Disclaimer : Applied
Warning : Kekerasan, action, bahasa blak-blakan, AU, OOC, typo (s).
Genitive (s)
Chapter 2 : The beauty of Naruto-kun.
.
.
.
Yamanaka Ino melangkahkan kaki dengan sedikit tergesa pagi ini. Seragam sekolah yang ia kenakkan ditutup dengan sebuah jaket musim dingin berwarna merah dan putih pada kedua lengannya, jarang sekali ia harus masuk ke dalam kantor kepolisian kereta pada jam sekolah sedang berlangsung. Ia melewati beberapa cleaning service yang membungkuk patuh memberi hormat.
Anggun, cantik dan feminim—Tiga kata tersebut adalah perwakilan dari penampilan seorang anak pimpinan dari perusahaan stasiun kereta api ini.
"Selamat pagi, maaf mendadak masuk ke ruangan kalian." Ino memberi salam hangat sebelum ia menutup kembali pintu kantor keamanan dengan perlahan. Sopan adalah sikap yang harus ia tunjukkan sebagai seorang anak penguasa yang berpendidikan. Jika tidak, orang pasti akan memanggilnya ratu angkuh dan cerewet.
"Selamat pagi, Yamanaka-san," Sakura yang menyadari pertama langsung berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk hormat.
Sementara dua pasang mata lainnya hanya menatap acuh, ini jam sebelas siang. Seharusnya bocah itu berada di sekolah. Sasuke pernah melihatnya sekali-dua kali di dalam tabloid edisi remaja. Tetapi, tidak bagi Naruto. Ia sepertinya salah ruangan. Mungkin bocah ini sedang tersesat dan ingin meminta bantuan?
"Aku yakin kalian sudah tahu aku, kan?" Ino mengambil salah satu kursi. Baru ketemu ternyata ia kelewat percaya diri.
Sasuke hanya menatap datar karena kursi itu adalah miliknya. "Jadi, ada sesuatu yang membuat anda kemari?"
Beberapa detik Ino menatap Sasuke, dalam pandangan Ino pria itu seperti memiliki wajah sama halnya dengan kumpulan balok es. Siapa yang merekrut pria itu untuk bekerja di perusahaan ini?
"Baiklah, sepertinya kalian tidak suka dengan basa-basi. Dan aku juga harus segera ke sekolah dalam waktu 10 menit lagi, karena sekarang aku sedang dalam jam istirahat makanya aku bisa kemari."
Jadi, setelah penjelasan itu, siapa duluan yang sudah berbasa-basi? Naruto menyesal tidak berkomentar. Detik ini ia baru sadar ternyata itu putri pimpinan.
"Ngomong-ngomong hanya kalian bertiga saja yang bertugas di stasiun Konoha?" Ino membuka suara lagi.
Sasuke dan Naruto hanya saling adu pandang. Memang benar, hanya mereka yang sudah beberapa bulan ke belakang bekerja bersama di sini. Sementara Sakura malah sempat-sempatnya meneliti tas dan sepatu bermerk yang dipakainya.
"Aku mendapati beberapa keluhan di sekolah. Teman-temanku bilang bahwa ayahku tidak pantas menjabat sebagai pimpinan di perusahaan. Kalian tahu kenapa?" Ino menunggu respon mereka. Sayang sekali, mereka bertiga tidak dapat jawabannya. Hah, sudah Ino duga. "Mereka bilang bahwa petugas keamanan kereta tidak bisa menjamin keselamatan penumpang wanita."
"Memangnya apa yang sudah terjadi?" Naruto sudah tidak sabar mendengar inti ceritanya. "Bukankah tiap penumpang sudah dipastikan untuk tidak membawa senjata tajam sebelum memasukki pintu kereta."
"Sekarang aku tidak membicarakan tentang pencopet atau tukang menyeset tas orang. Apa kalian tidak tahu bahwa ada banyak chikan di dalam kereta?"
"Beberapa waktu yang lalu, kami sempat mendapat laporan seperti itu. Tapi, ketika kami sudah terjun langsung dalam gerbong. Tidak ada satu keributan yang terjadi," Sasuke merespon tanpa menatap Ino. Ia lebih suka bermain dengan ponsel layar sentuhnya.
Ino berusaha mengabaikan sikap acuh Sasuke. Apa ia kurang cantik dan kaya untuk disegani? Dasar pria rendahan.
