"Promise"
Rate : T
Genre : Romance, Drama
Disclaimer Masashi Kishimoto
Warning! Absurd story, Story from me, Typo, Gaje, Mainstrem, etc
NO BASH!
NO SILENT READERS!
REVIEW PLEASE ^v^
Summary :
Ia—seseorang berambut pirang dan bermanik Sapphire—tak mengerti alasan ia ada di dunia ini. Ia juga tak tahu bagaimana cara mengakhiri semuanya. Ia sering bertanya, tapi tak ada jawaban yang ia dapatkan. Lalu Ia—seseorang berambut merah muda dan bermanik Emerald—tak tahu harus bagaimana menyikapi sikap buruk kekasihnya. Ia juga merasa seakan-akan ada beberapa keping hidupnya yang ia lupakan. Tapi ia sendiri tak tahu apa itu. Dan semua yang mereka berdua alami itu disebabkan oleh sebuah janji.
"CHAPTER 2"
Terlihat jelas dari atap sekolah. Semburat merah, jingga, dan biru yang menghias langit di kala senja. Jangan lupakan gumpalan awan putih yang belum juga hilang. Angin lembut datang menyapa. Menerpa tubuh sepasang pemuda-pemudi yang tengah duduk santai dan bermain nakal dengan rambut mereka. Sungguh suasana menenangkan yang dapat menghilangkan rasa lelah. Begitulah pikir Sakura yang tampaknya sangat lelah. Bagaimana tidak? Berkali-kali Naruto bertingkah aneh yang sangat merepotkannya dan dia harus menghentikan hal itu tanpa menarik perhatian teman-temannya agar tak dikira gila oleh mereka. Belum lagi Sasuke yang selalu berusaha untuk mengajaknya berbicara di saat Sakura sedang ingin menghukumnya. Tentu itu membuat Sakura harus mencari berbagai alasan untuk menghindari Sasuke. Bukankah itu sangat sulit? Jadi wajar jika Sakura sekarang merasa begitu lelah.
"Sakura-chan, gomen... kau tak marah padaku, kan?" tanya Naruto khawatir. Karena Sakura yang terus diam setelah pulang sekolah.
"Tidak. Aku hanya lelah" jawab Sakura singkat dan tentunya itu tak membuat Naruto menjadi tenang.
"Benar kau tak marah padaku?" tanya Naruto lagi.
Sakura memutar bola matanya malas. "Ok, dengar! Sejujurnya aku marah padamu yang telah membuatku repot. Tapi itu tadi dan sekarang aku sudah memaafkanmu" jawab Sakura jujur.
"Benarkah?" sebuah senyum lebar menghias wajah Naruto yang kembali berseri-seri.
"Iya..." jawab Sakura malas.
"Yatta! Arigatou ne, Sakura-chan!" Naruto dengan tiba-tiba memeluk Sakura dan tentu saja hal ini membuat Sakura sangat terkejut hingga rasanya ia lupa cara bernafas. Bahkan muka Sakura kini menjadi semerah kepiting rebus.
"Le-lepaskan, dasar hentai!" Sakura mendorong tubuh Naruto menjauh. Membuat Naruto hampir terjatuh ke belakang.
"Kenapa?" tanya Naruto dengan polosnya.
Sakura menghembuskan nafas pelan. "Kau tak bisa sembarangan memelukku tahu!" omelnya.
"Tapi tadi pagi kau memelukku" tutur Naruto yang membuat muka Sakura kembali memerah.
"Ba-baka! I-itu b-berbeda!" ucap Sakura tergagap.
"Berbeda? Menurutku itu sama sa-.." belum selesai Naruto berbicara, Sakura telah menyelanya terlebih dahulu.
"Sudah. Hentikan percakapan ini, OK? Aku sedang lelah. Karena sejak tadi aku harus mencari berbagai alasan untuk menghindar dari Sasuke-kun" tutur Sakura yang tak ingin percakapan ini terus berlanjut. Sebab jika terus berlanjut, mukanya tidak akan berhenti memerah. Dan Sakura tak ingin itu terjadi.
Namun tiba-tiba saja mata Sakura terlihat berbinar-binar. "Tapi, Naruto. Apa kau lihat ekspresi Sasuke-kun saat aku terus menghindarinya? Hahaha...lucu sekali! Aku tak pernah melihatnya memasang ekspresi seperti itu" tutur Sakura dengan tawanya yang tak kunjung berhenti.
