DISCLAIMER
Yu Gi Oh (c) Kazuki Takahashi
KIZUNA (c) Me
.
RATE
T
.
PAIRING
Puzzleshipping. Pair lainnya menyusul.
.
GENRE
Romance, Drama and a bit Humor, mungkin?
.
Warning
BL / BoyxBoy / YAOI, typo(s)berkeliaran, bahasa amburadul (bisa membuat anda katarak mendadak), summary gak nyambung, judul gak nyambung sama isinya, GAJE (sangat). OOC!
SUMMARY
Atem melakukan perjanjian dengan roh penjaga millennium puzzle agar dapat bertemu dengan sang aibou yang telah pergi mendahuluinya. Namun sebagai gantinya, jika Atem tidak bertemu dengan aibounya di zaman tersebut, maka dia harus bunuh diri dan kembali bereinkarnasi di zaman selanjutnya. Mampukah Atem bertemu dengan aibounya dan kembali membangun ikatan mereka seperti 3000 tahun yang lalu?
.
"Bla bla bla" : Berbicara seperti biasa
'Bla bla bla' : Berbicara dalam hati
'Bla bla bla': Flashback
.
IF YOU DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
.
CHAPTER 01
Pagi yang cerah menyambut suasana yang cukup ramai di salah satu kota di Jepang, Domino city. Kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit serta pertokoan yang sebagian besar merupakan toko mainan anak itu mulai terlihat membuka toko mereka dengan label 'open.'
Salah satu diantaranya, sebuah toko minimalis berdiri di tengah-tengah kota tersebut.
Terlihat sesosok pria—kakek tepatnya, tengah menyapu halaman toko tersebut. Hingga tak lama terdengar derap langkah kaki dari dalam toko—
DRAP DRAP DRAP
CKLEK
KRING
—pintu pun terbuka mengakibatkan bell yang terpasang pada pintu tersebut berbunyi.
"Jii-san! Aku berangkat dulu ne! Aku lupa sekarang ada jadwal pagi! Ittekimasu!"
Sosok pemuda yang tergolong mungil mermahkotakan tiga warna itu melambaikan tangannya pada sosok kakek yang sedang menyapu halaman.
"Ara... Yugi..." Tersenyum sang kakek, "tapi kau sudah sarapan kan?" Lanjut sang kakek dengan sedikit berteriak sebelum cucunya semakin jauh.
"Iya sudah Jii-san! Jaa~...!"
Dan sosok mungil itu pun sudah menghilang saat berlari dan berbelok di ujung blok. Mengejar waktu.
Tentu saja, menuju Universitas Domino.
[YamiAtemxMutouYugi]
Gerbang Utama Universitas Domino
Terlihatlah pemuda mungil yang kita ketahui bernama Mutou Yugi—yang kini tengah berlari memasuki gerbang utama Universitas Domino, dimana dia menuntut ilmu.
Pemilik iris amethyst itu melirik jam yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya.
'Sepuluh menit lagi.' Batinnya yang semakin cepat melangkahkan kaki mungilnya.
Ya, sepuluh menit lagi sebelum waktu 'terlambat' yang telah disepakati di awal semester dengan dosen mata kuliah yang dia ambil pagi ini. Karena bagaimanapun, Ishtar –sensei tidak akan mentolerir lebih dari yang disepakati.
Beruntungnya, gedung jurusan yang dia ambil—jurusan Arkeologi berlokasi tidak jauh dari gerbang utama.
"Lima menit lagi." Kembali bergumam saat amethystnya melirik jarum jam pada jam tangannya. Kaki mungilnya terus melangkah dengan nafas terengah, seraya mengusap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangannya.
Hingga akhirnya Yugi dapat melihat keberadaan pintu kelasnya—bersamaan dengan sosok albino yang kini menatapnya dengan pandangan bingung,
"Yugi?" Panggil pemuda tersebut dengan tangan yang masih memegang daun pintu.
HOSH HOSH HOSH
"Ryou...—kun..."
Yugi masih terengah, setengah membungkuk memegang lututnya—berusaha menstabilkan napasnya seraya kembali melirik jam tangannya.
08.58 AM
SIGH
Menghela napas panjang, Yugi merasa lega.
Sedangkan pemuda yang dipanggil Ryou itu hanya terkikik geli. "Ohayou, Yugi." Sapa Ryou diakhir tawanya, dan masih setia memegang daun pintu.
"Huft... Ohayou Ryou-kun..." Balas Yugi yang kini mulai tersenyum pada kawannya.
"Kenapa kau berlari?" Tanya Ryou sebelum dirinya membuka pintu kelas mereka—dan memberi isyarat pada Yugi untuk masuk kelas bersama.