Lupakan amarahnya untuk saat ini. Yang terpenting sekarang adalah ia datang jauh-jauh kemari untuk membahas masalah chikan.
"Benar, lagipula kamera sisi tv selalu aktif dua puluh empat jam. Dan bagian para pengawasan kamera tidak pernah melapor pada kami," Sakura menimpali.
Ino tampak berpikir. "Tetapi, setiap harinya teman-temanku selalu menyalahkanku. Mereka bilang transportasi kereta terlalu berbahaya. Pokoknya banyak sekali protesan yang masuk di lokerku, di media sosial, di koran sekolah. Aku hampir gila mendapati itu." Ino memegangi kepalanya yang serasa kapan saja bisa tumbang. "Aku tidak berbohong. Aku rasa mereka juga tidak mengada-ada."
"Mungkin, saat kejadian, mereka seperti kehilangan kesadaran, sehingga mereka tidak berani melapor langsung kepada petugas," Naruto berpendapat.
"Maka dari itu, kami tidak pernah tahu ada masalah ini. Maafkan kami, kami benar-benar menyesal." Sakura menimpali dengan mimik serius.
Ino kembali mengangkat wajahnya. Bodoh, mengapa beberapa detik yang lalu ia malah curhat dan terlihat seperti remaja SMA kaya raya yang menyedihkan. "Sebenarnya ini salah kalian juga sih! Kalian tidak perhatian kepada penumpang!"
Sasuke mendesah, padahal beberapa detik yang lalu gadis itu cukup lembut. Mungkin baru sadar bahwa ia punya wewenang. "Baiklah, untuk ke depan kami akan lebih siaga."
Sebagai anak pimpinan, tentunya tidak akan menarik jika menyuruh mereka menyelesaikan kasus tanpa sebuah imbalan. "Tentunya, aku punya bonus untuk kalian." Ino menyeringai. Selembar cek ia taruh di atas meja. "Ini baru setengahnya, setengah lagi jika tugas kalian sudah selesai." Ino berdiri dari duduknya. Ia yakin, jam pelajaran selanjutnya di sekolah sudah akan dimulai. Sementara limosin sudah menuggunya di parkiran depan. "Aku yakin, kalian bisa mengatasi ini karena aku sudah membaca latar belakang kalian sebelumnya. Kalian orang yang hebat-hebat. Yamato-san tidak salah merekrut kalian ke Konoha. Kalau begitu, good luck, ya?" sebuah senyuman pengharapan tergambar di wajah gadis berambut pirang itu.
.
.
.
Untuk hari ini, Naruto benar-benar menyesal karena bekerja di kepolisian kereta. Seharusnya ia turuti saja apa mau kedua orang tuanya mengurus rumah pelatihan pasukkan ninja yang cukup terkenal di kota Jepang ini. Ia berpikir, dengan menjalani semua itu, akan membuat tubuhnya menjadi tersiksa dan tidak terawat.
Dan setelah memutuskan untuk bergabung di salah satu perusahaan yang berada di bawah kekuasan pemerintah ini, ia harus melakukan hal-hal yang di luar pemikiran normal; Menjadi seorang wanita.
"Hm ... sepertinya lipstik ungu muda sangat cocok untukmu." Sakura tersenyum lebar. Senyum itu benar-benar tidak menyenangkan untuk dipandang pada detik ini.
Naruto tidak habis pikir, mengapa wanita tidak risih memoleskan lipstik lengket berbau buah itu di atas bibir mereka. "Apa kita harus melakukan ini, Sakura-chan? Apa tidak ada jalan lain?" Entah sudah berapa kali Naruto memasang wajah memelas dan berharap ini tidak akan terjadi.
"Maafkan aku, Naruto. tapi, ini salah satunya jalan." Alis Sakura bertaut merasa sedikit menyesal. "Hm, aku berjanji, besok Sasuke yang mendapati giliran sepertimu!" Sakura mengedipkan salah satu matanya sebagai tanda sebuah perjanjian. Kemudian Sakura mengambil sebuah wig berwarna sama dengan rambut Naruto. Ia meletakkan wig itu ke atas kepalanya. "Tenang saja, aku akan melindungimu, Naruto. Kau tidak perlu takut."
Walau kata-kata Sakura sedikit menghiburnya. Tetapi, bisakah gadis itu tidak mengeluarkan tawa disela-sela kalimatnya? "Terimakasih sebelumnya."
