Akhirnya beres juga ditranslit... silahkan dinikmati
Di salah satu ruangan di hotel, sang Kazekage terbaring di atas ranjangnya di balik selimut dengan hanya kepalanya yang menyembul keluar. Wajahnya sangat merah dan dia menatap ke langit-langit dengan keraguan. Ia ingin menangis, tapi entah kenapa air matanya tidak keluar.
Mungkin, ia punya alasan untuk menangis, setelah apa yang terjadi malam sebelumnya...
Ia tidak bisa menahannya...
Tetesan air mata yang hangat perlahan mengalir turun ke pipinya. Ia terisak sendirian.
Kemarin malam, kenapa ia membiarkannya melakukan itu begitu saja?
Kenapa?
Gaara menutup matanya sambil terus menangis, ia mulai mengingat kembali apa yang terjadi di malam kemarin.
IoI
Dengan usaha kerasnya, Gaara akhirnya berhasil membawa Naruto yang mabuk ke apartemen kecilnya. Setelah mencari-cari kunci yang ia dapatkan dari kantung celana Naruto, ia membuka pintu dan membopong bocah mabuk itu ke dalam. Apartemennya seperti biasa, sangat kotor. Gaara bahkan tersandung celana kotor di depan pintu, hampir saja ia menjatuhkan Naruto sebelum akhirnya berhasil menyeimbangkan badannya kembali.
Pernahkah Naruto membersihkan tempat ini? Hidung Gaara mengernyit mencium baunya.
"Ah... pulang...," Naruto mulai menyanyi kembali.
"Ya, kau di rumah sekarang, Naruto," balas Gaara dengan sebuh desahan. Ia sudah berjuang keras untuk membawa bocah pirang itu ke sini.
Ketika Gaara sampai di pinggir tempat tidur Naruto, si pirang sudah muntah berkali-kali di sepanjang jalan sampai jaketnya basah oleh muntahan. Gaara membiarkannya terjatuh ke tempat tidur. Untunglah, ia tidak ikut terkena muntahan juga. Dengan bau alkohol dan muntahan dari Naruto, Gaara yakin si pirang sendiri pasti mual oleh baunya sendiri.
"Ah, kau harus ganti baju," keluh Gaara dengan raut lelah. Apa ia harus mengurus teman pirangnya ini? Ia benar-benar menyedihkan dan bodoh. Si rambut merah takut kalau ia membiarkannya sendiri, kebodohan Naruto akan mengakhiri hidupnya.
Dan karena Naruto tak punya seorang pun yang bisa mengurusinya sekarang...
'Ah benar juga, ia tak punya keluarga ya?' pikir Gaara, matanya melihat ke sekeliling ruangan. Ia tahu betapa beratnya harus hidup sendirian tanpa seorang pun yang mengurusimu, apalagi kau hanya seorang anak kecil. Hidup seorang diri dengan beban seekor monster tersegel di dalam tubuhmu yang membuat semua orang membencimu. Disalahkan atas kehidupan yang tak pernah kau pilih. Tapi, meskipun begitu, Naruto tetap percaya diri dan ceria.
Gaara iri padanya.
"Aku harus mengganti bajunya," Gaara hanya mendengus sambil berjalan menembus lantai yang berantakan menuju lemari baju. Ia membukanya – tidak kaget melihat isi lemari sama berantakannya seperti apartemen – ia menarik baju bersih yang ia bisa temukan.
"Ne... kau tahu?" Gaara menengok ke belakang mendengar celotehan Naruto.
"Sakura, ya... bukan mochi sakura, Sakura..." Naruto sepertinya mulai berbicara tanpa arti, Gaara berpikir mungkin temannya itu sedang mengigau dan memutuskan untuk menurutinya saja.
"Ya, ada apa dengan Haruno-san?" ia bertanya. Naruto tertawa terkikik dan berguling di atas tempat tidurnya. Gaara menghampirinya dan memandangnya dengan bingung.
"Ia mencampakkanku... bukan... mencampakkan, bukan... hm..., bukan kata yang benar, apa itu?"
Mencampakkan?
