Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

Aku mendengus, Conan mengacuhkanku dan sibuk mengobrol dengan teman-teman satu gangnya, dasar wanita, mereka akan merajuk dan bersikap manja saat ada maunya dan saat dia mendapatkan apa yang diinginkannya dia akan mengacuhkan dan mengabaikanmu. Mengangkat bahu tidak peduli aku menengok kanan-kiri, mencari sesuatu yang menarik, tanpa sengaja mata hijauku bertatapan dengan mata hijau lumut di ujung sana, di samping pilar yang di hiasi tanaman hias rambat buatan, aku melempar senyum ke arah pria berambut merah yang tampak tampan dengan setelan jas hitamnya saat sadar siapa pemilik mata hijau meneduhkan itu. Sekalipun dia memakai topeng aku masih sangat mengenalinya dari mata dan warna rambutnya yang mencolok sepertiku. Dia melambai tangan ke arahku di susul senyuman manis pria tampan berambut pirang di belakangnya dan seorang pria berambut hitam. Melirik Conan sekilas aku mendekati mereka, kami saling beradu tinju. Temari, pria berambut pirang, merangkul bahuku, "Aku kira tuan pembenci pesta tidak akan datang. Tapi coba lihat, siapa yang ku peluk saat ini." katanya dengan nada menyindir. Pria berambut hitam ikut tertawa seraya merangkul bahu kiriku, "Saku-kun adik manis, dia tidak mungkin menolak ajakan kakak birunya." Sai ikut-ikutan mengejekku, Pria pucat berambut hitam itu mencubit pipiku jail. Aku melepas pelukkan mereka lalu memutar mata malas, "Puas?" tanyaku kesal yang di sauti kekehan Gaara dan kedipan mata Temari. Mereka tertawa melihat wajah masamku karena mereka ejek habis-habissan. Sai, Gaara dan Temari, Mereka teman-teman SMP juga teman SMAku. Mereka benar-benar menyebalkan.

"Sudah-sudah, sekarang coba lihat. siapa yang datang." Gaara mengedipkan mata kearah Conan dan teman-temannya. Aku mengikuti arah kedipan mata Gaara. Seorang gadis berambut hitam yang di ikat tinggi dengan poni yang membingkai wajah ovalnya, dia memakai gaun biru sampai menutupi mata kaki dengan lengan baju berbahan sutra yang merosot sampai bahu. Dia begitu manis, anggun dan elegan. aku terdiam beberapa saat melihat dia yang berdiri berdampingan dengan kakak laki-lakinya, Aku tersenyum. Gadis menyebalkan sepertinya ternyata manis juga.

Aku tersadar dari lamunan bodohku saat Sai dengan iseng menyenggol bahuku, "Bagaimana menurutmu? cantik bukan." seringainya jail. Temari yang berdiri dibelakang punggungku tertawa menyebalkan, Gaara membuang muka pura-pura tidak peduli, tapi aku sangat yakin aku tidak salah lihat saat melihat dia menyeringai miring.

Aku berdehem, merapikan dasi lalu meninggalkan mereka, "Biasa saja." Dustaku. Tapi dalam hati aku sangat setuju dengan kata Sai, dia cantik.

Normal POV

Temari, Sai juga Gaara mendengus. "Dia bodoh." Comentar Sai yang di sambut anggukan kepala Temari, "Tidak pandai berakting. Aku heran kenapa dia selalu mendapat peran utama."

Gaara melirik dua sohibnya yang sedang menggosipkan si pinky, "Kalian akan tetap disini menggosipkan Sakura seperti ibu-ibu komplek, atau ikut aku." Dia bersidekap dada seraya menatap keduanya datar. Sai dan Temari saling bertatapan beberapa saat, sebelum menatap Gaara yang menunggu mereka bosan. Temari tersenyum, "Aku mau mencari seseorang..." Gumamnya seraya berjalan mundur sebelum berbalik pergi.

"Dia ada di taman belakang." Temari melirik Sai melalui ekor matanya saat mendengar pria pucat itu menyebut taman belakang. Diliriknya Sai curiga. Menyadari lirikan sinis Temari, Sai tertawa. "Aku tidak sengaja melihatnya tiduran di kursi taman."

"Hm... Aku pergi duluan." Pamit Temari.

Menyadari seseorang yang menatapnya, Sai tersenyum sampai kedua matanya menyipit, "Aku ikut denganmu, bung." Kemudian mengikuti Gaara yang berjalan di depannya. Beberapa pasang mata melirik mereka, menatap damba, terpesona dan iri. Beberapa wanita melempar senyum seraya membisik-bisikkan sesuatu sebelum wanita-wanita berpakain mahal itu terkikik dan mengedip mata ke arah mereka berdua. "Mereka mengerikan." Komentar Sai yang di balas gumam oleh Gaara.

Gaara berdiri di samping Sasori lalu melirik gadis pirang cantik yang berdiri berdampingan dengan pria berambut merah di depannya, dia tersenyum saat menyadari siapa gadis itu. Sai berdiri di belakang, di dekat Hidan seraya mengobrol.

