The Dark Heroine (Remake MinGa verse)

Disclaimer: remake from novel The Dark Heroine by Abigail Gibbs (dengan sedikit bumbu yang pas untuk pair ini); Tuhan YME, Their parents and Agency.

Cast: Park Jimin/Min Yoongi and another cast from BTS and the others; OC

Warning: Typos, AU, OOC, GS (for uke), R-18, DLDR~

Genre: Romance, Thriller, Hurt/Comfort

Summary:

pertemuan tak disengaja di jalanan gelap malam itu membawanya ke garis hidup yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya... sosok yang tak hanya menyebabkan sekujur bulu kuduknya merinding, tetapi juga membuat jantungnya berdebar hebat... Ini adalah perasaan yang mampu melampaui batas antara dunia mereka berdua... cinta itu tidak mengharapkan keduanya mengorbankan takdir masa depan mereka...

.

Chapter 1

.

.

.

.

Alun-alun Gwanghwamun bukanlah tempat yang terbaik untuk berdiri menunggu pada pukul satu dini hari. Bahkan, itu bukanlah tempat yang tepat pada pukul berapa pun di malam hari, jika menunggu sendirian tentunya-sejak jalan ini diresmikan menjadi sebuah alun-alun suasananya terasa makin sepi-.

Bayangan Monumen Raja Sejong di Alun-alun Gwanghwamun duduk dengan bijak di singgasananya di saat ia berdiri menggigil, udara dingin di malam bulan Juli berembus di antara gedung-gedung tinggi. Ia menggigil lagi, merapatkan mantelnya, dan mulai benar-benar menyesali keputusan mengenakan gaun hitam pendek-pilihan pakaiannya untuk malam ini. Pengorbanan yang harus dilakukan jika bersenang-senang pada malam hari.

Ia melompat kaget ketika seekor burung mendarat di samping kakinya, kemudian aku mengamati jalanan yang kosong untuk mencari tanda-tanda keberadaan teman-temannya. Lama sekali hanya untuk mendapatkan 'camilan tengah malam'. Kedai sushi hanya berjarak lima menit berjalan kaki dari sini; tetapi sekarang sudah lewat dua puluh lima menit lamanya. Ia memutar malas bola matanya, tidak diragukan lagi, sekarang sebagian pria pasti sudah mengenakan pakaian dalam, lalu tidur. Bagus untuk mereka. Kenapa mereka harus menghawatirkan Min Yoongi?

.

Ia berjalan melewati deretan pembatas besi yang dinaungi oleh lampu jalan. Ia menghela napas saat menggosokkan tangannya ke lutut, lalu mencoba membuat darahnya mengalir lebih lancar. Ia mulai menyesali keputusannya untuk menunggu di sana.

Setelah melirik sekali lagi ke sekeliling alun-alun, ia mengeluarkan ponselnya, menekan tombol panggilan cepat. Ia mendengar suara dering telepon sampir akhirnya suara itu diputus oleh pesan suara.

"Hai, ini Jeonghan. Aku tidak bisa menjawab teleponmu sekarang, jadi tinggalkan pesan setelah bunyi beep. Terima kasih!"

Ia mengerang frustasi ketika mendengar nada beep. "Jeonghan, di mana kau? Jika kau bersama pria itu, aku bersumpah akan membunuhmu! Di sini dingin sekali! Setelah kau mendengar pesan ini, telepon aku."

Ia menutup teleponnya lalu memasukkan kembali benda itu ke dalam saku mantelnya, seakan mengetahui dengan pasti bahwa usahanya mungkin sia-sia karena besar kemungkinan Jeonghan tidak akan membaca pesan itu. Sambil menggosokkan kedua tangannya dan menarik lututnya untuk dirapatkan dengan dada agar merasa lebih hangat, ia berdebat dengan dirinya sendiri apakah harus memanggil taksi untuk pulang ke rumah. Namun, jika Jeonghan datang, ia bisa saja mendapatkan masalah. Akhirnya, ia memutuskan untuk menunggu kembali, menundukkan kepala di atas lutut, mengamati kabut oranye yang menyelimuti Kota Seoul.