Gaara tidak tahu kalau mereka sudah pacaran... tunggu...
"Uhm, maksudmu, dia menolakmu?" tanya Gaara sambil membayangkan bagaimana Naruto menyatakan cintanya pada Sakura di bar.
"Ha? Mencolok? Oh... ya, menolak... dia menolakku, uh... aku sedih," si pirang bergumam lagi. Meskipun ia mabuk, Gaara bisa melihat kesedihan di matanya.
"Aku kesepian... kesepian... maksudku, hyaaa... kenapa ya? Dia menolakku... aku selalu mencintainya, kau tahu?"
Gaara hanya mengangguk. Ia tahu itu. Bahkan orang yang buta saja bisa melihat bagaimana Naruto mencintai gadis berambut pink itu.
"Ah... aku sedih...," Naruto mendengus dan berbalik lagi di tempat tidurnya. Gaara hanya mendesah. Ia mengerti, pasti berat untuk Naruto. Cinta bukanlah sesuatu yang mudah dihapus ataupun dilupakan. Tempat Sakura yang berada di hati Naruto akan meninggalkan luka. Dan kalau ia tidak bisa menyembuhkan luka itu, akibatnya bisa buruk nantinya.
"Jangan sedih, kau tidak sendirian, Naruto," Gaara menenangkan temannya, meminggirkan beberapa helai rambut dari dahi Naruto. Meskipun ia tahu, setelah ia berusaha menghibur Naruto, si pirang mungkin tak akan ingat esok harinya.
"Aku sendirian... si Sasuke sialan pergi, Sakura menolakku... Kakashi-sensei akan menikah dengan Iruka-sensei... aku sendirian...," sahut Naruto dengan kesal. Gaara sedikit terkejut mendengar kata-kata yang terakhir. Menikah? Si kopi ninja, Hatake Kakashi akan menikahi guru akademi Naruto?
Pernikahan di antara dua pria? Di desa ini? Ia pikir hal seperti itu dilarang...
"Kau tidak sendirian, Naruto. Aku yakin... karena ada teman-temanmu dan juga aku... bersamamu... aku temanmu," kata Gaara, kata-kata terakhirnya membuat pipinya kemerahan karena malu.
Naruto menoleh padanya.
"Tetap bersamaku?" katanya dengan wajah polos. Gaara tidak tahu harus berkata jadi ia hanya mengangguk.
"Sekarang, kau harus berganti pakaian dan tidur. Kuharap kau akan baikan esok hari," kata Gaara mulai melepaskan jaket kotor Naruto.
'Aku belum pernah melepaskan baju seseorang sebelumnya,' ia pikir sedikit malu.
Selama Gaara sedang membuka jaket Naruto, tangan si pirang meraih wajah Gaara, sebelum sang Kazekage mudah bisa bereaksi, bibirnya bertemu dengan bibir Naruto.
Terlalu terkejut untuk menikmati ciuman, Gaara mendorong Naruto dengan syoknya.
"A... ap... kenapa kau menciumku!?" Gaara berteriak marah namun tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah. Naruto mengedip dengan bingung lalu ia mulai tertawa.
"Ahahaha... wajahmu... seperti tomat...," katanya di antara tawa. Mendengar hal itu Gaara jadi ingin memukulnya. Itu ciuman pertamanya/
'Ciuman,' pikir Gaara, jaringan meraih bibirnya yang terasa panas. Ia terkejut tadi, rasanya tidak begitu spesial... hanya sedikit aneh.
"Tapi... uhm... aku menyukainya," kata Naruto, mengejutkan sang Kazekage muda. Tapi, sebelum Gaara bisa mengatakan apapun, Naruto menciumnya lagi, lebih keras kali ini. Gaara terkejut dan mencoba untuk mendorongnya tapi Naruto menekan kedua lengannya dan mencium bibirnya lebih dalam dan dalam sampai Gaara mendesah lembut.
