Title : Gone

Cast : Wu Yi Fan, Huang Zi Tao and OC

Genre : Hurt/Comfort, Sad, and Drama

Rated : T+

Warning : Out Of Character, OC, Death-Chara, Yaoi, BoyxBoy, Typo(s), alur berantakan/?, cerita bikin bosen+mual XD

Disclaimer : Semua pemeran milik Tuhan, orang tua dan diri mereka masing-masing. Cerita asli buatan saya.

Request (Buat ff KrisTao dengan tema MV JIN Berjudul GONE) : Fanlie Wu
Story by : WHO Yizi OsHztWyf

DON'T LIKE DON'T READ!
NGERTI KAN? GAK SUKA JANGAN BACA! APALAGI KALO MERASA BERMASALAH SAMA CASTNYA, JAUH2 DEH!


{Chapter sebelumnya}

Zi Tao yang mendengar jelas erangan kesakitan Yifan, terlihat mulai khawatir. "Apa yang terjadi, Yifan-Gege?"

Yifan menelan pil tadi dengan cepat. Beralih menatap Zi Tao yang terlihat cemas dengan keadaannya. "Tidak apa-apa Zi." Ucapnya berbohong. "Kau mau permen?" Tanyanya saat retinanya tanpa sengaja melihat piring ukuran kecil berisi permen dua warna -Merah dan putih- terletak diatas meja piano.

Zi Tao hanya mengangguk malu-malu menanggapinya.

Yifan mengambil permen yang berwarna merah. Mengarahkannya tepat di depan bibir Zi Tao yang ternyata berbentuk sangat indah dan mungil. "Aaaa.." Kata Yifan, menyuruh Zi Tao untuk membuka mulutnya.

Zi Tao membuka mulutnya. Dan kembali menutup mulutnya setelah menerima permen suapan Yifan. Ia tersenyum manis, dengan kedua pipi bersemu merah. Membuatnya terlihat berkali lipat lebih manis jika merona seperti itu.

Tak beda jauh dengan Yifan yang juga tersenyum, sembari menatapi jari telunjuknya yang mengenai bibir Zi Tao saat menyuapkan permen barusan.

{Next Chapter / End Chapter}

[Two Month Later]

Kehidupan Yi Fan tidak lagi monoton seperti sebelumnya. Berawal dari ia mengikuti les piano dirumah keluarga Huang. Bertemu dengan Zi Tao. Menjalani hari-harinya dengan senyum yang membuat kedua orang tuanya terkadang merasa heran.

Yifan bahagia.

Bahagia bisa mengenal Huang Zi Tao.

Huang Zi Tao, putra tunggal Huang Zhou Mi yang perlahan-lahan merambat memasuki hatinya yang kosong.

Huang Zi Tao, pemuda cantik yang selalu melayang-layang di pikirannya setiap saat.

Huang Zi Tao, pujaan hati Yifan yang selalu mengisi harinya di antara sisa-sisa waktunya.

"Yifan, Mommy membawakan sarapan untukmu.." Ujar Xia Yuan setelah membuka pintu kamar putra tunggalnya terlebih dahulu.

Ia berjalan mendekati Yifan yang terbaring dengan selang infus di tangan kanannya. Lengkap dengan selang oksigen yang bertengger di hidungnya.

Xia Yuan meletakkan nampan berisi bubur serta segelas susu diatas meja nakas di samping ranjang Yifan. Membantu sang anak yang sedikit kesusahan untuk duduk.

Xia Yuan mengambil semangkuk bubur yang masih panas. Menyendoknya lalu meniupnya dengan pelan agar buburnya tidak terlalu panas untuk Yifan makan.

Yifan membuka mulutnya, menerima suapan sang Ibu. Ia menelan bubur yang berada dalam mulutnya secara perlahan. Lalu kembali membuka mulutnya kala Ibunya kembali menyuapkan sesendok bubur untuknya.

Yifan mengulurkan tangannya. Mengambil segelas susu lalu menenggaknya sedikit. Ia menatap sang Ibu. "Mom, apakah ada harapan untuk aku sembuh?" Suara baritone Yifan terdengar serak.

Pertanyaan Yifan barusan berhasil memukul telak relung hati Xia Yuan. Membuatnya terkejut sekaligus sesak secara bersamaan. Namun Xia Yuan tetap menyuapkan sesendok bubur yang ditiupnya terlebih dahulu pada Yifan.

Xia Yuan tersenyum lembut. Meski hatinya menyimpan sejuta keresahan dan rasa takut yang amat sangat. "Tuhan akan melindungi semua orang yang berhati baik.. Maka dia juga akan selalu menjagamu, Yifan." Ujarnya lirih.

Di tatapnya wajah tampan Yifan yang kian hari semakin pucat.

"Aku ingin sembuh, Mom. Aku masih ingin hidup lebih lama." Kata Yifan.

Stop Yifan! Jangan lanjutkan lagi.