.

Di seberangnya, para pemabuk yang masih berkeliaran menghilang di gang sempit, berjalan terhuyung sampai tertawa serak mereka lenyap di kegelapan. Beberapa menit kemudian, sebuah bus pariwisata yang masih beroperasi melintas di hadapannya, lalu menghilang di ujung jalan alun-alun. Seketika suasana menjadi sepi kembali, menyelimuti alun-alun dan Kota Seoul dalam keheningan.

Ia bertanya-tanya, yang mana di antara dua pemuda yang ditemuinya-bersama Jeonghan tentunya-malam ini, yang dipilih Jeonghan. Namun, ia tak bisa. Apalagi setelah hubungannya bersama Zhoumi telah berakhir.

Dua menit berlalu dan ia mulai merasa gelisah. Sudah tidak ada lagi pemabuk yang terlihat di sekitar sini, udara dingin melingkupi kakinya yang tersingkap. Ia menoleh ke ujung jalan alun-alun untuk mencari taksi, tetapi ujung jalan tersebut kosong dan alun-alun terlihat makin sepi, hanya ada cahaya yang terpantul di genangan air yang masih tersisa di sekitar monumen Raja Sejong, bekas hujan sore tadi.

Ia kembali mengeluarkan ponselnya, berpikir ia bisa menelpon seseorang, mungkin ayahnya, lalu meminta untuk dijemput di sana, saat ia merasakan sesuatu bergerak di sudut matanya. Ia tersentak kaget hingga nyaris menjatuhkan ponselnya, jantungnya seperti melompat hingga mulut, dan ia menoleh ke sekeliling untuk mencari tanda-tanda pergerakan tadi.

Namun hanya nihil yang didapatinya. Ia menggeleng, kepanikannya sedikit mereda. Ia nampak meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya burung. Ia mulai menekan beberapa nomor di layar ponselnya, telpon rumahnya mungkin, hawa dingin membuatnya seperti mati rasa. Setiap beberapa detik, ia menoleh ke sekeliling, berusaha mengatur napas normalnya lagi.

Namun, tidak, ada sesuatu yang bergerak.

.

Bayangan berkelebat di salah satu genangan besar, terlalu cepat untuk ditangkap oleh matanya. Di sisi lain, alun-alun tampak kosong, hanya ada beberapa ekor burung yang terbang dengan panik. Ia menggeleng lagi, menekankan ponsel ke telinganya. Terdengar suara saluran telepon yang belum terangkat.

Ia mengetukkan kaki dengan tidak sabar. "ayolah...," gumamnya sambil menatap layar ponselnya.

Matanya berkelana saat ponselnya masih menempel di telinganya, menunggu panggilan itu diangkat, tertumbuk ke Monumen Raja Sejong yang menjulang setinggi puluhan meter di udara. Cahaya yang menerangi bagian atas patung bergoyang, seperti lidah api yang terkena embusan angin. Cahaya itu terdiam lagi, setajam dan seterang sebelumnya.

Ia bergidik, masih berdoa teleponnya akan dijawab, sepertinya saluran telepon masih berdering dan akhirnya ponsel itu dijauhkan dari telinganya, sepertinya saluran itu mati. Ia menatap layar ponselnya dengan mata yang membeliak, sebelum adrenalinnya mulai berpacu dan instingnya menajam. Ia melepaskan salah satu sepatunya dengan mata terus terfokus ke arah monumen, mengamati dengan sorot tidak percaya saat melihat bayangan sesaat sebelumnya menghilang dari pandangan secepat kemunculannya. Setelah menarik tali terakhir sepatunya, ia mulai membuka yang satunya dan menariknya dengan kedua tangannya. Ia mulai beranjak pergi. Namun, baru beberapa langkah, ia membeku, terpaku di tempatnya berdiri.

.

