"Namamu adalah Jungkook. Jeon Jungkook. Dan kau adalah adik kecil Seokjin."
Mulai dari hari itu sosok malaikat kecil itu diketahui bernama Jeon Jungkook.
.
.
.
.
.
.
.
scavenged
.
.
.
.
.
.
[Beberapa menit sebelumnya]
"Berdasarkan informasi yang kami terima dari regu penyidik, senapan yang digunakan untuk menghabisi keluarga Jeon adalah senapan runduk tipe Mauser, Karabiner 98k buatan Jerman yang seharusnya berhenti diproduksi secara komersil sejak akhir Perang Dunia II. Satu-satunya pihak yang dengan mudah mendapatkan senapan jenis ini adalah–"
"LOT, itu yang mau kau katakan, ya kan?"
Wanita itu mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya, "Benar, Pak. Pada awalnya saya merasa gemetar mendengar nama mereka namun begitu regu penyidik melaporkan situasi lebih lanjut, saya merasa sedikit lega."
Lelaki itu menaikkan sebelah alisnya, "Apa yang menyebabkan itu?"
Sang wanita mengehela napasnya, "Senapan runduk adalah jenis senapan yang hanya diperuntukkan untuk para sniper, apakah itu betul, Pak?" lelaki itu mengangguk,"Penyidik menemukan sniper yang diyakini sebagai pelakunya yang berada di atas gedung tak terpakai tepat di ujung pertigaan tempat kejadian. Sniper yang ditemukan sudah tewas di tempat. Entah bunuh diri atau dibunuh. Secara kebetulan, sniper itu bekerja sendiri. Keberadaan anak keluarga Jeon dipastikan aman–"
"–bunuh diri? Apa maksudmu?"
"Entahlah, Pak. Kami pun hanya sampai pada kesimpulan bahwa 'misinya telah selesai dan ia sudah tak dibutuhkan lagi di dunia ini'."
Lelaki itu mendengus, "Benar-benar cara kerja LOT."
"–setidaknya apabila mereka benar-benar merasa bahwa seluruh keluarga Jeon telah mereka habisi."
"Tim forensik sudah memalsukan data, bukan?"
Wanita itu membalik catatannya dan mengangguk, "Sudah, Pak. Saya hanya berharap mereka tidak mencari makam keluarga Jeon."
"Tak apa, bukankah tubuh mereka hanya bersisa tulang belulang? Dan juga, tidakkah kau mengetahui bahwa kapur dapat mempercepat proses pembusukkan?"
Sang wanita menolehkan kepalanya dengan cepat, "P-Pak? Apakah keluarga Jeon.."
Dengan ekspresi wajah yang sulit diungkapkan, lelaki itu mengangguk, "Hanya itu yang bisa kita lakukan. Demi keselamatan anak itu. Lagipula, nampaknya ada seseorang yang mengacaukan data keluarga Jeon, hal itu membawa keberuntungan karena tak akan ada yang dapat mengidentifikasi mayat-mayat itu. Aku pun begitu, apabila Mr. Jeon tidak menggenggam suatu kain–kupikir itu sebuah hoodie–maka aku tak akan dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya."
Wanita itu menundukkan kepalanya begitu mendengar ucapan 'anak itu'.
"Dan satu lagi, Pak. Tim forensik menemukan sebuah botol kecil yang ujungnya sedikit hangus yang berisikan sebuah cairan berwarna kehijauan dari dalam saku Mr. Jeon. Apa anda ingin memeriksanya terlebih dahulu?"
Lelaki itu tersentak, sebuah ingatan terlintas di kepalanya.
Mr. Jeon beserta istrinya bekerja untuk organisasi AR. Mereka ditugaskan untuk meneliti sebuah serum.
Sebuah seringai terulas di bibirnya, "Biarkan cairan itu tetap berada di markas–" lelaki itu beranjak dari duduknya, "–dan beritahu tim forensik untuk bersiaga malam ini. Oh, ya, bawa pistol bersama dengan kalian."
"Pak..?"
.
.
.
.
"Kook, kau masih sakit. Lebih baik sekarang kau istirahat, ya?" Seokjin membersihkan remahan kue yang menghiasi bibir 'adik kecilnya', Jungkook. Kemudian ia membereskan sisa kue, dan membetulkan posisi tidur Jungkook.
Jemari Jungkook terlihat sedikit bergetar, bibirnya bergerak-gerak, hendak mengucapkan sesuatu pada Seokjin, "..K-kau..? Temani.." ucapannya masih terdengar tak beraturan.
Seokjin menangkap maksud Jungkook, ia mendekatinya dan mengusap perlahan jemari Jungkook, "Ne! Hyung dan appa akan ada di sini menemanimu."
"Hyung..?"
Seokjin segera mengangguk cepat, "Kau kan adikku, tentu aku ini adalah 'hyung'-mu!" ujarnya sembari tersenyum cerah.
"Aku, Seokjin, adalah hyung–" ia menunjuk dirinya, "–dan kau, Jungkook, adalah adikku." lanjut Seokjin sembari menunjuk Jungkook.