"Baiklah, selesai! Apakah aku boleh mengambil foto bersamamu?"
"Tidaak!"
.
.
.
Kening Ino berkerut sementara matanya bergerak-gerak membaca headline di majalah Konoha High School. Ia tidak berniat sedikitpun memasukkan semua kata itu ke dalam hati. Sebagai murid yang berada di jajaran kelas S. Demi Tuhan, ia harus menjaga diri agar seanggun-anggunnya.
Kereta Api Sudah Tidak Aman Lagi. Apakah Putri Pimpinan Akan Melindungi Teman-Temannya?
Ah, benar juga. Berita yang seperti ini hanya terbit di dalam area sekolah. Seharusnya ketiga petugas keamanan itu dibagikan saja majalah Konoha High School ini biar tahu apa yang menjadi masalahnya.
Konoha High School – Kedengarannya sepele, tetapi siapapun juga akan merasa terancam untuk berangkat ke sekolah jika harus menggunakan fasilitas transportasi kereta api. Putri pimpinan perusahaan kereta api tentu tidak akan merasa mendapati ancaman seperti ini, karena ia tidak perlu menggunakan transportasi itu. Apakah ia peduli dengan teman-teman sekolahnya atau duduk bersandar saja pada sofa limosin?
Yang jadi masalahnya adalah sofa limosin yang jelas-jelas tertulis di sana. Cih, apakah besok lebih baik ia menggunakan mobil kijang saja atau bila perlu sepeda ontel? Ino memutar bola matanya. Berita seperti ini tak sekedar sebagai permohonan bantuan dari ancaman mereka. Seharusnya mereka semua meminta secara baik-baik untuk keamanan semua pelajar.
Lupakan soal membaca. Dengan sekali remasan, majalah sekolah itu sudah tidak utuh seperti sebelumnya.
"Apa kita perlu mencari orang yang menulis artikel tentangmu?"
Ah, Ino lupa bahwa Matsuri berada di belakangnya—teman satu kelasnya sendiri itu pasti sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya. "Tidak perlu. Lagipula aku sudah memerintahkan petugas keamanan di sana. Lihat saja mereka yang menulis ini, akan malu sendiri jadinya."
"Kau tidak mengancam petugas keamanan itu untuk memecatnya jika misi mereka gagal, kan?"
Ino terbayang pada wajah Sasuke. Pria itu cukup tampan dan membuat emosinya tidak bisa meledak-ledak. "Awalnya sih, begitu. Tapi, aku mau lihat dulu sampai akhir bulan ini. Berhasil atau tidaknya." Dengan acuh, Ino melempar remasan majalah itu ke dalam kotak sampah yang berada di sisi sofanya.
"Aku harap mereka bisa membantu, " ujar Matsuri.
.
.
.
Naruto tidak mengerti dengan tatapan Sasuke semenjak mereka duduk bersama di ruangan ini. Pria itu ingin berkomentar sepertinya. Tetapi belum menemukan kalimat yang tepat. Belum lagi Sakura entah pergi kemana sehingga tidak bisa menjelaskan situasi yang sebenarnya.
Hari sudah menunjukkan pukul tiga siang. Masih ada waktu untuk beristirahat sampai stasiun kereta mulai dipadatkan oleh lalu lalang orang-orang. Dan akhirnya, Naruto bisa bernapas lega ketika Sakura membuka pintu ruangan membuang kesunyian di ruangan ini.
"Maaf ya aku lama. Aku belikan kalian jus. Apa kalian haus?" Sakura berjalan mendekat ke arah meja kerja mereka berdua. Kemudian ia mengeluarkan beberapa kotak jus dari kontong plastik itu.
"Terimakasih, Sakura-chan." Naruto mengambil sekotak jus jeruk yang berada di atas meja lalu segera meminumnya.
"Bagaimana Sasuke, apakah aku berbakat sebagai penata rias?" Sakura benar-benar penasaran bagaimana pendapat Sasuke atas kerja kerasnya merubah diri Naruto.
Kembali Sasuke menatap ke arah Naruto, dari ujung rambut panjangnya yang dikuncir dua itu, sampai ke ujung sepatu ketsnya yang berhak datar setinggi tiga senti. "Kurasa orang tidak akan mengira ia adalah pria."
