Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Jongin's Family
Cast: Kyungsoo- Jongin
Other Cast: Exo, introducing Kim Jongsoo and Kim Kyungin and other babies
Rated: T
Genre: Genderswitch! Family, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: another genderswitch, and family's life. I hope you guys enjoy :3
Words: 5815
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading
Introducing the babies:
Kim Jongin + Do Kyungsoo = Kim Jongsoo(n) age: 6, Kim Kyungin(y) age: 2
Oh Sehun + (Xi) Luhan = Oh Hani(y) age: 8, Oh Sehan(n) age: almost 7
Park Chanyeol + Byun Baekhyun = Park Chana(y) age: 5, Park ChanHyun(n) age: 1
Kim Jongdae + Kim Minseok = Kim Min Jong (n) age: 9
Kim Joonmyeon + Zhang Yixing = Kim Yoonyi (y) age: 2
. . .
Klek!
Kenop pintu kamar mandi berputar, keluarlah Jongin yang baru saja selesai mandi air panas tepat pukul 11.30 malam, benar-benar sudah larut. Jongin melilitkan handuk di pinggangnya, dan membiarkan dadanya terekspose. Ia juga menyampirkan handuk kecil di rambutnya yang basah, air terlihat menetes ketika Jongin berjalan.
"Brr, dingin sekali, Kyungsoo menyalakan AC di temperatur berapa?" Jongin bergidik, tubuh bagian atasnya yang tak tertutupi apapun dan masih sedikit basah membuatnya berjengit ketika berhadapan dengan udara dingin, Jongin melirik suhu yang menunjukkan angka 18 derajat celcius di remot AC.
"Aku tahu ini musim panas, tapi jangan sedingin ini, dasar pororo." Cibir Jongin bercanda ke arah istrinya yang sudah tidur, mungkin kelelahan. Jongin mengecilkan suhunya menjadi dua puluh derajat, ia menuju ke meja rias dan menggosok-gosokkan handuk di rambutnya agar cepat kering. Jongin menatap hairdryer dan cepat-cepat memakai mesin pengering rambut itu.
Setelah rambutnya kering, ia langsung berniat berganti pakaian sebelum mendengar suara Kyungin menangis. "Ya Tuhan, Kyungin. Ini sudah malam, kenapa ia menangis? Jangan-jangan susunya habis." Karena ia belum berganti pakaian, Jongin berniat membangunkan Kyungsoo.
"Yeobo, yeobo ireona." Jongin membangunkan Kyungsoo dengan cara andalannya, yaitu dengan sedikit memijat kaki Kyungsoo. Namun Kyungsoo tidak bergeming, Jongin jadi merasa kasihan apalagi melihat kantung mata Kyungsoo yang terlihat jelas meskipun dengan pencahayaan lampu kamar saja.
"Geurae, nikmati tidur manismu gongjunim." Jongin memilih mencium bibir Kyungsoo sebentar, lalu menuju kamar Kyungin tanpa sempat berganti pakaian. Benar saja, Kyungin sedang menangis sambil duduk di tempat tidur bergambar teddy bear miliknya. "KyungKyung wae?"
"Appa shileo.." Jongin menautkan alisnya, "Tidak mau kenapa?" tanya Jongin bingung, ia duduk di tepi tempat tidur Kyungin. "Shileo, huueee." Tangis Kyungin semakin kencang, akhirnya Jongin langsung menggendong Kyungin di dekapannya.
'Mungkin Kyungin mengalami mimpi buruk.' Pikir Jongin, Kyungin langsung membulat di gendongan Jongin seperti anak koala. Jongin memeriksa diaper Kyungin, belum terlalu tebal jadi ia tidak perlu menggantinya dulu. Kyungin mengistirahatkan kepalanya di pundak Jongin, dan berusaha memejamkan mata kembali. Jongin menepuk-nepuk pundak Kyungin, menina-bobokan anaknya.
Setelah sekitar sepuluh menit menggendong Kyungin, Jongin rasa Kyungin telah tertidur kembali. Ia meletakkan Kyungin di tempat tidurnya dengan hati-hati dan kembali ke kamarnya dan Kyungsoo. Kemudian berganti baju ke piama tidurnya yang terbuat dari bahan sutera, piama couplenya bersama Kyungsoo.
