HARD STREET
Chapter 2
.
.
.
.
.
Huh Haahhhh... Huh...
"Berhenti sebentar Sasuke..." ujarnya menggantung karena tersengal.
Hosh hosh..
"... Kita sudah jauh". Sambungnya kemudian dengan nafas putus-putus.
Naruto memegang lututnya yang terasa lemas karena terus berlari tadi.
Tanpa banyak bicara, Sasuke menuruti bocah berambut kuning jabrik sahabatnya itu untuk berhenti. Ia juga perlu mengatur deru nafasnya yang mengakibatkan dadanya kembang kempis kehabisan stok oksigen dalam paru-parunya.
Merasa sangat lelah, Naruto mendaratkan pantatnya pada tanah yang sebelumnya ia alasi dengan sandal jepit yang ia pakai, mencegah agar celana jeans selututnya yang lusuh dan kumal itu tidak semakin bertambah kotor karena bersentuhan langsung dengan debu.
Sedangkan Sasuke, ia lebih memilih berdiri menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon sambil mendecih kecil melihat kelakuan bodoh sahabat kuningnya tersebut.
"Teme.."
"Hn"
"Kau menyelamatkanku 2x, Arigatou".
"Hn"
"Mungkin aku sudah mati sekarang jika kau terlambat sedikit saja tadi" Naruto menyatukan kening dan lututnya, "Ngomong-ngomong bagaimana kau tahu aku dalam bahaya?"
"Kau tak pulang-pulang, lalu aku menyusulmu dan melihatmu dikeroyok preman-preman itu". Mengipas-ngipaskan wajahnya dengan tangan, Sasuke memutuskan untuk bergabung duduk di sebelah Naruto.
"Kau mengkhawatirkan aku rupanya?" tanya Naruto menggoda.
"Ckh! Hari ini giliranmu membeli makan siang bodoh! aku sudah lapar".
Naruto mendengus kesal mendengar jawaban Sasuke.
"Huh, dasar!"
"Yosh, ayo kita makan! hari ini bayaranku lumayan. Aku traktir kau makan di kedai ramen Ichiraku paman Teuchi tebayyo". Naruto beranjak dari duduknya, dan mengenakan kembali sandal jepit yang ia gunakan sebagai alas duduknya tadi.
Mau tak mau Sasuke pun ikut beranjak dari posisi nyamannya mengekori Naruto yang sudah berjalan lebih dulu di depan.
.
.
.
.
.
Crekh !
Sasuke meletakkan sumpit ke dalam mangkuk ramen yang telah kosong itu, begitu pun dengan Naruto.
Namun saat Naruto merogoh sakunya hendak membayar, "Sasuke..."
"Hn?"
"Uangku hilang" ucap Naruto selirih mungkin sembari terus memeriksa satu per satu saku pakaiannya.
"Apa?!"
"Jangan keras-keras teme!" umpat Naruto tepat di telinga Sasuke.
"Jangan bercanda Naruto, ini tidak lucu!" entah kenapa bocah berambut raven itu jadi ikut-ikutan berbisik.
"Aku tidak bercanda, mungkin terjatuh tadi". Ungkapnya.
Melirik kiri kanan, Sasuke berbisik sedikit panik, "Lalu bagaimana?".
"Aku tidak tahu" Sesal Naruto.
Sasuke ikut menelusuri setiap jengkal pakaian lusuh Naruto, dan...
"Arrghh... Kau ini!" tangan Sasuke menarik bagian Saku Naruto yang terobek cukup lebar, "Ceroboh!"
"Hehehe..." tawa garing bocah pirang itu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Naruto menengok kanan kiri, "Sasuke..." ia berbisik lebih dekat, "Bagaimana kalau kita kabur saja".
"Ckh! Sialan kau Naruto!"
Walau hati kecilnya menolak ajakan nista sahabatnya, tapi tetap saja kakinya ikut melangkah membuntuti Naruto.
Setelah memastikan paman Teuchi si pemilik kedai dan putrinya Ayame tengah sibuk dengan pesanan dan tak memperhatikan mereka, Naruto dan Sasuke berjalan mengendap-endap ke arah pintu keluar sambil sesekali mengawasi sekitar, takut-takut ada yang memergoki mereka kabur.
"Ehem!"