Wajah Naruto kontan memerah. "Aku harap tidak ada seorang pun yang mengenaliku nanti." Sungguh hal yang memalukan jika salah satu murid di pelatihan rumah ninja Uzumaki mengenalinya. Mereka pasti mengira Naruto sudah frustasi mengelola usaha keluarga dan berpindah profesi menjadi seorang waria.
"Tenang saja, Naruto." Sakura hanya meyakinkan. "Tiga guratan kumismu tidak mengganggu penampilanmu kok."
"Sebenarnya ... aku heran, apa yang kau taruh di dalam dada dan bokong Naruto." Sasuke berkomentar lagi tanpa malu-malu.
Sakura hampir saja menyemburkan jus yang baru saja akan ia teguk. Jadi, ini yang ada di pikiran Sasuke dari tadi. "Tentu saja rahasia. Ha ha ha." Tangannya menyeka satu garis air jus yang keluar dari sudut bibirnya. "Kau boleh memastikannya sendiri dari balik seragam baju Naruto."
Kali ini Naruto yang tersedak oleh jus jeruknya. Ia melirik ke bagian dadanya yang benar-benar sedikit terasa aneh.
Demi tugas Naruto, percayalah ini hanya demi tugas. Dengan berpikir secara profesional, ia bisa mendepak rasa gugup dan amarahnya terhadap ejekkan murahan Sasuke. "Apa kau penasaran, Sasuke?" Seringai Naruto terasa sedikit menakutkan. "Apa kau mau memegangnya?"
Wajah Sasuke kontan memerah. Ia tercekat tidak bisa berkata apapun untuk memakinya. Sialan Naruto.
"Jangan menggodanya, Naruto." Setelah puas tertawa melihat adegan kedua pria di hadapannya itu, Sakura baru membuka suara. "Kalau dia benar-benar menginginkanmu, kau juga yang susah, kan?"
.
.
.
Seperti halnya kemarin. Ketika kereta jam empat berhenti di stasiun Konoha, semua orang berbondong masuk ke dalamnya.
Kini posisi Sakura kemarin sudah digantikan oleh Naruto. Pria itu dengan canggungnya berdiri tidak jauh dari kedua rekannya. Sementara Sakura sengaja menggunakan topi rajut untuk menutupi rambut merah mudanya yang sangat mencolok. Mungkin saja pria mesum kemarin dapat mengenalinya jika ia tidak menutupi kepala.
Sudah lima menit kereta berjalan, belum ada tercium bau chikan di sini. Kalaupun ia tidak tertarik dengan Naruto, kali-kali saja ada korban lain yang terserang.
Sasuke dengan topi hitamnya terus mengawasi situasi dalam kereta ini. Tujuan kereta untuk hari ini yaitu dari stasiun Konoha ke stasiun Kirigakure. Jarak waktu tempuh yg dibutuhkan sekitar 25 menit saja. Tidak terasa sudah hampir dua puluh menit mereka berdiri di sana. Sekitar beberapa menit lagi kereta akan tiba.
Mungkinkah chikan itu tidak keluar hari ini? Disaat jam padat murid-murid SMA pulang sekolah?
Kereta berhenti pada stasiun berikutnya. Satu persatu penumpang keluar sampai gerbong kosong dan kemudian diisi dengan penumpang yang baru. Ketiga penyelidik ini pun sudah keluar tanpa melakukan apa pun. Rasanya ada yang kurang jika titik terang belum didapat juga.
"Aku rasa, kita perlu memeriksa semua gerbong kereta di jam padat secara bersamaan. Belum tentu mereka hanya berada di satu gerbong saja." Sakura memberi usul ketika mereka bertiga sudah berkumpul lagi.
"Ada banyak jurusan tujuan untuk keberangkatan berikutnya. Kita tidak tahu harus memilih yang mana." Naruto menimpali.
"Apa gadis itu tidak mengerahkan pada petugas yang lain?" Sasuke mengeluarkan pendapatnya.
"Aku rasa tidak." Sakura menopang dagunya. "Kita hanya butuh menangkap beberapa orang. Lalu meminta kesaksian dan mencari tahu ia punya teman komplotan."
"Jadi, bagaimana kalau untuk selanjutnya kita cek yang dari Kirigakure menuju ke Tokyo dulu? Itu hanya membutuhkan waktu dua puluh menit perjalanan juga. Mungkin setelahnya kita baru kembali lagi ke Konoha." Naruto memberi saran yang disertai anggukkan kedua rekannya.