Ia kemudian berbaring di samping Kyungsoo, dan menghadap ke wajah tenang Kyungsoo yang sedang tidur. Jongin mengamati sepasang alis tebal, mata bulat yang berubah menjadi mirip bulan sabit ketika tidur, bibir penuh dan wajah yang putih halus milik istrinya. "Saranghae." Bisik Jongin pelan, ia kemudian memeluk Kyungsoo dengan sebelah tangan dan menaikkan selimut sampai sebatas pinggang.
. . .
"Kim Jongsoo! Aduh, masa tambah-tambahan saja tidak bisa? Kalau kau punya tiga pisang, lalu appa memberikanmu lima apel, berapa buah yang kau miliki sekarang?" tanya Jongin kesal, ini hari libur. Dan besok Jongsoo mulai masuk SD, tapi sepertinya anaknya yang satu itu susaaahhhh sekali diajak belajar.
"Tidak tahu,"
"Ya!" bentak Jongin, "Bagaimana kau bisa menjawab tidak tahu tanpa menghitung terlebih dahulu eo?" kali ini Jongin benar-benar kesal. "Pokoknya, kalau kau tidak bisa menjawab pertanyaan appa, appa akan memanggilkanmu guru privat. Biar kau tidak bisa bermain dan nonton Pororo lagi," ancam Jongin.
"Shileo." Jongin membentur-benturkan kepalanya di papan tulis mainan bergambar Pororo yang sejatinya ia gunakan sebagai media pembelajaran untuk mengajari Jongsoo. "Kau tidak pernah belajar ya? Memang kalau di rumah apa yang kau lakukan? Kalau di sekolah?" tanya Jongin lagi. Jongsoo tidak menggubris dan memilih tengkurap sambil membuka-buka buku latihan menggambarnya.
"Kim Jongsoo." Panggil Jongin dengan nada rendah. Jongsoo tidak menoleh sedikitpun.
"Kim Jongsoo!" panggil Jongin sedikit lebih kencang.
"Jongsoo-ssi, Jongsoo-nim?"
"Geurae, silahkan saja abaikan appa. Besok appa dan eomma akan ke Jejudo, bersama Kyungin. Karena kau tidak mau belajar, appa akan menitipkanmu bersama bibi Moon dan guru privat. Atau kau mau belajar di rumah halmeoni saja?" Jongsoo langsung menoleh, ditinggal bersama bibi Moon sementara orangtuanya pergi berlibur adalah ancaman besar. Bibi Moon, adalah baby sitter yang bekerja dirumah keluarga Jongin selama beberapa bulan ini, dan bibi Moon akan memaksa Jongsoo makan meskipun Jongsoo tidak menyukainya karena Jongsoo adalah seseorang yang pilih-pilih makanan seperti Jongin.
Atau dititipkan ke rumah halmeoni, itu sama saja buruknya bagi Jongsoo. Biarpun kakek neneknya adalah orang paling baik dan paling sayang padanya di dunia, mereka tetap akan marah kalau Jongin bilang Jongsoo tidak suka belajar dan prestasinya di taman kanak-kanak menurun. Dan Jongsoo selalu takut pada kakek-neneknya gara-gara hal tersebut.
"Jadi, apa sudah mau belajar sekarang?" dengan terpaksa Jongsoo mengerucutkan bibirnya dan mengangguk.
"Appa punya lima apel, dan aku punya tiga pisang kemudian aku akan punya delapan buah-buahan." Jawab Jongsoo lancar. "Nah, begitu dong! Appa tahu anak appa tidak bodoh, malah sangat pintar hihi." Jongin mencium dahi Jongsoo, kemudian Jongsoo cepat-cepat mengusap-usap dahinya.
"Sudah bisa mengurus anak tuan Kim?" goda Kyungsoo yang baru saja keluar dari kamarnya. Jongin mengangguk puas, ia tidak ingin dicap sebagai ayah lemah dan tidak bertanggung jawab lagi. "Baguslah, karena sepertinya aku akan meninggalkan Jongsoo dan Kyungin bersamamu lagi hari ini. Aku harus ke rumah sakit."
"Yeobo! Aku harus ke perusahaan appa yang di Daegu, tidak bisa, kau tahu kan dari Seoul ke Daegu butuh waktu panjang?" tolak Jongin, "Masa sih? Bukannya semalam kau bilang kalau appa membiarkanmu hari ini istirahat?"