"Ngh... tidak...," gumam Gaara di antara ciuman tapi Naruto menghiraukannya. Lidah Naruto menjilat bibir Gaara, terkejut, Gaara membuka mulutnya untuk protes namun sebelum kata-kata bisa keluar, Naruto mengambil kesempatan. Lidahnya masuk dan bertemu dengan milik Gaara untuk beberapa saat kemudian Naruto mulai menjelajahi mulut Gaara.
Gaara mendesah dan badannya gemetaran oleh kenikmatan yang tidak ia tahu. Ia tidak tahu kalau orang bisa bersentuhan dengan cara seperti ini. Sebagian dari dirinya bilang ini salah tapi hatinya yang berdebar-debar mengatakan sebaliknya. Disentuh seperti ini, ini adalah pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini. Tapi, Naruto tidak benar-benar sadar, ini tidak benar.
Ia harus menghentikannya.
Ia katakan badannya untuk bergerak... untuk menolak... tapi ciuman Naruto membuatnya seperti lumpuh. Ia mencoba membebaskan tangannya, tapi tangan Naruto yang lain menekan kepala Gaara ke depan, memaksanya untuk mencium lebih dalam. Gaara bertanya-tanya apakah esok hari bibirnya akan bengkak.
Ciuman itu seperti berlangsung selamanya. Gaara batuk dan menarik napas cepat. Ia tidak tahu kalau ia tidak bisa bernapas ketika berciuman.
Sebelum ia bisa bernapas dengan baik, Naruto menyerangnya lagi, menekan bibirnya lebih keras. Gaara tidak bisa bernapas dan ruangan mulai terasa berputar. Ia tidak tahu apakah ini karena kekurangan oksigen atau sentuhan Naruto.
Naruto mendorong badan Gaara ke tempat tidur bersama dirinya. Si rambut merah berusaha untuk membebaskan diri namun sayangnya, Naruto lebih kuat darinya.
"Naruto... hentikan..," pinta Gaara ketika Naruto mulai menciumi lehernya dan menghisapnya pelan. Gaara mendesah di antara kenikmatan dan rasa sakit. Naruto mengunci kedua lengan Gaara di atas kepalanya, memastikan bahwa si rambut merah tak akan kabur darinya.
Tubuh Gaara gemetara, ia tidak ingin ini terjadi. Air mata mulai menggenang di matanya. Bukan ciuman atau gigitan Naruto yang membuatnya takut, tapi kenyataan kalau sesuatu di dalam dirinya juga menikmati ini.
"Hei... katamu... kau akan tetap bersamaku... uh, jangan melawan... aku akan membuatmu merasa... enak...," Naruto terkikik. Bau alkohol yang kental dari napas Naruto membuat hidung Gaara terasa panas.
Badannya terasa tidak bertenaga juga begitu panas. Setiap sentuhan Naruto seperti api, membakar kulitnya. Naruto mulai melucuti pakainnya, si rambut merah merasa takut kalau ia akan membuat Naruto marah jadi ia hanya menutup mulutnya. Ia tidak tahu apa yang akan Naruto lakukan tapi ia tidak akan melawan lagi, percuma saja ia cuma akan menghabiskan tenaga.
Tapi Naruto kelihatannya tidak suka dengan keheningan Gaara. Ia menarik salah satu puting susu Gaara begitu keras sampai Gaara berteriak di antara kesakitan dan kenikmatan. Naruto mulai menghisap puting yang memerah itu sementara tangannya yang lain bermain dengan puting satunya. Air mata mulai mengalir dari pipi Gaara. Ia tidak tahu ia menangis karena kesakitan atau kenikmatan dari sentuhan Naruto.
Naruto membebaskan puting Gaara setelah keduanya menjaddi keras dan bengkak. Gaara bernapas berat dan menatap mata orang yang ada di atas tubuhnya. Naruto tersenyum padanya dan merunduk untuk kembali menciumnya.
Gaara mendesah di bawah ciuman yang memabukkan dan menutup matanya. Ia tidak bisa bohong ke pada dirinya lagi. Meskipun sebagian dari dirinya ketakutan dengan keagresifan Naruto, tapi bagian yang lain menikmatinya. Ia tersentak ketika tangan Naruto mulai meraba pahanya. Si pirang memijat paha dalamnya pelan, hampir menyentuh celana depannya yang menggembung.