.
.
.
Jam enam sudah terlewati. Bolak-balik dari stasiun Kirigakure lalu kembali lagi ke Konoha, sempat mampir juga ke Tokyo beberapa saat ternyata cukup menguras tenaga. Para penumpang sudah tidak seramai saat jam sibuk tadi. Tingkat kejahatan pada jam enam tidak setinggi jam sibuk. Dengan begini sisi tv dapat menggantikan lagi tugas mereka.
Kesimpulannya, hari ini tidak ada hasil sedikit pun.
"Mungkin si chikan sudah dapat mencium bau kita." Naruto menjatuhkan tubuhnya ke salah satu kursi di ruang tunggu kereta. Kakinya sudah tidak dapat lagi berdiri di dalam kereta. Entahlah, ia merasa dengan mengenakan rok tidak banyak mengeluarkan keringat. Mungkin ini salah satu keuntungan menjadi wanita.
"Mungkin juga dia sudah merinding melihat tampilanmu." Lagi-lagi Sasuke menggodanya. "Hei, Sakura. Parfum apa yang kau semprotkan ke tubuh Naruto? Dari tadi tidak hilang-hilang."
Salah satu sudut bibir Sakura berkedut melihat mereka mulai saling adu mata dengan sengitnya. Harus Sasuke ketahui, parfum yang digunakan Sakura adalah parfum merk terkenal KW 4. Itu saja sebenarnya sudah cukup mahal. Soalnya ia membelinya mendadak di toko swalayan terdekat. "Hah, kalian ini. Aku lapar, apa sebaiknya kita tidak makan dulu saja?"
"Ide bagus, Sakura-chan!"
Baru saja mereka bertiga akan melangkah bergerak menuju ke pintu depan—seorang gadis menyita perhatian mereka. Gadis biasa berseragam Konoha High School dengan posisi duduk menunduk. Bahunya bergetar. Sesekali ia menyeka sesuatu ke arah matanya. Di sampingnya ada sekotak tisu dan juga sebuah botol air mineral.
Tanpa banyak bicara Sakura lebih dulu menghampiri gadis itu. Walaupun kini ia tidak menggunakan seragam petugas. Ini masih termasuk jam kerja. "Maaf, apakah sudah terjadi sesuatu padamu? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sakura ketika ia sudah berada di hadapan gadis SMA itu.
Sebelum ia mengangkat wajahnya. Gadis itu menyeka air matanya terlebih dahulu dengan menggunakan tisu. Walau Sakura sudah melihat muka sembabnya, jawaban yang didapat hanyalah sebuah gelengan pelan. Mungkin saja ia baru putus dengan pacarnya di stasiun kereta ini, atau malah sudah ditinggalkan seorang pergi seperti kejadian di sinetron-sinetron.
Dan ternyata Sakura masih penasaran. Kedua alasan di atas cukup tidak masuk akal untuk saat ini. "Kalau kau merasa kurang baik untuk mengatakannya tidak apa-apa. Tapi, aku adalah petugas keamanan di sini. Melihat ada seorang anak SMA yang menangis di tempat umum cukup mengganggu penumpang yang lainnya."
"Maafkan aku ..." akhirnya gadis itu membuka suara dengan terbata karena ia masih menahan tangisannya.
"Kau seharusnya tidak menggali masalah pribadi orang. Bawa saja dia ke ruangan. Mungkin di sana dia baru akan cerita." Sasuke yang baru datang mendekat langsung berkomentar.
Gadis itu malah menggeleng lagi. "Tidak perlu. Aku akan segera pulang." Ia segera mengemasi barang bawaannya. Memasukkan tisunya ke dalam tas beserta botol air mineralnya.
Tadinya Sakura kecewa karena gadis itu tidak memberikan alasan apa pun. Kali-kali saja ia bertemu dengan chikan dan memberikan sedikit informasi. Sayang sekali ternyata tidak.
Akhirnya gadis itu keluar dari stasiun menuju ke jalan raya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Sakura. Ia benar-benar merasa penasaran.
.
.
.