"Tidak! Aku istirahat kalau kau ada di rumah, tapi kalau kau bekerja maka aku akan bekerja juga." Jongin tidak mau kalah, Jongsoo ada di usia dimana anak-anak mulai nakal karena mereka sudah banyak tahu dan sudah bisa membantah. Sementara Kyungin, ia menginjak umur hampir dua tahun dan itu dimana saat-saat balita aktif berlarian. Biarpun ada bibi Moon, menurut Jongin itu tetap memberatkan.
"Haha, baiklah. Aku bercanda kok, aku akan di rumah hari ini. Lagipula sepertinya kita kedatangan banyak tamu hari ini," Jongin langsung menghembuskan nafas lega begitu Kyungsoo berkata seperti itu. Ia mengikuti Kyungsoo yang berjalan ke dapur, dan mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas.
"Banyak sekali yang kau keluarkan? Memang kita akan mengadakan pesta?" Jongin mengintip dari sisi kanan kepala Kyungsoo. Istrinya itu sedang mencuci sayuran dan menyiapkan bahan-bahan lain. "Hm, Luhan eonnie bilang ia baru saja datang dari Beijing bersama Sehun dan anak-anak mereka, kemudian Chanyeol mengajak mereka kemari karena lama tidak bertemu. Hampir satu tahun mereka di Beijing, jadi ini semacam penyambutan mereka pulang kembali. Lalu, Minseok eonnie dan Jongdae oppa juga diundang, kemudian kabar ini meluas sampai ke Joonmyeon oppa dan keluarganya."
"Lalu? Bagaimana dengan Kris?" tanya Jongin, "Ya! Kris itu kakak sepupuku, panggil dia hyung! Tidak bisa, ia masih sibuk syuting di China, jadi tidak bisa hadir." Kyungsoo meraih apronnya dan memakainya. Jongin yang mengerti Kyungsoo kesusahan mengikat tali apron itu menariknya dan mengikatkannya dengan hati-hati di belakang punggung Kyungsoo. "Aku kan terbiasa mendengarmu memanggilnya Kris tanpa embel-embel apapun, jadi aku ikut-ikut saja."
"Lain kali kalau bertemu Kris secara langsung jangan memanggil namanya saja, tidak sopan. Ngomong-ngomong gumawo yeobo, aku selalu mengikatkan tali apronku di perut karena susah mengikatnya di belakang hehe." Jongin hanya tersenyum, ia meraih tablet PC miliknya yang ia letakkan di counter dapur.
"Kita punya bahan-bahan yang lengkap untuk masak ayam saus manis, myeokguk (sup rumput laut), samgyetang(sup ayam ginseng) bagaimana? Mau memasak semuanya?" tanya Jongin yang baru saja browsing. "Bagus juga idemu, hari ini musim panas, mereka pasti lelah jadi Samgyetang bisa jadi hidangan yang tepat. Myeokguk bisa dijadikan makanan penyambut, dan ayam saus manis untuk mengingatkan HunHan couple tentang masakan China."
"Keurochi!" sahut Jongin. "Baiklah, jaga Kyungin. Sepertinya ia sudah akan bangun, dan jaga Jongsoo juga. Akhir-akhir ini kau terlalu keras pada Jongsoo, kalau ia dibentak terus ia jadi malas belajar, jadi kau bisa menyiasatinya dengan mengancamnya secara halus seperti tadi." Nasihat Kyungsoo.
"Habis aku kesal, masa sudah mau sekolah dasar tapi ia buruk di matematika. Mau jadi apa ia?" gerutu Jongin. Kyungsoo menyiram rumput laut dengan air dingin agar layu sebelum memasukkannya di air mendidih. "Ia tidak buruk, ia hanya tidak bisa belajar dengan metode kasar seperti itu. Harus dengan kemauannya sendiri, biasanya aku hanya bilang 'Jongsoo-ya, kalau kau tidak mau belajar dan nilaimu jelek eomma pasti sangat sedih, appa juga, halaboeji dan halmoeni juga pasti sedih dan kecewa. Jongsoo tidak malu?' nanti juga ia sadar sendiri. Jongsoo kan memang tipe sepertimu, semakin dimarahi akan semakin memberontak."
"Baiklah, kali ini kejelekan Jongsoo memang menurun dariku." Jongin menanggapi dengan kesal. Kemudian ia sedikit terperanjat mendengar tangisan Kyungin, "Yeobo, Kyungin menangis." Gumamnya. "Biar dia keluar dulu, Kyungin sudah bisa berjalan, nanti juga ia akan mencari kita."