Setelah mendengarnya, Jungkook yang tengah terbaring lesu akhirnya tersenyum, "Jin-hyung..?"
Seokjin mengangguk dan tersenyum riang, "Yah, kau boleh memanggilku begitu. Mungkin 'Seokjin' terlalu sulit– tapi, hey! Akhirnya kau mengerti, Kookie!" ia hendak memeluk tubuh Jungkook namun dibalas dengan pekikan 'Aduh!' yang membuat Seokjin menyesalinya, "W-waah mianhae, Kookie! Aku lupa kalau kau masih sakit!" pekiknya panik.
Melihat wajah Jin–Seokjin-hyungnya–yang panik, Jungkook tak dapat menahan gelinya. Ia akhirnya tertawa kecil.
"Waah, kau sungguh nakal menertawakan hyung-mu sendiri." Jin melipat kedua tangannya dan mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah. Jungkook, tidurlah nak. Kau ingin cepat sembuh, bukan?" seorang lelaki yang sedari tadi hanya berdiri menatap kedua malaikat kecilnya akhirnya berbicara.
Kedua bola mata Jungkook terpaku menatap lelaki itu, "A..ppa..? Appa..? Appa?" ujarnya dengan menunjuk-nunjuk ke arah lelaki itu.
"Ne, Kook. Ini appa." lelaki itu tersenyum, ia berjalan mendekati Jungkook dan menepuk perlahan pundak bocah kecil itu.
Jungkook mengerjapkan matanya yang terlihat berkilauan beberapa kali, "Jungkook.." ia menunjuk dirinya, "Jin-hyung.." ia menunjuk Jin, "Appa.." dan terakhir, ia menunjuk si lelaki.
"Benar sekali. Kita adalah keluarga." lelaki itu meraih jemari Jin dan membawanya ke dalam genggamannya bersama dengan jemari Jungkook.
Sedangkan Jin merasakan butiran air perlahan membasahi kedua matanya. Pemandangan ini sungguh mencampur adukan perasaannya. Ia merasa semakin menyayangi Jungkook dan bertekad akan terus menemani Jungkook dan tumbuh besar bersama.
Sebuah senyuman terulas dari bibir kecil Jungkook sebelum dirinya terlelap.
Sang lelaki tergerak untuk mencium kening Jungkook. Dan ia melakukannya. Ia mencium kening Jungkook penuh dengan rasa sayang dan rasa ingin melindungi. "Selamat tidur, nak." ucapnya sebelum membawa Jin keluar ruangan.
.
.
.
"Seokjin-ah, kau yakin ingin tetap di sini? Lebih baik kau pulang, bukankah besok kau harus pergi sekolah?" setelah mengistirahatkan dirinya di atas kursi panjang yang tersedia di ruang tunggu, lelaki itu menatap Jin dan bertanya.
Jin menggelengkan kepalanya dengan mantap, "Tidak mau, appa. Aku ingin di sini bersama Jungkook." ujarnya.
Lelaki itu menghela nafasnya, "Sekarang kau sudah mengerti alasan mengapa appa ada di sini, bukan?"
Jin mengangguk kecil, "Aku sangat mendukung keputusan appa. Appa memang selalu membuatku bangga!" ujarnya sembari memeluk sang ayah.
"Mr. Kim?"
Lagi, Jin kembali terinterupsi oleh kedatangan seorang anak buah ayahnya. Wanita yang sama seperti sebelumnya.
"Oh, kau. Apakah semua sudah beres?" Jin menatap ayahnya dan wanita itu bergantian dengan bingung.
Wanita itu terlihat ragu untuk menjawab. Ia melirik ke arah Jin kecil yang sedang menatapnya bingung.
Lelaki itu terkekeh pelan, "Tak apa. Seokjin boleh mendengarnya. Lagipula dia harus mendengar sesuatu yang penting, bukankah begitu?"
"Sesuatu yang penting?" Jin memicingkan kepalanya tak mengerti.
Wanita itu tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelah Jin. "Seokjin-ah, kau tentu adalah anak baik, bukan?"
Jin mengangguk, "Tentu saja, Shin auntie!" ujarnya kepada wanita yang dipanggilnya auntie.
"Anak baik akan mematuhi orang tua, benar?"
Jin kembali mengangguk.
"Kami melakukannya demi kau dan–um adik kecilmu–" "Jungkook!" "Ne, Jungkook. Kalian akan dimasukkan ke sekolah yang sama. Jadi, kau dan Jungkook akan bersekolah di tempat yang sama tanpa takut terpisahkan."
Jin membulatkan kedua mata dan mulutnya, "Apa itu artinya aku harus pindah dari sekolahku?" tanyanya.
Sang ayah menepuk kepala Jin, "Appa melihat sekolah yang baru akan sangat cocok untuk Jungkook dan juga dirimu. Dan juga di sana dekat dengan game center. Bukankah itu bagus?"
Mendengar kata game, ekspresi wajah Jin menjadi berseri-seri, "Jinjjayo, appa? Waah, daebak!" pekiknya riang, ia mengepalkan tangannya dan menggoyangkannya di udara.
Kedua orang dewasa itu tersenyum. Belum saatnya untuk Jin mengetahui alasan sebenarnya dari pemindahan sekolah adalah demi keamanan dirinya dan juga Jungkook.