"Aku tidak siap Mom. Aku tidak siap jika harus-"

"Yifan, cukup!" Seru Xia Yuan. Air matanya sudah mengalir deras tanpa diminta. Ia mendekap tubuh Yifan. "Mommy, daddy, akan selalu berada disampingmu Fan. Kau pasti akan sembuh! Percayalah nak.." Bisiknya lirih.

Yifan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ibunya. Bergumam lirih yang membuat Ibunya semakin terisak kuat.

"Tapi kemungkinan seorang 'Heart Failure' akan hidup itu hanya sedikit, Mom."

Zi Tao tersenyum saat mengingat hari-hari yang sudah di laluinya selama 2 bulan ini.

Hari yang ia lalui bersama Yifan.

Sosok pria berkepribadian lembut dan hangat. Zi Tao sangat menyukai apapun yang ada pada Yifan.

Kelembutannya.

Caranya berbicara.

Suaranya yang berat dan manly.

Zi Tao menyukai semua itu.

Ia merasa nyaman saat berada di dekat Yifan.

Zi Tao selalu berdoa pada Tuhan. Agar ia diberi kesempatan untuk melihat wajah sosok pria yang di kaguminya itu.

Bukan hanya ingin melihat wajah Yifan, ia juga ingin melihat seperti apa wajah ayahnya, Huang Zhou Mi.

"Apa yang kau lakukan disini Zi?"

Itu suara Zhou Mi, ayahnya.

"Aku hanya ingin duduk disini, Baba. Aku merindukan udara pagi."

Zhou Mi tersenyum tipis. "Baiklah, Baba kedalam. Masuklah jika kau merasa kedinginan." Ujarnya sembari mengacak surai hitam putranya dengan sayang.

"Baba! Kau membuat rambutku menjadi berantakan!" Protes Zi Tao tak terima. Berbalaskan kekehan kecil dari sang ayah yang sudah berjalan masuk.

Zi Tao membenahi tatanan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah sang ayah, menggunakan jemarinya.

"Pagi Tao-er.. Apa Gege mengganggumu?"

Zi Tao tersentak kaget mendengar suara Yifan yang tiba-tiba. Ia bahkan sampai memukul bahu Yifan yang entah sejak kapan berada di hadapannya.

Namun Yifan tidak berpakaian resmi seperti biasa. Melainkan hanya memakai kaos lengan panjang berwarna utama hitam dengan aksen garis-garis putih di bagian atas, serta celana panjang berwarna senada.

"Kau mengagetkanku, Yifan-Ge!" Serunya kesal.

Yifan terkekeh kecil mendengarnya. Ia mengusap pipi gembil Zi Tao dengan sayang. "Maukah kau ikut dengan Gege ke suatu tempat, Tao-er?"

Zi Tao memiringkan kepalanya bingung. Yang malah membuat Yifan ingin sekali mencubit pipinya yang begitu menggemaskan menurutnya.

"Gege ingin mengajakmu kesuatu tempat. Kau mau Tao-er?" Yifan bertanya sekali lagi.

"Kemana Ge?"

"Jangan banyak membuang waktu Tao-er. Jika Paman Zhou Mi melihat kita dia akan menendang Gege saat itu juga.." Kata Yifan sambil tertawa kecil. Ia segera menarik Zi Tao untuk mengikutinya turun kelantai 1.

Jangan tanya mengapa Yifan bisa berada disini tanpa diketahui oleh Zhou Mi. Ia sengaja mengendap-endap saat masuk untuk menemui Zi Tao.

.

.

.

Mereka berjalan dengan tangan yang bertautan menuju samping rumah keluarga Huang. Yifan melepas tautan jemari mereka, dan berjalan beberapa centi kedepan.

Yifan menyembulkan sedikit kepalanya dari sudut bangunan tempatnya bersembunyi. Memastikan jika tidak ada seorangpun di teras depan rumah Huang Family's.

Zi Tao sedikit heran mengapa Yifan melepas tautan mereka. Tetapi ia tetap menunggu apa yang akan di lakukan pemuda itu.

Yifan memberikan gestur pada Zi Tao untuk mendekat, tanpa mengalihkan perhatiannya dari teras depan rumah ini.

Dan Yifan segera menepuk pelan keningnya karena melupakan jika Zi Tao tidak akan melihat kode agar mendekat yang di buatnya.

Yifan berjalan menghampiri Zi Tao, lalu menggenggam jemarinya dan menariknya menuju teras depan.

Zi Tao tersentak saat jemarinya tiba-tiba digenggam dan ditarik oleh Yifan.

Zi Tao mendudukkan dirinya dengan bantuan Yifan untuk mencari posisi yang tepat. Sementara Yifan sendiri memilih duduk menghadap Zi Tao.

"Untuk apa Gege mengajakku kesini?" Tanya Zi Tao pelan. Matanya memandang lurus ke lain arah Yifan berada.