"Eh?" Iris amethyst itu mengerjap sesaat, "Tentu saja agar tidak terlambat masuk kelas Ishtar-sensei kan?"
"Sou-ka..." Ryou mengulum senyum, "tidak bersama Jounouchi?" Tanya Ryou kembali saat mendudukan dirinya pada kursi dibarisan kedua, di samping Yugi.
"Tidak. Hari ini Jounouchi-kun tidak ada jadwal pagi." Jelasnya pada Ryou, sebelum dirinya merebahkan kepalanya diatas meja.
Dia masih lelah karena habis berlari, kan?
Ngomong-ngomong tentang Jounouchi, sahabatnya itu memang selalu mengantar jemput dirinya menggunakan sepeda motor miliknya. Itupun jika jadwal mereka sama.
Sempat Yugi bertanya pada Jounouchi, dan jawaban sahabatnya selalu sama.
"Hah? Bukan kah sudah jelas? Aku pasti melewati rumahmu kalau pergi ke kampus. Rumah kita kan searah. Jadi ya, sekalian saja kan?"
Well, masuk akal.
Okay, kembali pada Ryou dan Yugi.
Ryou yang mendengar penjelasan Yugi hanya mengangguk paham seraya mengulum senyum. Tangan putihnya mengambil smartphone miliknya yang berada di dalam tas yang dibawanya dan mulai membuka salah satu aplikasi di sana. Terkikik sesaat, sebelum menoleh pada Yugi.
"Ne, Yugi. Apa kau sudah melihat grup kelas sebelum kau berangkat?"
"...Tidak." Jawab Yugi dengan polosnya—seraya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Mendengar jawaban Yugi yang begitu polos, mau tak mau membuat Ryou terkikik kembali sebelum dengan wajah tanpa dosanya, mulai membacakan salah satu pesan di grup chat kelas.
"Ehem," berdehem pelan sebentar. " Saya akan datang terlambat. Kemungkinan hanya bisa masuk lima belas menit sebelum waktu habis. Sebagai gantinya, saya ingin kalian secara berkelompok, terdiri dari tiga orang, untuk mendiskusikan lalu menyimpulkan Journal yang telah saya bagikan tempo hari. Saat saya datang, semua kelompok harus mengumpulkannya tanpa terkecuali. Terima Kasih. Ishtar Ishizu."
Ryou mengakhiri kalimatnya dengan senyum tanpa dosa.
"..."
Sementara Yugi, usai mendengar pesan yang dibacakan oleh Ryou, mendadak hening sesaat sebelum menatap horror pada Ryou,
"KENAPA RYOU-KUN TIDAK BILANG DARI TADI?!" Pekik si mungil frustasi seraya mengguncangkan bahu Ryou yang kini malah tertawa.
Hingga,
SREK
Pintu kelas mereka terbuka, dan terlihatlah sosok pirang dengan kulit tannya yang khas. Iris heckmanitenya menatap Yugi dan Ryou—dengan posisi Yugi masih mengguncangkan tubuh Ryou.
Tak ingin ambil pusing, sosok itupun berujar, "sudah kuduga hanya kalian yang akan tetap datang pagi walau nee-san sudah memberi pesan di grup."
Lalu mulai melangkah memasuki kelas seraya menyapa keduanya, "Ohayou, Yugi, Ryou."
"Ah, ohayou Malik." Balas Ryou ramah—tanpa dosa tepatnya.
"Uhm... Ohayou Malik..."
Dan sudah jelas bukan? Jawaban lesu seperti ini milik siapa?
[YamiAtemxMutouYugi]
Lunch Time
"Yo, semuanya!"
Salah seorang pemuda pirang yang begitu enerjik menyapa sekumpulan pemuda yang kini tengah bersantai di salah satu sudut kantin, diikuti satu pemuda dengan rambut brownnya yang khas.
"Hai Jounouchi, Honda."
"Yo."
Terdengarlah berbagai balasan sapaan untuk kedua pemuda yang baru bergabung tersebut.
Jounouchi—pemilik iris topaz itu mengangkat sebelah alisnya tatkala melihat keanehan pada salah satu sahabat mungilnya,
"Yugi? Kenapa lesu begitu—tunggu, apa jangan-jangan ada yang menjahilimu? Siapa namanya?! Katakan saja!" Begitulah pertanyaan beruntun yang dilontarkan oleh Jounouchi. Tentu saja, karena khawatir.
Sementara yang ditanya menggeleng pelan, "..hmm... Tidak Jounouchi-kun..." Lirihnya yang kemudian kembali menenggelamkan wajah manisnya pada lipatan tangannya yang berada di atas meja.
Dan sebagai teman sekaligus sahabat yang pengertian, Ryou yang di sana sempat terkikik pelan pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada Yugi sejak tadi pagi.