"Oh, kami akan mendata ulang keluarga anda dan memanipulasi semua akta, termasuk mencatat anak keluarga Jeon sebagai bagian dari keluarga anda. Dan saya butuh nama untuk anak itu, apakah anda sudah memutuskannya?" tanya si wanita selagi ia membuka catatannya.
"Jungkook. Jeon Jungkook."
Wanita itu nampak mengerutkan keningnya, "Tapi, Pak, apa anda yakin akan tetap menggunakan marga 'Jeon'?"
Lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke atas sandaran kursi, "Semua orang pasti akan menanyakan hal itu. Kau tahu teori psikologis? Kau akan berpikir untuk mengganti seluruh informasi guna menghindarkan bahaya datang kembali. Kau tidak akan berpikir untuk tidak menggantinya, sebab itu akan membahayakan. Bagaimana kalau kau balikkan semua kenyataan itu?"
Si wanita tersentak, kemudian mengangguk-angguk mengerti, "Begitu.. Saya mengerti. Akan saya tuliskan sebagai 'Jeon Jungkook'."
"Tambahkan informasi bahwa aku bercerai dengan mantan istriku dan Jungkook mengikuti marga 'ibunya' yang sayangnya sudah tiada dan ia tinggal denganku sekarang."
Jin yang mendengarnya kembali menatap sang ayah dengan heran, "Benarkah itu, appa?" ia bertanya dengan polos.
Sang ayah tertawa kecil dan mengacak rambut anaknya dengan gemas. "Aku tak pernah tahu itu.. Kupikir selama ini eomma pergi ke surga setelah kelahiranku. Hmm.." Jin meletakkan satu jarinya di atas dagu, memikirkan sesuatu. "Dan bukankah marga eomma itu bukan 'Jeon'?"
"Apakah Jungkook itu adikmu?" sang ayah balik bertanya pada Jin yang tengah berpikir.
"Kenapa appa menanyakan hal itu tiba-tiba? Aku bingung.. Bukankah appa sendiri yang bilang bahwa Jungkook itu adikku?"
Lelaki itu tersenyum, "Katakan itu pada Jungkook nanti bila ia bertanya."
"Maaf, Pak, untuk hari kelahiran Jungkook–"
"Hari ini, 1 september."
.
.
.
.
.
.
.
Lima tahun berlalu. Jungkook tinggal dengan damai bersama dengan keluarga Kim. Jungkook yang berumur 12 tahun telah menerima seluruh penjelasan tentang dirinya dari Jin yang berumur 17 tahun, secara teknis Jin telah cukup umur untuk mengetahui segalanya tentang kejadian yang menimpa keluarga Jeon. Dan setelah perdebatan cukup lama dengan hati kecilnya, Jin memutuskan untuk mencari tahu tentang keluarga Jeon. Tanpa diketahui oleh siapapun, baik Jungkook atau ayahnya. Sementara ayahnya sendiri masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang inspektur. Kasus keluarga Jeon memang ditutup sementara karena mereka tak menemukan bukti lanjut, dan tepat pada hari ini, seminggu setelah ulang tahun Jungkook, kasus itu akan ditutup secara permanen. Ayahnya tentu menentang hal itu, maka ia memutuskan untuk melanjutkan penyidikan hanya bersama dengan beberapa rekan setianya.
"Pastikan semua pintu dan jendela terkunci. Dan jangan menghancurkan rumah." pamit sang ayah di malam itu.
"Yah, appa! Aku dan Jin-hyung tak mungkin menghancurkan rumah.." Jungkook kecil mengerucutkan bibirnya, tanda protes.
Sang ayah menepuk-nepuk pundak Jungkook sembari tersenyum, "Appa pergi dulu, ne? Bye, Jungkook-ah."
Entah mengapa, Jungkook merasa enggan untuk melepaskan pandangannya dari sosok sang ayah yang perlahan menghilang dari pandangannya. Ia merasakan suatu perasaan aneh dari dadanya. "Ah, aku penasaran ke mana Jin-hyung.." gumamnya berusaha mengalihkan perhatian.
Sejak memasuki sekolah menengah, Jin selalu pulang lebih larut dan nampak begitu sibuk mengerjakan sesuatu. Jungkook selalu menemukan sosok Jin yang tengah berkonsentrasi dalam kamarnya. Sosok Jin yang begitu serius membuatnya enggan untuk mengganggunya. Jungkook memutuskan untuk tidak mengganggu hyung-nya.
Jungkook menengok ke arah jam dinding. Pukul 7 malam, dan Jin belum juga kembali. Ia merebahkan dirinya ke atas sofa dan meraih remote control.
Sekitar sepuluh menit setelahnya, pintu depan dibuka oleh seseorang. "Aku pulang."
Jungkook segera menengok dari balik sofa, "Selamat datang, hyung!" sapanya gembira.
Jin hanya memberikan senyum dari balik wajah lelahnya, ia langsung berjalan menuju tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Jungkook mengerti keadaan Jin yang sedang lelah, jadi ia melanjutkan kegiatan menontonnya.