"Gege hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, Tao-er." Jawab Yifan pelan.

Zi Tao terdiam mendengar jawaban Yifan.

Entah hanya perasaannya saja atau apa, ia merasakan firasat buruk. Bahkan hatinya seakan tidak menerima jawaban Yifan barusan.

Keheningan mulai menyelimuti keduanya.

Zi Tao sibuk menghalau firasat buruk yang terus berputar dipikirannya. Sementara Yifan lebih memilih memandangi wajahnya dalam diam.

"Yifan-Gege, bolehkah aku menyentuh wajahmu, Ge?" Tanya Zi Tao, berusaha memecah keheningan yang terjalin dari beberapa menit yang lalu.

Yang ditanya hanya mengangguk singkat. Meskipun ia tahu Zi Tao tidak akan melihatnya. "Tentu, Tao-er. Sentulah sepuasmu.." Balas Yifan dengan senyum terpatri pada bibir pucatnya. 'Sebelum kau tidak lagi bisa menyentuhku.' Lanjutnya dalam hati.

Zi Tao mengulurkan kedua tangannya, yang dibimbing oleh Yifan menuju wajahnya.

Zi Tao mengusap pipi tirus Yifan yang terasa lembut di tangannya. Menyentuh kedua mata Yifan yang terpejam. Hingga menyentuh hidung mancung Yifan serta bibirnya yang sedikit tebal. Berakhir di rahang Yifan yang menurut Zi Tao sangatlah tegas.

"Yifan-Gege pasti pria yang sangat tampan. Aku jadi ingin melihat seperti apa wajah tampan Gege.." Kata Zi Tao antusias. Terbukti senyumnya tidak pernah lepas menghiasi bibirnya saat menelusuri setiap inchi wajah Yifan.

Yifan memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan Zi Tao pada wajahnya. Ia menggenggam telapak tangan kiri Zi Tao, dan menuntunnya menuju dada kirinya.

Yifan terus menatapi wajah Zi Tao seolah ia tidak lagi bisa memandangi wajah cantik itu di kemudian hari.

"Tao-er, jika kau mengijinkan, Gege ingin sekali menciummu. Sekali saja.."

Pipi Zi Tao memanas mendengar permintaan Yifan barusan. "Di-dimana Ge?" Tanyanya gugup.

Yifan menekan bibir Zi Tao menggunakan jari telunjuk kirinya -berhubung tangan kanannya masih menggenggam jemari Zi Tao yang berada di dadanya-. "Bolehkah?" Tanyanya setelah memberi kode untuk pertanyaan Zi Tao.

Zi Tao mengangguk malu-malu. Pipinya bahkan sudah mirip tomat matang saat ini.

Yifan sedikit menarik tengkuk Zi Tao agar mendekat dengannya. Ia memejamkan matanya saat bibir keduanya semakin dekat. Sama halnya dengan Zi Tao yang juga memejamkan mata berwarna abu-abu buram miliknya.

Awalnya Yifan hanya ingin mengecup bibir mungil Zi Tao. Tetapi keinginan membuncah untuk mencium Zi Tao lebih dalam mendominasi dirinya.

Yifan melumat lembut bibir Zi Tao yang terasa manis baginya. Tidak ada nafsu, melainkan ciuman sayang yang menyenangkan bagi Yifan sendiri maupun Zi Tao.

Sekitar 5 menit keduanya berciuman hangat tanpa melepaskan tautan jemarii mereka di dada Yifan.

Yifan melepas pagutannya. Jemarinya bergerak menghapus saliva yang entah milik siapa mengalir di sudut bibir Zi Tao. Ia tersenyum.

Tersenyum tulus sembari menatapi wajah cantik Zi Tao yang begitu sempurna menurutnya.

'Aku mencintaimu Tao-er. Sangat mencintaimu.' Batin Yifan.

Setetes air mata berhasil meluncur dari mata setajam elang miliknya melihat senyum manis Zi Tao yang di tujukan padanya.

"Argghhh!" Yifan mengerang tertahan merasakan sakit yang luar biasa di bagian dada kirinya. Ia bahkan sampai meremas jemari Zi Tao yang berada disana.

Zi Tao memekik kecil ketika jemarinya diremas kuat oleh Yifan. "A-Apa yang terjadi, Yifan-Ge?!" Tanyanya cemas.

Yifan merogoh saku celananya dengan terburu-buru. Mencoba mengambil sebuah botol kecil transparant yang selalu di bawanya kemanapun. Dengan susah payah ia berusaha membuka penutup botol kecil tersebut menggunakan tangan kirinya.

"Yifan-Ge! Katakan padaku apa yang terjadi?!" Zi Tao berseru keras. Tak bisa dipungkiri, firasat buruk itu kembali muncul dibenaknya. Ia benar-benar di landa rasa cemas dan takut sekaligus saat ini.