"Mmaa~"
"Eomma yeogisseo, Kyungin-ah. Illeowa aegi." Panggil Kyungsoo, Kyungin yang masih menangis menuju ke dapur. "Mmaa mmaa." Kyungin belum sepenuhnya lancar berbicara, jadi ia masih terbata-bata ketika memanggil eomma.
"Kenapa menangis? Eomma disini, mau memasak. Nanti ada oppadeul dan eonniedeul kesini, sekarang tunggu di ruang TV bersama Jongsoo oppa ne?" Kyungsoo menghapus air mata Kyungin dengan ibu jarinya, dan berbicara dengan putri bungsunya itu seolah-olah dia mengerti. "Coo ppa~(Jongsoo oppa)"
"Sana, ke ruang tv bersama appa." Kyungsoo menyerahkan Kyungin ke gendongan Jongin. "Jangan masuk ke dapur sebelum aku perbolehkan, bisa-bisa tidak akan selesai masakanku sampai yang lain datang." Usir Kyungsoo.
. . .
Ting tong!
"Wah, sudah datang. Siapa ya yang datang?" tanya Jongin, ia baru saja memakaikan diaper Kyungin yang sudah segar karena habis mandi. "APPA! Ada tamu!" jerit Jongsoo, ia segera berlari ke pintu dan berjinjit untuk melihat intercom. Jongin menekan tombol intercom agar bisa menunjukkan siapa yang datang.
"Eh? Itu Sehun ahjussi, ayo bukakan pintu." Jongin membukakan pintunya, "Yo! Selamat datang yang baru saja dari Beijing!" sapa Jongin ceria, ia memeluk Sehun sekilas. "Bagaimana kabarmu Jong? Apa kau baik-baik saja selama kutinggal setahun?" tanya Sehun sambil berjalan masuk.
"Tentu saja, aku ini kan Kim Jongin, masa ditinggal satu partner kerjaku setahun aku tidak baik-baik saja? Ya ampun, anak-anakmu cepat sekali bertumbuhnya." Jongin terpaku menatap Sehan dan Hani yang sudah melebihi tinggi Jongsoo. "Luhan memaksa mereka minum susu setiap hari, harusnya kau seperti itu juga Jong. Siapa tahu.. Jongsoo dan Kyungin mewarisi gen Kyungsoo."
Pletakk!
"Aduh! Lulu!" Jongin tertawa melihat Sehun yang kesakitan dijitak Luhan. "Kau ini, baru datang sudah bikin masalah. Ngomong-ngomong mana Kyungsoo? Aku mencium bau masakan mulai dari pintu, pasti dia sudah heboh memasak lagi." Jongsoo, Sehan dan Hani sudah bermain bertiga sementara Kyungin masih di dekapan ayahnya.
"Begitulah, aku bahkan dilarang masuk dapur." Luhan mendatangi Kyungsoo di dapur, sementara Sehun langsung duduk di sofa dan mengeluarkan laptopnya. "Ya! Jangan bilang kau mau main game dirumahku? Demi Tuhan, Oh Sehun kau sudah kepala tiga." Gerutu Jongin.
"Siapa yang mau bermain? Aku kesini menyampaikan berita baik untuk Kim corp, kau tahu, Moonkyu katanya ia bersedia menjadi salah satu sponsor untuk JCS loh!" JCS adalah nama perusahaan yang dibangun oleh Jongin, Chanyeol dan Sehun dulu. "Moonkyu? Temanmu dari 11-4 dulu? Lama sekali aku tidak mengenal kabarnya. Tapi ngomong-ngomong, aduh apakah harus aku membahas pekerjaan di rumah? Besok-besok sajalah kalau sudah kembali ke kantor."
"Aku kan Cuma memberi tahu berita baik." Jongin mengendikkan bahunya tak perduli, "Pokoknya jangan bahas pekerjaan selama kita masih berada di area rumah."
Beberapa saat kemudian pasangan-pasangan yang lain datang, dan rumah Jongin sekeluarga langsung heboh begitu Chanyeol-Baekhyun dan anak-anak mereka datang, sepertinya keluarga itu punya gen happy virus yang mendarah daging. Mereka menikmati makanan yang sudah dibuatkan oleh Kyungsoo dan mengamati anak-anak mereka.
"Mari kita ucapkan selamat datang pada Luhannie dan Sehunnie, juga pada uri Hani dan Sehan yang telah tumbuh dengan baik selama mereka di Beijing!" sorakan langsung bersahutan begitu Minseok menyelesaikan ucapannya. "Lain kali jangan mengejutkan kami lagi dengan mengatakan akan pindah selamanya ke Beijing, arasseo?" nasihat Chanyeol kesal.