Beberapa saat kemudian, matanya terpaku menatap sebuah acara yang menceritakan kehidupan keluarga. Ada sebuah adegan di mana sang tokoh utama bersama dengan ayahnya pergi ke makam sang ibu.
"Eomma, walaupun aku tak pernah melihatmu aku selalu berdoa semoga kau tenang di sana."
Dan membuat Jungkook menyadari sesuatu, "Benar juga. Mengapa kita tidak pernah pergi ke makam eomma?"
.
.
.
Sosok lelaki tinggi, tegap, dan berjas hitam tengah berjalan menyusuri keramaian di malam hari. Ia memutuskan untuk memarkir jauh mobil patrolinya agar tidak mengundang perhatian masyarakat. Ia berjalan menuju sebuah gedung tua bersama seorang rekannya.
Gedung tua tempat ditemukannya sniper yang menghabisi keluarga Jeon.
Setelah meyakini bahwa tak ada yang mengawasi, mereka masuk ke dalam gedung tua itu.
Gedung itu benar-benar sudah ditinggalkan, sehingga tak ada yang berniat memasukinya.
Dalam beberapa langkah pertama, lelaki itu merasakan sesuatu yang aneh. Penciumannya menangkap sesuatu yang sangat menusuk. Sejenak ia menenangkan dirinya tanpa sepengetahuan rekannya, dan mencari alasan bagi mereka untuk keluar dari dalam gedung.
Ia memecahkan botol minumannya, "Ouch!"
"A-anda baik-baik saja, Pak?" seorang rekannya bergerak menuju ke arahnya dan terlihat panik.
"Sepertinya aku merobek kulit tanganku. Bisa tolong bawakan peralatan medis? Ada di bagasi mobil."
"Apakah tak apa meninggalkanmu sendirian, Pak?"
"Justru aku lah yang seharusnya khawatir."
Mendengar itu sang rekan hanya menyeringai, dan bergegas meninggalkannya sendiri.
Saat memastikan bahwa rekannya sudah pergi, lelaki itu berteriak, "Pengganggu sudah pergi. Kau bisa keluar sekarang. Hanya kau dan aku."
Sesosok bayangan muncul dari balik pilar penyangga gedung. Sosok itu tak jauh berbeda dengan si lelaki, tinggi besar dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Well, I'm kinda impressed on how you could sense my presence."
Sang lelaki memasukkan satu tangannya ke dalam saku jasnya yang berisi AK-47 miliknya.
"Cause you smelled sick."
Dan bersiap jikalau lawan bicaranya membahayakan dirinya.
Sosok itu tertawa. Terdengar begitu lepas dan puas. "Inspektur Kim, aku harus memberikanmu penyambutan yang lebih layak." ujarnya di sela-sela tawanya.
"Wah, kau sungguh baik. Tapi kurasa kau tak perlu membuang waktumu untuk itu." jawab si lelaki dengan nada sedikit menantang.
Sosok itu menghentikan tawanya kemudian mendecih, "Kupikir juga begitu. Untuk apa membuang waktumu demi si bodoh Jeon?"
Lelaki itu mengerenyit, "Apa?"
"Kau kira kami sebodoh itu? Huh, dia pasti sedang menyesali kebodohannya karena telah berusaha menipu kami di dunia sana." lanjut sosok itu seraya membuang ludahnya.
Si lelaki terkejut mendengar penuturan dari sosok berbahaya itu, ia merasakan bulu kuduknya sedikit merinding. Apakah itu berarti..
Mendadak, sosok itu memekik padanya, "Berikan serum itu!"
Sang lelaki sudah bersiap akan mengeluarkan senapannya sebelum sosok itu berkata kembali, "Atau kau mau berakhir seperti si bodoh Jeon yang berusaha menipu kami dengan serum palsu?" ujarnya dengan penekanan di setiap kata. "Mati bersama dengan istri dan anak, bukankah itu terdengar indah?" lanjutnya.
Mendengarnya, si lelaki dapat bernafas sedikit lega karena sosok ini tak mengetahui tentang kematian palsu keluarga Jeon yang dibuat olehnya.
Lelaki itu mengerahkan kekuatannya kembali, "Benar. Jauh lebih indah dibandingkan hidup hanya ditemani oleh senjata dan darah."
Sosok itu tertawa kembali, "Kau sungguh seorang inspektur yang baik."
"Dan kau sungguh sumber penyakit yang baik."
KLEK!
Sebuah ujung senapan mendarat tepat di leher lelaki itu. "Hey, kau memiliki mulut besar sebagai seorang inspektur." sosok itu mendesis di wajah sang lelaki.
Lelaki itu memilih untuk diam sementara tangannya sudah bersiap mengeluarkan senapannya dari dalam saku jasnya.
"Berikan serum itu dan kau akan kubiarkan merayakan ulang tahun anak pertamamu."
Oh, sepertinya berjalan lancar.
Lelaki itu memilih untuk menanggapinya dengan senyuman, "Aku yakin kau bukan orang yang gemar merayakan ulang tahun." lalu berancang-ancang mengeluarkan senapannya.
"Dan kau bukanlah seorang yang akan merayakannya."