'Bahaya... ini tidak benar...,' pikir Gaara, tapi tubuhnya mengkhianatinya. Ia mendesah setiap kali lidah Naruto menjilat lehernya, membuatnya dideru kenikmatan di setiap bagiannya. Gaara memekik keras ketika si pirang menggigit lehernya begitu kuat hingga berdarah. Kemudian Naruto menjilat darahnya dan mengalihkan perhatiannya ke celana Gaara.
"Sebaiknya... singkirkan ini dulu...," katanya, tangannya meraba celana Gaara yang terasa sempit.
Gaara gemetar ketika Naruto melepaskan celananya dan mengekspose tubuhnya yang masih belum pernah di sentuh seperti itu. Sang Kazekage muda merasa begitu malu.
Ia bernapas berat dan tidak bisa berpikir dengan lurus. Ia tidak tahu apa yang akan Naruto lakukan padanya. Tapi, ia terkejut saat melihat penisnya sudah begitu keras. Ia tidak tahu ia begitu menikmati ini sampai tubuhnya berespon seperti itu.
"Lihat, kau menikmatinya. Kau benar-benar... terangsang...," Naruto menggodanya sambil berpindah ke sela antara kaki Gaara. Tangan Gaara sudah terbebas namun ia tidak bisa menggerakkan. Tubuhnya terasa aneh, ia berkeringat dan sepertinya perutnya ingin sesuatu yang tak ia mengerti.
"Naruto... ah... hentikan...," ia meminta. Ia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, tapi terasa salah meski pada saat yang sama, terasa benar.
"Berhenti? Tapi... si kecil ini... ingin bebas kan?" kata si pirang. Ia meraih penis Gaara yang ereksi. Si rambut merah tersentak dan mendesah penuh kenikmatan. Tidak ada yang pernah menyentuh penisnya seperti ini sebelumnya. Ia hanya bisa gemetara dan mendesah setiap Naruto memijat penisnya perlahan. Hanya kenikmatan yang terus menerjang dirinya juga rasa lapar yang aneh yang tak bisa dijelaskan.
Naruto berhenti memijat penis Gaara dan menyodorkan dua jari kepada Gaara. Si merah awalnya tak mengerti namun ia akhirnya paham dengan maksud Naruto. Si pirang memijat penisnya sementara Gaara menghisap jari Naruto. Rasanya begitu... aneh...
Naruto menarik jarinya keluar dari mulut Gaara dan mulai memijat penis dengan lebih keras. Gaara mendesah dan merasakan perutnya mulai melilit. Si pirang menjilat kepala penis Gaara ketika pre-cum mulai mengalir keluar. Ia tertawa saat ia merobek seprei tempat tidur dan mengikat penis Gaara dengan kuat.
Tanpa basa-basi, Naruto memasukkan satu jarinya yang basah ke dalam anus Gaara. Sang Kazekage menahan sakit, rasanya aneh dan sakit.
"Jangan, Naruto... ini... salah...," Gaara protes dengan panik.
Tapi, Naruto tidak memperdulikannya dan terus memasukkan dan mengeluarkan jarinya. Ia menikmati bagaimana ketatnya lubang Gaara, memikirkannya saja ia ingin membuat lubang ketat ini mengendur dengan mempentrasinya dengan keras dan kuat berkali-kali. Gaara mendesah ketika Naruto memasukkan jari kedua. Ia ingin datang, namun penisnya yang tegang diikat kuat jadi tertahan.
"Nh, Na.. Naru..," ia mendesah di antara napasnya yang berat. Penisnya terasa sakit, perutnya melilit, ia ingin datang namun tak bisa.
"Tidak... tidak... kau tidak boleh datang dulu... hehe... aku ingin kita datang bersama, kau tahu... jadi tahan dulu ya," ujar Naruto dan ia bergerak lebih dekat di antara kedua kaki Gaara. Ia memasukkan jarinya lebih dalam dan menyentuh sesuatu yang membuat gelombang kenikmatan menghantam Gaara, ia hanya mendesah keras, tak tahu lagi harus berbuat apa.