Seketika kaki Sasuke dan Naruto terasa kaku.
"Mau kemana?!" sapa seseorang dari belakang mereka.
Sontak Sasuke dan Naruto terdiam kikuk di tempat.
Mimpi apa Sasuke semalam, bisa-bisanya ia mengalami hal memalukan seperti ini. Ia benar-benar merutuki kebodohannya karena mengikuti bocah kuning jabrik itu.
'akan ku gantung kau baka Naruto!' geram Sasuke dalam hati.
Orang itu menarik tangan Sasuke dan Naruto, "Jangan melakukan hal yang tidak baik. Duduklah... Biar aku yang bayar".
"Eh?!"
Sasuke dan Naruto saling berpandangan.
"Kenapa diam? Ayo duduk. Pesanlah sesuka kalian, aku yang traktir".
Sasuke dan Naruto hanya bengong, mencerna omongan wanita bersurai coklat ikal ini yang sebenarnya sangat mudah dipahami, bahkan untuk anak kecil sekalipun.
"Nyonya mentraktir kami?" tanya Naruto memastikan.
Wanita itu mengangguk.
"Nyonya tidak bercanda kan?" Wanita itu kini merubah jawabannya jadi menggeleng.
Naruto memandangi wanita asing yang tiba-tiba menjelma bagaikan seorang peri baik hati di matanya dari atas hingga ke bawah.
Naruto memicingkan sapphirenya, memperhatikan penampilan wanita itu. Mulai dari model rambut serta dandanan mencolok, dress mewah dengan high heels hampir setinggi 5 cm.
'hm.. Orang kaya' batinnya.
Ah, masa bodoh lah siapa wanita ini, yang penting ia bisa makan ramen kesukaannya sepuas hati tanpa harus memikirkan isi dompetnya, begitu pikir bocah pirang ini.
Tapi setelah di pikir ulang oleh otak sempitnya, Naruto bahkan tak punya dompet, apalagi isinya. Ck ck ck.
Tak ambil pusing, ia langsung melahap ramen ukuran jumbo yang telah tersaji di hadapannya beberapa saat lalu itu.
"Sebenarnya nyonya ini siapa?" onyx Sasuke menatap tajam wanita di hadapannya.
Wanita itu mengulurkan tangannya, "Perkenalkan namaku Mei Terumi, kalian bisa memanggilku tante Mei."
"Kenapa anda baik sekali pada kami?" tanya bocah dua belas tahun itu menyelidik.
Mei tersenyum menanggapi pertanyaan bocah berambut raven ini.
Sasuke memang bukan bocah bodoh yang dengan mudahnya menerima kebaikan orang lain.
Hidup sebatang kara dalam jalan yang keras mengajarkannya untuk tidak mempercayai siapa pun, terlebih orang yang baru ia kenal.
"Heh, Sasuke! Kau jangan begitu. Kita seharusnya berterima kasih pada tante Mei." ucap Naruto dengan mulut penuh serta kuah ramen yang sudah berceceran di sekitar meja makannya.
"Ckh!, habiskan saja cepat makananmu!" omel Sasuke.
Mei menarik satu sudut bibirnya ke atas, "Kau ini bertempramen buruk ya? Tapi aku suka orang sepertimu." ujarnya sembari menarik sebatang rokok dari dalam sakunya, kemudian menyalakan pematik api guna menyulut batang nikotin tersebut.
"Apa maksud nyonya?" tanya Sasuke lagi.
"Bekerjalah untukku".
Onyx Sasuke seketika menyorot tajam wanita di hadapannya ini. sedangkan Naruto, ah jangan ditanya, ia tengah terbatuk-batuk karena tersedak mie ramennya.
...
"Jadi bagaimana?!" tanya Mei untuk kesekian kalinya setelah mereka keluar dari kedai ramen Ichiraku.
Sasuke masih tampak berfikir keras.
"Bagaimana teme? Aku sih terserah kau saja." Naruto akhirnya membuka suaranya setelah cukup lama memilih diam membiarkan Sasuke mengambil keputusan. Karena bagi Naruto, Sasuke sudah seperti sosok seorang aniki dalam hidupnya. Jadi, apa pun keputusan Sasuke, itu pasti yang terbaik untuk mereka nantinya.