Sedetik kemudian terdengar suara tembakan beberapa kali dari dalam gedung tua itu.
.
.
.
.
Jungkook mengarahkan kedua kakinya menuju kamar Jin. Adegan film tadi benar-benar terpaku di otaknya. Dia harus menanyakan hal itu pada Jin. Sekarang juga.
Saat dirinya telah sampai di depan pintu kamar Jin, ia terlihat sedikit ragu. "Lakukan? Tidak.. Lakukan? Tidak.. Lakukan..!"
Satu tangannya ia gunakan untuk mengetuk pintu kamar Jin. "Hyung..? Boleh aku masuk..?"
Tak ada jawaban dari dalam.
Jungkook semakin merasa gelisah, apakah ia masuk saja atau tidak.
"Ah, masa' aku tak boleh masuk ke dalam kamar hyung-ku sendiri.." gumamnya, lalu ia memutuskan untuk membuka pintu kamar Jin yang ternyata tidak terkunci dan tidak menemukan Jin di manapun.
Jungkook mendengar suara dari dalam kamar mandi, dan ia pikir Jin hanya sedang mandi jadi ia memutuskan untuk menunggunya.
Ia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur, dan kedua matanya menangkap sesuatu yang menarik dari atas meja.
Jungkook yang memiliki sifat ingin tahu layaknya anak biasa, bergerak mendekati meja dan menemukan berbagai macam koran cetakan lima tahun lalu berserakan di atas sana.
"Waah, apa ini yang dilakukan Jin-hyung?"
Jungkook membalik-balikkan halaman sebuah koran yang terbit pada tanggal 2 September 2004, dan matanya melihat suatu foto sebuah mobil hitam yang terbakar dengan tulisan besar berwarna hitam yang dicetak tebal.
KECELAKAAN MAUT, MENEWASKAN SATU KELUARGA.
Bola matanya membesar, tubuhnya membeku. Ia merasa pernah melihat pemandangan yang ada dalam foto itu.
Ia benar-benar merasakannya.
"AAH!"
Mendadak, sosok Jin muncul dari dalam kamar mandi dan merebut secara paksa koran dari tangan Jungkook dengan panik.
"A-a-apa yang kau–"
"H-hyung? Apa maksudnya ini..?" Jungkook menatap Jin masih dengan ekspresi anehnya.
Jin terlihat begitu panik dan berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawabnya.
"H-hyung.. Mengapa aku merasa.. Pernah melihat itu..?" lanjut Jungkook seraya menunjuk sebuah koran dalam genggaman Jin.
Jin menelan salivanya kuat-kuat, apa yang harus dikatakannya?
Sebuah dering telepon menginterupsi mereka. Dan dengan cepat setelahnya, seorang pelayan rumah mereka berlari menghampiri kakak beradik dengan berteriak, "TUAN KIM TERTEMBAK!"
.
.
.
.
Lelaki itu terbaring lemah di dalam suatu ruangan yang penuh dengan peralatan medis. Di samping tempat tidurnya terdapat sebuah benda berbentuk kubus yang menampilkan detak jantungnya. Seorang dokter tengah menempelkan dua buah alat ke atas dadanya berulang-ulang. Berharap hal itu akan membuka kedua matanya.
Di luar ruangan terdapat seorang malaikat kecil yang tengah terisak dalam pelukan seorang wanita. Di sebelahnya duduk seorang pemuda yang tengah menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Menyembunyikan kesedihannya.
Terdapat beberapa polisi di sekeliling mereka, dengan raut wajah yang hampir sama tengah menunggu proses di unit darurat.
"Seharusnya aku tak meninggalkan dia.. Ini takkan terjadi.." seorang perwira muda terus saja menggumamkan kata-kata yang sama semenjak berada di rumah sakit. Perwira itu adalah rekan yang dibawa sang lelaki sebelumnya.
"Sudahlah, jangan terus menyalahkan dirimu.. Mr. Kim juga tak ingin mendengarnya.." seorang polisi berusaha menenangkan si rekan itu.
Hal ini mengundang perhatian Jin, ia merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh mereka. Namun untuk sekarang ia hanya akan fokus pada sang ayah yang tengah memperjuangkan hidupnya di balik pintu itu.
"Hyung.."
Jin melirik ke arah adiknya yang kini memendamkan kepalanya di balik lengannya, "Appa.. Akan baik-baik saja, kan..?" ujarnya lirih.
"Ne, Kookie.. Kau kan tahu appa itu kuat.." Jin mengusap perlahan kepala Jungkook, berusaha menenangkannya.
Jungkook mengusap air matanya dengan kasar, ia teringat ucapan ayahnya bahwa ia tidak boleh menjadi seorang crybaby. Namun apa daya, air mata terus mengalir dari kedua matannya.
Dokter yang menangani sang ayah keluar dari dalam ruangan dan berkata sesuatu yang terdengar begitu cepat bagi Jin dan Jungkook sehingga menyebabkan keduanya harus kehilangan kesadarannya.
Sang ayah, penyelamat sekaligus penumpu hidup mereka harus pergi untuk selamanya.
.
.
.
.
.