'A... apa itu tadi?' pikir Gaara.
Naruto melepaskan celananya dan membebaskan penisnya yang sudah ereksi sejak tadi. Gaara melihat, wajahnya akan semakin memerah kalau bukan memang sudah merah sejak tadi. Ia tidak pernah melihat penis orang lain, tapi ia tahu ukuran penis Naruto lebih besar dari rata-rata.
Naruto menarik kaki Gaara yang ramping dan menaruh di atas kedua bahunya. Badan Gaara gemetar oleh rasa sakit dan nikmat ketika perlahan Naruto memasuki dirinya.
Kemudian Naruto mulai mempenetrasi Gaara tanpa memperdulikan lubang Gaara yang belum terbiasa dimasuki benda besar seperti penisnya. Lubang Gaara yang sempit dan panas justru membuatnya semakin bernafsu dan lepas kendali.
"Akh... sakit... Naru, hentikan... stop...," Gaara memohon dan menangis, namun sudah terlambat untuk kembali. Naruto terus mempentrasinya tanpa henti lalu ketika sesuatu di dalam diri Gaara di hantam, tangisnya perlahan berubah menjadi desahan.
Naruto menekan pahanya dengan keras, membuat Gaara memar namun ia tak peduli.
Gaara tidak bisa berpikir lurus, setiap Naruto menghantam titik prostatnya, semua masalahnya segera hilang dan hanya ada dirinya dan Naruto.
Pentrasi Naruto semakin lama menjadi lebih keras dan kasar. Ia terus menghantam dirinya di dalam Gaara hingga sang rambut merah merasa ia akan dibelah menjadi dua. Namun, rasa nikmat yang terus datang juga tak terbendung. Begitu banyak perasaan yang menimpa dirinya, malu, kenikmatan, sesal, nafsu sampai ia tak bisa berpikir lurus.
Naruto merasakan ia sudah hampir klimaks, ia meraih penis Gaara yang masih terikat oleh kain dan memijatnya bersamaan dengan penetrasinya. Gaara mendesah dan mengerang penuh kenikmatan. Si rambut merah merasa is bisa meledak, ia sudah sampai pada puncaknya dan ia harus datang. Naruto yang melakukan ini tidak sepenuhnya dalam keadaan sadar sudah tak Gaara pikirkan lagi.
"Sempitnya... dan panas... aku hampir...," Naruto mengerang di antara penetrasinya yang kasar. Gaara tidak bisa mendengarnya karena sudah tenggelam dalam puncak kenikmatannya sendiri. Naruto memasukkan penisnya lebih keras sambil mengubah posisi kaki Gaara, kini hanya satu kaki Gaara yang ada di bahu Naruto sehingga ia mempentrasinya dari samping. Naruto melepaskan ikatan kain dari penis Gaara dan semen segera menyemprot keluar dengan deras.
Naruto segera datang ke dalam tubuh Gaara begitu anus Gaara menjadi begitu sempit saat ia ejakulasi, seperti ingin memeras semen Naruto hingga habis. Gaara merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengalir ke dalam tubuhnya dan membuatnya meleleh.
Selama Gaara tenggelam dalam orgasmenya, Naruto menarik Gaara ke pangkuannya. Si rambut merah mengerang saat penis Naruto yang masih tegang masuk lebih dalam ke dalam anusnya. Naruto tersenyum dan menciumnya dalam-dalam.
"Sekarang...," Naruto masih kehabisan napas, "kau adalah milkku," ia berbisik ke telinga Gaara, membuat sang Kazekage gemetaran. Gaara mengerang saat Naruto meremas pantatnya, dan menaik turunkan tubuhnya perlahan, kembali mempenetrasi Gaara.
Naruto menjilat lidah Gaara dan berbisik. "Siap untuk...ronde selanjutnya?"
