.

Bab II

A New Living

.

o-o-O-o-o

.

.

Si lelaki itu masih berjalan mendekat ke arahnya, mengabaikan pekerjaan memotong kayu yang belum terselesaikan.

"Hey, bisa dengar aku?" Lelaki itu mengibas-ngibaskan tangannya ke depan wajah Shinya, berusaha memecah lamunannya.

Dan saat itu, Shinya menyadari betapa ungu kedua mata pemuda itu. Ungu yang gelap dan dalam, nyaris hitam karena cahaya matahari yang bersinar muram.

Lelaki itu mendesah, lalu menyentak rambut hitam legamnya ke belakang. "Dengar ya, aku tidak tahu kau itu kenapa, tapi kau sudah membuat kotor selimutku."

Shinya mengerjap bingung. "Huh?" Kemudian matanya langsung lari ke arah selimut yang dipakainya. Selimut itu masih bertengger di bahunya, tapi ternyata salah. Selimut milik pemuda itu lebih panjang dari perkiraannya sehingga ujung lain jatuh ke tanah, terseret oleh langkah kakinya dan kotor oleh debu dan kotoran yang dilewati.

Bibir Shinya mencebik, lalu membisik, "Gomen."

Lelaki itu hanya mendengus, lalu tertawa ringan. "Jangan dipikirkan. Itu cuma selimut. Aku masih punya dua lagi di dalam."

Tanpa bicara, Shinya melepas selimut yang menyampir di pundaknya, lalu dilipat rapih. Tapi kemudian badannya mendadak menggigil oleh udara dingin yang berhembus lagi.

"Kenapa tidak masuk dulu? Kita bisa bicara di dalam." Lelaki itu menawarkan.

Shinya menatapnya dengan curiga.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan macam-macam," janjinya dengan nada setengah bercanda. "Namaku Guren."

Guren nyengir lebar, memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.

Shinya tersenyum singkat setengah hati, lalu mengangguk. "Shinya."

.

o-o-O-o-o

.

Guren menyuruh Shinya menunggu di dalam rumah sementara dirinya sendiri memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia tidak ingin berhenti di tengah jalan.

Shinya hanya mengiyakan saja. Duduk di atas sofa cokelat tua berdebu di ruang tengah yang sempit itu. Shinya tidak bisa duduk dengan tenang, agaknya merasa sedikit risih dengan keadaan tempat yang agak kumuh ini. Tangannya bergerak gelisah, tidak bisa diam dan sesekali mencengkeram selimut yang dibawanya sejak tadi.

Jam dinding di atas televisi kecil di depannya menjadi objek pengalihan pikirannya. Mata Shinya berfokus pada pendulum jam yang entah kenapa bergerak lebih lambat dibanding perkiraannya. Jam bulat dengan wajah kucing hitam yang sudah mulai pudar. Shinya merengut dalam hati.

Beberapa menit kemudian, lelaki bernama Guren itu masuk ke dalam ruangan. Tangannya penuh oleh potongan-potongan kayu berbentuk persegi panjang yang sudah ia potong tadi. Ia berlalu melewati Shinya, menyungging sebuah senyum singkat sebelum akhirnya lenyap di balik pintu belakang. Mungkin dia akan menaruh kumpulan kayu bakar itu di suatu tempat.

Shinya diam saja, tidak mengutarakan apa-apa.

Guren masuk lagi, kali ini hanya membawa beberapa potong kayu berukuran kecil. Ia melangkah ke perapian, menyusun kayu-kayu itu secara teratur sebelum melumurinya dengan minyak tanah. Tangannya menggapai korek api di atas perapian lalu menyalakannya. Kobaran api melahap kayu-kayu bakar itu dengan perlahan.

Untuk sejenak, ruangan terasa sedikit lebih hangat.

Shinya angkat bicara. "Ne, sekarang beritahu aku apa yang terjadi."

Guren masih berjongkok membelakangi Shinya, mengamati api yang menari-nari dengan indahnya. "Kau mau tahu yang mana?"

"Semuanya." Shinya diam sebentar, "Beritahu aku kenapa aku bisa berada di sini."

Guren mendengus dari balik punggungnya, merasa lucu. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau bisa ada di bukit itu, dengan luka tembak di bahumu." Ia menoleh ke arah Shinya. "Kau kriminal, ya?"

"Jangan bercanda! Aku—" Kata-katanya mendadak terputus, ia ragu-ragu. "Aku..."

Guren bangkit berdiri, langsung bereaksi mendengar ucapan penuh keraguan dari Shinya. "Well, terserahlah." Ia berjalan ke arah Shinya, lalu duduk di sofa di sebelahnya. "Aku hanya menyelamatkanmu, itu saja. Kalau tidak ada aku, kau pasti sudah mati sekarang."