Cuaca terlihat begitu bersahabat. Matahari bersinar terik namun semilir angin tetap berhembus. Benar-benar menggambarkan suatu perasaan yang ceria.
Setidaknya perasaan ceria adalah hal yang dibutuhkan bagi kakak beradik ini.
Jin dan Jungkook menatap langit dengan diam. Keduanya berada di halaman belakang rumah mereka. Mereka telah menghabiskan setengah hari merenung di sana. Hal ini sedikit mengundang kekhawatiran bagi para pelayan di rumah mereka.
"Kookie, apa kau suka bermain tembak-tembakan?"
Setelah keheningan yang cukup lama, akhirnya Jin membuka suaranya.
"Ne, hyung."
"Dan apa kau suka bermain perang-perangan?"
"Tentu, hyung."
Jin tersenyum getir, "Ingat ucapan appa? Keadilan pasti ditegakkan, jangan pernah merasa takut dan menyerah pada musuh sebab–"
"–kita punya sesuatu yang mereka tidak punya." Jungkook melanjutkan ucapan Jin.
"Yeah.
Hati nurani." ujar kedua anak itu bersamaan.
"Kenapa dengan itu, hyung?" Jungkook balik bertanya pada Jin.
Jin menghela nafasnya berat, ia menatap dalam adiknya. "Apapun yang kukatakan setelah ini berjanjilah kau tak akan mengikutiku melakukan perbuatan berbahaya."
Hal ini mengundang Jungkook untuk mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tak dapat mencerna ucapan Jin dengan baik.
"Aku akan masuk pelatihan sniper, kau tahu? Penembak runduk. Akan kukejar pembunuh appa dan akan kupastikan hidupnya tak akan tenang setelah itu."
Jungkook tersentak begitu mendengar penuturan hyung-nya. "S-sniper, hyung? Yang pernah kulihat di video game mereka adalah penembak jarak jauh.. K-kenapa kau ingin menjadi sniper?"
Jin mengalihkan pandangannya ke arah langit, "Sebab kutahu orang-orang jahat yang membunuh ayah adalah kumpulan penembak jitu. Aku harus menjadi salah satu dari penembak itu bila ingin memburu mereka."
Jungkook melihat pancaran keseriusan dari kedua mata hyung-nya, membuatnya terdorong untuk mengikuti kemauan Jin.
"Kalau begitu aku juga.."
"Tidak, Jungkook. Itu terlalu berbahaya. Lagipula kau masih kecil."
"Hyung. Aku juga ingin melakukannya demi appa. Bukankah aku adalah adikmu..?"
Sejenak Jin merasakan jantungnya berdetak kencang.
Adik?
Yeah, Jungkook adalah adikmu, Seokjin.
Jin tergerak untuk memeluk tubuh adiknya dengan erat. Ia biarkan emosinya meluap dalam pelukan adiknya. Ia menyadari bahwa Jungkook benar-benar menyayanginya serta ayahnya dengan tulus.
"Kookie, kau hanya dapat izinku untuk masuk pelatihan saat kau berusia 17 tahun." ujarnya selagi memeluk Jungkook.
Jungkook mengangguk di dalam pelukannya.
"Dan akan kupastikan kau tak berbuat macam-macam sebelum itu."
Jungkook kembali mengangguk.
Ia memutuskan untuk tidak lagi menanyakan sesuatu yang seharusnya ia tanyakan saat memasuki kamar Jin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah sepuluh tahun berlalu semenjak Jungkook diangkat menjadi anak dalam keluarga Kim. Jungkook telah tumbuh menjadi anak lelaki yang ceria, walaupun ia menyembunyikan banyak kesedihan di balik keceriaannya. Ia tumbuh dengan baik, terima kasih pada Ms. Shin yang membantu merawatnya. Saat ini Jungkook berusia 17 tahun dan ia memasuki sekolah menengahnya. Jungkook tak pernah lupa ucapan Jin lima tahun lalu setelah kematian sang ayah. Dan akhir tahun ini, Jungkook akan masuk pelatihan seperti yang sudah dijanjikan oleh Jin.
"Kook-ah, pelan-pelan saja makannya." nona Shin, yang berperan sebagai babysitter bagi Jungkook memperingatkan bayinya yang tengah terburu-buru menghabiskan sarapannya. Sang bayi–Jungkook–tak ingin terlambat pada hari pertamanya di sekolah menengah.
Ia mengangguk kecil seraya terus mengunyah. Si wanita tersenyum, dan melepas afron yang dikenakannya.
"Kau yakin tak perlu ditemani?"
Jungkook menggeleng dengan cepat, "Tentu saja! Aku sudah besar, auntie!" ujarnya sembari menyeringai lucu.
Wanita itu mengusap rambut Jungkook dan mencubiti pipinya, "Oh, baiklah, Jungkook si-anak-besar." godanya.
"Aah, auntiee~!" rengek Jungkook yang kesakitan.
Wanita itu tertawa kecil, "Nah, pergilah, Kook." ujarnya begitu mendengar suara klakson mobil dari depan rumah. Mobil yang biasa digunakan oleh Jin maupun Jungkook untuk pergi sekolah.