Naruto menatap aneh Sakura dengan manik Sapphire nya yang jernih. "Kau sepertinya sangat menikmatinya"
"Begitulah. Jarang-jarang, lho, aku bisa menghukum Sasuke-kun" ujar Sakura yang tampak puas.
"Kau jadi terlihat sangat mengerikan, Sakura-chan" komentar Naruto yang langsung disambut dengan deathglare andalan Sakura.
BLETAK!
Sakura menjitak kepala Naruto yang tertutupi oleh helaian rambut pirang yang berantakan. "Ittai!" keluh Naruto yang tak pernah mendapat jitakan sebelum ini.
"Jangan asal bicara! Aku tidak mengerikan, kok!" elak Sakura dengan pipi yang ia kembungkan—kesal.
Melihat sikap Sakura membuat Naruto hanya dapat menghembuskan nafas panjang. "Iya, iya. Kau tidak mengerikan. Jadi, kapan kau akan mengajak kekasihmu itu makan bersama?"
Manik Emerald Sakura pun membulat sempurna tatkala pertanyaan itu meluncur mulus dari mulut Naruto. Bahkan pipi Sakura tak lagi menggembung seperti tadi. Sakura lupa akan hal itu karena ia terlalu nyaman dengan keberadaan Naruto yang dapat membuatnya tertawa dan seluruh masalahnya hilang entah kemana. Yang membuatnya merasa kalau tak apa jika hubungannya dan Sasuke tetap seperti ini. Tapi ia tahu jika hal itu tak boleh dibiarkan terlalu lama. Karena tak ada yang menjamin jika Naruto akan selalu ada untuknya. Bersama dengannya. Apalagi Naruto adalah sesosok roh yang bisa menghilang dari pandangannya kapan saja. Jadi terpaksa ia harus kembali kepada tujuan awalnya.
"Setelah ini aku akan mencari Sasuke-kun dan mengajaknya makan bersama untuk membicarakan semuanya. Toh, dia juga ingin sekali berbicara denganku." tutur Sakura dengan pandangan yang menyendu. Ia sendiri bahkan tak yakin dengan rencananya tersebut.
Naruto tahu kalau Sakura merasa tak yakin dengan rencananya sendiri. Ia tahu kalau gadis itu tengah ketakutan memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Jadi sebelum Sakura berpikir lebih jauh, Naruto berusaha memberinya semangat. "Tenanglah! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Percaya padaku!"
Tampak Sakura terkesima beberapa saat pada senyum hangat yang Naruto berikan padanya. Entah kenapa ia menjadi tenang. Terlebih ia merasa kalau kata-kata itu tak asing baginya. Tapi ia berusaha mengabaikan hal itu. "Arigatou, Naruto. Aku merasa lebih tenang" ucap Sakura dan Naruto hanya tersenyum menanggapinya.
Beberapa menit kemudian, dengan tiba-tiba Sakura beranjak dari posisi duduknya dan berdiri. "Baiklah. Kalau begitu, ayo, sekarang kita temui Sasuke-kun! Jam segini biasanya Sasuke-kun masih berada di sekolah dan berkumpul bersama temannya di kelasnya" seru Sakura penuh semangat.
"Eh, tapi sebelum itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu, Naruto" Sakura menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap Naruto.
"Apa itu?" tanya Naruto penasaran.
"Mmm...Naruto, ke-kenapa kau mau melakukan banyak hal untukku?"
Naruto menatap bingung manik Emerald Sakura sembari menaikkan bahunya. "Entahlah. Apa butuh alasan?"
Sakura mengangguk lemah. "Beri aku alasan" pintanya dengan pipinya yang bersemu merah karena malu. Dan menurut Naruto, ekspresi Sakura saat ini sangatlah imut sehingga membuatnya salah tingkah sendiri.
"Ba-baiklah, jika itu keinginanmu..." tutur Naruto dengan muka yang memerah sempurna.
Dengan malu-malu, manik Sapphire nya menatap serius manik Emerald Sakura. "A-aku menyukai senyum tulusmu yang indah dan hangat. Oleh karena itu, aku tak ingin melihatmu bersedih bahkan menangis. Dan akan ku lakukan apapun agar kau selalu tersenyum" jawab Naruto jujur.
Jawaban dari Naruto itu berhasil membuat Sakura terdiam seribu bahasa dengan muka yang memerah bagai kepiting rebus—sama seperti Naruto. Mata mereka tak lagi saling bertatapan. Hening pun menyelimuti ke dua pemuda-pemudi itu. Suasana canggung tak bisa dihindari. Hingga akhirnya Sakura memutuskan untuk mengakhiri suasana tak mengenakan ini. "Arigatou..." ucap Sakura singkat.