IoI
Setelah klimaks 5 kali lagi, Naruto akhirnya tertidur. Setelah Gaara yakin bahwa si pirang benar-benar tidur, ia segera pergi. Sekarang, Gaara berada di kamarnya dan setiap gerakan pada tubuhnya yang sakit mengingatkannya akan kejadian semalam. Anusnya masih meneteskan semen Naruto, si pirang mengisinya hingga penuh hingga anus Gaara tak bisa menampungnya lagi.
'Apa itu seks..?' pikir Gaara. Ia pikir seks hanya dilakukan oleh pria dan wanita, tapi dari pada yang mereka lakukan semalam, sama seperti apa yang dulu Temari pernah jelaskan padanya.
Setelah menangis selama beberapa jam, ia merasa lebih baik. Itu cuma kesalahan. Cuma sebuah kesalahan. Naruto tidak melakukannya dengan sengaja dan ia bisa memaafkannya. Gaara mungkin kesakitan, tapi tidak luka permanen karena hal itu dan semuanya akan kembali normal segera.
Tapi, mengalami seks seperti itu, Naruto tidak benar-benar sadar, Gaara merasa menyesal. Ia kehilangan keperjakaannya pada Naruto. Terlebih, Naruto tidak mencintainya, bukankah seharusnya seks itu dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai?
Dan seks semalam terlalu kasar, yah... ia tahu kalau Naruto itu kuat tapi terlalu kasar. Setiap memar dan luka yang Naruto tinggalkan di tubuhnya semalam, Gaara harus menyembunyikannya dari orang-orang. Ia berharap insiden ini akan berakhir di sini saja. Ia tidak mau ada orang lain tahu, ia akan berusaha untuk bersikap normal di depan Naruto dan bersikap seolah tak terjadi apapun.
Lagipula, ini mengangguku sejak semalam... Shukaku, kenapa kau tak menghentikan Naruto?
Karena itu 'dia'...
Dia? Siapa?
Kau tak akan mengerti.
...Aku akan melupakannya sekarang untuk menghindari masalah, lagipula aku percaya Naruto sudah melupakan semuanya. Ia pasti bingung melihat kondisi kamarnya tapi aku harap ia tidak mengingat bahwa ia seks denganku semalam, demi kehidupan kami berdua juga.
"Itu bukan seks, itu perkosaan! Ia memperkosamu! Dan kau tidak marah? Apa yang terjadi padamu? Apa otakmu sudah diperkosa juga olehnya?!" Shukaku mendesis marah.
Te-tentu saja tidak, aku hanya tidak ingin hubunganku dengan Naruto berubah. Ia pasti akan merasa bersalah kalau ia tahu. Jadi, ini rahasia di antara kita saja.
Jadi, kau berniat untuk tidak memberitahu bocah itu? Kau terlalu baik, atau lebih tepatnya idiot.
Tidak, aku tak bisa, aku tak bisa memberitahu siapa-siapa. Kalau seseorang tahu Naruto memperkosa Kazekage... bisa terjadi perang antara Konoha dan Suna. Atau para tetua dan warga desa akan membuatku turun dari posisi Kazekage karena aku lemah.
"Bukan lemah, kamu menikmatinya," Shukaku mendengus.
Mu-mungkin kau benar, tapi itu adalah sebuah kesalahan. Biarkan aku dan Naruto melupakan ini pernah terjadi. Dengan begini, aku dan Naruto bisa hidup normal.
Aku rasa itu tak akan terjadi.
Eh? Kenapa? Apa yang membuatmu berpikir begitu?
Tapi, Shukaku sudah menghilang dari pikirannya. Ia kelihatan marah. Gaara mendesah, mungkin si monster tanuki merasa harga dirinya terluka karena hostnya dengan mudah disetubuhi oleh host lain. Lagi-lagi, sang bijuu bersikap egois dan sukar ditebak seperti perempuan. Gaara menggelengkan kepalanya dan segera bangkit untuk mandi.
Gaara mulai membersihkan semua sisa keringat dan nafsu dari malam sebelumnya, kemudian sebuah nama keluar dari bibirnya...
"Naruto…."
Ternyata, translit butuh banyak tenaga ya *plak
Review jangan lupa