Kian lama rasa sesak di dada Yifan semakin menjadi. Ia bahkan sampai melepas tautan jemari mereka, lalu memukul-mukul pelan dada kirinya. Berharap rasa sakit di sana berkurang barang sedikit.

'Tuhan, ku mohon jarang sekarang..'

.

.

.

"Apa anda hanya bekerja pada keluarga Huang selama ini, Lee-ssi?"

Supir pribadi keluarga Wu itu, bertanya dengan sopan pada pria yang lebih tua darinya. Ia lebih memilih mengobrol ringan dengan Lee Joon, sembari menunggu putra Wu Jia Liem.

Baru saja ia melihat pria paruh baya itu akan menjawab, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar. Menampilkan sederet tulisan 'Tuan Wu is calling'.

"Sebentar," Katanya sopan. Pria dengan marga Lee itu hanya mengangguk.

Ia berjalan sedikit menjauhi si pria yang lebih tua.

"Ya Tuan Wu. Ada perihal apa anda menghubungi saya?"

["Anda masih menanyakan hal itu Jung! Sementara anda sendiri tahu apa kesalahan fatal yang anda buat!"]

Suara bentakan dari seberang sana, membuatnya sedikit terkejut.

"Maafkan saya Tuan Wu. Saya akan segera membawa Tuan Muda kembali." Ucapnya setelah mengingat jelas apa yang sekiranya membuat sang majikan murka.

["Keadaan Yifan semakin memburuk! Dan kau malah menurutinya untuk pergi dari rumah!"]

Ia jadi merasa bersalah pada Jia Liem serta Xia Yuan. Mereka pasti sangat mengkhawatirkan keadaan Tuan Mudanya itu.

Bodohnya ia menuruti Yifan yang memintanya untuk mengantarnya ke kediaman Huang pagi tadi.

["Segera bawa Yifan kembali!"]

"Baik, Tuan Wu."

.

.

.

Jia Liem berjalan mondar-mandir sembari menggenggam sebuah ponsel. Raut wajahnya menyiratkan rasa cemas yang kentara.

Kenapa Supir pribadi keluarganya itu belum juga kembali membawa Putranya, Yifan. Sejak hampir setengah jam yang lalu ia menelponnya untuk segera kembali.

Sementara Xia Yuan sudah terisak sejak mengetahui Yifan tidak lagi berada di dalam kamarnya. Meninggalkan selang oksigen serta selang infus yang terkulai di atas ranjang.

"Hiks.. A-aku sudah lalai menjaga Yifan.. Aku terlalu bodoh." Xia Yuan menangis sembari terus menyalahkan dirinya sendiri.

"Berhenti menyalahkan dirimu Xia.." Ujar Jia Liem. Ia mendudukkan diri di samping istrinya itu. Mencoba menenangkan sang istri yang tengah terisak. "Yifan akan baik-baik saja. Percayalah.." Ia memeluk tubuh Xia Yuan yang bergetar hebat. 'Semoga begitu' Lanjutnya dalam hati.

.

.

Paman Jung segera menghampiri Tuan mudanya yang dilihatnya duduk di hadapan anak dari Huang Zhou Mi, dalam keadaan-

-tengah kesakitan?

Ia segera berlari menghampiri kedua pemuda berlainan umur tersebut. "Tuan muda!"

Paman Jung memegang kedua lengan Yifan dari belakang. "Kita harus segera kerumah sakit Tuan Muda. Sebelum keadaan anda bertambah buruk!"

Jantung Zi Tao berpacu kuat mendengarnya.

Apa maksudnya bertambah buruk?

Apa yang terjadi pada Yifan sebenarnya?

"T-Tidak Paman! Hahh hahh... biarkan aku disinih..." Yifan menolak dengan keras, diantara nafasnya yang terputus-putus.

"Celebral Hypoxia anda tengah kambuh Tuan Muda! Sangat berbahaya jika tidak segera di tangani!"

Celebral Hypoxia?

Artinya, kurangnya suplai oksigen ke dalam otak. Menyebabkan seseorang itu kehilangan kesadaran bahkan yang lebih fatal berhenti nafas tiba-tiba?

Jadi sebenarnya Yifan mengalami-

Paman Jung menarik Yifan paksa, di bantu oleh salah satu pekerja Zhou Mi yang kebetulan melintas disana -yang awalnya tidak paham akan situasi, dan langsung dimintainya tolong untuk menarik Yifan kedalam Mobil-.

Yifan terus memberontak. Tetapi hasilnya sia-sia belaka. Keadaannya saat ini sangatlah tidak baik.

"Yifan-Gege, hiks apa yang terjadi hiks Ge?!"

Yifan menatap Zi Tao yang terlihat sangat cemas sekaligus panik. Zi Tao menangis. Menangis untuknya. Sungguh, Yifan ingin sekali menghapus setiap tetesan air mata itu.

'Jangan menangis Tao-er.. Jangan menangis'

Yifan tanpa sadar menjatuhkan botol kecil yang selalu dibawanya kemanapun, pada permukaan tanah.