Pagi berikutnya merupakan hari ketiga untuk pemburuan chikan. Diawali dengan kepadatan lalu lalang orang yang berseliweran mengantri, duduk, membaca koran atau bahkan sedang mendengarkan musik. Semuanya tampak normal saja.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan seperti ada seseorang yang terdeteksi membawa bom rakitan atau pisau kecil yang biasa digunakan untuk mengupas apel. Bahkan gunting kuku saja harus mereka keluarkan dari dalam tas jika harus menggunakan transportasi kereta untuk sekarang ini. Mulai sekarang, peraturan kereta api semakin ketat saja. Ini semua demi keselamatan para penumpang dan kesejatheraan bersama.
Pagi-pagi sekali, Sakura sudah menempelkan sebuah kertas di papan pengumuman yang berisi:
Untuk penumpang wanita. Pakailah pakaian yang sopan. Lindungi diri anda sendiri sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Bila ada masalah sekecil apa pun, silahkan lapor ke kantor pengamanan.
Sakura berharap dengan peringatan tersebut dapat mengurangnya tingkat kejahatan mesum di sini. Setelah ia selesai menempelkan beberapa kertas di papan tersebut, rencananya ia akan kembali ke kantor lagi untuk menyelesaikan laporan. Tetapi niatnya terurungkan karena ia merasa ada seorang gadis yang menunggunya dari tadi—yang berdiri di belakangnya.
Sakura menoleh, ternyata memang benar ada seseorang di sana. Gadis itu membungkuk sebagai sapaan selamat pagi sebelum membuka suara. "Namaku adalah Moegi. Apa kau masih mengingatku?"
Kalau tidak salah, ia adalah gadis yang menangis kemarin. "Hallo, senang bertemu denganmu lagi. Ada yang bisa kubantu?"
Beberapa detik Moegi tampak ragu untuk berbicara. Tetapi kelihatannya ia berusaha untuk mengatakan apa keinginannya. "Sebenarnya ada yang ingin aku katakan."
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan." Sakura sudah seramah mungkin, memancing keberanian gadis itu untuk mengungkapkan apa yang terjadi.
"Sepertinya sia-sia saja menempelkan pengumuman seperti itu."
Sakura menoleh sesaat pada kertas pengumuman di belakangnya. "Memangnya kenapa? Itu kan bagus untuk menjaga keamanan sendiri."
Ia menggeleng. "Aku selalu berpakaian sopan. Tapi, masih saja dijahili mereka."
"Me-mereka, siapa?"
"Salah satu dari mereka bersekolah di Konoha High School." beritahu Moegi apa adanya. "Aku tahu ini bukan tugasmu, tapi jika kau benar bisa membantuku. Datang saja ke sekolah kami dan temukan dia."
Sakura langsung memegang kedua bahu gadis itu. Ia harus memberikan informasi yang lengkap untuknya. "Apa kau tahu jelas siapa dia?"
Sayang sekali, Moegi hanya bisa menggeleng. Bibirnya bergetar untuk mengeluarkan kata-kata. Seharusnya ia tidak mengatakan ini daripada ia mendapatkan masalah yang lebih besar lagi.
Bodoh, bodoh, bodoh. Moegi merutukki dirinya sendiri. Seharusnya ia tidak perlu melakukan ini. "Maafkan aku ... aku tidak bisa mengatakannya."
"Memangnya kenapa?"
Moegi menyentak tangan Sakura. Ia meloloskan diri dari cengkraman wanita itu dan segera berlari dari hadapannya.
Sakura tidak bisa mengejar gadis itu. Ia menghilang begitu saja di antara kerumunan orang-orang yang berdiri dengan gerak gesitnya. Kalau ia takut, kenapa ia memberitahu? Harusnya kalau sudah ingin memberitahu, kenapa tidak memberikan laporan secara detail? Kalau memang ada seorang siswa SMA yang melakukan ini. Demi tugas, mungkin tindakan selanjutnya akan terjun langung ke Konoha High School.
.
.
.
[tsudzuku]
(A/N)
Maafkan saya karena pairing fanfic ini bukanlah SasuSaku.
SasuSaku di sini hanyalah sahabat yang saling mengejek, mendukung dan adu mulut. Lebih dari itu, saya gak bisa mendalami perasaan Sasuke ke Sakura. Maafkan saya sekali lagi.
Ah, makasih ya buat pereview kemarin. Dan yaaah, saya tahu sih, fik ini aneh bin ajaib (?) gak nyangka ya ada yang mau baca... keh keh keh keh (ketawa ala monster) xD
Review pweaseee.