Itachi melirik adiknya saat mendengar kekehan kecil yang sangat jarang dia dengar, menatap penuh tanya Sasuke yang tersenyum-senyum sendiri, dia menatap lurus kedepan dan mendapati Conan yang sedang mengomeli adik laki-lakinya. 'Jadi ini yang lucu.' Dia bergumam dalam hati kemudian tersenyum.

Sasuke benar-benar tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari pria berambut pink yang berdiri tidak jauh darinya, pria itu begitu manis saat meringis seraya mengelus cubitan sang kakak, dia tinggi, tegap, dan kalau di lihat dari lengannya yang besar sepertinya dia memiliki perut dan dada yang indah. Sasuke mengusap pipinya yang memanas saat pikiran bodoh itu menghantui otaknya, 'Tidak semua laki-laki berambut pink itu menyebalkan. Dia berbeda dan manis.' pikirnya dalam hati.

"Sasuke Uchiha, adikku." Dia tersadar dari lamunannya saat mendengar suara tegas dan dingin khas Itachi memperkenalkannya pada teman-temannya. Sasuke tersenyum formal kemudian terkesiap saat mendengar Conan berkata, "Haruno Sa_" Dia terdiam beberap saat. jangan-jangan pria yang di perhatikannya beberapa menit lalu itu...

"Haru."

Sasuke menghela nafas lega. Dia kira pria yang merebut perhatiannya si pinky menyebalkan berkaca mata tebal, karena sangat jarang laki-laki memiliki rambut berwarna pink, ternyata bukan. Sasuke bersyukur dalam hati laki-laki itu bernama Haru, bukan Sakura. Entah berapa lama dia akan mengurung diri di kamar mandi, menyikat juga mengkumur mulutnya karena sudah memuji si pinky menyebalkan itu. Tapi syukurlah... Itu bukan Sakura, mereka hanya kebetulan memiliki warna rambut dan tinggi yang sama, lagi pula mana mungkin si kacamata tebal otot agar itu ada disini, itu sangat mustahil. Sakura dari kalangan biasa, dia hanya beruntung memiliki otak cerdas dan mendapat beasiswa di sekolah se-elit KHS, jadi tidak mungkin dia bisa datang ke pesta seperti ini, pesta mewah dan berkelas kalangan orang-orang beruang.

Mereka berjabat tangan. Tangan mereka saling bersentuhan lama, selama itu juga detak jantung Sasuke berdetak lebih cepat dari yang seharusnya, pipi putih pucat gadis itu juga sedikit merona, terpesona senyuman tenang pria yang menjabat tangannya.

Deidara merengut kesal. Conan yang berdiri bersebelahan dengannya tertawa kecil lalu berdehem sedikit keras, sebagai sesama gadis Conan mengerti perasaan Deidara saat ini, dia tidak tega melihat Deidara yang merengut di sebelahnya.

"Maaf mengganggu, tapi kalian belum berjabat tangan dengan yang lain. Kasian mereka menunggu kalian lama," Conan menarik Naruto yang berdiri di samping Nagato, mengabaikan lirikan sinis Sakura, menarik lengannya lalu memaksa gadis imut dengan garis di kedua pipi itu untuk berjabat tangan dengan Sakura yang sudah melepaskan jabatan tangannya dengan Sasuke.

"Naruto, kenalkan. ini adikku, Haru." Naruto dan Sakura berjabat tangan sebentar.

"Rin. Kekasih ku." Obito memperkenalkan kekasihnya pada teman-temannya. Mereka saling berjabat tangan. Obito menarik tangan Rin saat gadis berambut coklat itu akan berjabat tangan dengan Sakura. "Maaf, bung. Aku tidak mengizinkan tangan kekasihku di sentuh pria lain selain aku."

Rin menyikut rusuk Obito dengan sikunya, menatap pria Uchiha penggila ramen itu tajam yang di balas tawa oleh Obito. "Bercanda, " Kekeh Obito.

Sakura menjabat tangan Rin seraya tersenyum, "Lama tak bertemu teman lama."

Gadis cantik berambut coklat itu tertawa lalu memeluk Sakura erat, "Tiga tahun." Dia berbisik lirih. Sakura membalas pelukkan Rin, tidak sadar ada dua orang gadis dan satu laki-laki yang menatapnya kesal. Sakura dan Rin sahabat lama, sekalipun Rin lebih tua dua tahun dari Sakura, awal pertemuan mereka saat Sakura masih duduk di bangku VI sekolah dasar, dan Rin sudah duduk di bangku II SMP, saat itu Rin sedang di ganggu beberapa laki-laki berbadan besar dan di tolong oleh Sakura yang kebetulan melihat gadis itu dalam posisi bahaya, sebagai laki-laki berwajah perempuan Sakura cukup hebat bisa menghajar habis tiga laki-laki yang tiga kali lebih besar dari tubuhnya yang mungil. Awalnya Rin mengira Sakura gadis tomboi tapi ternyata bukan, dia laki-laki tulen. Gadis berambut coklat itu juga sempat suka pada Sakura tapi tidak bertahan lama, karena Rin harus membuang jauh-jauh perasaannya demi pertemanannya dengan Sakura. Dia pindah ke oto dan bertemu Obito disana. seiring berjalannya waktu wajah Sakura sedikit berubah, tidak terlalu manis dan cantik seperti dulu, Dia terlihat lebih tampan, manis dan laki dengan tubuh tegap, berotot, bidang dan besar.