Mei menghisap dalam batang nikotin yang telah mengecil dalam mulutnya lalu menginjak puntung rokok itu setelah menghembuskan asapnya untuk yang terakhir.
"Jadi?" ulangnya lagi.
Bocah 12 tahun itu tampak menimbang-nimbang, "Baiklah nyonya. Kita bersedia bekerja untukmu".
Mengulurkan tangan kanannya, Mei menarik sebelah sudut bibir sarkartik, "Deal?"
"Deal".
.
.
.
.
.
WUSH WUSH WUSH
Sebuah helikopter mendarat di pinggir pantai.
Perputaran baling-balingnya bergerak melamban ketika kaki jenjang Tsunade memijak hamparan pasir pantai pulau terpencil di ujung Barat negara Jepang ini.
Begitu pun dengan beberapa helikopter lain yang terlihat mendarat tak jauh dari sisi kanan kiri helikopter yang Tsunade tumpangi tadi.
Tampak beberapa orang bertubuh kekar bersenjata mendekati keberadaan wanita cantik itu, "Selamat datang nyonya" sambut pria berbaju army yang diyakini sebagai pemimpin orang-orang bersenjata ini dengan penuh hormat.
"Hn" Tsunade mengangguk singkat.
Tanpa perlu diperintah lagi, pria bertubuh kekar itu sudah tahu apa yang harus dilakukannya ketika salah satu bosnya ini datang ke pulau.
Ia mengisyaratkan beberapa anak buahnya untuk mengurus 'barang baru' yang dibawa bosnya dalam helikopter.
"Turun!" perintah salah satu dari sekelompok pria sangar itu dengan kasar.
Sedetik kemudian terlihat satu persatu bocah-bocah berumur 8 hingga 15 tahun menuruni helikopter tersebut. Mungkin jumlah mereka sekitar 15 orang dalam satu helikopter.
Merasa jumlah 'barang baru' mereka kurang, pria tadi melongokkan kepalanya ke dalam untuk memastikan apa masih ada yang tersisa, "Sedang apa kalian?! Cepat turun!" Bentaknya pada kedua bocah perempuan yang masih berada di dalam.
Dengan ragu bocah perempuan itu bangkit dan turun dari helikopter menggandeng bocah yang lebih kecil darinya untuk ikut turun. Helaian surai biru gelap panjangnya terlihat melambai-lambai dipermainkan angin, kaki mungilnya terasa begitu berat menapak tempat yang menurutnya asing ini. Sedangkan amethystnya sibuk perbendar mengelilingi tempat tersebut.
"Cepat jalan!"
Bentakkan pria tadi langsung membuatnya tersadar dan berjalan menuruti arahan pria-pria bersenjata itu untuk ikut berbaris dengan anak-anak lainnya.
Para anak-anak itu ribut kebingungan, masing-masing dari mereka terus mempertanyakan di mana keberadaan mereka sekarang. Yang mereka tahu, seorang wanita cantik mengajak mereka tinggal di sebuah panti asuhan selama beberapa minggu, setelah sebelumnya tinggal terlunta-lunta dijalanan sebagai gelandangan, dan sekarang mereka di bawa ke tempat entah berantah seperti ini.
PROK PROK PROK
tepukan tangan Tsunade seketika membungkam mulut-mulut kecil yang ricuh berdebat tak jelas sedari tadi.
"Baiklah anak-anak, mulai sekarang kalian akan tinggal di sini dan a..." ucap Tsunade menggantung ketika gendang telinganya menangkap suara isakkan seorang bocah diantara anak-anak itu.
"Siapa yang menangis?!" tanya wanita bersurai pirang itu retoris.
Hening. Tak ada yang menjawab.
"Ku bilang siapa yang menangis?!"
Dan lagi-lagi tak ada yang berani menjawab.
DOR!
Selongsong peluru ia tembakkan ke udara.
"Apa harus ku ulang lagi pertanyaanku?!" hardiknya.
Dengan tangan gemetar seorang bocah perempuan berambut coklat panjang mengacungkan tangan mungilnya.
Tsunade mendekati bocah itu dan membelai puncak kepalanya, "kenapa kau menangis anak manis?" tanya Tsunade lembut.