Perkataan itu menohok Shinya, membuatnya mengerutkan kening penuh pertimbangan.

Guren memandanginya. Lalu mendengus. "Tch, nyawamu sudah kuselamatkan, tapi aku masih belum mendengar ucapan terima kasih darimu."

Shinya menatapnya tidak suka. "Terima kasih," bisiknya setengah hati.

Guren tertawa. "Kau benar-benar bukan dari sini ya? Ne, setelah ini kau mau kemana? Ada tempat lain yang akan kautuju?"

Tangan Shinya mengepal erat. Pikirannya kembali tersedot ke ingatan sebelum ia berada di rumah ini. Sebelum ia tertembak. Sebelum ia memutuskan untuk kabur dari kota terkutuk itu. Shinya mengernyit. Menyakitkan sekali harus mengingatnya. Tapi ia tidak bisa dengan mudah melupakan itu. Setiap detil dari ingatan itu seakan-akan sudah terpatri erat di dalam otaknya, seperti dilem dengan permanen.

"Oi!" Guren membuyarkan lamunannya. "Daijoubu ka?"

"Hm," gumam Shinya. Matanya menerawang jauh. "Sepertinya aku tidak tahu harus kemana setelah ini."

"Hah? Yang benar saja?!" seru Guren tak percaya. "Kau pasti benar-benar kriminal—Borunan."

"Jaga bicaramu itu! Aku bukan kriminal!"

Sekali lagi kedua tangan Shinya mengepal. Agaknya merasa tersinggung oleh ucapan Guren barusan. Terbukti dengan alisnya yang nyaris bertaut marah, dengan mata memincing tajam ke arah Guren.

"Whoa… whoa… hanya bercanda, bung. Aku tahu kok. Kau tidak paham lelucon ya?" Guren tertawa lagi.

Kedua mata Shinya masih menyipit.

Shinya berusaha mengalihkan perhatian. "Jadi, ini rumahmu?" Matanya sekarang berkelebat memandangi sepenjuruan.

Guren mengangkat kedua alisnya sambil mengangguk secara sambil lalu. "Kurang lebih." Lalu bangkit berdiri, melangkah lambat ke arah ruang belakang. "Dilihat dari kelakuanmu pasti kau bukan orang biasa, benar kan? Kau orang kaya, ya?"

"…" Shinya tidak mampu membalas. Bibirnya tiba-tiba saja serasa seperti dikunci.

Setelah sempat menghilang dari balik pintu kayu murahan, Guren muncul lagi. Kali ini membawa dua buah cangkir yang warnanya lebih bagus dari yang Shinya temukan di kamar tadi. Cangkir-cangkir itu mengepulkan asap tipis yang wangi.

"Ini minumlah." Guren meletakkan kedua cangkir itu di meja.

Shinya memandanginya. "Aku sudah minum tadi."

"Minum saja. Itu untuk menghangatkan badanmu. Cuacanya cukup dingin hari ini." Guren sudah duluan meminum bagiannya.

Ragu-ragu Shinya mengulurkan tangan menggapai cangkir itu. Ruam-ruam hangat merambati telapaknya. Shinya mendekatkan cangkir itu ke wajahnya, membiarkan kepulan asap tipis itu membelai wajahnya.

"Teh chamomile. Bagus untuk menetralkan pikiran kacau."

"Pikiranku tidak kacau." Shinya langsung menyanggah.

"Tidak usah sok kuat begitu. Wajahmu memberitahu semuanya."

Tanpa bicara lagi Shinya mulai menyesap tehnya. Merasakan segelintir rasa tawar di setiap kecapan aroma chamomile yang lembut memang terasa menenangkan.

Guren meletakkan cangkirnya. "Nde. Kau benar-benar tidak bercanda waktu bilang kau tidak punya tujuan lain?"

"…Apa wajahku kelihatan seperti orang yang sedang bercanda?"

Guren mendengus. "Mana kutahu," semburnya. "Tapi aku punya ide yang lebih bagus buatmu."

Shinya hanya menatapnya, sambil kembali menikmati teh chamomile murahan miliknya.

"Kenapa kau tidak tinggal di sini saja, huh?"

Dan Shinya nyaris menjatuhkan cangkir tehnya.

.

o-o-O-o-o

.

.

A/N: kualitas agak menurun di chapter 2. I know...

Makasih buat:

shienya | Yuanchan48 | Lovely Orihime | yuichi jin | fantasialive | Marry

atas reviewnya xD

Thanks for reading. Please leave some comment about this chapter :)