Sekelompok pria, mengenakan mantel cokelat, membawa tongkat panjang dan tajam, keluar dari gang sempit. Wajah mereka yang muram terlihat gelap dan lelah, alis mereka terlihat tegas dan penuh tekad. Suara langkah kaki mereka yang berat menggema di sekitar, berderap di trotoar saat mereka berjalan mendekat.

Ia tercengang, lalu bergeser mundur ke balik bayangan, diam-diam berjongkok di belakang pembatas besi. Ia hampir tidak bernapas-karena terlalu takut-, mencoba membuat dirinya terlihat sekecil mungkin sambil terus bergeser ke ujung alun-alun.

Pria yang di depan meneriakkan sesuatu dan yang lain mulai menyebar, membentuk garis selebar alun-alun, membentang dari sisi satu ke sisi yang lain. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang. Secara bersamaan, mereka berhenti tepat di depan monumen, hanya mantel mereka yang bergerak saat angin berembus di belakang mereka.

Bahkan, pohon pun tidak bersuara. Mereka menatap lurus ke depan dengan konsentrasi yang tak terpecah, mengamati dan menunggu. Yoongi menoleh ke atas monumen, tetapi patung yang ada di sana masih bermandikan cahaya seperti biasanya. Satu-satunya bayangan yang tampak hanyalah bayangan para pria itu dan pembatas besi tempatnya berlindung. Beberapa sampah berserakan, berkumpul di tong sampah yang tempatnya tak jauh darinya.

Kemudian, hal itu terjadi.

.

Alun-alun seperti hidup dengan gerakan cepat dan entah dari mana, muncul sesuatu dari atas gedung pertokoan, melompat tinggi di atas kepalanya dan mendarat dengan sempurna di atas batu beton yang berjarak sekitar dua meter darinya. Ia mengerjapkan mata, tidak percaya bahwa matanya melihat sesosok orang. Namun, sebelum memastikannya, apa pun itu sudah menghilang.

Sama terkejutnya, barisan pria tadi mundur beberapa langkah dengan panik. Pria yang ada di ujung barisan bergeser menjauh, mereka baru kembali seperti semula setelah pria, yang sepertinya pemimpin mereka, mengangkat tangan. Dari dalam mantelnya, pria itu mengeluarkan tongkat berwarn perak yang salah satu ujungnya tajam. Dengan sentakan pergelangan tangannya, tongkat itu menjadi dua kali lipat lebih panjang. Pria itu memutar tongkatnya beberapa kali, seolah sedang mengagumi bagaimana tongkat itu berkilau saat terkena pantulan cahaya. Bibir pria itu menyunggingkan senyum puas, lalu pria itu terdiam, menunggu sekali lagi.

Pemimpin itu bertubuh tinggi dan kurus, masih cukup muda-tidak mungkin lebih dari dua puluh tahun. Wajahnya bersih dari bekas luka, tidak seperti pria lain di sekelilingnya. Rambutnya, dipotong pendek, diwarnai hingga nyaris putih, terlihat sagat kontras dengan warna mantel dan kulitnya yang kecoklatan. Senyumannya melebar saat matanya terfokus ke sosok yang mendarat sagan dekat dengan Yoongi. Yoongi menarik napas tercekat, berpikir pria itu akan mengenalinya, tetapi perhatiannya teralih saat seorang pria keluar dari balik monumen.

Tidak, hanya seorang pemuda, tidak jauh lebih tua dari Yoongi. Matanya cekung, kulitnya sangat pucat hampir seperti transparan, dan tulang pipinya menonjol. Pria itu juga bertubuh tinggi, tetapi di balik kausnya yang ketat, dapat dilihat ototnya yang kekar. Lengan pria itu sama pucatnya, tetapi dipenuhi bintik merah, seolah pria itu mengalami gejala terbakar matahari yang parah. Bibir pria itu berwarna merah darah, sama seperti rambutnya yang berantakan.