"Hiks.. T-tante, aku i-ingin pulang hiks hiks" suara bocah itu terdengar bergetar karena ketakutan, "A-aku ingin kaasan.. Hiks"
Tsunade berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan bocah bersurai coklat yang masih sesenggukan itu, "Kenapa kau ingin pulang? Ibumu tak menginginkanmu, dia membuangmu. Makanya kami memungutmu" ucap Tsunade sembari mengelus pundak bocah perempuan tersebut, "Dengar anak manis, mulai sekarang di sini adalah rumahmu dan mereka semua adalah keluargamu" Tsunade menunjuk anak-anak yang kini mengelilinginya.
Tiba-tiba tangan seorang bocah perempuan mendorong Tsunade, "Kasaan tidak mungkin membuang kami! Ka-kalian lah yang menculikku dan adikku! Kami bukan gelandangan yang seenaknya bisa kalian pungut!" teriak bocah itu lantang sembari menuding wajah Tsunade.
Tsunade tersenyum sarkastik mendengar ancaman bocah yang tengah menenangkan gadis kecil dalam pelukannya itu, 'Mei sekarang sudah mengembangkan sayap menjadi penculik eh?' batin Tsunade.
Anak-anak lain seketika memandang kagum pada keberanian bocah bersurai biru gelap tersebut.
"Pulangkan kami, atau akan kulaporkan kalian semua ke polisi!" amethystnya memandang tegas pada wanita di hadapannya ini.
'Ku rasa ada yang istimewa dari bocah ini sehingga Mei sampai merepotkan dirinya menculik bocah cerewet seperti dia' batin wanita bersurai pirang itu lagi.
Ia memandang lekat-lekat bocah perempuan yang masih memandang nanar pada dirinya tersebut. Dan seketika Tsunade menarik sebelah sudut bibirnya ketika menyadari sesuatu, 'Mata itu... Dia seorang Hyuga'.
"Baiklah.. Baiklah.. Pulang sana pada kaasanmu" ujar Tsunade sembari mengibas-ngibaskan tangannya dengan malas.
"Ayo pulang Hana-chan, kaasan pasti mencari kita" tangan bocah itu menarik gadis kecil di sampingnya. Namun gadis kecil itu tak bergeming, sekilas ia menolah pada Tsunade yang kini memunggunginya, "Terima kasih tante baik" bibir mungil bocah itu mengulas senyum lalu meraih tangan sang kakak dan berlari menjauhi tempat itu.
Beberapa langkah kemudian...
DOR !
Suara tembakan seolah menggema pada gendang telinga bocah bersurai indigo yang kini mematung di tempatnya.
DOR DOR DOR !
Perlahan genggaman tangan mungil adiknya terlepas dari tangannya.
"Nee-chan..."
Bocah itu mencengkram dadanya yang tertembus peluru. Darah segar merembes di sela-sela jari mungilnya.
Brukh !
Tubuh kecil sang imouto terjatuh.
Setetes air bening mengalir begitu saja dari manik rembulannya ketika melihat darah yang tercetak pada pakaian sang imouto.
"Hinata Nee..." suara parau bocah bersurai coklat panjang itu kian tercekat dengan amethystnya yang kian meredup lalu perlahan tertutup.
Sedangkan sang kakak masih terbungkam shock, sedetik kemudian tubuhnya ikut merosot ke tanah lalu memangku kepala bersurai coklat sang adik, "Hanabiiiiiiiiii..." teriaknya histeris.
"Perlu tissue?" tanya Tsunade datar di hadapan bocah bernama Hinata yang tengah memangku tubuh adiknya yang kini tak bernyawa.
Hinata meletakkan tubuh imoutonya ke tanah, "Kau membunuh adikku!" teriaknya, "Kau jahat! Jahat! Jahat!". Ia terus memukul-mukul Tsunade dengan tangan kecilnya sembari menangis histeris.
Bugh !
Hinata pingsan setelah menerima pukulan keras pada tengkuknya.
"Apa ada lagi yang ingin pulang?" tanya Tsunade sembari memainkan pisau lipat di tangannya.
Anak-anak yang lain pun hanya beringsut ketakutan tak berani bersuara.
.
.
.
.
.
Kelopak mata seputih susu itu mengerjap, "Enghh..." mencoba bangkit dari tempat tidur dan memegang tengkuknya yang terasa sangat sakit, "di mana ini?" tanyanya entah pada siapa.