Jungkook mengangguk, ia meletakkan garpunya dan menggendong ranselnya di punggung, "Aku pergi dulu. Bye, auntie!" setelah melambaikan tangannya pada si wanita, Jungkook masuk ke dalam mobil dan segera melesat menuju sekolah.
Sang wanita bergegas membereskan sarapan, sebelum dering telepon mengusiknya.
"Yeoboseyo? Ah, Seokjin-ah?"
"Auntie? Tolong katakan pada Kookie bahwa aku ada pelatihan selama 5 bulan dan tak akan di rumah selama itu. Dan, ya, aku sudah mengurus pendaftaran Kookie."
.
.
.
.
.
.
Jungkook melangkahkan kakinya menyusuri halaman sekolah barunya. Sekolah menengah terkesan begitu hebat dan membuatnya bersemangat. Ia mengedarkan pandangan ke arah gedung sekolah.
Wah, besar dan megah.
Ia kembali tersenyum mengingat akan menghabiskan tiga tahunnya belajar di sini. Dan ia akan bertemu dengan berbagai macam teman baru. Memikirkannya saja sudah bersemangat.
Oh, ya, bukan waktunya untuk tercengang. Ia harus menemukan kelasnya. Segera Jungkook melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung sekolah.
Jungkook memasukkan sepatunya ke dalam loker. Sebelumnya ia mengagumi loker yang berjumlah begitu banyak.
Jungkook bersenandung kecil dan terhenti begitu ia melihat seseorang yang berdiri tidak jauh darinya yang juga sedang memasukkan sepatunya.
Orang itu merasakan dirinya sedang ditatap oleh Jungkook, ia menolehkan kepalanya. Dan menemukan sosok Jungkook sedang terpaku menatap dirinya.
Jungkook menganggap tatapan orang itu menyeramkan, namun penuh dengan rasa kebencian dan balas dendam sama seperti yang ia lihat dari tatapan Jin-hyung di kala hyung-nya teringat tentang sang ayah.
Dan Jungkook tak merasa takut dengan tatapan orang itu.
Mereka terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya orang itu berbalik meninggalkan Jungkook.
Jungkook memperhatikan orang itu lekat-lekat. Cara ia membawa tasnya dengan mengangkatnya satu tangan dan membawanya ke dekat pundaknya. Bukankah cara itu sangat lelaki–tunggu, Jungkook juga lelaki dan ia merasa caranya menggendong ransel di punggung juga sangat lelaki.
Jungkook mengedikkan bahu dan berniat melupakan sosok lelaki berambut cokelat itu.
.
.
.
Bel istirahat berbunyi, sebagai seorang murid pastilah akan merasakan begitu bahagia mendengarnya. Namun tidak bagi Jungkook.
Tidak, Jungkook bukan tipe murid yang sangat teladan dan akan menangis bila jam istirahat tiba, namun hari ini adalah hari pertama bagi Jungkook dan pelajaran belum dimulai dengan normal sehingga Jungkook tidak merasa begitu berat mengikutinya.
"Hey, Kook! Ayo kita ke kantin!" Yugyeom, teman duduknya yang baru saja dikenalnya mengajak Jungkook pergi ke kantin. Yugyeom adalah sosok yang Jungkook lihat begitu ceria–minus tinggi badannya yang berlebih–, maka Jungkook merasa tepat berteman dengannya.
"Baiklah, tapi kau yang bayar."
.
Kedua anak kelas satu itu telah sampai ke kantin dan mereka menemukan keramaian yang begitu besar di sana.
"Gosh, ternyata begini rasanya kantin di sekolah menengah terkenal." Yugyeom berpura-pura terlihat menyesal telah masuk ke sekolah ini.
Jungkook tertawa kecil mendengarnya, "Hei, di sana kosong! Ayo!" Jungkook segera menarik Yugyeom dan membawanya ke arah kursi kosong satu-satunya.
"Ah, matamu begitu tajam, Kook!" puji Yugyeom atas ketajaman mata Jungkook yang dapat dengan mudah mencari kursi kosong di tengah keramaian.
Jungkook hanya tersenyum sembari mengusap belakang lehernya. Sejak dulu ia sering mendapatkan pujian tentang ketajaman matanya.
"Aku pesan dulu ya! Kau mau apa, Kook?"
"Stroberi. Susu stroberi."
Yugyeom sedikit melongo mendengar jawaban dari teman barunya, "O-oke, susu stroberimu segera datang!" lalu memutuskan untuk segera memesan dan meninggalkan Jungkook.
Sedangkan Jungkook hanya memberikan cengiran tak berdosanya pada sosok Yugyeom. Ia merasakan tak ada yang salah dengan susu stroberi.
Jungkook tengah menatap sekeliling, sebelum sebuah suara mengagetkannya, "Hai! Kursi yang lain sudah penuh, bolehkah kami bergabung denganmu?"
Saat Jungkook mengadahkan kepalanya untuk melihat sumber suara, ia terkejut.
Lelaki berambut cokelat dengan tatapan dingin yang tadi pagi dilihatnya bersama dengan seorang temannya yang memiliki tubuh lebih pendek serta eyesmile yang lucu dan pipi yang sedikit gembil berdiri di hadapannya.