Gadis berambut merah muda itu pun melangkahkan kakinya menuju pintu yang akan membawanya ke puluhan anak tangga. Namun langkahnya terhenti ketika ia sudah sampai di depan pintu itu dan bersiap memutar knopnya. "Ku harap kau akan selalu bersamaku" tutur Sakura sebelum ia membuka pintu dan berjalan pergi menuruni setiap anak tangga—meninggalkan Naruto sendiri di atap.
"Aku pun berharap demikian, Sakura-chan" gumam Naruto dengan pandangan yang menyendu sebelum ia kembali mengekori Sakura dari belakang.
.
.
.
=0=0=0=0=0=(Promise)=0=0=0=0=0=
"Hei! Apa kalian tahu dimana Sasuke-kun berada?" tanya Sakura pada sekumpulan pemuda yang tengah tertawa bersama di sebuah kelas. Sepertinya para pemuda itu adalah teman Sasuke—kekasih Sakura.
Para pemuda itu saling berpandangan. Kemudian mereka menaikkan bahu tanda tak tahu. "Tadi dia langsung pamit pergi setelah mendapat panggilan telfon dari seseorang" jawab salah seorang pemuda yang memiliki tato segitiga terbalik di setiap pipinya.
"Mendapat panggilan? Dari siapa?" tanya Sakura penasaran.
"Entah. Kami tak tahu" jawab pemuda berambut panjang.
"Begitu... ya sudah, Arigatou!" Sakura pun melangkahkan kakinya berniat pergi dari kelas ini.
"Tapi tadi aku mendengar sesuatu" ujar seorang pemuda beralis tebal yang membuat Sakura mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruang kelas ini.
"Mendengar apa?" tanya Sakura tak sabaran.
"Aku mendengar dia menyebut nama sebuah cafe" jawab pemuda itu.
Sakura menaikkan salah satu alisnya—bingung. "Nama Cafe?"
Pemuda tadi mengangguk. "Kalau tidak salah nama Cafe itu—..."
.
.
.
=0=0=0=0=0=(Promise)=0=0=0=0=0=
"Kau yakin kekasihmu ada disini?" tanya Naruto bingung.
Kini Sakura dan Naruto sedang berada di depan sebuah cafe. Yap! Cafe ini adalah cafe yang disebutkan oleh Sasuke dalam pembicaraannya di telpon. Jadi ada kemungkinan Sasuke ada disini. Itulah yang Sakura pikirkan hingga ia memilih untuk mendatangi cafe ini. Siapa tahu, kan? dia bisa bertemu dengan Sasuke disini. Mungkin ia juga bisa sekalian makan bersama Sasuke disini sambil membicarakan masalah mereka berdua dan penyelesaiannya.
"Mmm...tidak terlalu yakin, sih... Tapi tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. jadi, akan lebih baik bila kita mencoba mencarinya disini. Hanya ini, kan, petunjuk kita" jawab Sakura.
"Tapi Sakura—..." Belum selesai Naruto berbicara, Sakura telah menyelanya.
"Sudah, jangan mengajakku bicara lagi. Nanti orang-orang akan mengira kalau aku gila. Lebih baik kita segera masuk ke dalam" tutur Sakura sebelum ia melangkahkan kakinya memasuki sebuah cafe bergaya Jepang kuno.
KRINGGG!
Suara bel pintu yang berbunyi ketika Sakura masuk ke dalam cafe tersebut. "Irasshaimase, Ojo-sama!" sambut seorang pelayan perempuan pada Sakura.
Sakura tersenyum lembut. "Arigatou" ucapnya.
"Dimana anda ingin duduk, Ojo-sama?" tanya pelayan itu ramah.
"Mmm, sebenarnya ada kekasihku yang sedang berada disini. Tapi mungkin dia sudah pulang" jawab Sakura sambil melihat ke setiap sudut cafe. Siapa tahu, kan, dia menemukan sosok kekasihnya itu.
"Seperti apa ciri-ciri kekasih anda, Ojo-sama? Mungkin saja bisa membantu mencarinya" pelayan itu menawarkan bantuan.
"Rambutnya raven berwar—..." Belum selesai Sakura menjelaskan ciri-ciri Sasuke kepada pelayan tersebut, tiba-tiba saja Naruto berbisik padanya, "Sakura-chan, bukankah itu kekasihmu?"