Rin melepas pelukkannya lalu menatap mata hijau Sakura, "Sudah banyak berubah, eh?"

Sakura tertawa. "Seperti yang kau lihat."

Sasuke manarik tangan Naruto, "Ayo Naruto," kesal melihat pemandangan menyebalkan di depan. Naruto mengikuti Sasuke, kemana gadis Uchiha itu akan membawanya, "Kemana?"

"Kemana Saja."

Sakura melirik Sasuke melalui ekor matanya lalu menunduk menatap Rin yang lebih pendek darinya, "Aku harus pergi, "Dia melirik Obito yang berdiri di belakang Rin, menatap dirinya datar dan tajam khas Uchiha, lalu berbisik. "Jangan terlalu dekat."

Sakura berjalan mundur, melambai tangan dengan huruf V seperti memberi format yang dia tujukan untuk Obito, sebelum berbalik pergi mencari Sasuke.

Rin tersenyum, mengerti kata-kata ambigu Sakura, lalu merangkul mesra lengan Obito, "Kami hanya teman."

"Hn. Ayo, sebentar lagi pesta dansanya akan di mulai."

OoOo

Naruto balik menyeret Sasuke menuju makanan lezat yang tertata rapi di halaman luas luar manshion. Di sana juga banyak orang yang mengobrol, menyicipi kue, minuman, atau sekedar bercanda tawa.

Gadis manis berambut pirang itu menggigit bibir bawahnya, "Ramen!" Lalu berteriak senang melihat mangkuk-mangkuk penuh Ramen, makanan kesukaannya, yang tertata rapi di atas meja panjang di luar manshion. Dia melepas tangan Sasuke kemudian berlari ke tempat makanan terlezat di dunia, baginya, meninggal Sasuke yang merengut kesal dengan kedua lengan di lipat di bawah dada.

Sasuke berbalik, pergi meninggalkan Naruto yang berbinar-berbinar melihat makanan. "Menyebalkan!" Dengus Sasuke kesal.

OoOo

Yang dia terkejut saat tiba-tiba semua lampu mati, Sasuke mempercepat langkahnya, tanpa sengaja dia menabrak sesuatu. Dia hampir saja jatuh kalau tidak ada sepasang tangan besar merengkuh pinggulnya, memeluk tubuh mungilnya posesif.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Sakura bersamaan dengan lampu-lampu kecil yang di selipkan di pucuk-pucuk bunga yang merambat di pilar-pilar menyala.

Setiap sudut manshion tampak tamaram dengan lampu-lampu kecil yang di selipkan di setiap pucuk bunga, tidak terkecuali luar manshion, di sana juga sama, seperti di negri avatar, bunga-bunga memancarkan cahaya warna-warni, sangat cantik. Sasuke tersadar dari lamunannya lalu menjauh dari Sakura. Dia melipat tangan di bawah dada, memasang wajah masam lalu membuang muka. Gadis bermarga Uchiha itu berbalik, mau meninggalkan Sakura yang menatap tidak mengerti dengan tingkah lakunya yang berbeda dari beberapa menit yang lalu, tapi tanpa sengaja dia menginjak ujung gaunnya...

Kyaaahhhh!

Bruk!

.

.

.

.

OoOo

Lampu sudah di matikan dan bunga-bunga di setiap sudut dan pilar sudah menyala. Itu artinya pesta dansa akan segera di mulai. Itachi meninggalkan Sasori yang sejak tadi mengobrol dengannya, mencari Sasuke yang menghilang dengan Naruto. Langkah kaki pria Uchiha itu semakin cepat, seperti berlari, saat mendengar teriakan khas Sasuke, saat melihat laba-laba kecil di kamar mandi. "HIDUPKAN LAMPUNYA!" teriaknya panik, Khawatir dengan adik satu-satunya.

Semua lampu menyala yang membuat Itachi membeku, saat melihat Sasuke menindih tubuh Sakura dengan kedua bibir keduanya saling menempel.

OoOo

"Ada apa?" Tanya Gaara pada Sai yang memasukkan satu tangan ke saku jasnya.

Sai mengeluarkan smarphone miliknya, membidik Sasuke dan Sakura lalu...

Clik.

"Moment langka." Seringainya jahil.

Gaara mengikuti arah bidikan handphone Sai. Lelaki berambut merah itu tersenyum kecil, "Jangan lupa kirimkan padaku nanti."

.

.

Saya bingung mau mendekskripsikannya kaya mana? #tarik nafas keluarkan. Saya, selaku Author yang bertanggung jawab atas fic ini, minta maaf kalo ficnya tambah neh dan ngebingungin. Pada dasarnya saya memang gak bisa buat fic. #telen Kisame.

Makasi buat yang udah menyempetin mampir di kotak review :-). #harapan Author: pengennya sih lebih baik dari yang kemaren.