"Pff-"
Terdengarlah gelak tawa dari Jounouchi juga Honda tepat setelah Ryou selesai bercerita.
"Kukira kau kenapa. Ternyata hanya seperti itu." Ujar Honda memegang perutnya—menahan sakit karena terlalu banyak tertawa.
Jounouchi sendiri, mengusap setitik air mata yang muncul karena tawanya, yang lalu berujar, "hitung-hitung olahraga pagi kan? Tubuhmu akan lebih se—"
BLETAK
"Kalian ini keterlaluan! Yugi pasti lelah! Memangnya kalian?! kelebihan energi!" Bentak Anzu—satu-satunya wanita disana—setelah menjitak kepala Jounouchi juga Honda.
SIGH
Menghela napas panjang melihat keduanya meringkuk menahan sakit, wanita itu menoleh dan tersenyum pada Yugi.
"Ngomong-ngomong Yugi," Anzu pun berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Besok final Turnamen Catur kan? Aku akan datang mendukungmu!"
Sementara Yugi yang tadi sempat lemas, perlahan mendongak menatap Anzu—terlihat mulai bersemangat. "Begitulah... Besok finalnya. Terimakasih Anzu." Jawab si mungil yang kini mulai tersenyum.
"Benarkah? Wao. Kalau kau menang, kau akan mewakili kota Domino?" Kini Malik yang sejak tadi diam, mulai angkat bicara.
"Begitulah. Kalau aku menang, aku akan bertanding di Tokyo melawan para pemenang lain dari kota berbeda." Jelas Yugi yang semakin bersemangat.
"UWOO! Kami juga akan mendukungmu!" Teriak Jounouchi dan Honda bersamaan—melupakan rasa sakit akibat jitakan 'sayang' Anzu beberapa saat lalu.
Ryou pun ikut bersemangat mengangguk setuju—diikuti Malik yang tersenyum mengangguk pelan pada Yugi.
Mendengar dukungan dari para sahabatnya, mau tak mau membuat si mungil tersenyum senang dan mengangguk, "Ung! Terimakasih, minna!"
Namun tiba-tiba,
SREK
GREP
Seseorang yang begitu mirip dengan Ryou—namun iris carneliannya sedikit berbeda dari almond milik Ryou—kini tiba-tiba memeluk Ryou dari belakang.
"Heh. Bocah cebol sepertimu ternyata hebat juga, Yugi."
"Eh?"
"BAKURA?!"
Teriak semuanya kecuali Malik dan Ryou. Juga Yugi yang kini malah mengusap dadanya—menahan kesal karena hinaan pada ukuran tubuhnya.
"Hm." Hanya bergumam—tanpa sapaan, sosok yang dipanggil Bakura malah mengeratkan pelukannya pada leher Ryou. "Yadounushi, sudah saatnya kita pulang." Ujarnya pada Ryou.
"...Eng...Ahahaha..."
Ryou sendiri hanya tertawa kikuk akan tingkah laku kakak kembarnya. Jemarinya menggaruk pipinya yang tidak gatal—terlebih saat iris almondnya tidak sengaja menatap sosok yang juga baru datang.
"Setidaknya si cebol itu masih lebih hebat darimu, Bakura."
Suara lain kembali terdengar berasal dari sosok pirang jabrik yang kini berdiri dengan cueknya di samping Malik. Iris lepidolitenya menatap datar pada Bakura.
"MARIK?!"
Kembali sekumpulan pemuda itu berteriak memanggil sosok tersebut—terkecuali Ryou yang sudah sadar sejak tadi, juga Malik yang hanya memijit dahi.
Oh dan tentu saja Yugi yang kembali sibuk mengusap dadanya. Antara kesal juga sadar diri akan ukuran tubuhnya(?).
Namun,
BRAK
"KALIAN INI! CEBOL INI CEBOL ITU! KALIAN JANGAN MENGHINA YUGI DONG!"
Bentakan Jounouchi tiba-tiba terdengar—dirinya tidak terima sahabatnya secara tidak langsung dihina seperti itu.
"HAH?! DIA KAN MEMANG CEBOL! DIA SAJA TIDAK MEMPERMASALAHKANNYA! KENAPA KAU YANG RIBUT?!"
Dan terjadilah perang adu mulut antara Jounouchi juga Bakura. Membuat semua yang ada di sana menghela napas—sudah terbiasa.
Marik?
Mana peduli dia.
[YamiAtemxMutouYugi]
Sementara itu di sudut kota Tokyo, terlihat sebuah hutan membentang dengan indahnya. Dimana di dalamnya terdapat sebuah mansion yang berdiri dengan kokoh dan megah.