Seketika manik rembulannya terasa memanas, "Hanabi... Hiks. Hanabiiii..." isaknya ketika dirinya kembali teringat adiknya yang di bunuh di depan matanya sendiri.
Hinata kembali menangis, ia merasa sangat tidak berguna karena tak bisa melindungi adiknya. Ia pun merutuki kecerobohannya sendiri saat mengajak Hanabi ke kedai ice cream tanpa menunggu kaasannya selesai berbelanja dulu, hingga ada seorang pria mencurigakan yang mendekatinya dan memaksanya menaiki mobil orang itu. Dan salahkan juga suaranya yang tak terdengar meski sudah berteriak-teriak meminta tolong.
Helaian surai biru gelapnya menjuntai menutupi liquid asin yang terus terurai dari amethystnya.
"Semua yang telah pergi tak akan kembali, kau harus kuat" ucap suara lembut seseorang.
Hinata mendongakkan kepalanya.
"Sudah jangan menangis lagi" bocah dengan rambut bercepol dua itu menyodorkan sebuah sapu tangan pada Hinata.
"Arigatou" ucap Hinata.
"Douitta".
Bocah perempuan itu duduk di sebelah ranjang Hinata, "Aku Tenten, siapa namamu?"
"Hinata, Hinata Hyuga."
"Hyuga?" tanyanya.
"Kenapa?" tanya balik Hinata.
"Emh, aku tak yakin akan mengatakannya padamu, ini mungkin akan menjadi kabar buruk untukmu".
"Apa maksudmu? Ku mohon beritahu aku".
Bocah itu menekuk lututnya, mempertemukan lutut dan kening perponinya, "Hinata, kemarin..."
Flash back_
"Apa-apan ini, sudah seperti babu saja aku diperlakukannya!" gerutu bocah dengan rambut bercepol dua yang tengah berjalan cepat sembari menyangga nampan berisi teh hijau untuk dihidangkan di ruang Mei Terumi.
Bocah perempuan itu mengetuk pintu asal menggunakan sikutnya, karena tangannya yang kesulitan menyeimbangkan nampan yang ia bawa.
Tok tok tok
"Masuk" sahut suara dari dalam.
"Permisi tante Mei, tante Tsunade" ia pun langsung masuk dan meletakkan teko berisi teh hijau itu di meja, dan segera beranjak pergi setelah mengucapkan permisi terlebih dahulu.
Tapi langkah kakinya sejenak terhenti di balik pintu ketika mendengar pembicaraan menarik kedua wanita di dalam sana.
"Tenang saja Mei, Hyuga sudah ku bereskan".
"Bagus lah, sudah dari dulu aku ingin menyingkirkan mereka seperti Uchiha keparat itu!"
"Fugaku maksudmu?" tanya Tsunade.
Mei menghempaskan rokoknya lalu menggilasnya hingga tak berbentuk, "Jangan sebut nama keparat itu di depanku!"
"Baiklah... Yang terpenting sekarang adalah Hyuga sudah kita basmi sampai tak tersisa"
Kemudian terdengar tawa mereka berdua yang memenuhi ruangan itu.
Pegangan tangan kecil pada nampan itu semakin mengeras hingga buku-buku pada jari mungil itu terlihat memutih, "Dasar iblis!"
Flash back end_
...
"Ja-jadi bukan hanya Hanabi? T-tapi seluruh keluargaku dibunuh?"
Bocah itu mengangguk.
"Hinata, kau harus kuat. Aku pun mengalami hal yang sama sepertimu. Bahkan lebih mengerikan karena melihat kekejaman mereka terhadap keluargaku di depan mata kepalaku sendiri". Bocah keturunan Chinese itu memulai ceritanya, "Kakak perempuanku diperkosa di depanku dan kedua orang tuaku, lalu mereka diikat dalam rumah kemudian membakar mereka hidup-hidup. Sedangkan aku...a-aku..." bocah itu menggantungkan ucapannya karena tak kuat lagi membendung air mata yang terasa berat menggantung pada pelupuk matanya.
Hinata mengepalkan tangannya erat, lalu menyeka kasar air mata yang mengalir dari amethystnya menggunakan punggung tangan, "Tenten... Ayo kita balas dendam".
.
.
.
To be continued...