"Mian hyung, waktu itu aku dan Luhan panik. Karena kami lupa, Luhan masih berkewarganegaraan China, sehingga anak-anak kami memiliki kewarganegaraan ganda. Aku kira, mereka akan tertahan karena akte kelahiran mereka yang keluar dari rumah sakit di China. Ternyata orangtua Luhan bisa membantu menyelesaikan tanpa membuat Luhan, Hani dan Sehan tertahan." Jelas Sehun.
"Sehunnie benar, maafkan aku juga. Karena gara-gara masalah ini, pekerjaan Sehun di kantor agak berantakan, untung Jongin dan Chanyeollie bisa mengirimkannya secara online." Luhan membungkuk sedikit. "Tidak perlu seperti itu, kami tahu kok." Kyungsoo menanggapi.
"Sudah-sudah ayo bersulang!" Jongdae mengangkat gelasnya yang berisi wine. "Semoga di tahun-tahu berikutnya kita bisa tetap menjadi sahabat dan semuanya akan tetap sehat." Doa Joonmyeon, kemudian mereka bersulang untuk merayakan hari itu dan mulai memakan masakan Kyungsoo.
"Ya! Mashitta!" pekik Baekhyun, Kyungsoo menoleh. "Jeongmalyo?" Yixing mengangkat dua ibu jarinya, "Jeongmal." Kyungsoo tersenyum senang.
Setelah makan semuanya berkumpul sambil menemani anak-anak mereka yang terlihat cepat akrab satu-sama lain, meski mereka masih kecil-kecil.
"Mungkin suatu saat nanti, kita bisa mengadakan acara perjodohan?" usul Chanyeol sambil setengah bergurau. Yang lain hanya ikut tertawa saja, padahal mungkin mereka juga memikirkan hal yang sama bukan?
TBC
Yeay!
Even if i have really hard time i still manage to finish one chapter.
yup, aku memutuskan buat bikin sequelnya, semoga kalian tertarik ya^^
tapi jangan minta update kilat :( aku bukan author yang bisa update kilat maafin.. apalagi, banyak masalah. Aku udah kelas 12 juga huhu, dan f*ck karena harus diacak kelasnya dan kepisah sama bestfriend, itu kabar buruk banget ;_; aku gatau harus apa...
Udah gitu mau lebaran, sibuk hihihi. SELAMAT PUASA DAN MENJELANG LEBARAN buat yang merayakan^^
Oiya, kalo mau nanya/kenalan silahkan hubungi di:
ya semuanya unamenya athiya064 :D
Anw, saran ya keep/delete?
Ini semacem pembukaan sequelnya, abis ini Jongsoo udah SMA dan Kyungin SMP, penasaran? Aku kasih preview ;)
Prev next chapter:
"Pokoknya oppa tidak boleh pacaran dengan Hani eonnie! Tidak boleh! Sama sekali tidak boleh!"
"Hani eonnie punya pacar, namanya Kim Min Jong!"
"KAU SUKA SEHAN? HAHAHAHA!"
"Mworago?! Tidak bisa dibiarkan, kalau Jongsoo dengan Hani sih aku bisa menyetujuinya, tapi Kyungin dengan Sehan.."
"Pokoknya aku lebih setuju kalau Kyungin dengan Sehan, titik."
"S-Sama sekali tidak! Bagaimana Jongsoo punya adik yang imut dan berkulit putih? Pantas saja selama ini Jongsoo melarang kita bermain ke rumahnya, ternyata ia punya adik yang manis! Kenalkan, aku teman oppamu, namaku Lee.."
"Ya! Oh Sehan!"
"Kau masih mengharapkan uri noona? Ya silahkan saja, kalau kau berani melawan MinJong hyung. Paling-paling kau langsung kalah kena tendangan Taekwondonya, cari gadis lain saja."
. . .
Jongsoo dan Kyungin sedang menginjak masa remaja, masa-masa dimana mereka akan mencari jati diri dan yang tak kalah penting menemukan cinta pertama. Untungnya, mereka dikelilingi orang-orang yang sempurna, anak-anak dari teman kedua orangtua mereka.
Bagaimana nasib Jongsoo dan Kyungin yang memperebutkan dua bersaudara Sehan dan Hani? Siapa yang menang dan menemukan cinta mereka lebih dahulu?