Mereka sedang berusaha untuk duduk dan bergabung bersama Jungkook karena tak ada kursi tersisa.
Si lelaki berambut cokelat itu berusaha tak membuat kontak mata dengan Jungkook, ia memalingkan wajahnya ke arah lain sementara temannya tersenyum hangat pada Jungkook. Terkesan lebih ramah.
"O-oh, ya, si-silakan.." Jungkook sedikit terbata saat mempersilakan kedua orang itu untuk duduk.
"Wah, terima kasih banyak!" ujar si eyesmile itu. Sedangkan si rambut cokelat hanya terdiam tak peduli. Tatapannya jauh lebih menyeramkan dibandingkan pagi tadi. Namun Jungkook lagi-lagi tak merasa takut.
"Eh? W-waah, Jimin-sunbae!" saat Yugyeom kembali, dirinya terkejut melihat penambahan dua orang di tempat duduknya bersama Jungkook.
Si eyesmile yang dipanggil 'Jimin' itu menengok, "Hei, Yugyeom!" lalu mereka ber-highfive yang menimbulkan tanda tanya di wajah Jungkook.
Sebenarnya, Yugyeom dan Jimin telah mengenal satu sama lain karena mereka masuk ke dalam klub basket. Pagi tadi, Yugyeom bertemu dan berkenalan dengan Jimin terlebih dahulu yang notabene adalah senior di klub basketnya.
Yugyeom duduk di sebelah Jungkook setelahnya, "Kook, bagaimana kau mengenal Jimin-sunbae?"
"Panggil saja, hyung, Yugyeom. Dan, ya, siapa nama temanmu ini?" Jimin memotong ucapan Yugyeom dan menatap Jungkook.
"Oh, namaku Jungkook. Jeon Jungkook, sun–aah, hyung." Jungkook menjawab dengan mencoba terdengar sangat sopan. Ia tak tahu bahwa Yugyeom memiliki kenalan seorang sunbae pada hari pertama mereka.
"Oke, Jungkook. Dan Yugyeom, kami baru mengenal hari ini. Aku dan Tae berinisiatif mengambil tempat di sini karena kursi lain penuh dan akhirnya bertemu dengan Jungkook." lanjut Jimin.
Kedua alis anak itu berkerut, "Tae?"
Jimin tertawa kecil sebelum menjawabnya, "Ne, Tae itu dia. Temanku, Kim Taehyung." ujarnya sambil menepuk pundak sosok lelaki rambut cokelat yang mempunyai tatapan menyeramkan itu.
Untuk sejenak Jungkook bergumam dalam hatinya, 'Kim Taehyung..'
Taehyung sendiri hanya menatap Jungkook dan Yugyeom bergantian. Dan akhirnya ia beranjak pergi, "Aku duluan. Terserah bila kau ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak ini." meninggalkan tiga pasang mata yang menatapnya tak percaya.
Dingin sekali.
"Hyung, temanmu itu dingin sekali.." Yugyeom melipat kedua tangannya serta mengerutkan keningnya sepeninggalan Taehyung.
Jimin membuang nafasnya, "Kalian tahu? Sebenarnya dulu ia tidak begitu. Ia adalah anak yang benar-benar ceria. Sebelum sesuatu mengubahnya." ujarnya menimbulkan rasa penasaran.
Jungkook dan Yugyeom menatap Jimin dengan lekat, "Sesuatu?"
"Yaaah.. Kalian akan tahu nanti."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
[preview chapter 3]
"Aku hanya tak ingin membahayakanmu, Kook!"
.
.
"Pelatihan ini terbagi menjadi tiga bagian. Di mana bagian pertama hanya memakan waktu sekitar dua minggu."
.
.
"Apa kalian tahu pengertian sniper yang sebenarnya?"
.
.
"Hyung, kau menembak lebih bagus dariku. Kurasa kaulah yang akan masuk ke dalam tim."
.
.
"Kook, dengan ketajaman matamu aku tahu kau pasti mampu."
.
.
.
TBC
yeheeeey akhirnya ini kupersembahkan chapter 2 x"D /terharu/ /sujud syukur/?
makasih banyak buat yang udah menyempatkan waktu mengintip cerita abal(?) ini ;* walaupun abal tapi aku akan berusaha menghiasinya dengan bumbu2 ketidakabalan(?) /shot
dan ini aku post tanpa nge-beta-ing, jadi maaf typo bertebaran /bows/ :c
dan ya, kira2 yang cocok jadi peran lawannya siapa yaa(?) aku sih mikirnya antara bap/blockb/2pm(?)
oh ya, apa kalian setuju kalau kapelnya hoseok itu... bambam? XD abis kepikiran aja kalo hoseok-bambam itu lucuu(?)
daaan (lagi2 dan) tae+jimin muncuuul XD yeaayy(?)
ohiya, maaf kalau kesannya chapter ini ngebosenin dan keburu2 /bows/
okedeh, nantikan lanjutannya ya(?) hehehe
press the fav/follow/review button if you guys interested~! any comments are warm welcomed & appreciated ;))
thank you 3