~Yoongi PoV~

Aku mengerjapka mata, lalu pria itu menghilang. Aku mencari-cari di sekitar alun-alun saat yang lain mulai bermunculan, semua dengan kulit pucat dan mata cekung yang sama. Mereka memutari kelompok yang ada di tengah, wajah mereka memperlihatkan campuran kegembiraan dan rasa muak. Mereka muncul entah dari mana, bergerak dari satu sisi ke sisi lain dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh manusia, menghilang dan muncul dalam hitungan detik. Aku mengucek mataku, meyakinkan diriku sendiri bahwa aku hanya terlalu lelah untuk bisa memfokuskan penglihatanku. Tidak mungkin mereka bisa bergerak secepat itu.

Pemuda berambut merah mucul lagi, bersadar di tiang lampu seolah sedang berdiri di sebuah bar. Di dekatnya, berdiri pria muda berambut pirang gelap yang sepertinya kukenali sebagai orang yang muncul dari belakangku.

Jumlah total mereka lima orang, dengan santai menggiring kelompok pria bermantel ke tengah alun-alun. Wajah pria-pria bermantel cokelat itu dipenuhi kebencian dan ketakutan saat mereka bergeser dari posisi mereka, mundur beberapa langkah dengan senjata diturunkan. Hanya pemimpin mereka yang tetap tidak bergerak, senyum pria itu menjadi seringai saat ia menyentakkan tongkatnya ke samping, lalu menengadah ke langit.

Tiba-tiba saja, seorang pria terjatuh dari atas monumen-yang tingginya lebih dari lima puluh meter. Pria itu meluncur semakin cepat ke tanah, menuju kematiannya. Namun, aku mengamati dengan takjub, saat pria itu mendarat dengan mulus di atas lantai alun-alun, lalu berjongkok di depan pemimpin geng.

.

Alun-alun sunyi, dan untuk pertama kalinya si pemimpin bergerak. "Park Jimin, senang bertemu denganmu lagi," sapa si pemimpin dengan logat yang tak kukenali.

Pria yang melompat tadi, Jimin, berdiri dengan ekspresi kosong dan tak terbaca. Jimin setinggi si pemimpi geng, tetapi tubuhnya besar dan gagah, ototnya yang menonjol membuat si pemimpin geng terlihat jauh lebih kecil.

"aku juga senang bertemu denganmu lagi, Sejun," jawab Jimin dengan dingin, tatapannya beralih dari kanan ke kiri. Jimin mengangguk singkat kepada pemuda berambut pirang gelap dan aku berhasil mencuri pandang ke arahnya.

Jimin, seperti halnya yang lain, memiliki wajah yang pucat dan sedikit tirus, tidak ada warna maupun rona. Rambutnya yang gelap, hampir hitam, diselingi semburat kecoklatan dan ada sejumput yang terjatuh ke keningnya. Namun, wajah Jimin lebih murung dari yang lain, seperti orang yang tidak tidur selama berhari-hari.

'mungkin dia tidak tidur,' gumam sebuah suara di kepalaku. Saat pikiran itu terlintas di kepalaku, Jimin menatap melewati pemuda berambut pirang gelap, keningnya berkerut sedikit. Aku menahan napas, menyadari Jimin sedang menatap ke arahku. Jika Jimin melihatku, dia memilih untuk tidak memperhatikan dan berbalik ke si pemimpin geng, wajahnya berubah datar dan tak berekspresi lagi.

"apa yang kau inginkan, Sejun? Aku tidak punya waktu untukmu dan klan Oh," tegas Jimin kepada si pemimpin geng.

Senyuman Sejun melebar saat ia menyusuri tangan di ujung pasaknya yang tajam, "tapi, kau datang."

Jimin melambaikan tangannya dengan tidak acuh. "kami memang sedang berburu di sekitar sini."

Aku bergidik. Apa yang mereka buru di kota?

Sejun tergelak. "begitu pula dengan kami."