TRAKK

Zi Tao berjongkok pada tanah yang di tumbuhi rerumputan hijau, namun di tata begitu rapi. Kedua telapak tangannya mencoba meraba-raba permukaan rumput. Mencoba mencari sesuatu yang barusan terjatuh.

Zhou Mi yang melihat kejadian tersebut dari lantai 2 rumahnya, hanya berdiam diri disana. Tanpa berniat ikut campur. Karena, ia mengetahuinya.

Ya, Zhou Mi sudah mengetahui semuanya sejak lama.

Paman Jung berjalan mondar-mandir di depan ruang ICU. Wajahnya terlihat khawatir sekaligus cemas, saat dokter mengatakan jika Yifan harus di rawat di ruang ICU.

Astagah~ apa yang sudah di lakukannya tadi pagi.

Menyetujui permintaan sang Tuan Muda untuk menuju ke kediaman keluarga Huang. Padahal ia tahu jika kondisi Yifan tidaklah baik.

Tuhan.. Selamatkan Tuan Mudanya itu.

Ia akan menjadi orang pertama yang bersalah jika terjadi sesuatu pada Yifan.

Pria bermarga Jung itu berhenti mondar-mandir kala melihat Wu Jia Liem serta Wu Xia Yuan berjalan tergesa-gesa menuju ke arahnya.

Ia langsung jatuh berlutut di hadapan Jia Liem yang terlihat marah sekaligus panik. "Maafkan saya Tuan Wu. Saya sungguh tidak tahu jika kejadiannya akan berakhir seperti ini."

Xia Yuan yang melihat raut murka Jia Liem, mengusap lengan suaminya dengan lembut. Menyampaikan tanpa kata untuk tidak mengutamakan emosi.

Jia Liem menghela nafas panjang.

"Berdirilah Jung. Lupakan yang sebelumnya. Sebaiknya kita mendoakan keselamatan Yifan."

Paman Jung segera berdiri dengan ragu. Membungkukkan badannya beberapa kali untuk mengutarakan perasaan maafnya. "Sekali lagi maafkan saya, Tuan."

Jia Liem memeluk erat istrinya yang kembali terisak. "Tenanglah Xia. Semua akan baik-baik saja.." Bisiknya. Meskipun ia ragu dengan ucapannya sendiri.

"Aku tidak mau kehilangan Yifan.. A-aku-"

"Tuhan tahu yang terbaik untuk Yifan. Jadi, tenanglah istriku.."

"Pasien mengalami 'Edema Pulmoner Akut'. Terjadi penimbunan cairan di dalam paru-parunya." Dokter yang masih terlihat sangat muda itu berkata, setelah memeriksa keadaan Yifan. "Pasang Sungkup Oksigen dengan konsentrasi tinggi padanya, sekarang juga!"

"Baik Dokter!"

Suster tersebut -Xi Ji Mei, segera memasang Sungkup oksigen di antara hidung dan mulut Yifan. Namun hal itu tidak menghasilkan hal yang di harapkan.

Layar Bedside monitor menampilkan jika jantung sang Pasien tetap berdetak tidak normal.

"Jantung Pasien berdenyut terlalu cepat Dokter! Ini bahaya!" Seru Xi Ji Mei.

Dokter muda tersebut -Choi Siwon, segera memeriksa dada kiri Yifan. Jantungnya berpacu terlalu cepat. "Ganti Sungkup Oksigen dengan Ventilator!" Perintahnya pada Suster Xi tersebut. "Dan anda Suster Kim, Ambilkan ACE-Inhibitor, Diuretik dan Digoxin!"

Suster Xi segera melepas Sungkup Oksigen, dan menggantinya dengan Ventilator.

Sementara Suster yang satunya -Kim Yoon Jin, segera mengambil apa yang di minta Dokter Choi. "Ini Dokter!"

"Masukkan Diuretik dan Digoxin secara Sublingual!" Perintah Siwon. Yang langsung dilaksanakan oleh Suster Yoon Jin. -Sublingual : Meletakkan obat di bawah lidah agar obat masuk kedalam pembuluh darah dengan cepat-.

Sementara Siwon sendiri menyuntikkan obat ACE-Inhibitor ke kulit aliran darah Yifan secara Intravena. -Intravena : Melalui pembuluh darah-.

Selang beberapa menit, detak jantung Yifan terlihat berangsur-angsur normal pada layar Bedside Monitor.

"Syukurlah, Digoxin dan Diuretik itu berkerja dengan baik. Sehingga beban jantung Pasien menjadi berkurang." Ji Mei mendesah lega melihat layar Bedside Monitor yang menampilkan bahwa Vital Sign Yifan perlahan kembali normal.

Yoon Jin mengangguk. "Benar. Jika Arteri dan Vena pasien tidak segera melebar, darah yang terkumpul pasti dengan cepat memasuki bagian kanan jantung Pasien. Dan itu sangat fatal!"