Dengan cepat, Sakura alihkan pandangannya ke arah yang Naruto maksudkan. Senyum lebar menghias wajah cantiknya. Karena ia telah menemukan Sasuke dan sekarang kekasih Sakura itu sedang duduk tak begitu jauh dari tempatnya berdiri. Terlebih, sepertinya Sasuke sednag bersama orang. Namun ia tak tahu siapa itu. Mungkin saja keluarganya atau teman-temannya yang lain. Secara, Sasuke itu pemuda populer di sekolahnya. Ia memiliki banyak teman dimana-mana. Jadi, tak heran bagi Sakura bila dia menemukan Sasuke sedang makan di sebuah cafe bersama dengan temannya yang belum Sakura kenal.
"Gomen, aku sudah menemukan kekasihku. Aku akan ke tempatnya" tutur Sakura pada pelayan itu dan Sang Pelayan hanya tersenyum lembut menanggapinya.
Sakura pun segera melangkahkan kakinya dengan semangat menuju ke tempat Sasuke berada dan meninggalkan pelayan tadi. Senyum lebar yang menghias wajah cantiknya itu tak kunjung hilang. Jantungnya berdebar kencang—gugup—karena dia akan saling berhadapan dengan Sasuke. Otaknya tak berhenti berpikir—mencari alasan tepat tentang keberadaannya disini yang akan dia katakan pada Sasuke.
"Sasu—..."baru Sakura hendak memanggil nama Sasuke, ia telah dikejutkan dengan sebuah pemandangan tak terduga yang menyayat-nyayat hatinya. Senyum lebar yang sejak tadi menghias wajah cantiknya pun kini telah menghilang entah kemana.
Bagaimana tidak? Ia melihat Sasuke sedang makan berdua bersama seorang gadis cantik berambut merah panjang dan berkacamata. Mereka berdua terlihat sangat menikmati acara makan bersama mereka. Padahal saat Sasuke makan dengannya, ia terlihat tak banyak bicara dan lebih cenderung fokus ke makanannya saja. Tapi dia terlihat berbeda ketika bersama gadis cantik yang ada di hadapannya itu. Dia terlihat lebih banyak bicara dan tak begitu fokus pada makanannya. Bahkan dia menanggapi setiap kata yang gadis itu ucapkan. Tidak seperti saat dia bersama dengan Sakura. Tentu ini membuat Sakura begitu sakit hati.
"Ne, Sasuke-kun... kapan kau akan putus dengan pacar populermu itu?" tanya gadis berambut merah itu manja.
"Entahlah. Aku harus menunggu dia membuat kesalahan. Tapi dia terlalu baik. Tak ada kesalahan yang ia lakukan" jawab Sasuke sebelum meneguk habis minumannya.
"Kenapa putusnya harus menunggu sampai dia berbuat kesalahan?" tanya gadis itu lagi.
Sasuke menatap gadis itu bingung. "Kenapa? Tentu saja karena jika aku memutuskannya tanpa alasan, pasti semuanya akan berpikir kalau aku jahat dan aku akan kehilangan gelarku. Tapi coba pikirkan jika aku memutuskannya ketika dia berbuat salah"
Tiba-tiba saja gadis itu tertawa. "Ah, ya, aku mengerti. Jika begitu, nanti gadis itu yang akan kehilangan gelarnya sebagai gadis populer yang sempurna. Ya, kan?"
"Tepat sekali!" Sasuke ikut tertawa.
"Jika pada akhirnya kau memutuskannya, lalu kenapa kau memulai hubungan itu, Sasuke-kun?" tanya gadis itu bingung.
"Aku sudah pernah mengatakannya padamu, kan, Karin. Aku hanya ingin menaikan populeritasku saja" jawab Sasuke yang benar-benar membuat hari Sakura hancur berkeping-keping.
"Jadi kau tak mencintainya, kan, Sasuke-kun?" gadis itu mencoba memastikan.
Sasuke tertawa pelan. "Tentu saja tidak. Aku hanya mencintaimu, Karin" jawab Sasuke yang membuat gadis itu begitu senang dan membuat air mata Sakura berjatuhan.
Tanpa bisa menahan amarahnya lagi, Sakura melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke tempat Sasuke dan selingkuhannya itu. Sasuke yang menyadari kedatangan Sakura pun segera berdiri dengan ekspresi terkejut yang luar biasa. "Sa-Sakura? Se-sedang a-apa kau disini?" tanya Sasuke tergagap.