Secepat kilat, Sejun mengarahkan pasak ke dada Jimin. Namun, pasak itu tidak pernah mengenai sasaran; Jimin mengangkat tangan, lalu menangkisnya. Jimin melakukannya dengan sangat mudah; bahkan ia hampir tidak berkedip, tetapi Sejun terhempas ke belakang seolah ada truk yang menabraknya. Pasak Sejun terjatuh ke tanah, suara dentingannya bergema di alun-alun yang sunyi.

Sejun terhuyung, terpeleset, tetapi kemudian berhasil mendapatkan kembali keseimbangan tubuhnya. Lalu, berdiri tegak. Matanya dipicingkan ke pasak yang tergeletak di tanah, kemudian beralih ke pria yang ada di hadapannya. Bibir Sejun kembali menyunggingkan senyuman.

"katakan kepadaku, Jimin, bagaimana ibumu?"

Tiba-tiba saja, tangan pucat Jimin terulur ke depan untuk mencekik leher Sejun. Dengan ngeri, aku menyaksikan mata Sejun membelalak da kakinya terangkat dari tanah, wajahnya berubah pucat pasi. Sejun terbatuk dan kehabisan napas, kakinya menendang-nendang udara kosong. Tangan Sejun mencengkeram pergelangan tangan Jimin, tetapi tidak lama kemudian cengkeraman itu mengendur saat perlahan wajah Sejun membiru.

~Yoongi PoV end~

Tanpa peringatan, Jimin melepaskan cekikannya dari leher Sejun. Sejun meringkuk di tanah, berusaha menarik napas sambil menggosok lehernya berulang kali. Yoongi menghela napas lega, tapi Sejun yang tergeletak di tanah tidak bisa merasakan hal yang sama. Rintihan Sejun berubah menjadi permohonan dan wajah Sejun seperti menampakkan kesadaran saat menatap Jimin yang marah. Sejun merangkak mundur, meraba-raba, lalu menarik mantel yang dipakai oleh salah satu anak buahnya. Anak buahnya itu sudah tidak bergerak.

Dada Jimin mengembang dan wajahnya menampakkan ekspresi muak. Jimin menurunkan tangan, mengepalkannya dengan kuat

"kau punya kata-kata terakhir, Oh Sejun?" geram Jimin, ancaman terdengar jelas dalam suaranya.

Sejun menarik napas panjang dan bergetar. Ia menyeka keringat dan air mata dengan lengan bajunya, menguatkan diri. "aku harap kau dan kerajaan sialanmu itu akan terbakar di neraka."

Jimin menyeringai lebar. "harapan yang mustahil jadi kenyataan."

Setelah mengatakan itu, Jimin melompat ke depan, kepalanya menunduk di belakang leher Sejun. Terdengar suara patahan yang mengerikan.

Yoongi nampak seperti merasa mual. Dengan refleks tangannya terangkat ke mulut saat empedunya naik ke tenggorokan. Bersamaan dengan itu, muncul ketakutan. Air mata menetes dari matanya, tetapi tahu jika ia mengeluarkan suara, ia akan bernasib sama dengan Sejun.

Kesadarannya berkumpul saat melihat tubuh Sejun yang sudah tidak bernyawa dijatuhkan ke lantai. Yoongi saksi pembunuhan dan ia cukup sering menonton berita pukul enam untuk tahu apa yang akan terjadi pada saksi yang bertahan di tempat kejadian. 'aku harus pergi dari sini. Aku harus menceritakan kejadian ini kepada seseorang' ujar batin Yoongi.

'jika kau bisa keluar dari sini,' kata sebuah suara yang mengganggu pikiran Yoongi.

Ia benci mengakuinya, tetapi itu memang benar: semua hal buruk bisa saja terjadi.

.

Jimin melompat kearah sisa anak buah Sejun yang masih hidup, pertempuran berdarah pecah, jika memang bisa disebut sebagai pertempuran. Anak buah Sejun hampir tidak memiliki waktu menggunakan pasak mereka untuk membela diri melawan para pembunuh sadis itu; seperti domba yang berhadapan dengan tukang jagal, tubuh mereka berjatuhan ke tanah, darah berceceran kemana-mana.