Siwon hanya tersenyum tipis mendengar percakapan kedua Suster tersebut. "Ikut saya keluar Suster Xi, Suster Kim. Keluarga Pasien pasti ingin menjenguk."

"Baik, Dokter Choi." Sahut kedua Suster tersebut kompak.

Pintu ruang ICU terbuka. Menampilkan Dokter kepercayaan keluarga Wu, yang menangani Yifan selama ini. Dokter Choi Siwon.

Xia Yuan beserta suaminya segera menghampiri Siwon dan menanyakan keadaan anak mereka.

"Bagaimana keadaan Yifan, Dokter Choi? Tidak terjadi sesuatu yang buruk pada putraku kan? Dia baik-baik saja kan?!" Tanya Xia Yuan bertubi-tubi.

"Yifan Kritis," Jawab Siwon tenang. Tetapi tidak dengan dua orang di hadapannya yang nampak terkejut mendengar ucapannya. Terlebih Mrs. Xia Yuan yang sudah menangis di pelukan sang suami.

"Yifan.." Lirih Xia Yuan. Ia nyaris terjatuh kelantai jika saja Jia Liem tidak segera mendekap tubuhnya.

"Tenanglah Mrs. Wu, Mr. Wu. Yifan tadi memang kritis. Tetapi ia berhasil melewati masa kritisnya."

"Benarkah? Apa itu artinya Yifan bisa sembuh, Dokter Choi?" Tanya Jia Liem. Secercah kebahagiaan muncul dihatinya kala mendengar perkataan sang Dokter.

Siwon tersenyum lemah. "Berhasil melewati masa kritis bukan berarti Yifan akan sembuh." Katanya menjelaskan. Berhasil mematahkan rasa senang kedua orang tua Yifan yang sudah berharap lebih. "Yifan mengalami Gagal Jantung sejak lahir. Dan kemungkinan dia untuk sembuh paling banyak hanya 50%."

[1st Month]

Zi Tao duduk di sebuah sofa yang mampu menampung sekitar 3 orang, dengan pandangan menerawang. Di tangannya terdapat sebuah botol kecil berisi pil-pil kecil -menurutnya, karena ia sama sekali tidak bisa melihat apa isi botol tersebut.

Sudah 1 bulan berlalu semenjak insiden Yifan yang di tarik paksa untuk segera pulang. Zi Tao tidak pernah lagi melihat tanda-tanda Yifan datang ke rumah ini untuk berlatih piano seperti sebelumnya.

Apa yang terjadi pada Yifan sebenarnya?

Apa Yifan tengah tidak baik?

Sungguh, berbagai jenis pertanyaan selalu menghantui pikirannya perihal Yifan yang seperti hilang di telan bumi.

Tidak ada kabar bagaimana keadaan Yifan sebulan ini. Entah sakit atau sehat, Zi Tao tidak tahu.

Yang pasti Zi Tao sangat mengkhawatirkan keadaan Yifan.

Ia ingin Yifan-nya kembali.

Mengiringinya bernyanyi dengan suara piano.

Menyuapinya permen dua rasa kesukaannya.

Ngomong-ngomong soal permen, tepat tadi pagi permen dua warna itu habis tak bersisa. Menyisakan sebuah botol permen yang kosong melompong.

Apakah itu sebuah pertanda?

Ah tidak! Itu hanya sebuah permen biasa yang tidak bermakna apa-apa. Setidaknya seperti itu lah pemikiran Zi Tao.

Zi Tao beranjak dari duduknya. Berjalan mondar-mandir di sekitaran sofa, lalu kembali mendudukkan dirinya pada penyangga sofa.

"Yifan-Gege, aku merindukan Gege.." Gumamnya lirih. Ia kembali berdiri dan berjalan mengitari sofa. Lalu memilih untuk kembali duduk di sofa empuk tersebut.

Zi Tao teringat saat terakhirnya bertemu dengan Yifan. Saat ia menyentuh seluruh permukaan wajah pemuda tampan tersebut. Yang malah membuat hatinya semakin sesak karena merindukan pria berwarga Wu itu.

Zi Tao membaringkan tubuhnya disana. "Yifan-Gege.." Lagi, nama itu terus meluncur dari bibir mungil berwarna soft pink miliknya.

Ia bangkit dari posisi berbaringnya. Berjalan meraba pinggiran sofa dan kembali duduk pada penyangga sofa. Zi Tao menempelkan botol berukuran kecil yang selama sebulan ini selalu dibawanya kemanapun pada pipinya.

"Yifan-Gege, tidakkah Gege mendengar suara hatiku.. Aku menginginkan Gege kembali.." Gumamnya lirih.

Tepat saat Tao menyelesaikan ucapannya. Pintu ruang piano di buka dari arah luar.

Dan sang pelaku pembuka pintu adalah-

-Yifan.