Sakura tertawa meremehkan. "Sedang apa katamu?!" tanya Sakura penuh amarah. Salah satu tangannya terulur mengambil sebuah gelas yang setengahnya masih terisi air. Kemudian ia siramkan air tersebut ke wajah Sasuke.
BYURRRR!
Sasuke sangat terkejut ketika Sakura melakukan tindakan itu. Wajah dan baju bagian atasnya basah semua karena siraman Sakura. "Apa yang kau lak—..."
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sasuke sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya. Sedangkan Sakura—sang pelaku tamparan—hanya menatap Sasuke tajam dengan beberapa air mata jatuh membasahi pipinya. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Sasuke! Apa yang sedang kau lakukan disini bersama seorang gadis?!" bentak Sakura. Bahkan ia sampai tak memanggil Sasuke dengan suffix 'kun' lagi.
"Sakura, ini hanya salah paham" tutur Sasuke mencoba membela diri.
"Salah paham apa?! aku sudah mendengar semua yang kau katakan! Alasanmu menjalin hubungan denganku, keinginanmu untuk memutuskanku, aku sudah mendengarnya!" Sakura benar-benar marah sekarang. Hingga ia tak bisa mengendalikan emosinya.
"Sakura, aku bisa jelaskan semuanya" ujar Sasuke dengan ke dua tangannya yang mencoba untuk memegang pundak Sakura. Namun Sakura selalu mennghindarinya.
Manik Emerald Sakura menatap tajam Onyx Sasuke. "Tak ada yang perlu dijelaskan, Sasuke! Karena semuanya sudah jelas. Alasanmu mengacuhkanku selama ini. Aku sudah tahu itu!"
Onyx Sasuke ikut menajam. "Kau pun hari ini mengacuhkanku, kan?!" Sasuke ikut marah.
"Hanya hari ini Sasuke. Hanya hari ini dan itu merupakan hukuman kecil bagimu. Sedangkan dirimu?! Kau selalu mengacuhkanku selama kita menjalin hubungan..." air mata Sakura semakin deras mengaliri pipinya.
"...Hukuman macam apa yang...hiks...kau berikan padaku, Sasuke?! Kesalahan apa...hiks..yang ku buat hingga...hiks...kau harus...hiks...menghukumku?!" Sakura mulai menangis terisak dan Sasuke hanya bisa terdiam.
"Sasuke,..hiks...katakan padaku! Kenapa..hiks...kau menghukumku?!" Sakura mencengkram dengan erat baju Sasuke sambil menangis terisak.
Tiba-tiba saja Sakura merasakan ada seseorang yang memeluk ke dua bahunya dari belakang. Pertamanya ia terkejut. Tapi setelah tahu kalau yang memeluknya adalah Naruto, dia tak lagi terkejut. Bahkan ia merasa sangat nyaman. Pelukan Naruto begitu hangat dan menenangkan hatinya. Ia sendiri tak tahu mengapa dia menjadi merasa seperti itu.
"Tenang, Sakura-chan. Tenanglah. Ini di tempat umum. Jangan permalukan dirimu sendiri" bisik Naruto tepat di telinga Sakura. Gadis berambut merah muda itu pun sadar kalau dia tadi bertindak terlalu berlebihan. Beruntung Naruto segera menenangkannya. Jika tidak, ia yakin kalau ia akan bertindak lebih berlebihan dari ini.
"Sakura, kau tidak apa?" tanya Sasuke lembut. Dia jadi khawatir ketika tiba-tiba saja Sakura terdiam setelah sebelumnya gadis itu memarahinya habis-habisan. Apalagi dia tak dapat melihat Naruto yang kini sedang memeluk Sakura. Tentu itu membuatnya tak tahu alasan sebenarnya Sakura terdiam.
"Sakura?" panggil Sasuke.
"Ah, ya? Gomen, tadi aku berlebihan" tutur Sakura setelah melepaskan pelukan Naruto tanpa membuat dirinya terlihat aneh dan juga menghapus air mata yang membasahi pipi putihnya.
"Apa ada yang salah denganmu, Sakura?" tanya Sasuke bingung. Ia bingung dengan sikap Sakura yang tiba-tiba saja berubah.
"Tidak. Hanya saja, akan lebih baik bila kita akhiri saja hubungan ini, Sasuke. Arigatou, untuk semua yang kau berikan padaku dan sekali lagi, gomennasai" Sakura membungkukan badannya sebentar sebelum ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sasuke dan selingkuhannya yang tak bisa berkata apapun lagi.