Mansion tersebut hanya dihuni oleh tiga tuan muda—tentu beserta para pelayan lainnya.
Kini ketiganya tengah sarapan dengan tenang. Dimana salah satunya merupakan pemuda manis dengan rambut hitam jabrik miliknya—yang kini dengan antengnya duduk di samping pemuda bermahkotakan brown hair serta iris sapphirenya yang begitu indah.
"Ne, nii-sama."
Tiba-tiba, sosok paling muda disana bersuara memecah keheningan memanggil kakaknya.
"Hm?"
"Apa kita berangkat setelah sarapan?"
"Ya, Mokuba." Iris sapphire itu menoleh dan menatap hangat adiknya, "Kau sudah mempersiapkan semuanya kan?"
"Uhm! Tentu saja sudah nii-sama!" Jawab Mokuba cukup bersemangat.
Melihat adiknya, pemuda brown yang bernama lengkap Kaiba Seto itu pun tersenyum simpul dan mengangguk pelan.
Di sisi lain, tepat di seberang keduanya, terlihat lah sosok rupawan dengan mahkota tiga warnanya yang begitu khas serta iris crimsonnya yang begitu menawan—kini menatap keduanya dengan bingung. Terlihat jelas dengan sebelah alisnya yang terangkat bingung.
"Kalian mau kemana?"
"Kota Domino."
Singkat padat dan tanpa minat. Itulah jawaban Seto pada si penanya—Yami Atem.
Mendapat jawaban seperti itu, bukannya merasa puas, Yami malah mengerutkan dahinya. Iris crimsonnya kini menatap bingung pada Mokuba.
Ditatap seperti itu, Makuba dengan senang hati menjelaskan maksud kepergiannya bersama sang kakak.
"Besok kan final Turnamen Catur di kota Domino. Sebagai penyelenggara, nii-sama berniat mengawasi jalannya turnamen secara langsung. Karena ini kota terakhir. Jadi, di akhir turnamen akan ada pengumuman bagi seluruh perwakilan dari setiap kota untuk mempersiapkan diri mereka bertanding di tingkat nasional."
"Heh." Mendengar penjelasan yang begitu lengkap seperti itu, Yami mengangguk paham. "Kapan kalian akan mengadakan tingkat nasionalnya?" Kembali bertanya, tentu pada Mokuba.
"...uhm... Kalau semua lancar, sekitar seminggu lagi di Tokyo." Jelas Mokuba bersemangat sebelum menoleh pada kakaknya, "ne, nii-sama?"
"hm."
Seto hanya mengangguk singkat sebelum mengusap bibirnya dengan tisu, "Mokuba, kau sudah selesai dengan sarapannya?"
"uhm! Sudah nii-sama!"
Mengangguk, kembali terlihat senyum simpul Seto saat melihat Mokuba. Sebelum mulai beranjak mengajak adiknya.
Sesaat iris sapphirenya melirik pada Yami yang masih anteng meminum espressonya dengan sebelah tangan menahan dagunya.
Dan tepat Seto hendak melangkahkan kakinya, terdengar suara baritone Yami—
"Itterashai. Mokuba, Seth."
—seraya melambaikan tangannya singkat.
"Ittekimasu, Yami-nii!" Balas Mokuba dengan senyum cerahnya dan berniat mengikuti kakaknya. Namun melihat kakaknya terdiam, Mokuba kebingungan.
"...nii-sama?"
Seto mendengus pelan, "Atas nama penyelenggara turnamen, aku mengundangmu sebagai tamu, King of Chess." Kembali mendengus pelan, "Tapi itu terserah dirimu. Datang ataupun tidak, aku tidak peduli. " Ujarnya yang lalu berjalan bersama adiknya—dan sesaat sebelum dirinya menghilang di balik pintu,
"Dan jangan panggil aku Seth, Atem."
.
.
.
TBC
A/N :
Gimana? Gimana? Chap 1nya makin ngebingungin ya? Tapi Dya yakin kok, di chapter selanjut2nya, readers bakalan makin bingung—eh? Yep, ini chapter 1, permulaannya~ sedih juga sih, puzzleshippingnya belum saling ketemu :') Tapi kita tunggu saja~ XD
Ah ya, balas review~
nur : Uwaaa kaget juga, ternyata ada yang mau review fic absurd ini XD
Awww~ jadi malu XD Yang kemarin pendek itu karena masih prolog~ dan semoga chap ini cukup panjang ya~
Diri ini juga berusaha mengerjakan ini fic dengan cepat di waktu senggang—dan semoga ini fic tidak terlantar :"D Dan tenang saja, Dya penganut happy end kok XD
Btw, semoga suka dengan update chap 1nya ya~
So~ RnR please?