Xia Yuan menatap sedih wajah putra tunggalnya, yang kian hari semakin pucat. Bibirnya bahkan sudah berwarna putih layaknya orang tak bernyawa.

Hati seorang Ibu mana yang tidak sakit jika melihat buah hatinya dalam keadaan seperti itu. Berbagai macam jenis alat medis menempel di seluruh tubuh bagian atas Yifan. Mulai dari dada, bahkan hingga ke perut.

Belum lagi sebuah jarum infus yang menancap pada nadi Yifan, tepat di tangan kanannya. Serta Sungkup oksigen yang selama ini membantunya untuk bernafas.

Tepat seminggu setelah Yifan melewati masa Kritisnya saat itu, Yifan kembali pada masa-masa tersulitnya. Ia bahkan sempat koma selama dua minggu. Dan baru bangun dari tidur panjangnya beberapa hari yang lalu.

Yifan membuka matanya secara perlahan. Pemandangan pertama yang di lihatnya adalah raut khawatir sang Ibu. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya pelan. Mencoba menyesuaikan retinanya dengan cahaya lampu.

"Mom.." Suaranya terdengar serak dan tak bertenaga.

Xia Yuan tersenyum lembut. "Kau sudah bangun, Yifan?" Yifan balas tersenyum tipis di balik Sungkup Oksigennya. "Kau membutuhkan sesuatu, Son?"

"Aku tidak ingin berada di tempat ini lagi, Mom." Suara Yifan terdengar begitu pelan. "Aku ingin berhenti, Mom. Aku lelah.."

Xia Yuan mematung di tempatnya.

Tidak!

Mommy mohon jangan katakan apapun lagi Yifan!

"Aku ingin 'pulang' Mom.."

Tidak Yifan! Mommy mohon jangan seperti itu!

"Mom, apa kau sangat menyayangiku? Ijinkan aku menemui seseorang."

"Si-siapa Yifan?"

"Zi Tao. Ijinkan aku menemui Zi Tao sebelum aku 'pulang' dan 'beristirahat', Mom."

Xia Yuan menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sahabat suaminya, Huang Zhou Mi. Sementara suaminya yang berada di kursi kemudi sibuk menyetir.

Pikiran keduanya kalut. Berbagai macam pemikiran buruk berputar-putar di pikiran mereka saat ini.

Di satu sisi, baik itu Jia Liem maupun Xia Yuan, merasa takut dan cemas jika terjadi sesuatu yang buruk pada Yifan.

Terlebih saat ini Yifan tidak di bantu Sungkup Oksigen untuk membantunya bernafas. Dan terlepas dari berbagai jenis alat medis yang tadinya untuk membantunya agar tetap bertahan hidup. Dan semua itu Yifan yang meminta mereka melakukannya.

Mau tidak mau atau rela tidak rela, mereka mematuhi apa kata Yifan.

Xia Yuan memeluk Yifan yang bersandar pada bahunya. Ia mengusap surai pirang putranya itu dengan sayang. Meski air matanya tidak juga berhenti mengalir sedari ia mendengar segala penuturan Yifan 1 jam yang lalu.

"Kita sudah sampai. Daddy akan membantumu untuk bertemu Zi Tao. Turunlah Fan." Kata Jia Liem.

Yifan menggeleng pelan. "Tidak Dad. Aku akan menemui Zi Tao sendiri." Tolaknya halus. "Kalian tunggulah di sini."

"Tapi Yifan kead-"

Yifan menyela. "Aku baik-baik saja, Mom." Ia segera beranjak turun dengan perlahan. Sembari memegangi bagian dadanya yang mulai berdenyut sakit.

Berjalan dengan tertatih melewati gerbang yang sudah di buka oleh Paman Lee, menuju kediaman keluarga Huang. Meninggalkan Jia Liem serta Xia Yuan yang berada di mobil dengan perasaan campur aduk. Cemas, takut, panik, dan entahlah. Sangat sulit untuk di jabarkan betapa kacaunya pikiran mereka saat ini.

"Biar saya bantu, Tuan muda Wu." Ujar Paman Lee. Merasa kasihan melihat Yifan yang berjalan dengan susah payah.

"Tidak Paman. Aku tidak mau merepotkanmu."

Paman Lee hanya menggeleng pelan. Merasa tidak keberatan jika membantu pria muda yang terlihat tidak sehat itu. "Bukan masalah Tuan." Katanya ramah. Ia memegangi kedua lengan Yifan untuk membantunya berjalan.

Setelah tiba tepat di depan pintu utama rumah Keluarga Huang, Yifan menghentikan langkahnya dan tersenyum tipis pada pria paruh baya itu. "Sampai di sini saja Paman. Dan terimakasih atas bantuannya."

"Ya. Saya permisi Tuan muda Wu."

sepeninggalnya Paman Lee, Yifan segera membuka pintu itu dan berjalan memasuki rumah tersebut. Alih-alih menekan bel. Jika Zhou Mi yang membukakan pintu untuknya sudah di pastikan pria paruh baya bermarga Huang itu melarangnya untuk menemui Zi Tao.

