Tayuya. Pelayan baru."
Jelas si kuning.
"Hn."
Sasuke tampak tidak tertarik.
Pikirannya terasa melayang-layang.
Dia sedang sibuk dengan perasaan dongkolnya. Tangannya menggosok-gosok kedua pipi pucatnya. Dia merasa pipinya masih panas dan geli. Mungkin Kalau seorang Uchiha bisa blushing, dia sedang blushing saat ini.
Tck!
"Jadi, bagaimana? Sudah keluar?"
Naruto bilang. Deretan giginya membentuk cengiran.
Sasuke tahu ini bukanlah sesuatu yang disebut perhatian. Dan...
Sasuke tidak menginginkan hal itu dari dobe.
Sebuah issue gila selalu berdekatan dengan mereka. Sasuke memang dekat dengan Naruto. Segalanya selalu dilakukan bersama.
Dari tidur, sampai mandi. Tapi kedekatan seperti itu tidak pernah disengaja. Dan sesuatu yang tidak disengaja itu pada akhirnya harus berakhir saat Mikoto dan pisau mengkilatnya menyentuh Leher kedua pemuda itu.
"Hm. Masih terpejara."
Jawabnya. Naruto menganga.
"Maksudmu kau hampir setengah jam di toilet dan kau tidak mengeluarkannya sama sekali? Setetespun?!" Naruto berteriak. Sekali lagi orang-orang menatap ke arah mereka. Terutama pada seseorang yang di teriaki Naruto.
Cekikikan terdengar dari beberapa gadis remaja yang duduk di samping mereka.
"Hentikan aktingmu, dobe!" Sasuke memelototi Naruto.
Kali ini si kuning benar-benar membuat kepala Sasuke berdenyut.
"Aku sedang tidak berekting! maksudku, aku saja bisa berona-"
Tangan Sasuke membekap mulut Naruto sebelum mulutnya berhasil menyelesaikan kalimat vulgar.
"Jangan berusaha mempermalukanku, atau aku akan benar-benar membunuhmu." suara itu dingin. Naruto menjadi bungkam. Jika sudah begini, Naruto harus membungkam bibirnya sekarang juga.
Mata Sasuke tertuju pada gadis indigo yang keluar toilet. Pandangan mereka bertemu. Muka gadis itu berubah menjadi sangat merah.
"Dobe, kau kenal gadis itu?"
Hi! Maaf saya telat update! Saya kehilangan plooooot! Dan lihatkan? Mungkin chapter ini terasa memaksa. Kukuku
saya memang tidak pandai menulis ff yang panjang dan itulah kenapa saya tidak suka multichap#plak
Jadi, ada yang ingin mengajukan saran? Silahkan tulis lewat PM atau review :
Balasan review
Guest1
Saya tersenyum senyum sendiri melihat reviewnya kamu. Hihi terima kasih sudah mereview #pelukerat
Guest2
Terima kasih sudah mereview. Saya rasa ff ini tidak akan terlalu banyak chapter. Mungkin chapter Depan tamat. Hihi
Angelina Jolie
Tebak apa? Kamu satu-satunya orang yang menebak siapa cowok berambut coklat dengan tepat! Yeee!#kasihhadiahsebuahkecupan
Farla
Terima kasih sudah rnr. Ini lanjutannya
Lilac
Kamu lucu deh#peluklikac
Hn... Ini lanjutannya! Terima Kasih rnr nya!
Uu
Iya Sasuke Emang pervet#sharingan!
Ini lanjutannya. Maaf bila mengecewakan.:)
Terimakasih telah menyempatkan diri untuk membaca :)