.
.
.
=0=0=0=0=0=(Promise)=0=0=0=0=0=
Langit semakin gelap bersamaan dengan jatuhnya air mata Sakura yang tiada henti-hentinya. Membuat hati Naruto terasa tersayat-sayat. Ia tak ingin melihat Sakura menangis. Karena itu ikut membuat hatinya menangis. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia hanya roh yang bahkan tak tahu tujuan hidupnya. Yang tak tahu arti sebenarnya keberadaannya di dunia ini. bahkan jika boleh, ia ingin sekali segera pergi dari dunia ini. Kehidupan ini. Kalau bisa ia ingin segera pergi dari Sakura—gadis yang telah memberi warna dalam hidup kelamnya sebagai roh. Agar ia tak lagi merasakan sakit bila melihat Sakura bersedih, menangis. Tak salah tingkah ketika melihat senyum Sakura yang indah. Aneh bukan? Ia tahu itu.
Sakura terus berlari di tengah keramaian kota. Di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang sepulang menjalani aktivitas. Butiran kristal bening tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi putih kemerah-merahannya. Terkadang terdengar isak tangis keluar dari mulutnya yang ia bekap menggunakan tangannya sendiri. Tanpa tahu tujuan, Sakura masih terus berlari—mengikuti keinginan kakinya.
"Sakura-chan! jangan berlari di tengah keramaian! Kau bisa terjatuh!" teriak Naruto yang terus mengekori Sakura.
Sakura tak menghiraukan apa yang Naruto katakan. "Tenanglah, Sakura-chan!" Naruto berusaha menenangkan Sakura walau gadis itu tetap tak menghiraukannya.
"Semuanya akan baik-baik saja!" Naruto masih tak menyerah. Ia terus mengatakan kalimat-kalimat yang mungkin bisa membuat Sakura menjadi lebih tenang. Tak peduli gadis berambut merah muda itu menghiraukannya atau tidak.
"Percaya padaku!" teriak Naruto yang langsung membuat Emerald Sakura melebar. Lagi-lagi kata-kata Naruto dapat membuatnya tenang. Ia tak tahu mengapa itu bisa terjadi. Apalagi ia merasa tak asing dengan kata-kata yang Naruto ucapkan sejak tadi.
Sakura pun menghentikan langkahnya. Dan ketika kakinya berhenti melangkah, ia baru tersadar kalau kakinya itu telah membawanya ke pematang yang biasa ia datangi ketika sedih. Pematang tempat ia dan Naruto bertemu. Ia senang bisa datang kemari. Berterima kasihlah pada kakinya yang menuntunnya hingga sampai di tempat ini. Karena paling tidak ia bisa menenangkan dirinya disini. Menikmati indahnya langit malam yang berhias rembulan juga ribuan bintang.
"Aku percaya padamu, Naruto. Walau begitu, aku tak yakin kalau semua akan baik-baik saja. Karena dulu kau juga pernah mengatakan itu..." Sakura menatap sendu langit yang membentang luas di atasnya.
"Tapi buktinya, sekarang aku tak baik-baik saja. Sasuke selingkuh di depan mataku. Bahkan ia merencanakan sesuatu yang buruk untukku" lanjut Sakura tanpa mengalihkan pandangannya dari keindahan langit malam.
"Bagus, kan?" ujar Naruto sambil mendekat ke tempat Sakura berdiri sekarang.
Sakura menaikkan salah satu alisnya—bingung. "Bagus?! Jelas-jelas itu merupakan kehancuran bagiku" tutur Sakura.
"Bukan kehancuran. Melainkan keberuntungan" tutur Naruto.
"Keberuntungan?" Sakura tak mengerti dengan jalan pikiran Naruto.
Naruto mengangguk mantap. "Ya, keberuntungan. Sebab, jika kau masih tak tahu seperti apa Sasuke sebenarnya dan rencana buruknya untukmu, maka kau akan tersakiti lebih dalam dan lama. Kau tahu..." Naruto menggantungkan kalimatnya membuat Sakura merasa penasaran.
"...kebenaran itu memang menyakitkan. Tapi rasa sakit itu tak akan bertahan lama" lanjut Naruto dengan senyumnya yang hangat dan membuat Sakura terkesima beberapa saat—hingga pipinya bersemua merah.