Yifan memutar kenop pintu ruang piano. Lalu mendorong pintu tersebut. Hal yang pertama kali terpampang di hadapannya adalah sosok Zi Tao. Yang berdiri dengan pandangan lurus ke depan -pada piano.

"Yifan-Gege, kau kah itu?"

'Tao-er.. Gege merindukanmu..' Batin Yifan.

Namun Yifan hanya diam, tidak membalas pertanyaan Zi Tao. Ia sibuk menatapi wajah pujaan hatinya itu, yang memang jarak mereka tidaklah terlalu jauh. Hanya sekitar 7 langkah dari posisinya berdiri.

'Tao-er, Gege mencintaimu.' Yifan membatin lagi. Setetes air mata meluncur bebas dari hazel tajamnya.

Ia berjalan tertatih menuju kursi piano. Setelahnya mendudukkan bokongnya di sana.

Yifan memejamkan matanya selama beberapa detik. Ia memutuskan untuk tidak mengungkapkan perasaanya pada Zi Tao secara langsung.

Karena, ia sudah menyadari apa alasan Zhou Mi selama ini melarangnya mendekati putranya. Zhou Mi sudah mengetahui jika ia mengalami Gagal Jantung. Sehingga pria paruh baya itu tidak mengijinkan Zi Tao berdekatan dengannya. Yang jika lelaki cantik itu nantinya mengetahuinya, pasti akan sedih dan sakit hati.

Yifan menekan Tuts-Tuts piano dengan sisa-sisa tenaganya. Melodi indah yang di buatnya bila di artikan adalah 'Aku mencintaimu.. Segalanya tentangmu..'

Zi Tao yang mendengar, juga mengerti makna nada indah yang di buat Yifan tersenyum bahagia.

Ia bahagia.

Karena perasaan cintanya terbalas.

Yifan tersenyum, dengan setetes air mata yang meluncur dari matanya. 'Gege mencintaimu Tao-er.. Teruslah tersenyum walau tanpa Gege disampingmu. Gege mencintaimu..'

Wajah dan bahu Yifan jatuh membentur piano. Menimbulkan suara bising karena Tuts piano yang tertekan secara bersamaan.

Yifan menghembuskan nafas terakhirnya sebelum menyelesaikan nada terakhirnya yang artinya 'Aku mencintaimu.'

Yifan telah 'GONE'.

Yifan sudah pergi untuk selama-lamanya.

Meninggalkan Zi Tao yang terkejut mendengar suara benturan sekaligus suara bising piano yang ditekan secara bersamaan.

Meninggalkan Zi Tao yang mulai menangis dalam diam.

Paman Lee yang entah sejak kapan berada di sana, segera menggendong tubuh tak bernyawa Yifan menuju mobil.

Menyisakan Zi Tao yang menangis dalam diam. Serta Zhou Mi yang berdiri di belakangnya. Menyaksikan semua kejadian barusan dalam keterdiaman.

Zhou Mi berjalan menuju kursi piano yang di duduki Yifan tadi. Ia mendudukkan bokongnya di kursi tersebut. Jemarinya bergerak menekan beberapa Tuts piano, mengalunkan melodi indah yang jika di artikan adalah 'Dia mencintaimu.'. Hal yang di lakukannya bertujuan untuk melanjutkan nada terakhir Yifan yang belum sempat dia lanjutkan melalui melodinya.

Zi Tao tersenyum bahagia.

Ia sudah mengerti akan semuanya.

Zi Tao sudah paham apa yang terjadi.

Dan penyebab Zi Tao tersenyum, karena ia bahagia Yifan sangat mencintainya. Bahkan sampai detik pemuda yang di cintainya itu menjemput ajalnya.

"Terimakasih Yifan-Ge.. Aku mencintaimu.. Semuanya tentangmu.. Selamat jalan Yifan-Gege.."

Itulah Cinta.

Cinta itu bukan melihat seberapa lebihnya dirimu. Melainkan mencari titik kekuranganmu, agar dia bisa melengkapi setiap titik tersebut.

Seperti Cinta Yifan. Dia tidak pernah memandang Zi Tao yang tidak bisa melihat.
Sama halnya dengan Zi Tao. Dia mencintai Yifan meski ia sama sekali tidak mengetahui seperti apa rupa Yifan.

Mereka saling mencintai. Saling melengkapi hingga maut yang memisahkan.

FIN


Haihaihai!
Gimana ffnya? Endingnya gantung? Coba aja noh liat MVnya, kan endnya cuma ceweknya senyum doang hahaha .

Jangan timpuk aku karna ff nista ini.

Buat yang udah dukung dan review di chapter sebelumnya, BIG THANKS ya buat kalian.

Salam sayang dari kakak Yizi..
Love you KTs and reader. Muach XD