Tiba-tiba Yoongi merasakan bahwa perutnya kram, dan ia menelan dengan susah payah saat merasa tenggorokannya terbakar. Tak mampu memalingkan wajah, ia hanya bisa menyaksikan Jimin menarik pria lain ke dekatnya. Pikirannya mengatakan Jimin pasti memiliki senjata; namun matanya melihat tak ada satu pun sejata di tangannya. Justru, Jimin hanya menunduk ke leher korbannya, lalu mengoyaknya. Yoongi sempat melihat urat nadi yang terbuka, sebelum korban itu jatuh ke tanah sambil menjerit kesakitan dan berusaha merangkak. Jimin mengikutinya, berlutut dan menutup luka itu dengan mulutnya, menopang kepala korban itu dengan lengannya. Tetesan darah menggenang di bawah mereka dan meresap masuk ke celah trotoar. Mata Yoongi mengikuti aliran darah itu, membentuk kubangan, bercampur dengan darah pria lain, dan pria lain, sampai mata Yoongi menemukan pembunuhan besar-besaran yang terjadi di alun-alun.

Semua pria bermantel coklat mati, atau sekarat, dengan leher patah atau berdarh; beberapa orang tergeletak di tengah genangan air hujan, membuat airnya berwarna merah. Satu pria terbaring terlentang di dekat Yoongi, lehernya patah cukup parah hingga telinganya bisa menyentuh bahunya.

Enam remaja membantai tiga puluh pria dewasa.

Yoongi bergidik di balik pembatas besi, bergeser sejauh mungkin, berdoa pada semua hal yang suci agar mereka tidak melihatnya.

"Jimin, apakah kita akan membersihkan semua kekacauan ini atau meninggalkannya saja?" tanya salah satu pemuda yang berdiri paling dekat dengan monumen, bahkan rambut merahnya masih kalah terang dibandingkan air genangan yang sedang dimainkannya dengan kaki.

"kita akan meninggalkan mereka di sini sebagai pesan untuk pemburu yang lain, yang berpikir mereka bisa melawan kita," jawab Jimin. "keparat," tambahnya, meludahi mayat yang paling dekat.

Suara Jimin tidak lagi terdengar dingin, digantikan oleh cibiran puas dan dalam. Amarah mulai mengalahkan ketakutan Yoongi saat melihat Jimin menendang lengan pria sekarat lain yang menghalangi jalannya, membuat pria itu mengerang lemah.

~Yoongi PoV~

"bajingan," gumamku.

Jimin membeku.

Begitu pula denganku. Aku menahan napas, perutku terasa seperti di remas-remas. Tidak mungkin dia bisa mendengarku dari seberang alun-alun. Itu sangat tidak mungkin. Namun, dengan sangat perlahan dan santai, Jimin berbalik hingga menghadap ke arahku.

"wah, wah, siapa yang ada di sini?" Jimin tergelak, suaranya bergema di udara, bibirnya menyunggingkan seringai kejam yang sama.

Instingku bekerja lebih cepat dari pikiranku, dan sebelum menyadarinya, aku sudah melompat bangun, berlari sekencang mungkin utuk menjauh dari Jimin. Aku meninggalkan sepatuku, kakiku menginjak trotoar yang dingin saat berlari untuk menyelamatkan nyawaku. Kantor polisi terdekat tidak terlalu jauh dari sini, dan aku berani menjamin bahwa aku lebih mengenal Seoul daripada mereka.

"dan, menurutmu ke mana kau akan pergi, Sweety?"

Aku menarik napas tajam saat menabrak sesuatu yang keras dan dingin, begitu dinginnya sehingga aku langsung melompat mundur. Yang berdiri di depanku adalah Jimin. Aku kebingungan, mataku beralih dari tempat Jimin berdiri sebelumya ke tempat berdirinya sekarang. Itu sangat tidak mungkin. Aku mundur, tanganku menggapai udara di belakangku seolah aku mengharapkan kemunculan penyelamat ajaib. Jimin tidak sedikit pun meringis, seolah ditabrak seorang gadis sudah menjadi kejadian sehari-hari.