Tiba-tiba saja tawa Sakura meledak. Tentunya itu membuat Naruto merasa bingung. Karena ia tak merasa kalau ia mengatakan sesuatu yang lucu atau mengundang tawa. "Jangan bersikap keren seperti itu, deh! Benar-benar tidak cocok denganmu" komentar Sakura disela-sela tawanya.
Naruto yang mendengar hal itu hanya dapat memanyunkan bibirnya. "Aku tidak sedang bersikap keren, tahu! Aku sedang mengatakan sesuatu dengan serius" tutur Naruto tak terima.
"Tapi benar katamu. Sekarang aku merasa kalau perasaanku tak sakit lagi" Manik Emerald Sakura menatap manik Sapphire Naruto.
Bukannya menampakkan ekspresi senang, Naruto malah menampakkan ekspresi terkejut. "Cepat sekali!" serunya.
Sakura tertawa kecil mendengarnya. Namun kemudian tawanya itu berubah menjadi seulas senyum lembut nan hangat. "Itu semua karenamu. Arigatou" ucap Sakura yang membuat pipi Naruto memerah sempurna.
"Douitshimashite" balas Naruto singkat—masih dengan mukanya yang memerah bagai kepiting rebus.
Hening menyelimuti mereka setelah balasan dari Naruto terdengar. Angin malam berhembus lembut. Menyapu tubuh Sakura juga Naruto dan mengajak rambut mereka menari bersama. Sambil menikmati indahnya langit di kala malam, Sakura dan Naruto bergelut dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga terdengar panggilan Naruto yang membuyarkan pemikiran Sakura, "Ne, Sakura-chan!"
"Ya?" Sakura mengalihkan pandangannya ke Naruto. Mencoba memberi pemuda berambut pirang itu perhatian penuh.
"Mmmm, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Tapi aku harus mengatakannya sekarang" ujar Naruto.
Sakura memasang ekspresi penasaran. "Katakan saja"
"A-ano, e-etto...bagaimana, ya, mengatakannya? Mmm...Sebenarnya.."Nauto menggantungkan kalimatnya karena gugup. Ia mainkan jari-jarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya itu. Bahkan karena gugup, Naruto menjadi tak berani menatap Emerald Sakura yang ada di hadapannya.
"Sebenarnya?" Sakura semakin penasaran.
Naruto menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan agar merasa lebih tenang. Setelah itu, ia beranikan diri untuk menatap Emerald Sakura yang menatap penasaran padanya. "Sakura-chan, se-sebenarnya...sebenarnya aku ingin kita tak bertemu lagi" tutur Naruto dengan ekpresi serius.
Manik Emerald Sakura melebar ketika untaian kata itu masuk ke dalam indra pendengarannya. "Baka! Apa-apaan perkataanmu itu!" omel Sakura kesal dengan penuturan Naruto tadi.
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita" ujar Naruto.
"Terbaik untuk kita?" Sakura sama sekali tak mengerti.
Naruto mengangguk pelan. "Kau tahu, kan, kalau aku itu hanya roh. Aku bisa menghilang dari pandanganmu kapan saja..."
"...Dan jika kita terlalu lama menghabiskan waktu bersama, maka akan semakin sulit bagimu untuk melepasku ketika tiba-tiba aku harus pergi. Jadi, lebih baik kita tak bertemu lagi. Agar kau tak terlalu tersakiti. Aku tak ingin melihatmu bersedih lagi" lanjut Naruto.
"Aku tak akan tersakiti. Yah, mungkin aku akan tersakiti. Tapi seperti katamu. Itu tak akan lama. Dan aku ingin menghabiskan banyak waktu bersamamu sebelum kau pergi, Naruto" Sakura menatap dalam-dalam Sapphire indah milik Naruto.
"Tapi aku lah yang akan tersakiti, Sakura-chan" ucap Naruto dengan manik Sapphire nya yang menyendu.
Sakura tak mengerti dengan ucapan Naruto. "Maksudmu?"
Naruto menatap Emerald Sakura lembut. "Maksudku, aku sudah sangat nyaman berada di dekatmu. Aku suka melihat senyum indahmu. Aku semakin ingin menghibur dan selalu berada disampingmu ketika melihatmu menangis. Aku tak ingin pergi darimu..."
"...tapi aku tahu kalau suatu hari nanti pasti, mau tak mau aku harus pergi meninggalkanmu. Dan jika aku sudah terlalu nyaman berada di dekatmu, akan semakin sulit bagiku untuk melepasmu, Sakura-chan"lanjut Naruto tanpa melepaskan tatapannya dari Emerald Sakura yang jernih.
"Pada akhirnya kau egois, Naruto. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Apa kau tidak memikirkan bagaimana dengan diriku?" omel Sakura kesal atas sikap Naruto yang mengambil keputusan secara sepihak.
"Kau pun egois, Sakura-chan. Kau tak ingin aku pergi darimu padahal kau tahu kalau aku tak akan bisa selamanya bersamamu" balas Naruto.
"Lalu apa itu salah? Apa salah jika aku ingin kau selalu bersamaku sebelum kau pergi meninggalkanku?" tanya Sakura dengan beberapa butir air mata kembali mengaliri pipinya.
Tangan Naruto terulur untuk menghapus air mata Sakura. "Itu tidak salah. Tapi menurutku akan lebih baik kalau kita kembali ke kehidupan kita masing-masing. Toh, aku sudah membantumu menyelesaikan masalahmu" tutur Naruto.
Sakura yang semakin kesal setelah mendengar penuturan Naruto pun hanya bisa menatap Naruto tajam. Kemudian ia tangkis tangan Naruto yang kembali terulur untuk menghapus air matanya. "Kalau begitu, sesuai dengan keinginanmu. Kita tak akan bersama lagi. Kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing setelah ini"
"Arigatou, atas semua bantuanmu untukku. Arigatou, karena sudah menemaniku di masa sulitku" Emerald Sakura menatap dalam Sapphire Naruto.
"Sayounara. Ku harap kau segera tahu tujuanmu berada di dunia ini dan pergi dengan tenang" ucap Sakura sebelum kakinya melangkah pergi meninggalkan Naruto.
"Sayounara. Semoga ada pemuda baik yang tak akan membuatmu menangis" balas Naruto dengan Sapphire nya yang terus memandang punggung Sakura yang lama-kelamaan pergi menjauh.
.
.
.
=0=0=0=0=0=(Promise)=0=0=0=0=0=
"Baka! Baka! Baka! Naruto no Baka!" gumam Sakura berkali-kali. Gadis berambut merah muda itu kini tengah berjalan seorang diri di bawah derasnya air hujan. Ya, beberapa saat yang lalu hujan turun dengan deras. Seolah-olah menangisi perpisahan antara Naruto dan juga Sakura.
"Apa-apaan semua kata-katanya itu!" grutu Sakura yang masih kesal dengan semua kata-kata Naruto tadi. Beberapa butir air mata mengalir membasahi pipinya. Tapi Sakura tak menghiraukan itu.
"Apa maksudnya, 'Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita'. Aku benar-benar tak mengrti dengan jalan pikirannya" Sakura masih saja mengomel. Bahkan ia meniru kata-kata Naruto.
"Tolong!"
"Tolong!"
"Tolong!"
Terdengar oleh indra pendengaran Sakura. Suara seseorang yang sedang meminta pertolongan. Dengan cepat, Sakura edarkan pandangannya keseliling—mencari tahu siapa orang yang butuh bantuan. Hingga akhirnya Emerald nya menangkap suatu pemandangan yang tak mengenakan. Terlihat seorang gadis kecil yang tengah berteriak-teriak minta pertolongan dari atas jembatan. Sedangkan di bawahnya—di sungai—terdapat seorang ank laki-laki yang tengah berjuang hidup melawan arus sungai yang deras karena hujan.
Tampak salah satu tangannya sedang menggenggam erat sebuah cabang pohon yang merunduk menyentuh permukaan air sungai. Lalu tangannya yang lain sibuk memeluk seekor anak kucing. Tanpa berpikir panjang lagi, Sakura segera berlari ke tempat ke dua anak itu berada dan melompat terjun dari atas jembatan—masuk ke dalam sungai untuk menyelamatkan anak laki-laki itu.
BYURR!
.
.
.
=0=0=0=0=0=(To be Continued)=0=0=0=0=0=
Yo, minna! Bagaimana cerita kali ini? semoga bagus, ya... kalau tidak, gomennasai... #membungkuk badan
Hah~ sekarang Shizu bingung mau bicara apa lagi. Tapi yang pasti, sebenarnya chapter 3 nya telah Shizu selesaikan. Dan seperti biasa, jika kalian ingin Shizu segera meng-upload ceritanya, jangan lupa Review yang banyak, OK?
Ne, ne, minna! Sekali lagi, Jangan lupa REVIEW nya, ya... Aku tunggu, lho...
=0=0=0=0=0=(ARIGATOU)=0=0=0=0=0=