"ti-tidak ada. Aku hanya akan pergi... eh..." aku terbata-bata, mataku berputar dari mayat yang bergelimpangan, Jimin, dan jalanan di depanku: satu-satunya jalur penyelamatan yang mungkin.

"untuk melaporkan kami?" tanya Jimin. Jimin sudah tahu jawabannya, tetapi mataku membeliak dan Jimin menunduk sangat dekat denganku hingga aku bisa melihat kalau matanya berwarna biru kehijauan. Suara Jimin diturunkan menjadi bisikan. "aku takut kau tidak bisa melakukannya."

Dari jarak sedekat itu, mau tidak mau aku memperlihatkan betapa tampannya Jimin. Ada sesuatu di dasar perutku yang menggeliat. Aku mundur lagi dengan panik.

"tentu saja aku bisa melakukannya!" teriakku, meliuk melewati Jimin dan melarikan diri lagi. Sambil berlari, aku menoleh ke belakangku. Yang mengejutkan, tidak ada satu pun dari mereka yang mengejarku. Aku terus berlari, secercah harapan hidup muncul di hatiku. Aku hanya tinggal beberapa meter lagi dari jalan raya, saat aku melirik lagi ke atas bahuku.

Kali ini, sepertinya Jimin menghela napas pasrah, dan aku tidak membiarkan diriku mengamatinya lebih lama lagi karena aku tidak ingin hal itu memperlambat laju lariku. Kakiku baru saja akan melangkah ke jalan raya saat aku ditarik ke belakang, sebuah tangan mencengkeram kerah mantelku. Aku terhuyung, berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhku sambil terus menepiskan tangan yang menahanku. Aku meronta, menendang, dan menjerit, tetapi tidak ada gunanya-Jimin memegangiku dengan mudah.

Berbalik dengan mata berkilat marah dan terdengar jauh lebih berani dari yang ku rasakan, aku meneriakkan ancaman. "kau punya waktu sepuluh detik untuk melepaskanku, Bajingan, sebelum aku menendang selangkanganmu dengan sangat kuat sehingga kau akan berharap tidak pernah dilahirkan!"

Jimin tergelak lagi. "kau gadis yang galak, ya?"

Saat Jimin tertawa, aku melihat sepasang taring berwarna putih bersih. Terlalu putih, hingga terlihat tidak alami.

Berburu. Pemburu.

Sesuatu di dalam otakku menyadari bahwa itu tidak normal. Bahkan, tidak mendekati normal, tetapi secepat itu pula pikiran rasional disingkirkan oleh kesimpulan yang dibuat dengan cepat oleh otakku.

Saat meronta lagi, aku mencoba bergeser lebih dekat ke Jimin. Namun, cengkeraman tangannya di kerah mantelku semakin kuat, membuatku sulit untuk bergerak.

"kau melihat semua itu." Kata-kata Jimin sedingin es. Itu sebuah pernyataan, bukan pertanyaan, tapi aku tetap menjawabnya.

"menurutmu?" balasku, berusaha membuat suaraku terdengar sesinis mungkin.

"menurutku, kau harus ikut dengan kami," geram Jimin, mencengkeram sikuku dan mulai menyeretku pergi. Aku membuka mulutku, tetapi Jimin lebih cepat. Ia membekap mulutku. "jika kau berani menjerit, aku bersumpah akan membunuhmu."

Dan, aku dibawa pergi, masih dalam keadaan meronta dan menggigit. Diseret menjauh dari pertumpahan darah mengerikan yang diciptakan oleh monster-monster pucat ini.

~Yoongi PoV end~

.

.

.

~TBC~

.

.

P.S:

hai balik lagi readers sama aku..

terimakasih buat yang sudah minta lanjut, kemaren.

semoga menikmati ini.

RnR juseyo~

MRR_Kj